Drama


Life is Wonderful: script 1-1 PDF Print E-mail
Written by Josyellin Herawan   
Minggu, 20 Februari 2011 00:00

ini cerita kecil, tentang kehidupan.

di sebuah desa di daerah pyongyang, korea utara tinggal sebuah keluarga kecil. keluarga yang terdiri dari 2 orang anak dan 1 orang ibu.mereka hidup terbatas dan sederhana, tidak terlalu papa namun sederhana.

Ha Young Lin adalah anak sulungnya.

nama ibunya,  Li Youn dan adik Lin bernama ShangGyeon (BACA : Sh angyun).  Ayah Lin dan sangyun pergi meninggalkan keluarga sejak 4 tahun lalu  ke seoul, korea utara untuk urusan bisnis. namun hingga sekarang ia tidak kembali.

 

dengan tidak adanya seorang "papa" bu li youn terpaksa memenuhi kebutuhan keluarga dengan bekerja sebagai pembantu di rumah majikan Lee Sun Bok.

kalau ada penghasilan, biasanya Young Lin bersama adiknya pergi berbelanja mie dan sayur ke toko sembako langganan mereka, toko Han gyun. pemilik toko itupun seiring berjalannya waktu menjadi dekat dengan Young Lin dan shangGyun. meskipun dekat, kalau tidak punya uang tetap saja mereka tidak diperbolehkan mengambil sembako.

Se    kali-kali Shang Gyeon pergi memancing ke danau. Bila beruntung, dia akan mendapatkan Ikan Besar.

Suatu ketika Yeong Lin pergi berbelanja seperti biasanya. Tak Lama kemudian Shang Gyeon menghampiri dengan tergesa-gesa…

Shang Gyeon : “ Kakak…!! Lihat ! Lihat ! keberuntungan Gyeon sedang naik drastic ! aku menemukan sebuah dompet disertai dengan sebuah ponsel di pinggir danau ! sepertinya tidak ada pemiliknya ! “

[ sambil menunjukan kedua barang temuannya tersebut ]

Young Lin : “ apa ini Shang Gyeon ? Milik siapa ini ? “

[ sambil terheran-heran menatapi dompet gemuk yang penuh dengan uang itu ]

Shang Gyeon : “ kakak ?! bagaimana sih ?? tidak usah memperdulikan siapa pemiliknya ! kita nikmati saja harta benda ini. Kita pakai uang yang ada di dompet kulit coklat ini dan jual ponsel mewah ini ! agar kita dapat mendapat uang lebih banyak ! dengan begitu kita dapat membeli U- don dan Bento terenak lalu ! lalu ! kita dapat membelikan ibu kalung emas itu untuk hadiah ! ...... *Blah…Blah…* [ dengan terus berbicara]

Young Lin : “ hah ….??? ” [ sambil bengong mendengar adiknya berbicara dan nyerocos tanpa henti.]

Shang Gyeon : “ eh ??? kenapa bengong begitu ?? baguskan ide Gyeon ? ( sambil tersenyum lebar. )

 

namun setelah adiknya meminta seperti itu, young lin malah dengan tegas mengambil dompet itu dan memarahi ShangGyun.

----bersambung -----

 

 
Sky Of Love PDF Print E-mail
Written by Josyellin   
Kamis, 17 Februari 2011 17:21

너같이 좋은 선물 [ sky of Love ]

Script 1 – 0

Ha Yeong Lin, seorang gadis yang tinggal di sebuah desa yang berada di daerah Pyongyang, Korea Utara. Dengan Ibunya, Li Youn dan adiknya laki – lakinya , Shang Gyeon *( baca: shangGyun ), Ha Yeong Lin 11 tahun , Shang Gyeon 10 Tahun mereka hidup sederhana dan terbatas tidak terlalu papa namun sederhana. Ayah Shang Gyeon dan Yeong Lin meninggalkan keluarga sejak 3 tahun lalu ke seoul, korea selatan untuk keperluan Bisnis namun tidak pernah pulang kembali hingga sekarang. Dengan tidak adanya seorang “Papa” di keluarga, bu Li Youn pun harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. bu Li Youn bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah majikan Lee Sun Bok. Sehari-hari Yeong Lin pergi belanja ditemani dengan Shang Gyeon. Toko sembako Han Gyun adalah langganan mereka membeli mie dan sayur, sehingga pemilik toko tersebut menjadi akrab dengan kedua kakak beradik ini. Sekali-kali Shang Gyeon pergi memancing ke danau. Bila beruntung, dia akan mendapatkan Ikan Besar.

Suatu ketika Yeong Lin pergi berbelanja seperti biasanya. Tak Lama kemudian Shang Gyeon menghampiri dengan tergesa-gesa…

Shang Gyeon : “ Kakak…!! Lihat ! Lihat ! keberuntungan Gyeon sedang naik drastic ! aku menemukan sebuah dompet disertai dengan sebuah ponsel di pinggir danau ! sepertinya tidak ada pemiliknya ! “

[ sambil menunjukan kedua barang temuannya tersebut ]

Young Lin : “ apa ini Shang Gyeon ? Milik siapa ini ? “

[ sambil terheran-heran menatapi dompet gemuk yang penuh dengan uang itu ]

Shang Gyeon : “ kakak ?! bagaimana sih ?? tidak usah memperdulikan siapa pemiliknya ! kita nikmati saja harta benda ini. Kita pakai uang yang ada di dompet kulit coklat ini dan jual ponsel mewah ini ! agar kita dapat mendapat uang lebih banyak ! dengan begitu kita dapat membeli U- don dan Bento terenak lalu ! lalu ! kita dapat membelikan ibu kalung emas itu untuk hadiah ! ...... *Blah…Blah…* [ dengan terus berbicara]

Young Lin : “ hah ….??? ” [ sambil bengong mendengar adiknya berbicara dan nyerocos tanpa henti.]

Shang Gyeon : “ eh ??? kenapa bengong begitu ?? baguskan ide Gyeon ?

 

young lin : " gyeon ! " [ sambil mengmabil dompet yang digenggam gyeon dengan tangan kirinya ]

 

Gyeon mendadak kaget, lalu kemudian melihat wajah kakaknya bagaikan singa, ia jadi takut. ia mengetahui bahwa expresi kakaknya itu menunjukan bahwa ia tidak setuju.


shang gyeon : " ah baiklah ! kalau begitu ! kakak sangat menyebalkan ! padahal sebentar lagi aku mungkin akan memakan makanan enak ! huh ! [ sambil berlari meninggalkan Young Lin ]

 

Young Lin berpikir kembali. beberapa waktu kemudian datang seorang bapak-bapak berbadan tegap dan berjas serta memakai kacamata hitam memegang kerah baju young lin dengan raut wajah yang marah.

 

apa yang akan selantujnya terjadi ??


 

bersambung....

 

 
GNOSIS; alineasi kesunyian PDF Print E-mail
Written by Saiful Anam Assyaibani   
Kamis, 23 Desember 2010 14:36

PADA SEBUAH RUANG WAKTU INSTALASI SENI, RUANG TIMUR DIPAGARI DENGAN KAIN PUTIH YANG BERFUNGSI UNTUK MENCIPTAKAN EFEK WARNA DALAM SILUET YANG DIMAINKAN ANGIN. SEPULUH ATAU DUA PULUH, BAHKAN TIGA PULUH PAYUNG BERWARNA PUTIH MEMBANGUN SEBENTUK PERISAI BAGI ORANGORANG YANG JUGA BERWARNAH PUTIH YANG BERSEMBUNYI DI BELAKANGNYA, KEMUDIAN MUSIK MENGHENTAKHENTAK TAK TERTUNDUKKAN. MEREKA MENYANYI, MENARI, KETAKUTAN DAN BERLARI DARI SATU RUANG KE RUANG WAKTU MEMBENTUK INSTALASI YANG HIDUP.

RUANG TENGAH ADALAH RUANG SUBLIM. SESEORANG BERTOPENG PUTIH WAJAHNYA JUGA PUTIH PAKAIANNYA SEPERTI KIMONO, RAMBUTNYA DIIKAT IKAL DI BAGIAN ATAS SEDANG BERDIAM DALAM SEBILAH BAMBU YANG MENGGANTUNG GAMANG YANG DIBALUT DENGAN KAIN BERWARNA KUNING DENGAN SOROT CAHAYA BERWARNA JINGGA. DI DEPANNYA TERBENTANG SEBUAH KOTAK YANG LEBIH MIRIP DENGAN KOLAM YANG AIRNYA PUTIH MENGENTAL, SEPUTIH MANI SEPUTIH TERIGU.

RUANG BARAT ADALAH PUSAT YANG SESUNGGUHNYA, TEMPAT PENGEKALAN PATUNG MUMMI YANG TERGANTUNG DENGAN KAWAT PENUH DURI DAN POSISINYA TEPAT DI TENGAHTENGAH RUANG YANG HANYA DIDOMINASI SOROT WARNA MERAH BAGIAN ATAS DAN BIRU PADA BAGIAN BAWAH, SEMACAM RITUS MAGIS BLUE OCEAN DALAM WAKTU YANG TAK BERBATAS.

01. TOKOH KITA

Aku terlalu larut dalam tidur panjangku; mungkin saja mimpi telah merangkai waktu dan menyeretku masuk ke negeri tak berjejak dari pikiran-pikiran yang jauh sekaligus menakutkan. Aku melihat diriku sendiri melesat beterbangan seperti dihempas takdir, laut bergolak hebat, manusia-manusia tanpa kelamin berguling-guling mengitariku dengan suara ngeri yang menggetarkan sekujur sukmah.

Matilah aku! Ya, matilah aku, matilah! sungguh, meskipun demikian aku adalah kematian yang menakutkan bagi diriku sendiri. Meski bagaimanapun juga inilah garis takdir terbaik dari sebagian perjalanan kehidupan yang harus aku jalani. Sungguhpun aku harus mengenakan topeng di hadapan tuhan yang tidak lebih baik dari wajahku sendiri.

Ya, inilah jalan kehidupanku, aku harus menjalani suatu takdir yang paling menjijikkan. Sekujur jasadku bukanlah jasadku, ruhku kematianku doaku kelaminku bukanlah milikku, tapi aku harus berada dalam duniaku yang hendak aku ciptakan sendiri. Sungguh pasrah terhadap takdir adalah mengasingkan diri di hadapan tuhan yang terkutuk.

02. TOKOH KITA

Demikianlah sebagian dari penggalan takdirku yang tak pernah selesai dan menjadi esensi awal hadirnya aku, tapi bagaimana kalian bisa menerima takdir begitu saja, padahal aku telah mempertaruhkan seluruh eksistensi dan hidupku. Aku telah bekerja keras untuk semua ini. Bahkan aku telah menelantarkan tuhan bagi diriku sendiri!

03. TOKOH KITA

Semua memang terlanjur berbenturan, atau memang sengaja dibentur-benturkan dalam kehidupan, sebagaimana keimanan yang melampaui kesadaran akan dunia realitas, dan kebenaran yang bersandar pada keyakinan.

MUSIK MENGHENTAKHENTAK ORANGORANG BERWARNA PUTIH BERHAMBURAN MELESAT MEREKA MENYAYI, MENARI, KETAKUTAN DAN BERLARI DARI SATU RUANG KE RUANG WAKTU MEMBENTUK INSTALASI YANG HIDUP, KEMUDIAN BERSAMASAMA MEMBASUH SEKUJUR TUBUHNAYA PADA SEBUAH KOTAK YANG AIRNYA PUTIH MENGENTAL LANTAS MENGERUBUTI TOKOH KITA SEPERTI LALAT PADA SEONGGOK BANGKAI, MENGANGKATNYA MEMBAWANYA SALING BERPUTAR DENGAN GUMAM SUARA ANEH YANG MENGGETARKAN.

04. TOKOH KITA

apa yang kau pikir tentang aku selama ini adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan oleh takdir; keberadaan itu pencapaian di perjalanan waktu melampaui waktu.

aku memang ada di jalanku sendiri, namai keadaan dengan penyerahan sesuatu yang memang seharusnya ada tapi tak terlihat, maka siapa menemui duniaku disana tidak bersembunyi dari jejakku, maka jejakjejak itu akan mengantarnya sendiri pada kabar mencapai kebenaran penempatan wajah tertinggi; demi waktu aku milikmu.

adakah takdir kan disekat pembatas yang nyata sedang tuhan adalah bahasa akhir melepaskan segala kehidupan. adalah yang menandai batas yang kau pikirkan: maka siapa sebenarnya sanggup melewatinya dengan pandangan kebenaran?.

RUANG BARAT SEAKAN BERSALJU DAN BERKABUT TIPIS. GELAP DAN KELAP TOKOH KITA MENYALAKAN OBOR KEHENDAK MEMBAKAR DIRINYA SENDIRI.

05. TOKOH KITA

Aku akan melepaskan perbudakan kehidupanku selama ini dengan pengasingan diri dari kehidupan, dari segala wujud; sebuah kehidupan baru di balik kematianku yang lain. Meski orang seperti aku tidak pantas kehilangan roh untuk menempuh negeri beradab yang musti diperjuangkan, tapi aku harus membentuk dunia dalam kehendak takdirku sendiri. Segala memang harus dilenyapkan, lagi pula bukankah kita sebenarnya sedang hidup dalam tumpukan keterasingan.

HANYA ADA SATU LAMPU BERWARNA NETRAL TERANG YANG MENYALA MENYOROT MEMBENTUK GAMBARAN MATAHARI YANG MENGIKUTI JEJAK LANGKAH TOKOH KITA DALAM SETIAP GERAK MENGITARI PATUNG MUMMI DENGAN LANGKAH TAK BERARAH.

06. TOKOH KITA

sekali lagi aku bersaksi atas wujudku sendiri; menafikan semua yang berbentuk meniadakan aku dalam wadah yang tetap ada; ada pada suatu dan satu waktu. aku juga berada di atas setiap bentuk yang menyatu yang bertentangan.

“lihatlah kedip api di tanganku ini aku telah merubahnya menjadi matahari!” maka semua musti terbuka kerana tak ada ruang yang mampu mewadahi cahaya tak terhingga ini untuk menempuh perjalanan kepada tujuan-pencarian.

“aku datang tuhan, tanpa jalan tanpa arah. selain dari wujud menuju wujud ke dalam kesatuan penyaksianku” sampaisampai seluruh cahaya berebut menyatukan hasrat diri ke suatu pusatku.

ohoi, perjalanan ini aku mulai dengan penarikan diri dari dunia kebendaan, mengosongkan kekuatan rasa di jiwa kepada segala sesuatuku, dan aku melihat semua sebagaimana hakikat sendirinya: seperti tercermin dari wujud yang melenyapkan kesadaran dan makna semesta. aku pusat alam raya dan roh dari yang mutlak, dunia yang mewujud melupakanmu.

MUSIK MENGHENTAKHENTAK. MUMMI TIBATIBA MENYALA DALAM KOBARAN API, ORANGORANG BERWARNA PUTIH BERHAMBURAN MELESAT MEREKA MENYANYI, MENARI, KETAKUTAN DAN BERLARI DARI SATU RUANG KE RUANG WAKTU MEMBENTUK INSTALASI YANG HIDUP, KEMUDIAN BERSAMASAMA MEMBASUH SEKUJUR TUBUHNAYA PADA SEBUAH KOTAK YANG AIRNYA PUTIH MENGENTAL BERSAMA TOKOH KITA DENGAN GUMAM SUARA ANEH YANG MENGGETARKAN.

07. TOKOH KITA

Mungkin hanya metamorfosisme sebentuk waktu; kelak mengekalkan segalanya. Ini hanyalah kesementaraan. []

PADA SEBUAH RUANG WAKTU INSTALASI SENI YANG TIBATIBA SEPI.

Lamongan, 2011

 

 
NORMA PDF Print E-mail
Written by redaksi   
Rabu, 15 Desember 2010 14:38

NORMA
Alun Owen

PEREMPUAN DUDUK SENDIRI PADA TEMPAT BERNAUNG DI SEBUAH TAMAN. IA MENGENAKAN JAS HUJAN. DAN MEMANDANG KE ARAH JAUH. SETELAH BEBERAPA SAAT, IA BERKATA KERAS PADA DIRI SENDIRI, SEAKAN-AKAN SEDANG MENJAWAB SEBUAH PERTANYAAN.

PEREMPUAN
Memang baik… ah tidak. Kau tak dapat mengatakannya.

LAKI-LAKI
(SUARA DI LUAR) Norma! Norma! (PEREMPUAN MELIHAT KE ARAH DATANGNYA SUARA, LALU MELAMBAI DAN TERSENYUM)

PEREMPUAN
Sini! (DARI DALAM HUJAN LAKI-LAKI BERLARI KE TEMPAT BERTEDUH. IA RIANG GEMBIRA)

LAKI-LAKI
Maaf ya?

PEREMPUAN
(MEMPERHATIKAN LAKI-LAKI) kau basah kuyup.

LAKI-LAKI
(MENGGEBRIS) di luar dugaan.

PEREMPUAN
Tak apa-apa kan, kalau mantelmu dibuka?

LAKI-LAKI
(MENGUSAP MUKANYA, MENGERINGKANNYA) aku berlari-lari kemari.

PEREMPUAN
Nah, hujan-hujanan terus. (BUAT PERTAMA KALINYA LAKI-LAKI MEMPERHATIKAN PEREMPUAN)

LAKI-LAKI
(SENYUM PADA PEREMPUAN) ya. (LAKI-LAKI DUDUK DISAMPING PEREMPUAN DAN BICARA DENGAN NADA ROMANTISNYA) nah, bagaimana sayang?

PEREMPUAN
(BERGERAK SEDIKIT) kalau aku, akan kubuka mantel itu, dan akan kukebatkan supaya lekas kering.

LAKI-LAKI
(SOPAN) tak apa-apa.

PEREMPUAN
(TAJAM) Cobalah. Hanya mantel yang waterproof. Tubuhmu tidak.

LAKI-LAKI
Oh aku tak tahu.

PEREMPUAN
Pam punya satu macam begitu.

LAKI-LAKI
Tapi ini buatan Hongkong.

PEREMPUAN
(BERTINGKAH) cukup gila seperti Pam.

LAKI-LAKI
Ada apa?

PEREMPUAN
Apa maksudmu?

 
PERKAWINAN PERAK PDF Print E-mail
Written by redaksi   
Selasa, 14 Desember 2010 17:32

PERKAWINAN PERAK
John Boudin

RUANG TENGAH DARI RUMAH SETENGAH TEMBOK DI PINGGIRAN KOTA JAKARTA (PASAR MINGGU)  KETIKA ITU JAM DELAPAN MALAM. JAM BERDENTANG. SANG ISTRI SEDANG DUDUK DEKAT MEJA. KETIKA IA SEDANG MENGAKURKAN JAM DENGAN ARLOJINYA, TERDENGAR SUARA KUNCI DIPUTAR DI RUANG MUKA. SUAMI MASUK.

ISTRI    
Mau minum teh?

SUAMI
Menyesal sekali aku terlambat.

ISTRI
Masih banyak di poci.

SUAMI
Aku akan ganti dulu.

ISTRI
Harusnya dibiarkan mengendap dulu.

SUAMI
Aku akan mandi dan ganti pakaian.

ISTRI
Minumlah dulu.  (SUAMI KELUAR, MELEPASKAN DASI, MENARUH TAS DILUAR, MASUK KEMBALI)

SUAMI
Sungguh-sungguh aku menyesal. Karena ngebut aku hampir nabrak orang.

ISTRI
(SETELAH MENUANG TEH) ini.

SUAMI
Kau sudah berdandan. (HENING) Baik sekali (HENING) seharusnya aku menelpon tadi. Aku harus menelpon kau. Tapi rapatnya tidak selesai-selesai. Lalu ketika kurencanakan akan keluar, kupikir yang terbaik dapat aku lakukan adalah cepat-cepat pulang. Tapi sekalipun aku telah ngebut, aku hampir saja…

ISTRI
Tak seorang pun yang menyuruh kau terlambat mas. Ini, minumlah tehmu.

SUAMI
Sialan sekali. Tak ada orang lain yang bisa bicara pada seksi produksi. Hasan Yamin sakit flu. (HENING) mau tak mau aku harus mengisinya. Akan kuhabiskan tehnya, lalu menelpon restoran untuk merubah pesanan. Sesungguhnya setengah delapan dan setengah sepuluh apa bedanya? (HENING) atau kita bisa pergi ke tempat lain lagi. Tak ada yang mengharuskan kita tetap ke restoran itu. Akan kutelpon… restoran apa yang biasa mereka kunjungi itu?… (HENING) jika kau yakin masih ingin pergi.

ISTRI
Mengapa tidak?

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>

Page 1 of 5