Pasola PDF Print E-mail
Written by Zen RS   
Sabtu, 13 November 2010 12:25
Seorang tua dengan pakaian adat yang tak ikut bermain terkena tombak di dadanya. Untuk kekuatannya tak seberapa sehingga tak membuatnya luka. Saya melihatnya meringis menahan sakit, tapi ia tak mengeluh dan tak memajang tampang kesakitan.

“Sakit, Pak?” tanya saya. Ia menggeleng. Saya tersenyum. Tiba-tiba lelaki tua itu menarik badan saya hingga saya nyaris terjengkang. Ternyata, sebuah tombak pasola meluncur deras ke arah posisi di mana sebelumnya saya berdiri. Fiuh!

Dengan bantuan tombak yang baru saja saya pungut, saya bangkit berdiri. Ujung tombak itu terperciki sesuatu yang berwarna merah. Sedikit bau amis tercium saat saya mengendusnya. Darah, tentu saja.

Saya kadang berpikir bagaimana ritus berdarah ini masih bisa bertahan di tengah laju modernitas yang tak bisa lagi dibendung. Tapi, nyatanya, saya berada di situ, menjadi saksi ritus berdarah ini.

Para penghayat agama Marapu percaya darah dalam upacara adalah persembahan pada bumi untuk kesuburan sawah dan keberhasilan panen. Mereka juga yakin pada tiap tetes darah berlangsung sebentuk penyucian. Pemain pasola yang tewas dipercaya sebagai hukuman atas perbuatan salah dan jahat yang pernah dilakukannya dan dengan itu perbuatannya di masa lalu menjadi termaafkan. Pasola, dari sisi ini, adalah sejenis penyucian yang dibayar dengan pengorbanan.

Setiap agama memang punya konsepsi pengorbanannya masing-masing.

Seorang perempuan yang bekerja sebaga reporter tv swasta yang datang meliput pasola berkomentar dingin: “Lagi-lagi perempuan menjadi asal muasal sebuah peperangan.”

Saya ingat kalau pasola muncul untuk mengikis duka lara Ubu Dulla yang dikhianati istrinya, seperti halnya Drupadi yang ditelanjangi Kurawa telah memicu sumpah berdarah Bima dan menjadi salah satu bagian penting dalam epik berdarah di padang Kurusetra. Saya juga tak lupa ihwal peperangan antara Rama dan Rahwana yang juga karena penculikan perempuan Shinta.

Saya tersadar betapa puitika Sumba jauh lebih menyentuh ketimbang yang digambarkan oleh sajak berjudul “Beri Daku Sumba”.

Lirih saya berkata pada diri sendiri: ritus berdarah yang sangat maskulin ini ternyata dihela karena sebuah melankolia.