Napak Tilar

PERJALANAN adalah rubrik untuk destinasi wisata budaya.



Lirik Nandong: Peringatan Dini untuk Tsunami PDF Print E-mail
Written by Awal Hujan Membumi   
Selasa, 12 Juli 2011 23:05

Engkau lahir di daerah yang akrab dengan seribu bencana, maka waspadalah!

Smong rume-rumemo/ Linon uwak-uwakmo/ Elaik keudang-keudangmo/ Kilek suluhsuluhmo/ Tsunami air mandimu/ Gempa ayunanmu/ Petir kendang-kendangmu/ Halilintar lampu-lampumu.

ITULAH syair lagu berjudul Smong yang digubah Yoppi Andri, seniman asal Pulau Simeulue, Nanggroe Aceh Darussalam. Syair itu bukan murni ciptaannya, melainkan gubahan ulang. Yoppi mengadopsi syair itu dari nasehat para orang tua di Simeulue saat jabang bayi dilahirkan. Kepada bayi yang baru menghirup udara, orang tua langsung memperingatkan: Engkau lahir di darah yang akrab dengan seribu bencana, maka waspadalah!

Sebelum musibah tsunami 26 Desember 2004 lalu, Pulau Simeulue nyaris tidak dikenal masyarakat Nusantara. Pulau seluas 198.021 hektare itu ikut menjadi perhatian masyarakat Nusantara karena letaknya yang begitu dekat dengan titik episentrum gempa berkekuatan 8,9 skala richter, sebuah gempa tektonik yang menjadi musabab datangnya badai tsunami.

Secara teori di atas kertas, pulau ini haruslah luluh-lantak akibat tsunami itu. Pulau ini berjarak 41 mil dari pusat gempa, sedangkan Banda Aceh berjarak sekira 125 mil laut. Fakta mengatakan, Kota Meulaboh, Calang, dan Banda Aceh yang lebih jauh dari titik episentrum gempa, mengalami kehancuran yang mengenaskan.
Lebih seminggu setelah musibah tsunami, kabar tentang Pulau Simeulue belum tersiar kepada publik. Jalur komunikasi dan transportasi ke Pulau di bagian Barat Laut Provinsi Aceh ini memang kurang bagus. Dan, menjadi lebih sulit setelah rusaknya infrastruktur komunikasi akibat musibah maut di penghujung Desember 2004 itu. Sehingga tidak sedikit orang yang memperkirakan, Pulau Simeulue telah lenyap ditelan ombak.

Namun ternyata, kabar yang datang dari sana tidak sengeri yang dibayangkan orang-orang. Korban meninggal akibat musibah itu hanya tujuh orang. Bangunan-bangunan yang rusak tidak banyak. Hewan-hewan ternak juga ikut selamat.
Setelah dipelajari mengapa keajaiban itu bisa terjadi, ternyata masyarakat Pulau Simeulue memiliki firasat yang kuat dalam menafsir gelagat alam. Begitu gempa menggoyang, hewan-hewan ternak termasuk kerbau berlarian ke bukit. Masyarakat yang melihat hewan berlarian itu segera saja berteriak, “Smong…. Smong…. Smong….!”
Dan masyarakat pun, tanpa harus bertanya-tanya, segera berlarian ke bukit. Maka ketika badai tsunami tiba, mereka sudah berada di atas ketinggian. Selamatlah mereka dari amukan musibah tsunami.

“Semua lari ke bukit, termasuk Pak Camat dan Bupati,” tutur Yoppi Andri, setahun lalu dalam peluncuran buku berjudul Aceh 8,9 Skala Richter, Smong: Prahara di Pulau Simeulue 1833, 1907, 2004, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Menurut Yoppi, masyarakat Simeulue memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap gelagat alam. Di pulau yang pernah menjadi petro dolar karena hasil cengkeh yang melimpah itu, musibah seperti gempa bumi, halilintar, dan kemudian badai tsunami, sering terjadi. Terutama petir dan gempa, tidak bisa dihitung dengan jari berapa kali terjadi dalam setahun. Hanya saja memang, sekalanya kecil sehingga tidak menimbulkan korban atau kerusakan infrastruktur yang parah. “Lirik yang ditulis di atas, lahir sebagai respon atas kondisi alam Pulau Simeulue yang rentan dari ancaman bencana alam.”

Pada buku yang diluncurkan di TIM itu, terdapat sekilas uraian tentang musibah tsunami yang pernah menghantam Pulau Simeulue pada 1833 dan 1907. Masyarakat Simeulue, menyebut tsunami dengan istilah smong. Menurut data dari BMG, pada 1833 pernah terjadi gempa bumi berkekuatan 9,1 skala Richter dengan pusat titik gempa di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Musibah ini melahirkan gelombang tsunami yang merusak pantai-pantai di kawasan Sumatra yang menghadap ke Samudra Hindia, termasuk Pulau Simeulue. Juga pada tahun itu, Gunung Krakatau meledak, diikuti musibah tsunami pula. Buku itu menjelaskan, Tsunami yang menghantam Simeulue merupakan efek domino dari letusan Gunung Krakatau.

Lalu pada 1907, musibah Tsunami yang menghantam Pulau Simeulue sangatlah dahsyat. Korban meninggal jumlahnya sangat banyak. Bangunan-bangunan di pesisir pantai Barat habis disapu ombak. Beberapa desa dinyatakan hilang. Orang-orang yang selamat dari musibah itu kemudian menuangkan kenangan pahit mereka ke dalam berbagai syair. Salah satu syair yang sering didendangkan kepada bayi yang baru lahir, adalah yang dituliskan di atas.

“Syair itu menjadi semacam early warning (peringatan dini) bagi anak-anak, bahwa tinggal di Pulau Simeulue harus selalu waspada terhadap setiap gelagat alam,” tutur Sekretaris Daerah Kabupaten Simeulue, Mohammadd Riswan, saat buku tadi diluncurkan.

Syair-syair itu kemudian dijadikan lirik lagu oleh para seniman Pulau Simeulue. Diiringi dengan tabuhan kendang dan gesekan biola, lagu itu didendangkan dengan mengambil nada minor. Lagu-lagu itu kemudian menjadi tradisi khas Pulau Simeulue, dan dua jenis lagu yang paling populer adalah Nandong dan Nanga-nanga.

Setelah musibah tsunami 26 Desember 2004, Yoppi Andri tergugah untuk mengumpulkan beberapa lagu Nandong yang suka dinyanyikan oleh seniman-seniman Simeulue. Ia kemudian membawa dua orang penyanyi nandong, yaitu Sudirman dan Jumah ke Jakarta untuk melakukan rekaman.

Namun, karena keterbatasan infrastuktur, Yoppi baru berhasil mendokumentasikan tujuh judul nandong dalam satu album kaset yang dinyanyikan Sudirman. Sedangkan yang didendangkan oleh Juman, masih membutuhkan rekaman lagi agar hasilnya lebih baik.

Pada 31 Juli 2006, bertempat di sebuah kafe di Kota Medan, kaset Nandong hasil dokumentasinya diluncurkan kepada publik. Nandong yang mengalun dari kaset itu, adalah ratapan orang-orang yang didera derita akibat bencana alam. [Awal Hujan Membumi]


***

Kearifan Lokal dari Pulau Terpencil

DI Banda Aceh dan Meulaboh, ada orang-orang Simeulue yang dianggap ‘gila’ oleh keluarganya (suami atau isterinya), karena tiba-tiba mengajak keluarganya lekas pergi untuk mencari daerah yang tinggi setelah gempa berkekuatan 8,9 skala richter itu. Ketika ditanya, kamu kenapa, kok jadi aneh? Orang-orang Simeulue itu menjelaskan, “kita mesti hati-hati, karena setelah gempa biasanya smong datang.”
Benar saja, tak lama setelah gempa, gelombang tsunami atau yang dalam istilah orang Simeulue disebut smong, datang menerjang Banda Aceh, Meulaboh, dan daerah lainnya.

Pada buku Aceh 8,9 Skala Richter, Smong: Prahara di Pulau Simeulue 1833, 1907, 2004 memang dikisahkan, masyarakat asli Simeulue pada umumnya sudah akrab dengan badai tsunami, sebab badai maut itu sering menghantam Pulau Simeulue dalam sekala kecil. Dan karena seringnya musibah itu datang, sampai-sampai masyarakat hapal dengan salah satu syair nandong yang berbunyi, apabila terjadi gempa, lalu laut surut, larilah sebelum smong menerjang.

Yoppi Andri putra Simeulue merasa terpanggil untuk mendokumentasuikan local genius yang dimiliki masyarakat Simeulue dalam menghadapi tsunami itu, sehingga bisa pula diketahui oleh masyarakat Nusantara yang ternyata memang rentan dari ancaman musibah tsunami. Seandainya kearifan lokal masyarakat Simeulue itu diketahui juga oleh orang-orang Banda Aceh, mungkin korban musibah tsunami 2004 tidak sebanyak itu.

Yoppi pun banting stir untuk pekerjaan ini, dan tentu tertatih-tatih dalam mencari sponsor. Kaset nandong yang berhasil diproduksi itu, juga atas bantuan sponsor, di antaranya The Blora Institute.
“Alhamdulillah, berkat bantuan kawan-kawan, buku dan album yang kami cita-citakan akhirnay bisa terwujud. Kalau tidak dibantu kawan-kawan, berapa dana yang harus saya keluarkan, dan dari mana saya punya uang,” tutur Ketua Yayasan Falara Simeulue itu.

Setelah memproduksi kaset Nandong, kini Yoppi sedang mempersiapkan Festival Nandong di pulaunya. Para penandong dari delapan kecamatan di Kabupaten Simeulue akan diundang sebagai peserta festival. Niat ini berangkat dari suatu kenyataan bahwa penerus nandong dari kalangan muda sudah berkurang. Para penandong yang masih rajin tampil dalam upacara kenduri, tinggal para sesepuh. Festival ini bukan sekadar silaturahmi budaya antar-penandong, tapi juga menjadi media untuk melakukan revitalisasi seni tradisi yang ternyata memiliki kearifan lokal yang sangat berguna saat dibutuhkan.

Yoppi juga berencana mengundang seniman nasional yang ahli dalam musik tradisi untuk dihadirkan pada festival itu. Tentu saja untuk berkolaborasi dan studi banding antar-seniman tardisi. “Supaya kami yang ringgal di daerah terpencil mendapat wawasan dari seniman nasional lainnya. Dan mohon doa semoga ada sponsor yang tergugah untuk menggelar festival ini,” tutur Yopi setelah peluncuran kaset nandong di Medan, akhir Juli lalu. [Awal Hujan Membumi]

 
Bali Terbaik Di Asia Pasipik PDF Print E-mail
Written by Dian Nendi   
Selasa, 29 Maret 2011 23:06

Majalah pariwisata DestinAsians memberikan penghargaan keenam kali kepada Bali sebagai destinasi pariwisata terbaik di kawasan Asia Pasifik. Pemberian penghargaan itu  dalam acara the Sixth DestinAsians Readers Choice Awards yang diselenggarakan di Grand Hyatt Hong Kong pada 16 Februari 2011.  Pulau wisata di Bali mempertahankan predikatnya sebagai tujuan wisata terbaik. Hasil ini berdasarkan survey kepada para pembaca baik cetak maupun online.

Menbudpar Ir. Jero Wacik mengatakan, penghargaan yang diberikan kepada Bali dapat memotivasi daerah lain di Indonesia untuk mengembangkan destinasi wisata dengan bertumpu pada pro-growth, pro-job, pro-poor, dan pro-environment.

Selain itu Bali juga mendapatkan dua penghargaan lain untuk kategori resort spa terbaik di Asia Pasifik yang diterima oleh Ayana Resort and Spa dan The Legian, sedangkan yang lainnya adalah  Burj Al Arab (Dubai), Sofitel Legend Metropole (Hanoi), Peninsula (Hong Kong), Banyan Tree (Phuket), Sangri-La (Manila), Oberoi (New Delhi), Taj Mahall Palace (Mumbai), dan Ritz-Carlton Millenia (Singapore).

Ronald Liem, publisher and Managing Director Majalah DestinAsians mengatakan, masalah finansial baru-baru ini membuat orang lebih berhati-hati dalam melakukan perjalanan,  sementara wilayah Asia Pasifik selalu membuat wisatawan kagum dengan keberagamannya. Hotel, resort, dan layanan penerbangannya adalah salah satu yang terbaik di dunia, karena mempunyai standar yang tinggi. Hal ini yang membuat para wisatawan selalu ingin mengeksplore wilayah Asia Pasifik walaupun ada hambatan finansial.

Dirjen Pemasaran Sapta Nirwandar menyatakan kepada wartawan di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Jumat (25/3), prestasi yang diterima Pulau Bali untuk keenam kalinya menunjukkan konsistensi Bali dalam mempertahankan kualias pelayanan pariwisata bagi wisatawan mancanegara (wisman). Selain itu penghargaan ini diharapkan dapat memacu kreativitas pemerintah daerah agar lebih kreatif dan giat dalam mengembangkan dan mempromosikan keunggulan destinasi wisata di daerahnya. (Pusformas) diunduh dari www.budpar.go.id

 
Trowulan PDF Print E-mail
Written by Zen RS   
Sabtu, 13 November 2010 12:34

Trowulan, bekas kota Kerajaan MajapahitMajapahit, imperium yang mewariskan Negarakrtagama dan Sutasoma, sudah lama lewat, tapi ia tak pernah benar-benar minggat. Lewat Muhammad Yamin, (tilas) Majapahit hadir kembali dengan jalan sedikit memutar, tapi justru tepat pada fase genting persiapan kelahiran jabang bayi republik ini.

Saat sedang merenung-renung di tengah sidang BPUPKI, Yamin mengucapkan satu parafrase yang diambil dari Kakawin Sutasoma, yang ia ucapkan hanya untuk dirinya sendiri, semacam gumaman lirih: “Bhineka tunggal ika…” Tak disangka, seorang dari Bali dengan penampilan bak pandita yang duduk di sebelahnya menyahut. “Tan hana dharma mangrwa,” katanya.

Saya tidak tahu persis siapa orang yang menyahut gumaman Yamin (ada yang bilang I Gusti Bagus Sugriwa, cendekiawan serba bisa dari Bali). Tapi, cukup jelas, fragmen kecil itu menjadi bagian tak terpisahkan dari digunakannya frase “Bhineka tunggal ika” sebagai sesanti atau semboyan Republik ini.

Frase “Bhineka tunggal ika” sendiri diunduh dari bait kelima metrum ke-139 Kakawin Sutasoma karya Rakawi Prapanca yang bunyinya: …Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Kurang lebih ia menjelaskan bahwa antara (agama) Buddha dan Syiwa itu berbeda tapi tetap satu karena memang tidak ada darma yang mendua.

 
Payen PDF Print E-mail
Written by Zen Rahmat Sugito   
Selasa, 09 November 2010 20:02

Jika kunjungan ke Gedung Agung, satu dari lima Istana Kepresidenan, di ujung Malioboro terjadi 3 tahun silam, mungkin saya menganggapnya sebagai napak-tilas perjalanan Larasati a.k.a Atik dan Setadewa a.k.a Teto, dua tokoh utama roman Burung-burung Manyar.

Tapi ini 2009, dua tahun setelah saya membaca buku Bianglala Sastra yang disusun oleh Robert Nieuwenhuys, juga setahun setelah saya sempat “menengok” uraian Peter Carey tentang Java-Oorlog. Dua tulisan itulah yang pertama kali memperkenalkan sosok Antoine Payen, sang arsitek Gedung Agung, kepada saya.

Jadilah kunjungan ke Gedung Agung [yang tak mungkin terjadi tanpa gerombolan Cah Andong yang entah kenapa semuanya rapi jali nan sopan] sebagai napak-tilas atas sepenggal perjalanan panjang kehidupan seorang Payen, kendati beberapa saat sebelum memasuki Gedung Agung, Muhidin M Dahlan datang membawakan Burung-burung Manyar dengan sampul hijaunya yang lawas.

 
Berawal dari Nol PDF Print E-mail
Sabtu, 15 Mei 2010 16:33

SETIAP Negara, Provinsi, Kota, atau Jalan, memiliki titik atau tugu Kilometer Nol (KM 0) untuk mengukur jarak panjang atau luas wilayah secara tradisional. Di Inggris misalnya, seluruh jalan yang berasal dari Kota London akan diukur dari Charing Cross sebagai titik KM 0 London.

Di Kota Moskow, Rusia, ada lempengan perunggu terletak di depan Kapel Iberia yang menjadi penanda KM 0. Lempeng itu ditaruh pada sebuah penyeberangan pendek yang menghubungkan Red Square dengan Manege Square, dan diapit oleh Museum Sejarah Negara serta Duma Moskow (kantor DPR).

Sebuah lempengan di tengah Puerta del Sol di Madrid, menjadi titik KM 0-nya Spanyol. Menurut legenda setempat, secara tak sengaja, jam Kantor Pos tua, di depan lempengan itu, menandai waktu resmi Spanyol. Lempengan yang menandai titik ini diputar 180 derajat pada 2002, karena peta Spanyol yang menggambarkan titik ini, terbalik bila dibandingkan dengan yang sebenarnya.

Lalu di manakah letak tugu KM 0 Indonesia?

Mungkin Anda sudah tahu, Tugu KM 0 Indonesia bukan berada di Kota Jakarta, tapi di sebuah kota di mana mobil-mobil mewah teranyar, diparkir pada garasi yang rumahnya terkadang belum rampung dibangun. Itulah Kota Sabang yang berada di Pulau Weh, Provinsi Aceh, tempat tugu KM 0 Indonesia dipancangkan.

Dari Tugu KM 0 itu, panjang wilayah Indonesia dari Barat menuju Timur, diukur secara tradisional, mencapai 5.200 kilometer. Di ujung 5.200 KM yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, didirikanlah tugu Kilomere 5.200 yang menjadi daratan terjauh Indonesia wilayah Timur.

Tugu Kilometer Nol merupakan bangunan menjulang setinggi 22,5 meter, berbentuk lingkaran dan berjeruji. Semua bagian tugu dicat warna putih. Di bagian atas lingkaran, nampak seperti mata bor. Di puncak tugu, bertengger patung burung garuda sedang menggenggam angka nol. Pada salah satu dinding, ada prasasti marmer hitam menunjukkan posisi geografis tempat ini: Lintang Utara 05 54' 21,99" Bujur Timur 95 12' 59,02".

Didirikan pada sebuah bukit yang sunyi, di gigir Samudra Hindia yang airnya biru kelabu. Tempat ini masuk ke dalam kawasan hutan lindung Pulau Weh. Tugu Kilometer Nol yang diresmikan BJ Habibie pada 1997 sewaktu masih menjabat Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala BPPT BJ. Jalanan menuju lokasi Tugu dari pusat Kota Sabang, berkelok-kelok dan dikelilingi hutan. Di tengah jalan, akan banyak ditemui kera yang selalu riang bila dilempari makanan. Kera-kera itu, akan mengejar kendaraan yang melintas.

Setiap orang yang datang ke Tugu KM 0, dapat memiliki sertifikat kenang-kenangan bahwa pernah sampai ke sana. Setiap orang yang sampai ke tugu ini, tentu akan memiliki kesan dan keinginan tersendiri. Saya sendiri, selain ingin difoto-foto, tiba-tiba ingin sembahyang. Ada rasa takjub dan syukur yang entah apa, entah kenapa. Ada keinginan, berawal dari Tugu KM 0, dapat menjelajah pelosok-pelosok Indonesia yang luas. Lalu berdoa, moga terkabul keinginan itu, lalu salat dua rakaat