|
Written by Zen RS
|
|
Selasa, 29 Maret 2011 15:55 |
|
meracau — Tags: bahasa, sejarah, skemata, visi — admin @ 1:30 am
– negeri yang ke-kini-kini-an
Setiap kemarau Indonesia menjadi negeri asap, setiap musim hujan Indonesia menjadi negeri banjir, dan puluhan setiap-setiap lainnya membuat saya berpikir: jangan-jangan Indonesia adalah negeri yang “ke-kini-kini-an”.
Istilah “ke-kini-kini-an” yang saya gunakan merujuk pada kecenderungan dan orientasi yang selalu berpusar pada masa kini, kekinian, present tense. Lebih jauh lagi, istilah itu juga merangkum kecenderungan dan orientasi yang (1) amnesia, mudah lupa, tuna refleksi dan minim/tuna kesadaran sejarah (past tense) sekaligus (2) minim prakarsa, tak punya saujana (visi), tuna antisipasi dan abai pada masa depan (future tense).
Salah satu cara termudah untuk menggambarkan apa yang saya sebut sebagai “ke-kini-kini-an” itu bisa dilakukan dengan menggambarkan watak bahasa Indonesia. Berbeda dengan –misalnya—bahasa Inggris yang mengenal past-tense (yang silam), present-tense (yang kini) dan future-tense (yang menjelang), bahasa Indonesia tak mengenal pembagian waktu macam itu alias tak berkala. Bahasa Indonesia hanya mengenal masa kini (present-tense). Ketiadaan masa lampau sekaligus ketiadaan masa depan menjadi bagian inheren dari watak bahasa Indonesia. Semuanya hari ini dan untuk saat ini.
Watak bahasa Indonesia yang tak berkala ini, seperti pernah diteliti oleh Deny Amos Kwari dan Edi Sugiri terhadap para peserta TOEFL, seringkali menyulitkan para penutur bahasa Indonesia ketika hendak (belajar) menulis dalam bahasa Inggris yang berkala atau mengenal pembagian waktu.
Frederich Barlett pernah memperkenalkan istilah “skemata” untuk menjelaskan fenomena tadi. Skemata merujuk pada bagaimana pengalaman dan memori seseorang dalam berbahasa seringkali menyelinap dan muncul kembali tiap kali yang bersangkutan sebenarnya sedang menggunakan bahasa lain yang asing.
Teori skemata memang muncul dari ranah studi bahasa. Sejauh yang saya ketahui, belum ada studi mengenai pengaruh watak bahasa Indonesia yang tak berkala itu terhadap kecenderungan dan orientasi kehidupan para pemakai bahasa Indonesia. Belum ada riset yang bisa menggambarkan bagaimana hubungan antara bahasa Indonesia yang tak berkala dengan kemampuan/ketidak-mampuan pemakainya dalam mengingat dan merefleksikan masa silam serta menyusun visi dan antisipasi terhadap masa depan.
|