Login User

 Cerpen Pilihan Pekan Ini

DRIVE

Oleh : hartono

DRIVE

“Maut tidak akan pernah bisa membunuh apa yang tidak akan pernah mati.”

(Kahlil Gibran)



Bayu. Pria pendiam yang melankolis. Pecundang yang puitis. Tetapi dia juga pengecut. Kenapa dia tidak bilang saja sejak dulu kalau dia mencintaiku?

 

Aku juga mencintainya. Tetapi aku menunggunya, karena keperempuananku. Hingga kemudian..

 

Kahar. Lelaki keras kepala yang arogan. Pemberontak yang radikal. Tetapi dia juga pemberani. Kenapa dia yang lebih dulu bilang kalau dia mencintaiku?

 

Aku belum mencintainya. Tetapi aku menerimanya, karena kelelakiannya. Sampai akhirnya…

 

 “Minggu depan kita menikah, sayang”

“Tapi aku kan belum lulus SMA, sayang?”

“Aku ingin hubungan kita ini halal, sayang. Kita akan menikah siri.”

 

Kemudian Kahar menikahiku di rumah bapak kandungku yang sudah sejak lama berpisah dengan ibu kandungku. Tanpa perayaan yang meriah. Tidak ada tamu undangan. Bahkan keluarga besar kami pun tidak ada yang tahu.

 

Kau menang banyak, Kahar. Sementara kau tak kehilangan suatu apapun, aku menyerahkan semuanya kepadamu.

Ξ

 

Tiga tahun beralu…

 

Selalu saja ada hal-hal yang membuat kita bertengkar. Begitupun sebaliknya, selalu saja ada alasan-alasan yang membuat kita bertahan. Kadang aku merasa lelah dengan semua kepura-puraan ini. Hingga akhirnya hari yang kutunggu-tunggu pun datang.

 

Kau menemui ibu kandung dan bapak tiriku. Kau menceritakan semuanya kepada mereka. Dan mereka terkejut, tentunya. Tetapi kita tidak seperti pesakitan yang diancam hukuman berat karena setelah pengakuan itu kita telah menunjukkan perilaku yang baik. Merekapun akhirnya mengampuni kesalahan kita.

Φ

 

Setelah semua pengakuan itu. Kahar mulai mau meniduri Kirana. Tetapi Kirana hanya sesekali menginap di kontrakkan Kahar, karena dia masih belum siap untuk benar-benar tinggal serumah.

Sudah tiga bulan ini Kirana tidak haid. Iseng-iseng dia membeli testpack di supermarket. Setelah dia test ternyata hasilnya positif. Merasa belum yakin, dia beli dan test lagi, ternyata positif juga.

 

Barulah setelah itu dia bicara pada Kahar kalau dia hamil. Kahar bingung karena selama ini dia pakai kondom, ah tapi kondom juga kan berpori. Dan sel spermatozoid lebih kecil daripada pori-pori kondom. Setelah merasa benar-benar yakin istrinya hamil, barulah kahar mau mengantar istrinya periksa ke dokter spesialis kandungan. Dokter bilang usia kandunganya sudah tiga minggu lebih.

 

“Aku belum siap punya anak, Kirana. Pekerjaanku masih serabutan. Usaha orang tuaku sedang mulai dari nol lagi setelah sebelumnya bangkrut. Adikku yang kuliah di jogja masih butuh banyak biaya. Belum lagi biaya kuliah dan kebutuhan hidup kita sehari-hari. Lagipula kita hanya kawin siri, jadi belum banyak yang tahu. Kalau tiba-tiba kau hamil, apa kata orang nanti. Bisa hancur berantakan reputasi dan martabat keluarga besar kamu di mata masyarakat luas”

 

“Tapi aku siap menghadapi semuanya, sekiranya kau tidak memintaku untuk menggugurkan kandunganku”

 

“Aku mohon, Kirana. Gugurkan saja kandungamu itu! Sebelum 40 hari, janin itu belum bernyawa. Jadi kita tidak membunuh seorang manusia.”

 

“Nanti kita sama-sama cari Dokter yang mau melakukan praktek aborsi.”

“Memangnya kau punya uang? Aborsi kan gak murah?”

“Kau tak perlu pikirkan hal itu!. Biar itu jadi urusan aku. Yang penting sekarang kau harus pintar-pintar menyembunyikan perutmu yang semakin membesar itu!”

 

Ternyata tidak mudah mencari dokter yang mau melakukan praktek aborsi dengan resiko kecil dan biaya yang tidak terlalu mahal. Apalagi mereka tidak membayar tunai sekaligus. Hingga akhirnya mereka baru bisa melakukannya setelah 41 hari usia kandungan Kirana. Hal itulah yang membuat Kirana merasa bersalah karena telah membunuh anaknya sendiri. Ibu macam apa yang tega membunuh anaknya sendiri?

Җ

“Itu anak kita, Har. Tega-teganya kau menguburnya di samping tempat pembakaran sampah. Setidaknya kau bisa cari tempat yang lebih layak kalau kau mau?”

 

“Aku benar-benar merasa gugup malam itu. Aku kalut dan takut kalau sampai ada orang lain yang memergoki aku”

Σ

Awalnya, mereka berdua hanya mengira perubahan sikap dan sifat Kirana hanyalah sementara akibat sindrom pasca-melahirkan yang sering dialami ibu-ibu muda. Tetapi Kirana tidak melahirkan bayi melainkan menggugurkan kandungan. Dan ada yang salah dalam proses aborsi itu.

 

Tidak lama setelah peristiwa itu. Secara tak sengaja Kirana menyaksikan berita sore di televisi mengenai sebuah tempat praktek aborsi ilegal yang digrebek polisi karena diduga yang melakukan adalah dokter-dokter yang belum berpengalaman dan diragukan kompetensinya. Kirana yakin betul itu adalah tempat yang sama dimana dia menggugurkan kandungannya. Hal ini semakin membuat rasa bersalahnya semakin menjadi-jadi ditambah lagi dengan rasa sakit di bagian rahimnya yang sering dialaminya.

 

Sudah beberapa minggu Kirana tidak kuliah. Kirana terus mengurung diri di dalam rumah. Enggan bertemu orang lain. Sering terbangun tengah malam dan mengigau.

 

Suara-suara misterius itu terus menghantui pikirannya, membuatnya gelisah siang malam.

 

Pindahkan aku, Ibu! Aku ingin tidur disamping ibu. Bukan di tempat kotor dan bau seperti ini. Pindahkan aku, Ayah! Aku ingin tidur disamping ayah. Bukan disamping pohon dan sampah ini.

 

“…Bukan aku yang membunuh bayi itu. Bukan. Bukan aku. Perempuan-perempuan berseregam putih-putih itulah yang membunuhnya. Seorang Ibu tidak akan membunuh anaknya sendiri…”

 

“Bukan...bukan...bukan aku...tapi mereka...aku bukan pembunuh” ceracau Kirana setengah berteriak.

 

Kerasnya suara hujan lebat dan angin kencang membuat teriakkannya terdengar samar-samar.

 

“huh….huh…..huh……” tiba-tiba Kirana terduduk kaget di atas kasur.

 

Kahar yang tertidur pulas disampingnya tidak terganggu sama sekali. Dia sangat kelelahan setelah seharian keliling kesana kemari mencari uang pinjaman untuk membayar sisa biaya aborsi istrinya yang harus dilunasinya esok hari.

 

Kirana terjaga dari tidurnya dengan keringat bercucuran di dahi, leher, dan kedua telapak tangannya. Suara-suara misterius itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Bahkan terdengar lebih keras lagi saat dia terjaga. 

 

Bukankah Ayah pernah bilang kepada Ibu, kalau dunia ini tidak menjanjikan apapun selain penderitaan, rasa sakit dan kepalsuan. Maka dari itu, Ibu. Ikutlah bersamaku. Ajak Ayah juga. Kalian pasti akan senang dan bahagia berada di sini. Tenang. Nyaman. Damai. Tidak seperti dunia yang sekarang kalian hidup di dalamnya yang bising, kacau, dan tergesa-gesa.

 

“Kau dengar itu, Har? Kini anak kita mengajak Ibu dan Ayahnya untuk ikut bersamanya ke alam keabadian. Aku mendengar dengan jelas suara-suara itu dalam mimpiku.” Bisik Kirana kepada suaminya yang tertidur pulas.

 

Meskipun dia adalah ayahku. Tetapi, lelaki itulah yang telah memisahkan seorang anak dari ibunya. Dia pantas dihukum. Bunuh dia sekarang! Sebelum dia membunuhmu secara perlahan-lahan melalui penderitaan dan rasa sakit yang lebih panjang.

 

“Kau pendendam juga anakku, sama seperti Ibumu” Kirana menanggapi suara-suara di dalam kepalanya.

 

Malam itu Kahar menginap di rumah orang tua Kirana yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah kontrakkannya. Kedua orang tua Kirana sedang menginap di rumah saudara mereka di kampung sebelah.

 

Tiba-tiba Kirana merasa haus dan langsung menuju ke dapur. Sebuah pisau tergeletak disamping kompor gas. Pisau dapur itu berkilau-kilau memantulkan sinar lampu bohlam 40 watt, tangan Kirana segera meraihnya dengan gemetar.

 

“Aku rasa pisau ini akan terlihat lebih artistik lagi kalau berlumuran darah manusia, seperti yang sering kulihat di film-film horor, dan darah yang akan menghiasi pisau ini adalah darahmu, Kahar. Malam ini aku akan membuat karya seni instalasi seperti yang sering kulihat di galeri-galeri seni. Dan akan tampak lebih hidup dari karya-karya seniman lainnya.” Ucapnya dalam hati.

 

Kirana kembali ke kamarnya, tetapi sebelum membuka pintu kamarnya, suara-suara itu kembali terdengar lagi. Semakin keras dan terasa dekat. Segera dia teringat kuburan janin itu. Dia langsung berlari ke luar rumah menuju kuburan disamping kontrakan Kahar. Seperti orang kesurupan dia gali kuburan itu dengan pisau yang diambilnya dari dapur.

 

Hujan semakin deras. Angin semakin kencang. Kirana tetap menggali dan menggali…hingga

Akhirnya dia berhasil mengangkat mayat bayi yang masih berupa janin itu. Dia menangis sambil melihat mayat janin yang masih berkafan itu, lalu menggendongnya dan segera menuju rumah orang tuanya lagi.

 

Meskipun dia adalah ayahku. Tetapi, lelaki itulah yang telah memisahkan seorang anak dari ibunya. Dia pantas dihukum. Bunuh dia sekarang! Sebelum dia membunuhmu secara perlahan-lahan melalui penderitaan dan rasa sakit yang lebih panjang.

“Kau pernah bilang kalau aku perempuan pendendam. Kau benar, Kahar sayang. Dan malam ini akan jadi malam terindah kita sekaligus balas dendam paling manis yang pernah aku lakukan. Bukankah selama ini kau selalu bilang kalau kau ingin segera bertemu dan menyatu dengan Tuhan, Kahar? Malam ini kau akan bertemu denganNya. Tetapi kau tidak perlu khawatir, Dia pasti akan memaafkanmu, sayang! Akupun akan menyelesaikan semua pertunjukan ini dengan elegan. Kau hanya akan merasakan sedikit rasa sakit yang tak sebanding dengan apa yang selama ini aku rasakan”

 

Kirana mengarahkan pisau yang ada ditangannya ke leher kahar yang masih tertidur pulas, dan menggoroknya. Kahar membuka matanya dan berusaha bernapas sebelum akhirnya benar-benar menutup mata selamanya. Kemudian Kirana pun melakukan hal yang sama ke lehernya sendiri. Seketika itu juga Kirana ambruk tepat diatas tubuh Kahar dengan leher yang memuncratkan darah segar ke segala arah. 

Ψ

Bayu yang berjanji akan datang untuk mengantarkan uang untuk melunasi biaya aborsi Kirana, baru sampai keesokan harinya.

 

Betapa terkejutnya Bayu melihat kedua orang sahabatnya itu tergelatak tak bernyawa dalam kondisi tragis dengan darah yang berceceran dimana-mana dan bau busuk janin yang sudah tak jelas bentuknya yang ada ditengah kedua mayat sahabatnya itu. Dan betapa menyesalnya dia melihat semua ini dengan mata kepalanya sendiri. Seandainya saja malam itu dia jadi datang…

 

ђ

HARSZ. BEKASI, 29 DESEMBER 2009.

——» Komentar «——

popi
2010-03-24 15:59:22
"salam kreatip lanjutkan
"

[Kirim Komentar]
OTHER POST