Masyarakat Indonesia mengenal babad sebagai kitab yang berisi kisah para dewa, pahlawan sekaligus setan-setannya yang menjelma pada sifat-sifat manusia. Tapi, babad yang satu ini dibuat oleh Ay Tjoe Christine yang berisi kisah hidupnya sendiri dalam bentuk fragmen-fragmen cerita.
Metoda produksi artistiknya cukup menarik yang dirangkum dalam judul “Symmetrical Sanctuary” di SIGIarts Gallery, Jakarta. Kanvas berukuran 2015 x 73 cm menjadi medium totalitas dan intensitas garisnya dalam membangun konstruksi cerita hidupnya dari entitas kebahagiaan sampai penderitaan senimannya.
Karya yang dipamerkan mulai 15 – 30 Januari 2010 itu menjadi pembeda gagasan artisticnya dari produksi konsumsi seni rupa kontemporer yang hampir seragam memproduksi karya-karya apropriasi, pop art, street art, fetish dan lain-lain beberapa tahun ini.
Christine mengambil sudut pandang lain dari trend produksi artistic dewasa ini. Konsistensi pada bentuk artistiknya menjadikan karyanya makin khas torehan Ay Tjoe Christine. Meski sepintas seperti lukisan klasik Kamasan di Klungkung, Bali, Christine memilih kosmologi dirinya sendiri dalam konteks ruang dan waktu sejarahnya untuk mengisi fragmentasi humanisasi dirinya.
“Symmetrical Sanctuary” itu saya lihat sebagai babad kehidupan manusia modern di atas kanvas sepanjang 20 meter yang dibingkai dalam sebuah konstruksi display berbentuk lingkaran berdiameter 650 cm. Figur binatang, manusia, tanah dan rumah disajikan dengan ekspresif oleh Christine. Dia membaca kosmologi ruang kesenian dan lingkungannya sebagai referensi kultural dalam mengemas gagasan artistic sehingga tersusun sebuah narasi simbolik tentang dirinya sendiri.
“Karya Ay Tjoe ini sebuah Hidden Anthology yang menceritakan dirinya sendiri dengan tampilan fragmen-fragmen di atas kanvas 20 meter itu. Satu hal yang menarik, karya Christine ini multitafsir. Apresian boleh memaknai secara bebas terhadap karyanya,” kata Asmoedjo Jono Irianto -kurator pamerannya. Dia juga menulis dalam catatan kurasinya, bahwa garis-garis Christine adalah vibrasi gejolak jiwanya.
Kekuatan grafis pada lukisan abstrak-figuratif memposisikan Ay Tjoe Christine sebagai seniman yang jenial di ranah medan sosial seni rupa Indonesia saat ini. Pembawaannya yang untouchable dan sifat introvert-nya juga memberi nilai lain atas kehadiran seni lukisan sebagai pencerahan estetik untuk dirinya sendiri dan public seni rupa kita saat ini seperti yang diharapkannya.
Tidak hanya itu konsep karyanya juga meliputi bagaimana cara para kolektor memiliki lukisan tersebut. Christine secara sadar menginginkan para kolektor untuk berembuk menyoal pemilihan fragmen-fragmen mana dari lukisan Babad itu yang dibeli dengan kisaran harga 60 juta rupiah per bagian/fragmen. Walhasil, dari 20 fragmen yang disajikan Christine akhirnya terbagi menjadi 14 fragmen – secara otomatis hanya 14 kolektor yang secara demokratis berhak memiliki karya tersebut.
Lalu apa lagi yang menarik pada pameran itu adalah sebuah kesepakatan konseptual mengenai bagaimana lukisan itu disajikan. Ay Tjoe Christine menyimpan makna tersendiri kenapa lukisannya ditempel dengan magnet. Kurator pameran pun tidak bisa menyentuh wilayah itu. Adakah keistimewaan sajian karya menggunakan magnet ketimbang dibingkai dalam spanram atau dipaku ke dinding? “Hanya Christine yang tau makna itu,” kata Asmoedjo.
Hal lain adalah kemasan sajian lukisan itu. Sebuah konstruksi yang membentuk lingkaran dengan celah selebar 50 cm untuk pintu masuk dan keluar para apresian pada titik diagonal di ruangan itu. Seniman dan kuratornya seolah-olah hendak membuat komodifikasi atas ruang apresiasi seni rupa yang sudah lazim, pada pameran ini menjadi tidak lazim. Meski bukan hal baru dalam pameran seni rupa di negara lain. Cara penyajian itu justru membuatnya karya dan senimannya dicitrakan dengan istimewa. Benarkah?