PERKAWINAN PERAK PDF Print E-mail
Written by redaksi   
Selasa, 14 Desember 2010 17:32
SUAMI

Tidak ada alasan. Tidak, aku hanya berpikir, mungkin karena kesana kau akan…

ISTRI
Aku sudah berdandan.

SUAMI
Tentu. Tentu. Akan segera kutelpon mereka, sayang. Mereka dengan mudah dapat menukar waktunya.

ISTRI
Kau tak ingin pergi? Kita dapat buka kartu kukira.

SUAMI
Aku hanya berpikir… duduk-duduk menunggu, bisa menghabiskan kesabaran (HENING) maksudku seseorang jadi tak mau mengerjakannya. Segalanya berantakan dan
terburu-buru. Jika saja kesempatan ini tidak istimewa, tak ada harganya dilakukan. (HENING) tolol aku ini. (HENING) kau tak menggunakan poci yang biasa.

ISTRI
Di dapur.

SUAMI
Oh, entahlah. Barang-barang dibeli buat dipakai bukan?

ISTRI
Kita menggunakannya.

SUAMI
Poci perak buatan Yogya, seharusnya yang begini ada di dalam istana-istana atau hotel kelas satu. Maksudku tempatnya kurang cocok. Ini lebih seperti orang tolol, menggunakan poci perak sekedar untuk kenang-kenangan. Aku agak menyukai idenya. (HENING) nah, akan kutelpon restoran.

ISTRI
Berhentillah memperolokan aku, mas.

SUAMI
Apa yang membuat kau…

ISTRI
Sejak kau masuk, kau sudah berdalih dengan berbagai alasan. Mencoba supaya aku bicara bahwa aku tidak peduli duduk menunggu disini setelah berdandan, dan tak tahu apa yang terjadi dengan kau. Baiklah. Kukatakan padamu mas. Aku tahu kau tak memperbaikinya. Aku tak menyalahkan kau. Maka bergantilah dan telpon restoran.

SUAMI
Yah, tentunya kau kesal sekali. (ISTRI MEMANDANG TAJAM) harusnya aku menelpon. Sayang, jika saja aku bisa. Aku telah terlambat. Itu rapat dewan direksi, kau tahu. Orang dari seksi-seksi harus ada di sana. Seluruh staf dan pucuk pimpinan. Dan sialnya si Hasan Yamin kena flu Hongkong, aku harus mewakilinya. Kulakukan apa yang dapat kulakukan. Aku menyusun laporan singkat, dengan menghindarkan timbulnya diskusi. Dan kemudian, kesempatan ketika seksi produksi telah selesai, aku minta maaf dan meninggalkan rapat. Aku sampai berlari-lari menuju mobil.

ISTRI
Kau tak boleh berlari-lari, dokter mengatakannya.

SUAMI
Aku belum tahu apa keputusan rapat.

ISTRI
Tak seorang pun yang mengharuskan kau tahu.

SUAMI
Yah, tentu saja aku tahu bahwa akan ada rapat. Aku tahu bahwa akan ada rapat direksi hari ini, aku tak mau mengatakannya kepada kau, takut akan mengecewakanmu.

ISTRI
Terima kasih

SUAMI
Aku tak mau membuat kau khawatir

ISTRI
Bahwa Hasan Yamin akan sakit.

SUAMI
Yamin

ISTRI
Kemarin ia tidak datang. Kau mengatakannya.

SUAMI
Seharusnya ia sudah masuk

ISTRI
Apa boleh buat mas, berpakaianlah. Aku akan menelpon.

SUAMI
Salahnya ialah aku tidak melihat agenda sampai pagi ini. (DARI SAKUNYA MENGELUARKAN AGENDA) nah lihatlah, aku membawanya. Membawanya pulang, sebagai semacam bukti alibi bagimu, jika kau tidak percaya. Kupikir kau akan kecewa. Itulah yang kutakutkan. (MEMPERLIHATKAN) nah, seksi produksi sudah berakhir.

ISTRI
Tak dapatkah mereka merubahnya?

SUAMI
Merubah apa?

ISTRI
Menukar ordernya. Maksudku, menggeser waktunya.

SUAMI
Ya, sukar.

ISTRI
Mengapa tidak?

SUAMI
Kupikir orang tak akan melakukannya, sayang.

ISTRI
Maksudku orang tak pernah merubah order di agenda? Aku tak melihat alasan mengapa tak bisa begitu.

SUAMI
Oh, ada juga mereka merubah ordernya. Kuingat ada hal-hal yang diluar dugaan, yang bisa mempengaruhi jalannya perusahaan, atau jika seseorang…

ISTRI
(MEMOTONG) harus pergi duluan karena ada keperluan…

SUAMI
Mungkin ia dapat dirubah.

ISTRI
Katamu bisa.

SUAMI
Sewaktu-waktu, bukan kebiasaan.

ISTRI
Mengapa tidak dirubah?

SUAMI
Sewaktu-waktu. Orang tidak bisa memutuskannya sendirian.

ISTRI
Maksudmu, kau yang tidak?

SUAMI
Seseorang tidak bisa merubah keputusan dewan direksi. Agenda hanya untuk…

ISTRI
Untuk peringatan hari pernikahan perak seseorang (HENING) kau juga seorang junior kan? Mereka akan memakluminya.

SUAMI
Susah jadi junior itu, sayang. Kukira kau dapat memaklumi kedudukanku.

ISTRI
Kau punya dua cara dalam menyebut aku sayang. Pertama jika kau hendak menyakiti hatiku, kedua jika kau merangkak-rangkak minta sesuatu. Ketika kau datang tadi yang kedua. Kini yang pertama.

SUAMI
Aku tidak bermaksud menyakitimu. Bagaimanapun aku tak bermaksud menyerang kau.

ISTRI
Terima kasih

SUAMI
Janganlah menyerangku melalui tugasku. Aku bukannya junior. Aku belum pula jadi kepala seksi. Sekalipun aku akan, jika…

ISTRI
Jika Hasan Yamin mati terkena influenza Hongkong.

SUAMI
Yamin.

ISTRI
Yamin.

SUAMI
Kami melaksanakan tugas-tugas penting.

ISTRI
Dan tinggal di pinggiran Pasar Minggu.

SUAMI
Apa?

ISTRI
Tugas yang kau lakukan begitu pentingnya, hingga kita harus tinggal di rumah semi permanen, di Pasar Minggu. Dan jika kita ingin membeli poci teh perak untuk sekedar
memperingati perkawinan perak kita, aku harus membayar setengahnya dengan uang tabunganku sendiri.

SUAMI
Ini keterlaluan. Aku tak mendengar obrolan begitu.

ISTRI
Aku tidak mengobrol. Aku hanya tidak tahu apa sebabnya kau tidak merubah agenda, hanya itu. Petang tadi aku bekerja di Panti asuhan, dan pada jam 4.30 aku bicara dengan Ibu Tri.

SUAMI
Itu tidak sama. Kau mengatur waktumu sendiri dalam yayasan.

ISTRI
Sekalipun itu pekerjaan juga? Pekerjaan yang bernilai? Kau pikir menolong orang bukan pekerjaan?

SUAMI
(MELEDAK) Bukan itu soalnya. (MENGUASAI DIRI) Aku menyesal. Tapi bukan itu soalnya, sayang. Jika saja kau hentikan interogasi ini dan dengarkanlah kata-kataku.

ISTRI
Interogasi kau yang memulainya. Aku tidak menginterogasimu. Aku hanya sedang bersiap-siap memberikan kesadaran akan tanggung jawabmu.

SUAMI
Tak ada yang kau lakukan selain menyelidiku, sejak aku memasuki pintu itu.

ISTRI
Kau sendiri yang mengatakan padaku, bahwa kau membawa agenda buat diperlihatkan padaku.

SUAMI
Hei, kita ini kan lagi membicarakan suatu perayaan, sayang. Jangan kita rusak suasananya. Mari kita hadapi.

ISTRI
Kau katakan begitu?

SUAMI
Apa?

ISTRI
Kita lagi merencanakan suatu perayaan. Begitu kau katakan padaku? Lihatlah aku? Tidak lagi sedang merencanakannya, tapi sudah berjam-jam duduk disini, sudah
berdandan…

SUAMI
Seharusnya kau berdandan tidak terlalu pagi, sayang.

ISTRI
Berdandan itu makan waktu lama, kau tahu.

SUAMI
Istriku sayang.

ISTRI
Jangan panggil aku istriku sayang.

SUAMI
Keparat, ini hari perkawinan perak kita.

ISTRI
Nah, teruskan, teruskan. Telpon restoran Queen. Berdandanlah. Kita akan pergi. Mengapa tidak?

SUAMI
Ya Allah!

ISTRI
Nah, kau mau mengatakan apa?

SUAMI
Aku mau kau…

ISTRI
Kau mau aku pergi makan malam, seakan-akan tak ada sesuatu yang terjadi. Nah, baiklah, kita akan makan malam. Aku telah mendapatkan caramu.

SUAMI
Tak banyak yang dapat kita makan, jika kau terus membubuhinya dengan sumpah serapah. Makan-makan itu tidak akan terasa enak. Malahan akan menjadi asam kecut dalam perutmu.

ISTRI
Ada cara yang sederhana untuk mengatasinya, kan? Jangan bikin aku kecewa dan aku takkan bersungut-sungut. Jika kita telah merencanakan untuk merayakan Perkawinan Perak kita…

SUAMI
Oh dik…

ISTRI
Dan kau telah berjanji akan segera pulang…

SUAMI
Telah kucoba, telah kucoba…

ISTRI
Mengapa harus mengikuti rapat segala…

SUAMI
Aku harus menghadirinya. Telah kukatakan, tak ada orang lain untuk mewakili seksi produksi. Itu rapat yang sangat penting, rapat direksi.

ISTRI
Jangan jejali aku dengan kata-kata direksi. Aku mual mendengarnya. Aku mual dengan direksimu dan tugas-tugas pentingmu. Kau tidak berkoar-koar dengan ambisi yang sesungguhnya, dan kau menutupinya dengan berpura-pura.

SUAMI
Ada yang lebih baik daripada hanya ambisi.

ISTRI
Misalnya?

SUAMI
Kepuasan. Kulakukan tugas serius dalam cara yang serius. Itu pekerjaan berharga, berbudaya. Ia menuntut kemampuan yang khusus, menuntut perhatianku yang penuh. Aku tak mau ikut-ikutan perlombaan tikus mengejar…

ISTRI
Oh, pertandingan tikus…

SUAMI
Aku percaya, aku percaya bahwa untuk menjadi puas dalam cara…

ISTRI
Puas!

SUAMI
Dalam tugasku! Dalam tugasku!

ISTRI
Jangan berteriak! Jangan bicara begitu kepadaku.

SUAMI
Aku tak pernah berpura-pura puas dalam rumahku.

ISTRI
Dinding-dinding  rumah saksinya.

SUAMI
Dalam kantor, aku punya kedudukan, aku dihormati.

ISTRI
Tapi tak cukup mampu untuk bisa merubah order dalam agenda. Supaya kau dapat pulang pada waktunya, supaya dapat merayakan perkawinan perak bersama isterimu.

SUAMI
Jangan memepetkan aku sayang

ISTRI
Kau masih memanggil aku sayang?

SUAMI
Kataku, Jangan memepetkan aku.

ISTRI
Mengapa jangan?

SUAMI
Ada waktunya buat mengobrol… pada kesempatan…

ISTRI
Ya?

SUAMI
Ada waktunya buat mengobrol akan jadi jemu.

ISTRI
Mengapa?

SUAMI
Bahkan dalam suatu perkawinan, kita tahu ini, sayang. Kita mengetahuinya sejak lama. Bahkan dalam perkawinan ada sikap diam yang penting. Mau terikat bukanlah halangan jika perkawinan dijunjung tinggi.

ISTRI
Tapi kita menjunjung tinggi perkawinan kita, mas. Dua puluh lima tahun kita telah menjunjungnya. Tak boleh kita punya maksud buat menghancurkannya.  Setelah dua puluh lima tahun kawin kemana kita akan pergi? Bagaimana kita akan hidup? Aku kira tak perlu lagi ada sikap diam itu lagi.

SUAMI
Seseorang selalu memerlukannya. Jika ada yang menyakitkan.

ISTRI
Ya?

SUAMI
Akan tertekan…

ISTRI
Tapi kesakitan telah berlalu. Tidak ada lagi kini. Kau berpikir tentang merubah agenda, dan kau tak melakukannya, begitu kan?

SUAMI
Mungkin.

ISTRI
Kau bisa mengangkat telpon, dan bicara pada sekretarismu untuk melaksanakannya.

SUAMI
Bisa jadi.

ISTRI
Karena kau belum lagi junior, suamiku. Kau belum jadi seseorang. Katamu kau adalah orang yang punya kedudukan dan dihormati sebagai staf.

SUAMI
Jika kau menganggapnya begitu.

ISTRI
Tapi kau tak mengangkat telpon.

SUAMI
Tidak.

ISTRI
Kau memang ingin supaya terlambat. Kau hendak merusak kita.

SUAMI
Tidak kusadari.

ISTRI
Tidak sadar?

SUAMI
Mungkin.

ISTRI
Nah, sekarang kau sedang sadar. Baik, tak apa-apa kau terlambat, baiklah, kau sudah merusak hari peringatan ini, tapi jika ditanyakan mengapa, apakah aku harus bersikap diam saja, pura-pura memakluminya?

SUAMI
Tanpa kusadari aku mungkin… merasa enggan.

ISTRI
Aku mau tahu, mengapa?

SUAMI
Apanya yang harus diperingati? (HENING)

ISTRI
Kau tahu apa.

SUAMI
Apanya yang harus kita peringati?

ISTRI
Dua puluh lima tahun. Kita telah bersama-sama dua puluh lima tahun lamanya. Itu suatu prestasi yang luar biasa. (SUARA OLOK-OLOK DARI SANG SUAMI) apakah bagimu itu mudah menghadapinya? Bagiku sukar sekali.

SUAMI
Ya. Memang mudah. Sekalipun tidak selalu menyenangkan. Tapi mudah saja. Lihatlah. Sudah dua puluh lima tahun kita berbuat yang paling mudah dilakukan. Ketika kita masih berpacaran, setiap orang yang kita kenal mengharapkan kita jadi kawin. Bagiku juga lebih mudah untuk berharap. Bagimu sendiri tentu lebih mudah untuk menerima lamaranku daripada jika aku tidak melakukannya.

ISTRI
Aku tidak akan menerimanya, jika saja aku…

SUAMI
Mencintai aku?

ISTRI
Menyukaimu. Aku menyukaimu.

SUAMI
Lalu anak-anak. (IA MEMBUANG MUKA) Jika kita benar-benar menghendakinya, kita bisa mengangkatnya seorang. Pikirlah. Kau tak menghendakinya, demikian juga aku. Itu lebih praktis.

ISTRI
Aku selalu menyukai kanak-kanak.

SUAMI
Seperti kau menyukai aku. Tapi lebih mudah bekerja di panti asuhan daripada mempunyai anak. Kau akan mendapatkan kesibukan, dan aku dengan tugasku. Dan yang paling mudah adalah kita bisa pergi sepanjang hari dan pulang di malam hari, tanpa suatupun yang harus dirisaukan.

ISTRI
Kukira kau akan mengatakan mengapa kau merusak rencana perayaan kita.

SUAMI
Telah kukatakan. Karena tak ada yang sesuatu yang harus diperingati.

ISTRI
Kita telah kawin. Dan masih kawin. Itulah soalnya.

SUAMI
Tidak cukup.

ISTRI
Kau tak bermaksud mengatakan bahwa kau tak pernah merasa bahagia?

SUAMI
Pikirlah. Kapan kita merasakan benar-benar berbahagia?

ISTRI
Kita merasa bahagia pada saat permulaan umpamanya.

SUAMI
Ya. Itu mudah saja. Sex membuat segalanya mudah.

ISTRI
Itu murahan.

SUAMI
Tidak. Itu betul.

ISTRI
Kita bukan anak muda lagi. Kau bicara seakan-akan kita ini tak tahu apa-apa.

SUAMI
Tidak. Kita memiliki pengetahuan teori yang luas. Kita orang progresif dan praktis, dan kita tak bermaksud jadi sengsara karena kita tahu membaca buku-buku. Dan demi Tuhan, kita pun cukup berpengalaman. Jika kita menghendaki soal sex, kita bisa menghadapinya dari segi yang indah, dan kita bisa berbuat sesuai dengan kemauan kita, karena kita menikah.

ISTRI
Oh mas!

SUAMI
Adalah hal yang mengagumkan, bahwa kita tidak pernah menyadari ataupun berpikir rendah. Semua buku-buku mengatakan, bahwa kita akan menemukan diri kita sendiri, itulah istilah yang langka digunakan. Hal ini membuat aku menjadi seakan-akan seorang pelaut, di tengah samudera. Tapi kita tidak pernah menemukan diri kita masing-masing. Kita hanya bisa mengerti betapa indahnya sex itu, jika kita dengan heran menakutinya, dan kita hanya menemukan diri masing-masing apabila sex telah berlalu. Saat itulah baru kita sadari bahwa kita tidak saling menyukai benar-benar. Tapi itu lebih baik berlanjut. Selama dua puluh lima tahun.

ISTRI
Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku tidak pernah menyukai kau.

SUAMI
Tidak. Tapi aku merasakan tanda-tandanya.

ISTRI
Kau mengkhayalkan sesuatu. (MELIHAT PADA ARLOJINYA) tak ada gunanya menelpon lagi. Terlalu malam. Makan di sini saja. Seadanya.

SUAMI
(MULAI MENGUMPULKAN CANGKIR DAN PISIN DI MEJA) ya.

ISTRI
Aku tidak masak. Tapi masih bisa bikin nasi goreng.

SUAMI
Baik.

ISTRI
Apa yang kau kerjakan dengan baki itu?

SUAMI
Kukira aku akan mencuci cangkir-cangkir ini.

ISTRI
Mengapa?

SUAMI
Karena aku benci padamu, sayang. (HENING)

ISTRI
Nanti aku yang mengelapnya.

TERDENGAR BUNYI JAM DINDING DEPAN, LAMPU FADE OUT