Suatu Malam Aku Merenung PDF Print E-mail
Written by Cut Anissatun Madurasari   
Senin, 14 Maret 2011 02:59

Aku mengeja lagi nama kau, kau lelaki yang tidak pernah takut muntahan peluru mentah. Seribu tentara yang menghadirkmu dengan bedil, tidak membuat kau mengingat emakmu yang sudah renta. Kau tidak pernah gentar menembus hujan dan angin yang menggebu. Dan setiap subuh tiba, kudengar lantunan dari meusana, adzan Subuh menggema dari pita suaramu. Tapi kau kini tinggal ingatan yang semoga tidak pudar dari batok kepalaku.

Sayangku, selamat beristirahat yang kekal. Moga rumah yang asri dan benderang disediakan untukmu. Aku di sini, setiap malam mengeja namamu pada puisi, pada cerita pendek, bahkan pada novel yang tak kunjung rampung.

Kini aku merenung seperti gunung, menghayati malam bagai kelelawar, mengapa kekuasaan selalu ingin mengekalkan dirinya, sedang para pejuang era kini selalu tidak siap menderita. Mengapa kekuasaan, bagai vagina yang merah merekah, begitu menggiurkan para pialang. Mengapa kekuasaan selalu nampak bagai penis yang tegang, sehingga hari-harinya nampak demam dan gemetaran.

Sayangku, seandainya kau masih menghirup kopi di kedai, seandainya Plato lahir kembali, dan seandainya Einstein lahir di abad 21, seandainya para nabi bisa dikloning, mungkin presiden yang cengeng sudah bisa kau insyafkan dari menangis. Mungkin kekuasaan yang mempertahankan kemolekannya dan hanya tebar pesona, dapat kau gampar hingga terpelanting dari tahtanya.

Malam ini aku lapar sayangku, lapar segala-galanya. Melalui goresan ini aku memperpanjang ingatanku padamu, supaya tawar dahaga ini, supaya musnah lapar ini, dan supaya kau bisa istirahat dengan tenang. I Love You forever.

 

2011