|
Kolektor karya seni rupa kelas kakap, Ciputra, memperkenalkan metode artpreneurship.
Teks DODDI AHMAD FAUJI Foto AGUS KURNIAWAN
Deru traktor meraung-raung di tengah kerumunan orang yang memasang mata penasaran. Lalu terdengar suara “brak!” yang mengingatkan pada pembongkaran. Namun tidak ada yang berteriak histeris, atau berdemo, sebab aksi traktor itu bukan sedang menggusur rumah-rumah liar, melainkan bagian dari peristiwa kesenian.
Yang punya “ulah” ialah Entang Wiharso, salah seorang perupa avantgarde Indonesia. Entang memajang meja makan lengkap dengan hidangan dinner, tak terlewatkan sajian wine. Entang meminta para penggiat seni rupa untuk terlibat dalam performance art garapannya itu. Pecinta seni macam Oei Hong Djien, Wiyu Wahono, Melani Setiawan, lalu pengelola Galeri Canna –Inge Santoso, hingga wartawan kesenian Rustika Herlambang, didaulat jadi “aktor” dadakan sebagai tamu yang dijamu dinner dalam pertunjukan “Your Pleasure Is Not My Pleasure”. Usai perjamuan malam yang lezat itu, traktor kemudian beraksi, seakan memecah kelejatan yang baru dicerap.
Pertunjukan itu menjadi penanda pembukaan pameran seni rupa berjuluk “Space and Image” yang dikuratori Suwarno Wisetrotomo, yang karya-karyanya didisplay oleh Haripemad Art Management. Pameran berlangsung di Marketing Gallery, Jl Prof. Dr. Satrio, Kav 11, Kuningan, Jakarta Selatan. Penanda lain adalah sambutan dari tuan rumah: Ciputra, serta sambutan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang sekaligus meresmikan mulai beroperasinya Marketing Gallery.
Sebanyak 83 perupa kontemporer Indonesia yang dalam telaah kurator memiliki capaian estetik, jadi seniman-seniman yang “memerawani” ruangan Marketing Galery. Melalui pameran ini, nampak bahwa Indonesia bukan hanya kaya dengan sumber daya alam tapi juga kaya dengan sesuatu yang dilabeli “kesenian”. Ide-ide kreatif seniman Indonesia, menurut kolektor kawakan Oei Hong Djien yang malam itu mengenakan kemeja putih pantalon hitam, tidak kalah dengan seniman-seniman dari negara lain.
“Pemasarannya yang belum tergarap dengan baik. Nah, gagasan Pak Ci ini harus kita dukung, karena ia bermaksud meningkatkan profesionalisme pemasaran karya seni,” tutur grader tembakau asal Magelang itu.
Selain memiliki capaian estetik dengan élan dan daya kreatif-inovatif yang kuat, karya-karya yang dipamerkan itu juga tentu memiliki “nilai jual”. Jangan lupa, bahwa pameran ini merupakan “laboratoriam’ dari program artpreneurship (seni wirausaha kesenian) yang digagas oleh Ciputra. Sebagai wirausahawan di bidang properti, nama Ciputra sudah sangat kampium dan susah dicarikan tandingannya, tetapi bagaimana kans-nya dalam wirausaha kesenian?
Kalau menelusur jejak Ciputra dalam dunia seni rupa, kans itu bisa jadi akan tercapai, barangkali hanya soal waktu. Ciputra dikenal sebagai kolektor karya-karya Hendra Gunawan. Belum ada kajian dan penelitian khusus, apakah karena dikoleksi oleh Ciputra yang membuat lukisan Hendra Gunawan makin mahal dan banyak dipalsukan, atau karena pelbagai determinasi lainnya? Yang jelas, karya lukisan Hendra mahal dan Ciputra adalah kolektor “terbesar” untuk lukisan Hendra. Dan Pak Ci, akan membuat museum untuk karya Hendra ini. “Karya Pak Hendra itu kan aset bagi bangsa ini. Perlu dibuatkan museumnya supaya tidak pindah ke luar, dan jadi milik bangsa lain,” kata Ciputra.
Ciputra juga dikenang oleh publik seni rupa sebagai penggagas berdirinya Pasar Seni Ancol (PSA) di kawasan Jakarta Utara, yang di tahun 80-an, PSA ikut mengukuhkan kebesaran seniman-seniman seperti Abas Alibasjah atau Amrus Natalsya. Menjelang uzur usianya, sebagai wirausahawan, Ciputra melakukan gebrakan untuk dunia kesenian. Disebut gebrakan, karena ia dengan terang-terangan akan melakukan “artpreneurship”.
Artpreneurship itu sendiri, menurut Pak Ci, bukan sebuah kegiatan, tapi suatu profesi, yakni usaha menyatukan seni dan wirausaha. Jadi, artpreneurship bukan barang yang kongkrit.
Artpreneurship jelas merupakan gabung dari art dan entrepreneurship (seni dan wirausaha). Entrepreneurship merupakan salah satu disiplin ilmu. Berdasarkan komparasi dengan negara Amerika dan Eropa yang dipaparkan Pak Ci lewat buku “Quantum Leap Entrepreneur”, Indonesia sampai saat ini belum menjadi negara wirausaha, apalagi wirausaha di bidang kesenian, yang mana hal itu tercermin lewat karya-karya seni anak negeri ini yang belum memiliki harga (harganya rendah sekali). Salah satu contohnya adalah karya-karya Hendra Gunawan yang harganya sangat murah, hingga akhirnya ia meninggal dalam keadaan melarat.
“Tak ada jaminan kesejahteraan untuk dirinya dan anak istrinya,” kata Pak Ci.
Pambukaan Marketing Gallery sebagai salah satu proyek artpreneurship, juga diperkaya dengan seminar dan diskusi soal marketing seni, termasuk bagaimana cara memperkenalkan dan memasarkan karya. Pak Ci menyerukan, seluruh bangsa harus bersatu, baik itu seniman, pecinta seni, stakeholder, pemerintah untuk mendidik para pecinta seni sebagai usaha untuk melahirkan mutu yang baru.
Tidak jauh dari Marketing Gallery, Pak Ci sudah merancang pula sebuah museum sebagai salah satu bagian dari ruang belajar. Pada 2012, pendirian museum itu direncanakan sudah rampung dan bisa dioperasikan. Selain karya Hendra Gunawan, museum itu juga akan mengoleksi karya-karya masterpiece seniman-seniman Indonesia lainnya. Meseum itu dibangun, tentu agar masyarakat luas, baik itu seniman, pecinta seni, atau kolektor, dapat mengakses karya-karya terbaik seniman Indonesia. Gagasan menyatukan ruang belajar, galeri, dan museum ke dalam satu kawasan, bisa terwujud berkat kemampuan Pak Ci dalam menjalankan entrepreneurship. Pengertian filosofis dari entrepreneur bagi Ciputra adalah mengubah ”kotoran” menjadi ”emas”.
Ciputra menyebutkan bahwa seni dan wirausaha adalah dua dunia yang dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya, hingga menciptakan satu sinergi yang saling menguntungkan. Jarak dan waktu tidak boleh menjadi tembok penghalang bagi seniman dan penikmat karya seni dalam berapresiasi dan menikmati keindahan, juga keajaiban karya yang benar-benar mampu memanfaatkan ruang dan kesempatan. Ruang dan kesempatan yang luas-terbatas, yang benar-benar mampu dimanfaatkan dalam seniman dan menikmat seni.
Art dan entrepreneurship ibarat organ-organ yang ada dalam tubuh manusia, antara yang satu dengan yang lainnya saling berbeda, tetapi memiliki peran dan tujuan yang sama: jika satu sakit, yang lainnya juga akan merasakan sakit, begitu juga sebaliknya. Seni tanpa pasar, akan sangat kurang lengkap, karena salah satu fungsi dari seni adalah untuk memberikan hidup dan kehidupan bagi seni itu sendiri, mengalirkan nafas pada karya, memberikan hidup pada seniman dan memberikan kepuasan pada pecinta/penikmat seni itu sendiri—saling berpengaruh dan saling menguntungkan, terutama bagi bangsa dan negara.
Karya seni dan seniman ibarat kunci yang hilang jika tidak dipamerkan/dipasarkan, dan untuk memasarkannya dibutuhkan suatu jiwa kewirausahaan seni—memahami karya seni dan dipasarkan pada pasar yang tepat. Membaca Minat Pasar Sebagai entrepreneur, Ciputra mengikuti zeit geits (semangat zaman) dalam memasarkan karya seni rupa. Para kolektor seni rupa sekarang ini, yang paling bergairah adalah dari generasi muda, yang menurut Oei Hong Djien, memiliki money yang lebih fresh, dan selera yang juga fresh (berbeda selera dengan kolektor seusianya yang cenderung menyukai old masters). Kolektor muda itulah yang dibidik Marketing Gallery, dan karena itu, tentu saja karya yang dipamerkan haruslah yang kontemporer, sebab kolektor muda umumnya demam karya-karya yang “ngontemporer euy.”
Ke-83 seniman yang karyanya dipamerkan, bisa disebut merupakan perupa-perupa avant-garde yang kartya-karyanya sedang jadi buah bibir di kalangan kolektor muda. Kurator yang menggawanginya pun, tentu harus dari generasi muda. Pemilihan Suwarno Wisetrotomo sebagai kurator, nampak sudah tepat, sebab dosen FSRD ISI Yogya ini, memang akomodatif terhadap karya-karya kontemporer.
Karya yang dipamerkan terdiri dari beragam matra dan corak. Lukisan, patung, instalasi, atau commission work, tumpah ruah bagai perhelatan art fair. Secara tematik, karya-karya kontemporer, cenderung mengusung tema-tema yang mengkritisi kondisi sosial politik, dan hal ini tercermin pada hampir seluruh karya yang dipamerkan.
|