Kajian
SENI RUPA DI TEMBILAHAN PDF Print E-mail
Written by Bambang Sebarnas   
Sabtu, 23 Juli 2011 20:58

Oleh Bambang Sebarnas

Nama Tembilahan, harus saya akui sebelumnya tidaklah saya kenal. Kota yang mendapat julukan Negeri Seribu Parit ini, adalah sebuah kota kecil di wilayah Indragiri Hilir, Riau Daratan. Letaknya antara Pekanbaru – Jambi. Dari Pekanbaru ke Tembilahan ditempuh dengan perjalanan darat selama tujuh jam. Menembus hamparan perkebunan sawit dan melewati tak kurang dari seratus jembatan, daerah berair ini amat subur dengan kekayaan alam yang berlimpah. Mungkin karena itu Tembilahan didatangi oleh berbagai etnik Nusantara, seperti dari Banjar ( Kalimantan), Goa (Sulawesi), Jawa, Tionghoa dan lain-lain. Penduduk Tembilahan yang multi etnik ini berpengaruh pada pola kehidupan sosial dan aspek aspek budaya lainnya. Tembilahan oleh karenanya menampakkan bentukan budaya baru.

Memandang lanskap seni rupa di Tembilahan, pertanyaan pertama mengarah pada persoalan identifikasi seni rupanya: seni rupa yang mana yang dimaksudkan? Apakah seni rupa dalam pengertian seni rupa modern atau seni rupa modern sebagai modus yang diprakatekkan dalam kegiatan artistic perupaan, atau menggunakan identifikasi seni rupa kontemporer. Istilah seni rupa modern sebagai modus dimaksudkan sebagai praktek praktek fine art (seni murni), tetapi juga sekaligus berfungsi applied art (seni terapan).

Premis ini didasarkan pada kenyataan bahwa terdapat sejumlah karya karya fine art diperlakukan secara fungsional, seperti sebagai penanda atas kelahiran anak atau penanda moment tertentu dalam perjalanan hidup seseorang, dekorasi kafe atau warung, kapal atau pada becak. Praktek seperti itu telah berlangsung sejak decade 1960-an, masa masa awal perkembangan seni rupa di Tembilahan. Jika identifikasi dipaksakan dalam pengertian seni rupa modern maka hal ini mengukuhkan pandangan bahwa gagasan seni rupa modern dicerap dan berkembang tidak secara massif dan sama disetiap wilayah, tetapi selalu dicerap dan disesuaikan dengan kondisi kondisi local. Masuknya gagasan seni rupa modern keTembilahan dapat saja ditarik kemasa lalu ketika kolonialisme belanda memasuki wilayah ini.

Namun, pengaruh nyata kepada praktek seninya (terutama sejak decade 1960-an) dapat dikatakan berasal dari arah barat (Padang) dan dari arah timur (Jawa), yang dibawa oleh para pendatang atau masyarakat tembilahan yang belajar di luar daerahnya.

Didalam sebuah catatan tertulis pada catalog “Ekspedisi”, ( ditulis oleh Kelompok Kecil Seni Rupa Indragiri Hilir, 2005) menyebutkan bahwa seni rupa di wilayah Indragiri Hilir telah berkembang sejak 1970-an, dengan menunjukkan kegiatan kegiatan seni rupa dilakukan secara individual.

Lukisan tertua yang berhasil ditemukan dalam survey penulis ke Tembilahan adalah sebuah lukisan kaca penanda kelahiran (masyarakat setempat menyebutnya sebagai akte kelahiran) bertahun 1968, karya Yandi atau Supian. Lukisan akte kelahiran sampai sekarang masih banyak tersebar di rumah ruma penduduk. Wujudnya berupa sebuah lukisan yang ditulisi nama dan tanggal kelahiran anak. Satu lukisan bisa tediri dari beberapa nama, sesuai dengan kelahiran anak. Melihat praktik seni rupa seperti tersebut diatas, nampak bahwa apresiasi masyarakt pada seni rupa relative telah akrab.

Karya karya yang tampil dalam catalog ini adalah karya karya terbaru para perupa Tembilahan. Mereka itu adalah: Adi Lukis, Khairil Anwar, Rusli, Alfransi, Faharudin, Hermanto, Guntur Gusdianto, Gusti ZS, Sinik, H. Ahmad Rivaat, Efendy DD, M. Rasyid, Horman HK, Asman, Mirza Adrianus, dan Waljiono. Para perupa ini memiliki latar belakang dan profesi beragam.

Keragaman ini berpengaruh pada ungkapan visual masing masing. Adi lukis dan kawan kawan seangkatannya misalnya, mengangkat tema lingkungan dengan penguasaan teknik lukis yang baik. Karya karyanya, disamping mengangkat tema lingkungan, juga tema tema kehidupan sehari hari. Karya karya seangkatan Adi Lukis, kental dengan Sementara pada karya karya perupa muda, seperti Rasyid, Alfaransi, Faharudin dll, memiliki kecenderungan cara berungkap yang lebih leluasa baik ungkapan simbolik maupun deskriptif. Secara umum karya karya ini tentu saja telah mencerap pengaruh pengaruh baru yang berasal dari perkembangan seni rupa masa kini di Indonesia. Beberapa seniman Tembilahan telah sering mengikuti perhelatan seni rupa baik di Sumatera sendiri, maupun pada even nasional seperti Pameran Seni Rupa Nusanara yang diselenggarakan secara berkala di Galeri Nasional, Jakarta.

Dmikian pula, pengaruh dari media seni rupa baik berupa majalah, Koran, catalog atau melalui internet. Dengan demikian, karya-karya perupa Tembilahan kini, secara visual bisa jadi tidaklah berbeda dengan gaya visual di daerah lain. Pernyataan ini sama sekali tidak bermaksud untuk melihat perkembangan visual seni rupa di Tembilahan secara eksotik, karena batasan/ identifikasi visual masa kini yang dikaitkan dengan identitas geografis, sulit untuk ditegaskan. Perkembangan seni rupa di Tembilahan, berakar dari budaya visual masyarakatnya dalam berbagai bentuk dan medium.

Bambang Subarnas
Kurator Seni Rupa, tinggal di Bandung.

 
KILAS BALIK SMSR PDF Print E-mail
Written by SMSR Bandung   
Rabu, 13 Juli 2011 01:19

Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 14 Bandung  kelompok Seni rupa dan Kriya, memiliki visi  menjadi sekolah unggulan berstandar internasional, dengan  misi  untuk mempersiapkan tenaga kerja menengah dalam bidang seni rupa dan Kriya yang berwawasan profesional, produktif dan memiliki budaya kerja keras, b...udaya tertib, budaya bersih untuk menjadi manusia unggulan yang jujur dan mandiri.

Sesuai dengan visi dan misi diatas, sekolah dan seluruh warga yang terlibat didalamnya mendukung penuh akan segala aktivitas pembelajaran dan peningkatan mutu sekolah demi ketercapaian tujuan pendidikan.

Sekalipun tujuan utama Sekolah Menengah Kejuruan adalah mempersiapkan tenaga pelaksana siap kerja, tapi tidak menutup kemungkinan bagi para tamatan untuk  melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai dengan kemampuannya.

Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 14 Bandung, pada saat ini memiliki 8 (delapan) program Keahlian yang terdiri dari:

 
Membayangkan Patung Inspiratif di Jakarta PDF Print E-mail
Written by Gergaji Angin   
Jumat, 17 Juni 2011 07:47

SUATU hari, tiang melengkung yang menyangga Patung Dirgantara dilaburi warna hitam legam. Lalu bagian utama patungnya, yaitu seorang pemuda yang tengah berjongkok sambil menunjuk, diberi penerangan dengan teknologi lighting. Lampu-lampu di sekitar patung, harus dimatikan. Sehingga cahaya yang menerangi Patung Dirgantara hanya memancar dari lighting yang memang sengaja disorotkan ke inti patung.
Tiang melengkung penyangga Dirgantara pada malam hari tidak terlihat karena telah dilaburi warna hitam. Tetapi bagian utama patung akan tetap terlihat bahkan mencolok sebab disorot dengan lampu. Maka pada malam hari, Patung Dirgantara akan terlihat seperti sedang terbang.

Tetapi itu semua hanya angan-angan Agus Dermawan T, pengamat seni rupa ternama di Tanah Air ini. Agus Dermawan pernah mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi DKI suapaya Patung Dirgantara yang yang monumental itu mendapatkan perhartian dan pemeliharaan. Setidaknya, jangan bairkan merana seperti sekarang ini.

Patung yang dibangun pada zaman Bung Karno itu memang merana karena harus bersaing tinggi dengan gedung-gedung pencakar langit seperti Gedung Bidakara. Lalu tiangnya, kini disilang oleh dua fly over (jalan layang), sehingga tidak keseluruhan patung dapat tampil sebagai karya seni.

Waktu awal dibuat patung yang lebih sering disebut Tugu Pancoran itu merupakan bangunan paling tinggi yang ada di kawasan Pancoran. Sehingga dapat dilihat dari kejauhan, dan dari banyak penjuru angin. Dengan sendirinya, Tugu Pancoran telah berfungsi menjadi tetenger atau penanda kota, atau landmark kata orang Inggris.
Orang yang baru datang ke Jakarta bisa menjadikan Patung Dirgantara sebagai petokan tempat. Bila keder di jalan, lihat saja ke arah Tugu Pancoran. Dengan cara demikian, orang keder tadi bisa menentukan sedang di mana posisinya.

Tetapi apa daya, bisa dikatakan semua patung yang ada di Jakarta tidak memberikan inspirasi bagi masyarakat. Patung dibuat hanya untuk hiasan. Lebih parah lagi, patung dibuat sebagai alat propaganda penguasa politik.

Menurut Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Marco Kusumawijaya, bahkan Bung Karno pun menginstruksikan pembuatan patung tidak lepas dari kepentingan propaganda. Sebut misalnya patung Selamat Datang di Bundaran HI, Patung Pemuda di ujung Jl. Jenderal Sudirman mau menuju ke Blok M, Patung Dirgantara di Pancoran, Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, atau Patung Tani di kawasan Menteng.

“Menurut saya, Bung Karno juga otoriter dalam memperlakukan kesenian. Patung Pembebasan Irian Barat dibuat langsung dengan skets dari Bung Karno. Ni Heng (Heng Ngatung –red), begini kau harus buat patung,” kata Marco, Selasa kemarin di Jakarta.

Patung Selamat Datang dan Patung Pemuda dibuat menjelang penyelenggaraan Games New Emerging Force (Ganefo) atau olimpiade olahraga khusus bagi negara dunia ketiga yang dirancang Bung Karno.

Bung Karno memerintahkan pembuatan Gedung Olaraga di Senayan, Mesjid Istiqlal, Jembatan Semanggi, dan beberapa patung untuk menyambut kedatangan para kontestan asing. Pembuatan infrastruktur itu untuk mengatakan kepada warga dunia bahwa Indonesia sekarang harus diperhitungkan. Bahwa Ganefo sendiri dirancang oleh Bung Karno untuk menyaingi Oliampiade olahraga tingkat dunia yang digelar empat tahunan itu. Apa yang digariskan oleh Bung Karno merupakan politik mercusuar.

Menurut Agus Dermawan T, patung-patung yang dibuat pada zaman Bung Karno masih menyisakan sisi monumental karena ukurannya besar-besar. Namun, karena laju pembangunan di sekitar patung tidak sedikit pun menghargai keberadaan patung-patung itu, yang terjadi kemudian, eksistensi patung itu tenggelam oleh gemuruh pembangunan.

Menurut Agus, hal itu bisa terjadi karena pada saat ini bagi masyarakat kita ada atau tidak ada patung tidak jadi soal. Tidak ada patung, warga tidak dirugikan. Namun bila ada patung, masyarakat akan diuntungkan.

“Setidaknya, di tengah hiruk-pikuk kota masih ada ruang yang bisa diapresiasi,” tutur Agus Dermawan di Jakarta, Senin lalu.

Apresiasi masyarakat Jakarta terhadap patung, baik menurut Agus maupun Marco, belum nampak. Ketika pemerintah DKI akan membuat sebanyak 35 patung pahlawan di setiap jalan yang memakai nama pahlawan, masyarakat diam saja. Yang protes hanyalah seniman.

“Saya tidak setuju pembuatan patung itu sebab hanya proyek orang-orang birokrasi,” demikian protes Agus.

Marco Kusumawijaya menilai rencana pemerintah DKI yang diumumkan pada 2001 itu merupakan proyek asal bapak senang.

Kota Jakarta tentu membutuhkan patung untuk hiasan dan tetengger, tetapi pembangunannya harus konseptual dan bisa memberikan inspirasi bagi yang melihatnya. Bila Anda pernah ke Yunani, atau ke negara modern lainnya, patung-patung di sana selalu terasa magis dan inspiratif, bukan sekadar mengingatkan orang pada tokoh-tokoh yang dipatungkan. [Gergaji Angin]

 
Seni Memasarkan Kesenian PDF Print E-mail
Written by doddi   
Minggu, 05 Juni 2011 07:14

Kolektor karya seni rupa kelas kakap, Ciputra, memperkenalkan metode artpreneurship.

Teks DODDI AHMAD FAUJI Foto AGUS KURNIAWAN

Deru traktor meraung-raung di tengah kerumunan orang yang memasang mata penasaran. Lalu terdengar suara “brak!” yang mengingatkan pada pembongkaran. Namun tidak ada yang berteriak histeris, atau berdemo, sebab aksi traktor itu bukan sedang menggusur rumah-rumah liar, melainkan bagian dari peristiwa kesenian.

Yang punya “ulah” ialah Entang Wiharso, salah seorang perupa avantgarde Indonesia. Entang memajang meja makan lengkap dengan hidangan dinner, tak terlewatkan sajian wine. Entang meminta para penggiat seni rupa untuk terlibat dalam performance art garapannya itu. Pecinta seni macam Oei Hong Djien, Wiyu Wahono, Melani Setiawan, lalu pengelola Galeri Canna –Inge Santoso, hingga wartawan kesenian Rustika Herlambang, didaulat jadi “aktor” dadakan sebagai tamu yang dijamu dinner dalam pertunjukan “Your Pleasure Is Not My Pleasure”. Usai perjamuan malam yang lezat itu, traktor kemudian beraksi, seakan memecah kelejatan yang baru dicerap.

Pertunjukan itu menjadi penanda pembukaan pameran seni rupa berjuluk “Space and Image” yang dikuratori Suwarno Wisetrotomo, yang karya-karyanya didisplay oleh Haripemad Art Management. Pameran berlangsung di Marketing Gallery, Jl Prof. Dr. Satrio, Kav 11, Kuningan, Jakarta Selatan. Penanda lain adalah sambutan dari tuan rumah: Ciputra, serta sambutan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang sekaligus meresmikan mulai beroperasinya Marketing Gallery.

Sebanyak 83 perupa kontemporer Indonesia yang dalam telaah kurator memiliki capaian estetik, jadi seniman-seniman yang “memerawani” ruangan Marketing Galery. Melalui pameran ini, nampak bahwa Indonesia bukan hanya kaya dengan sumber daya alam tapi juga kaya dengan sesuatu yang dilabeli “kesenian”. Ide-ide kreatif seniman Indonesia, menurut kolektor kawakan Oei Hong Djien yang malam itu mengenakan kemeja putih pantalon hitam, tidak kalah dengan seniman-seniman dari negara lain.

“Pemasarannya yang belum tergarap dengan baik. Nah, gagasan Pak Ci ini harus kita dukung, karena ia bermaksud meningkatkan profesionalisme pemasaran karya seni,” tutur grader tembakau asal Magelang itu.

Selain memiliki capaian estetik dengan élan dan daya kreatif-inovatif yang kuat, karya-karya yang dipamerkan itu juga tentu memiliki “nilai jual”. Jangan lupa, bahwa pameran ini merupakan “laboratoriam’ dari program artpreneurship (seni wirausaha kesenian) yang digagas oleh Ciputra. Sebagai wirausahawan di bidang properti, nama Ciputra sudah sangat kampium dan susah dicarikan tandingannya, tetapi bagaimana kans-nya dalam wirausaha kesenian?

Kalau menelusur jejak Ciputra dalam dunia seni rupa, kans itu bisa jadi akan tercapai, barangkali hanya soal waktu. Ciputra dikenal sebagai kolektor karya-karya Hendra Gunawan. Belum ada kajian dan penelitian khusus, apakah karena dikoleksi oleh Ciputra yang membuat lukisan Hendra Gunawan makin mahal dan banyak dipalsukan, atau karena pelbagai determinasi lainnya? Yang jelas, karya lukisan Hendra mahal dan Ciputra adalah kolektor “terbesar” untuk lukisan Hendra. Dan Pak Ci, akan membuat museum untuk karya Hendra ini. “Karya Pak Hendra itu kan aset bagi bangsa ini. Perlu dibuatkan museumnya supaya tidak pindah ke luar, dan jadi milik bangsa lain,” kata Ciputra.

Ciputra juga dikenang oleh publik seni rupa sebagai penggagas berdirinya Pasar Seni Ancol (PSA) di kawasan Jakarta Utara, yang di tahun 80-an, PSA ikut mengukuhkan kebesaran seniman-seniman seperti Abas Alibasjah atau Amrus Natalsya. Menjelang uzur usianya, sebagai wirausahawan, Ciputra melakukan gebrakan untuk dunia kesenian. Disebut gebrakan, karena ia dengan terang-terangan akan melakukan “artpreneurship”.

Artpreneurship itu sendiri, menurut Pak Ci, bukan sebuah kegiatan, tapi suatu profesi, yakni usaha menyatukan seni dan wirausaha. Jadi, artpreneurship bukan barang yang kongkrit.

Artpreneurship jelas merupakan gabung dari art dan entrepreneurship (seni dan wirausaha). Entrepreneurship merupakan salah satu disiplin ilmu. Berdasarkan komparasi dengan negara Amerika dan Eropa yang dipaparkan Pak Ci lewat buku “Quantum Leap Entrepreneur”, Indonesia sampai saat ini belum menjadi negara wirausaha, apalagi wirausaha di bidang kesenian, yang mana hal itu tercermin lewat karya-karya seni anak negeri ini yang belum memiliki harga (harganya rendah sekali). Salah satu contohnya adalah karya-karya Hendra Gunawan yang harganya sangat murah, hingga akhirnya ia meninggal dalam keadaan melarat.

“Tak ada jaminan kesejahteraan untuk dirinya dan anak istrinya,” kata Pak Ci.

Pambukaan Marketing Gallery sebagai salah satu proyek artpreneurship, juga diperkaya dengan seminar dan diskusi soal marketing seni, termasuk bagaimana cara memperkenalkan dan memasarkan karya. Pak Ci menyerukan, seluruh bangsa harus bersatu, baik itu seniman, pecinta seni, stakeholder, pemerintah untuk mendidik para pecinta seni sebagai usaha untuk melahirkan mutu yang baru.

Tidak jauh dari Marketing Gallery, Pak Ci sudah merancang pula sebuah museum sebagai salah satu bagian dari ruang belajar. Pada 2012, pendirian museum itu direncanakan sudah rampung dan bisa dioperasikan. Selain karya Hendra Gunawan, museum itu juga akan mengoleksi karya-karya masterpiece seniman-seniman Indonesia lainnya. Meseum itu dibangun, tentu agar masyarakat luas, baik itu seniman, pecinta seni, atau kolektor, dapat mengakses karya-karya terbaik seniman Indonesia. Gagasan menyatukan ruang belajar, galeri, dan museum ke dalam satu kawasan, bisa terwujud berkat kemampuan Pak Ci dalam menjalankan entrepreneurship. Pengertian filosofis dari entrepreneur bagi Ciputra adalah mengubah ”kotoran” menjadi ”emas”.

Ciputra menyebutkan bahwa seni dan wirausaha adalah dua dunia yang dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya, hingga menciptakan satu sinergi yang saling menguntungkan. Jarak dan waktu tidak boleh menjadi tembok penghalang bagi seniman dan penikmat karya seni dalam berapresiasi dan menikmati keindahan, juga keajaiban karya yang benar-benar mampu memanfaatkan ruang dan kesempatan. Ruang dan kesempatan yang luas-terbatas, yang benar-benar mampu dimanfaatkan dalam seniman dan menikmat seni.

Art dan entrepreneurship ibarat organ-organ yang ada dalam tubuh manusia, antara yang satu dengan yang lainnya saling berbeda, tetapi memiliki peran dan tujuan yang sama: jika satu sakit, yang lainnya juga akan merasakan sakit, begitu juga sebaliknya. Seni tanpa pasar, akan sangat kurang lengkap, karena salah satu fungsi dari seni adalah untuk memberikan hidup dan kehidupan bagi seni itu sendiri, mengalirkan nafas pada karya, memberikan hidup pada seniman dan memberikan kepuasan pada pecinta/penikmat seni itu sendiri—saling berpengaruh dan saling menguntungkan, terutama bagi bangsa dan negara.

Karya seni dan seniman ibarat kunci yang hilang jika tidak dipamerkan/dipasarkan, dan untuk memasarkannya dibutuhkan suatu jiwa kewirausahaan seni—memahami karya seni dan dipasarkan pada pasar yang tepat. Membaca Minat Pasar Sebagai entrepreneur, Ciputra mengikuti zeit geits (semangat zaman) dalam memasarkan karya seni rupa. Para kolektor seni rupa sekarang ini, yang paling bergairah adalah dari generasi muda, yang menurut Oei Hong Djien, memiliki money yang lebih fresh, dan selera yang juga fresh (berbeda selera dengan kolektor seusianya yang cenderung menyukai old masters). Kolektor muda itulah yang dibidik Marketing Gallery, dan karena itu, tentu saja karya yang dipamerkan haruslah yang kontemporer, sebab kolektor muda umumnya demam karya-karya yang “ngontemporer euy.”

Ke-83 seniman yang karyanya dipamerkan, bisa disebut merupakan perupa-perupa avant-garde yang kartya-karyanya sedang jadi buah bibir di kalangan kolektor muda. Kurator yang menggawanginya pun, tentu harus dari generasi muda. Pemilihan Suwarno Wisetrotomo sebagai kurator, nampak sudah tepat, sebab dosen FSRD ISI Yogya ini, memang akomodatif terhadap karya-karya kontemporer.

Karya yang dipamerkan terdiri dari beragam matra dan corak. Lukisan, patung, instalasi, atau commission work, tumpah ruah bagai perhelatan art fair. Secara tematik, karya-karya kontemporer, cenderung mengusung tema-tema yang mengkritisi kondisi sosial politik, dan hal ini tercermin pada hampir seluruh karya yang dipamerkan.

 
Realisme Tidak Pernah Mati PDF Print E-mail
Written by Lamma Sabachtani   
Jumat, 27 Mei 2011 19:32

Pesan moral di balik lukisan realisme Sura Ardana, jadi peringatan akan terganggunya konsep Trihita Karana.

Realisme dalam seni rupa telah berjaya sejak berabad-abad. Gaya realis dan realisme dalam seni rupa, bahkan tidak tersisihkan oleh gampuran seni fotografi dan seni grafis yang secara teknis telah berlipat-lipat melampaui kemampual manual manusia.

Karya realisme pernah berkali-kali dianggap sebagai karya seni yang agung pada era realisme sosial begitu mengemuka. Hingga memunculkan gerakan fluxus dan dadaisme, sebagai niatan para seniman untuk menengok realitas sosial yang ternyata telah hancur lebur akibat realisme perang dunia I dan II yang memakan korban jutaan jiwa manusia.

Bagi beberapa perupa, menggeluti tema dan corak realisme bukan semata-mata ingin memamerkan kepiawaian dalam menggambar obyek dengan tingkat presisi yang akurat, tapi dilandasi oleh kecemasan jiwanya saat melihat realitas sosial. Bagi beberapa perupa, menggeluti realita adalah penggilan sosial untuk menyampaikan kesaksian. Begitulah kiranya alasan yang melatari kembalinya pelukis Sura Ardana ke dunia seni rupa dengan membawa pesan realisme. Disebut kembali, karena Ardana sempat mengalami stagnasi dalam dunia penciptaan karya seni. Juga, ia pernah memasuki aliran atau corak lain macam abstrak  ekspresionis dan abstrak figuratif. Tapi akhirnya ia kembali ke corak realisme.

“Saya memang sempat berhenti. Tapi sejak 2006, saya kembali melukis. Latar melukis saya memang realis. Pernah mengeksplorasi aliran-aliran lain, tapi jiwa saya tidak di sana. Saya kembali ke realis dan realisme, karena menggeluti yang lain terasa membohongi diri,” tutur seniman kelahiran Tabanan itu, menjelang akhir tahun 2009, di rumah merangkap studionya.

Kehadiran realisme lukisan Ardana, dilatarbelakangi oleh dua tema pokok. Pertama, adalah ungkapan kekaguman kepada para pekerja yang keras dan tekun. Kedua, kritik atas kondisi sosial Bali yang sedang diuji oleh perubahan jaman.

Ardana, dosen seni rupa Undiksa Singaraja yang kini sedang menempuh studi magister di ISI Yogyakarta itu, menyatakan kekagumannya kepada para pekerja keras namun tidak mengenal keluh-kesah. Ia kagum melihat nenek-nenek yang masih setia menjadi kuli panggul di pasar-pasar tradisional Yogya. Tulang punggungnya sudah bungkuk, namun masih sanggup bekerja keras. Ardana kagum melihat jari-jemari kaki yang rusak akibat banting tulang. Ardana kagum saat mengenang kembali ayahnya yang bekerja hingga menjelang subuh untuk memunguti kerang laut untuk bahan pembuat kapur.

Kekagumannya, itu gambarkan lewat karya verisimilitude (sangat hidup), dengan detail yang subtil, dan presisi yang akurat. Boleh saja secara teknis, karya lukisnya disebut bercorak hiperealis atau foto realistik. Tetapi keberartiannya bukan pada tingkatan teknis belaka, namun pada tema yang hendak diusungnya. Bahwa secara tematik, lukisan Ardana itu hendak menyampaikan suatu pesan yang sudah kita hapal bersama: jangan mudah menyerah.

Tema kedua yang melatari lukisan Ardana adalah problem sosial masyarakat Bali yang benar-benar tengah diuji oleh perubahan jaman. Mampukah masyarakat Bali mempertahankan tradisinya yang bersumber dari trihita karana (tiga unsur penghormatan sebagai landasan untuk menciptakan keharmonisan alam)? Atau tradisi mereka akan tercerabut oleh karena, bagaimana pun, industri pariwisata, diam-diam akan menggusur elemen-elemen tradisi.

“Contoh konkret kemarin-kemarin itu, ada upcara ngaben untuk brahamana. Saat mau dilarung ke pantai, iring-iringan itu akan melalui tembok milik salah satu penginapan. Iring-iringan itu harus minta ijin ke satpam dan pengelola penginapan agar bisa melewati tembok. Sungguh aneh, pantai itu kan milik alam, tapi harus minta ijin dengan keras agar bisa kembali ke alam. Ini namanya degradasi sosial,” kata Ardana.

Tidak perlu heran, bila dalam lukisan Ardana akan sering ditemui figur petani tua. Ia sedang mengingatkan, betapa pertanian yang merupakan salah satu unsur trihita karana itu, kini sebagiannya mulai berubah jadi life service untuk kebutuhan pariwisata. Bertani bukan lagi penghormatan terhadap alam, tapi secara artifisial digelar untuk menyenangkan wisatawan.

Lukisan-lukisan realisme yang mengandung pesan moral seperti gubahan Ardana, setiap jaman selalu ada peminatnya. Bahkan senimannya seringkali dikukuhkan sebagai seniman terbaik pada masanya. Pelukis Rembrandt misalnya, dikukuhkan sebagai maestro adalah karena kepiawaiannya mendongeng dalam kanvas. Rembrandt adalah maestro realisme pada masanya, dan disebut-sebut sebagai pelukis terbaik dari semua aliran yang ada.

Akan sampai di manakah Ardana?

Secara teknis, kemampuan Ardana tidak perlu diragukan lagi. Yang masih dibutuhkan adalah eksplorasi tema yang lebih menggaung, menyentuh persoalan-persoakan pokok dalam problem sosial masyarakat Bali secara lokalitas, dan masyarakat dunia secara globalitas.

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 Next > End >>

Page 1 of 8