Ganyang! PDF Print E-mail
Written by Zen RS   
Selasa, 29 Maret 2011 15:26

– tembak nurdin di lapangan banteng

16 Desember [seperti hari ini, saat postingan ini terunggah] adalah hari kematian Soe Hok Gie.

Saya masih ingat salah satu kutipan dari catatan harian Gie yang rasanya justru masih tetap relevan. Kutipan itu bertarikh 12 Desember 1959, 51 tahun silam. Bunyinya tanpa tedeng aling-aling: “Mereka generasi tua… semua pemimpin yang harus ditembak di Lapangan Banteng.”

Siapa yang harus ditembak di Lapangan Banteng? Dalam catatan hariannya itu, Gie menunjuk nama-nama seperti Soekarno, Ali Iskak, Lie Kiat Teng, Ong Eng Die. Tapi siapa yang harus ditembak di Lapangan Banteng di masa kini? Untuk saya jawabannya adalah para koruptor!

Korupsi dan koruptor adalah lintah yang penghisap darah bangsa ini. Membasmi dan mengganyang para koruptor-lintah adalah tugas yang harus kita panggul sama-sama. Semua-mua mesti ikut ambil peran, siapa pun juga harus ambil bagian.

Tak terkecuali dalam dunia sepakbola. Tidak ada tempat bagi korupsi dalam sepak bola, tak boleh ada tempat bagi koruptor dalam sepakbola.

Di sana, di kantor PSSI yang citranya sudah jadi lacur itu, orang-orang seenaknya memperlakukan sepakbola seperti barang dagangan. Aksi suap dan sogok menyogok, mafia wasit, dan prestasi sepakbola yang terus anjlok tak bikin mereka merasa bersalah dan malu.

Bayangkan: di negara yang korupsi harusnya jadi musuh yang mesti diganyang ramai-ramai, PSSI malah dipimpin narapidana koruptor. Nurdin Halid adalah terpidana koruptor. Tak tanggung-tanggung: Nurdin Halid sudah divonis bersalah 2 kali dalam kasus korupsi!

Seharusnya, tak ada tempat bagi para koruptor. Jadi Ketua RT pun harusnya tak boleh.

Nanti malam, tepat di hari kematian Soe Hok Gie, tim nasional Indonesia –yang belakangan menjadi pusat pemberitaan– akan tampil dalam laga pertama semifinal Piala AFF 2010 melawan tim nasional Filipina. Selain +/- 80 ribu suporter, laga tim nasional ini juga akan disaksikan oleh koruptor Nurdin Halid yang –ironisnya– justru akan duduk di tribun kehormatan, dan –makin ironis lagi– duduk manis di sebelah Presiden, Ibu Negara dan Menpora.

Bisa kalian bayangkan: seorang koruptor –seseorang yang tidak terhormat– justru diberi kehormatan sedemikian rupa.

Bisakah itu diterima? Untuk saya tidak. Kalimat Gie yang saya kutip sebelumnya masih lebih tepat: dia seharusnya “ditembak di Lapangan Banteng”!