Pesta Danau Toba; Genggam Erat Budaya PDF Print E-mail
Written by Sartika Sari   
Rabu, 11 Januari 2012 20:42

“Melestarikan budaya, Meningkatkan kunjungan wisata dan Membantu memperbaiki ekonomi rakyat sekitar Danau Toba.” Demikianlah beberapa faktor terselenggaranya festival budaya yang menjadi agenda tahunan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Danau terluas kedua di dunia setelah Danau Victoria di Afrika ini memang menyimpan pesona luar biasa. Mulai dari pemandangan alam yang indah, foklor yang beragam, hingga keunikan adat istiadat warganya. Keindahan pulau Samosir, Batu Gantung, Tomok, Patung Sigale-gale merupakan beberapa dari banyak lagi wisata budaya yang tersimpan di kawasan Danau Toba.

Keberagaman adat istiadat memang menjadikan wilayah Danau Toba sebagai wilayah yang kaya dengan berbagai bentuk pesta rakyat. Menurut keterangan Hasudungan Rudy-salah seorang warga suku batak-pada mulanya Pesta Danau Toba juga berakar dari pesta rakyat. Namun pada akhirnya disatukan pada festival besar yakni Pesta Danau Toba. Dalam pesta ini setiap wilayah adat menampilkan atraksi budayanya masing-masing. Baik itu pertunjukan gondang, tari-tarian ataupun bentuk keunikan adat lainnya. Beberapa di antara etnis yang turut andil dalam pesta ini ialah etnis Simalungun, Tapanuli Utara, Dairi, Karo, Tobasa, Humbang Hasundutan, dan Samosir.

Adapun beberapa bentuk acara yang berlangsung sejak pembukaan tanggal 27 Desember 2011 dan dihadiri ratusan wisatawan domestik serta wisatawan asing, yakni  atraksi budaya, penampilan tari Dihar dan Tor-Tor Sambah, Festival Tari, Parade Kapal Hias, Festival Gondang, Paralayang, Pentas Seni dan Budaya, Lomba suling, Panggung Apresasi Sastra, dan hiburan dengan penampilan Viktor Hutabarat, Wali Band dan Maria ‘Mamamia’.

Khusus tahun ini, yang menjadi icon pesta danau toba adalah solu bolon. Perahu kayu yang memiliki ritual khusus dalam pembuatannya ini merupakan salah satu alat transportasi bersejarah bagi warga danau toba. Sampan besar ini pada mulanya digunakan untuk mengarungi perairan danau toba untuk berdagang atau bahkan berperang. Konon dipercaya juga bahwa seseorang yang memiliki solu bolon adalah orang batak yang terpandang di suatu huta atau perkampungan dan biasanya disebut raja.  Solu bolon juga digunakan sebagai angkutan bagi seseorang keturunan kaya yang hendak menyeberangi pulau samosir yang selama perjalanannya menaiki solu bolon  diiringi gondang batak.

Dalam pesta danau toba sendiri, sebanyak delapan kontingen yang mengikuti ekhibisi solu bolon. Di antaranya dari Kabupaten Simalugun, Toba Samosir, Humbahas, Dairi, Simanindo Star (umum), Hanura (umum), Saroha (umum) dengan menjelejahi Danau Toba dari pesisir Pantai Tomok menuju kawasan Pantai Bebas Sosor Pasir Parapat.

Pemilihan solu bolon sebagai ikon pada pesta danau toba ini merupakan upaya pelestarian salah satu tradisi dan warisan budaya batak yang seiring perkembangan zaman kerap terlupakan. Untuk tahun 2012, Pesta Danau Toba akan diselenggarakan pada bulan Juni dengan Simalungun sebagai tuan rumah, tentunya dengan harapan dapat menambah jaringan penyebarluasan dan pelestarian budaya. Tanah batak punya banyak cerita, adat istiadat dan budaya. Salah satunya adalah solu bolon yang pantang punah! [***]