| LOMBA KRITIK SENI 2011 |
|
|
|
| Written by redaksi |
|
Pengumuman Pemenang Lomba Kritik Seni 2011 Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata
Keputusan Dewan Juri Lomba Kritik Seni 2011
Pada hari Senin, tanggal 26 September 2011, bertempat di Hotel Braja Mustika Bogor, telah dilaksanakan sidang penjurian terhadap 233 karya tulis Lomba Kritik Seni 2011 yang masuk ke Panitia Lomba.
Setelah melakukan pembacaan, penelaahan, dan penilaian berdasarkan aspek: (a) ketajaman analisis; (b) daya menjelaskan; dan (c) keunikan gaya, dalam kematangan penulisan, maka Dewan Juri memutuskan dan menetapkan 4 (empat) tulisan karya kritik seni terbaik tanpa jenjang (dari rencana lima tulisan kritik seni terbaik yang sedianya dipilih). Keempat tulisan tersebut adalah: 1. Karya Tari dan Karawitan Tumadhah, Refleksi Pengembaraan Spiritual, oleh Wahyu Santosa Prabowo. 2. Membongkar Surabaya sebagai Kota Lendiri, oleh Mashuri. 3. Puisi, Sejarah, Santet, Sebentuk 'Surat Kreatif Kepada Fatah Yasin Noor, Penulis Kumpulan Puisi Rajegwesi’, oleh Mashuri. 4. Benda-benda, Bahasa, dan Kala, Mencari Simetri Tersembunyi dalam Teman-temanku dari Atap Bahasa Karya Afrizal Malna, oleh Tia Setiadi.
Keputusan Dewan Juri ini mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
Ditetapkan di Bogor, 26 September 2011
Ketua Dewan Juri: Dr. Seno Gumira Ajidarma Anggota Dewan Juri: 1. Seno Joko Suyono 2. Yusuf Susilo Hartono
*** Penjelasan lebih lanjut mengenai Lomba Kritik, seputar penjurian, dan hasil-hasilnya, dapat dibaca melalui siaran pers yang dikeluarkan panitia.
Siaran Pers Segera disiarkan
Siaran Pers Segera disiarkan
Pemenang “Lomba Kritik Seni 2011”
Jakarta – Di tengah lesunya tradisi kritik seni di Tanah Air, Direktorat Kesenian – Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film – Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Ditseni, NBSF, Kemenbudpar), menyelenggarakan Lomba Kritik Seni 2011 (LKS 2011) guna memacu tradisi kritik seni. Ditseni Budpar bekerjasama dengan situseni.com [situs kesenian untuk semua kalangan] untuk menyelenggarakan LKS 2011 ini.
Sejak diumumkan kepada publik pada 1 Juli 2011, di mana masa pengiriman naskah ditutup tanggal 17 Agustus 2011, telah masuk sebanyak 233 karya kritik dari para penulis di Tanah Air. Tercatat peserta lomba datang dari mulai Aceh, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Barat, dengan mengeritik berbagai cabang kesenian (sastra, teater, tari, musik, film, dan seni rupa).
Panitia memilih dan menunjuk Seno Gumira Ajidarma (Dosen IKJ), Seno Joko Suyono (Redaktur Rubrik Budaya Majalah Tempo), dan Yusuf Susilo Hartono (Pemred Majalah Visual Arts) sebagai Dewan Juri.
Selanjutnya, Dewan Juri melakukan tafsir atas kriteria LKS 2011 yang telah ditentukan panitia, dan membahasakan kriteria tersebut menjadi pembacaan atas “ketajaman analisis, daya penjelasan, dan keunikan gaya dalam kematangan tulisan”. Bertolak dari kriteria tersebut, Dewan Juri yang menilai naskah sejak tanggal 18 Agustus 2011 hingga 25 September 2011, memilih dan memutuskan empat tulisan terbaik tanpa jenjang, yaitu: 1) Karya Tari dan Karawitan Tumadhah, Refleksi Pengembaraan Spiritual, oleh Wahyu Santosa Prabowo (asal Solo); 2) Membongkar Surabaya sebagai Kota Lendiri, oleh Mashuri (asal Surabaya); 3) Puisi, Sejarah, Santet, Sebentuk 'Surat Kreatif Kepada Fatah Yasin Noor, Penulis Kumpulan Puisi Rajegwesi’, oleh Mashuri (asal Surabaya); dan 4) Benda-benda, Bahasa, dan Kala, Mencari Simetri Tersembunyi dalam Teman-temanku dari Atap Bahasa Karya Afrizal Malna, oleh Tia Setiadi (asal Yogyakarta). Seperti yang telah diumumkan sebelumnya, masing-masing pemenang beroleh penghargaan berupa piagam dan uang tunai Rp.10 juta (pajak ditanggung pemenang).
Rencana semula, LKS akan memilih lima tulisan pemenang. Namun Dewan Juri memilih dan menetapkan empat terbaik dengan argumentasi untuk mempertahankan kualitas karya kritik para pemenang. “Kami hanya menetapkan empat tulisan ini dengan kualitas yang nyaris sebanding. Kami berharap keempat tulisan hasil lomba ini kelak dapat menjadi bahan perbandingan untuk melahirkan karya kritik seni yang ideal. Bila lomba kritik seni ini kembali diselenggarakan oleh Direktorat Seni Pertunjukan, kami berharap, kualitas karya kritik yang nanti menang, minimalnya memiliki kualitas seperti naskah-naskah yang menang dalam LKS 2011 ini,” kata Ketua Dewan Juri Seno Gumira Ajidarma.
Dewan Juri mengeluarkan beberapa catatan seputar LKS 2011. Menurut Dewan Juri, sesungguhnya banyak ide atau gagasan yang menarik dalam LKS 2011, yang muncul dari berbagai daerah di Tanah Air, namun selama ini tidak terpantau oleh “Jakarta”. Dewan Juri juga melihat beberapa kelemahan fundamental pada beberapa naskah yang masuk, misalnya kurang matang dalam pengolahan kritik, lemah daya deskripsi, teori (asing) yang dicomot kurang dikunyah sampai lumat sehingga pengaplikasiannya dalam menganalisis objek seni, tidak terasa tajam atau malah teori itu dikutip hanya untuk bergagah-gagahan tanpa ada kaitan dengan objek seni yang dikritik.
Selain itu, Dewan Juri menemukan fakta bahwa banyak sekali naskah yang masuk yang kurang tepat untuk ukuran kritik seni, misalnya naskah yang dikirimkan itu merupakan tulisan hasil riset ilmiah untuk kepentingan akademik, bahan pengajaran di sekolah atau perguruan tinggi, hingga naskah kuratorial pameran seni rupa. Naskah kuratorial pameran seni rupa umumnya lebih bersifat promotif ketimbang sebagai karya kritik seni. Dewan juri juga menemukan, banyak naskah yang masuk merupakan karya kritik jurnalistik, malah beberapa naskah yang masuk itu di antaranya pernah dipublikasikan di media massa cetak. Bukan berarti kritik seni gaya jurnalistik itu tidak baik dan tidak berkualitas, namun dalam lomba kali ini, naskah para pemenang lomba jauh lebih berkualitas, lebih argumentatif, dan lebih deskriptif dalam menjelaskan objek seni yang dikritik.
Direktur Seni Pertunjukan (saat LKS 2011 ini digagas, nama jabatannya masih Direktur Kesenian), Sulistyo Tirtokusumo selaku penanggungjawab LKS 2011 berharap lomba ini akan dapat merangsang iklim kritik seni di Tanah Air yang belakangan ini mengalami kelesuan. “Kritik seni sangat diperlukan untuk kemajuan kesenian di Tanah Air. Pemerintah memang berkewajiban ikut memotivasio iklim kritik seni,” kata Sulistyo.
Karena itu, tahun depan, Direktorat Seni Pertunjukan, Ditjen NBSF, Kementerian Budpar berencana menggelar kembali lomba kritik seni.
Ketua Panitia, Umi Chasanah Kasubdit Seni rupa.
Catatan: Sesuai dengan ketentuan LKS 2011 yang telah diumumkan, bahwa Panitia memiliki hak untuk mendokumentasikan dan mempublikasi karya-karya yang masuk ke Panitia, dan guna untuk persebaran ilmu pengetahuan, maka kami lampirkan naskah-naskah pemenang LKS 2011 sebagai bahan rujukan bagi publik. Untuk mendapatkan naskah tersebut, silakan unduh melalui link di bawah: 1. Wahyu Santosa Prabowo http://www.ziddu.com/download/16601675/aporanPemantauanGelarKaryaTaridanKarawitanTUMADHAH.doc.html 2. Mashuri 1: http://www.ziddu.com/download/16601784/mashuri-fatah.rtf.htmll 3. Mashuri 2: http://www.ziddu.com/download/16602008/SurabayasbgkotalendirdalamKitabSyairDiantjukDjaran.rtf.html 4. Tia Setiadi: |










