|
SUAMI
Tidak ada alasan. Tidak, aku hanya berpikir, mungkin karena kesana kau akan…
ISTRI Aku sudah berdandan.
SUAMI Tentu. Tentu. Akan segera kutelpon mereka, sayang. Mereka dengan mudah dapat menukar waktunya.
ISTRI Kau tak ingin pergi? Kita dapat buka kartu kukira.
SUAMI Aku hanya berpikir… duduk-duduk menunggu, bisa menghabiskan kesabaran (HENING) maksudku seseorang jadi tak mau mengerjakannya. Segalanya berantakan dan terburu-buru. Jika saja kesempatan ini tidak istimewa, tak ada harganya dilakukan. (HENING) tolol aku ini. (HENING) kau tak menggunakan poci yang biasa.
ISTRI Di dapur.
SUAMI Oh, entahlah. Barang-barang dibeli buat dipakai bukan?
ISTRI Kita menggunakannya.
SUAMI Poci perak buatan Yogya, seharusnya yang begini ada di dalam istana-istana atau hotel kelas satu. Maksudku tempatnya kurang cocok. Ini lebih seperti orang tolol, menggunakan poci perak sekedar untuk kenang-kenangan. Aku agak menyukai idenya. (HENING) nah, akan kutelpon restoran.
ISTRI Berhentillah memperolokan aku, mas.
SUAMI Apa yang membuat kau…
ISTRI Sejak kau masuk, kau sudah berdalih dengan berbagai alasan. Mencoba supaya aku bicara bahwa aku tidak peduli duduk menunggu disini setelah berdandan, dan tak tahu apa yang terjadi dengan kau. Baiklah. Kukatakan padamu mas. Aku tahu kau tak memperbaikinya. Aku tak menyalahkan kau. Maka bergantilah dan telpon restoran.
SUAMI Yah, tentunya kau kesal sekali. (ISTRI MEMANDANG TAJAM) harusnya aku menelpon. Sayang, jika saja aku bisa. Aku telah terlambat. Itu rapat dewan direksi, kau tahu. Orang dari seksi-seksi harus ada di sana. Seluruh staf dan pucuk pimpinan. Dan sialnya si Hasan Yamin kena flu Hongkong, aku harus mewakilinya. Kulakukan apa yang dapat kulakukan. Aku menyusun laporan singkat, dengan menghindarkan timbulnya diskusi. Dan kemudian, kesempatan ketika seksi produksi telah selesai, aku minta maaf dan meninggalkan rapat. Aku sampai berlari-lari menuju mobil.
ISTRI Kau tak boleh berlari-lari, dokter mengatakannya.
SUAMI Aku belum tahu apa keputusan rapat.
ISTRI Tak seorang pun yang mengharuskan kau tahu.
SUAMI Yah, tentu saja aku tahu bahwa akan ada rapat. Aku tahu bahwa akan ada rapat direksi hari ini, aku tak mau mengatakannya kepada kau, takut akan mengecewakanmu.
ISTRI Terima kasih
SUAMI Aku tak mau membuat kau khawatir
ISTRI Bahwa Hasan Yamin akan sakit.
SUAMI Yamin
ISTRI Kemarin ia tidak datang. Kau mengatakannya.
SUAMI Seharusnya ia sudah masuk
ISTRI Apa boleh buat mas, berpakaianlah. Aku akan menelpon.
SUAMI Salahnya ialah aku tidak melihat agenda sampai pagi ini. (DARI SAKUNYA MENGELUARKAN AGENDA) nah lihatlah, aku membawanya. Membawanya pulang, sebagai semacam bukti alibi bagimu, jika kau tidak percaya. Kupikir kau akan kecewa. Itulah yang kutakutkan. (MEMPERLIHATKAN) nah, seksi produksi sudah berakhir.
ISTRI Tak dapatkah mereka merubahnya?
SUAMI Merubah apa?
ISTRI Menukar ordernya. Maksudku, menggeser waktunya.
SUAMI Ya, sukar.
ISTRI Mengapa tidak?
SUAMI Kupikir orang tak akan melakukannya, sayang.
ISTRI Maksudku orang tak pernah merubah order di agenda? Aku tak melihat alasan mengapa tak bisa begitu.
SUAMI Oh, ada juga mereka merubah ordernya. Kuingat ada hal-hal yang diluar dugaan, yang bisa mempengaruhi jalannya perusahaan, atau jika seseorang…
ISTRI (MEMOTONG) harus pergi duluan karena ada keperluan…
SUAMI Mungkin ia dapat dirubah.
ISTRI Katamu bisa.
SUAMI Sewaktu-waktu, bukan kebiasaan.
ISTRI Mengapa tidak dirubah?
SUAMI Sewaktu-waktu. Orang tidak bisa memutuskannya sendirian.
ISTRI Maksudmu, kau yang tidak?
SUAMI Seseorang tidak bisa merubah keputusan dewan direksi. Agenda hanya untuk…
ISTRI Untuk peringatan hari pernikahan perak seseorang (HENING) kau juga seorang junior kan? Mereka akan memakluminya.
SUAMI Susah jadi junior itu, sayang. Kukira kau dapat memaklumi kedudukanku.
ISTRI Kau punya dua cara dalam menyebut aku sayang. Pertama jika kau hendak menyakiti hatiku, kedua jika kau merangkak-rangkak minta sesuatu. Ketika kau datang tadi yang kedua. Kini yang pertama.
SUAMI Aku tidak bermaksud menyakitimu. Bagaimanapun aku tak bermaksud menyerang kau.
ISTRI Terima kasih
SUAMI Janganlah menyerangku melalui tugasku. Aku bukannya junior. Aku belum pula jadi kepala seksi. Sekalipun aku akan, jika…
ISTRI Jika Hasan Yamin mati terkena influenza Hongkong.
SUAMI Yamin.
ISTRI Yamin.
SUAMI Kami melaksanakan tugas-tugas penting.
ISTRI Dan tinggal di pinggiran Pasar Minggu.
SUAMI Apa?
ISTRI Tugas yang kau lakukan begitu pentingnya, hingga kita harus tinggal di rumah semi permanen, di Pasar Minggu. Dan jika kita ingin membeli poci teh perak untuk sekedar memperingati perkawinan perak kita, aku harus membayar setengahnya dengan uang tabunganku sendiri.
SUAMI Ini keterlaluan. Aku tak mendengar obrolan begitu.
ISTRI Aku tidak mengobrol. Aku hanya tidak tahu apa sebabnya kau tidak merubah agenda, hanya itu. Petang tadi aku bekerja di Panti asuhan, dan pada jam 4.30 aku bicara dengan Ibu Tri.
SUAMI Itu tidak sama. Kau mengatur waktumu sendiri dalam yayasan.
ISTRI Sekalipun itu pekerjaan juga? Pekerjaan yang bernilai? Kau pikir menolong orang bukan pekerjaan?
SUAMI (MELEDAK) Bukan itu soalnya. (MENGUASAI DIRI) Aku menyesal. Tapi bukan itu soalnya, sayang. Jika saja kau hentikan interogasi ini dan dengarkanlah kata-kataku.
ISTRI Interogasi kau yang memulainya. Aku tidak menginterogasimu. Aku hanya sedang bersiap-siap memberikan kesadaran akan tanggung jawabmu.
SUAMI Tak ada yang kau lakukan selain menyelidiku, sejak aku memasuki pintu itu.
ISTRI Kau sendiri yang mengatakan padaku, bahwa kau membawa agenda buat diperlihatkan padaku.
SUAMI Hei, kita ini kan lagi membicarakan suatu perayaan, sayang. Jangan kita rusak suasananya. Mari kita hadapi.
ISTRI Kau katakan begitu?
SUAMI Apa?
ISTRI Kita lagi merencanakan suatu perayaan. Begitu kau katakan padaku? Lihatlah aku? Tidak lagi sedang merencanakannya, tapi sudah berjam-jam duduk disini, sudah berdandan…
SUAMI Seharusnya kau berdandan tidak terlalu pagi, sayang.
ISTRI Berdandan itu makan waktu lama, kau tahu.
SUAMI Istriku sayang.
ISTRI Jangan panggil aku istriku sayang.
SUAMI Keparat, ini hari perkawinan perak kita.
ISTRI Nah, teruskan, teruskan. Telpon restoran Queen. Berdandanlah. Kita akan pergi. Mengapa tidak?
SUAMI Ya Allah!
ISTRI Nah, kau mau mengatakan apa?
SUAMI Aku mau kau…
ISTRI Kau mau aku pergi makan malam, seakan-akan tak ada sesuatu yang terjadi. Nah, baiklah, kita akan makan malam. Aku telah mendapatkan caramu.
SUAMI Tak banyak yang dapat kita makan, jika kau terus membubuhinya dengan sumpah serapah. Makan-makan itu tidak akan terasa enak. Malahan akan menjadi asam kecut dalam perutmu.
ISTRI Ada cara yang sederhana untuk mengatasinya, kan? Jangan bikin aku kecewa dan aku takkan bersungut-sungut. Jika kita telah merencanakan untuk merayakan Perkawinan Perak kita…
SUAMI Oh dik…
ISTRI Dan kau telah berjanji akan segera pulang…
SUAMI Telah kucoba, telah kucoba…
ISTRI Mengapa harus mengikuti rapat segala…
SUAMI Aku harus menghadirinya. Telah kukatakan, tak ada orang lain untuk mewakili seksi produksi. Itu rapat yang sangat penting, rapat direksi.
ISTRI Jangan jejali aku dengan kata-kata direksi. Aku mual mendengarnya. Aku mual dengan direksimu dan tugas-tugas pentingmu. Kau tidak berkoar-koar dengan ambisi yang sesungguhnya, dan kau menutupinya dengan berpura-pura.
SUAMI Ada yang lebih baik daripada hanya ambisi.
ISTRI Misalnya?
SUAMI Kepuasan. Kulakukan tugas serius dalam cara yang serius. Itu pekerjaan berharga, berbudaya. Ia menuntut kemampuan yang khusus, menuntut perhatianku yang penuh. Aku tak mau ikut-ikutan perlombaan tikus mengejar…
ISTRI Oh, pertandingan tikus…
SUAMI Aku percaya, aku percaya bahwa untuk menjadi puas dalam cara…
ISTRI Puas!
SUAMI Dalam tugasku! Dalam tugasku!
ISTRI Jangan berteriak! Jangan bicara begitu kepadaku.
SUAMI Aku tak pernah berpura-pura puas dalam rumahku.
ISTRI Dinding-dinding rumah saksinya.
SUAMI Dalam kantor, aku punya kedudukan, aku dihormati.
ISTRI Tapi tak cukup mampu untuk bisa merubah order dalam agenda. Supaya kau dapat pulang pada waktunya, supaya dapat merayakan perkawinan perak bersama isterimu.
SUAMI Jangan memepetkan aku sayang
ISTRI Kau masih memanggil aku sayang?
SUAMI Kataku, Jangan memepetkan aku.
ISTRI Mengapa jangan?
SUAMI Ada waktunya buat mengobrol… pada kesempatan…
ISTRI Ya?
SUAMI Ada waktunya buat mengobrol akan jadi jemu.
ISTRI Mengapa?
SUAMI Bahkan dalam suatu perkawinan, kita tahu ini, sayang. Kita mengetahuinya sejak lama. Bahkan dalam perkawinan ada sikap diam yang penting. Mau terikat bukanlah halangan jika perkawinan dijunjung tinggi.
ISTRI Tapi kita menjunjung tinggi perkawinan kita, mas. Dua puluh lima tahun kita telah menjunjungnya. Tak boleh kita punya maksud buat menghancurkannya. Setelah dua puluh lima tahun kawin kemana kita akan pergi? Bagaimana kita akan hidup? Aku kira tak perlu lagi ada sikap diam itu lagi.
SUAMI Seseorang selalu memerlukannya. Jika ada yang menyakitkan.
ISTRI Ya?
SUAMI Akan tertekan…
ISTRI Tapi kesakitan telah berlalu. Tidak ada lagi kini. Kau berpikir tentang merubah agenda, dan kau tak melakukannya, begitu kan?
SUAMI Mungkin.
ISTRI Kau bisa mengangkat telpon, dan bicara pada sekretarismu untuk melaksanakannya.
SUAMI Bisa jadi.
ISTRI Karena kau belum lagi junior, suamiku. Kau belum jadi seseorang. Katamu kau adalah orang yang punya kedudukan dan dihormati sebagai staf.
SUAMI Jika kau menganggapnya begitu.
ISTRI Tapi kau tak mengangkat telpon.
SUAMI Tidak.
ISTRI Kau memang ingin supaya terlambat. Kau hendak merusak kita.
SUAMI Tidak kusadari.
ISTRI Tidak sadar?
SUAMI Mungkin.
ISTRI Nah, sekarang kau sedang sadar. Baik, tak apa-apa kau terlambat, baiklah, kau sudah merusak hari peringatan ini, tapi jika ditanyakan mengapa, apakah aku harus bersikap diam saja, pura-pura memakluminya?
SUAMI Tanpa kusadari aku mungkin… merasa enggan.
ISTRI Aku mau tahu, mengapa?
SUAMI Apanya yang harus diperingati? (HENING)
ISTRI Kau tahu apa.
SUAMI Apanya yang harus kita peringati?
ISTRI Dua puluh lima tahun. Kita telah bersama-sama dua puluh lima tahun lamanya. Itu suatu prestasi yang luar biasa. (SUARA OLOK-OLOK DARI SANG SUAMI) apakah bagimu itu mudah menghadapinya? Bagiku sukar sekali.
SUAMI Ya. Memang mudah. Sekalipun tidak selalu menyenangkan. Tapi mudah saja. Lihatlah. Sudah dua puluh lima tahun kita berbuat yang paling mudah dilakukan. Ketika kita masih berpacaran, setiap orang yang kita kenal mengharapkan kita jadi kawin. Bagiku juga lebih mudah untuk berharap. Bagimu sendiri tentu lebih mudah untuk menerima lamaranku daripada jika aku tidak melakukannya.
ISTRI Aku tidak akan menerimanya, jika saja aku…
SUAMI Mencintai aku?
ISTRI Menyukaimu. Aku menyukaimu.
SUAMI Lalu anak-anak. (IA MEMBUANG MUKA) Jika kita benar-benar menghendakinya, kita bisa mengangkatnya seorang. Pikirlah. Kau tak menghendakinya, demikian juga aku. Itu lebih praktis.
ISTRI Aku selalu menyukai kanak-kanak.
SUAMI Seperti kau menyukai aku. Tapi lebih mudah bekerja di panti asuhan daripada mempunyai anak. Kau akan mendapatkan kesibukan, dan aku dengan tugasku. Dan yang paling mudah adalah kita bisa pergi sepanjang hari dan pulang di malam hari, tanpa suatupun yang harus dirisaukan.
ISTRI Kukira kau akan mengatakan mengapa kau merusak rencana perayaan kita.
SUAMI Telah kukatakan. Karena tak ada yang sesuatu yang harus diperingati.
ISTRI Kita telah kawin. Dan masih kawin. Itulah soalnya.
SUAMI Tidak cukup.
ISTRI Kau tak bermaksud mengatakan bahwa kau tak pernah merasa bahagia?
SUAMI Pikirlah. Kapan kita merasakan benar-benar berbahagia?
ISTRI Kita merasa bahagia pada saat permulaan umpamanya.
SUAMI Ya. Itu mudah saja. Sex membuat segalanya mudah.
ISTRI Itu murahan.
SUAMI Tidak. Itu betul.
ISTRI Kita bukan anak muda lagi. Kau bicara seakan-akan kita ini tak tahu apa-apa.
SUAMI Tidak. Kita memiliki pengetahuan teori yang luas. Kita orang progresif dan praktis, dan kita tak bermaksud jadi sengsara karena kita tahu membaca buku-buku. Dan demi Tuhan, kita pun cukup berpengalaman. Jika kita menghendaki soal sex, kita bisa menghadapinya dari segi yang indah, dan kita bisa berbuat sesuai dengan kemauan kita, karena kita menikah.
ISTRI Oh mas!
SUAMI Adalah hal yang mengagumkan, bahwa kita tidak pernah menyadari ataupun berpikir rendah. Semua buku-buku mengatakan, bahwa kita akan menemukan diri kita sendiri, itulah istilah yang langka digunakan. Hal ini membuat aku menjadi seakan-akan seorang pelaut, di tengah samudera. Tapi kita tidak pernah menemukan diri kita masing-masing. Kita hanya bisa mengerti betapa indahnya sex itu, jika kita dengan heran menakutinya, dan kita hanya menemukan diri masing-masing apabila sex telah berlalu. Saat itulah baru kita sadari bahwa kita tidak saling menyukai benar-benar. Tapi itu lebih baik berlanjut. Selama dua puluh lima tahun.
ISTRI Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku tidak pernah menyukai kau.
SUAMI Tidak. Tapi aku merasakan tanda-tandanya.
ISTRI Kau mengkhayalkan sesuatu. (MELIHAT PADA ARLOJINYA) tak ada gunanya menelpon lagi. Terlalu malam. Makan di sini saja. Seadanya.
SUAMI (MULAI MENGUMPULKAN CANGKIR DAN PISIN DI MEJA) ya.
ISTRI Aku tidak masak. Tapi masih bisa bikin nasi goreng.
SUAMI Baik.
ISTRI Apa yang kau kerjakan dengan baki itu?
SUAMI Kukira aku akan mencuci cangkir-cangkir ini.
ISTRI Mengapa?
SUAMI Karena aku benci padamu, sayang. (HENING)
ISTRI Nanti aku yang mengelapnya.
TERDENGAR BUNYI JAM DINDING DEPAN, LAMPU FADE OUT |