Cerpen Pilihan Pekan Ini
Give me back my live
Oleh : diah asri nur saparini
Yach…akhirnya aku bisa pulang ke rumah lagi. Setelah maghrib ini aku bisa dengan leluasa meninggalkan penjara Jahanam ini. Panti rehabilitasi yang sudah mengurungku selama 2 tahun terakhir ini. Mama, Papa, dan Mas Ronggo pasti senang melihat aku pulang.Aku sudah membayangkan mereka akan memelukku, menangis bahagia, dan membuat pesta untuk kesembuhanku. Dr. James yang slama ini merawatku, Dokter muda yang tampan dan sangat perhatian denganku. Yach…dokter yang slalu memberikan surprise-surprise untuk memotivasi kesembuhanku.
*****
Tiba-tiba aku tersentak bila mengingat masa laluku. Masa lalu yang bahagia sebelum aku kehilangannya.
”Sya....aku menyayangimu,,aku mau kamu jadi ceweku”,ucap Rizky
Aku hanya terdiam terpaku melihatnya,tak ada alasan bagiku untuk menolak cowok paling keren di kampus dan yang slama ini aku idolakan.
”Eeh...ehm...aku mau”,kata- kata itupun terlontar begitu saja dari bibirku.
Dear diary,
Hari ini aku seneng banget,akhirnya setelah sekian lama aku menunggu aku benar-benar bias mendapatkannya.
Rizky soulmate ku…
seseorang yang slalu aku hormati..
kau tak sama dengan yg lain..
tapi..apa yg membuat kau beda..
aku tak tahu dan tak mau tahu..
Yang aku tahu,aku suka…
aku tak peduli apa kata orang..
yang pasti dengan ini aku bahagia..
aku tak pernah mengerti arti hidup..
kau yang paling tahu dan yang mungkin mengajarkanku..
Aku memaknai hidup darimu..
aku mulai berpikir karnamu..
dan aku mulai bingung tentang hidupku..
hump…moga hari ini tidak pernah berakhir.
Aku segera nenutup diaryku dan beranjak tidur.
Keesokan harinya aku tak tahu darimana asalnya semua teman-temanku tlah mengetahui kalau aku udah jadian dengan Rizky ,ada pula kata- kata pedas yang sempat terlontar dari fans gelap Rizky.Tapi aku tak pernah memperdulikannya.Yang aku fikirkan sekarang hanyalah membuatnya bahagia.HpQ bergetar,menandakan kalau ada sms, dan ternyata memang benar,ada satu sms dari Rizky.Aku buru-buru membacanya,ternyata dia mengajak makan bareng sehsetelah kuliah.Aku tidak membayangkan akan dinner dengannya,hatiku dag dig dug membayangkan yang akan terjadi ntar malam.
”ting tong”,bunyi bel menandakan jam kuliahku telah usai.Dengan sedikit gemetar akupun beranjak dari tempat dudukku dan segera menuju tempat parkir.Disana Rizky telah menungguku dengan motor kebanggaannya.
”Say,gimana kuliahnya tadi?”,tegur Rizky memulai percakapan
”eeehm..biasa saja”
Aku tidak dapat menceritakan apapun,karna hari ini aku hanya melewatinya dengan melamum dan melamun.
”kita langsung ke Cafe atahu pulang dulu?”
”dek?”,ucap Rizky menyadarkanku lagi
”eee...terserah kamu aja”,ucapku.
Padahal sebenarnya aku ingin pulang,mandi dan memakai bedak yang tebal agar dia tidak malu jalan denganku yang punya wajah pas-pasan ini.
”yaudah..kita langsung ke Cafe aja yawh”
”he-em”
kita langsung saja menuju Cafe Ungu,Cafe paling mewah di sini dengan suasana yang sangat romantis di iringi alunan biola yang begitu merdunya.Ternyata Rizky telah menyiapkan semuanya,dari mulai meja yang sudah di pesan dulu,makanan, sampai sebuah cincin yang tlah terselip di tumpukan ice cream coklat yang sangat lezat.Yawh..aku hanya bisa terdiam dan memandangnya ketika aku menemukan sebuah cincin di ice cream yang sedang aku lahap,jantungku berdetak kencang seolah – olah ingin melompat dari tubuhku.
”Will you marry me?”,ucap Rizky
Oh my God...aku tak dapat berpikir lagi.Aku hanya bisa menangis,tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutku.Di lain pihak,Rizky yang bingung dengan ekspresiku langsung memelukku.
”kamu kenapa Sya?,apa kamu tidak mau kita menikah?”
Hiks...hiks...
”a...aku...aku mau...aku mau Riz!”
Mungkin hanya satu kalimat itu saja yang bisa terlontar dari bibirku.Aku tidak pernah membayangkan bisa dekat dengan sosok laki- laki idola kampus,dan hari ini dia melamarku.Dia benar-benar memilih aku untuk mendampinginya.My God...benarkah ini?.Aku tak sanggup mengenali apakah ini kenyataan atahukah mimpi belaka.Semantara Rizky melepaskan pelukannya dan menyeka air mata yang kian deras,aku hanya bisa memandanginya.
”Sya,aku sangat menyayangimu”
Sebuah kecupan di keningku seolah menadakan ini benar-benar nyata,dan hanya tangisan kebahagiaan yang bisa mengungkapkannya.
Satu jam kemudian aku sudah berada di depan pagar rumahku yang amat sederhana.
”Say,aku pulang dulu yawh”
”iya...hati-hati di jalan.
Rizky memutar motornya dan bergegas pulang.Sementara aku,hanya berdiri mematung melihatnya.
”Assalamu’alaikum....”,dengan nada senang aku mengucapkan salam
”Wa’alaikum Salam...”.serentak seisi rumah menyambut kehadiranku.
Dan seperti biasanya, canda tawa selalu mengisi rumahku.Aku langsung berlari dan memeluk Papa yang sedang asyik menonton bola.
”Pa...,Sya seneng banget hari ini”,ucapku tak sabar menceritakan hari ini.
”Oh...kenapa?”,dengan nada datar Papa menanggapi pertanyaanku
”Ee...Rizky melamarku”
”Hah? Melamar?,Papa sangat terkejut dan segera mematikan TV.
”iyah...dia ingin aku menjadi istrinya”
”Sya...kalian kan masih kuliah,kenapa udah mikirin nikah?Lagian kalian kan belum kenal satu sama lain”,Papa mencoba menasehatiku.
”Yawh...nikahnya ntar kalau udah lulus,Pa...!”,aku mencoba menjelaskan
Aku mulai bangkit dari tempat duduk dan menuju kamar.
Dear Diary,
Hari ini aku seneng banget, Rizky ternyata serius melamarku...
My God....
Aku tak dapat menulis apapun di diary,aku segera menutupnya dan tidur. Tiba- tiba Hpku bergetar,aku menerima sms dari Rizky yang isinya kalau dia mendapatkan beasiswa di Havard Univercity,Amerika dan besok dia berangkat. Aku tidak dapat berbuat apa- apa,aku hanya bisa mendoakannya saja.Yang pasti kami berjanji akan menikah setelah dia kembali dari studynya.
****
2 tahun berselang kepergiannya.Akhirnya besok dia kembali ke Indonesia. Aku tidak sabar menanti esok hari,aku tlah mempersiapkan semuanya termasuk gedung yang akan menjadi saksi pernikahan kami.
dear Diary...
Besok aku akan menjemput Rizky,,tapi knapa yawh hari ini aku gag bersemangat banget??kenapa hsri- hari ini aku mimpiin dia tyuz.??
Huff...moga samaua ini hanya bunga tidur semata.....
Keep flight Sya.............
Akupun menutup diary yang slama ini merekam semua kegilaan-kegilaanku saat mengenalnya.
”huff...moga semuanya baik-baik aja”
”slamat tidur..............”
Belum sempat aku memejamkan mata tiba- tiba HP ku berbunyi dengan nada khas mbah Surip yang sedang tenar saat ini
”Assalamu’alaikum...”
”Sya...,Sya...hiks...hiks...”
”Halluw...ini siapa??kok nangis ceh??”
”Sya....,Rizky.......,Rizky Sya...”
”alluw...ini siapa???Knapa dengan Rizky??”
”Rizky menikah hari ini....”
Tiba- tiba sambungan teleponpun terputus,aku yang syock mendengar hal itu hanya bisa menangis,dan menertawakan kebodohanku sendiri.
Setelah itu,tak tahu asal mulanya dari mana aku mulai mengenal dan berteman dengan obat-obatan haram.Sampai akhirnya aku masuk ke panti Rehabilitasi.
****
Masa lalu yang memilukan, dipenuhi jarum suntik dan obat-obatan haram. Orang-orang brengsek yang mengacaukan hidupku dan…Papa!!!Papa yang slama ini tidak pernah menjengukku. Yawh…aku tahu dia masih kecewa padaku, mungkin dia belum bisa memaafkanku. Waktu itu, papa sangat marah padaku. Aku tidak pernah melihat dia semarah itu. Napasnya naik turun, mukanya merah padam dan matanya melotot memandangiku. Sementara aku, udah tersungkur di kakinya, memohon maaf kepadanya. Yawh…meskipun dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Tubuhku lunglai, tangan gemetar, bibir membiru, dan aku pun tak tahu apa yang aku pikirkan saat itu.
“kamu anak durhaka Sya, kamu udah ngecewain papa, kamu membohongi papa. Papa tidak percaya, anak papa yang cantik, pinter yang amat papa banggakan ternyata seorang pecandu narkoba…pecandu!!!
“Pa…maafin Sya!!!Maafin Sya, Pa…!!!
“Sya…papa sangat bangga padamu, papa percaya. Tapi…kenyataannya kamu telah menipu papa, kamu mencampakkan semua harapan papa.”
Lalu…tubuh papa tampak mengejang menahan amarahnya. Kemudian, braak…!!!Papa membanting pintu dan keluar dari kamarku. Aku tersentak kaget tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku tidak tahu udah berapa lama merintih, berteriak merasakan sakit seperti ditusuk-tusuk jarum. Aku meronta, jantungku berdetak kencang, sepertinya aku telah kesetanan, aku mulai menggigit lenganku sendiri. Aku menghisap darahku yang udah mengandung heroin, shabu-shabu, dan obat hina lainnya.
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka, aku melihat sosok papa yang berdiri di depan pintu dengan menangis. Dia melemparkan bungkusan plastik kecil berisi serbuk putih kepadaku dan menutup lagi pintunya. Aku cepat-cepat membuka dan menghisap serbuk itu. Sesaat, sambil mencoba menenangkan diri akal sehatku menanyakan darimana papa mendapatkan barang haram ini. Apa Mas Ronggo yang membelinya? Tanyaku sendiri. Tapi kerja akal sehatku memang Cuma sekilas, selebihnya adalah kenikmatan menghisap serbuk putih itu.
***
Gresik…Gresik…
Aku tersentak dari lamunanku. Teriakan kondektur menyadarkanku untuk segera naik ke dalam bus yang akan membawaku pulang. Sepanjang perjalanan, di tengah rasa syukurku pada Allah. Aku masih terngiang akan masa laluku. Orang-orang hina yang menjerumuskan aku ke lembah hitam, orang-orang durhaka yang bersembunyi di balik kokohnya tiang pendidikan. Dan papa…papa yang tak tega melihatku merintih kesakitan. Tapi…kenapa slama aku di panti papa tidak pernah menjengukku?apa papa masih menyimpan kekecewaannya hingga belum bisa memaafkanku? Aku tidak tahu.
Sekarang aku sudah sembuh. Aku bisa merasakan bagaimana kecewanya papa ketika melihat anak perempuan kebanggaannya yang kuliah di Fakultas Kedokteran UNIVERSITAS NASIONAL ternyata menjadi budak narkoba.
***
Cermei…Cermei…
Teriakan kondektur kembali membangunkanku dalam lamunan. Aku pun segera turun dari bus dan mencari ojek menuju ke rumah. Yach…semuanya udah terjadi, masa lalu yang kelam, penuh kekecewaan dan kesedihan kini telah hilang. Yang aku inginkan kali ini hanya cepat-cepat pulang dan menunjukkan kesembuhanku ini kepada papa. Ojek yang membawaku pulang telah sampai di tikungan jalan, aku segera melompat turun dan berjalan menuju rumah. Dalam hati aku berteriak gembira, dadaku terasa sesak oleh kebahagiaan.
Sampai di depan rumah dadaku berdebar kencang. Suasana rumah tampak muram , daun-daun berserakan dan jaring laba-laba dimana-mana. Seperti rumah tanpa penghuni. Ada apa? Ada apa di rumahku?
“ Kamu anak cantik, pinter, papa sangat bangga kepadamu Sya. Tapi…lihat sekarang? Kau telah mencampakkan semua harapan papa, kau telah menipu papa.” Terngiang lagi ucapan papa kala itu. Andaikan aku tidak pernah berbuat seperti ini! Hiks…hiks…saat ini yang aku pikirkan hanyalah bersujud dan mengembalikan kepercayaan papa.
***
Assalamualaikum!!!Ma…Pa…Mas Ronggo!!! Tetapi tidak ada jawaban dari dalam rumah. Aku merasa cemas, khawatir terjadi sesuatu dengan mereka. ”Ma…Pa…Mas Ronggo!!! ”
”Kenapa tidak ada orang?”
”Apa mereka tlah melupakanku?”
”Ma...........!!!”
Aku lega ketika melihat bayangan mama yang muncul dari dapur. Mama terpana memandangku yang udah ada di dalam rumah. Dan aku yang sudah tak sanggup menahan kerinduanku, berlari dan memeluk mama. Ma…Sya kangen!!!
”Sya…kamu udah sembuh??” Tanya mama sambil mengelus kepalaku.
“ Yawh …ma, Sya udah sembuh total,” Dr. james udah ngebolehin Sya pulang.” jawabku senang.
“Makasi ma udah bawa aku kesana, Dr. James baik banget.”
“Iya…itu udah kewajiban mama.”
Aku memandang lekat wajah mama yang udah dipenuhi kerutan.” Kok sepi , ma? Papa, Mas Ronggo kemana, Ma?” Seketika itu, aku melihat rona wajah mama yang berubah. Kemudian dia tersenyum” Mas Ronggo masih kuliah, mungkin sebentar lagi pulang.”
“Eehm…kalau papa?” tanyaku cepat.
Sesaat mama memandangiku sendu, mama kemudian mengajakku duduk. Aku melihat kesedihan di wajahnya.
“Papa??”
Mama menatapku sesaat kemudian menunduk. Air matanya menetes deras. “Sya…maafin mama, maafin mama karena ga’ bisa menjaga papa.”
“Ada apa, Ma? Apa yang terjadi dengan papa?” tanyaku tidak sabar.
Mama menggeleng “kamu tahu kan, kalau papa punya penyakit jantung?Dan setelah kepergianmu ke panti, papa sakit-sakitan. Itulah kenapa papa tidak pernah menjengukmu,”ucap mama.
Air mataku telah tumpah “Lalu papa sekarang dimana?”
“Papa udah meninggal Sya!”tiba-tiba mas Ronggo udah di dalam rumah. Suara petir seakan menyambarku. Aku tidak percaya yang dikatakan Mas Ronggo.
“Tidak…itu tidak mungkin!!! Mas…bohong kan?” Aku memeluk mama dan menangis.
“ Itu benar Sya!!!” teriak mas Ronggo menyadarkanku.”
“ Papa meninggal setahun yang lalu.
”Tidak…aku ga’ mau ma!!” teriakku histeris. Mama memelukku erat. “ Maafkan mama , Sya!!! Maafkan mama!!!”
“ Hiks…hiks…tapi kenapa?? Kenapa ini terjadi, Ma?”
“ Ini semua gara-gara aku, aku yang telah membuat papa meninggal.
Ini semua salahku, aku telah membunuh papa!!!”
”Aku memang anak durhaka,aku telah membunuh papa,aku pembunuh ”
Mama terus membelai kepalaku. “ Enggak, Sya!!! Papa sudah memaafkanmu. Ini semua takdir, Sya!”
Aku segera melepaskan diri dari pelukan mama. Aku menggeleng dan berlari ke kamar samabil terus menangis. “ Pa…,” bisikku seraya memandang foto papa. “ Maafin Sya, Pa!!! Sya memang anak durhaka, Sya ga’ tahu diri, padahal Sya anak kebanggaan papa.” Foto itu kupeluk erat, aku tidak percaya, kalau orang pertama yang ingin aku perlihatkan kesembuhanku ternyata telah tiada.
“ Kamu anak cantik, anak kebanggaan papa selama ini telah mencampakkan harapan-harapan papa, kamu mendurhakai papa.” Ucapan terakhir papa itu terngiang kembali. Begitu keras dan jelas seolah-olah papa ada di hadapanku.
“ Udahlah Sya..!!” ucap mama yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.
“ Besok kita bisa berziarah ke makam papa.” Aku hanya terdiam, dalam hati aku bertanya, “ Yaa…Allah, ternyata begitu mahal kesalahan yang sudah aku lakukan.” Dalam hati aku pun berjanji akan mencapai semua harapan-harapan papa.
——» Komentar «——
[Kirim Komentar]