|
Menulis merupakan salah satu aspek bahasa yang harus dikuasai guru. Kaitan dengan peningkatan profesionalisme, guru dituntut melaksanankan penelitian tindakan kelas. Melalui penelitian tindakan kelas, guru diharapkan dapat meningkatkan PBM dan KBM yang aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan (PAIKEM). Sebelum melaksanakan PTK, guru harus memiliki kemampuan menulis. Alasannya, setiap tindakan dan proses selama penelitian di kelas, guru harus mengumpulkan data yang reliabel, serta disinergitaskan dengan teori, model, dan metode penelitian. Pada umumnya, guru mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada proses penulisan laporan PTK. Hal tersebut menjadi salah satu faktor kemampuan guru dalam melaksanakan PTK kurang berjalan baik. Karena kemampuan menulis guru sangat memprihatinkan, maka keterampilan menulis guru harus diberdayakan dengan mengadakan workshop atau pelatihan yang berkesinambungan. Kemudian membudayakan keterampilan menulis yang produktif dalam kegiatan KKG sebagai media peningkatan profesionalisme guru.
Kemampuan menulis setiap individu berbeda-beda, namun dapat diasah jika menguasai aspek bahasa lainnya. Artinya, aspek menyimak, membaca, dan mewicara atau berbicara harus dikuasai terlebih dahulu, maka kemampuan menulis akan dikuasai. Rangkaian keterampilan berbahasa diawali dengan aspek-aspek ; menyimak dan membaca (reseptif), kemudian mewicara atau berbicara dan menulis (produktif). Menyimak dan membaca merupakan kemampuan seseorang dalam menangkap atau menerima suatu pesan atau wacana yang ditransformasikan media manusia, alam, dan teknologi untuk diendapkan dalam pikiran. Sementara, berbicara dan menulis merupakan kemampuan berbahasa seseorang dalam menghasilkan (produktif) wacana dari endapan pikiran hasil dari menyimak dan membaca (reseptif).
Menulis
Bahasa adalah media komunikasi manusia melalui bentuk grafis atau huruf, kata, kalimat, dan wacana yang memiliki makna dalam menyampaikan pesan. Untuk menguasai bahasa yang baik dan benar, setiap individu harus memiliki keterampilan empat aspek berbahasa, yakni ; menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
Djago Tarigan (1990) dalam buku P3BSI (Dra.Novi Resmini, M. Pd., dkk., 2006 : 153), menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya. Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan, (Djago Tarigan : 149). Membaca adalah interaksi dengan bahasa yang sudah dialihkodekan dalam tulisan, (Heilman : 1977).
Pengertian menulis menurut Dra. Novi Resmini, M. Pd., dkk dalam buku P3BSI (2006) mengatakan, “Menulis yang dipandang sebagai kegiatan seseorang menempatkan sesuatu pada sebuah dimensi ruang kosong adalah salah satu kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa tulis. Kemampuan menulis itu tidaklah berdiri sendiri, melainkan saling berhubungan dengan kemampuan lain (menyimak, mewicara, dan membaca)”.
Sementara menurut Saeful Badar (jurnalis, budayawan, dan penyair) mengatakan, “Menulis adalah menulis. Artinya dilewati setelah kita melakukan membaca. Kita tidak mungkin bisa menulis tanpa kita mampu membaca. Membaca tidak hanya yang berupa teks saja, tapi juga membaca beragam peristiwa dan berbagai fenomena di sekitar kita. Seribu kali orang berteriak ingin menjadi penulis, tapi dia ogah membaca apapun (cuek) terhadap segala hal yang berlaku di sekitarnya, maka seribu kali pula dia sebetulnya tengah mengatakan omong kosong belaka!”
Berangkat dari pengertian menulis di atas dapat disimpulkan bahwa suatu kegiatan berbahasa yang memerlukan daya baca dan simak terhadap peristiwa atau kejadian di lingkungan sekitar atau pustaka adalah modal utama (bahan) dalam menuangkan tanggapan, ide atau gagasan ke dalam tulisan.
Menulis, erat kaitannya dengan membaca. Ada dua ruang perihal kategori membaca (reseptif); literature (bahan bacaan/pustaka) dan lingkungan (peristiwa). Sebelum menulis, seseorang harus sadar membaca berbagai literatur dan lingkungan sebagai referensi dan penguatan terhadap tulisan itu sendiri. Artinya, membaca memerlukan waktu dan kesadaran. Mungkin untuk sebagian orang, membaca itu membuang waktu dan energi.
Jurnalisme
Jurnalistik atau Jurnalisme berasal dari kata journal, artinya catatan harian, atau catatan mengenai kejadian sehari-hari, atau bisa juga berarti suratkabar. Journal berasal dari perkataan latin diurnalis, yaitu orang yang melakukan pekerjaan jurnalistik (Wikipedia.org). Dari berbagai ragam pengertian dan teori jurnalisme, dapat diambil kesimpulan bahwa catatan kejadian atau peristiwa sehari-hari merupakan langkah jurnalistis. Memang, kegiatan jurnalistik dalam opini publik identik dengan kegiatan seorang wartawan. Namun, tidak hanya wartawan saja; warga biasa, guru, dan apapun statusnya. Menulis merupakan dorongan seseorang yang sadar menuangkan setiap kejadian dalam hidup atau melalui pustaka, merupakan hal paling penting. Tidak semua tulisan bisa dikategorikan sebagai karya jurnalistik. Pembeda diantara keduanya adalah kriteria saja ; esai, artikel, resensi, laporan budaya, dan sebagainya. Tetapi, jika membicarakan tentang jurnalisme pasti hubungannya dengan menulis.
Keempat aspek bahasa di atas, dapat dikembangkan melalui teknik jurnalisme. Melalui kegiatan jurnalistik semua aspek bahasa di atas memiliki sinergitas terikat. Melalui teknik jurnalisme, setiap guru (peserta) dapat mengembangkan kemampuan menulis sebagai langkah pemberdayaan pembinaan profesionalisme guru dalam kegiatan kinerja guru, terutama merangsang pembuatan PTK. Karena, jika setiap guru tidak memiliki kemampuan menulis, mana mungkin mampu membuat sebuah penelitian tindakan kelas. Artinya, menuangkan tulisan berupa suatu masalah di kelas disertai pemecahannya adalah salah satu langkah penelitian tindakan kelas. Diawali dengan menulis peristiwa di sekitar akan melatih guru mengungkapkan gagasan tentang meningkatkan pembelajaran di kelas (PTK). Kegiatan ini lebih merangsang guru untuk membuat PTK demi meningkatkan pembelajaran. Intinya, kemampuan guru dalam membuat penelitian tindakan kelas, harus menguasai keterampilan menulis.
Menulis dengan menggunakan teknik jurnalistik dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :
1. Menentukan tema ; termasuk pertanyaan jika diperlukan. 2. Investigasi atau observasi masalah 3. Mengumpulkan data 4. Mengorganisasikan data 5. Mewacanakan seluruh data yang telah terkumpul 6. Evaluasi.
Enam langkah di atas merupakan salah satu cara dalam membaca peristiwa atau masalah di kelas yang dilakukan oleh guru untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Dalam menulis, data suatu objek atau tema yang telah ditentukan sangat penting peranannya. Hal tersebut merupakan indikator untuk memudahkan si observer dalam menuangkan data ke dalam tulisan.
Penulisan Jurnalistik
Apakah berita itu?
Dalam buku yang berjudul Teknik Penulisan Berita, Features, dan Artikel (Prof. Drs. M. Atar Semi, 1995:11), berita ialah cerita atau laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang faktual, baru, dan luar biasa sifatnya.
Setelah mengetahui pengertian berita, kita harus mengetahui ciri-ciri berita. Kriteria atau ciri penanda kejadian yang dapat dinilai sebagai berita adalah sebagai berikut.
1) Kejadian itu merupakan suatu fakta 2) Kejadian itu baru 3) Luar biasa 4) Penting dan ternama 5) Skandal dan persengketaan 6) Dalam lingkungan sendiri 7) Sesuai dengan minat dan selera konsumen berita.
Medium
Wujud medium berita, pada umumnya topik berita itu disekitar : (1) diri orang, seperti cetusan perasaannya, cita-citanya, gagasannya, dan imajinasinya; (2) pengalaman manusia, baik berupa pengalaman si pemberita maupun pengalaman orang lain yang diketahuinya; (3) lingkungan alam sekitar dan seluruh isi jagat raya.
Sumber
Berita dapat diperoleh jika sumber itu ada. Sumber berita dibagi menjadi dua bagian, yaitu sumber resmi dan sumber tidak resmi. Sumber resmi berasal dari para pejabat, biasanya berita dari mereka sangat banyak; tentang koruptor, perkantoran, dan pemerintahan. Sedangkan sumber tidak resmi diperoleh dari masyarakat, tokoh masyarakat, para peneliti, teknisi, dan para ilmuwan, termasuk berita yang menyangkut suatu tempat yang tidak terduga; kecelakaan, perampokan, bencana alam, dan lain-lain.
Perencanaan dan Pengelolaan
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merencanakan penulisan berita, yaitu : (1) penetapan tujuan yang hendak dicapai; (2) menetapkan dan mempelajari serta memahami khalayak yang akan menerima berita; (3) mengorganisasikan gagasan; (4) menetapkan topik dan judul; (5) memutuskan tentang isi; (6) mempertimbangkan proses penerbitan; (7) bekerja dengan batas waktu (deadlines); (8) mempertimbangkan masalah penerbitan.
Pengorganisasian
Organisasi dasar suatu wawancara terdiri dari tiga fase, yaitu : (1) fase pendahuluan, (2) fase tanya jawab, dan (3) fase penutup.
1. Fase pendahuluan dalam suatu wawancara dapat pula dibagi atas tiga bagian, yaitu : a. penciptaan suasana b. orientasi c. Motivasi
2. Fase tanya jawab, merupakan jantung suatu wawancara.
3. Fase penutup, Kadang-kadang pada bagian penutup ini digunakan untuk berbincang-bincang tentang sesuatu yang lain atau digunakan untuk memberikan kesempatan orang yang diwawancara mengajukan pertanyaan.
Penyusunan Pertanyaan
Kelancaran suatu wawancara sangat tergantung pada bagaimana persiapan dan kesiapan pewawancara dengan pertanyaan yang hendak diajukan. Pertanyaan yang diajukan dalam wawancara terdiri dari berbagai bentuk; 1. Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang menghendaki jawaban yang luas dan bebas. 2. Pertanyaan hipotetik terbuka, hampir sama gayanya dengan pertanyaan terbuka yang membedakannya hanya struktur pertanyaan itu sendiri. 3. Pertanyaan langsung yaitu pertanyaan yang menghendaki jawaban singkat, dan kadang-kadang dapat dijawab dengan “ya” atau “tidak”. 4. Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang membatasi ruang gerak penjawab, bahkan kemungkinan jawaban telah tersedia. 5. Pertanyaan beban adalah pertanyaan yang menimbulkan beban berat bagi penjawab, disebabkan tidak ada jawaban yang benar, tetapi menuntut jawaban emosional. 6. Pertanyaan terpimpin merupakan pertanyaan yang diikuti dengan arahan jawaban. 7. Pertanyaan orang ketiga adalah pertanyaan yang isinya diajukan seolah-olah merupakan pertanyaan yang datang dari orang ketiga, dan jawabannya pun sepertinya untuk orang ketiga.
Diharapkan kegiatan jurnalistik dapat membantu “kegagapan” guru menulis, terutama dalam pembuatan PTK. Sebab, jika tanpa kesadaran dari guru itu sendiri, maka budaya plagiarisme akan tumbuh subur di dunia pendidikan. Ironis bukan?
|