|
Pameran Tunggal Ketiga Kyai Haji Muhammad Fuad Riyadi 'LOCOSPIRITUAL: The Journey of Spiritual World' Kurator Netok Sawiji Rusnoto Susanto Pameran akan dibuka oleh dr. Oei Hong Djien
di Jogja Gallery Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara, Yogyakarta Selasa, 19 Juli 2011 Pukul 10.00 - 12.00 WIB
TESTIMONI
Pertama melihat karya Kyai, saya terkejut! Ini luar biasa, karya-karyanya adalah karya seorang master dengan M besar. Itu bukan omong kosong dan saya sedang tidak berandai-andai. Ya! Saya melihat lukisan yang kaya dengan nuansa spiritual. Ada kehadiran gema cahaya di sana , dan itu hanya dapat muncul dari sebuah ruang yang tidak menyisakan sedikitpun ego dalam kaitannya dengan proses penciptaan.
Merwan Yusuf [staf pengajar di Universitas Paramadina, Jakarta].
Kyai H M Fuad Riyadi menyadari sepenuhmya situasi kehidupan sekarang ini yang sedang mengalami suasana yang chaos, sesuatu kekacauan dan kekeruhan yang tak tertahankan dari ketegangan dan kerentangan yang disebabkan oleh kontradiksi antara potensi-potensi masa kini dan bentuk kehidupan masa lalu, menjadi semakin kuat karena dorongan ke arah pencapaian keseimbangan kehidupan kita dalam dimensi kontemporer. Pengendapan dan penghayatan atas situasi itu dengan keyakinan spiritualnya yang tinggi telah memicu hasrat dalamnya (inner drive) untuk melukis, suatu tindakan kreatif berbagi rasa keilahian dengan harapan membantu pencerahan, mengingatkan kembali akan keluhuran nilai-nilai kemanusiaan. Mengamati karya lukisan-lukisannya, seperti kita semua diajak untuk reorientasi ke diri kita sendiri, keinginan membangun kembali diri manusia kita agar menjadi makhluk yang terintegrasi dengan semesta raya. Lukisan-lukisan terbarunya mengingatkan betapa signifikannya bahasa visual yang mampu menyebarkan pengetahuan dan sekaligus pengalaman batin yang lebih efektif dari hampir semua kendaraan komunikasi yang ada. Sulebar M. Soekarman [seniman].
Melukis sebagai salah satu jalan dzikir? Kenapa tidak? Karena pada dasarnya setiap hembusan nafas, jika berorientasi pada pusat orbit-kesadaran atas segenap keterbatasan, dan untuk mensyukuri segala limpahan rahmatNya - maka segala bentuk ekspresi, apa pun, adalah dzikir. Maka persoalannya adalah bagaimana bentuk ekspresi itu - dalam hal ini lukisan - memiliki pesona dan aura yang menggugah orang lain, atau membangkitkan naluri religiusitasnya. Tak bisa tidak, lukisan itu harus merupakan akumulasi dari ketrampilan teknik, yang dipadu dengan totalitas harapan [doa], dan segenap intensitas. Saya kira, itulah pergulatan Kyai H.M. Fuad Riyadi dalam proses kreatif melukisnya. Sebagai Kyai , ia memiliki modal spiritual yang melimpah. Selebihnya adalah persoalan pencapaian artistik [bahasa ekspresi] yang pas. Suwarno Wisetrotomo [kurator & staf pengajar di Insititut Seni Indonesia / ISI Yogyakarta].
Dewasa ini pameran seni rupa di Indonesia tidak hanya digenjot dan diramaikan oleh para perupa. Ada wartawan, dosen, guru, tentara, mahasiswa, anggota DPR, pejabat negara, termasuk para kyai yang gencar melakukan pameran seni rupa. Kini sebutan Sunday Painter--yang semula hanya dikhususkan pada para hobbiis tersebut--harus mengalami pergeseran, mungkin kalau perlu ditiadakan lagi. Ada desakan wacana bahwa setiap orang berhak jadi perupa, setiap benda berhak menjadi karya. Bisa jadi para hobiis tersebut tak lama lagi bakal sepenuhnya menjadi profesional. Kyai Fuad punya talenta untuk menyegerakan diri sebagai pelukis profesional dan bukan tak mungkin akan menjadi fenomena. Mikke Susanto [kurator & staf pengajar di Insititut Seni Indonesia / ISI Yogyakarta].
Terima kasih dan salam,
NUNUK AMBARWATI Mixed Art Management | MAM
|