|
Sejak booming televisi swasta, sikap masyarakat terpecah-pecah. Ada yang pro, ada yang kontra, dan tidak sedikit yang tidak peduli.
Masyarakat yang pro, tentu saja mengamini acara apapun yang ditayangkan oleh TV, bahkan mereka berusaha mencari peluang untuk dapat terlibat dalam acara-acara TV. Peluang di sini diartikan sebagai upaya untuk meraih kesempatan terkenal, dan dengan ketenaran itu mereka bisa meraih kesejahteraan. Mengandalkan berbagai cara, termasuk memodifikasi "tubuh" bagi yang pro, adalah wajar dan itu merupakan anugrah yang diberikan Tuhan. Bila Tuhan memberikan anugrah berupa tubuh yang molek, mengapa tidak tubuh itu dimaksimalkan untuk mempertahankan hidup, untuk meraih kesejahteraan yang lebih baik. Kurang lebih, begitulah alasan mereka yang pro.
Tentu banyak masyarakat yang gelisah melihat siaran televisi, yang nampak semakin menjauh dari etika dan norma yang masih dianut masyarakat Timur. Bahkan acara keagamaan semisal dakwah dengan menampilkan ustad-ustad yang tampil keren dan dengan wajah yang bisa "dijual", juga dinilai "miring". Pada sebuah seminar keagamaan yang disiarkan oleh TVRI beberapa waktu lalu, menyoroti persoalan seperti itu. Para pemrakarsa dalam seminar itu menilai, para produser TV terlalu berpikir kapitalis, sehingga acara keagamaan pun harus menampilkan selebriti supaya laku dijual. Acara-acara yang beraliran hantu dan tahayul, jelas mendapat sorotan tajam dari masyarakat yang menggenggam erat tauhid. Menurut mereka, acara yang bernuansa tahayul itu dapat meruntuhkan keimanan. Acara infotainment atau semisal acara Uya-Kuya, juga mendapat sorotan, termasuk dari sebagian masyarakat Madura yang menilai, menyebarkan gosip dan aib adalah tidak baik.
Di antara yang pro dan yang kontra, ada masyarakat yang tidak peduli sama sekali. Mau apapun yang terjadi di televisi, ya silakan saja.
Lalu kita berada di posisi mana?
Mungkin jika anak kita meninggal karena di "smackdown" oleh temannya, kita baru akan berteriak, hentikan acara TV yang tidak mendidik. Atau bila Anda baru menyadari bahwa anak gadis Anda bisa tampil molek seperti artis sinetron, ternyata hasil dari "menjual tubuhnya", bisa jadi Anda akan berada di garis depan untuk memantau acara TV.
Mari kita pantau TV swasta yang ada di Tanah Air ini, sebab TV diam-diam telah menjadi guru yang paling ditiru oleh anak-anak. Anda bisa ikut menyalurkan pendapat Anda mengenai acara TV dengan menjadi kontributor di: www.pemirsatv.blogspot.com
Selamat bergabung.
|