Login User

 Cerpen Pilihan Pekan Ini

Farewell... My First Love, Farewell... My Blood Enemy

Oleh : Vinna Christina

Kuayunkan kakiku untuk melangkah semakin dekat dengan tempat yang menjadi bagian dari memori indah yang seumur hidupku tidak akan pernah aku lupakan. Angin sore yang semilir menghembus dedaunan pohon-pohon beringin yang tumbuh di sepanjang lapangan sekolahku. Memori itu kembali terbayang di otakku, ketika untuk pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di sekolah ini, sekolah baruku setelah aku lulus dari Sekolah Dasar. Aku masih ingat betapa bangganya aku mengenakan seragam putih dengan rok setinggi lutut berwarna biru tua itu. Di lapangan inilah aku resmi dianggap sebagai remaja dan bukan anak kecil lagi. Kulangkahkan kakiku kembali mengitari seisi sekolah lamaku sampai akhirnya kakiku berhenti melangkah di depan sebuah pintu tua yang terbuka lebar-lebar di hadapanku. Kulemparkan sebuah senyuman ke arah seorang wanita tua setengah baya yang duduk di depan sebuah meja antik yang berukiran indah khas Jepara.

”Selamat siang, Bu Ningsih. Apakah Ibu masih mengingat saya?” tanyaku padanya. ”Isabella, muridku. Apa kabar, Nak? Tentu saja aku masih mengingat dirimu, walaupun Isabella yang  Ibu lihat sekarang tampak jauh lebih cantik dan dewasa dibandingkan dengan Isabella yang dulu Ibu kenal. Ada apa gerangan yang membawamu sampai kemari?” ”Ah, Ibu bisa saja. Saya jadi malu. Saya baik-baik saja, Bu. Bagaimana dengan kabar Ibu sendiri?” ”Yah, beginilah Nak. Sebelum Ibu pensiun, Ibu masih ingin membaktikan diri di sekolah ini. Nampaknya, kamu ingin meghilangkan rasa rindumu pada sekolah ini ya? Makanya kamu datang kemari. Yah, silahkan melihat-lihat. Tidak ada perubahan yang menonjol terjadi setelah kamu lulus dari sekolah ini. Semuanya masih sama seperti dulu.”

”Iya Bu. Saya kangen sekali dengan sekolah ini, saya juga kangen dengan Ibu dan guru-guru yang telah mengajar saya dulu.”

”Baiklah, Ibu akan membiarkan kamu melepas rasa rindumu. Ibu akan kembali mengobrol lagi denganmu setelah Ibu menyelesaikan pekerjaan Ibu,” jawabnya sembari menekuni kembali buku-buku dan catatan yang ada di atas meja tua antik itu. Wajah Ibu Ningsih masih tetap terlihat cantik sekalipun raut dan kerutan di wajahnya terlihat jelas menghiasi wajah lembut dan keibuan yang dimilikinya. Aku dulu dekat sekali dengan Ibu Ningsih, beliau sudah kuanggap sebagai Ibu kandungku sendiri di sekolah.

Ruangan perpustakaan itu masih tampak sama seperti dulu, buku-buku di masa kecil yang seringkali aku pinjam masih tersusun rapi di tempatnya, sama halnya dengan novel-novel detektif karangan Agatha Christie yang menjadi buku bacaan favoritku ketika SMP dulu tetap berada di rak di pojok dekat jendela, tidak ada yang berubah. Aroma melati tampak segar mengisi seluruh penjuru ruangan. Mataku kualihkan ke arah sebuah piano kecil yang masih tetap berdiri dengan anggun di samping rak buku itu. Kupejamkan mataku, lalu aku melihat seberkas memori yang kembali berputar seperti deretan film-film di otakku. Di sanalah, di kursi jati yang sudah tua itu, aku melihat dia, dia yang selama ini ada di dalam hatiku, dia yang selalu memainkan tuts-tuts piano dengan nada-nada yang indah, dialah cinta pertamaku ketika aku duduk di bangku SMP. Reno Aditya Mahendra, pria yang menarik perhatianku ketika untuk pertama kalinya aku mendengarkan lantunan irama-irama musik piano yang dia mainkan. Ketika kubuka kembali mataku, aku masih ingat sosok tubuh yang begitu asyik memainkan piano seakan tidak ada seorang pun yang bisa menghentikannya, dia sedang bermain di dalam dunianya sendiri. Reno, apakah kamu masih ingat denganku atau apakah hanya aku yang masih terlalu lugu untuk menunggumu kembali...

Aku berjalan menuju piano tua dan tanpa sadar aku mulai menggerakkan jemariku yang sekarang sedang menari-nari di atas tuts-tuts piano yang tampak berdebu itu. Do re mi la sol... do re mi la sol... sol fa mi re re do...

 “Uum...mengapa nada do nya terdengar sedikit aneh ya? Atau hanya perasaanku saja?” tanyaku di dalam hati. Aku segera berlari menuju meja Ibu Ningsih. “Maaf Bu. Saya mau tanya mengapa salah satu tuts piano itu berbunyi tidak semestinya ya? Nadanya terdengar berbeda? Apa piano itu sudah rusak?” tanya Isabella memburu Ibu Ningsih.

“Kelihatannya memang ada bagian dari tuts piano itu yang rusak. Baru saja tiga hari yang lalu Pak Jono, guru kesenian, memeriksa keadaan piano itu, dan entahlah beliau mengatakan sesuatu yang aneh,” jawab Ibu Ningsih sambil menatapku dari balik kacamatanya yang menurun hingga ke hidung.

“Sesuatu yang aneh. Apa itu, Bu?” tanyaku spontan.

”Sebentar ya Ibu ingat-ingat dulu. Tetapi Ibu tidak begitu mengerti apa yang dikatakan Pak Jono sehingga Ibu pun lupa dengan apa yang telah dikatakan Pak Jono. Hanya itu yang Ibu tahu. Maaf ya, Nak.”

Oh, begitu ya Bu.  Tidak apa-apa kok, Bu. Baiklah, saya tidak akan mengganggu pekerjaan Ibu lagi. Terima kasih ya Bu,” kataku sambil berjalan kembali ke arah piano itu.

“Uum...aneh. Ya sudahlah, mungkin kondisi piano itu sudah termakan oleh waktu yang panjang sehingga mungkin ada salah satu bagiannya yang rusak.”

“Dorrr...,” terdengar suara menghentak punggungku membuat tubuhku tersentak ke depan karena terkejut.

”Hai, ngapain kamu di sini? Kangen sama aku ya? Hehehe...,” ujar seorang cowok yang sekarang memalingkan wajahnya tepat di depan hidungku.

”Ben, kamu ini ga sopan banget sih sama senior. Tau ga teriakanmu itu sudah membuat jantungku seperti ingin copot rasanya. Ngapain juga kamu ada di sini?” tanyaku balik bertanya.

”Idiihh... senior? Aku sama kamu itu seumuran ya, cuma karena aku siswa pindahan dari sekolah lain pas tengah semester makanya aku terpaksa ngulang lagi di sekolah yang baru. Jadinya aku setingkat di bawah kamu.Lagipula ini kan sekolahku, perpusatakaanku, jadi wajar dong aku ada di sini. Nah, kamu yang seharusnya dicurigai ngapain ada di sini? Kamu kan bukan siswi sekolah ini lagi,” ujarnya sambil berkacak pinggang.

”Suka-suka aku dong, bukan urusanmu. Walaupun aku bukan siswi sekolah ini lagi, aku juga berhak kok masuk sekolah ini. Sekolah ini kan ex-sekolahku. Ga ada peraturan yang melarang ex-siswi untuk kembali ke ex-sekolahnya kok. Jadi kamu ga ada hak untuk bicara begitu sama aku,” ujarku sewot.

Namun, ternyata perkataanku yang lumayan kasar dan keras tadi tidak membuatnya jera juga. Dia malah tersenyum-senyum dengan matanya yang bersinar nakal. Ingin rasanya aku segera pergi menjauh dari hadapannya. Ben adalah nama panggilan untuk Benjamin Kanata. Nama yang cukup aneh, menurutku, sepertinya nama ini terlalu dipaksakan oleh orang tuanya.  Ben sebenarnya cukup tampan dan telah mempesona banyak gadis di sekolahku, baik teman-teman seangkatanku maupun adik-adik kelasku. Aku rasa hanya aku saja yang tidak tertipu oleh penampilannya  yang mempesona itu dan hal yang paling aku tidak sukai dari anak ini adalah dia selalu saja membuat aku marah dan kesal setiap saat aku bertemu dengannya. Perasaan ill feel ini sudah terjadi sejak aku bertemu dengannya di lorong sekolah kami ini ketika aku sedang terburu-buru ke kelas untuk mengantar daftar absensi kelasku. Tidak sengaja aku bertabrakan dengannya. Bayangkan saja, dia menggunakan skate board di sepanjang koridor sekolah. Penampilannya yang urak-urakkan itu semakin membuat aku yakin kalau dia memang anak badung yang akan mengacaukan seisi sekolah. Mungkin aku terlalu hiperbolis, tetapi itulah kesan pertama yang aku dapat darinya.

”Hei, mau kemana?” tanyanya sambil mempercepat langkahnya mengejarku.

”Bukan urusanmu! Lagipula bukannya kamu sekarang seharusnya ada di dalam kelas ya? Jam istirahat kan masih sejam lagi. Kamu itu ga boleh keluyuran selama jam pelajaran, ketahuan guru baru tau rasa deh,” ujarku sambil tetap mempercepat jalanku dan tidak menoleh ke belakang.

”Yah, terserah kamu saja. Aku ga akan mengganggu kamu lagi.” Seketika itu juga aku mendengar langkah kaki yang sedari tadi berusaha mengejarku terhenti. Namun, aku tetap saja berjalan dengan cepat karena aku benar-benar tidak ingin melihat wajahnya lagi.

Keesokan harinya aku kembali lagi ke sekolah lamaku dan mendatangi perpustakaan itu lagi. Entah mengapa aku kembali lagi kemari? Seakan masih ada sesuatu yang entah apa itu aku juga tidak mengetahuinya, membuat perasaanku tidak tenang semalaman, aku pun hampir tidak bisa memejamkan mataku barang beberapa jam saja untuk tidur. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal perasaanku malam itu. Padahal besok malam aku harus meninggalkan Jakarta mungkin untuk waktu yang sangat lama. Ayahku dipindahtugaskan ke luar negeri, jadi kami sekeluarga dengan berat hati harus pindah ke Paris. Entahlah, sampai berapa lama aku harus berada di sana, aku pun tidak tahu. Oleh sebab itu, aku kembali lagi ke sekolah lamaku, untuk memuaskan rasa rinduku akan kenangan indahku di sekolah itu.

”Pagi, Bu,” sapaku sambil tersenyum kepada Ibu Ningsih.

”Pagi, Isabella. Lho, bukannya kamu baru kemarin kemari. Masih kangen dengan sekolah ini ya?” tanya Ibu Ningsih, seulas senyuman hangat menghias wajahnya.

”Iya Bu. Ada kemungkinan saya tidak akan berada di Jakarta lagi untuk waktu yang sangat lama, tetapi saya tidak tahu sampai berapa lama juga saya harus berada di sana,” ujarku sedih.

”Lho, kamu mau kemana toh?” tanya wanita setengah baya itu. Terlihat kerutan-kerutan penasaran di keningnya.

”Jangan bilang kamu mau pergi ke luar daerah!” seru suara yang tidak asing lagi terdengar di telingaku.

”Mengapa kamu selalu ada di sini ketika aku berada di sini sih? Kamu membuntuti aku ya?” tanyaku dengan sebal.

”Percaya ga kalau aku bilang aku selalu menunggumu di sini?” jawabnya balik bertanya.

”Kamu itu bodoh, kurang kerjaan, atau idiot sih. Kamu ga sekolah?” tanyaku dengan nada tinggi.

”Terserah aku dong, kamu kan bukan ibuku. Sekarang jawab pertanyaanku, kamu mau ke luar daerah?”

”Bahkan bukan saja luar daerah, tetapi aku akan berangkat ke Paris malam ini, Ben,” ujarku sambil membalikkan badan menatap wajahnya yang terkejut dengan berita keberangkatanku ini.

”Apa? Tapi kenapa?”

”Bukan urusanmu, Ben,” ujarku sambil berjalan menuju piano kecil dimana aku bertemu cinta pertamaku.

Sambil mendenting-dentingkan lantunan musik dari piano itu, tanpa sadar aku menemukan secarik kertas di bawah tuts piano bernada do itu. Hatiku berdebar dengan kencang membuka lipatan lusuh yang dilipat sangat kecil sekali itu.

”For My Dear, Isabella.

 

Aku tidak tahu mengapa aku ingin menulis surat ini untukmu. Aku pun merasa tidak ada gunanya juga aku menulis surat ini untukmu. Mungkin perasaan cinta yang aku rasakan selama ini yang memberikanku keberanian untuk membuatku menulis apa yang selama ini ingin aku katakan padamu Isabella. Tetapi, aku tidak pernah punya keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya padamu. Aku sangat bahagia melihat dirimu yang selalu berdiri di pojok ruangan sambil memperhatikanku memainkan alunan musik piano. Mungkin kamu tidak akan pernah tahu bahwa sesungguhnya aku ingin sekali mengenalmu lebih dari seorang yang senang melihatku bermain piano di perpustakaan. Tetapi, keinginan itu pun harus pupus karena aku tidak kuasa melihatmu pada akhirnya sedih karena diriku. Aku tidak sanggup melihatmu sedih karena aku karena aku ingin wajah yang selalu bersinar ceria ketika aku bermain piano tetap hadir bahkan sampai Tuhan memanggil diriku pada akhirnya. Aku tidak bisa berkenalan denganmu dan hanya bisa melihatmu dari tempat duduk ini karena kanker otak yang telah menyerang diriku selama setahun ini menghentikanku.

Maafkan aku Isabella karena aku sebenarnya tidak ingin membuat dirimu sedih, jauh dari lubuk hatiku aku ingin selalu melihat wajah yang selalu tersenyum itu, wajah yang bersinar seperti cahaya bintang. Ketika dokter memvonis bahwa hidupku hanya tinggal menghitung hari, aku pun terpaksa tidak akan pernah memainkan piano lagi untukmu, Bellla. Aku harus dirawat di rumah sakit karena kanker yang berselubung di dalam tubuhku rupanya tidak mengizinkan aku lagi untuk terus berada lebih lama di dunia ini lagi. Oleh karena itu, aku meminta adikku, Ben untuk menemanimu sementara aku masih berperang melawan penyakitku ini karena aku tahu kamu selalu saja berada sendirian di perpustakaan itu setiap hari. Aku berpikir akan lebih baik jika seandainya ada seseorang yang bisa menjadi temanmu menggantikan diriku. Dia adalah adikku yang sangat aku sayangi dan dia pun menyayangiku. Walaupun pada awalnya dia menolak untuk pindah sekolah karena permintaanku ini, akhirnya dia pun mau mengabulkan keinginan terakhirku.

Aku minta maaf karena aku harus mengatakan selamat tinggal padamu, namun aku pun berterima kasih atas cinta yang aku rasakan sekarang dan oleh karena itu aku ingin sekali mengatakan bahwa aku telah jatuh cinta padamu, Isabella.

                                                               From : The One Who Loves You  By A Piano,
                                                                              Reno    

Tidak terasa air mata telah jatuh membasahi kedua pipiku. Aku tidak sanggup berbuat apa-apa lagi. Kakiku lemas dan kerongkonganku terasa kering mencekik leher.

“Isabella, kau sudah membaca surat dari Kak Reno? Maaf, aku tidak pernah memberitahu sebelumnya kepadamu tentang Kak Reno. Aku hanya…hanya tidak ingin membuatmu sedih. Awalnya, aku tidak menyukai ide kakakku itu walaupun aku tahu itu permintaan terakhirnya padaku sebelum ia meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya, makanya aku selalu berbuat hal-hal yang mungkin telah membuatmu kesal. Tetapi, pada akhirnya jujur aku katakan aku mulai menyukaimu, semakin lama perasaan ini semakin berkembang sehingga aku tidak tahu aku harus berbuat apa lagi terhadapmu. Oleh karena itu, aku menyesal dengan apa yang telah aku perbuat selama ini terhadapmu. Aku tahu kamu sangat membenci aku. Aku pun tidak tahu bagaimana caranya aku mengubah segalanya dan kembali mulai lagi dari awal, oleh karena itu sampai sekarang aku tetap bersikap seperti itu terhadapmu untuk menarik perhatianmu,” kata-kata itu terucap dari mulut adik cinta pertamaku, Benjamin Kanata.

“Entahlah, aku tidak sanggup berbicara apa-apa. Maaf,” ujarku berlari menangis keluar perpustakaan. Aku tidak sanggup berada di sana lagi, tidak setelah aku mendengar hal yang telah membuat hatiku terasa sakit seperti teriris-iris dan dadaku sesak tidak bisa bernafas. Yang bisa aku lakukan hanya terus berlari dan berlari. Tidak kuhiraukan suara Ben yang berteriak-teriak memanggil namaku.  Di dalam hatiku, aku tidak menyangka semua akan terjadi dan berakhir seperti ini. Sosok pria yang telah menghilang sekian lama dan tanpa aku tahu kabar beritanya dari siapapun bahkan dari pihak sekolah, tiba-tiba hadir dalam sepucuk surat rahasia yang disimpannya di bawah tuts piano yang begitu sering ia mainkan di sekolah. Aku sudah lelah menunggumu Reno, benar-benar lelah hingga aku sendiri percaya aku tidak akan pernah bisa menyukai orang lain selain dirimu. Dan dengan ide konyolmu itu, kamu membuat hidupku semakin menderita. Aku tidak pernah membayangkan kisah cinta pertamaku akan terjadi seperti ini. Akhirnya, kuputuskan untuk mengucapkan selamat tinggal kepadamu, Reno. Farewell... My First Love. Dan selamat tinggal  seseorang yang paling aku benci sedunia, Ben.  Farewell... My Blood Enemy.                                                

——» Komentar «——

[Kirim Komentar]
OTHER POST