Soliloqui
BENCANA OH BENCANA... PDF Print E-mail
Written by sudibya one person   
Rabu, 29 Juni 2011 08:06

Bencana alam silih berganti detik demi detik menit bahkan jam hingga hari bulan dan tahun pun menjadi saksi biksu atas kedatangannya. Bencana alam memang tidak dapat diprediksi, karena merupakan kuasa Tuhan yang kapan saja dapat terjadi entah muda, dewasa, bahkan tua pun akan mengalaminnya.
Baru-baru ini terjadi musibah yang sangat dahsyat dan bersejarah bagi bangsa jepang, bencana tersebut akan mengingatkan kita pada tanggal 26 desember 2004 yaitu bencana tsunami di Aceh. bencana yang terjadi di jepang ini sungguh lebih dahsyat dari bencana tsunami yang ada di jepang, selang kurun waktu 140 tahun bencana alam Tsunami ini lebih dahsyat, banyak kerugian yang dialami negara tersebut selain korban jiwa, dan materi.
dalam bencana tersebut pasti ada hikmahnya, smoga tim sar dapat mengevakuasi para korban dan dapat menjalankan tugasnya dengan baik. dan semoga negara-negara lain dapat tergerak untuk membantu negara jepang dalam mengatasi masalah tersebut, dengan memberikan bantuan materi atau obat-obatan yang dapat bermanfaat bagi para korban. dan untuk WNI kita yang ada di jepang semoga dapat selamat dan dapat kembali ke tanah air dengan selamat.

 

 
JUST TIME... PDF Print E-mail
Written by sudibya one person   
Senin, 27 Juni 2011 19:50

ketika kita sudah tidak bersahabat dengan waktu, betapa sulit untuk mengembalikan sesuatu yg tidak kita inginkan kembali

seperti pengaturan awal, andai hal tersebut dapat terjadi alangkah bahagianya manusia di bumi ini tak terkecuali saya. waktu

demi waktu berlalu, banyak hal yang telah terjadi entah hal yang menyenangkan, menyedihkan, membosankan, menjengkelkan,

dll yang kita tidak bisa menyebutkan secara detail. waktu bagaikan air yang mengalir, tak peduli apapun yang terjadi entah baik

atau buruk untuk kita dia berputar sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.

banyak sesuatu baru yang akan terjadi di masa depan, termasuk diri kita sendiri. mau tak mau kita harus menjalani dan

menghadapi, karena hidup ini hanya  sesaat dan tak ada yang abadi. kembalilah dan jadilah diri sendiri seperti dahulu

karena be your self lebih baik dibanding dengan yang lain. bersahabatlah dengan waktu, karena bila kita dapat bersahabat

dengan waktu maka segala yang akan kita capai mudah-mudahan akan menjadi kenyataan. dalam hal ini dilarang mengeluh karena mengeluh merupakan suatu usaha melawan waktu termasuk takdir yang telah ditetapkan Tuhan untuk kita...

 
1000 Burung Kertas PDF Print E-mail
Written by Siti Sarah   
Jumat, 25 Maret 2011 09:53

Raesha Pradil Disa adalah seorang anak perempuan berumur 5 tahun yang bersekolah di Taman Kanak-Kanak Irma Bangsa. Dia senang sekali membuat origami dari kertas origami yang berwarna-warni. Dia bisa membuat berbagai macam origami. Dari pinguin, ikan, kodok, kepiting, dan lain-lain. Tetapi hanya satu origami yang paling dia suka, burung kertas. Dia bisa membuat origami karena diajarkan oleh Ibunya. Seperti Raesha, Ibunya juga menyukai origami yang berbentuk burung kertas.

6 tahun kemudian.

Raesha sekarang berumur 11 tahun. Dia sekarang bersekolah di Sekolah Dasar Adik Bangsa. Sekarang dia sudah kelas 6SD. Kebiasan Raesha dari kecil masih tetap sama. Dia suka membuat origami di setiap waktu luangnya. Diamana-mana Dia selalu membawa kertas origami dan membuat origami.

Saat Dia sedang berada di taman. Dia melihat seorang anak dan Ibunya sedang membuat origami. Ibunya mengajarkan anaknya membuat origami. Anaknya sudah membuat banyak origami. Dari ikan, ular, jerapah, kodok, dan lain-lain. Raesha melihat Ibunya sedang mengajarkan membuat burungb kepada anaknya. Tiba-tiba Dia teringat tentang masa lalunya.

Saat itu Raesha sedang merayakan ulang tahunnya dengan teman-temannya dirumahnya. Raesha berulang tahun yang ke-8 tahun. Origami yang Raesha dan Ibunya buat menjadi hiasan untuk dirumahnya. Mereka berpesta sampai sore.

Keesokan harinya, Ibunya sakit. Reasha langsung memanggil Bapaknya. Bapaknya langsung membawa Ibunya ke rumah sakit. Saat di rumah sakit, dokter langsung memeriksa keadaan Ibunya. Ternyata Ibunya mempunyai penyakit kanker stadium IV. Ibunya mempunyai penyakit itu sudah lama. Tetapi tidak ada seorangpun yang tahu termasuk Ibunya. Saat Raesha masuk ke kamar rumah sakit Ibunya, raesha bertanya “Ibu kenapa?”. Ibunya menjawab sambil tersenyum “Ibu hanya sakit nak, tidak apa apa”.

“Ibu cepat sembuh ya”

“Iya Raesha. Raesha, mungkin Ibu akan pergi jauh dan mungkin Ibu tidak akan kembali lagi.”

“Memangnya Ibu ingin pergi kemana?”

“Ibu akan pergi ke surga yang tempatnya sangat tenang. Ibu mempunyai permintaan untuk Raesha, apakah Raesha ingin melalukannya?”

“Apa permintaan Ibu?”

“Raesha buat 1000 burung kertas, dan jika sudah ada 1000 buatlah permintaan.”

“Iya bu, aku akan melakukannya”

Sejak hari itu, Raesha selalu membuat burung kertas. Di waktu luangnya Dia selalu membuat origami burung kertas, bukan yang lain. Raesha baru menyelesaikan 999 burung kertas. Tetapi Dia mendapat kabar kalau Ibunya sudah pergi ke surga. Raesha menyesal karena Dia belum menyelesaikan 1000 burung kertasnya.

Raesha tetap menyesal sampai sekarang. Lalu Dia ingat kalau dia menyimpan 1 burung di kotak kecilnya. Sekarang burung kertas itu ada 1000. Dia pun meminta permohonan agar ibunya tetap bahagia dan tenang di surga.

Siti Sarah

SMA Dwiwarna

 
Suatu Malam Aku Merenung PDF Print E-mail
Written by Cut Anissatun Madurasari   
Senin, 14 Maret 2011 02:59

Aku mengeja lagi nama kau, kau lelaki yang tidak pernah takut muntahan peluru mentah. Seribu tentara yang menghadirkmu dengan bedil, tidak membuat kau mengingat emakmu yang sudah renta. Kau tidak pernah gentar menembus hujan dan angin yang menggebu. Dan setiap subuh tiba, kudengar lantunan dari meusana, adzan Subuh menggema dari pita suaramu. Tapi kau kini tinggal ingatan yang semoga tidak pudar dari batok kepalaku.

Sayangku, selamat beristirahat yang kekal. Moga rumah yang asri dan benderang disediakan untukmu. Aku di sini, setiap malam mengeja namamu pada puisi, pada cerita pendek, bahkan pada novel yang tak kunjung rampung.

Kini aku merenung seperti gunung, menghayati malam bagai kelelawar, mengapa kekuasaan selalu ingin mengekalkan dirinya, sedang para pejuang era kini selalu tidak siap menderita. Mengapa kekuasaan, bagai vagina yang merah merekah, begitu menggiurkan para pialang. Mengapa kekuasaan selalu nampak bagai penis yang tegang, sehingga hari-harinya nampak demam dan gemetaran.

Sayangku, seandainya kau masih menghirup kopi di kedai, seandainya Plato lahir kembali, dan seandainya Einstein lahir di abad 21, seandainya para nabi bisa dikloning, mungkin presiden yang cengeng sudah bisa kau insyafkan dari menangis. Mungkin kekuasaan yang mempertahankan kemolekannya dan hanya tebar pesona, dapat kau gampar hingga terpelanting dari tahtanya.

Malam ini aku lapar sayangku, lapar segala-galanya. Melalui goresan ini aku memperpanjang ingatanku padamu, supaya tawar dahaga ini, supaya musnah lapar ini, dan supaya kau bisa istirahat dengan tenang. I Love You forever.

 

2011

 
Saling Memahami Di Dalam Perbedaan PDF Print E-mail
Written by Mai_H   
Sabtu, 19 Februari 2011 18:36

Kita tak pernah bisa memaksakan sebuah pendapat atau pandangan kepada orang lain, karena setiap manusia mempunyai latar belakang dan jalan hidup yang berbeda, yang membentuk ideologi mereka masing-masing. Kita hanya butuh untuk saling memahami perbedaan tersebut supaya kedamaian bersama akan tetap terjaga.

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>

Page 1 of 5