|
Written by kambali zutas
|
|
Senin, 14 Maret 2011 17:32 |
|
KAMBALI ZUTAS
PERTUMPAHAN darah dimana-mana. Bentrokan hampir setiap hari terjadi. Dari hal-hal yang ‘sepele’ meluas hingga menjadi ‘gede’. Sebut saja kerusuhan di Tarakan Kalimantan Timur yang berakibat ratusan warga yang tidak tahu mengungsi. Belum lagi anak-anak kecil yang harusnya tidur nyenyak dibuai, malah harus tidur di kantor polisi dan TNI. Setidaknya lima nyawa melayang begitu saja. Kemudian disusul peristiwa berdarah Ampera Jakarta Selatan yang juga memakan korban tewas tiga orang. Bentrok dan tawuran missal pun kini tidak melihat waktu lagi apakah siang dan malam. Begitu juga dengan lokasinya, tidak tanggung kejadian di Jalan Ampera tepat di depan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Kondisi ini cukup memprihatinkan dan mencekam. Jalan-jalan pun terlihat riuk massa yang membawa berbagai jenis senjata tajam. Pedang, parang hingga sabit diacung-acungkan terlihat jelas dengan mata telanjang. Saling lempar batu, dan butiran peluru dari selongsong senjata api keluar menembak lawan. Antara kelompok A dengan B, saling menuding dan saling serang. Menuding dan mengaku paling berkuasa di wilayah ini. Berusaha saling melukai dan dengan keji menghabisi.
Faktor penyebabnya pun menjadi klasik. Keretakan hubungan yang saling membedakan antara satu dengan yang lain. Kemudian balas dendam yang mengikutkan massa. Atas nama satu kelompok sehingga harus saling membantu dan harus ‘menang’. Disebut paling berkuasa, dan paling jagoan di wilayah ini.
Kedua peristiwa bentrok ini pun bermotif balas dendam. Di Tarakan misalnya, satu orang dari suku tertentu dilukai sehingga harus ada pembalasan. Begitu juga dengan peristiwa tragis di Ampera. Bentrokan terjadi balas dendam kelompok. Dari satu orang kemudian massa dating. Kalau ramai-ramai tanpa ada lagi yang menghalangi, atau menghadang. Bahkan aparat kepolisian pun terkesan tak berkutik. Wajar dengan alasan pasukan aparat tak sebanding dengan jumlah kerumunan. Padahal pada bulan sebelumnya semua warga berbagai organisasi, suku bangsa tak memerdulikan kelompok dari mana menyatakan sikap bersatu. Tepatnya ingatan kita dengan peristiwa ditangkapnya tiga orang petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) oleh polisi Diraja Malaysia. Sontak seluruh warga mengumandangkan NKRI Harga Mati atau bersatu melawan Malaysia. Tentunya kejadian beruntun ini menjadikan ironis dan memprihatinkan bagi kita semua. Seperti miniature peristiwa-peristiwa berdarah yang pernah terjadi di bumi pertiwi ini. Bukan melawan penjajah, tetapi sesame warga Negara yang sama-sama menjadi penghuni dan pemilik NKRI ini. Sepertinya kita harus mengingat kembali peristiwa pada bulan September 45 tahun silam tepatnya 1965 lalu. Sebuah goresan sejarah kelabu bangsa kita sendiri. Gerakan 30 S/PKI meskipun menjadi kini menjadi polemik, namun peristiwa ini pun tak kalah sadisnya. Pembantaian manusia terjadi dimana-mana. Dan peristiwa yang belakangan ini berkembang sepertinya menjadi ulangan. Gerakan 30 S/PKI menjadi pelajaran yang tak seharusnya terlupakan. Paling tidak mengingat kembali jika tanggal 1 Oktober atau kemarin menjadi Hari Kesaktian Pancasila. Simbol negara Pancasila yang menjunjung tinggi nilai Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetap satu jua. Entah namun sepertinya sudah terlupakan atau sengaja dilupakan dengan mengedepankan prinsip kebersamaan tanah kelahiran.7
|