|
Written by Zen RS
|
|
Selasa, 29 Maret 2011 15:32 |
|
– aku berlindung dari godaan nurdin yang terkutuk
Bagi saya, dosa terbesar Nurdin Halid adalah ia selalu berhasil membuatku ragu untuk datang ke stadion, baik untuk mendukung Persib Bandung dan [terutama] tim nasional Indonesia.
Bagi seorang suporter [Persib Bandung dan tim nasional] dan penggemar sepakbola [Manchester United], seperti saya ini, datang ke stadion untuk menyaksikan Liga Super Indonesia atau/terutama tim nasional Indonesia sebenarnya bisa dibaca sebagai sebentuk legitimasi diam-diam atas kepemimpinan Nurdin Halid dan antek-anteknya di PSSI.
Tentu Anda boleh tidak bersetuju dengan pernyataan di atas. Tapi, untuk saya, pernyataan di atas itu paralel dengan situasi ambigu yang selalu muncul dalam menyikapi prestasi tim nasional Indonesia. Hitung-hitungan personalnya begini: Jika tim nasional gagal atau sukses (misalnya) dalam Piala AFF 2010, selalu akan muncul rasa lega dan enek sekaligus.
Jika tim nasional juara, tentu saja saya senang dan bahagia. Tapi ada juga rasa enek dan khawatir karena dengan itu –kita tahu– Nurdin Halid dan antek-anteknya punya argumen untuk berkoar-koar betapa kepengurusan mereka di PSSI ternyata bisa memberikan prestasi. Legitimasi, bisa jadi, akan makin kokoh. Sebaliknya jika tim nasional gagal, tentu saja saya merasakan sedih dan kecewa. Tapi, pada saat yang sama, ada sejumput rasa senang dan lega karena dengan itu Nurdin Halid dan antek-anteknya kian kehilangan kredibilitas dalam memimpin PSSI.
Persoalannya: gagal atau suksesnya tim nasional seperti tak ada hubungannya dengan Nurdin Halid. Kegagalan tim nasional sekali pun, toh Nurdin dan antek-anteknya bisa dengan cuek-bebek [atau "cuek babi"?] menyalahkan pihak/aspek lainnya: dari menyalahkan pelatih sampai menyalahkan pemain.
Untuk itulah, kendati masih kadang digelayuti rasa sebal, saya selalu datang ke Senayan tiap kali tim nasional berlaga, termasuk dalam gelaran Piala AFF 2010 yang akan dimulai besok. Setidaknya, dengan datang ke Senayan, saya bisa dengan lantang teriak-teriak dan memaki Nurdin dan –seperti yang saya lakukan saat laga persahabatan melawan Uruguay– sambil mengenakan kaos bertuliskan:
“Aku Berlindung dari Godaan Nurdin yang Terkutuk!”
|