|
Written by Doddi Ahmad Fauji
|
|
Jumat, 17 Juni 2011 08:57 |
|
BOLA sering kali menista, bukan karena dipecundangi oleh tim yang benar-benar tangguh, solid, efektif, dan produktif, melainkan oleh keputusan wasit yang tidak make sense, yang merampas rasa keadilan. Keputusan wasit yang kontroversial, kerap lebih menyakitkan daripada kekalahan itu sendiri.
Bila dicarikan logika atau apologia, akan panjang lebar dan tidak habis-habisnya. Keputusan wasit akan terasa kejam bila tidak akurat. Namun Kaka, percayalah, berjuta mata yang menyaksikan tragedi kecil itu, ikut terhenyak bersamamu, dan tentu merasa kecewa. Kiranya perasaan seperti itu pula yang dirasakan Rudy Voeler 20 tahun silam, atau oleh Zinedine Zidane empat tahun silam. Walau ternoda, untunglah Brasil menang tekak, sedang Prancis harus menangis. Meski kalah, Zidane tetaplah pahlawan di mata pengagumnya, juga di hati bangsa leluhurnya. Pun Kau, Kaka, tetaplah pemain yang memesona, yang memikat berlaksa mata wanita. Menurut beberapa wanita pencinta bola, kau adalah pemain paling ganteng di Piala Dunia 2010.
Pada akhirnya permakluman harus diberikan karena sebuah diktum berbunyi: wasit juga manusia, dan manusia bisa berbuat salah. Hanya memang, meski di lapangan bola, sebaiknya tidak berbuat salah melulu, seperti yang dipertontonkan para pesepak bola Kamerun versus Denmark dalam suatu hiburan yang tidak menghibur. Keputusan wasit yang kemarin, tidak seluruhnya salah, walau tidak betul semua. Jadi tampaknya, para pemain bola harus ekstrahati-hati, termasuk berhati-hati dalam mengendalikan emosi, jangan sampai terpancing. Terutama menghadapi Italia yang ahli licik dan provokatif. Sepanjang saya menyaksikan bola, bila Italia tidak licik dan tidak provokatif, gankster mafioso itu cenderung kalah.
Tidak terpancing emosi sungguh suatu perbuatan yang teramat sulit dilakukan ketika laga bola mendekati ajang taekwondo. Pertandingan brutal Portugal lawan Belanda di Piala Dunia 2006, adalah contoh dari pameran emosi yang terbakar. Tidak kurang dari empat kartu merah dan belasan kartu kuning dilayangkan wasit yang menghakimi peragaan ”gladiator” kala itu. Bola yang semestinya jadi tontonan menyenangkan, sekaligus jadi tuntunan akan laku sportivitas, berubah jadi ladang pembantaian betis yang begitu menakutkan.
Apa-apa yang terjadi di dini hari Waktu Indonesia bagian Barat, ketika separuh mata di seantero jagat menyaksikan ketimpangan itu, adalah suatu tesis yang menegaskan bahwa bola, sekalipun sudah diatur dengan prosedur yang fair, tetaplah menyimpan kemungkinan fatal untuk mengatakan ada suatu yang tidak masuk akal. Kemenangan tertunda Jerman atas Serbia, juga tidak masuk akal bila diukur dengan parameter bola yang normal. Namun agaknya, banyak yang tidak normal dalam Piala Dunia 2010 ini, termasuk ganjaran yang diberikan Stephane Lannoy dari Prancis kepada Kaka. Juga bertumbangannya tim-tim besar yang diunggulkan oleh bandar judi, kiranya menjadi determinasi dari sesuatu yang surealis.
Namun bisa jadi, bola ikut menjadi katalisator dari sedang berlangsungnya perpindahan dominasi puncak-puncak peradaban. Hegel berujar, bahwa puncak peradaban akan berputar laiknya lingkaran spiral. Hal itu ia ungkapkan, setelah melihat adanya perpindahan puncak kebudayaan dari Tanah Babilonia lalu bergeser ke Mesir, pindah ke Yunani-Romawi, memuncak di Jajirah Arabia, lalu kembali ke Eropa, dan perlahan pindah ke Amerika.
John Naisbit meramalkan, setelah tahun 2000 akan menjadi abad Asia, khususon bangsa Asia keturunan Naga Emas atau Ras Mongoloid. Memang, memasuki tahun 2000, gebrakan Korea Selatan cukup meyakinkan untuk melihat determinasi perubahan di atas peradaban. Namun perubahan itu masih dalam taraf pertaruhan di tingkat ratifikasi antara negara modern (baca: Eropa, Amerika, Kanada) melawan negara-negara Asia dan Afrika. Dalam sidang di badan UNESCO, warga Asia termasuk Indonesia, berjuang habis-habisan supaya badan UNESCO menyetujui hak paten atas karya seni dan budaya tradisi sebuah bangsa, sedangkan negara modern hingga saat ini tidak mau menyetujuinya.
Bila perjuangan bangsa-bangsa ini berhasil, maka devisa akan mengalir dari sektor industri kreatif ke wilayah Asia, sebab corak seni budaya tradisi bangsa Asia saat ini dinilai paling kaya di dunia. Bangsa modern yang mau menikmati musik Cianjuran misalnya, atau menikmati tempe mendoan, bila ratifikasi hak paten itu disetujui, maka harus bayar royalti ke Indonesia. Bila ini terjadi, perpindahan puncak peradaban mulai memperlihatkan indikasi-indikasinya.
Namun pergeseran puncak peradaban itu tampaknya masih membutuhkan waktu dan perjuangan lain. Juga bola, belum bisa menjadi indikasi yang memenuhi ekspektasi warga Asia, apalagi dua Korea plus Jepang sebagai wakil Asia, masih dilibas habis secara realistis oleh raksasa-raksasa bola. Dan tentu siapa pun tidak berharap ada angin yang menyambet para wasit hingga meniup peluit kontroversial.
--------------------------------------- pertama kali terbit di koran jurnal nasional dan jurnal bogor, 22 juni 2010. http://www.jurnalnasional.com/show/newspaper?rubrik=Top+Soccer&berita=135076&pagecomment=1
|
|
Written by Zen RS
|
|
Selasa, 29 Maret 2011 15:32 |
|
– aku berlindung dari godaan nurdin yang terkutuk
Bagi saya, dosa terbesar Nurdin Halid adalah ia selalu berhasil membuatku ragu untuk datang ke stadion, baik untuk mendukung Persib Bandung dan [terutama] tim nasional Indonesia.
Bagi seorang suporter [Persib Bandung dan tim nasional] dan penggemar sepakbola [Manchester United], seperti saya ini, datang ke stadion untuk menyaksikan Liga Super Indonesia atau/terutama tim nasional Indonesia sebenarnya bisa dibaca sebagai sebentuk legitimasi diam-diam atas kepemimpinan Nurdin Halid dan antek-anteknya di PSSI.
Tentu Anda boleh tidak bersetuju dengan pernyataan di atas. Tapi, untuk saya, pernyataan di atas itu paralel dengan situasi ambigu yang selalu muncul dalam menyikapi prestasi tim nasional Indonesia. Hitung-hitungan personalnya begini: Jika tim nasional gagal atau sukses (misalnya) dalam Piala AFF 2010, selalu akan muncul rasa lega dan enek sekaligus.
Jika tim nasional juara, tentu saja saya senang dan bahagia. Tapi ada juga rasa enek dan khawatir karena dengan itu –kita tahu– Nurdin Halid dan antek-anteknya punya argumen untuk berkoar-koar betapa kepengurusan mereka di PSSI ternyata bisa memberikan prestasi. Legitimasi, bisa jadi, akan makin kokoh. Sebaliknya jika tim nasional gagal, tentu saja saya merasakan sedih dan kecewa. Tapi, pada saat yang sama, ada sejumput rasa senang dan lega karena dengan itu Nurdin Halid dan antek-anteknya kian kehilangan kredibilitas dalam memimpin PSSI.
Persoalannya: gagal atau suksesnya tim nasional seperti tak ada hubungannya dengan Nurdin Halid. Kegagalan tim nasional sekali pun, toh Nurdin dan antek-anteknya bisa dengan cuek-bebek [atau "cuek babi"?] menyalahkan pihak/aspek lainnya: dari menyalahkan pelatih sampai menyalahkan pemain.
Untuk itulah, kendati masih kadang digelayuti rasa sebal, saya selalu datang ke Senayan tiap kali tim nasional berlaga, termasuk dalam gelaran Piala AFF 2010 yang akan dimulai besok. Setidaknya, dengan datang ke Senayan, saya bisa dengan lantang teriak-teriak dan memaki Nurdin dan –seperti yang saya lakukan saat laga persahabatan melawan Uruguay– sambil mengenakan kaos bertuliskan:
“Aku Berlindung dari Godaan Nurdin yang Terkutuk!”
|
|
Written by Zen RS
|
|
Selasa, 29 Maret 2011 15:26 |
|
– tembak nurdin di lapangan banteng
16 Desember [seperti hari ini, saat postingan ini terunggah] adalah hari kematian Soe Hok Gie.
Saya masih ingat salah satu kutipan dari catatan harian Gie yang rasanya justru masih tetap relevan. Kutipan itu bertarikh 12 Desember 1959, 51 tahun silam. Bunyinya tanpa tedeng aling-aling: “Mereka generasi tua… semua pemimpin yang harus ditembak di Lapangan Banteng.”
Siapa yang harus ditembak di Lapangan Banteng? Dalam catatan hariannya itu, Gie menunjuk nama-nama seperti Soekarno, Ali Iskak, Lie Kiat Teng, Ong Eng Die. Tapi siapa yang harus ditembak di Lapangan Banteng di masa kini? Untuk saya jawabannya adalah para koruptor!
Korupsi dan koruptor adalah lintah yang penghisap darah bangsa ini. Membasmi dan mengganyang para koruptor-lintah adalah tugas yang harus kita panggul sama-sama. Semua-mua mesti ikut ambil peran, siapa pun juga harus ambil bagian.
Tak terkecuali dalam dunia sepakbola. Tidak ada tempat bagi korupsi dalam sepak bola, tak boleh ada tempat bagi koruptor dalam sepakbola.
Di sana, di kantor PSSI yang citranya sudah jadi lacur itu, orang-orang seenaknya memperlakukan sepakbola seperti barang dagangan. Aksi suap dan sogok menyogok, mafia wasit, dan prestasi sepakbola yang terus anjlok tak bikin mereka merasa bersalah dan malu.
Bayangkan: di negara yang korupsi harusnya jadi musuh yang mesti diganyang ramai-ramai, PSSI malah dipimpin narapidana koruptor. Nurdin Halid adalah terpidana koruptor. Tak tanggung-tanggung: Nurdin Halid sudah divonis bersalah 2 kali dalam kasus korupsi!
Seharusnya, tak ada tempat bagi para koruptor. Jadi Ketua RT pun harusnya tak boleh.
Nanti malam, tepat di hari kematian Soe Hok Gie, tim nasional Indonesia –yang belakangan menjadi pusat pemberitaan– akan tampil dalam laga pertama semifinal Piala AFF 2010 melawan tim nasional Filipina. Selain +/- 80 ribu suporter, laga tim nasional ini juga akan disaksikan oleh koruptor Nurdin Halid yang –ironisnya– justru akan duduk di tribun kehormatan, dan –makin ironis lagi– duduk manis di sebelah Presiden, Ibu Negara dan Menpora.
Bisa kalian bayangkan: seorang koruptor –seseorang yang tidak terhormat– justru diberi kehormatan sedemikian rupa.
Bisakah itu diterima? Untuk saya tidak. Kalimat Gie yang saya kutip sebelumnya masih lebih tepat: dia seharusnya “ditembak di Lapangan Banteng”!
|
|
Written by temenaguch
|
|
Sabtu, 12 Maret 2011 02:17 |
|

Pelatih Inter Milan, Leonardo, menyatakan bahwa timnya tetap berusaha tampil sebaik mungkin dan fokus pada tiga laga yang diikuti mereka, termasuk pada lanjutan pertandingan kompetisi Liga Italia, Jumat malam, di Brescia.
Pertandingan itu dimajukan satu hari untuk memberi kesempatan kepada Inter melakukan persiapan menghadapi pertandingan putaran kedua Liga Champions, merupakan laga leg kedua di Bayern Munich.
Inter, yang kalah di kandang 0-1 pada laga leg pertama di San Siro, akan bergabung dengan AC Milan dan Roma sebagai korban pada laga 16 besar, bila mereka gagal meraih angka pada leg kedua itu.
Mereka juga memimpin Milan lima poin dalam klasemen Liga Italia (Seri A) dan berhadapan dengan Milan pada laga sekota bulan ini dan juga maju ke laga semi final Piala Italia.
Tim yang diasuh Leonardo itu tinggal satu-satunya tim Italia yang bertahan mewakili negaranya dalam kompetisi Eropa dan Leonardo mengatakan ia tetap percaya diri.
"Kami merasa masih memiliki peluang untuk maju terus di kompetisi Liga Champions termasuk di liga. Kami amat yakin dan penuh rasa percaya diri," katanya.
Ia menimpali, "Setiap tim mengawali tujuan mereka dengan keinginan memenangi semua kompetisi dan kami memasuki lapangan dengan pemikiran akan memenangi laga dan kami akan melakukan yang terbaik."
Si penembak gol ulung Samuel Eto`o, yang merayakan ulang tahun ke-30 pada Kamis (10/3), juga merasa yakin gelar Eropa dan Italia akan dapat mereka peroleh seperti sukses menggembirakan musim lalu.
"Segala sesuatunya masih terbuka dan perburuan gelar masih berlangsung ketat. Kami akan berjuang, kami ingin menang dan kami akan mendapatkannya," katanya.
I mengemukakan pula, "Milan klub terkuat saat ini karena mereka berada di puncak, tetapi kami memiliki semua yang kami butuhkan dan akan membuat mereka kesulitan."
"Kami semua berjuang untuk mendapatkan apa yang kami harapkan seperti yang kami peroleh musim lalu," katanya.
Selain itu, ia mengemukakan, "Kami tim bagus dan kami akan pergi ke Munich dengan tujuan untuk menang. Mereka menang di sini pada menit ke-90, jadi mengapa kami tidak dapat menang di sana."
Menghadapi Brescia, Leonardo menyatakan tim "nerazzurri" itu tidak akan dianggap enteng oleh timnya.
"Brescia memiliki banyak pemain bagus dan bukan karena faktor keberuntungan yang membuat mereka memiliki hasil bagus pada laga tandang mereka, seperti ketika melawan Udinese, Roma dan Napoli," katanya.
Ia menimpali, "Di kandang juga mereka menunjukkan permainan bagus, konsisten dan bertanding dengan meyakinkan."
"Semua kenyataan itu menunjukkan betapa sulitnya melawan mereka. Ini merupakan pertandingan sukar di samping pertandingan sukar lainnya, karena pertandingan mudah itu sebenarnya tidak ada," katanya. (Uu.A008/A011)
Editor: Priyambodo RH |
|
|