|
15 November 2005.
Novel
MARI MENARI
kisah sepertemuan tentang orang-orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri.
Benny Benke
I
I. Luka
2002, dan terus berjalan.
INI bukan kehilangan pertama bagi Luka sejak Ratna, penghuni rumah hati yang menyemarakkan rumah kehidupannya, memilih ‘keluar rumah’ untuk berbahtera dengan laki-laki lain. Yang sejatinya tidak lagi menjadi pilihan hatinya, atas nama desakan keadaan, nasib, misteri, kebodohan atau apa pun namanya yang tidak lagi mendukungnya untuk mengambil sebuah tindakan bebas, dan berpikir merdeka. Dan Ratna, terlebih Luka, tidak mampu berbuat apa-apa karena kuatnya desakan itu, kecuali membekuk egonya demi menyelamatkan selembar nyawa.
Hari-hari selanjutnya yang dia lewati, tak lebih dan tak kurang sangat dekat dengan kekalangkabutan. Meski terdengar naif dan bodoh, namun nyatanya, kehilangan Ratna, bagi Luka adalah bukan ihwal yang gampang. Lantaran Luka tidak mau kalah oleh cinta, akibatnya, meski harus menanggungkan deraan lara, dia memilih untuk tetap berani membayar dengan menghadapi, melewati bahkan menaklukkannya.
Entah apa yang dirasakan Ratna, karena setelah peristiwa itu, tidak ada lagi sapa diantara hati mereka. Meski terkadang lewat mimpi Luka bersua Ratna, tanpa kata. Entah dengan mimpi Ratna. Apakah ia merasakan hal yang sama sebagaimana yang dirasa dan impikan Luka?.
24 purnama sebelumnya, Luka juga pernah kehilangan istrinya, atas nama desakan keadaan, nasib, misteri, kebodohan, atau apa pun namanya yang lagi-lagi tidak berpihak di sisinya.
Meski toh akhirnya dia bisa menghadapi dan melewati keduanya.
Namun, kali ini. Kehilangan kali ini lebih tidak terperikan payahnya. Kehilangan gairah untuk memberdayakan hari dan merayakan hidup adalah sebuah kehilangan yang melebihi kematian itu sendiri.
Kesepian memang tidak mengenakkan. Namun, bukankah Luka sudah terlatih, terbiasa serta tertempa oleh penderitaan. Bahkan hampir dapat dikatakan dia akrab dan bersobat karib dengan hampir semua ketidakenakan dalam hidup.
Coba, sebutkan berbagai macam kata yang mewakilkan ketidaknyaman. Dari kesendirian, kesepian, keterasingan, kemonotonan, kebosanan, kekurangan, ketertekanan, ketumpulan, kebodohan, kesalahpahaman dan kesalahkaprahan sudah teramat sering berseiring dengan kesehariannya. Jadi, apa yang aneh dengan ketidaknyamanan dalam hidupnya? Bukankan Luka sejatinya sudah terlatih dengan lara lapa hidup. Lalu, mengapa mesti masih ada keluhan?
‘’Semakin aku mampu, bisa apalagi kuat menghadapi sebuah permasalahan atau perkara yang dicobakan kepadaku, maka akan datang kelanjutan perkara berikutnya. Demikian seterusnya. Seakan tidak akan pernah ada habisnya menyapa dan merongrongku,’’ tulisnya lewat coretan dalam buku harian yang tidak melulu saban hari disambangi.
‘’Bahkan pernah, seakan aku merasa nasib berlomba dengan ketahanan tubuh, dan jiwaku dalam menerima, mengolah, dan mencerna segala yang diberikannya kepadaku,’’ imbuhnya.
Memang, Luka pernah beberapa kali bertutur lewat skenario, prosa, aforisme, naskah drama, lirik lagu dan sajak tentu saja. Perihal ketahanan tubuh, dan jiwanya yang cenderung mampu menerima diperlakukan apa saja oleh keadaan. Namun, semakin dia mampu berkawan dan berprasangka baik dengan keadaan, semakin tidak karuan dan seenaknya keadaan memperlakukannya. Huh...
Huh, yang diberikan Luka tentu saja sebuah candaan dan kelakar untuk tetap membesarkan hatinya. Itu hanya siasat belaka. Karena Luka juga kerap mengklaim, bahwa semakin dekat dia dengan segala jenis penderitaan, maka, semakin dapat ia merasakan betapa masih beruntungnya dia....
Mengapa demikian?
Inilah senukil kisahnya.
MALAM belum benar-benar sempurna, masih terlalu muda, bintangnya bahkan belum hadir semuanya ketika Luka memutuskan pulang ke rumah, seorang diri. Malam memang masih pagi, karena remaja putra-putri yang berpasangan dan sedang kepayang asmara bahkan baru saja menginjakkan kakinya di aspal jalan raya. Bahkan rumah hiburan yang menyajikan berbagai musik hidup pun, baru saja memainkan lagu perdana, dari jadwal hingga jam 2 dini hari atau bahkan lebih, sebagaimana galibnya.
Luka memang sangat biasa, dan bisa sekali menghadirkan serta mewarnai hidupnya sebagaimana malam Minggu itu. Tapi, buat dia, buat laki-laki yang telah melewati usia kepala tiga, sudah terlalu lelah hanya menjadi saksi malam dengan berbagai macam tawaran keceriaannya. Tataran Luka sepatutnya mungkin sudah lebih dari itu. Lebih dari sekedar kepayang kepada asmara, eloknya malam Minggu atau bergandengan tangan dengan orang yang disayang, dan menyayang.
‘’Aku sering bingung dengan apa yang sebenarnya aku mau’’, ujarnya lirih kepada igau, yang tentu saja bisu sampai kapan pun. Hanya lamun yang ia bawa. Dalam beberapa perkara memang aneh pikiran Luka. ‘’Karena memang aku tidak akan pernah mampu mendiskripsikan bagaimana jalan pikiran dan hidupku pada akhirnya?’’.
Kalau untuk masalah itu, semua orang pasti akan bersepakat dengan dirinya. ‘’Tapi, paling tidak, aku tidak akan menyerah begitu saja. Menyerah pada penderitaan yang siap menelikung kapan saja, dan ada di mana saja tanpa kita tahu dan mau, sama saja artinya menyerah di medan laga, bahkan sebelum genderang peperangan ditabuh. Aku berpantang untuk itu. Menyerah sebelum benar-benar kalah’’.
Benar, meski terdengar naif, bodoh dan menggelikan, nyatanya anak muda ini memang belum selesai berperkara dengan dirinya sendiri. Dengan nasibnya, dengan segala kegelisahannya, atau apapun itu namanya. Jadi, maklum saja jika dia berperangai seperti anak kemarin sore yang baru bersua perkara, dan petaka. Kemudian kerepotan menyiasatinya.
Ya, bagi Luka dalam banyak hal Kehidupan akan mencandainya dengan berbagai macam cara, bahkan lewat tragedi yang paling tidak ternalarkan oleh akal cerdik manusia yang paling cendikia, hingga hati yang paling religius sekalipun.
Siapa yang sanggup menjabarkan dengan baik, benar, nalar dan bijak apa yang terjadi dengan kemiskinan, pemiskinan, dan pemelaratan dunia ketiga oleh negara Adi Daya, dan peristiwa tsunami yang menghantam sebagian wilayah Asia Tenggara serta Aceh misalnya. Atau berbagai peristiwa bencana entah apa lagi nanti yang akan semakin akrab, dan dekat dengan kehidupan kita?
Oleh karenanya Luka menginginkan sesuatu yang lain, sesuatu yang mampu memacu adrenalinnya berpacu, bergejolak, berderak, bergerak sekaligus berarak. Dan itu, klaimnya, datangnya dari sebuah perkara bernama perkawinan. Perkawinan? Ya, menjadi pengantin adalah keinginan terbesarnnya saat ini. Di tengah kekurangmampuan mengelola emosi, ketidakcukupan finansial, kestandaran moralitas, kedangkalan religiusitas, dan kepas-pasan intelektualitas. Menjadi pengantin adalah sebuah keyakinan yang dia klaim justru mampu membuatnya merangsang pertumbuhan dan mengasah kekurangannya akan moralitas, religiusitas, intelektualitas dan capaian finansial.
Mengapa bisa demikian?
Inilah kisahnya.
Maka berbicaralah Luka tentang pernikahan.....
DULU, dulu sekali, ketika masa remaja sedang polos-polosnya, cemerlang dan kejayaan berada di genggamannya, di benak Luka hanya ada satu cita penuh asa; menemukan dan ditemukan oleh perempuan yang memang benar-benar menjadi penghuni dan penyempurna rumah hatinya.
Dalam perkara ini, sindrom roman picisan perihal pangeran dan putri yang saling berbagi, mengasihi, melindungi, dan menghormati memang mengental di isi batok kepalanya. Maklum, segala pengaruh yang datang dari bacaan, tontonan dan perbincangan perihal ‘’pasangan hati abadi yang bahkan mati pun tidak akan pernah bisa memisahkan cinta sejati, ‘’ adalah sebuah pencapaian ideal yang nyaris hampir semua anak muda pada masa itu mengidamkannya. Meski terdengar kuno, picisan dan membikin kita geli, nyatanya Luka hanyalah salah satu dari ribuan pemuda-pemudi yang berpikiran serupa.
Semudah itukah apa yang ada di benak Luka direalisasikan dalam kesehariannya?
‘’Tidak semua yang aku inginkan berbanding lurus dengan yang aku dapatkan. Justru, sering berseberangan bahkan berbanding terbalik dengan apa yang aku idamkan. Kata orang tua, inilah yang namanya hidup. Kau atau siapapun tidak akan pernah dapat menawar-nawar bagian mana yang semestinya kau terima atau tidak. Kita hanya mampu menerima dalam ‘bentuk jadi’. Meski tentu saja kita tetap harus dan terus mengupayakan dengan keras kemauan kita. Entah sampai kapan,’’ tulisnya pada sebuah aforisme. Tu kan, super klise lagi....
‘’Tapi sebenarnya aku juga kerap melakukan beberapa kekeliruan yang mendasar perihal perempuan,’’ ujar Luka kepadaku.
‘’Yang bagian mana itu,’’ tanyaku pada sebuah perbincangan di bawah tikungan malam.
‘’Ketika sebenarnya aku pernah menemukan seorang perempuan yang benar-benar menyayangiku, tapi aku tidak begitu tahu benar bagaimana caranya memperlakukan rasa sayang itu dengan baik dan sepatutnya. Hingga pada akhirnya, sebagaimana cerita lawas, aku baru menyadarinya ketika dia sudah pergi dari sini,’’ imbuhnya yang terlihat mencoba menata hati.
‘’Mengapa tidak kau ulang, atau paling tidak kau cari lagi ke mana perempuan itu pergi?’’
‘’Keadaan telah banyak berubah, waktu tidak selamanya berpihak di sisimu. Siapa yang tahu perasaan manusia, ketika waktu sudah demikian panjang meninggalkan kita’’.
‘’Kau belum mencobanya’’.
‘’Entahlah, aku tidak ingin saja’’.
‘’Kau lebih suka berprasangka buruk dengan keadaan dan dirimu sendiri’’.
‘’Mungkin. Tapi memang demikian yang aku rasakan’’.
‘’Kau seharusnya mencoba lagi, betapapun keras dan berat resikonya, jika ingin benar-benar mewujudkan apa yang kau inginkan. Bukankan kau tahu benar tentang hal itu. Kau sendiri yang sering mengatakan tentang hal itu padaku. Jangan sok lupa dengan sesuatu yang kau sendiri sangat meyakininya,’’ cecarku kepadanya.
‘’....’’
‘’Mengapa kau hanya diam’’.
‘’Aku sedang berpikir’’.
‘’Kau sudah terlalu kerap dan lama untuk berpikir. Bertindaklah, bergeraklah, berbuatlah, apa pun itu,’’ kataku menasihatinya, layaknya orang tua kepada anak-anaknya.
‘’Sok tua kamu...Tau apa kamu tentang perasaan orang lain,’’ tangkisnya datar.
KAMI memang kerap berbantahan dengan semangat kekeluargaan, sampai semangat permusuhan sekalipun. Tidak ada yang tersinggung diantara kami. Karena, bagi kami berdua, ketersinggungan hanya sebuah kesia-siaan dari sebuah kehidupan yang lebih indah jika dimaknai dengan hal-hal yang lebih indah; cengengesan misalnya.
Cengengesan dalam bahasa Jawa berarti mringis tapi seneng. Bagaimana aku harus mengalihbahasakannya ke dalam bahasa Indonesia, yang sebenarnya sangat mudah dan gampang menyerap bahasa dari akar kebudayaan bahasa mana pun. Ah, kalian pasti tahu apa itu cengengesan...Ya itu tadi, alih-alih mengisi kehidupan dengan ketersinggungan, saya dan Luka lebih suka mengisinya dengan cengengesan...
Pernah, sebuah kehilangan yang sangat terhadap sebuah kehidupan hanya kami wakilkan dengan sebuah cengengesan. Kesedihan memang sepantasnya hadir pada saat itu, tapi dengan sadar dan sengaja tidak kami perkenankan serta.
‘’Teman kita, Kala, meninggal tadi malam, padahal siang dan sore harinya almarhum berbaku ejek denganku’’, ujar Luka memberitahukan wafatnya Kala kepadaku, yang setengahnya aku juga tidak percaya dengan kepergiannya yang serba mendadak. Mendadak mati!
‘’Iya, sialan memang dia, mau pergi nggak ngasih tau!’’.
‘’Iya, padahal almarhum tidak suka menelikung sepanjang hayatnya. Kok sekarang tiba-tiba dia, dalam hitungan kedip, pergi begitu saja tanpa sebuah kata pamit. Nggak sopan memang dia...Nggak pantes orang seperti itu dijadikan temen’’.
Demikianlah kami menertawai kepergian seorang kawan, tanpa harus menghilangkan simbol-simbol penghormatan terhadap orang yang sudah meninggal.
Antara aku dan Luka sebenarnya memang dekat, meski sebenarnya tentu saja tidak semua hal kami ceritakan. Sebagaimana hampir semua orang juga maklum, sedekat-dekatnya kami, sedekat-dekatnya sebuah perkawanan, tetap ada hal-hal yang diperuntukkan untuk dirinya sendiri.
Seterbuka sebuah perkawanan, atau seterbukanya seorang pribadi tetap ada sebuah rahasia yang tersimpan rapi untuk dirinya sendiri. Tidak juga untuk orang yang sangat, atau paling dipercayainya sekalipun.
Apakah kau, Anda, tuan dan puan adalah salah satu orang yang senantiasa menuturkan apa yang kau, Anda, tuan dan puan alami, dan rasakan kepada orang lain selain dirimu sendiri? Aku pikir tidak akan pernah ada orang yang benar-benar seperti itu.
‘’Pernah aku sangat terbuka kepada orang yang paling aku sayangi dan dia tentu saja menyayangiku,’’ kisah Luka kepadaku.
‘’Lantas, apa yang terjadi?’’
‘’Ketika hubungan kami berakhir, masing-masing dari kami memang menyimpan rapi sekali rahasia antarkami berdua. Dan, hanya kami berdua yang tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan diri kami’’.
‘’Ah, kau terlalu berlebihan. Menurutku tidak ada orang yang benar-benar tahu apa yang terjadi dengan dirinya sendiri,’’ sanggahku cepat.
‘’Paling tidak, kalu tidak mencapai angka 100 persen, aku mendekati capaian angka 75 persenlah,’’ tangkisnya.
‘’Aku juga tidak pernah tahu pasti dengan kehidupanku kok’’.
‘’Aku tahu itu sejak awal kenal denganmu. Kau bahkan tidak begitu peduli dengan apa yang terjadi dengan dirimu bukan? Selama kau bisa cengengesan seperti biasanya’’.
‘’Kau tahu jawabannya kan..’’
Dan kami berdua cengengesan lagi, nyengir, tertawa pelan.
PERNAH, pada sebuah masa aku kehilangan anak semata wayangku yang sedang lucu-lucunya. Umurnya belum genap empat tahun. Dia bocah laki-laki yang sedang di puncak nakal-nakalnya. Apa pun yang dia lakukan, bahkan yang paling menyebalkan sekalipun, seuntai hardik pun tidak pernah aku layangkan padanya.
Aku malah tertawa-tawa, dan berujar ringan,’’Wah hebat ya. Jagoan ayah memang sangat bisa diandalkan,’’ kataku lirih kepada Tristan, almarhum anakku yang baru saja membanting pistol mainan seharga separoh gaji pokokku sebulan.
Tristan, yang tingginya nyaris 100 cm dan beratnya 20 kg memang matahari kehidupanku, sejak almarhum ibunya mangkat setelah proses persalinannya. Waktu itu, bumi seperti runtuh di mukaku manakala Bianca, istri terkasihku pergi dengan cara memberi sebuah matahari baru. Tak terperikan perihnya ditinggalkan penghuni jiwa, yang baru saja menghadiahkan permata jiwa baru..... Tapi, aku mempunyai tanggung jawab yang lebih besar untuk membesarkan anakku, daripada terus-terusan menangisi kepergian istriku, yang juga membawa serta separuh nyawaku bersama kepergiannya.
Namun, apa boleh buat, belum empat tahun keadaan membesarkan hatiku, dengan kehadiran Tristan yang menyinari keseharianku, maut seperti pemain bola yang bergerak tanpa pola, bertindak dan berkehendak lain. Demam berdarah tanpa permisi menghajarnya tanpa ampun. Demam panasnya tinggi sekali, melebihi ukuran normal, dan trombositnya, ya ampun..., sudah nyaris habis digerus parasit nyamuk aedes aegepty. Dokter tidak mampu berbuat apa-apa kecuali hanya berujar ringan,’’Kami sudah berusaha sebaik mungkin’’. Dan, yang paling menjengkelkan pihak rumah sakit berdalih, ’’Andai saja anak bapak dibawa ke rumah sakit lebih cepat, tentu akan lain ceritanya’’.
Olala, siapa yang tahu usia dan ajal seseorang. Hampir saja dokter dan seisi rumah sakit itu aku bakar dengan segala amarah dan angkaraku. Tapi para sekuriti rumah sakit yang berjumlah lebih dari enam orang berperawakan kiyeng dan sekel, dengan sigap menyergapku. Yang lebih untung lagi, adzan magrib berkumandang, dan Luka membisikkan istigfar di telingaku. Maka, untuk sementara aku mampu menenangkan lagi emosi. Merehatkannya di ruang hatiku entah di sebelah mana.
Siapa yang tidak mengangkasakan angkara jika si ranum buah hati, dan matahari kecilnya pergi meninggalkannya selamanya. Pekikan, teriakan, kegaduhan, keonaran, dan kerusuhan yang biasanya ditimbulkan Tristan tiba-tiba, dalam hitungan jenak, hilang entah ke mana. Anak nakal itu telah pergi meninggalkan ayahnya, yang sejatinya hanya menyandarkan hidup di dunia ini hanya untuk, dan demi dirinya seorang. Setelah istriku pergi, kini giliran anakku mati. Dan aku, sendiri lagi. Tidak ada yang lebih mengerikan dalam hidup ini kecuali pernah merasakan keceriaan dan keriangan dalam sebuah kebersamaan, namun dalam hitungan detak, raib hanya karena maut tidak pernah permisi datang menghampiri. Layaknya pencuri.
Cukup lama aku mengembalikan kekuatanku untuk kembali menghormati hari. Luka sekali dua datang ke rumah yang sebenarnya ingin aku tinggalkan, karena terlalu banyak menyimpan memori indah yang telah aku lewatkan bersama Bianca dan Tristan.
Luka juga yang sedikit banyak membesarkan hatiku untuk terus dan terus bertahan hidup. Dengan kehati-hatiannya dia mencontohkan betapa tidak terperikannya luka tragedi tsunami yang menghantam beribu-ribu keluarga, dan menghancurkan tatanan kebahagiaan di dalamnya, dalam hitungan detik. Meski ada satu dua orang yang kehilangan kewarasannya, Luka yakin aku tidak akan mengalami hal serupa.
‘’Mosok jagoan seperti kamu mau bunuh diri. Malu kan sama almarhum Bianca dan Tristan,’’ ejeknya kepadaku. Aku hanya tersenyum kecut. Meski senyumku belum bulat benar pada waktu itu.
‘’Ingat,’’ kata Luka,’’Di sana, di alam entah yang di sebelah mana, kedua manusia yang paling kamu cintai dan mencintaimu itu telah padu, dan mereka berdua pasti berharap kamu, orang yang paling dicintainya akan mampu, dan sangat mampu sekali melewati serta menjalani semua ini dengan sangat baik, dan baik sekali. Karena kau adalah orang pilihan yang harus ditimpakan soal-soal pilihan juga,’’ imbuh dia. Untuk pilihan kata di kalimat terakhirnya, kalau aku pikir-pikir kala itu, mujarab juga membesarkan hati. Ya salah satu kelebihan Luka adalah membesarkan hati orang-orang yang ada di sekitarnya. Bahkan, konon, perempuan yang nyata-nyata telah dia kecewakan dan ditinggalkannya karena alasan entah sekalipun, tetap bisa dia besarkan hatinya.
HIDUP memang hanya masalah manajemen membesarkan hati. Demikian aku akhirnya meyakini. Luka pun merasakan hal yang serupa. Betapa tidak, kami berdua adalah berandalan kehidupan dengan pengalaman ditinggalkan kehidupan. Jadi, jika ada yang berani macam-macam dengan kami, tidak ada yang perlu kami takutkan dan khawatirkan. Kecuali kami berhadapan dengan orang-orang yang mempunyai pengalaman kehilangan yang jauh lebih dahsyat. Maka, kami akan berhati-hati, dan sebisa mungkin malah sangat menghormati, dengan menundukkan hati. Dan, jika dimungkinkan, kami akan bercermin atas ketegaran mereka. Siapapun itu. Tidak peduli mahkluk atheis paling kiri jalan terus.
Mengapa sampai pengalaman kehilangan membuat kami cenderung lebih berani menghadapi hidup. Dibandingkan dengan orang kebanyakan yang manis dan lurus-lurus saja jalan hidupnya? Kami tidak tahu pasti apa jawabnya. Yang pasti, karena telah lumayan berpengalaman kehilangan, membuatku dan Luka nothing to lose menghadapi kehidupan ini. La wong kami sudah biasa kehilangan ini!
Bahkan pernah, ada sebuah masa, pada sebuah pengalaman, Luka tiga kali bermasalah dengan Militzie, polisi penjaga Krasnaya Ploshad, Lapangan Merah di Moskwa Rusia, sana. Perihal apa? Karena dia nekat mengambil gambar mouseleum Lenin, yang di sana jelas-jelas terpampang gambar kamera yang disilang. Alih-alih gentar dengan militzie bekas negara tirai besi itu, dia malah cengengesan ketika sang militzie yang enggan menggunakan bahasa Inggris melainkan bahasa ibunya, hendak menahan kamera dan dirinya. Meski akhirnya lolos juga dari sangkaan dan praduga militzie yang sedang gencar-gencarnya mencurigai orang kulit berwarna seperti dirinya - karena bantuan seorang kawan yang mahir berbahasa Rusia - , Luka tetap menganggap peristiwa tadi barang yang biasa-biasa saja.
Tidakkah Luka menyadari, bahwa para militzie mempunyai kewenangan untuk menahan, menangkap, dan mengintograsi siapa saja yang dianggap membahayakan keamanan negara?
‘’Ah, dengan gegap gempitanya perkara hidup aku cenderung berani, mosok hanya dengan militzie aku gentar dibuatnya,’’ tuturnya cengengesan. Terkadang memang sok dia
Benar saja, di dalam komplek Kremlin yang hanya berbatas dengan tembok raksasa dengan Lapangan Merah, Luka malah meminta tolong kepada militzie yang berjaga di sana untuk memotret dirinya dalam sebuah pose di depan genta, dan kanon raksasa, peninggalan masa Perang Dunia I.
‘’Tapi kenapa waktu pada saat kau berada di dalam mouseleum Lenin, dan saat mengadu mata dengan mata terpejamnya jasad Lenin, kau tidak meminta tolong kepada para militzie di sana untuk memotret dirimu dengan almarhum pendiri Rusia Raya?’’ tanyaku menyelidik.
‘’Nekat ada tempat, dan perhitungannya bung,’’ jawab Luka enteng seolah sekenanya.
Memang, sewaktu di dalam mouseleum Lenin, Luka, kisahnya, anteng sebagaimana orang kebanyakan, lantaran memang aturannya baku demikian. Sakelik. Semua orang harus menghormati jasad orang yang sudah mati. Apalagi yang terbaring mati dan kaku ini adalah pendiri dan peletak dasar bangsanya Vladimir Putin.
Luka juga pernah bercerita kepadaku tentang kegilaannya saat baru saja memasuki usia kepemudaan. Waktu itu di Bali, ketika perjalanan pulang dari Denpasar nuju Singaraja lewat Bedugul. Kebetulan tepat tengah malam, dan kabut sedang tebal-tebalnya. Alih-alih menasehati Ponti, kawan baiknya seorang driver ulung, untuk melambatkan laju CJ 7, dia malah memprovokasinya untuk melajukan mobilnya di jalanan menanjak, menikung, dan berliku kemudian menurun itu, dengan kecepatan maksimal.
‘’Aku mengharamkannya menginjak rem. Melambatkan hanya boleh dengan cara mengganti gigi. Dan, sekaligus sebuah larangan baru; dilarang menghidupkan lampu!’’
‘’Kalian pasti celaka pada akhirnya’’.
‘’Nggak, semua baik-baik saja. Meski kami mematikan lampu mobil sekalipun. Betapa tidak, ada atau tidak ada lampu keadaan jalan sama-sama tidak terpantau, karena kabut sedang menghebat. Kami hanya mengandalkan ketajaman pandangan mata, dan insting berkendara di jalan raya, plus bantuan sinar rembulan yang tak seberapa terangnya’’.
Menurut Luka, memang tidak ada yang terluka dengan keenam kawannya yang semobil dengannya. Hanya saja pada tikungan terakhir menjelang Gitgit, sebuah daerah yang masuk wilayah Buleleng, ball joint CJ 7 jebol, dan mobil teronggok di sisi kiri pinggir kebun vanila. Terpaksa, dia bersama kedua sejawatnya yang lain berjalan kaki nuju kota Singaraja yang kira-kira masih berjarak lebih dari 10 km dari Tempat Kejadian Perkara, di tengah malam buta!
‘’Padahal sebuah operasi usus buntu baru saja aku jalani,’’ kenangnya.
Aku juga pernah menyimak kisah dari seorang kawan, Luka pernah ditahan di salah sebuah penjara di wilayah Jakarta Pusat karena sebuah kasus politik. Dia berusaha melompati pagar salah satu kedutaan besar Negara sahabat di jalan Thamrin. ‘’Dalam rangka tuntunan referendum untuk Timor-Timur,’’ katanya. Waktu itu dia tertangkap dan terpaksa diinterogasi lebih dari 24 jam nonstop di sebuah Polsek di Jl. Matraman, sebelum akhirnya dibebaskan setelah International Red Cross menekan Pemerintah Indonesia untuk membebaskannya dengan beberapa kawan lainnya. Permasalahan selesai?
‘’Nggak semudah dan sesederhana itu’’.
Sepulang dari Jakarta, dia yang waktu itu tergabung dengan salah sebuah gerakan mahasiswa yang terhitung radikal pada masanya, melanjutkan aksinya menentang kebijakan Pemerintah di Surakarta. Sebuah kota budaya di Jawa Tengah. Sepulang dari Surakarta, setelah menyaksikan betapa tentara dengan ringan tangan dan kaki menghajar rakyatnya sendiri, karena menuntut perbaikan nasibnya, sebuah berita pemecatan dari almamater menuggu. Oh ya, taukah kau, Anda, tuan dan puan, Luka pada saat aksinya di Solo mempunyai salah satu tugas, diantaranya menjaga keselamatan Widji Tukul dari penangkapan aparat? Widji Tukul? Ya, penyair buruh yang fasih berpekik, ‘’Hanya ada satu kata; Lawan’’ itu? Yang akhirnya hilang atau dihilangkan entah oleh siapa, tapi menurut subyektifitasnya memang sengaja dihilangkan oleh aparat penguasa yang berkuasa pada saat itu.
Di Semarang, di rumah kedua orang tuanya, Bapaknya menekan Luka dengan cara yang lebih santun dan beradab. ‘’Bapak diancam dipensiun percepat, dan kakakmu terancam tidak akan pernah dapat diterima sebagai pegawai negeri. Tidak masalah buat Bapak atas apa yang telah kamu lakukan. Kamu toh bisa menjadi supir taksi untuk menyambung nafkah. Tapi adik-adikmu? ‘’ ujar Bapaknya datar waktu itu.
Gentar atas gertakan keadaan yang menciutkan nyali, serta bayangan pahit yang bakal merundung nasib ketiga adiknya karena bakal diperdaya negara, sejak itu pula, Luka menetapkan diri undur dari dunia politik. Yang pada waktu itu memang mensyaratkannya untuk siap 4B; Buru, Bui, Buang, dan Bunuh. ‘’Pemerintah atau penguasa sangat pengecut sekali. Ketika mereka bermasalah denganku, mereka menghantam keluargaku yang tidak tahu apa. Mereka tidak pernah mempunyai keberanian bersemuka secara langsung denganku, atau persona siapapun yang mempunyai keberanian memperjuangkan hak-hak atas perlakuan tidak adilnya’’ geramnya.
Memang, sejak kapan ada Pemerintahan yang jantan....
Beberapa kawan Luka memang ada yang hilang, atau sengaja dihilangkan sampai sekarang. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaan orang-orang yang mencintai dan dicintai, dari orang-orang yang digelapkan dan dihilangkan kehidupannya dengan paksa itu? Ah, jangankan nasib hidup seseorang, nasib ribuan warga negara Indonesia pada kurun 1965-66, hingga beberapa tahun selanjutnya saja dengan mudah dilenyapkan.
‘’Ah, kau seperti tidak tahu, sejarah panjang bangsa ini saja mampu digelapkan, apalagi hanya nasib ribuan atau bahkan hanya puluhan warga negaranya?’’
Luka masih beruntung dalam hal ini, demikian juga dengan aku. Untuk itulah kami menaruh hormat kepada nasib orang-orang yang dihilangkan secara paksa seperti mereka. Apa pun latar belakang kehidupan, kebudayaan, pandangan politik sampai latar belakang religiusitasnya. Bahkan yang bermusuhan dengan Tuhan sekalipun.
Aku masih bisa mendatangi makam istri dan anakku jika kangen teramat sangat menusuk, merasuk. Aku bisa hanya berdiam diri di pemakaman mereka berdua, terpekur berjam-jam seorang diri, sembari mengenangkan saat-saat kebahagiaan kami. Atau hanya sekedar mengirimkan berkuntum-kuntum doa untuk ketenangan mereka berdua, atau ketenangan diriku sendiri sebenarnya. Atau hanya sekedar menitikkan air mata sebagai tanda rasa ucapan terima kasih atas kesempatan melewati kehidupan bersama.
Sedangkan bagi orang-orang yang tidak tahu ke mana harus menuju makam orang-orang yang dicintainya, ke manakah mereka menaburkan doa? Hanya lewat kekuatan keyakinan dan pautan batin saja. Tentu saja mereka adalah orang-orang pilihan yang mempunyai kekuatan batin yang sangat tidak terkira.
Pernah dalam sebuah kesempatan aku dan Luka menimbang-nimbang jalan hidup kami berdua dengan orang lain.
‘’Tidak adil menimbang nasib kita dengan nasib orang lain’’.
‘’Ya, toh tidak semua orang percaya nasib’’.
‘’Mungkin supaya semarak hidup ini ’’.
‘’Aku kira begitu’’.
‘’Bisa kau bayangkan jika hidup tidak berwarna?’’
‘’Nggak seru’’.
‘’Apalagi jika nggak ada tragedi’’.
‘’Nggak ada suspense’’.
‘’Nggak asyik!’’
‘’Berarti ini adalah yang terbaik?’’
‘’Entahlah. Seharusnya kau tanya kepada orang-orang yang mempunyai kapasitas untuk menjawab pertanyaan itu’’.
‘’Iya sih...’’.
‘’Tapi bukankah setiap orang akan kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya’’.
‘’Pasti’’.
‘’Semua orang juga tahu, hanya jalan, cara dan waktunya saja yang berbeda’’.
‘’Mungkin mulai sekarang kita harus membiasakan diri untuk siap kehilangan orang-orang yang kita cintai’’.
‘’Andai saja sewaktu kita duduk di bangku Sekolah Dasar dulu, mata pelajaran Kehilangan sudah diajarkan, dan diwajibkan. Pasti kita cenderung maklum terhadap sebuah kehilangan, apa pun bentuknya, bukan? Kau tahu generasi sekarang lebih suka membunuh dirinya sendiri hanya karena sebuah kesalahan atau kehilangan kecil, dari pada intropeksi diri untuk sebuah perbaikan?!’’.
‘’Kau berbicara seperti orang yang paling tahu tentang kehilangan. Nanti kau saja yang jadi Kepala Sekolahnya’’.
‘’Aku serius, selama ini orang-orang cenderung mencari sesuatu atas upayanya sendiri, dan tidak semua institusi pendidikan menyediakan jawabnya. Bayangkan, jika Pemerintah mewajibkan setiap warga negaranya mempelajari dan mengamalkan mata pelajaran Kehilangan...pasti beda jadinya’’.
‘’Dengan demikian ketika institusi tertinggi di negara ini, yaitu Pemerintah mempunyai kebijakan untuk menghilangkan kemiskinan lewat penghilangan orang-orang yang ‘sepantasnya’ dihilangkan, atau lawan politik yang berseberangan dengan kebijakan pemegang tampuk pemerintahan, maka warga negara menjadi maklum karenanya?’’
‘’Aku kira tidak seperti itu. Orang bodoh tahu itu namanya persekongkolan dan pembengkokan’’.
‘’Semuanya selalu mempunyai dua sisi sebagaimana mata uang,’’ kataku seolah bersungguh-sungguh padahal standar, super klise.
‘’Oh ya, ngomong-ngomong kamu percaya Tuhan?’’
‘’Nggak, aku percaya minuman keras!’’
Pernah, bahkan masih teramat masih sering, dan sering sekali terjadi. Ada juga orang yang sengaja menghilangkan dirinya sendiri atas nama sebuah tujuan yang mereka klaim adalah jalan kebenaran, jalan surga. Dan oleh karenanya surga mereka klaim adalah tempat mereka selanjutnya.
Klaim sepihak bahwa kebenaran adalah milik mereka dan bukan milik golongan lain yang tidak sepaham dengan mereka, sebenarnya merupakan sesuatu yang menyedihkan. Cerita lawas yang tidak penting. Bayangkan, dengan klaim kebenaran sepihak seperti itu, mereka yang mempunyai keberanian menghilangkan dirinya sendiri, membunuh dirinya sendiri, dengan bayaran merampas kehidupan orang lain yang belum tentu berhubungan, atau tahu dengan duduk perkara tujuan mereka, atau sasaran mereka sebenarnya, malah terampas kehidupannya dengan paksa.
‘’Aku pikir mereka adalah orang-orang sakit yang patut untuk dikasihani,’’ ujar Luka ketika mendengar salah sebuah bom bunuh diri merenggut puluhan nyawa orang-orang tak berdosa di Bali beberapa waktu yang lalu.
‘’Mungkin itu keberanian yang keliru. Siap kehilangan dirinya sendiri namun dengan bayaran menghilangkan hak hidup orang lain. Yang lebih mempunyai keberanian untuk mempertahankan hidup dengan segala tekanannya. Yang beban hidupnya belum tentu lebih ringan dibandingkan dengan orang yang membunuh dirinya sendiri seperti itu’’.
‘’Mereka boleh berani mati untuk sebuah tujuan. Tapi mereka tidak tahu bahwa mereka sangat keliru karena telah merenggut kehidupan orang lain yang tidak pantas merela hilangkan. Tidakkah mereka pernah berpikir betapa orang-orang yang ditinggalkan oleh orang-orang yang terenggut kehidupannya akibat ulah sepihak mereka, hancur hatinya?”.
‘’Manusia-manusia dengan mentalitas siap kehilangan seperti itu tidak sepantasnya mendapatkan tempat untuk dihormati, apalagi ditakuti’’.
‘’Bagaimana mungkin mereka akan menghuni surga jika mati dengan cara merampas kehidupan orang lain. Yang anak kecil pun tahu hanya manusia yang berbudi saja yang patut menghuninya’’.
‘’Mungkin mereka telah membeli hak guna bangunan surga’’.
Selanjutnya, kami berdua tertawa pelan, cengengesan.
‘’Tapi jangan salah, mereka yang membunuh dirinya sendiri adalah orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai ‘pengantin’, sebagaimana yang kau idamkan selama ini?’’ pancingku membuka pembicaraan term kedua.
‘’Pengantin? Pasangannya pasti Kala, Lucifer atau sebangsanya’’.
Untuk kali kedua kami tertawa lagi, cengengesan lagi.
II. Easy Come Hard to Go.
PADA sebuah jalan. Di dalam kabin mobil yang belum terlunaskan. Pada sebuah dini hari yang mati. Jakarta tampak lain dari biasanya. Pada dini hari seperti ini, Jakarta tak ubahnya anak manis yang akrab dengan siapa saja yang menyapa maupun mendiamkannya. Di dini hari yang ngelangut seperti itu biasanya Luka bersepakat dengan sepi untuk merenung tentang apa saja. Teristimewa tentang kesehariannya yang telah 36 purnama kebelakang nyaris sama keadaannya. Hanya bujukan sepi seperti ketabahan, kekuatan, keuletan, ketahanan yang senantiasa diterima dari kesepakatan mereka berdua.
Sebenarnya Luka bosan dengan jawaban sepi yang cuma dari itu ke itu saja. Semua nyaris bisa ditebaknya, standar, super klise dan sangat bisa sekali untuk diraba dan dibaca. Luka sebagaimana kanak-kanak yang telah mendapatkan mainan, tentu saja menginginkan mainan lainnya. Dan itu tidak didapatkannya dari penantiannya yang lebih dari 36 purnama.
Kehilangan yang paling besar dari kehidupan Luka adalah kebersamaan dengan orang yang bisa dimengerti dan mau mengertinya, dan itu berarti sebuah kenyamanan, ketenangan. Padalah, lebih dari hitungan jari tangan, Luka telah mengupayakan sebuah kebersamaan dengan beberapa perempuan yang dekat dengannya. Namun, hingga sejauh ini hasilnya..., masih nihil!
Pernah, pada sebuah masa dia bersepakat untuk memulai langkah baru untuk berhubungan dengan seorang perempuan baru dalam perjalanan hidupnya. Dengan segala kesungguhan dan keseriusannya, tentu saja. Berikut catatan hariannya yang masih tersisa, dari berlembar-lembar kertas yang telah tercecer entah di mana......
Gloomy Sunday, 24/10/04. pagi hari
Ramadhan hari ke dua aku bahagia. Tahu kenapa? Karena sebuah lagu telah usai tercipta. Yang menjadikan moment ini menjadi lebih istimewa bukan semata-mata lagu itu an-sich. Lebih dari itu. Tembang ini bernarasi tentang seorang perempuan yang seketika, tiba-tiba, seolah tanpa permisi; seperti sinar matahari pagi, masuk ke halaman hatiku. Namun peliknya, hampir bersamaan, di sebuah pagi, ketika sahur belum lama diusaikan, ia menerjangku dengan berbagai cerca atas perbuatan yang tidak pernah aku lakukan. Adakah tuduhan yang lebih menyakitkan dari sebuah perbuatan yang tidak terbukti siapa yang melakukannya?
Tapi tak mengapa, mungkin ini bagian dari perjalanan nasibku bersinggungan dengan nasibnya. Pergilah pergi sesuka hatimu, sebagaimana kau datang sesuka hatimu ke hatiku. Semua itu tidak akan pernah cukup membuatku meragukan keyakinanku sejak awal mula; bahwa aku berikhtiar menyambangi hatimu! Kalau pun toh kita pada saatnya nanti, cepat atau lambat akan menjadi satu. Atau tidak akan pernah menjadi satu sekali pun. Itu bukan karena semata-mata kesalahanku atau kesalahanmu. Tapi karena memang tidak ada kekuatan yang lebih besar dari sebuah nasib, yang bisa seenaknya menyatukan atau memisahkan sepasang anak manusia. Itu saja. Dan yang pasti, tidak ada sebiji kebencian pun di sini tentang mu. Malah sebaliknya, aku berterima kasih mendapat kesempatan nasib untuk bersua dan beruluk sapa dengan seorang perempuan sepertimu.
Layla, sebagaimana para cerdik cendekia berkata; tidak ada yang baru di bawah matahari ketika laki-laki jatuh hati kepada seorang perempuan. Atau sebaliknya. Tapi, entah mengapa seolah semuanya menjadi baru bagiku ketika aku kembali menemu perasaan itu. Sehingga akibatnya, perasaan ini berbondong-bondong tak ubahnya awan yang berarak membopong sebuah hujan bagi sekuntum hati yang telah lama mati, kerontang oleh kesepian. Dan akibatnya…, kau tahu sendiri. Aku kepayahan memanajemen perasaan itu…
Layla, kalau di awal mula kau pernah berkata bahwa keterusterangan perasaanku tak ubahnya ‘’easy come easy go’’, sekarang aku malah berpikir sebaliknya. Betapa terjal, berliku dan menukik perjalanan hubunganku denganmu. Pada mulanya, belum apa-apa, kau telikung perasaanku dengan ‘ketidakterusteranganmu’, kemudian dengan segala kepayahan aku susun lagi rumah perasaan ini. Dan ketika aku baru bangkit dan semangat lagi untuk bersikukuh mempertahankan perasaan ini dengan terus menegurmu lewat doa. Tiba-tiba….kembali kau menerjangku dengan segala hardik dan prasangka-prasangka rendahan dan ekuivalen dengan segala kehina dinaan di muka bumi ini. Alangkah indahnya.
Layla, aku memang masih dan akan terus menyambangimu, namun aku pun tidak akan pernah sudi mengemiskan keyakinanku ini padamu. Tidak sekali pun. Aku memang payah (kalau pun yang kau sangkakan itu memang benar adanya), namun aku masih mempunyai harkat sebagai seorang laki-laki. Sepayah-payahnya seorang aku, aku masih mempunyai karakter dengan tidak akan pernah menjual kemanusianku hanya untuk mendapatkanmu. Karena, sekali lagi. Bukan aku yang berkehendak, atau kamu sekali pun atas bersatunya kita atau berpisahnya kita (kalau pada saatnya memang ada ‘kita’). Melainkan nasib yang digdaya…
Demikian suratku hari ini.
Salam
Ps.
Pernahkah dalam setiap dialog dan tulisanku aku menjunjung-junjung dan memamerkan hubunganku dengan Tuhan. Apakah aku harus berteriak dengan koar setiap aku berbuat baik terhadap kehidupan dan Tuhan. Agar dengan demikian kau berpikir aku laki-laki alim yang penuh dengan kesantunan, sehingga dengan demikian segala masa depan menjadi lebih aman untuk disandingkan di sampingnya? Aku adalah aku, yang akan terus (sampai kehidupan meninggalkanku) menyimpan rapi Tuhan di hatinya, tanpa sesiapa pun musti tahu seberapa dekat atau jauh aku berhubungan dengan-Nya.
Pss.
Dengan hati runduk, maafkan aku jika ada kosakata yang membuatmu menjadi lebih tidak berkenan padaku. Aku tidak peduli!
Aih, aih... rupanya perempuan yang sempat menjadi pelangi di hati Luka bernama Layla. Dia perempuan biasa, ujar Luka padaku suatu ketika. Hanya saja dia lumayan manis dan ada sinar kehidupan di matanya. Sudah terlalu banyak perempuan ayu yang berseliweran di hatinya, tapi yang mempunyai sinar kehidupan dapat dihitung dengan jari. Layla salah satunya. Bahkan sebenarnya Luka ingin dan berniat mengakhiri kesendiriannya dengan perempuan ini, hanya saja kesabarannya lagi-lagi musti diuji. Dan lagi-lagi, keadaan memang berkata lain. Semua itu tampak di suratnya yang kedua;
Aku malu mengenangkan kemarahanku
Tidak pernah dalam perjalanan usiaku hingga saat ini, begitu besar kemarahanku kepada seorang persona. Apalagi kepada sosok seorang perempuan, dan kujunjung lagi…
Betapa tidak masuk akalnya diriku, bahkan sejak pertama bersitatap dengan matamu. Semua jungkir balik di sini. Fenomena itu memang bertamu dengan santun di halaman rumahku. Yang biasanya aku teramat sangat dingin, tenang, dan berhitung dengan segala kehati-hatian, seketika, pelan dan pasti menafikan akal manakala perasaan itu meraja. Ia menyamarkan segala yang berlaku di logika, kepenginannya bersegera memaujudkan rasa…
Aku malu mengenangkan kemarahanku
Bahkan aku tak mampu lagi mengendalikan rasa, hanya lantaran setelah sekian lama tak kujumpa itu asa, dan aku tetap bertahan menelisik untuk menemukannya. Sekalinya ketemu….., gak keruan ini atma, alangkah konyolnya…, what a silly me.
Aku malu mengenangkan kemarahanku
Bahkan kepada seorang perempuan yang aku klaim; ‘’ini dia…’’ (betapa aku mulai sok tahu dengan garis nasibku, memberanikan diri meyakini sesuatu yang di luar kekuasaanya. Bukankah hal yang semacam itu bukan urusannya?)
Aku malu mengenangkan kemarahanku
Bagaimana mungkin aku bisa menjadi seorang nahkoda bagi sebuah bahtera, jika belum belum - lagi lagi - aku lebih mendahulukan perasaan dari pada logika? Namun, bukankah memang hal semacam itu hanya dapat dirasakan, dan logika macam mana pun, secerdas manusia apa pun tidak akan pernah mampu mendiskripsikannya, apalagi kemudian dengan sok gagah mencoba menarasikannya ke dalam sebuah bahasa? Entahlah.
Aku malu mengenangkan kemarahanku
Meski semua aku mulai dengan segala niat baik dan kesungguhan…(hal inilah yang sampai sekarang tidak pernah bisa aku mengerti; bagaimana mungkin seorang laki-laki dengan niat semacam itu; mengeluarkan sebuah kalimat tidak senonoh kepada seorang perempuan yang ditinggikannya? Namun, bukan juga berarti bahwa kemarahanku padamu adalah sebuah tindakan yang lebih mulia dan selayaknya kepada seorang perempuan yang dijunjungnya…. Ah, aku bahkan telah lupa bahwa sejak kali pertama kita bertegur sapa bukankah semestinya kita saling mengingatkan dan memelihara dalam kebaikan dan kesabaran? Ma’afkan aku; inilah salah sebuah resiko jika terlalu dekat dengan seorang sahabat; semua disikapi oleh seorang sahabat dengan canda; meski dampaknya luar biasa; dalam hal ini..sialan untuk persahabatan..) *
Aku malu mengenangkan kemarahanku
Bahkan mungkin aku sendiri tidak akan pernah tahu sampai kapan rasa malu itu akan lalu…
Layla…Aku memang masih belajar hidup, dan oleh karenanya maklumkan kekeliruanku hanya lantaran aku belum bisa benar- benar dapat hidup dengan baik dan mulia. Fakultas kehidupan memang bagai pedang bermata dua; jika kita kuat, cermat, teliti dan waspada melaluinya, maka buahnya ke-te-nang-an jiwa. Tapi jika sebaliknya? Hasilnya sebagaimana aku alami ketika kelimpungan menyiasati perasaanku kepadamu… Dan kau sepertinya telah menjadikan aku maj’nun karenanya.
Layla Maj’nun-ku.Orang-orang besar memang hanya diciptakan oleh dirinya sendiri. Dan jikalau pada saatnya aku tidak akan pernah menjadi orang besar. Paling tidak, aku telah berikhtiar untuk senantiasa menjadi manusia standar yang baik-baik saja. Dan dalam rangka aku berikhtiar menjadi manusia baik-baik inilah, sekali lagi aku panjatkan ma’af padamu..
Aku malu mengenangkan kemarahanku
Telah meninggikan suara kepada mu
Andai saja waktu sedikit saja berpihak padaku…
Aku malu mengenangkan kemarahanku
Ma’afkan atas lena dan kilafku…
Meski aku tidak akan pernah meminta ma’af apalagi menyesal telah dipertemukan oleh nasib denganmu….
Aku malu mengenangkan kemarahanku
Semoga kau sudi mendoakan aku; biar aku menarik diri lebih dalam dan terus berpikir tentang mu. (sungguh pun aku tidak pernah menghubungimu, tapi nyatanya perasaan itu tidak mau pergi-pergi, ia sepertinya kerasan tinggal di sini. Dan aku pun dengan senang hati menyilahkannya, toh aku menjadi lebih hidup karenanya; ligh my life kind like enlightement, what a life).
Akhirnya, Nurlayla…Berbahagialah dengan jalan hidupmu; I love u everyday, twice in Sunday.
Yang murka padamu.
Friday the 29. 23:55, bidara cina, lantai 3.
ps.
99% kemarahan justru paling sering ditumpahkan kepada orang-orang yang paling dicintai. dan akibatnya fatal. Akupun, semoga tidak akan pernah mematahkan tulung rusukku sendiri...karena itu adalah pekerjaan yang paling menyedihkan di muka bumi.
Surat kedua ini, ditindaklanjutinya dengan surat ketiga, yang diforward ke arahku. Aku memberinya judul, tentu saja tanpa sepengetahuannya; ‘’The Gombals bin Memalukan’’. Seharusnya kau malu menuliskan semua ini Luk. Atas nama canda, semoga kau tidak tersinggung karenanya.
Aku akan terus memohonkan ma’af padamu
20.26
Aku terus, terus dan terus bermusyawarah dengan diriku sendiri.
Ada apa sebenarnya dengan diriku ini.
Semakin aku memasrahkan keberadaan, semakin tidak bisa aku memalingkan perasaan ini dari sosokmu. Mengapa aku masih tidak bisa mengalahkan diri sendiri, membiarkan yang telah terjadi biarlah pergi. Kemudian berdamai dengan keadaan, menerima kenyataan bahwasanya secara maujud kau tidak di sini. Meski pada kenyataanya, kau lindap dan senantiasa berdiam di benak hati.
Aku memang masih malu atas kemarahanku padamu. Aku sendiri tidak habis mengerti. Bagaimana mungkin aku bisa meninggikan emosi kepada seorang perempuan. Yang notabene telah membuatku bungah karenanya…
Bukan keenggananmu untuk menjawab setiap gundahku yang aku sesalkan. Lebih dari itu, mengapa tiba tiba aku dibuat bodoh oleh kemarahan…., sehingga mengaburkan segala kedewasaan.
Dengan cara seperti apa sekiranya aku mampu membuat hatimu sedikit saja berpihak pada apa yang kurasakan..Bahkan aku pun telah terlalu malu pada diriku sendiri untuk kembali menyimak dan menekuni suaramu.
Aku bahkan tidak diberi kesempatan oleh keadaan untuk menunjukkan kesejatian ini. Yang mungkin sekiranya tidak hanya akan mampu sekedar memayungimu. Tapi, jika keadaan berkenan, bisa lebih dari itu…
Misteri ini mungkin tidak akan pernah dapat aku temukan dan mengerti. Sebagaimana Dia tidak akan pernah dapat dimengerti ketika menggariskan perjalanan hidup anak manusia mana pun juga. Hikmah apa dibalik semua ini? Demi kebaikanmu kah? Demi kebaikanku kah? Atau demi kebaikan misteri itu sendiri?
Layla..
Ketika Dia berkendak atas segala hal di bawah langit ini dan berkata; ‘’Jadi. Maka jadilah’’. Apa yang tidak mungkin dari sebuah kemungkinan yang Dia kehendaki. Itulah yang aku yakini selama ini; termasuk sebuah keniscayaan ketika keadaan kembali mempertemukan sebagian garis hidup kita.
Layla..
Aku memang tidak pernah bermain-main dengan sebuah kesungguhan. Sebagaimana aku senantiasa menyungguhkan perasaan ini…untuk terus berani, berusaha tegar meski tertatih tatih, dan meyakini apa yang kurasakan. Meski keadaan, dalam banyak perkara, lebih cenderung sering tidak berbanding lurus dengan harapan. Dan aku berusaha untuk tidak sakit hati karenanya. Karena hidup memang harus tetap untuk dimaknai.
Layla..
Tulisan ini pun lahir dalam rangka aku memaknai fenomena yang melanda perasaanku.
Jadi, mohon maafkan aku lagi, lagi dan lagi atas kekilafan meninggikan emosi ke arahmu
Maafkan aku.
Bidara Cina 3rd floor. 21.45. Wednesday the 3/11.
SEJAK saat itu, hingga tahun-tahun berikutnya Luka dan Layla tidak pernah berhubungan, tidak juga bertegur sapa lewat hati. Mungkin nasib memang mempunyai rencana lain tentang kehidupan mereka berdua. Layla hanya sempat menjadi pelangi bagi Luka, belum benar-benar menjadi mentari. Entah Luka bagi Layla...
SEDANGKAN perjalanan romansaku, meski tidak seberliku, semenye-menye sekaligus mungkin seganjil (?) Luka, namun bukan berarti tidak menyayat-nyayat. Mendiang istriku, konon, memang bukan most wanted di lingkungan kampus semasa kuliah, di lingkungan rumah atawa di tempat kerjanya. Namun, bukan berarti tidak banyak laki-laki yang mengharapkan balasan cintanya. Aku sendiri, pada awalnya tidak begitu yakin Bianca akan memberanikan diri menjadi pengantinku. Berbagi bahtera denganku, dan menghabiskan sisa nasibnya denganku (Alah, drama banget ya). Meski terhitung tidak lama melewati waktu pernikahan denganku, hanya seumur kandungan mendiang anak kami, Tristan.
Namun, Bianca adalah ridlo kehidupan yang teramat sangat berkesan, berharga dan paling membekas buatku. Sampai-sampai aku nyaris bersengketa dengan keberadaan-Nya, ketika maut dengan semaunya menghampiri dan mengajaknya pergi tanpa persetujuanku.
‘’Ini, masih aku hadapkan ke kiblat, yang terkasih dan yang tercinta istriku. Jika memang Kau pikir aku tidak terlalu layak menjaganya, sehingga dengan demikian Kau berhaq untuk mengambilnya, maka aku kembalikan istriku pada-Mu,’’ ujarku lirih di dalam hati ketika membaringkan jasad Bianca ke liang lahat. Tempat peristirahatan terakhirnya.
Orok Tristan yang masih merah dan baru saja dapat membuka matanya, masih terbaring lemah di ruang intensive care unit. Hanya Eyang putrinya, ibuku, yang menungguinya sembari hatinya terus berkomat-kamit melafalkan doa. Sementara aku, belajar sok kuat melepas belahan atma, di bawah naungan ayahku, dan kedua mertuaku yang tak kalah sedihnya melepas kepergian anak semata wayang mereka di tubir liang kubur.
Pada saat pemakaman Bianca, sanak saudara, beberapa teman kuliah, teman kerja, teman sosialita hampir semua hadir, dan tak ketinggalan Luka mengucapkan bela sungkawa. Bahkan, para laki-laki jawara dalam bidangnya masing-masing yang dulu menjadi ‘’seteruku’’ untuk memenangkan hati Bianca, turut serta mengantarnya ke pekuburan. Termasuk Arya, mantan tunangan Bianca. Rata-rata mereka tidak hanya mengulurkan hatinya kepadaku, lebih dari itu, mereka juga menundukkan dan menunjukkan ketakziman ketika jasad Bianca pelan dan pasti tertimbun tanah pekuburan.
Setelah kepergian Bianca, aku nyaris tidak berhubungan dengan perempuan. Bukan semata aku ingin mencurahkan perasaan, waktu, pikiran dan dayaku untuk Tristan. Lebih dari itu, aku kesulitan setiap kali berupaya menjalin sebuah rajutan anyar tentang sebuah pertalian hati yang hakiki. Tidak semudah yang orang-orang pikirkan ternyata. Meski aku juga tahu, ada beberapa perkara yang tida-tiba mudah untuk orang lain, namun sangat sulit bagi yang lainnya. Demikian pula sebaliknya. Untuk perkara yang satu ini, ternyata sangat sangat sulit buatku.
Padahal, orang seperti aku, tidak pilih-pilih dalam soal hubungan. Selama nyambung dalam pikiran, rasa, dan tindakan, maka semoga semua berjalan dengan sewajarnya dan cenderung baik-baik saja. Tapi, apakah mudah menemukan yang seperti itu? Kau tahu jawabannya ...
Almarhum Bianca memang elok dan bersahaja. Maklum dia istriku, jadi sangat mungkin aku tidak akan pernah obyektif menceritakannya. Tapi paling tidak, biarkan aku bercerita. Begini, selain kemampuan intelektualnya sangat dapat diandalkan, kecakapan dan kerendahhatiannya adalah sesuatu yang membuatnya semakin tak terperikan. Dia tidak hanya ayu secara paras, ah, tapi bukankah terlalu banyak perempuan berparas ayu, tapi tidak tahu bagaimana menggunakan akal sehatnya dengan laras? Dan Bianca, syukurlah bukan salah satu diantara perempuan yang banyak seperti itu.
Luka pernah berkata padaku, dan dia dapatkan kalimat ini dari salah seorang kawan kantornya, ‘’Kalau saja para perempuan menggunakan sedikit saja akal sehatnya, pasti sangat banyak perempuan sukses dan luar biasa di muka bumi ini,’’ katanya. Bianca, di mataku, tidak hanya sukses sebagai seorang perempuan, tapi juga sebagai seorang manusia. Maklum, yang berbicara aku, suaminya.
KAMI menikah secara sahaja.
Pertama, aku langsung berkata padanya akan menjadi ayah dari anak-anaknya dalam perkenalan kami yang belum genap satu jam lamanya. Tentu saja Bianca hanya membalas keyakinanku dengan senyumannya. Aku tidak tahu pasti makna senyumannya waktu itu. Apakah hanya ingin menjaga perasaanku, menyepelekan keyakinanku, atau malah menertawakan kesungguhanku? Mengingat pada waktu itu, sebenarnya Bianca sudah mempunyai seorang kekasih yang baik, dan tentu saja saling menyayangi dan menghormati diantara mereka berdua. Tapi entah kenapa aku berkata seperti itu. Aku yakin saja.
Hingga pada sebuah masa, setelah kami tidak bertemu selama 18 purnama kemudian, Bianca masih memikat seperti kali pertama kami bersua. Kala itu, dipertemuan kami yang kedua, di jari manis sebelah kirinya telah melingkar cincin emas putih entah berapa karat. Setengahnya aku terkesiap ketika beradu mata kembali dengan matanya tanpa sengaja, tapi dia tetap melemparkan senyum ke arahku. Dan Kresna, tunangannya yang ada di sekelilingnya, tampak tampan dan charming diantara kawan-kawannya.
Pesta pernikahan Fawzy dan Sarah memang berlangsung dengan menyenangkan di kebun bunga yang permai itu. Siapa yang mengira jika Fawzy adalah kawan Kresna juga. Sehingga kami; aku dan Bianca, tanpa sengaja kembali bertemu muka untuk kali ke dua. Tanpa sengaja? Ah..., aku kira Tuhan sedang bekerja, lebih tepatnya.
Setelah aku mendekati Bianca, dan kami berjabat tangan layaknya orang dewasa yang telah lama tidak bersua, kami berbicara datar dan biasa-biasa saja pada mulanya.
‘’Apa kabar,’’ kataku membuka musyawarah.
‘’Baik. Baik sekali. Kamu gimana, sehat?’’
‘’Sehat. Sehat sekali. Makasih. Kapan kalian akan menikah?’’
‘’Mungkin tengah tahun ini’’.
‘’Ah. Selamat ya. Moga hanya kebaikan, kelancaran dan kesabaran yang melindugi kalian berdua,’’ kataku standar dan super naif, yang sebenarnya kutujukan untuk membesarkan hatiku sendiri.
‘’Ya makasih. Kapan kamu akan menikah?’’ ujar Bianca masih dengan kedataran suara, membalikkan pertanyaan.
‘’Sampai aku menemukan perempuan seperti kamu, maka menikahlah aku’’.
‘’Kamu suka bercanda ya’’.
‘’Aku serius dengan apa yang aku katakan’’.
‘’Jangan gitu dong’’.
‘’Masih ingat dengan apa yang aku katakan padamu, satu setengah tahun yang lalu?’’ pancingku mengingatkan pertemuan kami untuk kali pertama di pembukaan pameran patung F. Widayanto di Galeri Nasional, Gambir, Jakarta.
‘’Ah, kamu masih pandai bercanda’’.
‘’Aku serius kok Bi’’.
‘’Kalau kamu serius dengan apa yang kamu katakan satu setengah tahun lalu, kenapa setelah kau ucapkan keyakinanmu itu, tidak ada tindak lanjutnya kemudian’’.
‘’Nasib akan menindaklanjutinya tanpa aku harus repot-repot mengatur-ngaturnya. Nyatanya aku bisa ketemu kamu lagi tanpa aku harus berpayah-payah mengaturnya, kan’’.
‘’Ah, kamu itu,’’ ujar Bianca masih dengan kesantunannya, yang membuat aku semakin yakin dia akan menjadi ibu dari anak-anakku.
‘’Kamu akan menjadi ibu dari anak-anak kita Bi,’’ kataku sekali lagi dengan dengan tekanan suara yang lebih dalam, dan keyakinan yang sama, persis seperti satu setengah tahun yang lalu.
‘’Makasih. Tapi tidakkah kau tahu sebentar lagi aku akan menikah dengan Kresna,’’ katanya sembari mengangkat tangan kirinya menunjukkan cincin pertunangan mereka berdua.
‘’Aku tahu. Tapi aku yakin itu tidak akan pernah terjadi’’.
‘’Kok begitu?’’ selidik Bianca penuh tanya.
‘’Entahlah. Aku hanya yakin saja Bi,’’ jawabku enteng.
‘’Nggak masuk akal kamu!’’
‘’Terlalu banyak yang tidak masuk akal dalam hidup ini Bi’’.
‘’Iya sih, tapi paling tidak belajarlah sedikit untuk tetap dan terus masuk akal’’.
‘’Bener juga sih. Tapi aku yakin aja Bi. Entah bagaimana jalannya nanti. Kau bisa menjelaskan pertemuan kita untuk kali kedua secara kebetulan seperti ini, sebagaimana pertemuan kita kali pertama dulu Bi?’’
‘’Ah, itu sih biasa. Tidak atau belum ada yang luar biasa’’.
‘’Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini Bi’’.
‘’Semoga kamu baik-baik saja dengan hidupmu ya’’, ujar Bianca seolah dari pilihan kalimat dan matanya terbaca; ingin segera pamit dan menyudahi perbincangan picisan denganku.
‘’Oh ya. Silakan. Makasih untuk waktunya Bi. Salam untuk calon suamimu. Katakan pada Kresna, aku akan menjadi ayah dari anak-anakmu jika dia tidak bersegera menikahimu!’’
‘’Jangan bilang seperti itu dong..’’, ujar Bianca dengan mimik dan tekanan suara yang tampaknya semakin serius, sembari untuk sementara membatalkan langkahnya meninggalkanku.
‘’Apakah aku kelihatan bermain-main dengan keyakinanku Bi’’.
‘’Ah, sudahlah. Memang tidak ada yang akan pernah tahu dengan hari depan seseorang. Tidak juga dengan dirinya sendiri. Aku juga tidak akan pernah tahu dengan hari depanku. Tapi aku yakin akan menikah dan berbahtera penuh kegembiraan bersama Kresna. Sebagaimana selama ini kami telah melewati waktu berdua’’.
‘’Aku tahu itu Bi. Tapi kau akan menjadi istriku. Entah bagaimana caranya,’’ kataku sembari menundukkan kepala dan merendahkan suara kepadanya.
Bianca pun akhirnya pamit undur mencari Kresna, meninggalkan aku dikeramaian pesta kebun pernikahan kawan lamaku, Fawzy.
Menjelang sore hari, perayaan pernikahan Fawzy dan Sarah usai. Semua tamu telah undur diri, kembali ke kesibukannya masing-masing. Kembali menyongsong dan mengisi nasibnya sendiri-sendiri. Aku pun, setelah berpeluk hangat dengan Fawzy, dan menunduk hormat kepada Sarah, mohon pamit.
WAKTU terus berjalan, roda nasib terus menggelinding di luar nalar kita. Satu tahun sudah aku tidak bersua dengan Bianca sejak pertemuan kami yang terakhir di pesta pernikahan Fawzi dan Sarah. Dia pasti telah beranak pinak dan berbahagia dengan Kresna, laki-laki terkasih dan mengasihinya, pikirku waktu itu.
Hingga pada sebuah siang, dalam perjalanan ke Anyer seorang diri, tanpa sebuah kesengajaan, - ah...aku pikir ini pasti Tuhan lagi-lagi sedang bekerja- mataku bersitatap dengan sosok perempuan yang sedang membuka kap mobil sedannya yang sedang berasap. Gerai rambut dan perawakan tubuh perempuan itu tidak asing di mata batinku. Aku pun segera menepikan mobil, dan retreat kebelakang mensejajarkan mobilku dengan mobil perempuan itu.
Benar saja. Perempuan itu tidak lain dan tidak bukan adalah, Bianca! Setelah membuka power window sebelah kiri dan menyeru namanya, Bianca menoleh kearahku dengan keheranan yang nyaris sama dengan keherananku. What a life.....Segera aku memajukan kembali mobilku, dan memarkir untuk menepikannya tepat di depan mobilnya. Dalam hitungan jenak aku bersegera beranjak dari tempat duduk, keluar dari mobil, dan bergegas menghampiri Bianca.
‘’Hei, apa kabar!,’’ sapaku masih dengan keheranan yang luar biasa.
‘’Hei, apa kabar!,’’ jawabnya dengan keheranan yang nyaris sama dengan keherananku.
‘’Apa kabar,’’ tanyaku mengulang pertanyaan yang sama.
‘’Baik. Baik sekali. Kamu gimana?,’’ ujarnya seolah melupakan perkara mobil mogoknya.
‘’Baik-baik. Paling tidak, selalu berusaha, untuk terus baik,’’ kataku terbata sembari menahan nafas seolah tidak percaya yang ada di depanku adalah Bianca, perempuan idamanku.
‘’Kamu baik-baik saja kan,’’ katanya sembari menggerak-gerakkan tangan kanannya ke arah mukaku, seolah bisa membaca gelagatku tidak percaya kembali bertemu dengan dirinya.
‘’Selalu aneh ya cara pertemuan kita. Bahkan untuk yang ketiga ini,’’ kataku.
‘’Iya sih...tapi, biasa ah...kita bisa bertemu di mana saja dan kapan saja kan,’’ jawabnya.
‘’Iya sih,’’ jawabku masih dalam nuansa ketidakpercayaan. ‘’Hei, bagaimana dengan suamimu? Berapa sekarang anak kalian?’’ tanyaku menyelidik seraya membangunkan kesadaran.
‘’Mmmmm, ahhh...,’’ Bianca menarik nafas panjang. ‘’Kami memutuskan membubarkan pertunangan kami, untuk sebuah alasan yang sangat sehat sekali’’.
‘’Ah, sorry mendengarnya,’’ kataku.
Hopla..., alamak seperti disambar nasib baik, sebenarnya diam-diam aku suprise sekaligus gembira dengan jawabannya.
‘’Ya, makasih. Kamu sendiri gimana?’’
‘’Aku masih berkeyakinan kau akan menjadi ibu dari anak-anakku,’’ kataku tangkas.
‘’Ah, gila kamu’’.
‘’Apanya yang gila’’.
‘’Udah ah, ngelantur kamu!’’
‘’Nggak ah, aku tetap serius dengan keyakinanku Bi’’.
‘’Ha ha ha, gila kamu’’, ulangnya.
LALU tanpa dikomando aku membereskan kerusakan mobilnya. Peugeot 306 warna biru itu hanya kehabisan air di radiator. Mungkin ada yang bocor dengan radiatornya, atau Bianca kelupaan, lalai, alpa mungkin juga abai untuk mengisi airnya. Atau bisa jadi ada yang tidak beres dengan water pump-nya. Apa pun itu, persediaan air di bagasiku sangat cukup mendinginkan over heat mobilnya. Kami selanjutnya bercakap sembari sesekali tertawa renyah memperbincangkan cara aneh pertemuan kami untuk kali ketiga, setelah setahun terakhir tidak bersua.
Sembari menunggu dingin mesin mobilnya, kami meneduhkan diri di salah sebuah warung kaki lima yang menjual es kelapa muda, yang banyak terdapat di pinggir jalanan Anyer.
‘’Kau mau ke mana Bi?’’
‘’Ada pertemuan dengan teman-teman kantor di salah satu hotel di Anyer. Kamu sendiri’’.
‘’Aku ingin ke Anyer aja. Bosen aja dengan Jakarta’’.
‘’Oh. Sesimpel itukah semua keinginanmu kamu lakuin’’.
‘’Nggak semuanya sih. Tapi most of all memang seperti itu’’.
‘’Kamu pasti berbahagia dengan jalan hidupmu ya’’.
‘’Itu harus Bi’’.
‘’Ya, ya’’.
‘’Maukah kau menikah denganku Bi!’’
Bianca hanya diam, mengunci semua basa yang ia punya. Mengubah parasnya sedemikian rupa, tidak menampik tidak pula mengiyakan. Matanya memanah penuh kesungguhan kearahku.
‘’Ini adalah kali ketiga aku mengucapkan kesungguhanku padamu, pada tenggang waktu dan tempat yang berbeda. Dan, aku tidak mengurangi sedikitpun keyakinanku, bahwa kau akan menjadi ibu dari anak-anakku. Masihkah kau meragukan keyakinanku Bi? Harus berapa kali pertemuan, dan di berapa tempat berbeda macam apalagi, serta rentang waktu berapa lama lagi aku harus dan akan terus menerus mengutarakan keyakinanku Bi. Tidakkah kau berpikir memang beginilah jalan kebersamaan kita?’’
Maka menikahlah kami pada akhirnya!
III. Mengandung.
KETIKA kami melangsungkan pernikahan semua orang bergembira. Orang tua Bianca yang berpikiran terbuka membebaskan pilihan anaknya untuk menikah, dan berbahtera dengan siapa saja. Bibit bebet bobot yang pernah menjadi dongeng pengantar tidur Bianca sewaktu kecil hanya dijadikannya salah sebuah pijakan dari sekian banyak pijakan yang didapatkannya kemudian. Bahkan jika memang Bianca memutuskan untuk tidak menikah sekalipun, aku yakin orang tuanya akan sangat dapat mengerti dengan pilihannya.
Kegembiraan kedua orang tua Bianca bukan semata-mata mereka akan mendapatkan cucu. Lebih dari itu, tidak ada yang lebih bahagia bagi orang tua ketika melihat anak mereka bahagia. Sebagaimana galibnya orang tua lainnya.
‘’Ayah titip Bianca nak. Jaga dia dengan sangat baik, baik dan baik sekali ya,’’ ujar mertuaku ketika menerima lamaranku. ‘’Kalian yang baik-baik ya. Yang rukun. Nggak gampang berumah tangga. Yang kuat dan pinter jadi laki-laki ya,’’ bisik ibu mertua di telingaku sebelum mencium pipi kanan kiriku.
Tapi entah apa yang dibisikkan mertuaku ketelinga Bianca, ketika ayah dan anak itu saling berangkulan dan menderaikan air mata. Aku memang tidak pernah tahu persis apa yang dibisikkan ayah mertuaku kepada istriku. Demikian juga ketika ibu mertuaku membisikkan sesuatu ketelinga putrinya, Bianca. Yang pasti itu sebuah nasihat. Aku tidak pernah menyelidik untuk meminta tahu, dan Bianca memang tidak pernah bercerita kepadaku. Bianca pun melakukan hal yang serupa, tidak pernah mencari tahu apa yang dibisikkan kedua orang tuanya kepadaku, suaminya. Kami toh baik-baik saja.
Setelah menerima peluk senyum dari sanak saudara, kawan, kerabat, handai taulan, kenalan dan Luka tentu saja, kami harus bersegera menyudahi prosesi pernikahan untuk menyambut kehidupan yang sebenarnya. Kedatangan Luka pada pernikahan kami adalah sekaligus perkenalannya untuk kali pertama pula secara resmi dengan Bianca.
‘’Satu dua kali aku mendengar namamu dalam perbincanganku dengan suamimu ini,’’ ujar Luka pada Bianca di atas pelaminan. ‘’Selamat untuk kalian berdua, akhirnya kau menjadi istri orang gila ini,’’ imbuhnya.
Bianca yang menyimak ucapan selamat Luka hanya memulas senyum, ‘’Ya, makasih ya, kalian kawan karib pastinya. Siapa yang lebih gila diantara kalian berdua?’’ tanya balik Bianca. Luka hanya tersenyum.
Selanjutnya, sebagaimana kisah kebanyakan tentang pernikahan, kami pun berbahtera dengan sewajarnya. Senyum dan keceriaan cenderung mewarnai serta meronai keseharian kami. Kalau pun kami bersengketa itu nyaris selalu bisa kami urai dengan tanpa melibatkan siapa pun diluar lingkaran kami berdua. Seolah, dengan otomatis kami tahu dengan peran kami masing-masing.
Aku sendiri juga sering heran, chemistry diantara kami seolah sedemikian kuatnya. Dan untungnya, kami adalah golongan orang yang paling tidak gemar meninggikan suara apalagi hati. Jadi, ya sentosalah rumah tangga kami. Bahkan ketika Bianca mengabarkan padaku jika di kandungannya, buah cinta kami mulai membisikkan kehidupan, kami hanya berpelukan sembari tanpa sadar menggenangkan air mata. Aih, aih....laksana roman Jane Austin saja.
‘’Benar, aku akan menjadi ibu dari anakmu. Benar kekasihku, aku memang benar-benar menjadi ibu dari anakmu. Sebagaimana keyakinanmu selama ini. Aku memang menjadi ibu dari anakmu. Anak kita,’’ isak Bianca pada sebuah Isya’ ketika dia dengan sengaja pulang cepat ke rumah dari tempat kerjanya, untuk menungguku yang biasa pulang berbarengan atau selepas adzan Isya’ juga.
Kami berpelukan layaknya sepasang kekasih yang telah lama tidak bersua, atau layaknya sepasang sejoli kepayang cinta yang akan saling melepas kepergian untuk waktu yang sangat lama. Lucu juga kalau mengingat keadaan waktu itu. Kami rukun dan sentosa seolah tidak akan ada yang pernah bisa memisahkan, tidak juga kekuatan yang lebih besar dari kekuatan rasa sayang diantara kami berdua.
Bianca menjaga kehamilannya dengan sangat hati-hati sekali. Setali tiga uang dengannya, aku pun melakukan hal yang sama. Bianca yang gemar mencuci sendiri mobilnya, atas kesepakatan bersama, menghentikan aktivitas kegemarannya itu, selama calon matahari kami berdiam di kandungannya. Dan aku, nyaris saban hari tidak ada pekerjaan lain selain was-was. Tidak pernah tenang perasaan ini, jika Bianca tidak terpantau oleh kedua bola mataku secara langsung.
‘’Yang hamil sini kok yang resek situ sih,’’ katanya dalam sebuah kesempatan dengan mangkel, karena aku nyaris tidak pernah berhenti menelponnya untuk terus dan terus menanyakan keadaannya. Bahkan ketika dia berada di depan meja kerjanya sekalipun. Sampai-sampai ketika toleransi Bianca di ambang menipis, karena tak kuat terus menerima teleponku, dia dengan berat hati musti mematikan handphone-nya.
Bayangkan, betapa tidak kelimpungannya hatiku. Bisa kau bayangkan ketika istrimu seorang diri, dalam keadaan hamil berada di dalam mobilnya, di keramaian dan keliaran lalulintas Jakarta yang semrawut, dan dia tidak terpantau olehmu?. ‘’Kau malah membuat keadaan semakin ribet, sayangku,’’ katanya pada sebuah malam, ketika aku memprotes tindakannya mematikan hp. ‘’Aku hanya khawatir dengan anakku. Maksudku dengan keadaan istriku juga tentu saja, tidak lebih dari itu,’’ kataku pada waktu itu. ‘’Aku baik-baik saja. Percayalah padaku,’’ katanya yang ternyata lebih tenang dariku. ‘’What a silly me!’’. Kami pun berpelukan, berciuman.
Menjadi seorang ayah adalah idaman yang tidak terperikan. Aku paling sering membayangkan menggendong anakku di pundak, dan ibunya memandangi anak kami dengan tidak kalah bungahnya. Aku sering juga membayangkan menidurkan anakku di dadaku, sementara ibunya menepuk-nepuk dengan sangat pelan pantat anak kami yang ranum. Atau aku kerap membayangkan memandikan dengan khusyuk anak kami, sementara ibunya mengambil gambar kami dengan kamera sakunya. Atau aku juga paling sering membayangkan meninabobokan anakku dengan tembang lulabi, atau shalawat nabi, dan ibunya yang kelelahan juga turut terlelap tidur karenanya. Ah..
Aku hanya ingin membesarkan anakku dengan istriku, aku hanya ingin melihatnya tumbuh dengan besar, dan melepaskannya dengan bangga untuk bertanding sepakbola antarkelas misalnya. Atau sekedar mengkhawatirkan kepergiannya di akhir pekan ketika masa remaja tiba. Atau hal remeh-temeh lainnya tentang hubungan anak dan orang tua, yang di mataku sebenarnya sangat esensial sifatnya.
Ketika bayangan-bayangan indah itu berkelindan di kepalaku, di benakku hanya ada satu asa dan satu cita; semoga semua tidak terlalu melenceng dengan apa yang aku harapkan. Sebagai bayarannya, aku sangat hati-hati, bahkan terkesan over protective ketika kandungan Bianca pelan dan pasti semakin membesar.
‘’Kau seharunya istirahat istriku,’’ kataku pada sebuah senja di akhir pekan tepatnya.
‘’Aku akan baik-baik saja kok, tanpa musti mengambil cuti hamil segala,’’ sergahnya.
‘’Tapi aku terlalu khawatir dengan kandunganmu’’.
‘’Bukankah tadi siang dokter sudah memastikan anak kita akan baik-baik saja, sayangku’’.
‘’Iya sih, tapi bukankah dokter juga menasehati kita untuk semakin hati-hati menjaga kandunganmu. Kau tidak boleh terlalu capek. Itu dokter juga yang mengatakannya,’’.
‘’Iya. Aku tahu itu. Aku akan mengambil cuti nanti kalau kandunganku udah masuk usia delapan bulan’’.
‘’Semakin cepat semakin baik aku kira’’.
‘’Aku akan semakin bingung jika tidak melakukan apa-apa di rumah. Kau tahu itu, sayangku’’.
‘’Iya, tapi bukankah itu semua demi kesehatan kandunganmu juga’’.
‘’Aku akan baik-baik saja. Bukan semata aku akan menjaganya dengan baik. Tapi aku yakin, anak kita akan turut menjaga ibunya, bahkan ketika dia masih berada di kandungan ibunya. Yakini aku, sebagaimana aku meyakinimu, ’’.
‘’Aku mencintaimu’’
‘’Aku lebih dari itu’’.
HARI masih berjalan dengan biasa, dan kami mewarnainya dengan cara kami sendiri. Berdua, sebagai calon orang tua baru, kami telah bersiap menyiapkan segala piranti yang berkenaan dengan keperluan dan kebutuhan bayi. Dari kamar yang dicat biru oleh Bianca, dengan perca bintang di langit-langitnya, sampai mainan, pakaian, sepatu dan semua pernik nyaris tersedia semua. Untuk urusan seperti ini, Bianca adalah jagonnya. Sedangkan kegiatanku, karena lewat USG sudah kelihatan anak kami adalah laki-laki, maka segala keperluan yang berhubungan dengan kelelakian sebisa mungkin aku penuhi.
Bola tendang, voli, kasti, basket, pistol, dan buku-buku dongeng pengantar tidur yang berisikan kisah kebijakan, kejujuran dan keberanian sudah tersedia semua. Memang benar, tidak ada yang lebih membahagiakan selain membayangkan bersegera berjumpa dengan buah cinta yang telah lama diidamkan.
‘’Apa yang kali pertama akan kau lakukan jika pada saatnya anakmu keluar dari kandungan ibunya?,’’ tanya Bianca dalam sebuah makan malam di rumah kami, sebuah apartemen kelas biasa, namun permai.
‘’Aku akan mensyukurinya, tentu saja,’’.
‘’Cuman itu’’.
‘’Pasti akan sangat sulit membayangkannya’’.
‘’Kebahagiaan itu pasti sangat berarak, ya’’.
‘’Tentu saja’’.
‘’Aku juga tidak sabar menantikannya’’.
‘’Tapi, kau tidak kelihatan sebahagia diriku’’.
‘’Aku hanya belum menampakkannya saja. Bukankah kau tidak bisa merasakan betapa aku terus berbicara padanya, bahkan dalam tidur dan mimpiku sekali pun’’.
‘’Aku tahu itu. Kau ibunya’’.
‘’Kau ayahnya’’.
Kami pun tertawa.
BIANCA, sebagai perempuan karir kebanyakan, paling tidak suka dicampuri keindependensiaannya, memang pada awalnya sedikit banyak merasa terganggu dengan kehamilannya. Namun, pelan dan pasti dia bisa berubah dengan sendirinya, hingga akhirnya malih suasana sangat-sangat bisa mensyukuri, serta menikmati proses kehamilannya.
‘’Pada awalnya kurang nyaman, tapi sangat nikmat sekali rasanya,’’ katanya suatu saat ketika tiba-tiba meneleponku di sebuah siang. ‘’Aku bahkan pelan-pelan seperti orang gila, senang berbicara sendiri dengan anakku,’’ katanya sembari terisak dari seberang sana. ‘’Aku bangga, seneng, dan bersyukur dengan keadaan ini. Terima kasih untuk semuanya, sayangku’’.
Entah ada angin apa, istriku mendadak menjadi sentimentil, tidak seperti biasanya. ‘’Aku tiba-tiba juga nggak sabar untuk bersegera bertemu dengannya, sebagaimana yang kau idamkan selama ini. Apakah dia akan setampan, setenang, seyakin, setekun, sekuat, sebestari dan sepinter ayahnya? Ah moga-moga dia tidak begitu sependiam ayahnya, bisa kesepian nanti ibunya,’’ katanya masih dengan isak yang sama. Kami pun hanya terkekeh. Bianca menangis tertawa. Padahal kandungannya baru menginjak usia empat bulan.
Masa-masa menunggu semakin besarnya kandungan Bianca adalah masa-masa yang menegangkan yang seperti tidak akan pernah ada habisnya. Dalam sebuah kesempatan aku menanggapinya dengan tenang dan sahaja, dengan demikian aku tidak terlalu mengkhawatirkannya. Namun, pada saat bersamaan, kekhawatiran yang kadang mungkin berlebihan itu, sangat tidak mengenakkan kami berdua.
Maklum, kami adalah para pemuda yang bahkan belum menginjakkan usia 30 tahun ketika bakal anak kami yang pertama akan menemani kami berdua. Dan ini adalah pengalaman berumah tangga untuk kali pertama. Tentu saja ini adalah pengalaman kami pertama pula, menunggu saat-saat menegangkan buah cinta kami akan menjeritkan tangisannya.
Dalam sebuah kisah aku pernah mendengar cerita tentang bayi yang menjeritkan tangisannya ketika kali pertama menyua dunia. Gus Dur, si Adulrahman Wahid yang mantan Presiden super sak-sak’e itu, pernah menukil sebuah cerita lawas dalam bahasa sederhana yang sangat mengena.
Begini nukilannya; semua orang menyambutku dengan kegembiraan yang sangat maha, saking gembiranya, orang-orang yang hidup itu menyambut kelahiranku dengan gelak tawa air mata. Padahal aku malah menangis ketika melihat dunia. Demikian pula sebaliknya, ketika aku meninggal dunia, pulang ke Rumah Tuhan, orang-orang melepasku dengan air mata kesedihan, meski sebenarnya aku malah tertawa-tawa. Karena menyambut surga di depanku.
‘’Apakah anak kita akan sedih melihat dunia? Bukankah kedua orang tuanya sangat tidak sabar untuk menyambut dan menunggu kedatangannya?’’ tanya Bianca padaku mengkhawatirkan buah hatinya, pada sebuah Minggu pagi ketika kami berjoging di Senayan.
‘’Memang, terlalu banyak cerita dan kisah tentang bayi yang menjeritkan tangisannya ketika melihat dunia untuk kali pertama. Tapi paling tidak, kita tidak akan terus-terusan membuatnya menjerit ketika melihat keadaan dunia,’’ kataku menenangkannya, mencari-cari pembenaran.
‘’Aku takut menanggungkannya terlalu banyak beban dalam kehidupan ini.’’
‘’Kau berpikir terlalu jauh. Setiap anak mempunyai nasibnya sendiri. Berprasangka baik sajalah dengan nasib anak kita’’.
‘’Sebagaimana aku berprasangka baik terhadapmu?’’
‘’Ya, sebagaimana aku berprasangka baik kepada nasib kita juga’’.
‘’Tapi ini lain, ini adalah anak kita, buah sayang kita. Buah prasangka baik kita. Aku tidak akan pernah bisa membayangkan akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan dalam hidupnya. Aku ibunya’’.
‘’Aku ayahnya. Aku rasa semua orang tua akan berpikiran serupa denganmu, istriku’’.
‘’Tapi entah kenapa, aku takut membayangkan anakku akan berseteru dengan terlalu banyaknya permasalahan hidup’’.
‘’Dia akan kuat, liat, tekun, dan sepinter ayahnya. Dan tentu saja akan sebaik, secerdas, semandiri, sebestari dan sesantun ibunya’’.
‘’Kau masih dan selalu pandai membesarkan hati,’’ katanya tersenyum.
Kami pun saling mengeratkan ikatan gandengan tangan. Juga hati.
IV. Bianca
BIANCA Larasati bekerja pada sebuah perusahaan swasta Amerika yang bergerak dalam bidang pengembangan energi minyak bumi. Di PT. Conoco Philips Indonesia dia menjadi salah seorang finance & accounting staff yang sangat dipercaya dan diandalkan. Segala yang berkenaan dengan urusan manajemen sistem keuangan dan akunting perusahaan, konon, kata Nanda, karibya sekantor, diberesi dengan baik sempurna olehya. Jadi, tidak mengherankan jika dia menjadi salah satu bintang kelas di kantor. Dan oleh karenanyalah kinerjanya sangat bisa diandalkan. Untuk semua jerih otaknya, impact yang dia terima dalam bentuk salary dan tunjangan, sangat berlipat ganda dari pada apa yang aku dapatkan.
Bayangkan, aku hanya penulis lepas pada berbagai majalah dan koran ibukota, serta menghasilkan berbagai skenario untuk diproduksi di berbagai rumah produksi untuk konsumsi tv series, dan sekali dua jika produser film berkenan, dijadikan produksi untuk konsumsi layar lebar. Selebihnya, aku menghasilkan atau terlibat proyek pembuatan berbagai iklan. Namun, syukur Alhamdullilah sedikit maupun banyak, ketimpangan secara finansial diantara kami, tidak membuat goyah apalagi merusak bahtera.
‘’Kayak anak TK berseteru tentang rupiah,’’ katanya suatu saat ketika aku meminta maaf padanya karena rupiah yang aku berikan tidak seberapa. Menjadi kanak-kanak pun pada saat ini tidak melulu berpikir tentang rupiah, imbuhnya sedikit kesal. ‘’Kalau sejak awal aku mencari suami yang mempunyai kekuatan finansial, kenapa tidak repot-repot aku memacari para kawanku yang pengusaha untuk dijadikan suami. Atau paling tidak anak pengusahalah. Meski tidak pinter-pinter amat, tapi paling tidak jaminan sosialnya sangat mencukupi kan’’.
Ah, aku lupa, jangan pernah berbicara tentang rupiah kepada istriku. Dari kecil dia biasa berkelimpahan, jadi mungkin dia sudah bosen jadi orang ‘’punya’’, dan berhubungan dengan ‘’orang punya’’ secara finansial, sudah bukan menjadi sesuatu yang istimewa lagi buatnya.
‘’Kalau semua barang, dari rumah, deposito hingga mobil tunggangan adalah hasil jerih payahnya sendiri, aku akan salut padanya, siapa pun orang itu. Tapi, kalau hanya sekedar belas kasih kedua orang tua tercinta, itu biasa, super standar, sayang?’’ katanya nyinyir, ’’Nggak usah ceritalah,’’ imbuhnya agak ketus lewat telepon kepada Nanda, yang bercerita kepadanya ketika ia ditaksir seorang laki-laki tampan lagi baik hati nan kaya. Semacam kisah drama sempurna yang sejatinya non-sense itu.
Aku yang mencuri dengar pembicaraan itu hanya tersenyum. Kecut.
Sebagai satu-satunya putri mantan staff khusus Kedutaan yang nyaris telah ditempatkan di berbagai negara belahan dunia, Bianca beruntung mengecap pendidikan, kebudayaan, dan nilai rasa yang jarang dan tidak dimiliki orang kebanyakan. Jadi tidak mengherankan jika dia mempunyai kecakapan intelektual di atas rata-rata. Universitas bahkan dia rampungkan di UCLA dengan major ekonomi, sewaktu orang tuanya bekerja menjadi salah satu staf khusus di Kedutaan Besar Belanda.
‘’Sewaktu ayah di Belanda, di California aku tinggal di apartemen murahan dari jerih payah menjadi babby sitter paruh waktu,’’ kenangnya. Jadi, imbuh dia, uang saku kiriman ortunya utuh untuk tabungan pribadi.
Jadi, ketika masalah keuangan telah purna, pendidikan tidak terbantahkan, religiusitas sedang dirintis, apa lagi yang dicarinya?
‘’Aku mencari seorang suami yang baik, dan sepertinya itu adalah kamu. Maka aku akan dengan senang hati menjadi ibu dari anak-anak kita,’’ jawabnya ketika tenggat waktu yang tidak ditentukan untuk memberikan jawaban telah tiba, setelah pertemuan kami untuk kali ketiga, dulu.
Bianca memang tidak seketika mengiyakan ketika aku ajak menikah. Empat bulan kemudian tepatnya, setelah pertemuan kami yang ketiga di Anyer kala itu. Sebelumnya dia berpikir, berrasa, dan berdoa apakah aku benar-benar pasangan hatinya. Setelah dia merasa aku adalah orangnya, maka dengan lapang hati, ikhlas dan penuh kesungguhan berangkatlah kami berbahtera. Apa pun bayarannya.
Masa laluku dan masa lalunya, atas kesadaran dan kesepakatan bersama menjadi sirna. Let bygones be bygones. What ever will be will be, demikian nubuat roman-roman kebanyakan.
‘’Temen-temen bilang dan jeles aku mempunyai seorang suami yang penulis. Kata mereka pasti keren mempunyai seorang suami penulis,’’ katanya ketika kami hendak berangkat tidur.
‘’Oh ya, calon suami Putri kan pengacara, suruh aja dia jadi penulis, maka keren juga dia jadinya,’’ kataku sekenanya berbicara tentang Putri, kawan sekantor istriku.
‘’Yah, dia tersinggung ya....suamiku tersinggung ya. Nggak biasanya laki-laki yang aku sayangi kok nyinyir seperti ini?’’.
‘’Emang gampang bu menjadi penulis, segampang anak-anak itu belajar ilmu hukum , ekonomi, kedokteran atau elektro nuklir sekalipun’’.
‘’Yah, ke mana-mana dia’’.
‘’Bianca istriku yang baik, menjadi penulis tidak semudah yang mereka bayangkan. Meski bukan berarti mereka semua tidak bisa menjadi penulis’’.
‘’Iya, aku tahu, kok marah sih’’.
‘’Siapa yang marah ya...’’
‘’Situ..’’
‘’Ini bukan marah!””
‘’Lantas’’.
‘’Ini menempatkan perkara pada porsinya’’.
‘’Ah takut ah, tidur aja yuk’’.
Kami pun tertawa kecil sembari menyongsong kantuk.
‘’Mereka kan hanya bilang, gimana rasannya mempunyai suami seorang penulis. Dan aku jawab, aku happy, bangga dan kuutarakan segala perasaan yang mewakili keluarbiasaan. Itu lo jawabku kepada kawan-kawanku. Dan yang paling penting, kataku kepada mereka, jika punya masalah dengan seorang suami yang penulis, dia tidak akan pernah dan jarang mengeluarkan kata-kata secara langsung, kecuali menuliskan apa yang ada di benaknya. Dan aku hanya membacanya, setelah itu, dia akan kembali menjawab dengan tulisannya’’.
‘’Yah, dia malah ke mana-mana, melecehkan suaminya sendiri....’’
Untuk kali kedua, kami tertawa, pelan.
Selera humor istriku memang menggemaskan. Oh ya, kau, Anda, tuan dan puan tahu makna nama Bianca Larasati? Bianca sebagaimana kita maklumi adalah nama Italia yang berarti kurang lebih murni, atau white pure. Nama itu diberikan kepada Bianca karena ayahnya pernah beberapa saat bertugas di negeri pizza itu. Dan mungkin terpesona dengan kecantikan para dara di sana. Sedangkan Larasati diberikan ibunya agar putrinya menjadi laras-ati, lurus-ati, atau dalam terminology Jawa berarti jujur dan sabar. Bukankah indah jika kita berpikir seorang perempuan bernama Italia dan Jawa kuliah di Los Angeles Amerika, dan akhirnya bekerja di Jakarta, kemudian menikah dengan pejantan tangguh asli Indonesia?
SELAIN gemar berkebun, Bianca adalah pembuat kue yang mumpuni. Dari brownies kukus sampai blackforest, hingga kue bolu adalah menu-menu standarnya. Bahkan terkadang dia meracik-racik berbagai menu untuk menemukan sebuah temuan anyar. Memang, dari hasil coba-cobanya, tidak semua menghasilkan sebuah sajian yang nikmat untuk dikonsumsi, tapi ikhtiarnya untuk melakukan penemuan-penemuan baru patut dihargai.
‘’Enak nggak roti terbaruku ini,’’ katanya setelah barang dua jam bersikutat di dapur.
‘’Enak!’’ jawabku sigap bahkan sebelum mencicipinya sekalipun.
‘’Mbok yang serius sedikit kenapa sih. Mosok menghormati jerih payah istri sendiri kok nggak bisa’’.
‘’Ups, dia tersinggung. Sensi kayak anak SMP ibu satu ini,’’ jawabku sembari melingkarkan tangan kiriku ke pundaknya.
Seperti biasa, dia hanya menjentilkan selentikan kecilnya di puncak hidungku, sebagai tanda kegemasannya. Setelah itu, seperti biasa, kami menikmati berdua roti buatannya sembari menonton National Geographic di layar kaca.
V. Orchid
TANYAKANLAH berbagai jenis anggrek kepada Bianca. Maka, tak ubahnya dosen yang tahu betul dengan ilmu yang dikuasainya, dia akan bertutur dengan deskriptif tentang anggrek kepada penanyanya.
‘’Kau pasti heran mengapa aku dalam beberapa hari ini menyimpan darah ayam dalam jumlah tertentu?’’ tanyanya padaku yang memang sedikit banyak keheranan dengan kebiasaan barunya menyimpan darah ayam. ‘’Para pencinta anggrek akan melakukan hal yang sama, sayangku?’’.
‘’Menyimpan darah ayam dalam jumlah tertentu?’’
‘’Yap!’’.
‘’Apakah ibu dulu juga melakukan hal yang sama?,’’ kejarku merujuk pada ibu mertuaku yang mempunyai hobi yang menurun kepada putriya, rupanya.
‘’Yap!’’.
Setelah itu dengan detail Bianca akan bertutur tentang tata cara pemupukan bunga kesayangannya tersebut. Selain menggunakan pupuk yang berasal dari kotoran ayam atau kotoran sapi, terangnya, penggunaan darah ayam akan sangat membantu kualitas warna bunga anggrek yang mekar nantinya. ‘’Beberapa lama sebelum disiramkan ke akar anggrek, darah ayam tersebut kita peram barang dua hari, setelah itu kita campur dengan air dalam jumlah tertentu, sebelum pada akhirnya kita siramkan ke akarnya. Dan hasilnya, bisa kau lihat sendiri bukan?!’’.
Memang, anggrek Bulan kebanggaan istriku warnanya lebih cemerlang ketika mekar dibandingkan dengan anggrek yang tidak dia perlakukan sama.
‘’Kalau disiram dengan darah manusia akarnya, apa yang terjadi ya?’’ tanyaku membanyol tentu saja.
‘’Darah situ boleh juga sepertinya’’.
‘’Mungkin suatu saat perlu kita coba. Atau barangkali, maaf, darah kotor perempuan ketika datang bulan, gimana?’’
‘’Please deh….yang ada anggreknya pada mampus semua’’.
Menanam anggrek bagi Bianca bukan hanya masalah melampiaskan hobi memanjakan psikologi, lebih dari itu, menurutnya, selain memperindah balkoni apartemen kami yang tidak seberapa, membudidayakan anggrek jika ditekuni, akan sangat dapat mendatangkan keuntungan secara finansial.
‘’Kemarin, Nanda dan Putri bahkan telah melakukan penawaran terhadap anggrek Bulan kesayanganku. Dan harganya bagus loh..’’
‘’Boro-boro terjadi transaksi, yang ada malah dibagi secara gratis kan’’
‘’Iya sih…’’
Kami hanya tertawa.
ANGGREK atau dalam bahasa Bianca adalah Famili Orchidaceae baginya adalah belahan jiwa dalam bentuk yang lain. Jadi bukan hal yang mengherankan lagi jika pada sebuah kesempatan dia kerap berbicara sendiri dengan Mikiwi atau si Kalajengking, Aranda, Pandad, Apple Pink dan beberapa jenis anggrek kesayaannya lainnya. Aku bahkan tidak yakin apakah telah benar menuliskan ejaan anggrek kesayangan istriku itu.
‘’Kau berbicara kepada tumbuhan seolah berbicara dengan anakmu saja,’’ tegurku pada sebuah Minggu pagi, ketika dari tadi mengetahuinya berbincang dengan berbagai jenis bunga kebangsaan bangsa Thailand dan Singapura itu.
‘’Inilah seni dan kenikmatannya. Bukan hanya bayi yang bisa diajak bercengkrama. Bahkan tumbuhan ini bisa sekali diajak berdialog,’’ katanya.
Mengapa Anggrek sangat menjadi tumbuhan dan bunga kesayanganku? Tanyanya padaku. Tanpa menunggu sebuah jawab atau anggukan sekalipun dariku, Bianca dengan tertib dan detail menarasikan kegemarannya tersebut.
‘’Bunga Anggrek, sebagaimana kau maklumi selain bunganya menyejukkan mata dan memesona, menanam dan memeliharanya tidak sesulit dan sepelik yang kau bayangkan,’’ katanya sembari sesekali memetik dedaunannya yang sudah memudar. ‘’Anggrek, tidak sebagaimana laki-laki, hanya perlu sedikit perhatian, namun justru menghasilkan sesuatu yang melebihi harapan, yaitu keindahan’’.
‘’Ada analogi yang lebih sarkatis dari itu?’’.
‘’Hi hi hi,’’ istriku hanya mengangkasakan derai tawanya. Sindirannya perihal laki-laki yang tak lebih dari seorang bayi raksasa memang terkadang ada benarnya.
‘’Kita hanya perlu sedikit tahu untuk memahami di mana bunga jenis ini bisa tumbuh dan berkembang. Selanjutnya, ketekunan yang sangat berperan dalam perkembangannya selanjutnya. Bayangkan, memelihara atau untuk mengerti laki-laki dalam banyak hal lebih pelik dan tidak masuk akal, meski ketekunan telah disediakan sedemikian banyaknya’’.
‘’Pengalaman masa lalu ya bu,’’ jawabku sekenanya.
Kami berdua pun, lagi-lagi, hanya tertawa.
AH, memelihara Anggrek menurutku, berdasar pengetahuanku selama ini melihat istriku berkebun, terkadang agak pelik juga.
‘’Di mana peliknya. Kau hanya butuh tahu bahwa Anggrek pada dasarnya membutuhkan temperatur yang rendah serta kelembaban udara yang cukup,’’ jawabnya tak terima. ‘’Oleh karenanyalah tempat yang paling ideal baginya bila terhindar dari panas matahari secara langsung. Meski demikian dia harus tetap mendapatkan cukup sinar matahari dan udara loh’’.
‘’Ah, tetap saja pelik. Suamimu ini bahkan tidak sepelik itu’’.
‘’Enggak. Coba denger dulu. Kau hanya dianjurkan menanamnya di wadah yang dapat tahan lumayan lama untuk menyimpan air’’.
‘’Untuk itulah kau menggunakan moss, akar kadaka, pakis cincang, kayu cincang, arang, kulit pohon atau sabut kelapa?’’
‘’Eh, pinter banget,’’ ejeknya.
‘’Ah, sialan’’.
Kami berdua tertawa lagi.
‘’Selain apa yang kau sebutkan tadi berfungsi sebagai wadah menyimpan air, juga sekaligus berguna sebagai alat berpegang bagi akarnya’’.
ITU belum semua, Bianca bahkan dengan kesabaran dan ketekunannya layaknya seorang guru kepada muridnya yang paling bengal, mampu menularkan dan menginformasikan segala ihwal yang dikuasainya, seperti kasus anggrek ini. Dia bahkan dengan teliti mampu menyilangkan antara jenis anggrek yang satu dengan anggrek lainnya, dengan harapan menghasilkan aneka warna dan bentuk baru.
‘’Mengembangbiakkan anggrek bisa juga dilakukan dengan menggunakan teknik kultur jaringan. Artinya, kita hanya cukup menggunakan satu sel dari anggrek induk, maka akan dapat membuahkan bibit anggrek yang identik,’’ katanya sembari menambahkan bahwa faktor udara pun sangat memegang peranan penting untuk perkembangan dan pertumbuhan anggrek.
‘’Itulah sayang mengapa pada musim hujan, anggrek-anggrek ini setiap dua bulan sekali bisa kita petik kembangnya. Tapi pada musik kemarau, baru bisa kita petik selama tiga bulan,’’ terangnya dengan sabar.
‘’Bener kan, dependingnya lebih besar daripada suamimu ini. Anggrek itu bahkan epifit pada pohon atau ranting-ranting lainnya meski tidak pernah bertindak sebagai parasit. Selain itu, sangat banyak faktor yang memengaruhi perkembangaannya, dari faktor lingkungan, seperti kelembaban, sinar matahari, temperatur. Belum lagi pemeliharaannya seperti pemupukan, penyiraman serta pengendalian hama. Bener kan’’.
‘’Enggak seperti yang kau bayangkan, sayangku,’’ ujar Bianca, sebelum pada akhirnya kembali meneruskan keterangan perihal empat habitat tanaman anggrek. Memang benar ada anggrek epifit yang hidupnya menumpang pada pohon lain tanpa merugikan tanaman inangnya, paparnya. ‘’Anggrek jenis ini hanya membutuhkan naungan dari cahaya matahari, misalnya Phalaenopsis sp hanya membutuhkan cahaya matahari kurang lebih 30 %, Cattleya sp membutuhkan cahaya 40%, Dendrobium sp membutuhkan 50 sampai 60%, dan Oncidium sp, membutuhkan 60 – 75 % cahaya matahari’’.
‘’Andai saja aku tahu apa makna kata asing di balik semua maksudmu itu, istriku’’.
‘’Kau akan belajar dengan sendirinya. Percayalah’’.
Kemudian, imbuhnya, ada jenis anggrek terestrial, yaitu anggrek yang dapat tumbuh di tanah dan membutuhkan cahaya matahari langsung, seperi Aranthera sp, Renanthera sp, Vanda sp, dan Arachnis sp, ‘’Untuk jenis anggrek terestrial seperti ini membutuhkan cahaya matahari 70 – 100 %, dengan suhu pada siang hari berkisar antara 19 – 380 derajad celcius, dan pada malam harinya 18–210 derajad celcius. Bahkan, untuk anggrek jenis Vanda sp yang berdaun lebar seperti ini hanya memerlukan sedikit naungan,’’ terangnya menunjuk salah sebuah anggreknya yang berdaun laksana telinga Gajah.
Selesaikah penjelasan Bianca perihal Anggrek?
Masih panjang.
‘’Masih ada anggrek saprofit, anggrek jenis ini tumbuh pada media yang mengandung humus atau daun-daun kering, dengan hanya membutuhkan sedikit cahaya matahari, seperti Goodyera sp. Dan yang terakhir adalah anggrek litofit, anggrek jenis ini tumbuh pada bebatuan, dan cenderung lebih tahan terhadap cahaya matahari penuh, seperti Dendrobium phalaenopsis’’.
Galibnya, menurut Bianca, anggrek yang ada di balkoni apartemen kami membutuhkan temperatur 28 + 2° celcius dengan temperatur minimum 15° celcius.
‘’Anggrek tanah biasannya lebih tahan panas dari pada anggrek pot’’.
‘’Yang jenis ini pasti banyak di Afrika?’
‘’Udah deh, simak aja dengan tekun ya. Sayangku, temperatur Afrika pasti kau tahu sangat tinggi sekali, itu bisa menyebabkan dehidrasi, akibatnya kau tahu sendiri kan?’’
‘’Perkembangannya pasti terhambat’’.
‘’Uh, pinternya, makanya disimak terus ya, biar tetep pinter’’. Selanjutnya, dia akan bercerita tentang kelembaban nisbi yang diperlukan untuk berbagai macam jenis anggrek. ‘’Fungsi kelembaban yang tinggi untuk menghindari penguapan yang terlalu tinggi. Kalau kelembabannya terlalu tinggi dapat mengakibatkan busuk akar pada tunas-tunas muda. Itulah mengapa aku sebisa mungkin menjaga wadah dalam pot jangan tertalu basah’’.
‘’Untuk itu pula kau sering menyemprotnya dengan bantuan sprayer?’’
‘’Yap’’.
Setelah itu, dia akan semakin panjang, dan panjang bercerita. Dan itu berarti membutuhkan ketekunan, stamina, toleransi dan penghormatan untuk terus menyimaknya. Ah adakah pekerjaan yang lebih membosankan namun lumayan menyenangkan selain menyimak dunia istri kita yang sebenarnya kita tidak begitu menyukainya?
‘’Masih mau menyimak nggak sih? Kok ogah-ogahan seperti itu. Kalau bercerita tentang Manchester United, dan Sir Alex Ferguson serta peta kekuatan sepakbola Eropa terkini aja aku simak kok’’.
‘’E, e, e…kok marah gitu? Masih, masih….’’
‘’Enggak enak banget deh….’’
‘’Eeeeee….ya, ya, ya….ayo teruskan ceritanya’’.
‘’Males deh. Belajar nyenengin istri sendiri kenapa sih. Cuman nyimak aja ogah-ogahan’’.
‘’Eeeee iya, iya… aku menyimak terus dari tadi kan….’’
‘’Iya, tapi mulai ogah-ogahan!’’
‘’Tau dari mana aku mulai ogah-ogahan’’.
‘’Itu mulai nguap’’.
‘’Lah, nguap kok dijadikan indikator ogah-ogahan’’.
‘’Ya, udah. Masih mau nyimak nggak?’’
‘’Masih to ya…..’’.
Kemudian, Bianca dengan agak sedikit terganggu emosinya bertutur tentang proses pola pertumbuhan anggrek, yang katanya dibedakan menjadi dua tipe, yaitu simpodial dan monopodial. ‘’Anggrek simpodial itu anggrek yang tidak memiliki batang utama, bunganya ke luar dari ujung batang, serta berbunga kembali dari anak tanaman yang tumbuh,’’ tuturnya sembari menyebut nama asing lagi seperti Cymbidium sp, Dendrobium sp, Cattleya sp, dan Oncidium sp. ‘’Sedangkan anggrek monopodial itu anggrek yang titik tumbuhnya terdapat di ujung batang, pertumbuhannnya lurus ke atas pada satu batang. Dan ciri khususnya kembangnya ke luar dari sisi batang diantara dua ketiak daun,’’ katanya lagi-lagi sembari menyebut nama latin lagi yang makin membuatku puyeng, seperti Renanthera sp, Phalaenopsis sp, Aranthera sp, Vanda sp, dan Arachnis sp. Itu belum semua, istriku pun dengan detail akan berkisah tentang proses persilangan, pembibitan, serta penanaman dan pemeliharaannya.
‘’Suamiku. Kedengarannya anggrek memang pelik ya, dan kau pun kelihatan udah bosen menyimaknya. Tapi yang pasti, anggrek tidak tidak sepelik, seaneh dan semembosankan laki-laki’’.
‘’Lah…..!?’’
VI. Another Luka
MENJADI manusia, semua orang juga tahu, adalah tidak mudah. Apalagi menjadi Luka. Tidak ada yang lengkap dalam hidup manusia, dan dalam hidup Luka, semakin tak terkira ketidaklengkapannya. Keganjilan, keabsurdan, ketidakjelasan, kesamaran, dan ketidakpastian bersilangsengkarut dalam kesehariannya. Kelindan dan kesimaharajaan hidup tidak akan pernah bisa dimengerti dalam sekali umurnya, sekali riwayatnya. Dalam sebuah jenak terkadang dia berpikir kematian mungkin akan lebih baik keadaannya jika dibandingkan dengan kondisinya sekarang. Namun, dalam saat yang bersamaan, jaminan kenyamanan dalam kematian itu tidak ada yang pernah bisa benar-benar memastikannya. Meski sebenarnya dia juga tahu, dan berusaha untuk meyakininya, bahwa manakala dia telah berani menaklukkan kematian, maka dia akan mampu menaklukkan ketakutannya. Ketakutan tentang apa saja. Takut melarat, takut kesepian, takut ditinggalkan, takut dicampakkan, takut diabaikan nasib baik, bahkan takut tidak diterima oleh kehidupan sekalipun.
Sejauh manakah stamina Luka menempuh ketidakpastiannya terhadap hidup? Sejauh gelora kelelakian dan gelegar hasratnya mampu dia kendalikan, dia manajemen sedemikian rupa. Ah, Luka hanya sebagaimana anak muda lainnya, yang cenderung memenangkan gelora kelelakiannya, dan menyalurkan hasratnya, setelah itu, dengan sangat mudah ditebak, dia mencoba memetik kuntum-kuntum makna dari balik penyesalannya. ‘’Seharusnya tidak seperti ini. Semestinya seperti itu. Sepatutnya demikian. Selayaknya kebajikan’’. Itulah ungkapan yang paling kerap bertahta di kesadarannya manakala sebuah dosa sudah tercipta. ‘’Ah, namanya juga manusia, abai dan lena adalah bagian dari ketidaksempurnaan yang membuatnya sempurna sebagai makhluk yang bernama manusia, bukan?,’’ ah, lagi-lagi sangat super klise kan pembelaannya. Seperti anak kecil yang ketahuan berbuat curang oleh ibunya, kemudian menyatakan penyesalannya, setelah itu, sangat bisa ditebak, akan berbuat dan mengulang kesalahan yang cenderung sama. ‘’Ibuku terlalu baik sebagai seorang manusia. Bahkan neraka pun akan ditebusnya atas nama kasih sayang kepada anaknya,’’ ujar Luka pada suatu senja, ketika matahari pelan dan pasti hendak pulang ke kampung halamannya. ‘’Demikian halnya dengan Tuhan atau siapa pun orang menyematkan dan menyebut nama-Nya. Ia tidak akan pernah berpikir untuk mencemplungkan umatnya hanya untuk sebuah atau berbuah-buah kesalahan ke dalam neraka. Karena, kau harus tahu, sebagaimana nubuat para cerdik cendekia, Tuhan kan bagaimana Ia berada dalam benak kita. Kita berpikir baik, maka baiklah Ia kepada kita. Kita berpikir buruk, maka, keburukan berkecenderungan menaungi kita’’.
“Kau terlalu banyak bicara!’’ Selaku ketika baru menyadari telah bergelas-gelas alkohol dengan santun bertamu di kesadarannya.
‘’Ini saat yang tepat untuk berbicara,’’ potongnya dengan cepat.
‘’Kau tampak kelihatan bodoh jika berpikir dalam keadaan membabi-buta seperti itu’’.
‘’Ah, itukan penilaianmu saja’’.
‘’Kau semakin tidak terkendali’’.
‘’Aku baik-baik saja’’.
‘’Apa yang kau bicarakan adalah mata pelajaran anak kemarin sore, yang masih belum selesai dengan dirinya sendiri!’’
‘’Aku nggak peduli. Anggap saja aku sedang mengulang pelajaran untuk sekedar remainding’’.
‘’Kau semakin tidak keruan’’.
‘’Aku baik-baik saja. Percayalah’’.
‘’Tapi kau menceracau’’.
‘’Hei, para sufi dan orang suci pada masanya identik dengan ceracauan ketika dia menyampaikan kebijakan-kebijakan sebagai tuntunan’’.
‘’Kau bukan sufi!’’
‘’Justru itulah’’.
‘’Kau sakit’’.
‘’Sembuhkan aku kalau begitu’’.
LUKA lahir dan besar dari sebuah keluarga yang menghormati dan menjunjung tinggi pendidikan. Belajar senantiasa menjadi sebuah prioritas utama yang tidak terbantahkan. Belajar apa saja, dari siapa saja. Dan capaian kepandaian adalah buah dari sebuah proses belajar panjang yang tidak akan pernah usai, selama hayat di kandung badan. Lewat proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya itulah, Luka melewati keseharian dan perjalanan nasibnya dengan cenderung baik. Kalaupun tidak sempurna benar, akibat proses belajarnya itulah dia berkeniscayaan untuk terus melebarkan dan melanglangkan pikiran-pikirannya.
‘’Aku akan menantang nasib. Mengajaknya bersemuka, kemudian, mencandainya. Agar dia lena, dengan demikian aku dapat menelikungnya. Setelah itu, akan aku desain nasibku sendiri sesuai dengan apa yang aku inginkan’’.
‘’Sudahlah, berdamai saja dengan nasibmu, dengan kelahiranmu. Kamu ini seperti anak SMP yang baru kenal lawan jenis, kemudian dengan semangat berkobar ingin memenangkan hatinya’’.
‘’Ini lebih dari sekedar ingin memenangkan nasib!’’
‘’Ah, udahlah...., mari kita pergi nonton saja. Kau tidak akan pernah bisa menang melawan nasib. Kau mau menantang garis hidupmu? Yang bener aja. Lewat cara apa pun kalau memang sudah demikian adanya, ya sudah diterima saja. Kau hanya perlu mengolah dan memaknainya’’.
‘’Kau seperti para agamawan dan orang-orang pandai yang gemar mengumbar kebajikan-kebajikan di mimbar-mimbar itu, untuk mendapatkan sejumlah bayaran. Dan ini yang paling memprihatinkan, mereka pikir mereka pandai. Padahal mereka nggak ngerti apa-apa. Di atas itu semua, mereka, seperti kamu, nggak pernah bisa ikhlas lihat orang ‘lepas’..’’
‘’Yah.....marah dia’’.
PERNAH Luka terlalu ‘’lepas’’ dengan hidupnya. Liar. Saking lepas dan liarnya dia, pada sebuah batas, akhirnya lelah juga. Berhenti pada sebuah kebosanan, keletihan, kemonotonan. Dan entah ada angin apa, dia berkeinginan keras menarik diri, retreat, mencoba menata ulang kesehariannya.
‘’Sebenarnya apa keinginan hidup ini dariku?’’ tulisnya dalam sebuah prosa liris. Setelah itu, dia bekerja dengan giat, serta penuh ketekunan untuk mengasah daya renung dan pikirnya. Bersoliter diri, memetakan kemarahan serta sinau berdamai dengan kelahiran. ‘’Hidupku akan hancur dengan pelan dan pasti jika aku tidak bersegera menarik diri. Ketajaman rasa ternyata membuat kita lebih menghormati diri, terlebih kepada orang lain’’.
LUKA sebenarnya tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang pewarta. Tidak juga dalam lintasan angannya yang paling liar, dan bodoh sekalipun. Tidak ada yang istimewa dengan pekerjaan itu, pikirnya kala itu. Tapi, kenyataan ternyata beroposisi. Dan perjalanan hidup memang harus tetap dan terus ditegakkan. Begitulah Luka melanjutkan hidupnya. Menjadi pewarta. Di luar keinginannya.
APA yang harus dibayar untuk sebuah hidup yang wajar? Hidup yang sepatutnya. Hidup yang layak? Tidak ada rumusan yang baku dalam perkara ini. Ikhtiar yang paling terskema, teliti, tekun serta penuh pengorbanan sekalipun tidak akan pernah mampu menjaminkan sebuah kelayakan dan ketrentaman dalam hidup.
Dulu, dulu sekali, atau mungkin hingga sekarang, ketika orang tua senantiasa memberikan nasihat, bahwa hidup prihatin akan membuahkan sebuah hasil yang menyenangkan pada saatnya nanti. Apa lacur? Tidak seutuhnya seperti itu adanya. Hanya kecenderungan hasil sebuah keprihatinan adalah kebaikan, benar adanya. Tapi mendekati kemutlakan adalah omong kosong belaka. Tidak akan ada yang pernah benar-benar berkuasa atas nasibnya, kecuali nasib itu sendiri. Meski ada juga dan banyak yang berpikir bahwa orang yang menggantungkan hidup dari nasib adalah makhluk yang paling menyedihkan. Apapun itu, merdekalah kita dengan pikiran masing-masing. Tapi, dalam kasus Luka, aku kira, betapapun getir nasib yang ditanggungnya tidak akan pernah membuatnya berprasangka buruk kepada hidup. Tidak selintas pun. Mungkin dia marah, aku kira itu wajar. Menjaga jarak dengan hidup, itu pun masih dalam batas-batas sepantasnya. Meski sebenarnya, menurutku, nasib Luka tidak jelek-jelek amat. Tapi kau, atau siapa pun aku pikir tidak sepatutnya berpikiran seperti itu. Karena kita, aku kira, tidak akan pernah benar-benar tahu berat beban hidup seseorang, tidak juga karib yang paling akrab dan setiawan sekali pun.
Seperti aku kepada Luka misalnya. Atau kalian dengan teman paling akrab kalian sekalipun, misalnya.
Adalah benar, Luka belum pernah ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya, seperti aku ditinggal pergi anak dan istriku. Tapi, dalam dimensi yang lain, dia, Luka mengalami kehilangan-kehilangan dalam bentuk yang lain, dan bisa sangat jadi lebih perih kehilangannya dari kematian yang nyata sekalipun.
‘’Ada sesuatu yang indah dari sebuah kematian dari orang-orang yang kita cintai,’’ katanya kepadaku lewat surat elektroniknya. ‘’Paling tidak, kita pernah meluangkan waktu bersama mereka semasa hidupnya. Dan kita boleh berbahagia karenanya. Bukan kehilangan yang melulu akan kita ratapi, namun, masa-masa hidup bersama merekalah yang menjadi sebuah kenangan yang patut kita rayakan’’.
‘’Kau belum pernah kehilangan dalam arti yang sebenarnya. Jadi, jangan pernah bertutur tentang rasanya kehilangan dan kehampaan padaku,’’ jawabku balik.
Keesokan harinya, sebuah pesan telah aku terima dari Luka.
‘’Siapa bilang aku belum pernah kehilangan! Berulang-ulang aku kehilangan!’’.
Seketika aku kembali menjawabnya.
‘’Paling tidak, kau belum pernah ditinggal mati!’’.
Seperti biasa, keesokan harinya, sebuah jawab sudah tersedia.
‘’Kematian adalah sebuah kepastian dan itu jelas. Tapi ditinggal pergi oleh orang-orang yang dicintai, dan dia telah mati di hati, tapi sebenarnya dia masih hidup di sana, di suatu tempat yang tidak kau ketahui tepatnya di sebelah mana, tapi kau masih berpikir semoga hanya kebaikan yang ada bersamanya, adalah sebuah kehilangan dalam bentuk yang lain. Dan itu, buatku, lebih menyakitkan. Meski sebenarnya kau mengklaim diri sangat lebih dari mampu untuk mengayominya dengan kebaikanmu. Tapi nyatanya, keadaan tidak memihakmu, dengan berbagai macam alasannya. Dari rasionalitas hingga keabsurdan keadaan yang seolah-olah terus dan terus melawan, sebelum pada akhirnya menelikungmu’’.
‘’Aku tidak tahu kau berbicara apa. Kongkrit saja. Apa yang harus aku lakukan,’’ jawabku.
Keesokan harinya, seperti biasa, sebuah jawab lagi-lagi sudah tersedia.
‘’Berbahagialah atas kematian anak dan istrimu! Karena kita atau siapa pun tidak akan pernah tahu apa yang terbaik untuk kita’’.
Kali ini, dengan kemarahan yang memuncak aku balas emailnya dengan mengabaikan santunitas perkawanan.
‘’SEHARUSNYA KAU BERHATI-HATI DENGAN PIKIRANMU’’.
Esoknya, mungkin karena Luka menyadari ketersinggunganku atau entah apa alasan pastinya, dia menawarkan sebuah pertemuan.
‘’Words always have two meaning. Mungkin kita harus bertemu. Bersemuka secara langsung untuk membicarakan hal ini. Sebelum kau menyumpahiku dengan segala serapahmu, atas jawabku yang tak berkenan di hatimu’’, jawabnya sembari memberikan data teknis perihal waktu dan ruang untuk persemukaan kita di sebuah kesempatan.
VII. Pertemuan.
PERTEMUANKU dengan Luka kali pertama terjadi pada sebuah kebetulan yang tak terkira. Mungkin karena jalinan hidupku dan hidup Luka terbentuk dan terbangun dari sebuah bangunan kebetulan ke kebetulan lainnya.
Pada sebuah mimpi yang ganjil aku kali pertama bersua dengannya. Biasannya, jika pada sebuah mimpi yang indah, alur cerita dalam mimpiku berjalan dengan liris, prosaik, bahkan terkadang puitis. Namun, tentang yang satu ini, bahkan ketika masih berada dalam sebuah mimpipun berjalan dengan ganjil.
Begini mimpinya:
Aku berada di sebuah padang savana yang luas. Bentangan keluasan savana yang menghijau itu seluas langit biru di atas kepalaku. Sejauh mata memandang sejauh itu pula savana menjelang. Dalam kesendirianku di tengah savana ada sebuah titik kecil di pelupuk mataku. Aku pikir itu adalah kotoran, atau semacam debu yang mengganggu pandangan mataku. Tapi, ketika aku usap dengan tangan kanan, ternyata bukan mataku yang terganggu. Melainkan memang ada sesuatu di sana. Semacam little tiny black spot. Tanpa berpikir panjang, karena aku seorangan, maka aku hampiri titik kecil berwarna hitam itu.
Setelah menempuh perjalanan yang mulus dan datar di padang savana, tak berapa lama kemudian semakin jelaslah sosok tersebut. Ternyata ia adalah seorang manusia, dan tepatnya sosok laki-laki dengan rambut terurai sebahu yang sedang menari. Tariannya pelan dan pasti, semacam tarian Bedoyo Ketawang yang sakral itu, atau tarian Karonsih, yang biasa untuk mengiringi orang pergi ke pelaminan. Aku terkesiap sekaligus terkesima dibuatnya. Meski parasnya tampak laki-laki sekali, namun gerakannya lembut laksana putri keraton sedang menari. Mengetahui aku berada di sekitarnya, laki-laki dengan rambut sebahu terurai dan membiarkan telanjang dadanya, itu menyimpulkan senyumannya. Sementara kain jarit yang ia kenakan semakin membuatnya tak ubah kesatria abad XII dalam cerita babad Jawi. Mungkin sebangsa sandangan para Akuwu atau Ken pada masanya.
Lama, laki-laki yang mungkin berusia 23 sampai 27 tahun itu asyik menari seorang diri. Ia, menurutku, tahu kalau aku ada di sekitarnya. Namun, sepertinya ia memutuskan untuk mengabaikankanku. Ia hanya hirau dengan gerakan tariannya.
Tidak ada percakapan antara kami berdua. Laki-laki penari itu, demikian selanjutnya aku menyebutnya, tertalu asyik dengan dirinya sendiri. Sementara aku, juga dibuatnya asyik dengan keasyikannya. Maka, sebenarnya telah terjadi dualog antara aku dengan laki-laki penari itu. Bahasa kami mungkin bahasa diam. Tapi dalam diamku aku sedang berbicara dengan gerakan tarinya. Mungkin laki-laki penari itu melakukan hal yang sama terhadapku. Sebenarnya ia diam tanpa basa. Namun, seolah lewat gerakan tariannya, ia ingin berbicara kepadaku, gesture make picture.
Tentu saja aku tidak mengerti dan tidak tahu sama sekali dengan bahasa tarinya. Namun, dalam bahasa yang lain, dengam membiarkan aku menekuni setiap polah tariannya, aku tahu dan semakin yakin kalau dia berbicara denganku.
Hingga tiba-tiba, dalam hitungan jenak, laki-laki penari itu mengejangkan seluruh anggota badannya. Ia melakukan gerakan-gerakan radikal di luar dugaanku, Ekstrimitas gerakannya berputar haluan 180 derajad dari tariannya semula yang lembut dan memesona.
Tanpa kusadari, aku terperanjat dibuatnya. Alur tarian yang tadinya ritmis tiba-tiba maleh rupa menjadi seolah tak terskema, penuh spontanitas dan membara. Sesekali laki-laki penari itu menghentakkan kakinya ke tanah rumput savana, dan diikuti dengan gerakan meloncat ke angkasa. Dan amboi, laki-laki penari itu terbang tak ubahnya lakon-lakon dari mancanegara sana. Di langit pun laki-laki penari itu jumpalitan seenak udelnya. Aku tentu saja semakin terpana, meski sebenarnya merasa ada yang aneh dan kecut juga. Betapa tidak, belum lama laki-laki penari itu memesonaku dengan gerakan lemah lembutnya, tapi tak berapa lama kemudiaan mencengangku dengan polah tingkah tak karuannya di angkasa.
Laki-laki penari itu mondar-mandir di langit sana. Tanpa lenguhan tidak juga suara, hanya desingan kain jaritnya membising di gendang telinga. Dan rambutnya yang terurai sebahu, berkibar-kibar mengembara.
Mengasyikkan dan tak terduga lak-laki penari ini, pikirku dalam mimpi. Dalam satu kesempatan ia memesona, namun dalam kesempatan yang sama, sekaligus mengagetkan stabilitas ketenangan jiwa.
Hingga akhirnya aku sudah terbangun di sebuah pagi yang malu-malu menghantarkan sinar ultra violetnya. Hari itu, aku lupa persis tanggal dan bulannya. Tapi yang pasti tahun 1995 di Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Jawa Tengah. Ketika aku menjadi salah seorang peserta Temu Mahasiswa Sastra Indonesia di sana. Bersama kawan-kawanku dari Universitas Indonesia, kami memang mengikuti agenda tahunan yang kebetulan di Surakarta diadakannya. Dalam even yang salah satu agendanya membicarakan, dan merumuskan perkembang susastra modern di Indonesia itu pula, aku bersiborok dengan laki-laki penari dalam mimpiku. Ah, betapa anehnya.
Laki-laki penari dalam mimpiku itu, dalam sebuah jeda sesi diskusi mendapat kesempatan membacakan sajak salah seorang penyair terkemuka Indonesia; Willibrodus Surendra Broto. Maka, persis dengan sosok laki-laki penari dalam mimpiku, laki-laki yang belum aku kenal siapa namanya itu mulai menari dengan membiarkan rambut sebahunya terurai dipermainkan fan yang berada di dalam ruangan itu. Hanya bedanya laki-laki yang membacakan Sajak Sebatang Lisong itu tidak membiarkan dadanya terbuka, dan tidak berjarit tentu saja. Namun, paras, postur dan sosoknya tidak ada bedanya sama sekali. Semua persis, juga senyum simpulnya ketika beruluk salam dengan hadirin yang ada di sana. Aku pun tentu saja terkesiap kaget dan setengah tidak percaya. Bagaimana tidak, aku pagi tadi tidak menggubris sedikit pun perihal mimpiku yang aku anggap ganjil itu. Dan telah aku anggap angin lalu. Tapi, siapa menyangka jika apa yang aku mimpikan semalam tiba-tiba jelma di depan kedua bola mata dan kesadaranku. Aku nyaris tidak percaya dengan fenomena ini. Tapi aku berusaha berdamai dengan keadaan pada waktu itu. Bersegera membangunkan kesadaran.
Maka, laki-laki penari yang ada dalam mimpiku itupun mulai bersajak dengan lantangnya tentang Sajak Sebatang Lisong...
Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan
Aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan
Delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
..........................
Menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana - sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan
Dan di langit
para teknokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung - gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes - protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam
Aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair - penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan
termangu - mangu di kaki dewi kesenian
Bunga - bunga bangsa tahun depan
berkunang - kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
Berjuta - juta harapan ibu dan bapak
menjadi gebalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
.................................
Kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing
diktat - diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa - desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata
Inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan.
Begitu usai mendeklamasikan sajak Rendra. Maka bertepuk soraklah hadirin yang ada. Laki-laki penari yang ada dalam mimpiku dan sekarang jelma di depan kesadaranku, tidak hanya mampu membacakan sajak dengan apik, benar dan laras. Lebih dari itu, dengan permainan intonasi, birama, gestur tubuh dan penguasaan arena yang telah diubahnya menjadi panggung pembacaan, serta penghayatan yang purna, ia mampu menghipnotis semua yang ada di ruangan itu.
Mata hadirin yang ada di ruangan bukan hanya ditantangnya untuk bersitatap dengan tajam matanya. Lebih dari itu, laki-laki penari yang ada dalam mimpiku dan sekarang jelma di depan kesadaranku, bahkan menjadikan meja diskusi yang masih bertaplak rapi menjadi bagian dari panggung pertunjukan pembacaan puisinya. Ia melompat-lompat dari satu meja ke meja yang lain. Dan hadirin pun malah menyemangatinya dengan decakan. Sesekali ia berada di sayap kanan meja yang ada, namun dalam kesempatan lain ia telah berlari ke sayap kiri meja yang lain pula. Setelah itu, ia akan menyeruak di tengah-tengah tempat duduk hadirin yang ada, sebelum pada akhirnya kembali ke tempatnya semula, di tengah dan depan arena ruangan diskusi, tepat di atas meja yang telah bergeser taplaknya.
Ia memesona sekaligus mengagetkan, persis penampakannya dalam mimpiku. Sajak Sebatang Lisong, yang konon pada masanya mampu membuat pendengarnya terpesona ketika dibacakkan Rendra, di tangan laki-laki penari dalam mimpiku yang sekarang jelma di depan mataku, benar-benar sampai di kesadaran penyimaknya.
Maka, tanpa berpikir dua kali aku niatkan untuk menyongsongkan tangan dan hati ke arahnya. ‘’Hei. Bagus pembacaannya,’’ kataku menghampiri laki-laki penari yang ada dalam mimpiku, dan sekarang telah benar-benar jelma di depan kesadaranku.
‘’Makasih,’’ katanya pendek, masih dengan keringat yang membasahi kening dan baju lengan panjang biru yang dikenakannya.
‘’Saya Pierre,’’ ujarku memperkenalkan diri.
‘’Luka,’’ jawabnya masih menggenggam tanganku dengan erat.
‘’Semalam kita telah ketemu!’’
‘’Maaf?’’ Katanya mengernyitkan dahi, sedikit memincingkan mata.
‘’Benar. Meski hanya dalam mimpiku’’.
Luka semakin mengernyitkan dahi tanda ketidakmengertian. Tapi parasnya memang benar-benar persis dengan sosok penari yang ada dalam mimpiku. Bentuk tubuh dan rambut sebahunya pun tidak ada bedanya. Dan yang membuatku yakin; simpul senyumnya. Meski vokal suaranya cenderung serak-serak bariton.
Nafas Luka masih satu dua, sementara tangan kami masih saling menggenggam.
‘’Aku bersungguh-sungguh dengan apa yang aku katakan’’.
‘’Kau pernah ketemu aku dalam mimpumu,’’ujar Luka menyoal pertanyaanku.
‘’Ya. Aku pikir ini bukan soal yang aneh, bukan’’.
‘’Oh, nggak. Nggak ada yang aneh dengan mimpi yang menjadi nyata.’’ jawab Luka masih dengan kesantunan yang sama.
‘’Sip,’’ jawabku.
‘’Berarti ini adalah pertemuan kita untuk kali kedua?’’
‘’Yap’’.
‘’Apa yang aku katakan dalam pertemuan pertama kita?”’
‘’Kau tidak berbicara satu kata pun’’.
‘’Tidak satu kata pun’’.
‘’Tidak satu kata pun’’.
‘’Lalu apa yang aku lakukan’’.
‘’Menari’’.
‘’Menari?’’
‘’Ya, kau penari yang hebat dalam mimpiku’’.
‘’Suatu saat kau akan tertawa hebat jika melihatku menari’’.
Kami berdua tertawa.
Maka, sejak saat itu aku berkawan dengan Luka.
MESKI kami berada di dua kota yang berbeda, hubungan kami tidak terputus begitu saja. Sesekali jika mampir ke Semarang, maka sebisa mungkin aku beruluk sapa dengan Luka di kampusnya, Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Demikian pula sebaliknya, ketika Luka mampir ke Jakarta untuk sebuah urusan organisasi, bisnis atau pribadi sekalipun, dia menyempatkan diri mencium tangan ibu dan ayahku.
Tanpa kami sadari ibu dan Ayahku ternyata seirama juga dengan Luka. ‘’Ibu seperti nemu anak baru yang tiba-tiba udah gede,’’ kata ibuku suatu saat. ‘’Ayah juga merasakan hal yang sama,’’ imbuh Ayah kepadaku. Dan demikianlah kami memang akrab, karena memang hampir pada semua esensi kehidupan aku merasakan menemukan partner in crime dengan Luka. Demikian halnya dengan Luka, aku kira. ‘’Nggak semualah,’’ katanya suatu saat setelah perkawanan kami memasuki usia ke tujuh tahun. ‘’Iya sih’’, kataku mengiyakan.
‘’Kau suka perempuan ayu yang simpel dan cenderung berkelas, meski tentu saja tidak mudah menemukan yang seperti itu,’’ katanya.
‘’Ya, dan kau sendiri sangat bisa membuka kemungkinan untuk berhubungan dengan perempuan macam apa saja. Hal yang nyaris tidak dapat aku lakukan. Dan untuk itulah kau menjelma Giovanni Jacopo Casanova kawakan?’’
‘’Ah, nggak seperti itulah. Para perempuan itu sendiri yang memberikan kesempatan padaku untuk memasuki hatinya. Dan jika pada akhirnya hatinya tidak cukup membuat nyaman hatiku, mosok aku harus terus memaksakan diri untuk tinggal terus di dalamnya’’.
‘’Alah, bisa aja kamu!’’
‘’Memang aneh berbicara tentang makhluk yang satu ini ya’’.
‘’Kau lebih tahu pastinya. Kamu kan great pretender bin liar’’.
‘’Bukan seperti itulah...’’.
JIKA Luka memutuskan diri menekuni dunia kepenyairan, keaktoran, keteateran dan segala yang berhubungan dengan kesenian. Aku lebih mencurahkan diri dalam hal kepenulisan. Untuk itulah setelah lulus S1 dari UI, aku bekerja pada sebuah production house untuk menjadi penulis script dan skenario mereka. Sesekali atau kalau sedang mood aku memang menulis esai lepas pada majalah gaya hidup, film atau musik sekalipun. Dan Luka, aku dengar melanglang dari satu kota ke lain kota mempertontokan lakon-lakon terbarunya di tempat-tempat terhormat. Sebagai seorang aktor dan sutradara teater sekaligus penulis naskah drama yang tidak buruk, memang mengasyikkan menekuni lakon Luka. Pernah aku mendapat undangan khusus untuk menekuni lakonnya pada sebuah festival teater di Taman Budaya Surakarta. Sekitar medio tahun 2000-an kalau aku tidak keliru.
Dari Jakarta aku terbang dengan pesawat nuju Adi Sucipto, tentu saja. Setelah sampai di tempat yang dimaksud, maka dengan tekun dan cermat aku perhatikan detail pementasannya. Lakon ‘’Arok’’ itu memang tidak begitu mengecewakan di mataku. Sehingga tidak salah jika dewan juri mengganjarnya dengan salah sebuah kriteria jawara. Kalau tidak salah setting terbaik, selain lakon favorit. Kami berpelukan seusai pentas teater berdurasi nyaris 60 menit itu. Luka tidak hanya menjadi salah seorang pelakonnya. Ia juga merangkap menjadi sutradara.
Setelah semalaman kami berbicara dengan riang tentang apa saja, sekaligus mengenangkan persemukaan kita untuk kali pertama di Surakarta; dulu, Luka mengantarkanku hingga ke bandara, pada pagi harinya. Sebenarnya aku menolak tawarannya untuk diantar hingga bandara. Karena masih terlalu banyak yang harus dia kerjakan pada waktu itu. Mengorganisir kawan-kawannyalah, dan segala tetek bengek lainnya. Tapi dasar Luka, ia bersikeras mengantarku sampai bandara. Memang demikianlah Luka. Ia akan berkecenderungan dengan keras mewujudkan apa yang dimauinya. Tapi itu dulu, ketika kepemudaan sedang dipuncak-puncaknya. Sekarang, setelah 11 tahun lebih perkawanan berjalan, ia mulai mengendurkan segala keinginan-keinginannya.
‘’Tidak sengoyo dulu,’’ katanya. Yang tidak pernah berubah dalam pendiriannya cuma satu, ’’Jangan paksa aku berbisnis denganmu. Perkawanan dan bisnis cenderung tidak akan pernah berjalan seiring. Seperti minyak dan air,’’ katanya menekankan intonasi suaranya. Biasanya, jika Luka berbicara dengan gaya bahasa dan intonasi seperti itu, berati ia bersungguh-sungguh. Aku sudah terlalu banyak kehilangan kawan hanya gara-gara bisnis yang dijalankan dengan tidak sepatutnya, imbuh dia memberikan alasan. Jadi tidak mengherankan jika dia selalu menampik bila kutawari sebuah bisnis yang aku ramalkan menguntungkan secara finansial. ‘’Uang bukan segalanya bung!’’ katanya. Yang bener bos.....,’’Nggak juga sih...’’. Lah....
VIII. Arok Cengeng.
TAHUN 2000 lalu, Luka juga pernah menghadiahkan sebuah naskah drama karangannya kepadaku. ‘’Arok’’ judulnya. Lakon itu diselipkannya di tasku dalam perjalanan kami ke Bandara Adi Sucipto kala itu. Katanya, dia menggunakan lakon abad XII itu hanya sebagai panjatan untuk mendeskripsikan kediriannya. Atau lebih tepatnya mencerminkan perjalanan perkasihannya. Hanya tentu saja, sudah ada dramatisasi di sana-sini. Lakon itu, selain ingin dijadikannya kaca benggala, juga ia ikhtiarkan menjadi semacam diary dalam bentuk yang lain. Bentuk cerita pendek lebih tepatnya.
Begini kisahnya:
DI tanah lapang, di tempat yang telah dijanjikan, pada waktu yang telah ditentukan, dengan kebencian di jantung sisi kanan dan dendam di jantung sisi kiri, Ametung, yang parasnya mulai berkerut melantangkan serak kesumat ke langit. Berseolah lawan tandingnya, Arok, berada di depannya. Dengan angkara tak tertahan, menderas hujan menusuk wajah serta petir menjilat-jilat, menggelegar, tak terhiraukan lagi. Ametung menghunjamkan tombak ke bumi, bersimpuh kemudian mengacungkan keris ke langit. Sejurus kemudian dia menumpahkan kesumpekan, menyerapah dan mengutuk, menerjang-nerjang, meraung-raung…
“Arok! Manusia macam apakah dirimu! Merendahkan martabat para ksatria dengan mengobrak-abrik bahtera kerajaanku. Lalu, dengan penuh muslihat kaucuri permaisuriku dari singgasana. Tak adakah jalan kehidupanmu lebih mulia, kecuali kau isi dengan petaka? Arok, sejak semula aku tak percaya semua omongan adipati, perwira, punggawa, dan telik sandi bahwa kau bukan manusia!
“Namun sejak kejadian ini…. Binatang! Muslihat apakah yang kau gunakan sampai permaisuriku serta merta, seakan penuh kerelaan berpaling dariku ke pelukan berandalan yang berleluhur tak jelas, sepertimu!.
“Arok! Tidakkah kau malu pada dirimu sendiri bahwa tindakanmu ini penuh kenistaan? Tidakkah kau rasakan kepedihan hati ini, ditelikung istri atas nama bujuk rayu musuh besarnya?! Bukankah kau juga lelaki, Arok?! Tak pernahkah kau rasakan keperihan dikhianati sigaraning nyawa?! Tidakkah tersirat dalam benakmu yang cemerlang itu, pada saatnya pelacur ini akan berkhianat untuk kali kedua demi sekeping takhta atau apa pun namanya?”
Emosi Ametung makin pekat. Air mata mengintip dari kerut kelopak mata, hendak merinaikan butiran-butirannya. “Duhai Dedes, jangan pernah kau ulang khianatmu kepada siapa pun. Tidak juga pada seekor anjing, bahkan demi nirwana sekalipun. O Dedes, pergilah kau dengan kutukanku!”
Seketika, petir menjilat keris Ametung. Kecupan petir di pucuk lengkung kerisnya menimbulkan gelegar, menulikan telinga siapa pun di sekitarnya. Kilauan petir cuma menyisakan silau beberapa jenak di mata Ametung. Untung, semua patih, punggawa, perwira, dan para pengawal dari pakuwuan sejak semula telah sumingkir begitu sang akuwu dari Tumapel itu mengumbar angkara.
“Akuwu!”
Demi mendengar suara tak asing lagi di telinganya dan melihat sosok Arok, Ametung beringsut tegak dengan kedua kakinya, seraya merapikan diri. Seketika, ia menyimpan rapi air mata, serta menata hati dan pikiran selayaknya ksatria.
“Tak adakah perilaku seorang raja yang lebih bersahaja, selain menceracau dan mengumbar rasa belaka seperti seorang pemuda bercerai dari pasangannya? Tak adakah perkara yang lebih menyita perhatianmu selain masalah wanita?”
Sindiran Arok membuat Ametung yang hampir kuasa mengatasi dirinya makin tajam menombakkan pandang ke arah musuh besarnya. Yang sekarang telah jelma tepat di depan ke dua biji matanya, meski ketajamannya memudar dirongrong usia. Arok hanya sekitar duapuluh langkah orang dewasa di depannya.
“Ini aku, Arok! Aku yang dengan perkasa merampok kekuasaan dan permaisurimu. Mari kita bersemuka, sebelum ajalmu bersua kerisku. Karena kita laki-laki, maka salah satu harus mati!”
“Ya. Karena kita laki-laki, maka salah satu harus mati!” Ametung tak kalah lantang menyepakati ucapan Arok.
“Sepertinya ada yang akan kauutarakan sebelum jasadmu atau jasadku berkalang tanah, Akuwu. Bi-ca-ra-lah!”
“Bukan kematian benar yang kutakuti. Bahkan kematian terlalu sungkan menghampiriku. Sudah tak terhitung begundal macam kau kusudahi. Namun kehinaanlah yang membuatku meradang. Ketahuilah, wahai Arok, bahkan ketika nyawamu atau nyawaku meregang, kesumat dendam ini tak akan pernah tersudahkan.”
“Ohoi, ternyata Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel, raja diraja yang disegani kawulanya, hanyalah patriot bagi diri sendiri, tidak bagi negerinya. Tidak salah kurongrong pertiwimu sembari tanpa permisi kucuri permaisurimu. Tetapi, santaikanlah barang sejenak-dua jenak amarahmu, Akuwu. Ketahuilah…, Dedes tetap akan kusanding di tampuk singgasana itu, menjadi mahligaiku, menjadi peng-an-tin-ku!”
“Kau akan menuai balas di luar perhitunganmu, Arok!” hardik Ametung seraya mengarahkan mata keris ke jantung Arok.
“Akan kusongsong kapan pun saat itu tiba.” Tenang Arok menyahuti, meski kerisnya masih tersarung rapi di balik pinggul.
“Kau gentar, Arok?”
“Tidak satu titik hujan pun.” Meski, deras hujan makin menjadi-jadi.
“Bersiaplah, Arok!”
“Aku senantiasa siaga!”
Di bawah siraman hujan lebat, kebencian, amarah, kesumat, dan angkara, Ametung berlari kecil penuh kepastian dan kesungguhan ke arah Arok. Dia mengarahkan keris ke jantung seterunya, sedangkan tombak di tangan kiri siap dia tolakkan dari jarak yang dia yakini. Arok, yang tersongsong, masih mematung. Beranjak tak. Mencabut gaman tak. Namun sorot matanya tak lepas dari langkah Ametung yang mendekat penuh ketegapan. Kepastian.
Jarak menipis. Hujan menjadi-jadi. Petir menari-nari. Sembari berlari Ametung menolakkan tombak. Dalam hitungan jenak, jika Arok bergeming, sia-sialah legenda yang selama ini mengelilingi kebesaran namanya. Seketika, dalam detik yang berdetak, “Blarrrrr!” Gemuruh petir meluluhlantakkan mata dan batang tombak yang mengarah tepat ke jantung Arok. Lalu…, jerit kesakitan membahana. Belum usai keterkejutan Ametung karena kilauan petir menyilaukan pandang dan menyisakan rasa perih di dada kiri yang tak tersarikan, lawan yang dia tuju raib, entah ke mana.
“Di sini, Akuwu.”
Sejurus kemudian Ametung membalikkan badan. Musuhnya yang baru saja lenyap tiba-tiba, tepat telah berada di depan mata. Kali ini Arok sembari menggenggam keris. Ada sisa darah segar menetes dari keris itu. Dan Ametung…, pandang matanya mengabur. Di luar kesadaran tangan kiri Ametung membekap dada kirinya. Darah segar mengintip dari balik jari-jarnyai. Ya, jantung Ametung cedera. Keris Arok penyebabnya.
“Kalaupun tidak sekarang engkau tumpas, esok sebelum matahari terbit KAU telah berkalang tanah, Arok!” Ametung masih menebar ancaman.
“Sesumbarlah, Ametung. Pedih perihmu tak akan terobati hanya dengan menumpasku.”
“Kalaupun engkau belum tumpas juga, pada saat purnama belum sempurna, saat itulah semua petaka menyertaimu.”
“Kutukanmu tak ubahnya mantra tak menemu mangsa. SIA-SIA.”
Dengan jantung robek di dada kiri, Ametung berlari sejurus ke arah Arok, memburu dan memusatkan sisa-sisa tenaga dengan keris teguh tergenggam tangan kanan. Di benak Ametung cuma ada satu tujuan: tiji tibeh, mati siji mati kabeh.
“Enyahlah manusia terkutuk!”
“Binasalah bersama nasibmu, Tua Bangka!”
Sekali lagi, sebelum keris Ametung sampai benar ke sasaran, kilauan sabetan keris Arok merobek lambungnya. Terburailah isi perut sang Akuwu Tumapel, menyudahi sejarahnya, mengakhiri riwayatnya.
Hujan belum juga reda.
***
Di taman larangan pakuwuan, Dedes, meski membenci mendiang sang suami, ia tetap tak dapat menerima begitu saja kematian Ametung. Bagaimanapun Dedes pernah menghabiskan dan melewatkan sebagian rona garis nasibnya bersama Ametung. Bening air mata menyungai di pipinya. Dedes menyesali tindakan kedua lelaki yang sama-sama membuta mencintainya. Dedes berbicara dengan suara mengiba dalam kegundahan.
“Bodoh! Di belahan bumi mana pun apa yang dipertontonkan para lelaki tak lebih dari kebodohan belaka. Atas nama angkara mereka menghunus keris dan menumpahkan darah diantaranya sendiri. Setelah itu bersorak sorai seraya berkacak pinggang, menentang langit, dan berpekik layaknya ayam aduan. Tak adakah jalan yang lebih wajar dan sederhana? Tak bisakah kalian bersanding tanpa saling mencidera?
“Arok! Kaurebut takhta lantaran wanita atau kuasa? Dan kau, Ametung! Kaupertahankan singgasana lantaran daya atau wanita? Atau kalian berdua memang tak pantas mendapatkan keduanya? Celakalah aku yang lepas dari mulut serigala lalu jatuh ke pelukan singa.
“O…, tak adakah jaminan ketenteraman dalam garis hidupku? Bagaimana mungkin aku mendapatkan kesejahteraan dari seorang lelaki yang dengan mudah merampas kehidupan orang lain, kemudian dengan bangga membusungkan dada, mempersembahkan buah angkaranya kepadaku sebagai kado istimewa? Alangkah durjananya!
“Di mana aku harus menemukan kemuliaan di antara dua lelaki yang sama-sama mengaku ksatria? Sementara itu di dada mereka bersemayam kesumat dendam.” Dedes makin mengisak. “Sebenarnya aku bersuka cita lepas dari kungkungan Ametung yang tak pernah tahu, dan tak mau tahu belajar memperlakukan dan menghargai wanita. Namun celakanya, berandalan yang telah membebaskan aku ini…., misteri apa yang membuat aku jatuh hati kepadanya? Jangan-jangan dia hanya memanfaatkan aku sebagai boneka belaka. Simbol di depan rakyatku, di samping takhta rampasannya?”
Mata Dedes nanap menatap kosong ke depan, menerawang kepada... “Arok! Bicaralah. Jangan kau mematung batu membiarkan kegundahanku. Bicaralah, Arok. Aku akan menuntutmu bersumpah atas nama kedua kuburan orang tua yang melahirkanmu, meski kau tak tahu di mana kubur itu, tentang kesungguhanmu menyandingku.”
Seketika, seperti biasa, Arok datang dan pergi tanpa permisi, penuh misteri. Arok menyua Dedes pelan, pelan sekali. Seperti santun, melenakan. Dedes tak mengira Arok tiba-tiba menyusul ke taman larangan. Laksana terpana Dedes menyembah kepada Arok. Menata hati.
“Matamu keruh, Dedes. Kegundahan pasti mengaduk-aduk kebeningannya. Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran permaisuriku, aku, suamimu, wajib menghalaunya. Barangkali tak cukupkah persembahanku kepadamu? Atau, memang beginikah cara dan balasan seorang permaisuri kepada rajanya?”
“Tidak, Suamiku. Aku hanya ingin… merasa lebih nyaman.” Dedes merendahkan suara, datar.
“Duhai, Dedes… kenyamanan macam apa yang tak mampu kuberikan kepada permaisuri terkasih? Takhta telah kauterima. Begitu pula ini sukma. Tak adakah di benak seorang wanita, kecuali keraguan?”
“Bukan itu masalahnya.”
“Lalu apa?”
“Apakah Kakang tetap beranggapan aku ayu, bahkan pada saat aku tidak ayu sekali pun?” Entah kenapa tiba-tiba Dedes bisa bermanja-manja pada suami barunya, yang tentu saja baru saja membunuh suami lamanya.
“Oh, Dedes…” Arok bergeming. Dia sejenak membiarkan kemanjaan sang istri berlalu.
“Mengapa kau diam, Kakang?”
“Tak adakah perbincangan yang lebih berisi selain melulu membicarakan masalah keayuanmu yang tak terbantahkan?”
“Kalau begitu berbicaralah kepadaku tentang c-i-n-t-a.” O, apa pula ini. “Tak akan pernah ada cinta sesungguhnya dalam sejarah peradaban anak manusia. Tidak di sini, tidak di sana. Tidak sekarang, tidak nanti. Cinta sudah lama mati sebelum ia ada, meski tak ada yang membunuhnya. Cinta sudah sedemikian jauh dibengkokkan maknanya. Berbicara tentang cinta, Dedes, adalah berbicara tentang omong kosong belaka. Meski, bukan kesia-siaan.” Ketus, Arok berkhotbah seperti resi atau empu saja.
“Lalu, bagaimana dengan hubungan kita?” kejar Dedes.
“Dalam banyak hal, cukup aku yang merasakan. Kau tak perlu tahu. Begitu pula sebaliknya. Biarkan ia tersimpan rapi menjadi misteri.”
“Kau naif, Arok.”
“Aku tak peduli. Aku telah melamarmu dengan banjir darah. Dan itu tidak murah.”
“Bagaimana bila suatu saat kau tak menjumpai lagi kebahagiaan bersamaku?”
“Persetan! Menyandingmu sudah lebih dari kebahagiaan.”
“Bagaimana dengan Ken Umang, istrimu terdahulu? Apakah dia sebahagia dirimu menerima kehadiranku sebagai permaisurimu?!”
“Jangan sekali pun kaubawa-bawa perempuan berbudi itu dalam urusanmu, Dedes!” Arok meninggikan suara untuk tetap mendudukkan Umang dalam hatinya. Angin mati sejenak. Dedes berpaling, menghindari tatapan mata sang suami. Dia tetap memberanikan diri bicara.
''Kau belum tahu siapa aku sebenarnya, Arok, dan mungkin tak akan pernah tahu. Timanglah masak-masak pemikiranmu sebelum ketelanjuran mengungkungmu. Bukankah mendiang suamiku sudah banyak bertutur tentang aku sebelum kau akhiri riwayatnya?!”
“Aku tahu, Dedes. Aku tahu. Jangankan aku, kau pun belum tahu siapa yang bersemayam dalam dirimu. Sudahlah, jangan berbelit. Aku sudah tahu alur perbincangan ini sejak awal.”
“Tidak sesederhana itu, Arok.”
“O, Dedes, kau berkepala batu seperti mendiang suamimu. Yang wajar sajalah. Ketahuilah, Dedes, hidup ini sederhana. Penafsirannya saja yang hebat-hebat. Ayolah, apakah kau akan terus mengkhusyuki kegelisahan-kegelisahanmu, sementara kau merindukan belaianku? Merindukan belaian seorang raja diraja yang sudi menerima permaisuri dari bekas musuh besarnya. Merindukan belaian seorang raja diraja yang mampu mengurai kusut keraguanmu. Merindukan kehangatan seorang raja diraja yang tulus menidurimu setelah kelelahan menghadapi lintas permasalahan yang mengadangmu. Enak bukan? Apa lagi!”
“Kalau suatu saat kau tak membutuhkan aku lagi, atau sebaliknya? Apakah kau akan mengakhiri riwayatku sebagaimana kauhabisi mendiang suamiku dan musuh-musuhmu? Tak pernahkah terbersit dalam benakmu akan kutelikung dirimu sebagaimana kau telikung Mpu Gandring, Kebo Ijo, dan lain-lainnya? Mungkin lebih baik kita tak perlu membelenggu diri dalam sebuah ikatan ketergantungan, sebelum ketelanjuran kebersamaan kita menciptakan tragedi yang lebih menyayat dan mengerikan.”
Arok terkesiap, tak mengira perbincangan dengan sang istri lebih dari sekadar berisi. Mungkin Arok lupa, Dedes adalah putri Mpu Parwa, seorang brahmana, yang lebih diuntungkan dengan bekal ilmu dan pengetahuan, daripada kaum sudra kebanyakan, seperti kasta yang disandangnya.
“Duhai, Dedes. Aku tahu perasaanmu. Namun ketahuilah, aku telah lama berikhtiar mempersuntingmu dengan harapan melapangkan suasana hati ini. Bukan malah kau rongrong dengan kegelisahan-kegelisahan itu. Hidupku sudah terlalu sesak. Jangan kautambahi dengan kesesakanmu!”
Di luar perhitungan Dedes, kegelisahannya membangkitkan amarah Arok pada diri sendiri. “Sudahlah, apa pun yang terjadi di muka biar sejarah yang mengambil alihnya. Aku tak cukup punya kekuatan untuk menampik kemauanku. Aku sendiri tak tahu. Kalaupun tahu, aku tak sadar. Kalaupun sadar, aku tak peduli. Kalaupun peduli, aku tak berdaya. Siapa, siapa yang sanggup melawan dirinya sendiri?!”
Arok muntab. “Tidak penting lagi apa yang telah kulakukan. Itu semua telah lalu, dan tak akan kembali. Sekaranglah saatnya, ke-ki-ni-an. Dan aku, Arok, telah berketetapan hati melakoni sisa darmaku bersamamu, Dedes. Banyak alasan mengapa aku berketetapan demikian. Namun biarlah hanya aku yang tahu. Jadi, Dedes, jangan desak aku membeberkannya, karena semua sudah jelas adanya.”
Dengan suara melantang Arok membaiatkan kesungguhan ke langit Tumapel.
“Maka dengan ini, aku baiatkan kepada khalayak ramai, alam raya beserta segala penghuninya, dan dewa-dewa penguasa semesta: di sinilah Arok dan Dedes bertakhta, dan di sinilah Arok dan Dedes binasa.”
***
Seisi pakuwuan geger. Penghuni negeri panik, lintang pukang. Awan hitam pekat bergandengan dengan badai menyelimuti seantero bumi Tumapel. Hawa penyakit pun menebarkan teluh, menciptakan bencana yang belum pernah ada.
Telik sandi melapor kepada Arok. “Ametung bangkit dari kubur dan tak henti-henti memanggil-manggil nama Paduka. Ametung menuntut balas atas semua yang telah ditimpakan kepadanya!”
Arok terkesiap. Dia tak pernah menduga petaka terus menguntit bahtera kerajaannya, sebagaimana pernah dikutukkan Mpu Gandring ketika binasa di ujung keris ciptaannya sendiri, dulu. Sekarang, sebatang mayat menuntut balas lantaran tuah keris itu.
Arok bergegas menyegera menyambut Ametung di tempat dulu dia menyudahi sang akuwu. Kali ini mereka berada di sisi berbeda. Arok tetap menggenggam harapan bisa menyudahi musuhnya, untuk kali kedua.
***
Dengan sisa-sisa pakaian kebesaran yang compang-camping bercampur lumpur pekuburan, dan darah yang terus menetes dari dada kiri. Serta tangan kiri yang bersetia menyangga usus terburai, Ametung berdiri tegap, tepat di tempat dulu ia mengembuskan nafas untuk kali terakhirnya. Kali ini Ametung menundukkan pandang ke bumi. Demikian pula keris di tangan kanannya. Angin menghantarkan bau busuk tubuhnya. Hawa busuk tubuh Ametung inilah yang menciptakan wabah tak terkira. Arok menyongsong beberapa tombak di depan dan tersenyum.
“Sudahlah, Akuwu, berdamailah dengan nasib. Pulanglah kepada takdir kekalahan dan kematianmu.”
“Siapa pun semestinya setia pada nasibnya. Namun apakah aku harus menjadi pecundang hanya karena kesetiaan pada nasibku? Ada yang lebih berharga dan utama ketimbang sekadar berserah diri kepada nasib.”
“Aku meragukan ketegaanku membuatmu merintih untuk kali kedua, Akuwu.”
“Seorang ksatria tak akan pernah merintih bila kesakitan.”
“Akuwu, bahkan dengan segala ilmu, pengetahuan, serta kesaktianmu, kau tak akan pernah sanggup mengalahkan aku! Engkau boleh saja meneror seluruh penghuni negeri ini dengan wabah anehmu. Tetapi untuk kali kedua, aku akan menyudahimu. Camkan itu, Akuwu!”
“Pongahmu masih seperti dulu.” Ametung meluruskan pandang ke muka. Dia membahanakan angkara. “Camkan pula, wahai Arok, dalam banyak hal, dendam mengalahkan kematian. Dalam banyak hal lain, cintaku kepada permaisuriku yang telah kaucuri, membangkitkan kematianku! Akulah mimpi buruk kalian berdua. Akulah garis tipis antara cinta dan kebencian. Dan, kalian berdua tidak akan pernah dapat menghentikan kematianku yang menuntut balas karenanya. Jelanglah saatmu, Arok!”
“Apa yang kauinginkan dariku dari kebangkitanmu, Akuwu?!”
“Apa yang kuinginkan?” Ametung berpikir sejenak. “O, tentu saja aku mengingkan rumah manis di pinggir danau, istri ayu, anak yang lucu-lucu, hasil panen yang tak pernah menipu, dan… tentu saja kepalamu, biadab!” Mata sang akuwu memerah darah, menombak Arok.
“Apakah engkau sudah tahu cara bertarung, kakanda Akuwu?!”
“Apakah engkau sudah tahu cara dan rasanya menyongsong kematian, andika Arok?!”
Arok agak gentar -- tabu yang selama ini dia hindari. “Mengapa kau membisu, Arok? Engkau gentar menghadapi kematian? Itu di luar kebiasaanmu, Arok yang Agung.” Sindiran Ametung makin mengiris nyali Arok.
“Seorang ksatria tak akan pernah gentar bila maut mengadang. Karena setiap orang akan menemukan jalan kematiannya sendiri-sendiri. Dan jalan takdir kematianku di luar jangkauanmu, Akuwu. Akan kusongsong saatku sebagaimana telah kusongsongkan kematianmu, Akuwu.”
“Kau tak akan pernah dapat membunuhku hanya dengan satu atau dua kali kematian, Arok, sebagaimana kau sudahi para seterumu yang lain. Akulah arwah perkecualian yang akan terus membayang-bayangi dan menghantarkanmu ke mati, takdirmu yang sejati.”
“Aku Arok, sang pembangun! Hidupku berarti dan mati pun aku menjadi lebih berarti.”
“Cih...! Simak dengan tekun kutukanku kepadamu, Arok! Kerismu, kekuasaanmu, dan garis keturunanku yang pernah bersemayam di gua garba permaisuriku dan permaisurimu, akan terus berpusing-puisng laksana gangsing dan bersarang tepat, telak, di jantung takhtamu. Saksikan, Arok! Anusapati* dan para simpatisannya akan bahu-membahu dan terus bersiaga menunggu lengahmu. Dia layaknya pemburu yang kan terus mengintai dan menawarkan kematian pada mangsanya. Dan kau, Arok, kau akan merasakan apa yang kurasakan; merasakan indah dan sempurnanya penderitaan, ditelikung kekuasaan! Selamat datang, Arok! Selamat datang. Kan kusambut saatmu. Selamat datang… di taman kehidupan sebenarnya; ke-ma-ti-an.”
Mereka pun bertarung lagi, lagi, dan lagi. Sampai benar-benar ada yang mati.
Semarang, 7 Juni 2000
Bintaro, Jakarta, 24 Agustus 2000
Catatan:
Telik sandi : Mata-mata
Sigaraning nyawa: istri
Sumingkir: menyingkir
Gaman: senjata
Tiji tibeh, mati siji mati kabeh: mati satu mati semua
Muntab: amarah meluap
Anusapati : Putra Dedes dari Ametung.
BIANCA, pada masa-masa hidupnya paling suka dan gemar menekuni tulisan-tulisan Luka. Menyedihkan dan berbau sok-sok tragik, layaknya kisah orang-orang Spartan yang berseteru dengan orang Persia pada masanya. Atau legenda Achiles yang dengan tangkas, lugas dan penuh kekejian memangkas nasib Hector gara-gara perkara wanita juga: Helen dari Troya, katanya. Mendiang istriku memang berkecenderungan menggemari kisah-kisah yang tragis-tragis. Mungkin ketragisan pula yang akhirnya mengakhiri riwayatnya? Kata Bianca, karya adalah cerminan kreatornya. Meski aku tidak percaya 100 % dengan tesis tersebut, namun paling tidak, latar belakang kebudayaan, pendidikan, pergaulan dan pergulatan hidup seorang kreator terhadap sebuah karya sangat koheren hubungannya. Untuk hal yang satu ini aku bersepakat dengannya. Dalam kasus karya-karya Luka, mendiang istriku meyakini, bahwa karyanya mencerminkan kesejarahannya.
‘’Mungkin kau harus bertanya kepadanya secara langsung,’’ kataku pada sebuah subuh, setelah aku menemaninya begadang menyelesaikan pekerjaan kantornya di rumah.
‘’Ada beberapa pertanyaan yang bisa dipertanyakan langsung kepada orang yang bersangkutan. Dan ada pertanyaan yang cukup dijadikan bahan diskusi saja,’’ jawabnya dengan mata yang mulai merah lantaran menahan kantuk.
‘’Untuk hal ini, berarti kita cukup hanya memperbincangkan antara kita?’’
‘’Aku pikir itu lebih baik’’.
‘’Kau mencoba menjaga perasaan Luka’’.
‘’Aku hanya mencoba belajar hati-hati’’.
‘’Aku tahu itu’’.
‘’Tidak mudah berdiri di sisinya. Tidak juga para perempuan yang pernah mendampingi hidupnya’’.
‘’Ya’’.
‘’Tapi aku paling suka dengan tulisan-tulisannnya’’.
‘’Aku bersyukur untuk itu’’.
‘’Apa yang kau lakukan jika berdiri pada posisi Luka?’’
‘’Perihal perempuan-perempuannya?’’
‘’Semuanya!’’
‘’Suamimu ini tidak akan pernah bisa menjadi orang lain. Terlebih lagi orang lain, lebih tidak akan bisa menjadi suamimu ini. Seseorang sepatutnya menjadi dirinya sendiri. Kau sendiri yang kerap mengatakan itu.’’
‘’Ups. What a silly me’’.
Kami pun tertawa. Ah, kami memang gemar tertawa.
Mendiang istriku juga pernah sedikit banyak heran dengan tulisan Luka. Jika Luka bernarasi tentang ‘kehilangan’, katanya, maka itu akan sangat berkeniscayaan menghasilkan sebuah karya yang menggetarkan. Menggetarkan? Aku pikir mendiang istriku berlebihan. ‘’Paling tidak aku bergetar dibuatnya,’’ tekannya bersungguh-sungguh. Dan salah satu barometer kesusksesan sebuah karya, apa pun itu bentuknya, entah karya musik, tari, lukisan, film, prosa, puisi, naskah drama dan berbagai jenisnya, buat Bianca, ketergetaran adalah kriteria utamanya. ‘’Atau paling nggak aku ngerasa merindinglah’’.
Selektivitas Bianca terhadap berbagai karya inilah yang membuatnya, menurutku, mempunyai selera baca yang tidak bisa diremehkan. Di rak bukunya bacaan seperti The Complete Works of William Shakespeare, Les Miserables (Victor Hugo), Mother (Maxim Gorky), War and Peace (Tolstoy), Mansfield Park dan Pride and Prejudice (Jane Austin), The Plays of Oscar Wilde (Oscar Wilde), Don Quixote (Cervantes), The Man in the Iron Mask (Alexandre Dumas), hingga Sang Alkemis-nya Polo Coelho tertata rapi di rak bukunya. Semua itu, bersama puluhan buku bacaan lainnya telah terlahap, biasanya, menjelang tidurnya.
Bahkan beberapa buku yang dianggapnya karya-karya puncak pengarang Indonesia juga bersandingan dengan opus magnum pengarang manca. Dari karya Iwan Simatupang, Achdiat K. Mihardja, karya-karya awal Pramudya Ananta Toer, Kuntowijoyo, Romo Mangun Wijaya, Danarto, sampai pengarang-pengarang terkini. Dan jangan salah, bacaan teenlit pun dilahapnya. ‘’Variasi aja. Perihal yang enteng dan berbau naif tapi menggembirakan, penting juga buat keseimbangan jiwa kan,’’ katanya. Seperti biasa. Aku tidak peduli dengan apa pun yang dibacanya. Selama istriku nyaman dan bahagia, maka bersyukurlah aku. Adakah yang lebih membahagiakan ketika melihat orang yang paling kita cintai bahagia? Apalagi ini kegiatan mulia; membaca!
Memang, tidak semua tulisan Luka berkenan di hati mendiang istriku. Yang ini contohnya;
Rasanya Baru Kemarin
Caption 1
RASANYA baru kemarin. Kau bilang seperti mimpi. Ketika tiba-tiba kita telah menjadi suami istri. Dan sekarang, aku berpikiran untuk... Sementara aku lebih tidak tahu pasti dengan apa yang kau pikirkan. Rasanya baru kemarin, kita menoreh sebercak warna di Bali, kemudian melanjutkan pesona guratannya di Semarang, beberapa jenak kemudian belajar mencoretkan asa di Jakarta. Rasanya baru kemarin, padahal hampir dua kalender berganti kala saban hari sembari tertatih, lirih kita lukis Ciputat, pasar Jum'at, Pondok Indah, Radio Dalam, Blok M, Sisingamangaraja, Sudirman, Tamrin, HI, Menteng kemudian berbalik aku ke Gatsu. Rasanya baru kemarin, dan sekarang, telah seratuslimapuluh kali matahari membelai pagi, kita hanya bersapa via sms. Betapa.
Tahukah, aku kerap mengenangkan keberduan kita dan itu cukup membuatku hendak melinangkan air rasa. Haruku makin gulita manakala perasaan kangenku menawarkan nostalgia. Atas nama ketabahanlah aku hampir selalu menghindari loka-loka di mana dulu berdua kita pernah memprosakan rasa. Bukan lantaran aku mengharaminya, malah sebaliknya; tiada daya aku menanggung pesona soleknya, seorang diri. Sementara kau tidak lagi di sini, lindap di arsyi hati, sunyi!
Kau pasti tahu, dalam banyak perkara aku bukan suami yang digdaya. Kau pasti menyaksikan, alangkah beberapa kali bahkan sering, aku kerap merasa diserampung, tertelikung kemudian ditertawakan hidup. Lalu linglung, tidak ngerti mau nari apa lagi. Bahkan sekarang, aku meragukan diriku sendiri untuk mampu sejauh dan setawakal apa menyikapi dan menyiasati kesesakan ini. Yang pasti, ini teramat sangat merongrong kemanusiaanku. Apakah kau merasakan hal yang sama? Atau malah bersuka cita! Apa pun, tak mengapa.
Rasanya baru kemarin. Kau bilang seperti mimpi. Ketika tiba-tiba kita telah menjadi suami istri. Dan sekarang, setelah duapuluhdua purnama malih rupa kau belum juga mempunyai keberanian untuk memba'iatkan pilihan di sisi mana untuk bersulang sanding; Suamimu yang tidak hebat ini, atau bapakmu pahlawanmu. Ah, mengapa harus memilih? Apakah aku dan kau cukup mempunyai kuasa untuk sebuah pilihan? Memilih untuk tidak memilih tak mengapa bukan. Aih, tapi kalau tidak memilih, selamanya ya seperti ini bukan? Bersatu tak, berpisah tak. Ngawang.
* * *
02/03/:Old.
Wife
23/09/00 01:46
There's no tear
Left 4 sadness &
No real comfort
except stay beside u..
Time'll answer all questions
'coz I'm spokeles now
but u r the only man
4 me is undoubted
***End***
Hanya syair itu yang kau sanjakkan, kala kita bermusyawarah di pagi buta tepat di hari natalmu, September 23. Dan aku masih saja memawasi pikiran-pikiranku sendiri; jangan-jangan aku hanya berburuk sangka kepada garis takdir kebersamaan kita!
Rasanya baru kemarin, kau bilang seperti mimpi, ketika tiba-tiba kita telah menjadi suami istri. Dan sekarang, aku mulai mempertanyakan kepada diriku sendiri; apakah benar-benar dirikukah, jodohmu?! Atau hanya sampai disinikah perjodohan kita?Ah, alangkah bodohnya diri ini!
Semarang, 091000/10.50.
Mengapa istriku tidak menyukai tulisan ini?
‘’Karena depending-nya terhadap perempuan gede banget sih. Ih....,’’ katanya sembari menunjukkan paras jijik. ‘’Yang pergi biarlah pergi. Toh nasib sangat-sangat bisa untuk diperbaharui. Hidup toh terus berjalan kan. Ada atau tidak orang-orang yang kita cintai, dan mencintai. Cengeng banget sih. Arok kok cengeng?!’’.
‘’Lah, itu kan hanya cerita bu. Bisa jadi itu hanya fiktif belaka. Sejauh manakah realitas mempengaruhinya, hanya kreatornya yang tahu’’.
‘’Iya, aku ngerti. Tapi untuk yang satu ini aku merasa ada sesuatu yang pekat dan berhubungan erat antara karya dan kreatornya’’.
‘’To the ponit, bu?’’
‘’Kawanmu, yang kau klaim sebagai saudaramu itu sedang patah hati ketika menghasilkan tulisan ini. Aku yakin itu,’’ katanya merendahkan suara setengah berbisik. ‘’Mungkin dia dulu pernah beperkara dengan perempuan lain sebelum dengan Sita, ya?’’
‘’Ha ha ha,’’ dan aku terbahak, eee malah sewot dia. Perempuan memang aneh dengan segala prasangkanya. Tidak peduli yang paling intelek sekalipun. Siapakah yang benar-benar bisa memahami perempuan?
‘’Aku bersungguh-sunguh dengan apa yang aku katakan’’, tekannya.
‘’Aku tidak meragukan itu’’.
‘’So?’’
‘’So what!’’
‘’Bener kan?!’’
‘’Mungkin kau harus bertanya langsung kepada empunya’’.
‘’Aku hanya meminta pendapatmu suamiku....’’
‘’I have no opinion, my sweet beauty wife....’’
‘’Give me words, please..’’
‘’I love you...’’
‘’Ahrrrrrrrrrrrrrrgggggggggggggg’’.
SELAIN gemar membaca tulisan-tulisan Luka tentang kehilangan namun yang tidak berbau kecengengan, Bianca juga senang menyimak cerita pendek Luka yang katanya nakal. Nakal? Aku nggak ngerti nakalnya di mana ;
Kecelik.
''MALAM minggu ini masih terlalu pagi dan sederhana untuk hanya kita lewatkan dengan cara begini saja. Akan menjadi lebih pepak, meriah dan sempurna jika kita mengikut sertakan dosa di dalamnya. Sebagaimana pakem orang-orang besar dalam menjalani, mewarnai dan menciptakan sendiri garis takdirnya'' kataku datar seolah tanpa nada.
Selanjutnya, kami bertiga hanya tertawa, sebagaimana layaknya hari-hari sebelumnya. Sembari melayangkan kebelakang berjejak-jejak dosa yang masing-masing telah kami karya dan rayakan. Toh, kami masih tetap seperti ini saja. Menjadi orang besar tak, menjadi begundal nasib, ya.
Pernah, dalam pelukan malam minggu yang membeku, di bawah dekapan dingin yang mendekati minus 15 derajad celcius. Bersama dua kawanku yang lain, kami menerobos badai salju yang membawa serta gigilnya. Tikaman hypotermia yang pernah menusuk Norman Edwin di gunung Aconcagua, Argentina dan mengakibatkannya mangkat ke alam baka, tidak kami hiraukan. Rupanya, bara semangat di dada ini untuk menjunjung dan menghormati malam minggu, lebih membakar dan menghangatkan hati, daripada sekedar gertakan hawa beku.
Setelah mengantri beberapa lama, bersama para pemuda Brithania dan Moscovy, gerbang Hippo di komplek pertamanan dimana pasukan Napoleon Bonaparte pernah mengalami kekalahan dalam perang melawan tentara Tsar, akhirnya terbuka.
Seketika kami pun bungah. Paling tidak, sergapan hawa beku menjelang tengah malam, yang pernah juga memporakporandakan tentara Nazi Jerman dalam perang dunia ke I melawan tentara Uni Soviet, dapat kami elakkan.
Di Hippo, sebuah bangunan gedung yang sebenarnya lebih layak disapa gudang daripada diskotik itulah, kami bertamu ke ibu malam minggu. Sajian utama dan pertama yang ia hidangkan tentu saja pemanas ruangan yang mulai menghangatkan tubuh. Baru selanjutnya alkohol, musik RnB yang berjedak-jeduk, dibarengi dengan lampu warna-warni yang berdenyar-denyar, dan ini dia; penari bugil dari belahan Afrika!
Ah, tentu saja saya hirau dengan penari yang paras, postur dan kulitnya mengingatkan kepada sosok Naomi Campbel itu. Tapi alangkah bodohnya jika saya lebih tidak hirau kepada para perempuan muda Euroasia yang marak di sana. Ya, di Moskwa; ibukota yang sedang giat-giatnya merayakan kebebasannya dari cengekeraman komunis itu, kami bertiga bertamu ke rumah malam minggu.
''Priwyet, spakoynoy noci, would you dance with me?'' kataku memberanikan diri memberi salam, mengucap selamat malam.
''Da,'' katanya tanpa sungkan.
Dan kamipun menari. Bertandak tepatnya. Betapa senengnya hati ini. Ia perempuan. Ayu. Kulitnya bersih. Tubuhnya semampai dan ini yang mengejutkan; Jullie namanya. Mengingatkanku kepada perempuan lain yang pernah semayam di hati ini delapan tahun yang lalu. Yang pernah meminangku untuk menjadi bojonya di selasar ruang tunggu bandara Ngurah Ray, Bali menjelang detik kepulangannya ke Australia. Namun aku tampik karena kebodohanku belaka.
Namun, dengan Jullie yang ini, yang masih duduk di bangku kuliah tingkat akhir Moscow State University. Kehangatan yang ia tawarkan, sebagaimana perempuan yang lain; membawa keharumannya sendiri. ''Every Rose Has it's thorn'', batinku ketika mendekap erat pinggangnya.
Ketika kami sedang dan makin asyik masyuk berdisko dengan iringan Vodka-Martini Bianco yang makin meminggirkan kesadaran. Seorang lelaki dengan kuppa di kepalanya membisikkan kata di telingaku. ''Excusme, she's my girlfriend,'' katanya sembari melepas kuppa dan memasukkan ke dalam saku celananya. Dengan berat hati aku lepaskan selangkangan Jullie yang menggamit kemaluanku. Meski sebenarnya matanya menolak melepaskan montok dadanya yang kian ketat saja menempel dadaku.
Ketika laki-laki yang telah melepaskan kuppa di kepalanya itu mulai merengkuh Jullie, dan aku telah memalingkan muka, tiba-tiba tangan Jullie berikhtiar meraih tanganku. Aha... ada yang salah di sini. Bagaimana mungkin seorang perempuan yang diklaim pacar dari seorang lelaki berlaku seperti ini.
''Ma'af, dia bilang kepada saya, kalau kau adalah kekasihnya,'' bisikku di telinganya, sementara gamitan laki-laki yang telah melepaskan kuppa di kepalanya itu semakin merengkuh saja. ‘’Nyet. He's not,'' jawabnya lirih sembari pelan menggelengkan kepala. Hopla, seketika kelaki-lakian ini menghentak! Dengan modal kesadaran yang semakin pendek, dan keberanian yang ngawur; laksana ksatria datang kepada belahan hatinya, aku cekal tangan laki-laki yang telah melepaskan kuppa di kepalanya itu.
Dalam hitungan detik kericuhan mulai bergejolak diantara ingar bingar persona yang berjejal di Hippo. Alih-alih melepaskan dekapannya di bahu Jullie, laki-laki yang telah melepaskan kuppa di kepalanya itu, malah mempererat dekapannya.
Semakin menipis akal ini, maka aku cengkeram pundak laki-laki yang telah melepaskan kuppa di kepalanya itu. Namun sayang, sebelum benar-benar aku berhasil melerai tubuh laki-laki yang telah melepaskan kuppa di kepalanya itu, dari tubuh Jullie yang tangannya makin erat menggenggam tanganku. Dua karibku yang sedikit lebih banyak mempunyai tabungan kesadaran dariku, menarik tubuh ini ke belakang.
''Tinggalkan perempuan itu. Ia akan datang menghampirimu jika memang benar-benar bersungguh-sungguh padamu. Sebagaimana yang telah kau tunjukkan kesungguhanmu padanya,'' bisik karibku melerai, mendinginkan kericuhan yang nyaris membesar.
''Tapi dia telah membohongiku,'' kataku membisik pekik menggeramkan suara. Di kepalaku, seketika, seakan terjadi pembenaran empiris; bahwasanya laki-laki berkuppa yang identik dengan orang Yahudi itu, memang benar-benar lihai dalam bermuslihat. Dan orang Melayu ini, aku, telah menjadi salah satu korbannya. Oleh karena itulah aku, sebagaimana tabiat orang Jawa, jadi tidak terima dan ngamuk lagi mencoba mengketatonkan amarah di dada. Untuk sekadar kembali mencekal tangan laki-laki yang telah melepaskan kuppa di kepalanya itu.
Alamak, laki-laki yang telah melepaskan kuppa di kepalanya itu, rupanya telah membangunkan singa yang lama terlelap bobo’ di dada.
''Tenang broer, ini malam pertama. Masih ada dua malam Minggu tersisa. Bahkan malam Minggu ini adalah malam pertamamu di Moskwa. Mengapa harus bersilang amarah hanya karena maladaya jewuskha, masih banyak cewek lainnya,'' kata karibku melanjutkan. Aku mundur beberapa jenak, mencoba menjinakkan kenekatan, menjumput sedikit demi sedikit kesadaran, dan memaklumkan keadaan. ''Lebih baik kau kembali kepada Vodka-Martini Bianco,’’ imbuh kawanku yang juga masih terdaftar sebagai mahasiswa jurusan teater Moscow State University, menambahkan.
Lumayan lama aku terpekur di sudut Hippo, yang bersisian dengan bar berkawan Vodka Martini Bianco. Tak berapa lama kemudian, benar saja, Jullie menjelang ke arahku sembari menggandeng seorang gadis ayu, dan alah-alah... kami berpelukan layaknya kekasih yang telah lama terpisah yang kemudian disatukan.
''Dia bohong kepadaku,'' bisikku di kupingnya. ''Dia bilang kau kekasihnya. Oleh karenanyalah sebagai seorang laki-laki yang baik, aku berusaha melepaskan dekapannya darimu, tadi''.
''Nyet...He is nothing,'' jelas Jullie mencoba menduduk soalkan permasalahan.
Ah..lagi-lagi betapa senangnya hati ini. Kami seketika kembali menjelma layaknya sepasang kekasih. Dan lagi-lagi pelan-pelan kuciumi lehernya, kupingnya, pipimya dan, ''Ma'af. Kau tidak keberatan jika aku berbicara terus terang padamu,'' bisik Jullie di kupingku. ''Silakan,'' jawabku cepat. ''Aku lesbian, dan perempuan yang sekarang ada di sampingku persis ini adalah pacarku,'' katanya lirih sembari memperkenalkan jewuskha bernama Irina. Duh....padahal dosa belum seberapa, belum apa-apa, jauh dari sempurna. Moskwa, Moskwa, Moskwa.
Moskwa 2000.
‘’YANG seperti ini meski nakal tapi lebih menghibur, dan jujur. Karya yang baik adalah karya yang ringan, menghibur dan jujur. Syukur-syukur berisi, mampu membesarkan hati dan meng-encourage pembacanya, apalagi memberikan pencerahan, itu baru luar biasa’’ komentar Bianca waktu itu. Aku, tentu saja hanya mengiyakannya. Meski sebenarnya, batinku, aku bisa lebih nakal dari itu....
IX. Sendiri.
SETELAH kematian Bianca dan Tristan, hidup memang menjadi sangat tidak mudah buatku. Kesendirian adalah sebuah kehilangan atas kebersamaan yang memedihkan. Atau kematian dalam bentuk yang lebih tidak mengenakkan, menurutku. Dan tidak semua hal mampu menggantikan.
Kawan, sejawat, saudara atau orang suci sampai orang yang paling binal dan berandal sekalipun pasti akan memberikan petuah, atau semacam kebijakan kepada kita supaya; kuat, sabar, tawakal, istigfar dan berserah; pasrah. Kalimat langsung seperti, ‘’Semua sudah ada yang mengatur’’. ‘’Ini adalah yang terbaik’’. ‘’Siapa yang tahu rahasia Tuhan’’. ‘’Pasti ada hikmah dibalik semua ini’’. ‘’Kebaikan biasanya akan timbul dikemudikan hari’’. ‘’Dibalik kesulitan pasti tersembunyi kemudahan,’’ dan berbagai ujaran standar lainnya, yang terlalu kerap aku terima, sering kali malah membuatku semakin jengah dan puyeng.
Ketika semua nasihat itu masih saja tidak mempan mengusir rasa kesepianku, kesendirianku, apakah sebuah nasihat masih berguna dalam suasana seperti ini? Maka tidak ada yang lebih penting selain membesarkan hati dengan mengenangkan betapa masih banyak yang lebih tidak beruntung dari kita, untuk tetap menjaga stamina hidup ini terus terjaga.
Dan sajak. Ya, sajak. Tiba-tiba saja aku teringat sebuah sajak yang ditulis Luka yang ia persembahkan kepada para korban Tsunami, akhir 2004 lalu. Setelah aku coba resapi kembali, memang ada benarnya juga. Begini sajaknya;
Doa
(mari berdiri barang dua tiga jenak, untuk merundukkan hati, berdamai dengan keheningan, bertakzim lewat kalam)
bismillahirohmanirrohim
ya allah arrahman arrahim
siapakah yang sanggup mengurai makna sebuah penderitaan
ketika dukamu justru kau tumpahkan kepada mereka yang tidak bersalah
ketika nestapamu justru kau ruahkan kepada orang-orang yang saleh
ya allah yang maha agung untuk bisa dimengerti
maafkanlah atas seluas dosa kami
yang berkecenderungan hanya mampu menerima anugrah Mu
tanpa berkemampuan dan berkekuatan menerima derita Mu
apalagi menerima Mu secara utuh. Penuh.
ya allah yang maha agung untuk dijangkau dengan akal budi
terima dan perkenankanlah arwah saudara-saudara kami di Aceh, Nias dan sebagian wilayah Sumatera Utara
besarkahlah hati orang-orang yang ditinggalkannya
karena kami semua tahu
tidak ada rumah, selain pulang ke haribaan Mu
karena kami semua tahu
engkau senantiasa bertanggung jawab terhadap semua hasil penciptaan Mu
dan karena kami semua haqul yakin
penderitaan yang kau limpahkan, tidak akan pernah ada apa-apanya,
dibandingkan dengan berkah yang akan kau ruahkan, pada saatnya, nanti..
amin,
amin,
ya robbil alamin.
oh, ya, ya allah, hampir saja kelupaan
jika para penguasa dan pengambil kebijakan di negeri ini mulai bermain mata dengan penderitaan di Aceh, Nias dan sebagian wilayah Sumatera Utara, atas nama kepentingan kelompok, golongan atau bahkan pribadi.
maka, campakkan semua doa mereka yang telah dan akan mereka sampaikan pada Mu.
karena kau tahu allah, tidak ada manusia yang lebih pantas kau musnahkan dan kau durhakai, selain mereka.
JAKARTA
Luka
10 01 05
Sajak yang kali pertama dideklamasikan Luka di Galeri Nasional Indonesia itu, lumayan manjur juga membesarkan hati. Apakah aku mampu sekuat dan setegar bocah-bocah Aceh, ketika dalam hitungan kedip ayah, ibu, kakak, adik, nenek, kakek, kerabat, handai taulan, teman sepermainan, dan musuh bermain petak umpet mereka musnah diterjang ombak raksasa? Aku pasti bisa jadi gila atau lebih parah lagi membunuh diriku sendiri. Padahal sekarang, aku hanya dan baru kehilangan dua orang yang sangat aku sayangi dan menyayangiku, tapi lagakku tak ubahnya seperti telah kehilangan orang-orang di sekitarku. Betapa memalukan, meski terdengar sangat manusiawi sekali.
Toh kita tidak selamanya dituntut menjadi orang kuat bukan? Dan tidak selamanya manusia harus menjadi tegar terus. Betapa pun manusia paling super sekalipun. Ketidakkuatan manusia dalam memikul beban hidup, menurutku, adalah sebagian dari kesempurnaannya juga.
‘’Selain menghadapi kerasnya hidup, kau juga harus mampu menghadapi dirimu sendiri,’’ujar Luka hati-hati. Aku tidak menjawab. Menidakkan tak, mengiyakan tak.
Sampai kapan kesendirianku akan rampung?
‘’Aku nggak ngerti. ’’.
Lalu apa yang semestinya aku lakukan.
‘’Apa pun, yang penting kamu hidup’’.
Hidup kok semacam ini?
‘’Sudahlah. Lebih baik kau berhenti mengeluh. Hanya orang bodoh yang mengeluh. Kau bukan orang bodoh, dan tidak pernah sendiri. Camkan itu. Pikiranmulah yang membuatmu seolah-olah kau sendiri’’.
Yang tidak mencicipi tidak merasakan.
‘’Aku juga merasakan kesepian, kesendirian dan kehilangan dalam bentuk yang lain. Semua orang, aku pikir merasakan itu. Dalam bentuk yang tidak kalah menyakitkannya, mungkin. Kehampaan biasanya yang mencitrakan seolah-olah diri kita sendiri’’.
Sok tahu.
X. Tristan
TRISTAN meninggal seminggu sebelum tsunami datang merenggut ratusan ribu korbannya. Selama seminggu itu pula pola pikir dan tindakku nyaris tidak ada bedanya dengan orang gila. Sepengetahuanku, jika aku gila maka dosa-dosaku ke depan tidak akan pernah diperhitungkan oleh Sang Pencipta. Hanya catatan hidupku ke belakanglah yang akan ditimbang-Nya. Tapi, jika aku membunuh diriku sendiri, maka, laknatlah aku selamanya. Nah, daripada aku dilaknat Allah karena bunuh diri, pikirku kala itu, maka lebih enak menjadi gila, dan akhirnya mati dengan sendirinya. Ah, untung saja bencana besar tsunami segera menampar dan membangunkan kesadaranku; bahwa apa yang ditimpakan padaku masih belum 0,01 persen dari derita para korban tsunami, di sana.
Memetik hikmah dari sebuah tragedi memang bukan pekerjaan gampang dan sembarangan. Dibutuhkan ketajaman hati untuk membaca tanda-tanda-Nya. Dalam hal ini, beruntung aku cukup lumayan mampu merabanya.
Tristan memang sudah seperti anak sendiri bagi Luka. Bahkan sejak Tristan di dalam kandungan almarhum ibunya, Luka sudah mengirimkan beruluk-uluk salam kepadanya. Tentu saja Bianca hanya tersenyum dibuatnya.
Ketika Bianca mangkat karena sebuah proses persalinan yang diluar dugaan kami semua, seketika itu pula, Luka yang mendapat kabar dari ibuku, langsung datang ke rumah sakit, dan menyatakan akan menjadi ayah dari jabang bayi kami. Aku tidak tahu harus bagaimana menjawab keinginan baik Luka. Waktu itu, aku dalam keadaan yang tidak terperikan.
Singkat cerita, setelah Bianca disholatkan dan dikuburkan dengan hantaran sebuah adzan yang ditelingaku bernada ngilu, maka di kepalaku hanya ada satu tujuan dalam hidup ini; membesarkan Tristan dengan segala daya dan kasih yang aku punya.
Menjadi ayah sekaligus menjadi seorang ibu bagi seorang orok memang bukan pekerjaan mudah dan sederhana. Ibuku dan mertuaku memang tidak pernah lelah menyemangati dan sangat, sangat memberi dorongan padaku. Meski mereka berdua berulang-ulang menawarkan tangan dan bersikeras untuk turut merawat cucu mereka, tapi aku bersikukuh untuk tetap akan sendiri membesarkan darah dan airmataku.
Satu dua kali secara bergilir aku menitipkan Tristan kepada eyangnya. Betapa bungah dan gembiranya para eyang Tristan, ketika cucu mereka datang ke rumah mereka. Biasanya, kalau moment seperti ini tiba, para eyang Tristan akan meneteskan air mata keharuan sekaligus gembira. Mungkin di benak mereka tidak tega melihat anak bayi sudah ditinggal pergi ibunya. (Ah, bukankah anak-anak korban tsunami itu lebih tidak mempunyai siapa-siapa? Kecuali keajaiban hidup yang dianugerahkan Sang Pencipta?)
Tapi, Anda pasti tahu, bahwa tidak ada yang lebih menggembirakan ketika melihat anak kita terlelap dalam tidur nyenyaknya. Kedamaiannya seolah setara dengan saat kita bersandingan dengan orang-orang yang kita cinta. Sepadan dengan kebersamaan dengan istriku pada saat-saat hidupnya. Mata Tristan yang terpejam, geliat tubuhnya yang tidak seberapa, dan tarikan nafas yang satu dua inilah yang seolah menjadi nyawaku ke dua untuk terus melanjutkan hidup.
Aku sendiri juga heran dengan diriku. Aku tidak pernah membayangkan akan mampu menjadi orang tua tunggal bagi anakku. Namun semua itu, pelan dan pasti jauh dari kesempurnaan, seolah dan tiba-tiba, Tristan tak terasa telah menginjak usia empat tahun.
Saat-saat ketika Tristan sakit, menangis karena salah interpretasi, atau mungkin merindu kepada ibunya, dan berbagai ronanya seolah terlunaskan ketika mengetahui dia sudah dapat berbalas bantah denganku. Dengan ayahnya sendiri. Ha ha ha...
Ya, ya, tidak ada yang paling menggembirakan ketika buah hati kita tiba-tiba telah mampu melayangkan sebuah amarah, dan pertengkaran kecil kepada ayahnya sendiri.
‘’Hei, bodoh! Bukan begitu caranya,’’ tegurnya dengan intonasi yang sangat keras ketika aku salah memasangkan senjata robot Power Ranger favoritnya. Ah, aku lupa, mungkin anakku terlalu akrab dengan layar kaca yang terlalu sarat dengan mata acara-mata acara tidak bermutunya. Maklum, baby sitter di rumah hampir tidak bisa dan berani melarang acara tv apapun yang ditonton oleh Tristan. Mungkin lebih tepatnya, Tristan yang ikut arus baby sitter yang gemar menonton telenovela atau sinetron yang penuh dengan umpatan rendahan itu.
‘’Eh, bukan begitu cara berbicara yang baik dengan ayah, nak,’’ kataku merendahkan suara.
‘’Ayah sih, kelilu. Bukan begitu calanya,’’ katanya santai. Aku, tentu saja hanya tersenyum kecut menyimaknya.
Bagaimana mungkin aku melayangkan amarah kepada buah hatiku yang masih balita. Dari pagi sampai nyaris malam aku berada di kantor, kecuali hari Sabtu dan Ahad. Ketika pulang ke rumah, jika tidak aku titipkan di rumah para kakek dan neneknya, Tristan hanya berdua di apartemen dengan baby sitter . Jadi, ketika sudah bersemuka dengan Tristan, aku merasa dia sudah semakin besar adanya. Segala kesepian memang tidak terasa ketika Tristan kecil sudah mulai fasih melafalkan nama lengkap Ayah dan almarhum ibunya, apalagi ketika ia sudah mampu diajak berkomunikasi.
Para kakek dan neneknya memang sangat mengajarkan betapa pentingnya budi pekerti, seperti kesantunan, kerendahan hati, dan kemurahan hati dalam segala tindakannya. Demikian halnya dalam ajaran mempercayai kekuatan sebuah kerja dan doa. Sehingga ketika Tristan hendak berangkat tidur, dia dengan takzim akan bersyair; ‘’Ya Allah lindungilah bunda Bianca di sulga, Ayah, Titan, Eyang Kung dan Eyang Puti, dan bibi. Amin’’.
Bibi yang dimaksud dalam syair doa Tristan adalah Surti, baby sitter yang sebenarnya lebih sering menjadi sansak hidup Tristan ketika hobi berpencaknya kumat.
Di tangan Surti yang super sabar inilah, kenakalan Tristan seolah diredam dengan sangat baik dan sukses. Namun bayarannya, paras Surti yang kuning langsat banyak tergores bekas tanda cakaran Tristan. Tapi semua luka Surti seolah terbayarkan ketika Tristan bertandak dengan segala kelucuannya.
Satu dua kali, Luka mampir ke apartemen kami, dan langsung disambut lompatan peluk Tristan.
‘’Om Luka!’’, pekik Tristan dengan binar kegembiraan yang cemerlang.
‘’Hei, mas Titan....,’’ sambut Luka, dan Tristan telah nemplok dipelukannya.
Mas Titan adalah panggilan sayang Luka kepada anakku. Sewaktu masih belajar mengeja, anakku, sebagaimana lazimnya anak kecil lainnya, bermasalah dengan huruf R, jadi, ketika aku dan Luka mengajarinya menyebut namanya sendiri, yang terjadi adalah kata; ti-tan. Sebagaimana dia menyebut sulga dan Yang Puti.
Terkadang, kami bertiga plus bibi Surti yang masih belia itu, pergi ke tempat-tempat permainan anak. Entah itu di Dufan, mal, pasar malam di pinggiran kota, taman Safari serta baby zoo dan berbagai tempat lainnya. Itu belum termasuk ketika kami berpergian dengan para eyang Tristan.
Setiap hari, sebisa mungkin kerjaanku selalu melukis hari dengan buah hatiku. Jika tidak berpergian di akhir pekan - biasanya ke rumah para eyang Tristan -, kami hanya melewatkan menonton Power Rangers di rumah atau sekedar bercengkrama seharian penuh dengannya.
Tristan paling gemar mendengarkan cerita dari buku yang aku bacakan, meski belum bisa membaca dan menghafal huruf, tapi aku sudah dapat melihat gelagatnya kalau ia menggemari buku seperti almarhum ibunya.
Hingga akhirnya hari penghabisan itu tiba. Maut datang seenaknya. Dia menjemput paksa siapa pun yang dikehendakinya. Dan tidak seorangpun mampu mencegahnya. Tidak juga kasih murni seorang ayah kepada buah hidupnya.
Selamat tinggal anakku. Ayah tidak cukup mempunyai kekuatan untuk menawar kematian yang disuguhkan kepadamu. Seandainya ayah mampu menghadangnya, atau membelokkan maut yang datang kepadamu. Tentu saja itu sudah ayah lakukan ketika ia hendak datang kepada almarhumah ibumu, dulu. Tapi memang demikianlah hidup anakku. Ia berhaq memilih siapa pun yang dikehendakinya, dan tidak pernah ada siapa pun yang mampu menghindarinya. Kematian selalu tepat sasaran arah dan tujuannya, anakku. Ia tidak pernah luput. Ia selalu menjadi pemenang jika berseteru dengan kehidupan. Ayah hanya belum dikehendakinya.......aku mencintaimu, anakku. Sampaikan juga salam buat ibumu.
Dan kau kematian, aku bersumpah kepadamu. Atas nama kuburan dua orang manusia yang paling aku cintai yang telah mati. Kau boleh datang menghampiriku kapan pun juga. Tidak siang tidak malam. Tidak pada saat aku bersiap ataupun lena. Toh tidak ada bedanya. Tapi yang pasti, aku akan menyambutmu dengan senyum, yang akan membuatmu dengan hormat, dan hati-hati sekali mencabutku dari kefanaan ini. Camkan itu. Karena aku akan memastikannya!
XI. Bibi Surti
OH YA, dan bi Surti, setelah kematian Tristan, dia tidak pernah mempunyai daya ketika melihat, apalagi bersemuka dengan balita seusia mantan momongannya itu. Pingsan adalah pelarian bawah sadarnya. Keadaan ini terus berlangsung hingga memasuki bulan kelima setelah jasad buah hidupku berkalang dengan tanah pekuburan. Selama lima bulan itu pula tidak satu katapun keluar dari mulut bi Surti. Tidak juga alif, ba dan ta. Tapi dari matanya yang redup, aku tahu hatinya terus berzikir menguatkan hati. Aku tahu itu. Hanya aku yang tahu.
Memang, setelah kematian Tristan, selain mudah pingsan jika melihat anak kecil, semua nafsu makan bi Surti hancur lebur. Ia menjadi kurus dengan pasti dan sangat mudah sekali menitikkan air mata dalam isaknya. Meski di rumah ibuku, bi Surti tidak dibebani pekerjaan apa pun, tapi beban pengalaman hidup dengan Tristan ternyata sangat mengiris kewanitaannya. Padahal bi Surti sudah mengirimkan dan menguatkan dirinya lewat berhelai-helai doa. Ikatan batin bi Surti dengan momongannya yang super nakal itu ternyata sudah demikian kokohnya. ‘’Tristan sudah seperti anaknya. Itu yang ibu rasakan atas kehilangan Surti,’’ bisik Ibu kepadaku.
Bersabarlah bi Surti.........kematian memang menyesakkan. Dia menjadi menyenangkan dan tak ubahnya sebuah pesta hanya bagi orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, selesai dengan nasib-Nya. Orang-orang macam kita memang akan sulit, meski bukan berarti tidak mungkin, untuk menjadi orang-orang seperti itu. Ah. Bukankah kita sudah cukup bersyukur dengan keadaan kita seperti sekarang ini Surti? Dan itu, aku kira lebih baik dari pada menjadi orang suci, karena nanti kita harus hidup di atas angin. Tidak menjejak di bumi. Dan.....sudahlah Surti, besarkan hati tuanmu ini dengan ketabahanmu. Doakan saja momonganmu itu baik-baik saja di sana, atau di mana pun ia berada.
Aku memang ayahnya, tapi aku juga tidak bisa mengklaim begitu saja, kehilanganku lebih besar dari rasa kehilanganmu. Karena toh, waktu dan ikatan batin yang kalian lewati pasti mempunyai kisah dan kedalamannya sendiri. Hanya kau dan anakku yang dapat merasakannya. Terima kasih banyak tak terhitung untuk itu Surti. Terima kasih tak terkira. Kuatkan hatimu Surti.
XII. Harimau dan Kupu-Kupu
PEREMPUAN menjelang dewasa dari pembaringan nan bening ayu itu lambat laun berubah menjadi kupu-kupu. Belum sempurna benar. Tapi kala sayapnya yang kuning muda mengembang di langit tua, nampak kepakannya membuat angin liar yang menghadang menjadi enggan merintang.
Kupu-kupu kian melanglang sembari mencoret-coret kanvas awan dengan gempita warna-warni keluhan kegemarannya. Kadang, coret-coret itu tak ubahnya coret-coret anak SMP dan SMA di halte, shelter bus kota dan tembok angkuh jalanan Jakarta. Kadang coretan itu tak ubahnya coretan mendiang maestro Affandi kala melukis potret dirinya sendiri. Dalam kadang yang lain, coret-coret itu tak beda dengan coret-coret kanak-kanak di buku gambar, dan tembok rumah ibunya mewakili fantasi murninya.
Kupu-kupu masih sibuk mencoret-coret awan, dan awan, anehnya membiarkan dirinya dijadikan media penumpahan kegundahan. Awan pasti tahu bahwasanya kupu-kupu sedang mendambakan belahan kalbu, kekasih hati, teman berseteru di mayapada ini; sang harimau.
Sudah lebih dari kemampuannya kupu-kupu bersabar menunggu kedatangan harimau. Dari detik yang berdetak menjadi menit, kemudian meniti jam, merambah hari, bergulir minggu, bulan dan tahun. Tapi harimau belum jelma jua. Sia-sia? Tidak! Masih terlalu pagi untuk putus asa. Adakah yang lebih penting dari kefanaan ini selain sebuah harapan dan mimpi!. ‘’Ah, harapan adalah mimpi yang paling omong kosong’’. Tapi kupu-kupu tidak menghiraukan itu, ia abai dengan berbuah-buah celoteh di luaran. Ia hanya peduli dengan dirinya sendiri, dengan harapan dan mimpi.
Kupu-kupu masih dan terus menaruh harap, bahkan kian besar. Seiring bertambah usia matahari, bertambah makin besar dan dalam kasihnya pada harimau hanya.
Pernah. Sebelum jelma menjadi kupu-kupu, perempuan dari pembaringan nan bening ayu itu menjelma sekumtum mawar kembang.
Ia ranum, mekar, aromanya santun –tidak nyegrak- menghembus pembauan setiap kumbang, sekaligus menghipnotis untuk segera bertandang ke tangkainya, menunggu giliran hinggap di kelopaknya.
Entah. Dari sekian bilangan kumbang tak berbilang, belum satu pun yang berkenan di kebun kalbu mawar kembang. Mawar kembang rupanya sangat tidak sembarang membuka pintu. Ia hanya mempersilakan masuk pangerannya seorang. Siapa lagi kalau bukan, sang harimau.
Pernah. Suatu kali, kupu-kupu mengaji di halaman bianglala disaksikan bintang gemintang dari altar langit yang sudah lama terlelap tidur, setelah sebelumnya shalat tahajud dua rakaat. Ia melantunkan surah Yasin. Suaranya lirih, namun terdengar jelas sampai mayapada. Suara itu mendayu menusuk kalbu, tertangkap tanpa sengaja oleh pendengaran harimau.
Harimau yang sedang mengayun langkah di bibir trotoar, di bawah guyuran suluh bulan, terpaksa menghentikan gerakannya untuk memastikan diri ia sedang mendengar suara perempuan mengaji.
‘’Amboi, suara perempuan ngaji itu mengingatkanku ke masa kanak-kanak. Sewaktu almarhumah ibu masih sugeng, menembangkan surah-surah-Nya baqdo subuh,’’ bisik harimau lirih pada dirinya sendiri. ‘’Tentram nian menyimaknya. Gerangan siapakah perempuan itu. Di mana mahligainya?’’, lanjut harimau menyelidik sembari kedua bola matanya yang setajam pedang kalifah Ali nerawang angkasa luas tak berbatas. Hanya bintang yang berkelip, bulan yang sumirat, dan meteor yang riang nian berlarian. Perempuan itu tidak ada di sana.
Harimau memutuskan bertanya kepada mobil-mobil yang lalu-lalang. Mobil-mobil hanya diam membisu lagi menuli, sebelum meninggalkannya lalu. Selanjutnya, pertannyaan ia ajukan kepada air yang berkubang di selokan yang mampat di tengah kota. Air hanya menggeleng penuh ketidaktahuan.
Pada sebuah kebetulan, di bibir selokan dua ekor kucing sedang memadu kasih hendak bersetubuh menyatukan hasrat. Harimau mengambil inisiatif mengajukan pertanyaan yang sama sebelum persetubuhan dimulai. Namun, dalam hitungan lena, harimau menghentikan langkahnya. ‘’Aku tidak seharusnya mengganggu prosesi suci itu,’’ pikir harimau dalam hati. Ia membatalkan niatnya. Selanjutnya, ia bergeser membalikkan badan, mencelat dari tempat itu.
Setelah mendapat beberapa tombak langkah ke depan, didapatinya seekor anjing gemuk penjaga tertidur si selasar rumah majikannya. Harimau berikhtiar membangunkan anjing dengan maksud mengajukan pertanyaan yang sama tentang apakah ia tahu gerangan di mana perempuan mengaji berada.
Kala anjing menyingsingkan mata, dan kesadarannya terbit, seketika itu pula anjing mendadak sontak, matanya mendelik, rautnya merah membara, kupingnya njengat, mulutnya nganga, lidah binasa. Anjing terpaku satu jenak, sebelum akhirnya semburat, berkelebat, lintang-pukang tak tentu rimba. Ada air yang muncrat dari selangkangannya.
Harimau maklum mengapa anjing gentar kepadanya. Suratan nasib dan sejarah barangkali.
Tanpa harimau sadari, suara perempuan mengaji itu bukan hanya bernaung di gendang telinganya. Pelan ia telah masuk ke dalam palung sukmanya yang tak bertuan. Menelikung, bersemayam di ceruk tempat cahya-Nya bermaqam. Menimbulkan kedamaian, yang selama ini ia idamkan.
Air mata perdana menetes dari ujung matanya bagian dalam, disusul kemudian air mata lainnya menyungai di pipi. Harimau hanya dapat bergumam, ‘’Andai aku tahu perempuan yang mengaji laksana mendiang ibu, yang sekarang telah berteman bidadara, berada?’’. Gumamnya hanya disimak serunai angin.
Selanjutnya, harimau memutuskan untuk pergi menyendiri di suatu tempat tanpa nama. Dimana semua orang belum pernah menujunya, tanpa mau disebut dalam kesepian, melainkan dalam belaian-Nya.
Semarang 130396
Demikianlah Luka mengandaikannya dirinya sebagai harimau. Selalu pergi sendirian, menjadi pejalan sekaligus peziarah kehidupan dengan segala pirantinya. Aforisme ini pula yang membuat almarhum Bianca, mulai jatuh hati dengan tulisan-tulisannya. Jika Luka sudah bersemeja, apalagi bersemuka dengan Bianca, maka segala topik perbincangan dari yang paling akademis perihal riwayat-riwayat, serta muasal perkembangan pemikiran, dan sebangsanya, sampai yang paling pelik pun menjadi santapan mereka. Aku suka dengan topik itu, tapi aku tidak begitu menggetolinya. Meminjam bahasa Luka, aku lebih suka berbicara tentang hal-hal yang cenderung berbau pragmatis, straight, fokus dan perihal ,’’Anggur dan rembulan, ‘’ katanya menukil sajak si Burung Merak.
Ah, tidak benar juga aku hanya berbicara tentang anggur dan rembulan, atau hal-hal yang berhubungan dengan kekinian. Aku, sebagaimana Luka, Bianca atau sebagian besar orang, pasti merenung juga, menimbang-nimbang hal-hal yang sudah terjadi, menilik kedirian dan merumuskan langkah selanjutnya yang musti dibuat untuk memantapkan perjalanan.
Tapi, memang demikianlah kami adanya, kami saling mengolok-ngolok, bukan untuk meminggirkan apalagi menepikan harga diri, malah sebaliknya, untuk semakin mempererat persaudaran kami.
‘’Makan itu harga diri!,’’ pekik Luka padaku ketika ia membaca parasku tidak begitu berkenan dengan ujarannya. ‘’Hari gini tersinggung’’. Aku pun membalasnya dengan santai, nyaris tanpa emosi, ‘’Seharusnya kau menjadi santo atau nabi selanjutnya, meski tanpa kitab suci, atau apapun namanya itu, sehingga dengan demikian kau tahu bagaimana seharusnya belajar menghormati pola pikir orang lain yang berbeda, atau berseberangan denganmu’’. Jika keadaan sudah demikian, Bianca, yang berada diantara kami, hanya tertawa, sembari berucap, ’’Kalian laki-laki, memang sama saja’’.
Ya, dan kupu-kupu yang diidamkan Luka, bahkan ketika Bianca telah berpulang keharibaan-Nya, memang belum jelang jua. Meski dulu, Luka pernah membina hidup dengan Sita, istri terkasih dan mengasihinya.
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam kali Luka memang pernah menjalin atau berusaha belajar merajut kasih dengan perempuan-perempuan pilihannya. Setelah berpisah dengan Sita tentu saja. Tapi yang aku tahu, hingga saat kini pun belum ada satu pun yang benar-benar nyambung dengan hatinya. Mungkin selektifitas menjadi faktor utamanya. Tapi tidak juga, sanggahnya, perkasihan adalah hal-hal diluar kekuasaan seseorang untuk mengatur-ngaturnya. Ia akan datang dengan sendirinya tanpa permisi, dan akan membuatnya nyaman atau tidak sama sekali. Karena, menurutnya, perkasihan adalah jauh logika dari rasa. Jadi nikmati saja, khotbahnya.
Aku tidak membenarkan atau menyalahkan pola pikirnya. Aku hanya berkawan dengan sangat baik dengannya. Tanpa aku harus bersepakat dengan pola pikirnya sama sekali. Karena kami merdeka dengan diri kami masing-masing. Dan untuk alasan itu pula kami saling membebaskan ke mana kaki dan pikiran ini melangkah. Kami hanya saling mendoakan dalam kebaikan dan kesabaran. Dan saling mengharap, semoga nasib tidak terlalu keras berlaku kepada kami. Itu saja, tidak lebih.
Oh ya, dan soal kupu-kupu Luka?
Bagaimana aku harus menceritakannya. Terlalu pelik dan terlalu sederhana untuk sekedar diceritakan. Tulisan yang paling naratif, prosaik, lugas, dan tuntas sekalipun tidak akan pernah benar-benar mampu memindahkan kemarakan, keindahan sekaligus keabsurdan perjalanan hidup Luka. Kalaupun aku akan berusaha memindahkannya, tidak semua keindahan hidupnya terwakilkan dalam lukisan tulisan ini. Itu pasti hanya sebagian kecil saja. Sebagaimana ketika para penulis besar berupaya memindahkan kedahsyatan dan keindahan perjalanan hidup seseorang yang sangat-sangat berarak, berderak-derak dan akbar.
Bukankah ada kata yang sangat standar untuk mewakilkan hal itu? ‘’Bahkan kata-kata pun tidak akan pernah mampu mewakili’’. Atau dalam selarik lirik penyair Toto Sudarto Bachtiar dinukilkan, ‘’Karena kata tak cukup kuat berkata’’. Atau sebagaimana para cerdik cendekia bernubuat, ‘’Bahwa bahasa mengurangi makna’’. Memang demikianlah adanya, kenyataan dalam hidup, dalam banyak hal sangat-sangat lebih indah untuk tidak hanya sekedar diceritakan atau dituliskan. Ia lebih nikmat nuansanya hanya untuk dirasakan, dipendam, diperam, dan dikenangkan, entah sampai kapan, seorang diri.
Tapi tak mengapa, aku akan mencoba berikhtiar menceritakannya, meski tentu saja, jauh panggang dari api, jauh keindahan sebenarnya dari tulisan yang aku larikkan.
[ *** ] |