|
Teks Gergaji Angin
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Seandainya film produksi Jepang bisa tembus pasar internasional, dunia akan mengenal James Bond versi Negeri Matahari bernama Zatoichi.
Menggubah ulang sebuah film atau remake, dilakukan karena film terdahulu dianggap istimewa, lalu ada seorang filmmaker yang terobsesi untuk memoles wajahnya supaya lebih indah. Selain dikenal adanya penggubahan ulang, dunia film juga mengenal perpanjangan cerita, sehingga tokoh yang ada dalam film itu menjadi legendaris.
Dalam film Hollywood misalnya, kita mengenal tokoh James Bond yang melegenda, yang ceritanya diangkat dari novel serial karya Ian Fleming, yang mulai ditulis pada 1952. Namun, novel serial keenam dengan juluk 1958 Dr. No, baru digubah menjadi film perdana James Bond pada 1962, justru novel perdana berjuluk Casino Royal, baru digubah menjadi film pada 2006 lalu. Sejak diproduksi menjadi film pada 1962, hingga 2006 lalu, sudah 21 serial Bond diproduksi. Pada 2008 dan 2010, sudah direncanakan serial James Bond akan kembali diproduksi. Berkat serial film Bond ini, kita mengenal tokoh detektif dengan kode 007. Hollywood juga mencoba mencetak legendaris-legendaris fiktif lainnya, seperti Rambo, Kapten Jack Sparow, dan lain-lain.
Salah satu serial film yang cukup kondang dari Jepang adalah film tentang tokoh bernama Zatoichi. Ia adalah tokoh fiktif yang hidup di jaman Edo, yang paling sering diangkat dalam film layar lebar maupun serial televisi Jepang. Ketenaran tokoh ini menyerupai tokoh James Bond dalam film Barat.
Bedanya, jika Bond sejak diproduksi pada 1962 hingga 2006, dengan 21 judul film, diperankan oleh 6 aktor secara bergantian supaya tokoh James Bond tetap terlihat muda. Sedangkan Zatoichi, sejak diproduksi yang perdana pada 1962 hingga 1989 dengan 26 judul, selalu diperankan oleh aktor yang sama, yaitu Shintaro Katsu. Zatoichi baru diperankan oleh aktor yang lain untuk film ke-27 yang diproduksi pada 2003, yaitu Takeshi Kitano.
Film Zatoichi yang perdana berjuluk The Tale of Zatoichi, 1962 dengan sutrdara Kenji Misumi, dan yang diproduksi pada 1989 dengan actor Shintaro Katsu adalah berjudul Shintaro Katsu’s Zatoichi. Film ke-27, yang diproduksi 2003 berjuluk The New Zatoichi, dengan sutrdara Yasuda Kimiyoshi dan Takeshi Kitano sebagai pemeran Zatoichi.
Produkrivitas film serial Zatoichi yang lebih banyak dari James Bond ini, menandai semangat bangsa Jepang untuk merebut sinematografi modern, tidak mau kalah dari Amerika, walau mungkin dari sisi keuntunga, film Bond lebih banyak mengeruk fulus dari penonton dan pembeli video, VCD, atau DVD. Tokoh Zatoichi dalam film Jepang, digambarkan berprofesi sebagai tukang pijit yang suka berkeliling dari daerah ke daerah di Jepang. Selain dari memijat, ia juga menghidupi diri dari judi. Namun sebenarnya, ia adalah tukang pijit yang mahir bermain pedang khususnya aliran iaijutsu.
Tukang pijit ini, ke mana-mana tidak pernah menenteng pedang layaknya para samurai. Matanya pura-pura buta, membuatnya terpaksa memakai tongkat kayu yang berbentuk bulat sebagai pemandu. Namun sebenarnya, tongkat kayunya itu merupakan pedang bila sarangnya dibuka.
Pada 1971, produser Zatoichi dari Jepang bekerjasama dengan filmmaker dari Hongkong untuk memproduksi film Zatoichi and the One Armed Swordsman, dengan sutradara dari Hong Kong, Chang Cheh. Keterlibatan para filmmaker Hong Kong yang kala itu film-film dari Hong Kong mulai diperhitungkan, setidaknya untuk di kawasan Asia, tentulah menambah bobot pada sektor cerita dan estetika gamabrnya. Cerita Zatoichi menjadi lebih kompleks dengan hadirnya pendekar dari China yang mengadu nasib lewat pedang di tanah Jepang.
Zatoichi yang diproduksi pada 2003 dengan sutradara Yasuda Kimiyoshi, tentulah lebih unggul dari sisi visualisasi gambarnya. Hal ini bisa dimaklimi oleh sebab dari tahun 1989 ke 2005, teknologi kamera telah berkembang yang lebih pesat, sehingga sanggup memisualisasikan imaji-imaji yang lebih liar. Sebagai perbandingan, film Zatoichi yang diproduksi pada 1971 saat bekerjasama dengan filmmaker Hongkong, kekuatan dalam film ini terletak pada kompleksitas jalan ceritanya, tetapi pengambilan gambarnya tidak neko-neko, dan karena itu, adegan-adegan pembunuhan dengan tebasan pedang tidak sekejam pada film yang diproduksi su tahun 2003. Ditambah dengan kekuatan sound effect digital surround sound, menjadikan adegan-adegan pembunuhan pada Zatoichi 2003 terasa amat kejam. Saat pedang mengoyak perut, terdengar bunyi robekan perut dan darah muncrat.
 Juga, Zaotichi pada 2003 nampak digarap lebih estetik hingga ke deail-detail kecil. Misalnya pengambaran payung yang sudah robek, ricik hujan menerpa penampungan air, prosesi orang membuat rumah, tarian petani, hingga tarian kabuki, disajikan dengan estetik. Adegan terakhir pada Zatoichi tahun 2003, lebih nampak sebagai pertunjukan tari yang didokumentasikan melalui film.
Namun, ada benang merah yang tetap dipertahankan dengan kuat dalam keseluruhan film Zatoichi yang diproduksi dari awal hingga yang terakhir, yaitu tradisi samurai yang berpakaian kimono. Hal ini bisa dimaklumi, karena tokoh rekaan Zatoichi memang hidup di zaman Edo, atau sekitar abad 16-17. Berbeda dengan film James Bond dari waktu ke waktu, yaitu tak ada tradisi yang hendak dipaparkan di situ. Film Bond jutru hendak memamerkan kecanggihan penemian piranti teknologi, bahkan teknologi yang belum dientrapkan dalam keseharian, mulai dipresentasikan melalui film.
 Nonton Zatoichi, kita bukan hanya mendapatkan hiburan, setidaknya dapat melihat bagaimana bangsa Dai Nippon itu mempertahankan tradisinya dari waktu ke waktu. Tradisi samurai yang menenteng pedang ke mana-mana mungkin tinggal dalam cerita, atau dalam panggung sandiwara. Namun samurai dalam wujud yang lain, yaitu dalam bidang ekonomi dan teknologi, tidak bisa disangkal kalau produk teknologi Jepang membanjiri pasar dunia, bahkan termasuk Amerika.
Zatoichi versi 2003 enak ditonton, dan para juri juga memberikan penghargaan untuknya, di antaranya memanangi Award of The Japanese Academy untuk kategori editing terbaik dan sinematografi terbaik, Golden Star Award untuk kategori sutradara terbaik, Golden Kinnaree Award untuk film terbaik, dan Audience Award untuk kategori film terbaik dan film cerita terbaik.
Film Zatoichi lahir dari inspirasi sejarah, dan sengaja saya tuturkan ulang sebagai inspirasi bagi para filmmaker nasional, bahwa bangsa kita cukup kaya dengan cerita sejarah, tetapi belum tergarap. ***
|