Login User

 Berita

Tatung Khas Kalbar, di Kamus China Modern Juga Tak Ada

Oleh : august sani

Rabu, 24 Februari 2010 , 09:20:00

Oleh : XF Asali*

Salah satu aksi Tatung khas Kalimantan Barat. (REPRO)
Masih dalam suasana silahturahmi bagi keluarga yang merayakan tahun baru Imlek yang menyambut datangnya musim semi. Sehingga sampai sekarang di dunia Internasional menyebutnya sebagai Festival Musim Semi/Chun Ciek .

Perayaan ini baik di China maupun di perantauan setelah berlangsung 15 hari , akan berakhir dengan menampilkan berbagai acara kesenian, tradisi, dan hiburan kebudayaan, di antaranya perarakan kesenian naga, kesenian barongsai, tari-tarian tradisi, peragaan ketangkasan, pertunjukkan wayang orang , wayang golek,wayang kulit, wayang gantung, potehi/wayang kain, jajanan kuliner dan masih banyak yang lainnya, tetapi yang pasti malam itu jalanan akan di penuhi dengan hiasan lampu lentera/lampion (semacam Keriang Bandong di Pontianak).

Sehingga sampai di dunia Barat mereka menyebutnya sebagai Festival Lampion.

Di China & Taiwan perayaan penutup ini disebut Yuan Shiau Ciek, atau Cang Nyat Pan (dialeg Hakka)

Sedangkan Cap Go Meh (dialeg Hokkian & Tio Ciu yg harfiah berarti malam ke-15) , masa lalu mayoritas etnis Tionghoa yang banyak berniaga dan berinteraksi sampai ke pelosok Nusantara, khususnya di Pulau Jawa adalah dari Suku Hokkian.

Maka sebutan inilah yang akhirnya popular dikenal sampai sekarang, termasuk mayoritas suku Hakka Singkawang akhirnya juga menyebutnya Cap Go Meh.

Perayaan Cap Go Meh adalah malam kegembiraan rakyat, perayaan menutup berakhirnya Festival Musim Semi, di mana besoknya semua sudah harus kembali bekerja seperti biasanya.

Tahun ini Cap Go Meh jatuh pada tanggal 28 Februari 2010, yaitu pada Kalender Imlek tanggal 15 bulan 1 Keng Yin Nian (2561-KongHuCu )

Jadi tidak heran dalam perayaan tersebut masing masing daerah/ kelompok/ golongan tentu berusaha menampilkan ciri khas daerah tersebut . Di antaranya para umat Taoisme di Singkawang dan sekitarnya mengusung ritual Ta Tung yang menjadi ciri khas yang berbeda dengan daerah lain .

Tatung adalah salah satu budaya masyarakat Hakka di Kabupaten Sambas, yang berkat liputan dari media cetak dan media elektronik dari tahun ke tahun menjadi semakin popular, bahkan di ajang Nasional.

Mungkin budaya Ta-Tung di sini merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia. Karena kata Tatung saja berasal dari dialeg kata-kata dialek Hakka di Kalimantan Barat, yaitu:

Ta, secara harfiah berarti tepuk atau pukul.

Tung, secara harfiah berarti Thungkie orangnya.

Jadi Tatung, berarti menepuk atau menyadarkan sang Thungkie atau sang medium.

Kami sudah berusaha cari tahu dalam kamus modern China(Chungkok Zhe Hai),memang tidak terdapat kata Tatung.

Yang ada Thung Jie dalam bahasa Mandarin dan dalam dialek Hakka Thung Kie. Artinya orang yang dirasukan atau medium.

Banyaknya peminat Tatung di Kalimantan Barat, sehingga tidak heran sekarang di Singkawang sudah ada terbentuk wadah perkumpulan para Thung Kie, sebagai forum untuk tetap memelihara dan melestarikan kebudayaan daerah bernama TATUNG, yang benar-benar khas budaya Kalbar karena tidak dikenal nama Tatung ini di daerah lain.

Tatung selain bisa membuat atraksi-atraksi super natural atau superior, dapat juga mengobati orang sakit yang aneh atau misterius (yang sulit dijelaskan secara medis) seperti kesurupan roh jahat atau setan, guna-guna atau teluh dan lain-lain,tentu bagi orang yang percaya.

Hal-hal demikian kadang-kala tidak terlepas dai situasi dan kondisi serta lingkungan pada saat itu.

Kami teringat pada zaman penjajahan Jepang (1942-1945). Orang di kampung kalau sakit, terpaksa minta pertolongan kepada Tatung dan dukun sebagai solusinya.

Alasannya selain tenaga medis modern tidak ada di pedesaan, tentu karena alasan ekonomi juga.

Coba bayangkan seratus tahun yang lalu di pedesaan Kalbar, di mana medis modern belum terjangkau.

Bilamana sakit, haruslah ke Tatung dan dukun, itu solusinya.

Demikian tulisan singkat ini, semoga informasi ini bisa memperkaya khasanah pengetahuan kemajemukan budaya, dan berguna khususnya bagi para pemerhati budaya, dan semoga dengan memahami dan saling mengenal akan makin memperkuat kesatuan bangsa.


Salam sejahtera,

* : Budayawan Kalbar, Warga Jalan Sisingamangaraja Pontianak

Sumber http://www.equator-news.com/index.php?mib=berita.detail&id=14533

——» Komentar «——

[Kirim Komentar]