|
PADA SEBUAH RUANG WAKTU INSTALASI SENI, RUANG TIMUR DIPAGARI DENGAN KAIN PUTIH YANG BERFUNGSI UNTUK MENCIPTAKAN EFEK WARNA DALAM SILUET YANG DIMAINKAN ANGIN. SEPULUH ATAU DUA PULUH, BAHKAN TIGA PULUH PAYUNG BERWARNA PUTIH MEMBANGUN SEBENTUK PERISAI BAGI ORANGORANG YANG JUGA BERWARNAH PUTIH YANG BERSEMBUNYI DI BELAKANGNYA, KEMUDIAN MUSIK MENGHENTAKHENTAK TAK TERTUNDUKKAN. MEREKA MENYANYI, MENARI, KETAKUTAN DAN BERLARI DARI SATU RUANG KE RUANG WAKTU MEMBENTUK INSTALASI YANG HIDUP.
RUANG TENGAH ADALAH RUANG SUBLIM. SESEORANG BERTOPENG PUTIH WAJAHNYA JUGA PUTIH PAKAIANNYA SEPERTI KIMONO, RAMBUTNYA DIIKAT IKAL DI BAGIAN ATAS SEDANG BERDIAM DALAM SEBILAH BAMBU YANG MENGGANTUNG GAMANG YANG DIBALUT DENGAN KAIN BERWARNA KUNING DENGAN SOROT CAHAYA BERWARNA JINGGA. DI DEPANNYA TERBENTANG SEBUAH KOTAK YANG LEBIH MIRIP DENGAN KOLAM YANG AIRNYA PUTIH MENGENTAL, SEPUTIH MANI SEPUTIH TERIGU.
RUANG BARAT ADALAH PUSAT YANG SESUNGGUHNYA, TEMPAT PENGEKALAN PATUNG MUMMI YANG TERGANTUNG DENGAN KAWAT PENUH DURI DAN POSISINYA TEPAT DI TENGAHTENGAH RUANG YANG HANYA DIDOMINASI SOROT WARNA MERAH BAGIAN ATAS DAN BIRU PADA BAGIAN BAWAH, SEMACAM RITUS MAGIS BLUE OCEAN DALAM WAKTU YANG TAK BERBATAS.
01. TOKOH KITA
Aku terlalu larut dalam tidur panjangku; mungkin saja mimpi telah merangkai waktu dan menyeretku masuk ke negeri tak berjejak dari pikiran-pikiran yang jauh sekaligus menakutkan. Aku melihat diriku sendiri melesat beterbangan seperti dihempas takdir, laut bergolak hebat, manusia-manusia tanpa kelamin berguling-guling mengitariku dengan suara ngeri yang menggetarkan sekujur sukmah.
Matilah aku! Ya, matilah aku, matilah! sungguh, meskipun demikian aku adalah kematian yang menakutkan bagi diriku sendiri. Meski bagaimanapun juga inilah garis takdir terbaik dari sebagian perjalanan kehidupan yang harus aku jalani. Sungguhpun aku harus mengenakan topeng di hadapan tuhan yang tidak lebih baik dari wajahku sendiri.
Ya, inilah jalan kehidupanku, aku harus menjalani suatu takdir yang paling menjijikkan. Sekujur jasadku bukanlah jasadku, ruhku kematianku doaku kelaminku bukanlah milikku, tapi aku harus berada dalam duniaku yang hendak aku ciptakan sendiri. Sungguh pasrah terhadap takdir adalah mengasingkan diri di hadapan tuhan yang terkutuk.
02. TOKOH KITA
Demikianlah sebagian dari penggalan takdirku yang tak pernah selesai dan menjadi esensi awal hadirnya aku, tapi bagaimana kalian bisa menerima takdir begitu saja, padahal aku telah mempertaruhkan seluruh eksistensi dan hidupku. Aku telah bekerja keras untuk semua ini. Bahkan aku telah menelantarkan tuhan bagi diriku sendiri!
03. TOKOH KITA
Semua memang terlanjur berbenturan, atau memang sengaja dibentur-benturkan dalam kehidupan, sebagaimana keimanan yang melampaui kesadaran akan dunia realitas, dan kebenaran yang bersandar pada keyakinan.
MUSIK MENGHENTAKHENTAK ORANGORANG BERWARNA PUTIH BERHAMBURAN MELESAT MEREKA MENYAYI, MENARI, KETAKUTAN DAN BERLARI DARI SATU RUANG KE RUANG WAKTU MEMBENTUK INSTALASI YANG HIDUP, KEMUDIAN BERSAMASAMA MEMBASUH SEKUJUR TUBUHNAYA PADA SEBUAH KOTAK YANG AIRNYA PUTIH MENGENTAL LANTAS MENGERUBUTI TOKOH KITA SEPERTI LALAT PADA SEONGGOK BANGKAI, MENGANGKATNYA MEMBAWANYA SALING BERPUTAR DENGAN GUMAM SUARA ANEH YANG MENGGETARKAN.
04. TOKOH KITA
apa yang kau pikir tentang aku selama ini adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan oleh takdir; keberadaan itu pencapaian di perjalanan waktu melampaui waktu.
aku memang ada di jalanku sendiri, namai keadaan dengan penyerahan sesuatu yang memang seharusnya ada tapi tak terlihat, maka siapa menemui duniaku disana tidak bersembunyi dari jejakku, maka jejakjejak itu akan mengantarnya sendiri pada kabar mencapai kebenaran penempatan wajah tertinggi; demi waktu aku milikmu.
adakah takdir kan disekat pembatas yang nyata sedang tuhan adalah bahasa akhir melepaskan segala kehidupan. adalah yang menandai batas yang kau pikirkan: maka siapa sebenarnya sanggup melewatinya dengan pandangan kebenaran?.
RUANG BARAT SEAKAN BERSALJU DAN BERKABUT TIPIS. GELAP DAN KELAP TOKOH KITA MENYALAKAN OBOR KEHENDAK MEMBAKAR DIRINYA SENDIRI.
05. TOKOH KITA
Aku akan melepaskan perbudakan kehidupanku selama ini dengan pengasingan diri dari kehidupan, dari segala wujud; sebuah kehidupan baru di balik kematianku yang lain. Meski orang seperti aku tidak pantas kehilangan roh untuk menempuh negeri beradab yang musti diperjuangkan, tapi aku harus membentuk dunia dalam kehendak takdirku sendiri. Segala memang harus dilenyapkan, lagi pula bukankah kita sebenarnya sedang hidup dalam tumpukan keterasingan.
HANYA ADA SATU LAMPU BERWARNA NETRAL TERANG YANG MENYALA MENYOROT MEMBENTUK GAMBARAN MATAHARI YANG MENGIKUTI JEJAK LANGKAH TOKOH KITA DALAM SETIAP GERAK MENGITARI PATUNG MUMMI DENGAN LANGKAH TAK BERARAH.
06. TOKOH KITA
sekali lagi aku bersaksi atas wujudku sendiri; menafikan semua yang berbentuk meniadakan aku dalam wadah yang tetap ada; ada pada suatu dan satu waktu. aku juga berada di atas setiap bentuk yang menyatu yang bertentangan.
“lihatlah kedip api di tanganku ini aku telah merubahnya menjadi matahari!” maka semua musti terbuka kerana tak ada ruang yang mampu mewadahi cahaya tak terhingga ini untuk menempuh perjalanan kepada tujuan-pencarian.
“aku datang tuhan, tanpa jalan tanpa arah. selain dari wujud menuju wujud ke dalam kesatuan penyaksianku” sampaisampai seluruh cahaya berebut menyatukan hasrat diri ke suatu pusatku.
ohoi, perjalanan ini aku mulai dengan penarikan diri dari dunia kebendaan, mengosongkan kekuatan rasa di jiwa kepada segala sesuatuku, dan aku melihat semua sebagaimana hakikat sendirinya: seperti tercermin dari wujud yang melenyapkan kesadaran dan makna semesta. aku pusat alam raya dan roh dari yang mutlak, dunia yang mewujud melupakanmu.
MUSIK MENGHENTAKHENTAK. MUMMI TIBATIBA MENYALA DALAM KOBARAN API, ORANGORANG BERWARNA PUTIH BERHAMBURAN MELESAT MEREKA MENYANYI, MENARI, KETAKUTAN DAN BERLARI DARI SATU RUANG KE RUANG WAKTU MEMBENTUK INSTALASI YANG HIDUP, KEMUDIAN BERSAMASAMA MEMBASUH SEKUJUR TUBUHNAYA PADA SEBUAH KOTAK YANG AIRNYA PUTIH MENGENTAL BERSAMA TOKOH KITA DENGAN GUMAM SUARA ANEH YANG MENGGETARKAN.
07. TOKOH KITA
Mungkin hanya metamorfosisme sebentuk waktu; kelak mengekalkan segalanya. Ini hanyalah kesementaraan. []
PADA SEBUAH RUANG WAKTU INSTALASI SENI YANG TIBATIBA SEPI.
Lamongan, 2011
|