| Berawal dari Nol |
|
|
|
| Sabtu, 15 Mei 2010 16:33 |
|
Di Kota Moskow, Rusia, ada lempengan perunggu terletak di depan Kapel Iberia yang menjadi penanda KM 0. Lempeng itu ditaruh pada sebuah penyeberangan pendek yang menghubungkan Red Square dengan Manege Square, dan diapit oleh Museum Sejarah Negara serta Duma Moskow (kantor DPR). Sebuah lempengan di tengah Puerta del Sol di Madrid, menjadi titik KM 0-nya Spanyol. Menurut legenda setempat, secara tak sengaja, jam Kantor Pos tua, di depan lempengan itu, menandai waktu resmi Spanyol. Lempengan yang menandai titik ini diputar 180 derajat pada 2002, karena peta Spanyol yang menggambarkan titik ini, terbalik bila dibandingkan dengan yang sebenarnya. Lalu di manakah letak tugu KM 0 Indonesia? Mungkin Anda sudah tahu, Tugu KM 0 Indonesia bukan berada di Kota Jakarta, tapi di sebuah kota di mana mobil-mobil mewah teranyar, diparkir pada garasi yang rumahnya terkadang belum rampung dibangun. Itulah Kota Sabang yang berada di Pulau Weh, Provinsi Aceh, tempat tugu KM 0 Indonesia dipancangkan. Dari Tugu KM 0 itu, panjang wilayah Indonesia dari Barat menuju Timur, diukur secara tradisional, mencapai 5.200 kilometer. Di ujung 5.200 KM yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, didirikanlah tugu Kilomere 5.200 yang menjadi daratan terjauh Indonesia wilayah Timur. Tugu Kilometer Nol merupakan bangunan menjulang setinggi 22,5 meter, berbentuk lingkaran dan berjeruji. Semua bagian tugu dicat warna putih. Di bagian atas lingkaran, nampak seperti mata bor. Di puncak tugu, bertengger patung burung garuda sedang menggenggam angka nol. Pada salah satu dinding, ada prasasti marmer hitam menunjukkan posisi geografis tempat ini: Lintang Utara 05 54' 21,99" Bujur Timur 95 12' 59,02". Didirikan pada sebuah bukit yang sunyi, di gigir Samudra Hindia yang airnya biru kelabu. Tempat ini masuk ke dalam kawasan hutan lindung Pulau Weh. Tugu Kilometer Nol yang diresmikan BJ Habibie pada 1997 sewaktu masih menjabat Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala BPPT BJ. Jalanan menuju lokasi Tugu dari pusat Kota Sabang, berkelok-kelok dan dikelilingi hutan. Di tengah jalan, akan banyak ditemui kera yang selalu riang bila dilempari makanan. Kera-kera itu, akan mengejar kendaraan yang melintas. Setiap orang yang datang ke Tugu KM 0, dapat memiliki sertifikat kenang-kenangan bahwa pernah sampai ke sana. Setiap orang yang sampai ke tugu ini, tentu akan memiliki kesan dan keinginan tersendiri. Saya sendiri, selain ingin difoto-foto, tiba-tiba ingin sembahyang. Ada rasa takjub dan syukur yang entah apa, entah kenapa. Ada keinginan, berawal dari Tugu KM 0, dapat menjelajah pelosok-pelosok Indonesia yang luas. Lalu berdoa, moga terkabul keinginan itu, lalu salat dua rakaat |




SETIAP Negara, Provinsi, Kota, atau Jalan, memiliki titik atau tugu Kilometer Nol (KM 0) untuk mengukur jarak panjang atau luas wilayah secara tradisional. Di Inggris misalnya, seluruh jalan yang berasal dari Kota London akan diukur dari Charing Cross sebagai titik KM 0 London.