HypomaniCam, 17 april 8 mei 2011 PDF Print E-mail
Written by Lawang   
Rabu, 20 April 2011 19:13

HypomaniCam

Pameran Seni Rupa oleh Lingkar Community Bali


Kurator: Arif Bagus Prasetyo
Tonyraka Art Gallery
Jl. Raya Mas 86, Mas, Ubud, Bali
17 April 2011 - 8 Mei 2011

HypomaniCam menampilkan serangkaian karya seni rupa berbasis fotografi. Pameran ini mengusung konsep Kesadaran ber-Kreasi secara Positif dan transparan, over/totalitas penuh dalam berkarya, mengesampingkan nilai-nilai fotografis yang biasa dijadikan pacuan kompetitif seni fotografi, serta mendorong lebih jauh intervensi fotografi pada ranah seni rupa. Tampilan karya memperkuat citra konsep 'menangkap lebih banyak cahaya' untuk diekspresikan dalam sebentuk energi bebas yang nyata dan selalu bisa dinikmati dengan mood yang baik.

Karya-karya dalam pameran ini mengunggulkan evolusi fotografi yang koheren (Coherent theory) dan visioner dalam bingkai wacana seni rupa. Tujuh fotografer muda profesional anggota Lingkar Community terlibat dalam pameran ini: Indra Widi, Komang 'Totok' Parwata (Totok Bulu), Yan Palapa, DP Arsa, Aries Santhana, Patrick Lumbanraja dan Al Ma. Mereka mengekspresikan foto seni untuk menyiratkan sesuatu yang lebih kuat dari konsistensi biasa, untuk berbicara dari seluruh pengalaman mereka dalam realitas maya.

Dalam pameran ini, para fotografer-perupa berkreasi dengan mendefinisikan-ulang konvensi fotografi, menerobos pakem seni fotografi, dan sekaligus melampaui ranah profesi fotografer. Mereka menjelajahi beragam gagasan, teknik maupun material guna memperluas dan memperkaya khazanah estetika fotografi sebagai medium ekspresi seni rupa kontemporer. Karya fotografi dihadirkan dalam berbagai kemungkinan format 'burn the frame', aneka bentuk penggarapan dan penyajian, dwimatra maupun trimatra, termasuk instalasi.

HypomaniCam mengumandangkan bahwa di Bali telah dimulai sebuah gerakan 'penegasan' kemampuan fotografi sebagai dasar berkreasi yang penting dalam perkembangan seni rupa masa kini.

Berawal pada bulan Juni 2010, di emperan ruko, di sebuah warung untuk nongkrong di pinggiran Jalan Sudirman, Denpasar, tepatnya Waroong Obey, sebelah Kampus LP3i, kami datang untuk menikmati konser musik yang diadakan dengan semangat kebersamaan dan spontanitas sekumpulan pecinta musik. Kami datang hanya berbekal keyakinan untuk mempererat tali perkawanan dan juga menambah teman baru sambil menikmati secangkir kopi panas sajian ala Waroong Obey. Kami berkumpul secara spontan saja, sembari bertukar informasi apapun seputar seni dan budaya: Fotografi, Video/Film, Teater, Musik, Desain, sub-Culture, hingga sejarah Kerajaan Majapahit. Semua begitu sederhana dan menyenangkan karena kami bisa sejenak melupakan aktivitas keseharian kami.

Sebuah identitas bernama ‘Komunitas Lingkar’ atau ‘Lingkar Community’, atau lebih singkatnya disebut ‘Lingkar’, dicetuskan ketika kami melihat potensi spontanitas dan kebersamaan dalam wacana seni-budaya yang sama. Nama ‘Lingkar’ bermakna wadah, ruang, dan sarana untuk menjembatani para pelaku seni di Bali. Sebuah wadah untuk tempat ngumpul, kongkow, ruang untuk eksplorasi seni, dan sarana bertukar informasi apapun, adalah bekal dan dasar Komunitas Lingkar untuk saling berkomunikasi. Dari manapun kami berasal, selalu saja ada ruang terbuka untuk bisa mengatasnamakan seni-budaya dari Bali, baik yang bermuatan tradisional ataupun modern.

‘Lingkar’ yang mengambil filosofi dan makna lingkaran itu sendiri sudah 'terlalu tua' untuk dijabarkan kembali, namun kami pergunakan untuk menjadi sebuah 'jembatan' antar-individu ataupun antar-kelompok seni. Kami berharap suatu saat jembatan ini akan dilalui untuk dijadikan barometer arti eksistensi kebersamaan dan eksplorasi dalam seni dan budaya di Bali. Untuk menjadi barometer itulah Lingkar harus mempunyai sebuah 'titik temu' dari banyak kepentingan, untuk lebih bisa mendefinisikan seperti apa seni dan budaya Bali dieksplorasi secara modern, tanpa meninggalkan tradisi yang sudah turun-menurun sejak berabad yang lampau.

Lingkaran-lingkaran energi seni dan budaya, baik berasal dari individu ataupun kelompok, yang diharapkan tidak pernah mati inilah yang kami pergunakan dalam proses mewujudkan ruang terbuka untuk pelaku seni dari Bali. Dari sini, setidaknya Lingkar Community/Komunitas Lingkar/Lingkar terus mengusahakan pergerakan eksistensi dan eksplorasi seni dan budaya dari Bali, sehingga karya-karya kami kelak mampu menjadi referensi yang bisa dipergunakan bersama.