Totok Buchori berbisik pada diri sendiri: Keadaan sulit dilawan. PDF Print E-mail
Sabtu, 15 Mei 2010 16:31

Tetapi hingar-bingar reformasi yang nyaris tak terkendali, telah mendobrak tatanan politik di berbagai subsistem, hingga timbul kondisi chaos yang mengejutkan sekaligus membingungkan banyak pihak. Dalam seni rupa misalnya, ternyata karya yang bisa diapresiasi atau “diperjualbelikan” tidak lagi karya yang benar-benar berkualitas. Semua bisa diperjualbelikan, asal si seniman mau berkompromi dengan tukang jual-beli. Berkompromi, adalah berpolitik, bukan?

Totok Buchori, saya kira, termasuk seniman yang terkejut dan bingung menghadapi situasi baru dalam praktik “apresiasi” seni rupa setelah era reformasi bergulir, di mana lahir tiga kali booming seni lukis. Loh kok, karya yang hanya curat-coret, bisa dielu-elukan, dibontang-banting, dan dihargai ratusan juta rupiah?

Bukan hanya Totok, tapi banyak seniman yang bersikutat dengan pendalaman teknik dan tema, telah terperanjat menghadapi suatu kenyataan bahwa era reformasi, selain menurunkan Presiden Soeharto, juga ternyata melahirkan kenyataan bahwa menciptakan karya seni sudah tidak perlu lagi kedalaman teknik pun tema. Karena itulah, banyak seniman seperti Totok, terpaksa diam dan merenungi keadaan.

Pada catatan koratorial yang ditulis Kuss Indarto untuk pameran tunggal Totok, disebutkan perupa yang pernah kuliah di ASRI ini tidak ikut muncul, alias bertapa, pada era booming seni lukis yang kemarin-kemarin itu, tapi bukan berarti ia stagnan. Totok sedang merenungkan, ke mana kuwas harus digoreskan. Hal itu tercermin lewat karya berjuluk Finish (2009, 200X150 Cm, akrilik pada kanvas). Hasil renungannya berbunyi, keadaan harus dilawan, harus diprotes.

Pada karya Finish dengan figur diri sendiri itu, Totok menggambarkan dirinya sedang duduk lesu pada sebuah kursi (entah kursi apa), dengan kepala tertunduk lesu dan disangga oleh lengan yang lemas. Di hadapannya tergeletak megaphone yang sudah rusak. Megaphone adalah perkakas sekaligus atribut demonstrasi (protes). Visualisasi megaphone yang rusak dan si demonstran yang lunglai, adalah representasi dari kekalahan “keras kepala” seniman yang bersikukuh menggenggam pakem-pakem lama secara konservatif.

Pesan moral dari lukisan ini adalah, berbisik kepada diri sendiri: Resonansi!

Bisikan itu berbunyi, semua orang tak terkecuali seniman, harus ikut berubah. Namun, berubah seperti apa yang harus ditempuh, itulah inti soal yang diapungkan Totok Buchori dalam pameran tunggal berjuluk Megaphonology, yang berlangsung di MD Art Space, City Plaza UG # 08, Wisma Mulia, Jl. Jend. Gatot Subroto No. 42, Jakarta Selatan, pada 20 – 30 Agustus 2009. Belasan lukisan dipamerkan dalam helaran yang dikoratori oleh Kuss Indarto ini.

[***]

Judul : Megaphonology

Seniman : Totok Buchori (50 tahun)

Kurator : Kuss Indarto

Waktu : 20 – 30 Agustus 2009

Tempat : MD Art Space