|
Engkau lahir di daerah yang akrab dengan seribu bencana, maka waspadalah!
Smong rume-rumemo/ Linon uwak-uwakmo/ Elaik keudang-keudangmo/ Kilek suluhsuluhmo/ Tsunami air mandimu/ Gempa ayunanmu/ Petir kendang-kendangmu/ Halilintar lampu-lampumu.
ITULAH syair lagu berjudul Smong yang digubah Yoppi Andri, seniman asal Pulau Simeulue, Nanggroe Aceh Darussalam. Syair itu bukan murni ciptaannya, melainkan gubahan ulang. Yoppi mengadopsi syair itu dari nasehat para orang tua di Simeulue saat jabang bayi dilahirkan. Kepada bayi yang baru menghirup udara, orang tua langsung memperingatkan: Engkau lahir di darah yang akrab dengan seribu bencana, maka waspadalah!
Sebelum musibah tsunami 26 Desember 2004 lalu, Pulau Simeulue nyaris tidak dikenal masyarakat Nusantara. Pulau seluas 198.021 hektare itu ikut menjadi perhatian masyarakat Nusantara karena letaknya yang begitu dekat dengan titik episentrum gempa berkekuatan 8,9 skala richter, sebuah gempa tektonik yang menjadi musabab datangnya badai tsunami.
Secara teori di atas kertas, pulau ini haruslah luluh-lantak akibat tsunami itu. Pulau ini berjarak 41 mil dari pusat gempa, sedangkan Banda Aceh berjarak sekira 125 mil laut. Fakta mengatakan, Kota Meulaboh, Calang, dan Banda Aceh yang lebih jauh dari titik episentrum gempa, mengalami kehancuran yang mengenaskan. Lebih seminggu setelah musibah tsunami, kabar tentang Pulau Simeulue belum tersiar kepada publik. Jalur komunikasi dan transportasi ke Pulau di bagian Barat Laut Provinsi Aceh ini memang kurang bagus. Dan, menjadi lebih sulit setelah rusaknya infrastruktur komunikasi akibat musibah maut di penghujung Desember 2004 itu. Sehingga tidak sedikit orang yang memperkirakan, Pulau Simeulue telah lenyap ditelan ombak.
Namun ternyata, kabar yang datang dari sana tidak sengeri yang dibayangkan orang-orang. Korban meninggal akibat musibah itu hanya tujuh orang. Bangunan-bangunan yang rusak tidak banyak. Hewan-hewan ternak juga ikut selamat. Setelah dipelajari mengapa keajaiban itu bisa terjadi, ternyata masyarakat Pulau Simeulue memiliki firasat yang kuat dalam menafsir gelagat alam. Begitu gempa menggoyang, hewan-hewan ternak termasuk kerbau berlarian ke bukit. Masyarakat yang melihat hewan berlarian itu segera saja berteriak, “Smong…. Smong…. Smong….!” Dan masyarakat pun, tanpa harus bertanya-tanya, segera berlarian ke bukit. Maka ketika badai tsunami tiba, mereka sudah berada di atas ketinggian. Selamatlah mereka dari amukan musibah tsunami.
“Semua lari ke bukit, termasuk Pak Camat dan Bupati,” tutur Yoppi Andri, setahun lalu dalam peluncuran buku berjudul Aceh 8,9 Skala Richter, Smong: Prahara di Pulau Simeulue 1833, 1907, 2004, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Menurut Yoppi, masyarakat Simeulue memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap gelagat alam. Di pulau yang pernah menjadi petro dolar karena hasil cengkeh yang melimpah itu, musibah seperti gempa bumi, halilintar, dan kemudian badai tsunami, sering terjadi. Terutama petir dan gempa, tidak bisa dihitung dengan jari berapa kali terjadi dalam setahun. Hanya saja memang, sekalanya kecil sehingga tidak menimbulkan korban atau kerusakan infrastruktur yang parah. “Lirik yang ditulis di atas, lahir sebagai respon atas kondisi alam Pulau Simeulue yang rentan dari ancaman bencana alam.”
Pada buku yang diluncurkan di TIM itu, terdapat sekilas uraian tentang musibah tsunami yang pernah menghantam Pulau Simeulue pada 1833 dan 1907. Masyarakat Simeulue, menyebut tsunami dengan istilah smong. Menurut data dari BMG, pada 1833 pernah terjadi gempa bumi berkekuatan 9,1 skala Richter dengan pusat titik gempa di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Musibah ini melahirkan gelombang tsunami yang merusak pantai-pantai di kawasan Sumatra yang menghadap ke Samudra Hindia, termasuk Pulau Simeulue. Juga pada tahun itu, Gunung Krakatau meledak, diikuti musibah tsunami pula. Buku itu menjelaskan, Tsunami yang menghantam Simeulue merupakan efek domino dari letusan Gunung Krakatau.
Lalu pada 1907, musibah Tsunami yang menghantam Pulau Simeulue sangatlah dahsyat. Korban meninggal jumlahnya sangat banyak. Bangunan-bangunan di pesisir pantai Barat habis disapu ombak. Beberapa desa dinyatakan hilang. Orang-orang yang selamat dari musibah itu kemudian menuangkan kenangan pahit mereka ke dalam berbagai syair. Salah satu syair yang sering didendangkan kepada bayi yang baru lahir, adalah yang dituliskan di atas.
“Syair itu menjadi semacam early warning (peringatan dini) bagi anak-anak, bahwa tinggal di Pulau Simeulue harus selalu waspada terhadap setiap gelagat alam,” tutur Sekretaris Daerah Kabupaten Simeulue, Mohammadd Riswan, saat buku tadi diluncurkan.
Syair-syair itu kemudian dijadikan lirik lagu oleh para seniman Pulau Simeulue. Diiringi dengan tabuhan kendang dan gesekan biola, lagu itu didendangkan dengan mengambil nada minor. Lagu-lagu itu kemudian menjadi tradisi khas Pulau Simeulue, dan dua jenis lagu yang paling populer adalah Nandong dan Nanga-nanga.
Setelah musibah tsunami 26 Desember 2004, Yoppi Andri tergugah untuk mengumpulkan beberapa lagu Nandong yang suka dinyanyikan oleh seniman-seniman Simeulue. Ia kemudian membawa dua orang penyanyi nandong, yaitu Sudirman dan Jumah ke Jakarta untuk melakukan rekaman.
Namun, karena keterbatasan infrastuktur, Yoppi baru berhasil mendokumentasikan tujuh judul nandong dalam satu album kaset yang dinyanyikan Sudirman. Sedangkan yang didendangkan oleh Juman, masih membutuhkan rekaman lagi agar hasilnya lebih baik.
Pada 31 Juli 2006, bertempat di sebuah kafe di Kota Medan, kaset Nandong hasil dokumentasinya diluncurkan kepada publik. Nandong yang mengalun dari kaset itu, adalah ratapan orang-orang yang didera derita akibat bencana alam. [Awal Hujan Membumi]
***
Kearifan Lokal dari Pulau Terpencil
DI Banda Aceh dan Meulaboh, ada orang-orang Simeulue yang dianggap ‘gila’ oleh keluarganya (suami atau isterinya), karena tiba-tiba mengajak keluarganya lekas pergi untuk mencari daerah yang tinggi setelah gempa berkekuatan 8,9 skala richter itu. Ketika ditanya, kamu kenapa, kok jadi aneh? Orang-orang Simeulue itu menjelaskan, “kita mesti hati-hati, karena setelah gempa biasanya smong datang.” Benar saja, tak lama setelah gempa, gelombang tsunami atau yang dalam istilah orang Simeulue disebut smong, datang menerjang Banda Aceh, Meulaboh, dan daerah lainnya.
Pada buku Aceh 8,9 Skala Richter, Smong: Prahara di Pulau Simeulue 1833, 1907, 2004 memang dikisahkan, masyarakat asli Simeulue pada umumnya sudah akrab dengan badai tsunami, sebab badai maut itu sering menghantam Pulau Simeulue dalam sekala kecil. Dan karena seringnya musibah itu datang, sampai-sampai masyarakat hapal dengan salah satu syair nandong yang berbunyi, apabila terjadi gempa, lalu laut surut, larilah sebelum smong menerjang.
Yoppi Andri putra Simeulue merasa terpanggil untuk mendokumentasuikan local genius yang dimiliki masyarakat Simeulue dalam menghadapi tsunami itu, sehingga bisa pula diketahui oleh masyarakat Nusantara yang ternyata memang rentan dari ancaman musibah tsunami. Seandainya kearifan lokal masyarakat Simeulue itu diketahui juga oleh orang-orang Banda Aceh, mungkin korban musibah tsunami 2004 tidak sebanyak itu.
Yoppi pun banting stir untuk pekerjaan ini, dan tentu tertatih-tatih dalam mencari sponsor. Kaset nandong yang berhasil diproduksi itu, juga atas bantuan sponsor, di antaranya The Blora Institute. “Alhamdulillah, berkat bantuan kawan-kawan, buku dan album yang kami cita-citakan akhirnay bisa terwujud. Kalau tidak dibantu kawan-kawan, berapa dana yang harus saya keluarkan, dan dari mana saya punya uang,” tutur Ketua Yayasan Falara Simeulue itu.
Setelah memproduksi kaset Nandong, kini Yoppi sedang mempersiapkan Festival Nandong di pulaunya. Para penandong dari delapan kecamatan di Kabupaten Simeulue akan diundang sebagai peserta festival. Niat ini berangkat dari suatu kenyataan bahwa penerus nandong dari kalangan muda sudah berkurang. Para penandong yang masih rajin tampil dalam upacara kenduri, tinggal para sesepuh. Festival ini bukan sekadar silaturahmi budaya antar-penandong, tapi juga menjadi media untuk melakukan revitalisasi seni tradisi yang ternyata memiliki kearifan lokal yang sangat berguna saat dibutuhkan.
Yoppi juga berencana mengundang seniman nasional yang ahli dalam musik tradisi untuk dihadirkan pada festival itu. Tentu saja untuk berkolaborasi dan studi banding antar-seniman tardisi. “Supaya kami yang ringgal di daerah terpencil mendapat wawasan dari seniman nasional lainnya. Dan mohon doa semoga ada sponsor yang tergugah untuk menggelar festival ini,” tutur Yopi setelah peluncuran kaset nandong di Medan, akhir Juli lalu. [Awal Hujan Membumi]
|