Dulu, saat kita masih kanak-kanak, semuanya begitu indah. Semuanya, nampaknya, serba boleh! Kita boleh bangun kesiangan, boleh tidak puasa di bulan Ramadhan, dan boleh ini serta boleh itu. Asyik, kan? Tetapi, orangtua kita dulu, walaupun kita belum akil baligh, mereka selalu menanamkan perilaku keagamaan kepada kita.
Hal yang paling menarik saat kanak-kanak adalah saat belajar ngaji. Aku sudah tidak ingat lagi sudah berapa banyak guru ngaji yang kudatangi. Semuanya mempunyai karakter yang sama: bengis dan selalu menyiapkan ranting kayu untuk memukul murid-murid yang nakal dan suka mengganggu.
Mengaji biasanya dilakukan di surau-surau atau langsung ke rumah ustadz. Belajar mengaji biasanya di lakukan setelah sholat Maghrib hingga menjelang Isya. Dengan murid yang demikian banyak, bisa Anda bayangkan kemeriahan mengaji saat itu. Ustadz biasanya langsung memanggil beberapa murid untuk mengaji di depannya. Wah, asyik sekali.
Di dusunku yang sunyi belum ada listrik seperti sekarang. Semuanya serba temaram (kayaknya syahdu banget, ya?). Murid-murid biasanya nggak membayar uang mengaji kepada ustadz melainkan patungan membawa minyak tanah untuk penerangan mengaji. Wajah ustadz kami yang sudah memasuki usia senja sungguh mengandung magnet yang luar biasa jika dalam suasana yang temaram tersebut. Suaranya yang sudah mulai parau terdengar indah seperti suara Rhoma Irama saat berkata : TERLALU.....! Singkat kata mengaji setelah sholat Maghrib: Sungguh menakjubkan!
Aku sendiri sungguh ingin sekali sekali lagi mengucapkan berbanyak-banyak terima kasih kepada semua ustadz ngajiku. Walau suaraku tidak indah, berkat mereka, aku jadi bisa mengaji. Walau suaraku parau seperti burung malam yang terbang tinggi, aku tetap bersyukur sebab aku bisa mengaji. Singkat kata belajar mengaji di surau-surau yang temaram: Sungguh menakjubkan!
Bagaimana dengan pengalaman Anda?