MENEROPONG WAJAH INDONESIA DALAM FILM ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI PDF Print E-mail
Written by andita burhanuddin   
Senin, 13 Desember 2010 23:12

MENEROPONG WAJAH INDONESIA DALAM FILM

ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI

Perkembangan dunia Perfilman Indonesia sekarang ini begitu pesat, berbagai produk karya film terus lahir dari dapur perfilman Indonesia untuk bersaing dipasaran. namun perlu kita perhatikan film-film menarik untuk kita simak sebagai pencerahan untuk membentuk kepribadian. banyak anggapan bahwa masyarakat adalah pasif yang pola pemikirannya mudah dibentuk lewat pencitraan pada media elektronik teknologi dan informasi, bagai jarum suntik yang dimasukkan kedalam tubuh manusia.

Tidak dipungkiri bahwa tayangan film media elektronik memberikan pengaruh yang begitu besar terhadap pola pengembangan prilaku dan kepribadian penonton. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat kental akan budaya yang memiliki banyak kearifan local, Maka dari itu kita harus memilah film yang pantas untuk kita konsumsi sebab jangan sampai, kita sebagai konsumen terjerat arus pengaruh yang tidak terkendali untuk mencontoh atau menyerap apa saja yang menjadi trendi padahal; pemikiran kita dibentuk oleh media hanya untuk menguasai pasar perdagangan sekaligus mengubah peradaban kita sebelumnya. Salah satu kunci untuk mengelola arus pengaruh yang demikian adalah kecermatan dalam memlih bahan tontonan yang sedapat mungkin memberikan pelajaran berharga atas setiap film yang kita konsumsi.

harapan terbaik buat pelaku dunia perfilman yaitu menjadikan sarana media Audio visual bisa menjadi wahana hiburan yang memberikan pengetahuan dan pendidikan moral bagi penonton untuk membuka cakrawala kesadaran, mengenai fenomena social yang terjadi sekarang ini.

Salah satu Film berjudul ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI yang ditulis oleh Musfar Yasin merupakan sebuah film yang sangat menarik untuk kita konsumsi tentang bentuk sikap dan pandangannya terhadap kemacetan negri Indonesia dalam menerapkan pola hukum, system dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia.

Film ini menggambarkan sebuah kisah seorang sarjana manajemen (muluk) yang mampu memberikan sumbasih atas pelaksanan tujuan pendidikan seutuhnya. Dalam film ini digambarkan secara menonjol tiga pilar ilmu yang perlu dimiliki oleh seseorang untuk membangun bangsa yaitu ilmu, manajemen, agama, dan pendidikan. kekeliruan selama ini adalah paradigma yang membawa kita pada poros orientasi kerja terhadap instansi, bukannya membawa cara pandang pada hakikat tujuan pendidijkan untuk memuliakan manusia. Tidak dipungkiri Jalan hidup untuk mendapatkan materi yang cukup menjanjikan adalah bekerja pada instansi pemerintahan dan perusahaan tapi bukan berarti hanya itu yang harus kita harapkan. Tidak sedikit orang yang terjebak pada paradigma seperti ini bahkan sering terjadi pertentangan antara penting dan tidaknya sebuah pendidikan seperti peristiwa yang terjadi pada film tersebut, disatu sisi yang menganggap bahwa pendidikan itu tidak penting akibat setelah mengenyam pendidikan selama berpuluh tahun namun setelah selesai pendidikan itu tidak membuahkan manfaat tetapi hanya melahirkan stress. Dalam cerita film ini disampaikan pendidikan itu tidak penting dan hanya penting apabila memiliki konektivitas antar personal terhadap aparatur Negara yang menjalankan system pemerintahan dalam pengambilan kebijakan.

Pada film ini pun kita diajar tentang bagaimana system dan model pembelajaran yang tidak menjenuhkan. Hal ini tergambar pada adegan proses belajar mengajar yang diterapkan kepada para pencopet Pada saat mereka diajar menulis huruf. Saat pertama pengajar memaksakan cara memegan pensil pada umumnya namun, para tokoh pencopet itu menolak dan memilih caranya sendiri asalkan tidak terlepas dari tujuan pembelajaran. Pada bagian ini pengarang cerita hendak menyampaikan kepada kita agar hendaknya memberikan kebebasan kebebasan kepada peserta didik untuk berekspresi asalkan tidak terlepas dari apa yang ingin kita ajarkan.

Bukan hanya pada bagian diatas yang menarik untuk kita sikapi, ada juga hal – hal yang penting untuk kita sikapi secara bersama-sama dalam perbaikan mutu kehidupan dengan memberikan kepercayaan kepada seseorang sebagai wakil kita (rakyat) secara cermat, dalam film ini digambarkan peran seorang calon anggota DPR yang menyimbolkan partainya dengan nama Partai Asam Lambung. Menafsir secara sederhana dalam pemaknaan semantic asam lambung lebih erat hubungan dengan urusan perut, jika lebih jauh memberikan jawaban seseorang yang lebih mementingkan perut atau dirinnya sendiri disbanding memikirkan rakyatnya. Hal ini dipertegas pada saat terlontar percakapan antara calon anggota DPR tersebut dengan salah satu tokoh yang bernama Hj. Sarbini, “apabila capek mikirin rakyat maka yang dikerja adalah bermain game” game yang ditampilkan dalam cerita tersebut permainan yang hanya memakan biji-bijian untuk sampai pada level selanjutnya.

Yang membuat lebih hidup dan membumi pada film yang berjudul ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI adalah anak-anak miskin yang terlantar hadir sebagai tokoh para pencopet, kehadirannya menyadarkan kita untuk menelaah lebih jauh tentang makna kemerdekaan serta penghayatan secara mendalam lagu kebangsaan Indonesia. Salah satu adegan yang menyimpukan untuk menarik nilai atau pesan yang ingin disampaikan oleh penulis cerita adalah :

Sesaat setelah para pencopet mendapat bimbingan dari Muluk dan Temannya,mereka mulai sadar akan pentingnya pendidikan. Suatu hari pencopet mengadakan upacara penaikan bendera merah putih dan setelah sampai pada penghabisan lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya habis, mereka menyerukan suara Amiin……

Dapat kita tangkap bahwa lagu Indonesia raya adalah nyanyian yang berbentuk doa kepada Tuhan, atas cita – cita yang dirindukan yaitu KEMERDEKAAN dan KEBEBASAN, bukan kemerdekaan semu ataupun kemerdekaan sendiri-sendiri seperti yang ada dalam cerpen seorang sastrawan Putu Wijaya tentang seekor burung perkutut yang tidak ingin bebas hanya sendiri saja.

Pada bagian klimaks cerita para pencopet mulai memilih jalan baru yaitu ngasong dijalan, tetapi yang terjadi ialah mereka justru lebih terancam daripada mencopet, sebab kebebasan tidak dirasakan. Kata salah satu petugas mereka menganggu ketertiban jalan. yang lebih lucu disaat mereka tertekan dalam memilih jalan hidup yang lebih baik justru mereka lebih merasakan ancaman akibat hukum yang hanya mempertimbangkan hal-hal daripada ketertiban namun tidak pernah memberikan solusi yang terbaik bagi mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menaruh harapan dan rezki yang halal dipinggir jalan, padahal dalam UUD 1945 pasal 34 ayat 1 berbunyi : setiap anak terlantar dan fakir miskin dipelihara oleh Negara, dan pastinya pemeliharaan atas pendidikan dan kebutuhan dasar untuk mereka.

Andita Burhanuddin.