|
The Young Dead Soldiers
The young dead soldiers do not speak.
Nevertheless, they are heard in the still houses
who has not heard them?
They have a silence that speaks for them at night
and when the clock counts.
They say
We have done what we could
but until it is finished it is not done.
They say
We have given our lives but until it is finished
no one can know what our lives gave.
They say
Our deaths are not ours
they are yours,
they will mean what you make them.
They say
Whether our lives and our deaths were for
peace and a new hope
Or for nothing.
We cannot say. It is you who must say this.
They say,
We leave you our deaths.
Give them their meaning.
Give them an ends the war, and a true peace afterwards
Give them a victory that ends an a peace afterwards.
Give them their meaning
We were young they say,
We have died.
Remember us.
by Archibald MacLeish,
Historical Period: Postwar United States , 1945-1968
Krawang-Bekasi
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda.
Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu
nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
Chairil Anwar-Deru Campur Debu (1948)
Bila kita perhatikan, kedua puisi di atas menunjukkan adanya kesamaan ide, gagasan,
dan situasi, walaupun dalam pengolahannya terdapat perbedaan yang menyebabkan
setiap sajak menunjukkan ciri khas dan gaya dari masing-masing penyairnya.
Namun dari tahun pembuatan dapat diketahui “The Young Dead Soldiers” merupakan
hipogram bagi ”Krawang-Bekasi”.
Melalui kajian intertekstual
dapat diketahui bahwa puisi “Krawang-Bekasi” Chairil Anwar mendapat pengaruh dari
puisi “The Young Dead Soldiers” karya Archibald Mac Leish.
Pengaruh “The Young Dead Soldiers” pada “Krawang-Bekasi”
Dari isi “Krawang-Bekasi” terlihat bahwa Chairil Anwar terpengaruh oleh Archibald Mac Leish, terlihat dari beberapa persamaan pada kedua puisi tersebut. Keduanya mengungkapkan ide yang sama, dan berlatar sama. Secara imaji visual terdapat persamaan latar dan situasi yang digunakan; suasana hening, malam, sepi, pasca peperangan, dan sama-sama memilih tentara sebagai objek.
Dari segi diksi, “Krawang-Bekasi” memakai beberapa diksi yang sama dan diksi yang mirip maknanya dengan “The Young Dead Soldiers”. Dapat dilihat dalam tabel berikut:
|
No.
|
The Young Dead Soldiers
|
Krawang-Bekasi
|
|
1.
|
Who was not heard them?
|
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami?
|
|
2.
|
They have a silence that speak for them at night
|
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
|
|
3.
|
And when the clock counts
|
Dan jam dinding yang berdetak
|
|
4.
|
We have done what we could
|
Kami sudah coba apa yang kami bisa
|
|
5.
|
But until it finished it is not done
|
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
|
|
6.
|
We have given our lives
|
Kami sudah beri kami punya jiwa
|
|
7.
|
They are yours
|
Tapi adalah kepunyaanmu
|
|
8.
|
Whether our lives, and our deaths
|
Ataukah jiwa kami melayang untuk
|
|
|
were peace and new hope
|
kemerdekaan, kemenangan, dan harapan
|
|
9.
|
Or, for nothing
|
Atau tidak untuk apa-apa
|
|
10.
|
We cannot say, it is you who must say this
|
Kami tidak lagi bisa berkata.
|
|
|
|
Kaulah sekarang yang berkata
|
|
11.
|
Give them their meaning
|
Berilah kami arti
|
|
12.
|
We have died
|
Kami sekarang mayat
|
|
13.
|
Remember us
|
Kenang-kenanglah kam
|
Perbedaan Puisi dan Orisinalitas Karya
Walaupun berada dalam satu tema yaitu peperangan, terdapat beberapa perbedaan pada kedua puisi tersebut. Yang pertama adalah perbedaan konteks situasi. “ The Young Dead Soldiers” dibuat oleh Archibald pada era sastra Amerika tahun 1892-1982. Konteks periode sejarah yang ada dalam puisi adalah setelah perang dunia yang dialami Amerika tahun 1945-1968, saat itu empat ratus ribu warga Amerika meninggal dunia.
Dalam situs angkatan perang Amerika www.log.gov.com, dipaparkan bahwa puisi Archibald Mac Leish dibuat khusus untuk menyadarkan tentang pentingnya arti sebuah pengorbanan—tentara muda—. Sebagai pemuda, Archibald telah ambil bagian dalam pasukan khusus meriam pada Perang Dunia I. Banyak yang terluka dan mati dalam peperangan di Eropa. Pada Perang Dunia II, ia mengabdi pada masyarakat sekali lagi, sebagai pustakawan kongres saat puisi ini ditulis. Ketika perpustakaan kongres membuat kenang-kenangan bagi semua staff dan anggota yang meninggal dalam perang, Mac Leish berkontribusi dalam sebuah puisi yang penuh kekuatan, tidak sekedar mengenang kembali yang meninggal, tetapi juga membuat semuanya jelas. Itu membuatnya tidak bosan dan tetap bertahan selama bertugas. Archibald membuat pertanggungjawaban khusus yang menjadikan kematian tentara-tentara ini penuh arti. Berbeda dengan puisi “Krawang –Bekasi yang dibuat Chairil pada tahun 1948. Konteks periode sejarah pada puisi tersebut adalah pasca perang kemerdekaan Indonesia.
Adapula perbedaan makna tersirat yang terkandung pada kedua puisi. Dalam “The Young Dead Soldiers”, cara memberi arti pada pahlawan adalah mengakhiri peperangan dengan sebuah kedamaian sejati.
Give them their meaning.
Give them an ends the war, and a true peace afterwards
Give them a victory that ends an a peace afterwards.
Give them their meaning
Sedangkan, pada “Krawang-Bekasi”, cara memberi arti pada pahlawan adalah dengan mengenang dan menjaga semangat perjuangan pahlawan kemerdekaan.
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kedua karya tersebut juga menggunakan pronomina yang berbeda untuk menyapa pembaca. Puisi Archibald menggunakan ‘mereka’, pronomina orang ketiga jamak. Isi puisi diungkapkan dari sudut pandang orang ketiga yang menunjukkan simpati pada situasi dalam puisi. Sebaliknya, pada “Krawang-Bekasi”, Chairil menggunakan ‘kami’, pronomina orang pertama tunggal, sudut pandang orang pertama sebagai pencerita yang memberi kesan empati, lebih mendalam karena ikut merasakan dan menjadi bagian dalam situasi peperangan.
Dari segi latar, puisi Chairil memiliki latar khusus yaitu Krawang dan Bekasi. Situasi terjadi di dua kota tersebut. Ada pula nama tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan yang ikut andil dalam peristiwa. Puisi Archibald tidak memiliki latar khusus—kecuali dilihat secara historis—hanya menjelaskan situasi peperangan saja dan tidak ada nama tokoh. Ini menandakan bahwa puisi ini bersifat general, umum, dalam artian di setiap medan perang pasti ada tentara muda yang mati. Namun sasaran kedua puisi tersebut sama-sama ditujukan untuk pembaca generasi muda.
Walupun isi “Krawang-Bekasi” mendapat pengaruh dari “The Young Dead Soldiers”, tapi ciri khas dan orisinalitas Chairil dalam berkarya masih melekat. Bila dicermati, kita akan merasakan adanya pengaruh teknik persajakan Chairil Anwar, yaitu gaya repetisi, adanya kalimat yang berulang. Selain teknik, juga terasa adanya pengaruh nafas puisi dari Chairil yang seorang nasionalis.
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Berjagalah terus berarti perjuangan belum selesai walaupun secara konstitusi Indonesia telah merdeka. Ini dimaksudkan agar generasi muda terus bejuang mencapai impian untuk merdeka seluruhnya. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kapitalisme, pemerataan pendidikan, jaminan kesehatan dan kesejahteraan sosial, serta supremasi hukum dan HAM yang saat ini belum bisa dirasakan seluruh rakyat Indonesia.
|