|
Pesan moral di balik lukisan realisme Sura Ardana, jadi peringatan akan terganggunya konsep Trihita Karana.
Realisme dalam seni rupa telah berjaya sejak berabad-abad. Gaya realis dan realisme dalam seni rupa, bahkan tidak tersisihkan oleh gampuran seni fotografi dan seni grafis yang secara teknis telah berlipat-lipat melampaui kemampual manual manusia.
Karya realisme pernah berkali-kali dianggap sebagai karya seni yang agung pada era realisme sosial begitu mengemuka. Hingga memunculkan gerakan fluxus dan dadaisme, sebagai niatan para seniman untuk menengok realitas sosial yang ternyata telah hancur lebur akibat realisme perang dunia I dan II yang memakan korban jutaan jiwa manusia.
Bagi beberapa perupa, menggeluti tema dan corak realisme bukan semata-mata ingin memamerkan kepiawaian dalam menggambar obyek dengan tingkat presisi yang akurat, tapi dilandasi oleh kecemasan jiwanya saat melihat realitas sosial. Bagi beberapa perupa, menggeluti realita adalah penggilan sosial untuk menyampaikan kesaksian. Begitulah kiranya alasan yang melatari kembalinya pelukis Sura Ardana ke dunia seni rupa dengan membawa pesan realisme. Disebut kembali, karena Ardana sempat mengalami stagnasi dalam dunia penciptaan karya seni. Juga, ia pernah memasuki aliran atau corak lain macam abstrak ekspresionis dan abstrak figuratif. Tapi akhirnya ia kembali ke corak realisme.
“Saya memang sempat berhenti. Tapi sejak 2006, saya kembali melukis. Latar melukis saya memang realis. Pernah mengeksplorasi aliran-aliran lain, tapi jiwa saya tidak di sana. Saya kembali ke realis dan realisme, karena menggeluti yang lain terasa membohongi diri,” tutur seniman kelahiran Tabanan itu, menjelang akhir tahun 2009, di rumah merangkap studionya.
Kehadiran realisme lukisan Ardana, dilatarbelakangi oleh dua tema pokok. Pertama, adalah ungkapan kekaguman kepada para pekerja yang keras dan tekun. Kedua, kritik atas kondisi sosial Bali yang sedang diuji oleh perubahan jaman.
Ardana, dosen seni rupa Undiksa Singaraja yang kini sedang menempuh studi magister di ISI Yogyakarta itu, menyatakan kekagumannya kepada para pekerja keras namun tidak mengenal keluh-kesah. Ia kagum melihat nenek-nenek yang masih setia menjadi kuli panggul di pasar-pasar tradisional Yogya. Tulang punggungnya sudah bungkuk, namun masih sanggup bekerja keras. Ardana kagum melihat jari-jemari kaki yang rusak akibat banting tulang. Ardana kagum saat mengenang kembali ayahnya yang bekerja hingga menjelang subuh untuk memunguti kerang laut untuk bahan pembuat kapur.
Kekagumannya, itu gambarkan lewat karya verisimilitude (sangat hidup), dengan detail yang subtil, dan presisi yang akurat. Boleh saja secara teknis, karya lukisnya disebut bercorak hiperealis atau foto realistik. Tetapi keberartiannya bukan pada tingkatan teknis belaka, namun pada tema yang hendak diusungnya. Bahwa secara tematik, lukisan Ardana itu hendak menyampaikan suatu pesan yang sudah kita hapal bersama: jangan mudah menyerah.
Tema kedua yang melatari lukisan Ardana adalah problem sosial masyarakat Bali yang benar-benar tengah diuji oleh perubahan jaman. Mampukah masyarakat Bali mempertahankan tradisinya yang bersumber dari trihita karana (tiga unsur penghormatan sebagai landasan untuk menciptakan keharmonisan alam)? Atau tradisi mereka akan tercerabut oleh karena, bagaimana pun, industri pariwisata, diam-diam akan menggusur elemen-elemen tradisi.
“Contoh konkret kemarin-kemarin itu, ada upcara ngaben untuk brahamana. Saat mau dilarung ke pantai, iring-iringan itu akan melalui tembok milik salah satu penginapan. Iring-iringan itu harus minta ijin ke satpam dan pengelola penginapan agar bisa melewati tembok. Sungguh aneh, pantai itu kan milik alam, tapi harus minta ijin dengan keras agar bisa kembali ke alam. Ini namanya degradasi sosial,” kata Ardana.
Tidak perlu heran, bila dalam lukisan Ardana akan sering ditemui figur petani tua. Ia sedang mengingatkan, betapa pertanian yang merupakan salah satu unsur trihita karana itu, kini sebagiannya mulai berubah jadi life service untuk kebutuhan pariwisata. Bertani bukan lagi penghormatan terhadap alam, tapi secara artifisial digelar untuk menyenangkan wisatawan.
Lukisan-lukisan realisme yang mengandung pesan moral seperti gubahan Ardana, setiap jaman selalu ada peminatnya. Bahkan senimannya seringkali dikukuhkan sebagai seniman terbaik pada masanya. Pelukis Rembrandt misalnya, dikukuhkan sebagai maestro adalah karena kepiawaiannya mendongeng dalam kanvas. Rembrandt adalah maestro realisme pada masanya, dan disebut-sebut sebagai pelukis terbaik dari semua aliran yang ada.
Akan sampai di manakah Ardana?
Secara teknis, kemampuan Ardana tidak perlu diragukan lagi. Yang masih dibutuhkan adalah eksplorasi tema yang lebih menggaung, menyentuh persoalan-persoakan pokok dalam problem sosial masyarakat Bali secara lokalitas, dan masyarakat dunia secara globalitas.
|