Hakikat dan Metode Menulis Puisi (Bagian II) PDF Print E-mail
Written by Lamma Sabachtani   
Kamis, 10 Maret 2011 00:00

(Tentang Tema)

..............................

Menurut Aristoteles, apresiator mau meluangkan waktu untuk berapresiasi adalah guna mendapatkan sesuatu yang ada hikmahnya, terutama sesuatu yang bisa menghibur penderitaannya. Karena itu, menurut Sang Nabi filsafat itu, dalam mendedahkan tragedi, jangan hanya menyodorkan penderitaan belaka, tapi juga si seniman harus bisa menyodorkan solusi untuk memecahkan problem tragedi itu. Mungkin Anda akan mengatakan, Aristoteles menganjurkan supaya seniman menyodorkan solusi semata-mata karena Beliau menyukai karya seni yang happy ending. Sesekali bukan seperti itu, bahwa menurut saya sendiri, sebuah karya seni yang agung sepanjang yang pernah saya apresiasi selalu menyodorkan solusi, sekecil apapun soslusi yang ditawarkannya. Bila kita menulis puisi misalnya, bukan melalu hanya menceritakan penderitaan, tapi bagaimana kita tegar menghadapi getir. Bila kita bisa menyodorkan solusi, kiranya pembaca puisi kita akan tergugah, setidaknya bisa becermin.

Agak berbeda dari Aristoteles, penulis drama Bertolt Brecht (Jerman) justru menganjurkan menulis lakon yang bersifat komedi satire. Menurut Brecht (seperti yang ia tuangkan dalam lakon The Threepenny Opera), hidup ini sudah menderita, jadi mengapa pula berkesenian atau menyimak kesenian harus bergelimang air mata? Brecht melihat, kehidupan di Jerman penuh dengan muslihat pada setiap laku para penguasa, di mana tahun-tahun Brecht menulis, memang merupakan tahun perjuangan kelas buruh (yang proletariat) melawan majikan (yang berjouis). Jadi, ya mari kita tertawakan kelicikan mereka. Dikiranya kita ini benar-benar bodoh sehingga bisa dikibuli oleh mereka (penguasa dan pengusaha). Tidak sepenuhnya rakyat atau proletariat itu bodoh. Hanya saja, buruh seringkali tidak berdaya untuk melawan mereka. Salah satu cara melawan mereka dengan yang elegan adalah melalui kesenian.

Melalui uraian di atas, kiranya dapat ditarik suatu kongklusi bahwa karya seni yang agung cenderung mengungkapkan permasalahan penderitaan hidup atau tragedi, yang di dalamnya sekaligus disertai dengan pembeberan solusi. Dengan cara seperti itu, pembaca atau apresiator bisa beroleh hikmah yang mencerahkan, atau katarsis, atau aufklarung (Jerman). ..............

 

Untuk membaca lengkap tulisan ini, silakan Anda mengunduh secara gartis di sini:

baca selengkapnya