Membayangkan Patung Inspiratif di Jakarta PDF Print E-mail
Written by Gergaji Angin   
Jumat, 17 Juni 2011 07:47

SUATU hari, tiang melengkung yang menyangga Patung Dirgantara dilaburi warna hitam legam. Lalu bagian utama patungnya, yaitu seorang pemuda yang tengah berjongkok sambil menunjuk, diberi penerangan dengan teknologi lighting. Lampu-lampu di sekitar patung, harus dimatikan. Sehingga cahaya yang menerangi Patung Dirgantara hanya memancar dari lighting yang memang sengaja disorotkan ke inti patung.
Tiang melengkung penyangga Dirgantara pada malam hari tidak terlihat karena telah dilaburi warna hitam. Tetapi bagian utama patung akan tetap terlihat bahkan mencolok sebab disorot dengan lampu. Maka pada malam hari, Patung Dirgantara akan terlihat seperti sedang terbang.

Tetapi itu semua hanya angan-angan Agus Dermawan T, pengamat seni rupa ternama di Tanah Air ini. Agus Dermawan pernah mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi DKI suapaya Patung Dirgantara yang yang monumental itu mendapatkan perhartian dan pemeliharaan. Setidaknya, jangan bairkan merana seperti sekarang ini.

Patung yang dibangun pada zaman Bung Karno itu memang merana karena harus bersaing tinggi dengan gedung-gedung pencakar langit seperti Gedung Bidakara. Lalu tiangnya, kini disilang oleh dua fly over (jalan layang), sehingga tidak keseluruhan patung dapat tampil sebagai karya seni.

Waktu awal dibuat patung yang lebih sering disebut Tugu Pancoran itu merupakan bangunan paling tinggi yang ada di kawasan Pancoran. Sehingga dapat dilihat dari kejauhan, dan dari banyak penjuru angin. Dengan sendirinya, Tugu Pancoran telah berfungsi menjadi tetenger atau penanda kota, atau landmark kata orang Inggris.
Orang yang baru datang ke Jakarta bisa menjadikan Patung Dirgantara sebagai petokan tempat. Bila keder di jalan, lihat saja ke arah Tugu Pancoran. Dengan cara demikian, orang keder tadi bisa menentukan sedang di mana posisinya.

Tetapi apa daya, bisa dikatakan semua patung yang ada di Jakarta tidak memberikan inspirasi bagi masyarakat. Patung dibuat hanya untuk hiasan. Lebih parah lagi, patung dibuat sebagai alat propaganda penguasa politik.

Menurut Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Marco Kusumawijaya, bahkan Bung Karno pun menginstruksikan pembuatan patung tidak lepas dari kepentingan propaganda. Sebut misalnya patung Selamat Datang di Bundaran HI, Patung Pemuda di ujung Jl. Jenderal Sudirman mau menuju ke Blok M, Patung Dirgantara di Pancoran, Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, atau Patung Tani di kawasan Menteng.

“Menurut saya, Bung Karno juga otoriter dalam memperlakukan kesenian. Patung Pembebasan Irian Barat dibuat langsung dengan skets dari Bung Karno. Ni Heng (Heng Ngatung –red), begini kau harus buat patung,” kata Marco, Selasa kemarin di Jakarta.

Patung Selamat Datang dan Patung Pemuda dibuat menjelang penyelenggaraan Games New Emerging Force (Ganefo) atau olimpiade olahraga khusus bagi negara dunia ketiga yang dirancang Bung Karno.

Bung Karno memerintahkan pembuatan Gedung Olaraga di Senayan, Mesjid Istiqlal, Jembatan Semanggi, dan beberapa patung untuk menyambut kedatangan para kontestan asing. Pembuatan infrastruktur itu untuk mengatakan kepada warga dunia bahwa Indonesia sekarang harus diperhitungkan. Bahwa Ganefo sendiri dirancang oleh Bung Karno untuk menyaingi Oliampiade olahraga tingkat dunia yang digelar empat tahunan itu. Apa yang digariskan oleh Bung Karno merupakan politik mercusuar.

Menurut Agus Dermawan T, patung-patung yang dibuat pada zaman Bung Karno masih menyisakan sisi monumental karena ukurannya besar-besar. Namun, karena laju pembangunan di sekitar patung tidak sedikit pun menghargai keberadaan patung-patung itu, yang terjadi kemudian, eksistensi patung itu tenggelam oleh gemuruh pembangunan.

Menurut Agus, hal itu bisa terjadi karena pada saat ini bagi masyarakat kita ada atau tidak ada patung tidak jadi soal. Tidak ada patung, warga tidak dirugikan. Namun bila ada patung, masyarakat akan diuntungkan.

“Setidaknya, di tengah hiruk-pikuk kota masih ada ruang yang bisa diapresiasi,” tutur Agus Dermawan di Jakarta, Senin lalu.

Apresiasi masyarakat Jakarta terhadap patung, baik menurut Agus maupun Marco, belum nampak. Ketika pemerintah DKI akan membuat sebanyak 35 patung pahlawan di setiap jalan yang memakai nama pahlawan, masyarakat diam saja. Yang protes hanyalah seniman.

“Saya tidak setuju pembuatan patung itu sebab hanya proyek orang-orang birokrasi,” demikian protes Agus.

Marco Kusumawijaya menilai rencana pemerintah DKI yang diumumkan pada 2001 itu merupakan proyek asal bapak senang.

Kota Jakarta tentu membutuhkan patung untuk hiasan dan tetengger, tetapi pembangunannya harus konseptual dan bisa memberikan inspirasi bagi yang melihatnya. Bila Anda pernah ke Yunani, atau ke negara modern lainnya, patung-patung di sana selalu terasa magis dan inspiratif, bukan sekadar mengingatkan orang pada tokoh-tokoh yang dipatungkan. [Gergaji Angin]