Novel
Telah Terbit Terbaru Bergenre Detektif Misteri & Suspence di Leutika Prio...!!! PDF Print E-mail
Written by ekohartono   
Sabtu, 14 Mei 2011 12:25

Judul : CERPEN BERDARAH

Penulis: Eko Hartono
Kategori: Novel
ISBN: 978-602-9079-78-4
Penerbit : Leutika Prio
Terbit: Mei 2011
Tebal: 226 halaman
Harga: Rp. 46.100,00

Sinopsis:

Berawal dari sebuah mesin ketik tua, kematian demi kematian terjadi secara misterius. Safira, 28 tahun, gadis lajang yang dijuluki Gadis Diskotik karena tiap malam suka pergi ke diskotik, mati dengan cara mengenaskan di rumah kontrakannya yang mewah. Sekujur tubuhnya ditikam pisau dapur. Korban kedua bernama Rahmad, 48 tahun, seorang guru SMP swasta, mati dipatok ular berbisa di belakang gedung sekolah. Lalu korban ketiga bernama Wardoyo, 52 tahun, pemilik kafe, yang mati ditikam pisau di ruang dapur kafenya.

 
MARI MENARI [Bagiab III] PDF Print E-mail
Written by Benny Benke   
Senin, 04 April 2011 20:12

III

I. Alif Ba Ta.

SIAPAKAH yang benar-benar sanggup mengeja hidup? Membacanya menjadi barisan panjang kalimat lengkap yang mampu membuat dan menuntun kesehariannya berjalan dengan tertib, rapi dan menyenangkan? Apakah agama benar-benar mampu melaksanakan tugas berat ini? Menjadi penuntun dan tuntunan bagi orang-orang yang memercayainya, sehingga hidup berjalan dengan mulia dan sentosa? Dalam beberapa hal, semua orang juga tahu, agama seolah hanya menjadi senjata ampuh untuk mengobarkan perang, atau alat pembenar persengketaan yang paling manjur untuk dijadikan pegangan merampas hak hidup orang kebanyakan. Tapi dalam keseharian, ketika peperangan belum atau usai dimaklumkan, biasanya agama akan disimpan kembali dengan manis bawah tilam.  

Atau dalam hal kecenderungan lainnya, agama hanya dijadikan busana untuk sekadar mengaktualisasikan perayaan dan upacara belaka, tidak untuk dihayati dalam keseharian, apalagi diimani.

Atau ketika musibah datang menjelang tanpa berbilang. Agama, biasanya, lagi-lagi baru ditampakkan fungsi dan perannya. Sebagai alat membesarkan hati, sekaligus permakluman, bahwa ada yang lebih digdaya di atas segala keterbatasan manusia, yaitu Tuhan, Penguasa Alam Raya. Dengan demikian, tidak ada jalan pulang yang lebih melegakan selain, berserah pasrah, luruh utuh, penuh dan tumpah untuk mengembalikan semua kepada-Nya, Sang Maha Pemula.

Tapi semudah itukah mengeja hidup di bawah tuntunan agama?

Bukankah menjadi hal yang lumrah, agama telah direduksi sedemikian rupa. Ketika seolah-olah Tuhan hanya bisa ditemui hanya oleh orang-orang beragama pada saat berdoa dan beribadah saja. Kemudian, secara tidak sadar malah menjadikan pemeluknya sendiri bermental pengemis, yang kerjanya melulu menjadi peminta-minta kepada Tuhannya, mendikte-diktekan kebutuhannya sesuai dengan keinginannya masing-masing?

Dalam tataran ini, menurut Luka, air mata, doa dan agama adalah percuma, sia-sia.

Aku, Luka, Bianca, Sita dan Gavin mungkin salah satu dari sekian banyak orang yang tidak begitu fasih mengeja hidup, apalagi membaca agama, terlebih Tuhan. Segala tuntunan yang tersurat apalagi yang tersirat dari segala aturan, norma, dogma, wahyu atau kitab tidak begitu saja bisa membuat kami benar-benar mampu mengeja jalan hidup. Apalagi dengan fasih membacanya. Sehingga, sebagaimana yang kami alami selama ini, malah sangat-sangat lintang pukang dibuatnya.

Almarhum Bianca mempunyai nasihat yang lumayan bagus ketika aku mengeluhkan apa yang aku rasakan, ketika menit-menit terakhir menjelang maut meminangnya. ‘’U can’t win em all,’’ ujarnya lirih di telingaku, dan beberapa jenak kemudian lengkung maut memang benar-benar mematuknya. Di pelukanku, matahari itu meredup dan benar-benar harus mengakui kekalahannya bertarung dengan el-maut. Apakah agama mampu memenangkan kita saat bertawar-tawaran dengan maut?

KAMI; aku dan Luka lebih banyak melewatkan hidup setelah kesendirian kami dengan cara masing-masing. Luka lebih suka menenggelamkan diri dalam kesibukannya sebagai pewarta. Setali tiga uang dengannya, aku pun menyuntukkan diri dalam pekerjaan sebagai penulis dan pengajar. Sekali dua kami janjian atau tanpa janji sama sekali untuk saling menemu. Meski mungkin terbaca agak aneh cara kami saling menyua.

‘’Well....,’’ demikian bunyi sms Luka.
‘’Up 2 u’’, balasku seketika.
‘’Ok,’’ balasnya lagi.
‘’Okelah,’’ balasku lagi.

Lantas, kami pun seolah sudah sangat saling bisa menebak di tempat mana kami akan bertemu. Tidak penting siapa yang tiba lebih dulu datang dan menunggu. Acara selanjutnya? Ke mana pun ide membawa.

Keseimbangan dalam hidup kami sedikit banyak memang timpang sepeninggal orang-orang tercinta. Mau bilang apa, ikhtiar untuk menemukan keseimbangan toh telah kami kembangkan. Tapi, sejauh layar terkembang, ternyata belum benar-benar mampu menyeimbangkan. Meski pincang, kami, orang-orang kota yang cenderung akrab dengan kesepian, toh tetap berusaha untuk tidak kecil hati, ciut nyali. Masa depan di sana memang misteri, tapi kami pasukan berani hidup yang tak gentar terhadap hari. Kami telah menelan bergumpal-gumpal gemawan keseharian dengan segala konsekuensinya. Dalam beberapa perkara kami memang mempunyai pilihan, tapi, dalam perkara di luar jangkauan pilihan, kami hanya bisa melakoninya, memaknainya. Kehidupan memang menjadikan kami seperti ini, tapi keberanian dan kejujuran jualah yang membuat kami jauh merasa lebih berarti.

Bagaimanakah cara dua orang pemuda memaknai hidupnya sementara mengeja hari pun masih alif, ba, ta?

Tentu saja tidak karuan tata bahasanya. Grammar kami untuk mengeja hari memang sangat-sangat belum mencukupi, masih teramat sangat apa adanya, tapi bukan berarti kami tidak mampu dan bisa memaknai serta memberi arti. Mungkin bagi orang lain, apa yang kami lakukan adalah membuang waktu, percuma, keabaian, sia-sia, tidak bermutu, dan berbagai sebutan remeh-temeh lainnya. Tapi jangan salah. Bukankah nilai rasa dan pengalaman proses pendewasaan setiap orang berbeda-beda? Memang, kami tetap berusaha untuk tahu diri. Usia toh akan terus saja menggelinding tanpa kompromi. Menjadi tua itu sebuah keharusan dan kepastian, menjadi dewasa adalah pilihan. Anak kecil juga tahu itu. Tapi, tanpa harus menunggu menjadi tua kami sudah berikhtiar menjadi dewasa. Jadi, sesama orang dewasa, kami saling menghargai cara kami mewarnai hari, meski cara mengejanya, tentu saja masih tetap alif, ba, ta.

Kami kuliah dari mana saja. Dari fakultas kehidupan tentu saja. Tidak melulu bersikutat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, misalnya. Atau Universitas-Universitas Negeri sampai luar Negeri ternama lainnya. Meski itu juga bagus, tapi fakultas kehidupan adalah lembaga pendidikan non formal yang tidak akan pernah ada habis keilmuannya, dan itu jauh lebih bermakna. Dosen pengajarnya bisa tukang copet yang kepergok masa ramai, polisi lalu lintas yang kelaparan kemudian mencari-cari kesalahan pengguna jalan, tukang sapu jalanan yang setia dengan nasib nelangsanya, peminta-minta di tiap perempatan dan pertigaan jalan yang lihai menjajakan keibaan, guru yang dicacimaki Wakil Presiden hanya karena sebuah sajak yang jujur, ibu yang sampai hati membakar buah cintanya sendiri karena suami kerap mabuk-mabukan, ibu yang menjual darah dagingnya sendiri atas nama keterdesakan ekonomi, ibu yang menyudahi nyawa ketiga darah dagingnya sendiri karena khawatir terhadap jaminan masa depan, supir angkot yang super ugal-ugalan demi sekeping rupiah yang tidak akan pernah mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, tukang parkir yang lalai dan kehilangan motor yang dijaganya, jaksa yang tersandung atau sengaja menyandungkan perkaranya sendiri, hakim yang sengaja menjauhkan diri dari rasa keadilan, sampai anggota dewan tidak terhormat yang lebih pantas menjadi sarana dan tempat menumpahkan caci maki. Hingga Presiden yang lebih fasih menjaga citra daripada merampungkan tugas dan kewajibannya.

Belum lagi jika kita kuliah malam misalnya. Pengajar dan pengampunya malah semakin bisa beraneka ragam latar pendidikan, pengetahuan, dan kebudayaan. Ada pelacur santun baik budi yang menghibahkan seluruh keringat dan air matanya untuk anak dan orang tua tercinta di kampung, bahkan neraka siap ditebusnya asal anak dan orang tua tercinta sentosa dibuatnya. Preman jalanan yang urat gentarnya telah putus dan siap menyabung nyawa dengan siapa pun. Germo yang titis menebak mata lelaki mana yang butuh memanjakan dan merayakan syahwatnya, sampai pemikir intelektual yang malu-malu mendatangi tempat hiburan malam untuk ‘sekedar’ mengimplementasikan keilmuannya. Semuanya ada di sini, di fakultas kehidupan yang tidak mengenal dosen pengampu, kecuali ketajaman hati. Dan rektornya? Tentu saja siapa pun boleh mengklaim diri, selama mempunyai kekuatan daya pikir dan renung yang mumpuni.  Dan syukur-syukur bestari.

Karena masih terbata mengeja hari, maka kami paling gemar menutupi kekurangan dengan bepergian, tualang. Kenapa bepergian kami anggap mampu menambal ketidaktahuan akan hari?

Membaca ratusan buku adalah baik, karena ia membukakan jendela informasi dunia yang tidak akan pernah ada habisnya. Tapi, bepergian, berpetualang ratusan kilometer ternyata jauh lebih baik, karena kita dapat secara langsung membaca kejadian atau peristiwa tanpa perantara siapa pun. Oleh karenanya, bepergian, berpetualang ternyata sangat mengenyangkan, dan dengan sendirinya mendewasakan.
Kecuali saya dan Luka memang tidak cukup mempunyai kemampuan untuk mengambil keuntungan ketika bepergian. Karena ketumpulan rasa dan pikiran misalnya.  Satu, dua kali tempo bolehlah seperti itu, bepergian hanya untuk cengengesan dan atas nama rasa senang belaka, tanpa embel-embel beban intelektualitas di belakangnya. Tapi jika terlalu sering? Itu menyedihkah, aku kira.

Kami pernah pergi bersama ke Bukittinggi Sumatra Barat, Lombok Mataram, Yogyakarta, Sam Po Khong Semarang dan candi-candi tua di Jawa, Apuan Bali, berkeliling Madura, mampir di berbagai pojok Asia Tenggara, serta masih berencana untuk sekedar singgah sejenak di Tokyo, Yunani, Berlin, Turki, Prancis dan kalau nasib mengijinkan, kami lanjutkan berkendara ke Negeri Magribi, atau al-Maġrib al-Arabi, negeri dimana matahari pulang keharibaannya, seperti Aljazair, Maroko, Tunisia serta beberapa Negara yang tercakup di dalamnya diantaranya Libya, Mesir, Sahara Barat, dan Tunisia, hingga mabur sejenak ke Moskwa dan St Petersburg Rusia.  Sebelum kami teruskan ke Siberia, kemudian istirahat sejenak di Vladivostok. Setelah itu kembali menjejaki Mongolia, China, Nepal dan India. Pergi ke Pyongyang di Korea Utara, asyik juga aku kira.

Tentu saja banyak yang kami dapatkan dari perjalanan kami. Tapi entah mengapa masih saja ada yang belum seimbang dalam setiap kepulangan kami dari setiap perjalanan, perziarahan. ‘’Ah, mungkin karena masing-masing dari kita belum menemukan lagi apa yang kita cari dan butuhkan, yaitu pasangan hati,’’ ujar Luka padaku ketika baru saja menginjakkan kaki di Soekarno-Hatta. Masih sentimentil juga anak ini. Tapi, mungkin benar juga apa yang dikatakan Luka. Yang hilang dan telah pergi dari ruang hati kami memang belum ada yang mengisi. Sekadar mencari teman perempuan mungkin bisa kami lakukan, tapi yang benar-benar mampu menghuni rumah hati?

Ah, alih-alih terlalu memikirkan apa yang sebenarnya paling kami butuhkan tapi ternyata belum membuahkan, kami  lebih suka mengisi hari dengan terus bepergian dan berpetualang, entah sampai kapan. Kami bahkan sering sekedar pergi hanya beberapa blok dari tempat masing-masing kami tinggal. Pokoknya pergi dan melakukan perjalanan. Kalau rupiah sedang tidak berpihak, baru kami menyiasatinya dengan berdiam di rumah. Masalah pekerjaan? Saya dan Luka paling bisa mengompromikannya. ‘’Bukankah dalam beberapa hal hidup hanya masalah kompromi belaka?!,’’ kata Luka padaku suatu ketika, dan aku hanya tertawa.

Dan kesepian? Lagi-lagi ini menjadi masalah klasik yang seolah tidak akan pernah ada habisnya untuk diurai. ‘’Bukankah kesepian dan hasrat telah menjadi problem kemanusiaan terbesar masyarakat modern,’’ ujar Luka pada sebuah perjalanan. Teristimewa hasrat, imbuhnya, yang biasanya dibarengi dengan interpretasi sepihak untuk menjalankan, melakukan, dan merayakan sex seenaknya. Sex, menurut Luka adalah persoalan misterius abadi yang tidak akan pernah dapat dirasionalisasikan oleh logika. ‘’Kau harus tahu, hasrat adalah kutukan global bagi manusia modern,’’ khotbahnya. Aku tidak mengiyakan tidak juga menyanggahnya. Luka bebas berpikir dan berbicara sesukanya. Sebebas Wakil Presiden di negeri kami yang bisa seenaknya menantang-nantang Presidennya.

Tapi kalau dipikir-pikir ada benarnya dengan apa yang dikatakan Luka. Bayangkan, kami harus dan dipaksa mampu mengeja hari, dalam kungkungan kesepian dan hasrat yang tidak tersalurkan. Jauh dari sebuah keseimbangan hidup yang paling standar, bukan?

Pernah, kami pikir, seiring dengan berjalannya waktu, jika kita berprasangka baik dengan setiap kejadian yang dikaruniakan kepada kita, maka setiap kejadian yang akan dikembalikan kepada kita, niscaya akan cenderung baik pula. Tapi apa lacur? Ternyata hidup tidak seperti ilmu pasti. Memang, waktu berubah, dan kita ikut berubah juga di dalamnya, tempus mutantur, et nos mutamur in illid. Tapi, semakin kami mencoba mengikuti aras pikir waktu yang senantiasa dinamis, malah semakin lintang pukang dan tergopoh-gopoh otak ini mengeja percepatannya. 

‘’Di sinilah hati berfungsi,’’ ujar Luka lagi-lagi berkotbah. ‘’Jadi, ikuti saja apa kata hatimu, ketika logikamu kau anggap tak mampu lagi membimbingmu. Karena Waktu, sebagaimana Tuhan, terlalu Agung untuk sekadar kau mengerti dan baca dengan akal sehatmu’’. Apakah aku harus membacanya-Nya dengan akal sakit juga?

Tapi berbicara memang tidak semudah melaksanakannya. Suatu ketika, rasa kesepian Luka yang akhirnya membujuknya untuk bersedih semakin berlipat ketika mengetahui mantan kekasihnya, Julie An Dollman, yang mukim di Queensland, Australia mengabarkannya telah menjadi seorang ibu bagi seorang bayi 6 bulan. Anak Julie, kekasih yang juga pernah mengandung benih cintanya ketika semester awal di bangku kuliah dulu, tentu saja buah cinta dengan suaminya yang sekarang.

‘’Namanya Rumi Orion,’’ tulis Julie dalam surat elektroniknya. ‘’Dia lucu dan membuat hidup kami seperti melayang di udara saban hari. Hidup semakin luar biasa dengan kehadirannya. Bagaimana dengan dirimu? Apakah kau sudah menjadi seorang ayah?’’.

Menjadi seorang ayah?! Seperti ditampar nasib buruk, Luka hanya terpekur di depan layar monitor. Sejatinya ia bahagia mendengar Julie telah menjadi seorang ibu. Tapi yang membuatnya masygul, kapan ia akan diberi kesempatan dan giliran nasib seperti Julie; dipercaya menimang buah cinta? Menjadi seorang ayah bagi seorang anak, dari seorang istri yang mengasihi dan dikasihinya.

‘’Kesedihan datang dan pergi, tapi kesedihan seolah datang lagi ketika Julie menanyakan padaku apakah aku sudah menjadi seorang ayah?,’’ tuturnya padaku rana.

Aku hanya menyimaknya, belajar menjadi pendengar yang baik. Luka memang belum pernah diberi kesempatan nasib untuk menjadi seorang ayah bagi seorang bayi, dan ini menjadi alasan yang masuk akal baginya untuk bersedih. Dengan Julie, adalah pengalaman pertamanya menseriusi buah cinta, dan nyaris saja Julie menjadi ibu bagi anaknya. Tapi sebagaimana buah cintanya dengan Sita, nasib ternyata berkehendak lain. Tapi bukan Luka, jika tidak mampu dan pandai menghibur diri, membesarkan hati.

Ya, kami atau lebih tepatnya aku, bahkan telah memasrahkan segala kemampuan kami kepada hidup. Dengan harapan kehidupan akan mampu membimbing kami untuk mencari, menemukan, dan menguak kemampuan terhebat kami yang tersembunyi. Atau bahkan bukan tidak mungkin, Ia akan mengeluarkan kemampuan terbaik, di luar batas bayangan kami sendiri.  Apa yang tidak mungkin dari hidup ini?

Tapi sejauh ini? Tanda-tanda ke arah itu aku belum melihatnya. Mungkin karena aku tidak terlalu pandai membaca simbol dan bahasa Hidup, itu saja, aku kira. Sebagaimana pernah Luka katakan padaku. ‘’Karena kita terlalu asyik dengan diri sendiri. Itu saja,’’ katanya. ‘’Sehingga kita cenderung lalai dengan perbincangan semesta yang tentu saja tidak akan pernah dapat kita mengerti jika menggunakan bahasa bumi’’.

‘’Ngomong apa kamu?’’
‘’Ini bahasa langit, jadi harus kau cerna dengan bahasa langit juga’’.
‘’Ada bahasa yang lebih membumi, yang wajar-wajar saja, bicara dengan bahasa hati saja. Hidup sudah nggak mudah, malah kau terjemahkan dengan bahasa langitlah, bahasa semestalah, bahasa inilah, bahasa itulah. Ada bahasa munyuk nggak?’’
‘’Kau ini, tidak tahu kalau aku serius dengan apa yang aku katakan’’.
‘’Kau lupa. Hidup itu sederhana, penafsirannya saja yang hebat-hebat. Jadi, santai aja man. Itu yang sering kau katakan padaku.’’
‘’Kau tidak bisa hanya dengan santai menghadapi hidup ini’’.
‘’Ah, sudahlah,’’ potongku. ‘’Lebih baik kita shisha saja di little Baghdad atau di sekitar Kemang sana,’’ kataku. ‘’Di sana banyak dara ayu yang berbicara antarsesamanya dengan bahasa bumi sembari melakukan shisha, dan siapa tahu satu diantara sekian banyak dari mereka mampu menutupi kesepian dan hasrat purba kita’’.
‘’He he he’’.
‘’Yah, dia berbicara dengan bahasa munyuk juga akhirnya’’. Dan kami berdua tertawa.

Ujaran Dinah Washington yang sohor dengan tembang The Blues Ain’t Nothin’ But A Woman Cryin For Her Man, mungkin agak cocok jika kami plesetkan dengan gambaran tentang hidup kami; The Life Ain’t Nothing But A Man Cryin For His Woman. Meski sanggah Luka tidak sepenuhnya benar seperti itu, tapi ada sisi betulnya juga, toh kami masih manusia, katanya. ‘’Bener juga, bahkan King Kong pun terbunuh karena cryin for his woman; Ann Darrow, kan’’. Ya ya ya...Celaka, kami diekuivalenkan dengan Tore Kong. Tapi tak mengapa, toh kami lebih suka menderaikan tawa sembari melakukan shisha diantara puluhan dara ayu yang tidak satu pun melirikkan mata ke arah meja kami. Sialan.


II. Awur-awuran.

JUJUR. Dalam beberapa hal, atau mungkin banyak hal Luka cenderung mempunyai ketekunan dan kedalaman pemikiran dibandingkan aku. Meski, dalam penyampaiannya terkesan sembarangan dan awur-awuran. Tapi sejatinya, ia memang ‘lumayan’. Tapi, bukankah jarak antara kedalaman, kedangkalan, kepandaian dan kebodohan adalah sebenang?

Ikhtiarnya untuk memperkuat kemampuan daya pikirnya semakin menjadi setelah ia bersepakat berpisah dengan Sita. Dari beberapa kabar yang aku dengar, Luka bahkan berkawan dekat dengan berbagai prosesi pengasahan hati dengan menempa diri dengan jalan-jalan yang dekat dengan nuansa budaya Jawa. Selain tentu saja dengan tetap terus menyelaraskannya dengan wacana-wacana kontemporer kegemarannya. Ah, aku nggak ngerti tentang yang satu ini.

Laku yang ia lakukan memang sangat tidak dekat dengan akal sehat kita, yang mengklaim diri masyarakat kota dengan segala modernitasnya, dan oleh karenanya semuanya harus di logika.  Dan di luar akal sehat, adalah omong kosong belaka, klenik, dan tidak ada gunanya.

Bisakah kau bayangkan ketika Luka nglakoni, atau berikhtiar melakukan sebuah prosesi menempa diri dengan sebuah upaya ‘menghajar’ diri sendiri dengan berbagai laku yang nggegirisi. Dalam sebuah kesempatan dia, sebagaimana kebanyakan orang muslim kebanyakan  memang biasa puasa setiap Senin dan  Kamis. Sebuah tingkatan standar sebagai orang muslim kebanyakan. Atau puasa Nabi Daud, sehari puasa sehari tidak puasa. Yang ini juga sangat biasa. Tapi entah alasan apa seolah tiba-tiba ia menjadi akrab dengan berbagai laku penempaan diri untuk mengasah hati seperti  tapa tempur; bertapa dengan berendam semalam suntuk di sebuah titik pertemuan dua arus sungai yang mengalir deras yang menghunjam raganya?

’’Ah apa yang aku lakukan belum seberapa. Masih banyak orang Jawa yang lebih mempunyai kekuatan ikhtiar melakukan laku penempaan diri seperti ini, dan itu jauh mengerikan. Membutuhkan laku yang lebih memperihatinkan,’’ katanya. Kemudian Luka mengisahkan beberapa laku seperti puasa ngebleng, tidak makan dan tidak tidur selama 3 hari 3 malam, puasa ngrame, siap berkorban dan menolong siapa pun dan kapan saja, serta puasa ngéli, menghanyutkan diri di air sungai yang mengalir, puasa pendem, sengaja memendam atau menguburkan diri di bawah tanah pada kedalaman tertentu tanpa mengkonsumsi apa pun, dan berbagai jenis lelakon lainnya. 

‘’Dan kau melakukan semua itu?’’
‘’Nggaklah’’, jawabnya. Luka memang tidak atau belum melakukan hal yang paling standar seperti puasa mutih, hanya makan nasi putih selama 7 hari berturut-turut, misalnya. Atau puasa ngruwat, hanya makan sayur mayur selama 7 hari 7 malam, atau puasa pati geni, berpantang makan makanan yang dimasak dengan menggunakan api atau geni selama sehari-semalam. Atau dalam hitungan hari tertentu.

‘’Tidak semualah..ha ha ha. Aku tidak sekuat dan setegar orang-orang dulu yang mampu menempa dirinya dengan sedemikian rupa cara. Cukuplah kerasnya Jakarta dan tak bersahabatnya hidup ini menjadi guruku yang paling utama’’, jawabnya.
‘’Ah, aku pikir itu lebih bisa diterima. Jangan kau terlalu mengada-ngada ya. Hari gini.....’’
‘’Iya sih...’’.

Kami hanya tertawa.
Setelah itu, dengan lancar ia menceritakan berbagai laku puasa atau nglakoni yang bagi orang yang mempercayai dan mengugeminya sanggup mendekatkan dan menyatukan dirinya kepada Penciptanya. Ah, aku lupa detailnya, tapi setelah itu yang pasti dia akan membawa-bawa pengetahuannya sembari menukil petilan serat Wedhatama karya K.G.A.A. Mangku Negara IV yang berbunyi  ‘’Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase lawan kas, tegese kas nyamkosani. Setya budya pangekese dur angkara’’, yang ia ambil dari pupuh Pucung, bait I. Artinya, ilmu itu hanya dapat dicapai dengan laku atau kerja konkrit, dimulai dengan niat yang sungguh-sungguh, teguh, total dengan segala konsistensi dan konsekwensinya, yang pada akhirnya akan mendatangkan kesentosaan. Semua itu harus dibarengi dengan iman yang kuat pula untuk mengatasi, dan mengalahkan segala godaan, rintangan dan kejahatan.

‘’Sederhananya seperti ini. Semua tirakat yang dilakukan oleh orang-orang yang memercayainya itu adalah menikmati yang tidak enak, dan tidak menikmati yang enak’’.
‘’Bicara pakai bahasa Indonesia yang baek dan benerlah?’’
‘’Iya, bener. Gembira dalam ketidakenakan, dan keprihatinan’’.
‘’Kurang kerjaan kali ya’’.
‘’Yah. Itu semua biar nggak mudah tergoda daya tarik hidup’’.
‘’Yang wajar aja kenapa sih. Hidup sudah repot malah dibikin susah’’.
‘’Memang seperti itu adannya’’.

Itu belum semua. Setelah itu dengan tekun layaknya guru taman kanak-kanak berkisah kepada muridnya yang setia dan terpesona, Luka bercerita tentang tasawuf dan kebatinan, serta segala aspek yang membedakannya. Inti dari segala ceritanya itu, katanya, adalah proses puncak penyatuan antara yang diciptakan dengan yang menciptakan.

‘’Union Mystique, atau manunggaling kawula lan Gusti’’.
‘’Ah, malah semakin pelik. Ayolah kau tidak akan pernah bisa membunuh nafsumu, dan dengan demikian dapat ketemu Tuhan-mu. Kau tetap manusia yang mudah pecah. Ingat itu.....’’
‘’Yah, itu terserah kamu. Ini hanya masalah pilihan’’.
‘’Sepengetahuanku, bukankah lebih baik kita sibuk mencari keburukan kita sendiri, daripada menghabiskan waktu untuk melakukan hal-hal seperti itu. Atau dalam kasusku, aku lebih suka mengenangkan kebersamaanku dengan Tristan dan Bianca sembari mendatangi kuburan mereka di Menteng Pulo. Sederhana kan’’.
‘’Aku menghormati itu’’.

Memang, Luka cenderung terlatih untuk pandai menikmati yang tidak enak, dan bisa untuk  tidak menikmati yang enak, sebagaimana yang barusan dia ceritakan padaku. Gembira dalam kesempitan dan kesusahan, serta sudi merayakan keprihatinan.
Meski sejatinya, aku dan Luka memang paling pandai memanfaatkan waktu luang untuk bersenang-senang. Kami, tidak sebagaimana para cerdik cendekia yang dengan sadar menampik waktu luang untuk bersenang-senang, kami justru sebaliknya, adalah orang-orang yang sangat pandai meluangkan dan mencari-cari dan menyongsong waktu untuk bersenang-senang, menghamburkan kesenangan untuk sekedar  cengengesan. Dalam hal ini, menurutku, memang kontradiktif sifat Luka. Ya, super paradok mungkin bagian dari absurditas kehidupan Luka. Dan itu membuatnya sangat kaya sebagai seorang manusia, karena inkonsistensinya sebagai seorang manusia.

Semua orang pasti tahu, setiap orang tidak akan pernah mampu lari dari nasibnya. Tidak juga orang yang paling berani, sampai yang paling pengecut sekalipun. ‘’Aku pernah berulang-ulang menantang keadaan,’’ ujar Luka padaku di sebuah malam di persimpangan pemikiran, seusai waktu bersenang-senang usai.

‘’Tahu apa yang aku dapatkan? Aku lintang pukang, dan tergopoh-gopoh dibuatnya. Tidak akan pernah usai dalam sekali kehidupan untuk sekedar mengerti tentang keadaan yang menimpamu,’’ imbuhnya nyerocos sembari menyitir pemikiran salah seorang sastrawan atau pemikir entah dari mana. Begini bunyinya; Kalau saja hidup berjalan selama dua kali, sekali untuk gladi resik dan sisanya untuk kehidupan yang sebenarnya, tentu hidup lebih indah dan mudah.

Padahal, sepengetahuanku, selama Luka menantang, kemudian memberontak terhadap ‘kejadiannya’ ia tidak pernah memenangkan pertarungan itu. ‘’Ya, kau tidak akan pernah menang. Siapa pun tidak akan pernah menang,’’ akunya padaku. ‘’Meski tidak percuma perlawanan itu, tapi kau tidak akan pernah bisa menang melawan nasib’’.

Semenjak itu Luka memang berdamai dengan nasib. Meski tidak sepenuhnya tenang dan lapang, ia pelan-pelan berkawan dengan kejadian, dengan keseharian. ‘’Dalam beberapa hal, nasib memang lebih kejam dari kematian itu sendiri,’’ katanya masygul.
Kesedihan Luka mungkin sama dengan kegundahanku ketika suatu sore, ada seorang perempuan menghampiriku. Kawan lama. Mantan score girl yang belum lama bercerai dari suaminya. Ia memintaku untuk menjadikannya istri muda, dengan syarat memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Kenapa ia datang padaku? Ia tidak dapat menjelaskannya dengan logis, hanya intuisinya yang memaksa dan membuatnya harus datang padaku.

‘’Aku bingung mau ngomong apa lagi,’’ kata Upi. Selanjutnya ia bercerita telah mencoba bekerja pada rumah panti pijat. Dua kali trainning telah ia lakukan, dan hasilnya, ‘’Aku nggak sanggup mas. Aku pikir akan sanggup memijat para lelaki dalam keadaan bugil, setelah aku coba dalam dua kali trainning, ternyata nggak sanggup,’’ keluhnya di dalam mobilku.
‘’Kenapa nggak kau coba mencari pekerjaan lain?’’
‘’Aku nggak punya ijazah mas, bahkan ijazah SMP pun entah udah ilang ke mana?’’
‘’Kembali jadi score girl?’’
‘’Tempat lamaku kerja dulu udah sepi mas’’.
‘’Trus, sekarang pemasukanmu dari mana’’.
‘’Nggak ada mas.....’’

Setelah berpisah dengan suaminya, Upi, ibu satu anak yang diasuh mantan suaminya, hidup dengan menumpang kawan dekatnya. Hingga keadaan membuatnya berpikir keras untuk terus dan harus mempertahankan hidup. Syukur-syukur bisa mandiri.
‘’Aku bingung mau kerja apa lagi. Peliharalah aku mas...., jadikan istri simpanan. Atau barangkali ada kawan mas mau mencari istri muda??’’.  Ah, apa lagi ini.

Luka juga mempunyai pengalaman lain. Ia bertemu dengan Dahlia, perempuan 20 tahun, ayu, bekerja pada sebuah panti pijat terkemuka di bilangan Sudirman, Jakarta dengan tarif yang luar biasa. Dalam sebulan Dahlia mampu mengirimkan 2,5 hingga 3 juta rupiah kepada orang tuanya di Bogor. Dia tinggal pada sebuah apartemen mewah di kawasan Kota, dengan tabungan yang cukup untuk membeli sebuah Honda Jazz baru tidak second. Dan yang paling menarik, ia menyusun teologi ketuhanannya sendiri.

‘’Saya tidak melakukan pembenaran dengan apa yang saya lakukan, tapi saya yakin Tuhan sangat tahu dengan apa yang saya kerjakan. Dan dengan demikian Dia maklum dengan apa yang terjadi dengan nasib saya,’’ katanya.

Selanjutnya, Dahlia bercerita dengan detail kenapa ia memutuskan bekerja pada sebuah panti pijat dengan penghasilan sampingan menjadi pelacur kelas 1 juta ke atas, kepada para pelanggannya yang doyan melacur.

‘’Saya pernah bekerja menjadi kasir di sebuah swalayan dengan gaji bersih Rp. 600.000 sebulan,’’ katanya. Apa yang bisa saya lakukan dengan uang Rp. 600.000 di Jakarta? Tekannya. Dahlia bahkan harus menelan air liur jika tahu orang-orang yang berbelanja di tempatnya bekerja, mempunyai handphone terkini.

Sekarang, hp model apa pun dengan harga berapa pun mampu ia tebus. Bahkan ibunda tercinta telah diberangkatkannya pergi Haji. ’’Pada usia 30-an saya akan pensiun, dan tentu saja hasil tabungan saya akan berbicara’’.

Dahlia bahkan sangat bersyukur dengan keadaannya saat ini. Dengan paras ayu, tubuh semampai, kulit kuning langsat, dan cara berpikir yang baik meski dengan latar pendidikan yang tidak seberapa, ia mampu mendapatkan kekayaan melimpah dengan gampang.
Dunia memang tidak adil, ujar Luka, seolah-olah kemudahan hanya milik perempuan ayu dengan paras semampai.

’’Siapa bilang hidup saya berjalan dengan gampang ?’’. Menjadi pacar simpanan orang Cina yang mampu memenuhi hampir semua kebutuhan memang mengenakkan, potongnya, tapi bukan berarti itu semua berjalan dengan gampang dan lempang. Setelah itu, lagi-lagi Dahlia membawa-bawa nama Tuhan. ‘’Dia mempunyai rencana lain yang tidak akan pernah saya ketahui. Dan saya yakin Dia maklum dengan apa yang saya lakukan. Titik. Itu saja’’.  Ah, apa lagi ini...

Memang, kasus Upi dan Dahlia adalah segelintir dari ribuan kasus-kasus lain yang lebih mengerikan dan tidak terperikan. Kasus dari orang-orang yang menafsir dan membaca Tuhan sesuai dengan pemahamannya masing-masing.

Adalah benar, berjumpa dengan Tuhan tidak melulu pada saat orang sedang kusyuk berdoa dengan segala linangan air matanya.  Bahkan pada saat orang sedang mempertahankan dan memperjuangkan hidupnya seperti Upi dan Dahlia, Tuhan sangat-sangat bisa ditemui. Bukan tidak mungkin dan bisa menjadi sangat mungkin sekali Tuhan justru bisa sangat mudah ditemui oleh orang-orang macam Upi dan Dahlia. Atau jangan-jangan Upi dan Dahlia?


III. Home.

KAMI memang golongan manusia-manusia lelah dan lemah. Bahkan perjalanan panjang berziarah hingga jauh ke negeri orang, tidak atau belum cukup membuat kami tegar untuk berhadapan dengan hari. Benar, mungkin sudah tidak saatnya berpergian lagi, bertualang lagi. Mungkin hanya kehangatan rumah yang memanggil-manggil yang kami cari. Kini saatnya mengistirahatkan sepatu dekil yang berlumpur dan menggantinya dengan sandal rumahan yang empuk dan melenakan? Demikian kata mas Willy. Ah, apapun itu bukankah rumah sebenarnya adalah hati yang lapang.

Lalu untuk apa mencari rumah lapang sampai jauh-jauh di jantung Rusia? Menjejaki tujuh kotanya untuk mengikuti kata hati, merunut rumah orang-orang besar pada masanya? Seraya belajar menekuni bagaimana mereka menerima, mensiasati dan menghadapi kehilangan sebagai sebuah bahan untuk membangun masa depan.

Inilah salah satu catatan perjalanan Luka yang masih tersisa, ketika berkesempatan mengajakku bertamu ke Rusia. 
Inilah kisahnya.

Kehangatan Rusia.

APA lagi yang musti dan sepatutnya dikatakan tentang Rusia? Negara Besar dengan sejarah panjang dan warisan kebudayaan yang luhur, ini bahkan nyaris tidak bisa didiskripsikan keindahan sekaligus kemisteriusannya. 28 hari menziarahi mantan Negeri Tirai Besi yang dulu paling ditakuti Amerika Serikat, ternyata tidak cukup untuk menguak dan ''membacanya''. Meski nasib memperkenankanku untuk kali kedua, setelah dua tahun lalu menziarahi Rusia, namun kunjungan kedua kali ini bersama Pierre, malah semakin menyisakan kesan dan jejak yang jauh lebih mendalam.

Stanza Fyodor Tyutchev, penyair besar Rusia abad ke-19 sangat mewakili apresiasiku terhadap negara yang secara kewilayahan luasnya dua kali AS ini. Inilah nukilan stanza yang termasyur itu; ''You cannot understand Russia with your mind. You cannot measure it with universal dimension. Russia has something special. In Russia you simpli believe''.

Ketika nukilan itu aku pinjam, kemudian aku dengungkan di depan Kabinet Nusantara, sebuah institusi terdidik yang terdiri dari para ahli tentang Indonesia yang beranggotakan para Doktor, Profesor, Wartawan dan masyarakat intelektual yang tahu dan menguasai tentang Indonesia, mereka semua serentak tertawa.

''Saya bahkan haru mendengar stanza dari Tyutchev dibacakan oleh orang Indonesia,'' ujar Prof. Drugov, ahli politik Indonesia dan mantan penerjemah Laksamana Chernobil semasa konfrontasi Irian Barat antara Indonesia dengan Belanda.

Keheranan yang sama terhadap kondisi Indonesia pun juga dikatakan Prof. Drugov. Dulu, Mohammad Hatta dan Adam Malik, demikian kisahnya, pun mengutarakan hal yang sama tentang Indonesia kepada orang-orang Rusia. ''Jika ada orang yang mengklaim tahu kondisi Indonesia, maka orang tersebut sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang Indonesia,'' kata dia dengan bahasa Indonesia yang jernih dan sangat sempurna.

Untuk kali kedua kami semua tertawa.   

Ya, siapa yang tidak kenal dengan Spirit Rusia, semangat Rusia? Sejarah memang mencatat jika Rusia selalu dikalahkan, tapi tidak pernah tertaklukkan. Ini terbukti ketika mereka memukul balik Napoleon Bonaparte dan Adolf Hitler, meski Napoleon maupun Hitler telah menaklukkan hampir seluruh seluruh belahan Eropa. Tapi mereka berdua nyatanya tidak berhasil ketika mencoba menundukkan Rusia. 
Spirit Rusia akan semakin terlihat jika kita saban hari turun ke jalan, untuk mendekati, menghampiri dan berikhtiar menjadi satu terhadap nadi kehidupan sehari-hari mereka. Di tujuh kotanya, di Moskva, St Petersburg, Novgorod, Tsarskoye Selo, Sergiew Plossad, Klin dan Tula kami; aku dan Pierre dengan mudah menemukan Spirit Rusia itu.

Nyaris tidak ada yang berlenggang kangkung di tujuh kota itu, semua nadi kehidupan oleh penduduk kotanya dilakoni dengan serba cepat, cermat, kidmat, sekaligus saksama. Meski terkesan kaku, namun jangan ragukan ketertibannya. Bahkan di Metro, kereta bawah tanah super cepat yang banyak terdapat di Moskva dan St Petersburg, keserbacepatan, keserbacermatan sekaligus keserbasaksamaan sangat terlihat dengan jelas.

Di dalam Metro, yang dibangun pada masa Stalin itu, kereta listrik hanya berhenti selama 30 hinga 60 detik untuk menunggu penumpang bersegera masuk ke dalamnya. Sebelum pada akhirnya pintu kereta tertutup secara otomatis dan melaju ke stasiun berikutnya. Kemudian, tiga atau lima menit dibelakangnya dapat dipastikan kereta selanjutnya telah tiba ke stasiun tadi, untuk melakukan hal yang sama, mengangkut jutaan penumpang yang hilir mudik di bawah tanah Moskva dan St Petersbug.    
Di dalam kereta memang ada canda, cengkrama dan tawa antarkawan sebaya, tapi sebagian besar melakukan aktifitas yang nyaris sama, yaitu membaca. Membaca apa saja; dari koran, tabloid, majalah, roman, diktat, laporan kerja atau sekedar mengisi teka-teki silang.

Moskva dan St Petersbug

Sebagaimana informasi yang aku terima, pada dasarnya Rusia terbagi dalam ''dua ibukota''; yaitu Moskva, dan St Petersburg. Di Moskva, sebagai Ibukota yang sedang giatnya-giatnya berkawan baik dengan kapitalisme, nuansa kota metropolitan sangat-sangat terasa. Kemacetan, sebagai salah satu indikator kota besar memang menjadi pemandangan sehari-hari di sana. Kesupersibukan kota Moskva bahkan juga terasa ketika malam menjelma. Apa yang tidak ada di kota besar termahal keempat di dunia ini, setelah Tokyo, London, dan Nagoya itu?. Atau apa yang tidak tersedia dari kota yang terkadang menurut survey dari sebuah lembaga berwibawa, itu menjadi kota termahal nomor satu di dunia?       

Dari tempat-tempat memanjakan birahi hingga rumah-rumah perjudian dengan sangat mudah ditemukan di prospek atau jalanan utama Moskva. ''Bahkan sebagai kota, menurut data terkini, Moskva telah menggeser pusat judi Las Vegas di Amerika dalam jumlah slot atau alat judi,'' ujar Cherry Sidarta, Sekretaris I Konsuler Kedubes RI di Rusia.  Seorang kawan yang tekun menuntun kami ke pojok-pojok Moskva.

Sebagaimana kota besar di Eropa, Moskva tampak terlihat bersolek dan sibuk dengan dirinya sendiri, dan oleh karenanya orang cenderung asing antarsesama, bahkan dengan dirinya sendiri. Kehirukpikukan ini tidak akan kita temui di St Petersbug, misalnya. Kota kuno yang sangat aristokratik yang pernah menyandang nama Petrograd dan Leningrad. Kota budaya, yang berbatasan dengan Finlandia ini sangat terasa nuansa Yogyakartanya.

''Jadi tidak mengherankan jika Sri Sultan Hamengkubuwono X berencana menjadikan Yogyakarta sebagai sister city dengan St Petersburg,'' jelas Mikhail Tsyganov, Kepala Biro kantor berita RIA-Novosty perwakilan Jakarta. Kawan baik kami lainnya. Ah betapa enaknya berpergian dengan sejumlah kawan baik yang terus menyertai.

Di St Petersburg, sebagai kota yang menyandang julukan jendela Eropa yang sebenarnya, kehidupan berjalan lebih intim. Namun dengan tetap tidak meninggalkan spirit Rusia. Perbedaan yang kontras antara Moskva dan St Petersbug memang mengingatkan kita terhadap kehidupan antara kota Jakarta dan Yogyakarta.

Namun pada dasarnya antara Moskva dan St Peterburg tetap mempunyai kesamaan yang sangat signifikan, sebagaimana kota Novgorod, Sergiew Plossad, Tsarkoye Selo, Klin, Tula, dan berbagai kota besar lainnya di Rusia. Vodka-lah yang  tampaknya menyatukan mereka semua. Sebagai minuman nasional, Vodka dipercaya dapat memecah segala kebekuan perbincangan, dan membuat suasana menjadi lebih hangat, dusha-dusha, soul to soul, dari hati ke hati.

Jika di Amerika Utara dan Inggris Raya, biasanya vodka dipadukan dengan Cocktails dan Martini, di Rusia mencapur vodka dengan berbagai minuman lainnya sangat tidak dianjurkan, kecuali memadukannya dengan Yours, bir asli Rusia. Sampai-sampai ada ungkapan vodka tanpa bir adalah seperti  ‘’uang dilempar ke dalam angin, alias sia-sia’’. Tentu saja ada puluhan merek Vodka di Rusia. Yang paling masyhur adalah Flangman dan Russky Standart.    

Sebagaimana pengalaman saya dan Pierre berkawan dan bertamu dengan berbagai lapisan masyarakat Rusia, sebagai tanda sebuah persahabatan, kita sepatutnya dan seharusnya tidak menampik ketika dijamu dengan Vodka. Minumlah meski sedikit, toh mereka akan berkata, ''choot choot, pozhaluasta. Sedikit saja, please...,’’ dengan cara yang paling santun. Setelah itu mereka akan sehangat kawan lama yang sudah lama tidak bersua. Penganan, buah-buahan, dan coklat terbaik dapat dipastikan langsung disajikan di atas meja.

Demikian halnya ketika kita ingin membuat musuh dengan orang Rusia, akan dapat dengan sangat mudah sakali dilakukan. Kirimi saja mereka setangkai kembang dalam jumlah genap, maka seketika mereka akan marah dan syukur-syukur kalau tidak murka. Bagi orang Rusia, kembang adalah keseharian yang tidak dapat dipisahkan. Karena mereka sudah terbiasa mengungkapkan apa yang dirasakan dengan kembang. Dan kembang dalam jumlah genap, lazimnya hanya diberikan kepada orang yang sudah mati.

Jadi, jika kita memberikan kembang dalam jumlah genap kepada orang yang masih segar bugar, apalagi sedang terbaring sakit, berarti kita menyumpahinya untuk segera mati. Itu berarti kita berada dalam masalah besar.
Sedangkan memberikan kembang dalam jumlah ganjil, biasanya kita berikan kepada orang-orang yang kita cintai dan hormati.

Ya, Rusia yang ketika kami datang bersuhu antara minus delapan hingga plus 10 derajad celcius memang misterius dengan segala warisan kekayaan budayanya. Dari karya musik, lukis hingga sastra nama seniman, musikus, komposer dan sastrawan besar Rusia sangat mewarnai dan dikenal di seantero dunia.

Kami beruntung berkesempatan bertamu dan menziarahi rumah bahkan masuk ke ruang privat, ruang kerja sampai kamar peraduan Anton Chekov, Maxim Gorky, Fyodor Dovtoyesky, Alexander Puskhin, dan Tchaikovsky. Bahkan merunut tempat berproses kreatif sekaligus menyepi Leo Tolstoy di Tula, 200 km sebelah timur Moskva, sekaligus meletakkan bunga hati di pusarannya yang sahaja.

Selain tentu saja tetap tidak melupakan mendatangi makam para anggota keluarga kerajaan Peter the Great di Peter and Paul Fortress. Serta merunut hari-hari terkahir sang eksentrik Rasputin di rumah The Yusupov Palace di Moika Embankment. Dan tentu saja, ini yang tidak boleh terlewatkan, berpose layaknya muda-mudi di depan mouselum Lenin di Krasnaya Plosad, Lapangan Merah di jantung Moskva.

Sebagai kamerad yang baik, saya dan Pierre juga menyempatkan diri berdoa untuk menghormati Utui Tatang Sontani, salah seorang sastrawan Indonesia yang  pernah mengajar di Moscow State University, yang meninggal dan dimakamkan di pemakaman Islam pingiran kota Moskva. 

Selain tentu saja tetap melakukan kunjungan ke berbagai puluhan galleri dan museum terkemuka di sana. Zdras-tuice Rusia.

Indonesia Raya di Kota Puskhin.

Rasanya seperti di rumah sendiri ketika ensemble Indonesia Raya bergema di Tsarskoye Selo, Desa Para Raja, sebuah kota yang berjarak satu jam perjalanan darat dari St Petersburg. Di tempat inilah dulu, para para pendiri dan penggerak kota St Petersbug seperti Chaterina I, Elizabeth Petrovna, Catherine the Great, Alexander I dan teristimewa Nicholas II, penguasa terakhir monarki Rusia Raya yang tumbang oleh Revolusi Oktober Lenin, pernah tinggal.

Di kota ini pula Alexander Pushkin, penyair besar Rusia melewatkan masa sekolah dasarnya. Dan siapa yang menyangka, di tengah sisa hujan salju yang masih membawa serta gigilnya, orkestrasi Indonesia Raya seketika dimainkan oleh lima musisi tua, begitu mengetahui aku dan Pierre datang dari Indonesia. Sebuah negara nun jauh di seberang sana.

Begitu nada terakhir ‘’Indonesia Raya’’ dipurnakan, seketika kami yang tidak pernah menyangka akan mendapat suguhan istimewa, bertempik sorak. Musisi pemegang terompet, yang sepertinya menjadi leader bagi keempat kawannya yang memainkan trombone dan trompet menawarkan tembang lain dari Indonesia yang mereka kuasai. Tentu saja dengan senang hati kami menyepakatinya. Sejenak kemudian, mengalunlah istrumentalia, ‘’Rayuan Pulau Kelapa’’.

Memang, nama Indonesia bagi sebagian besar orang tua Rusia adalah bukan sesuatu yang asing. Sehingga tidak mengherankan pula jika sebagian besar dari penduduk Rusia yang berusia di atas 60 tahun familiar dengan Indonesia. Contohnya, ya di Tsarskaya Selo, Desa Para Raja dimana Istana Chaterina yang megah dan mewah berada. Di kota yang dikenal juga dengan nama Puskhin Gorod atau Kota Puskhin, ini tidak sedikit yang mengenal nama Indonesia.

Memang, kefamiliaran nama Indonesia, teristimewa bagi generasi tua di Rusia bukan tanpa sebab. Karena pada tahun 1956 ketika untuk kali pertama Soekarno menginjakkan kakinya di Uni Soviet, pada masa itu, hampir semua siswa-siswi dianjurkan, atau mungkin diwajibkan untuk menyambut kedatangannya oleh Negara. ''Bahkan kami, para mahasiswa MGU (Lomonosov Moscow State University) pada waktu itu menyanyikan Indonesia Pusaka, dan Presiden Soekarno menjadi derigennya,'' kenang salah seorang staf pengajar Jurusan Ketimuran Institut Study Asia-Africa (ISAA) pada sebuah kesempatan.

Jika di kota kecil yang jauh dari pusat pemerintahan seperti Puskhin Gorod saja tahu nama Indonesia, maka tidak akan terlalu sulit menemukan para generasi tua yang kenal baik Indonesia jika kita berada di St Petersburg, apalagi Moskva.

Di St Petersburg misalnya, salah seorang babuska, atau nenek yang menjaga sebuah stan buku di salah sebuah pojok gerai di Museum Hermitage, bahkan dengan senang hati menembangkan ‘’Indonesia Pusaka’’, begitu mengetahui kami datang dari Indonesia. Meski ‘’Indonesia Pusaka’’ yang dia tembangkan dengan versi bahasa Rusia, namun titi nadanya tidak ada bedanya dengan versi aslinya.

Demikian halnya ketika kami menjumpai seorang supir taksi yang mantan penerbang MIG-15 di Moskva. Vladimir, yang juga dengan fasih menembangkan Indonesia Pusaka dalam bahasa Rusia bahkan dengan lancar bertutur tentang sosok Soekarno. ''Semua orang terpesona dengan orasinya, meski kami tidak tahu dengan apa yang diucapkannya,'' kenangnya terkekeh.

Kedatangan Soekarno ke Uni Soviet hingga empat kali pula yang membuat namanya sangat dikenal oleh generasi tua Rusia sekarang. Dampaknya, beberapa tembang- tembang Indonesia diterjemahkan dalam bahasa Rusia. Bahkan Profesor Drugov, pengamat politik Indonesia dengan lidah yang sangat Jawa mampu melantunkan ‘’Bengawan Solo’’ dengan merdu dan syahdu. Dengan syair Indonesia yang sangat –sangat sempurna.

Ya, Indonesia bagi Uni Soviet pada masa itu, menurut kesaksian banyak orang tua di Rusia adalah saudara jauh dari Timur.
Tapi zaman memang membawa nasibnya sendiri-sendiri. Pada saat sekarang jika kita bertemu dengan generasi mudanya. Mereka akan terheran-heran jika mengetahui kita datang dari Indonesia, ''Apakah Indonesia ada di Afrika?,'' tanya sebagian besar generasi mudanya. ''Bali, Bali,'' jawab Pierre sekenanya.

''Ah, Bali, saya pernah ke sana,'' jawab yang lainnya.

Aku tersenyum kecut. Pierre, sobatku, cengengesan.



IV. Natalia.

Singkat kata, sekembalinya kami ke Jakarta, sebagaimana sekembalinya kami dari berbagai perjalanan meriah lainnya, hampir dapat dipastikan memberikan bergumpal-gumpal gemawan pemahaman baru tentang makna peri kehidupan. Kehilangan besar bangsa Rusia atas banyak hal, dan bagaimana masyarakatnya dengan tegar menghadapinya, seolah dengan telak telah mengejek kami. Belum lagi kehilangan yang tidak terperikan dari orang-orang besar yang dihasilkan oleh masyarakat yang gemar menjunjung azas kerja, kerja dan kerja.
‘’Yang tidak kerja tidak makan,’’ demikian salah satu jargon kuno, atau pada masa komunis jaya yang masih dipegang teguh oleh hampir sebagian besar masyarakatnya. Berkaca dari berbagai peristiwa kehilangan yang entah bagaimana aku harus menceritakannya itulah, Luka menurut pengakuannya kepadaku, semakin jatuh hati kepada Rusia. Sebagaimana dia jatuh hati kepada Natalia. Seorang mahasiswi semester akhir MGU jurusan Sastra Indonesia. Dari Natalia jualah berbagai peristiwa kehilangan bangsa Rusia di transformasikan kepada Luka. Hingga tidak terasa ikatan perkawanan antarmereka berdua akhirnya pelan dan pasti berubah menjadi  ikatan emosial yang sedikit banyak membangkitkan kebahagiaan antarmereka.

Selanjutnya, sepengetahuanku hubungan mereka tetap berlanjut meski jarak sedikit banyak mengendala. Tapi bukan hubungan dewasa jika mereka tidak mampu mensiasati dan mentoleransinya. Kisah selanjutnya? Aku tidak tahu. Ada batas kewajaran yang sepatutnya aku sebagai seorang sobat untuk tahu dan tidak. Ada wilayah-wilayah bagi seorang sobat untuk hanya menjadi pendengar atau berusaha mencari tahu ihwal-ihwal yang sepatunya juga ia tahu dan tidak.  Dalam perkara Luka dan Natalia, pasti mereka mempunyai kisahnya sendiri, sebagaimana kisah-kisah orang lain dengan berbagai versi kehebatannya masing-masing.

Sebagaimana aku juga tidak tahu bagaimana kisah selanjutnya antara Sita dan Gavin, misalnya. Apakah Sita dan Gavin telah menjadi pasangan hati abadi, yang bahkan cobaan yang paling tidak terperikan sekalipun tidak akan pernah mampu membuat keduanya terpisahkan?  Ataukah Sita dan Gavin telah mempunyai dan memilih jalan hidup sendiri-sendiri dengan tetap menghormati dan menjunjung tinggi kesejarahan mereka berdua?

Atau bagaimana dengan kisahku sendiri?

In actionem contemplativus.

 
MARI MENARI (Bagian II) PDF Print E-mail
Written by Benny Benke   
Selasa, 15 Maret 2011 09:52

II

I. Bahtera

ABSURDITAS mungkin salah satu kata dari sekian diksi yang paling tepat, atau tidak tepat sama sekali, untuk menggambarkan siapa sebenarnya Luka. Tanpa angin, tanpa hujan, tanpa kabar berita atau berbagai macam aneka warta lainnya, dia mengetuk pintu rumah sembari menggandeng seorang perempuan ayu, Sita namanya. Padahal sebulan yang lalu, ketika pada acara pernikahan kami, dia datang seorang diri. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya kecuali ucapan selamat atas pernihakan kami, lain kata tidak! Kemudian, pada pertemuan ke dua di rumah, dia sudah seperti karib kepada Bianca, demikian pula sebaliknya. Dan Sekarang, tiba-tiba.....

‘’Halo apa kabar. Perkenalkan ini Sita, istriku. Sita Prameswari istriku, perkenalkan ini Pierre Artie, kawan baikku’’.

Aku hanya mengulurkan tangan penuh keheranan, diam tanpa basa, menyambut uluran tangan Sita, sembari hanya mengucapkan tiga patah kata,’’Hi, apa kabar, Sita’’. Selanjutnya, aku mempersilakan mereka berdua masuk ke dalam apartemen kami. Bianca sedang tidak ada di rumah waktu itu. Yang bisa aku lakukan, hanya mengutuki Luka dalam hati. Bajingan manusia satu ini, batinku, sudah lebih dari dua tahun tidak bertegur salam dan sapa denganku, dan ia hanya datang sebulan yang lalu di hari pernikahan kami, seorang diri. Setelah itu, dengan cepat sangat akrab sekali dengan Bianca, bahkan mampu berbicara perihal topik apa saja dengannya. Mereka berdua semakin meneguhkan keakraban pada pertemuan ke dua di apartemen kami, dua Minggu yang lalu. Baru dua Minggu yang lalu.

Dan sekarang, begitu muncul lagi, seorang perempuan yang dia klaim sebagai istri telah berada di rumah hatinya. Aku semakin lebih tidak tahu, apa yang ada di benak Bianca jika ia tahu Luka datang ke apartemen kami dengan membawa seorang istri, yang bahkan kami tidak diundang dalam hajad pernikahannya, tidak juga diberi warta. Sebagaimana kami mengundang dia demi memanusiakannya. Sialan, padahal baru dua Minggu yang lalu dia datang seorang diri kepada kami. Baru dua Minggu! Ah, apa yang harus aku katakan tentang kawanku yang satu ini.

Dalam hati memang ada yang ganjil dengan kedatangan Luka dan Sita ke apartemen kami, meski aku sebenarnya senang juga. Bukan karena Luka menggandeng seorang istri yang ayu, dan matanya menyiratkan budi pekerti. Lebih dari itu, aku merasa ada yang aneh saja, seorang Luka yang berpikir dan bertindak bebas, dan tiada kabar berita selama dua tahun, hanya muncul sebulan yang lalu di perayaan pernikahkan kami, kemudian diteruskan pertemuan kedua setelah pertemuan pertama, tiba-tiba mengikatkan diri dalam sebuah komitmen pernikahan. Ah, bukankah terlalu sangat banyak yang bisa terjadi pada seseorang dalam hitungan dua tahun, setahun, sebulan bahkan sehari sekalipun?!

Mereka berdua, menurut cerita Luka, menikah dengan cara yang sangat bersahaja, atas nama kesadaran bersama. Bukan sebagaimana cerita kebanyakan orang, seperti atas nama tuntutan orang tua, balas budi, sebuah keterlanjuran, usia yang semakin menua, dan berbagai alasan tidak penting lainnya. Mereka menikah karena memang ingin menikah saja. Titik. Bukan semata-mata karena Sita ayu, berbudi pekerti, dan pinter pastinya, atau bukan karena Luka tampan, kuat, unik, penuh spontanitas dan sekaligus berintuisi. Tapi lebih dari itu, yaitu komitmen. Mereka ingin menikah, tutur Luka, karena mereka ingin menyatukan komitmen bersama, yaitu mencoba mewarnai hari bersama, dengan segala bayarannya.

Sampai kapan komitmen kalian akan bertahan? ‘’Tidak ada yang akan pernah tahu,’’ katanya padaku. ‘’Kalau Sita sudah tidak ayu, sayang, dan pinter berarti kalian boleh saling meninggalkan...,’’ candaku padanya. Luka hanya tertawa.

Sita tidak banyak berbicara, dia lebih senang menyimak sebelum pada akhirnya merumuskan pembicaraan dalam sebuah kalimat yang berisi. Untuk itulah, pikirku dalam hati, mereka adalah pasangan yang serasi, simpulku, meski baru memasuki 30 menit perkenalan kami.

Akupun sebagai seorang tuan rumah yang baik, belajar memperlakukan tamuku dengan baik pula. Sehingga tanpa kuatir dan ragu aku persilakan bahkan setengah mendesak, memaksa mereka berdua untuk tidur di apartemen kami yang memang hanya mempunyai dua kamar utama dan sebuah kamar pembantu rumah tangga. Meski sebenarnya, cerita Luka, mereka telah mempunyai sebuah rumah kontrakan yang asri, rapi dan permai di pinggiran kota Jakarta.

‘’Hei, apa kabar dengan istrimu yang baik, tuan putri Bianca,’’ tanya Luka padaku.

‘’Baik. Baik sekali. Dia pasti akan senang tahu kalian berdua ada di sini. Apalagi Bianca udah lama, udah dua Minggu ya dia nggak ketemu kamu kan’’.

‘’Kira-kira Bianca akan senang dengan keberadaan Sita?,’’ sidik Luka sembari menengok kepada istri terkasihnya.

‘’O, itu pasti. Karena aku yakin, Bianca akan ada partner baru, kawan baru, dan itu berarti pula pengalaman baru,’’ jawabku.

‘’Sita,’’ ujar Luka kepada istrinya,’’kalian pasti akan saling suka’’.

‘’Semoga,’’ jawab Sita enteng.

Kami bertiga tersenyum bersama, sebelum pada akhirnya aku menghubungi Bianca. Di seberang sana, Bianca hanya bertempik sorak setengah tidak percaya, Luka ada di rumah kami bersama seseorang yang diindikasikan sebagai istrinya, Sita. Tanpa keraguan, tanpa pertanyaan tambahan, Bianca pun bersegera bersijingkat pulang ke rumah. Ah, sebenarnya memang sudah jam pulang rumah pastinya.

Ketika bertiga kami sedang asyik berbicara tentang segala hal, dan mulai lancar menemukan topik yang berkenan, ketika itu pula tiba-tiba Bianca telah mengetuk pintu apartemen kami. Selanjutnya, setelah memekik tanda ketidakpercayaan bersua dengan Luka, menjabat erat tangan dan berpelukan dengannya, Bianca kemudian menghampiri dan saling berciuman pipi dengan Sita. Rupanya Bianca, sebagaimana dugaanku suprise tidak terkira.

‘’Gila,’’ tukas Bianca, ‘’baru dua Minggu yang lalu kau datang seorang diri kepada kami, dan tidak menyinggung soal apa-apa tentang pernikahan, tidak juga tetang tali perkasihan, dan sekarang, tiba-tiba?!,’’ imbuh Bianca tanpa melanjutkan ketidakmengertiannya kepada Luka. Sita hanya tersenyum datar, dan menjawab dengan datar pula, ‘’Saya tidak tahu permasalahan kalian bertiga, apakah ada rahasia antara kalian semua?’’. Kami hanya tertawa mendengar Sita berkata demikian. ‘’Karena saya juga mengundang kawan-kawan terdekat saya, meski tidak semua, dan aku pikir, jagoanku ini telah mencantumkan semua list kawan dekatnya. Seharusnya kalian mengejar kepada suamiku ini, bukan kepadaku,’’ lanjut Sita. Ah, benar Sita, memang brengsek Luka.

Dalam hitungan detik, akrablah antara Bianca dan Sita. Maka, berkumpulah kami para pengantin baru.

Kami berbicara tentang apa saja, nyaris tanpa henti, semua topik kami hadirkan. Dari pertanyaan soal keheranan kami atas pernikahan Luka dan Sita yang di mata kami, seolah diam-diam seperti siluman, karena kawan dekatnya seperti aku tidak diundang tidak juga diberitahukan, hingga rencana-rencana ke depan.

‘’Apa yang aneh dengan pernikahan kami, sebagaimana pernikahan kalian berdua,’’ ujar Luka, dan Sita hanya senyum-senyum saja.

‘’Iya sih. Kau ingat, kemarin, sebulan yang lalu, aku mempertanyakan siapakah yang lebih gila diantara kalian berdua? Ternyata sama gilanya, udah ah, yang penting selamet semua. Udah mari kita masak Ta,’’ ajak Bianca kepada Sita, sembari menuntunnya ke arah dapur kami yang tidak seberapa. Maka, akrablah kami selanjutnya....Para istri memasak, para suami menonton siaran langsung sepak bola, apalagi kalau tidak menekuni kesebelasan racikan sang arsitek jempolan, Sir Alex Ferguson. Sebuah kombinasi pembagian kerja yang sempurna dalam rumah tangga.

Demikianlah perkenalanku dan Bianca dengan Sita, yang terhitung singkat, namun dalam nuansa yang hangat dan sahaja. Hingga akhirnya tanpa terasa kami telah mengabaikan waktu ketika seolah pagi seketika jelma, dan kami pun harus meneruskan nasib kami masing-masing.

‘’Selamat dan baik-baik untuk kalian berdua ya,’’ ujar Bianca setelah berpeluk cium dengan Sita.

‘’Pasti, kalian baik-baik juga ya,’’ jawab Sita.

Aku pun melakukan hal yang sama terhadap Luka, berpelukan erat dan saling mengucapkan selamat tanda doa untuk kelancaran perkara hidup kami masing-masing.

KALI terakhir aku bersua dengan Sita pada saat prosesi pengebumian mendiang Bianca. Bersama Luka, Sita datang padaku dan memberikan simpati yang dalam atas kehilanganku. Memang, setelah pertemuan kami yang pertama, aku dan mendiang Bianca tidak pernah lagi bersemuka dengan Luka dan Sita secara bersamaan. Hanya sesekali dengan Luka.

Kesibukan Jakarta dengan segala pernak-perniknya membuat kami bahkan seolah tanpa daya untuk mengatur ulang pertemuan, sebagaimana kali pertama dulu. Dalam hal ini, benar ujaran Luka, rencana terbaik adalah spontanitas. Atas nama spontanitas pula, Luka dan Sita kembali menemuiku, tapi sayang, spontanitas kedua itu harus terjadi setelah Bianca ‘berpulang’.

Sita memang sempat menengok bayi Tristan ke rumah sakit, dan tentu saja di sana ia meneteskan berbulir-bulir air mata. Namun tampaknya ia sedikit lega setelah ibuku memberitahukannya kalau para nenek dan kakek Tristan akan turut campur membesarkan anakku.

Setelah masa berkabung usai, sebagaimana orang lain, Luka dan Sita mohon diri dengan hanya meninggalkan bermakna-makna doa untuk kekuatanku. Tentu saja itu sangat berarti. Semenjak itu pula, aku tidak pernah bertemu dengannya. Kalaupun Luka datang menghampiriku, ia datang seorang diri. Kalaupun aku datang ke rumah kontrakan mereka di pinggiran Jakarta, di wilayah Cibubur sana, Sita sedang berada di tempat kerjanya, atau sedang di rumah kedua orang tuanya, yang terletak tidak seberapa jauh dari rumah kontrakan mereka.

Hingga akhirnya, aku dengar dari Luka, mereka berdua telah berpisah dengan baik-baik sekali. Apakah ada perpisahan yang benar-benar diakhiri dengan baik-baik? ‘’Paling tidak kami berusaha untuk tetap baik-baik dan sewajarnya menyelesaikan perpisahan kami,’’ tutur Luka padaku, ketika ia menyempatkan diri mampir ke rumah.

Apakah sebenarnya yang membuat mereka berdua berpisah?

Inilah kisahnya.

II. Kisah Sepertemuan.

KISAH Luka dan Sita adalah kisah sepertemuan tentang orang-orang yang menjalani kesempitan dan kelapangan dengan sama baiknya. Yang mengatasi kesenangan dan kesusahan dengan sama apiknya. Yang senantiasa berusaha berpikiran baik terhadap jalan hidup yang paling tidak masuk akal sekali pun. Meski, tentu saja tidak semudah, dan seperti yang diharapkan.

Aku dapat menyimpulkan ini, karena setelah sekian lama berpisah dengannya, dan nasib terus mempertemukan kami kembali dalam keadaan seperti dulu, persis ketika kami masih sama-sama seorang diri, Luka, nyaris tidak berbeda sudut pandangnya dalam memandang hidup. Malah, mungkin menurutku, semakin cenderung matang, meski belum bijak benar. Sebagaimana perjalanan waktu yang memang dan seolah serta sepatutnya memaksa, dan membuat seseorang untuk menjadi lebih baik.

Kesendirianku, sebagaimana kesendirian Luka memang bukan tanpa sebab dan maksud. Kami meyakini, ada banyak hal dibelakang itu semua, salah satunya adalah garis nasib yang memang menakdirkan kami sendirian dengan segala konsekuensinya. Siap atau tidak siap, terima atau tidak terima kami harus bisa menerimanya. Syukur-syukur mampu mewarnainya, apalagi memberi makna dan merayakannya.

Ya, bahkan terkadang Luka berkata padaku mungkin dianya saja yang tidak terlalu pandai membaca bahasa Tuhan lewat anugerah kesendirian yang dilimpahkan padanya. Dia merasa tidak terlalu mampu menangkap simbol-simbol, dan makna-makna kesepian dan kesendirian yang berbicara kepadanya. Tuhan terlalu super cerdas dan super jenius buatnya, sehingga ia tidak dapat menangkap maksud kesendirian dan kesepian yang disapa dan sajikan kepadanya. ‘’Seandainya Tuhan berbicara lewat bahasa yang lebih sederhana dan bisa dapat aku terima, mungkin lain ceritanya. Atau akunya saja yang terlalu bebal dan tumpul hati, sehingga tak dapat membaca rahasia-rahasianya-Nya,’’ katanya padaku suatu malam, ketika kami merenungi kesendirian setelah ditinggal pergi orang-orang yang kami cintai.

Luka dan Sita akhirnya memang berpisah, sebagaimana aku dan Bianca. Hanya bedanya, atas nama kesadaran, Luka dan Sita memisahkan diri. Jadi, tidak ada yang memaksanya. Sedangkan dalam kasusku, kematian bermahadaya. Kesadaran takluk oleh kesewenangan-Nya.

Inilah senukil perjalanan Luka dan Sita menjelang waktu perpisahannya.

III. Photo.

Jakarta, 21.00 WIB, dan waktu terus berjalan.

DALAM kungkungan musim hujan yang sedang meraja, Luka seorang diri di rumah kontrakannya yang tidak seberapa luas, menekuni setiap photo yang terpampang di ruang tamu. Di luar hujan deras masih digdaya, padahal malam merambat semakin tua.

Dengan tenang, Luka takzim dan hanif menatap setiap photo yang terpampang di dinding rumah sederhananya. Photo yang ia tatap tak lain adalah photo masa-masa bahagia dengan istri terkasihnya; Sita. Dengan raut muka yang datar, dingin dan nyaris tanpa emosi Luka masih dengan tenang memandang semua photo yang terpampang di dinding, maupun terpacak di atas meja. Hingga akhirnya ia meraih handphone yang tersaku di celananya.

Setelah berbicara dengan seseorang di seberang sana, Luka memutuskan hengkang dari rumah kontrakannya, pergi entah ke mana, menantang derasnya hujan di luar sana dengan mobilnya.

Pada waktu dan saat yang bersamaan, namun di tempat yang berbeda, Sita sedang menekuri meja kerjanya yang rapi. Di pojok dan di sisi bibir mejanya, bersebelahan dengan seuntai kuntum mawar putih yang menjuntai dari dalam gelas kaca berisi air, terpacak photo sosok dirinya dengan suami terkasihnya, Luka. Dengan pandangan yang hampa, kosong, dan suwung ia menebar mata keseluruh meja kerja. Sembari sesekali menyeruput minuman hangat yang tercangkir di genggamannya.. Sebelum pada akhirnya ia melakukan aktifitas yang lumayan berarti dengan memencet tuts hp-nya.

Pada waktu dan saat yang bersamaan, namun di tempat yang berbeda pula, Gavin Harris, sedang asyik di teras rumahnya yang rindang, sesak dengan berbagai jenis tetumbuhan dan kembang.

Gavin, pemuda yang masih berusia 24-25 tahun itu, adalah pencinta flora dan kembang. Parasnya tampan, tenang dan matang, sematang tetumbuhan dan kembang yang mekar di hadapannya. Gavin, sebagaimana cerita Luka padaku, tidak sebagaimana pemuda kebanyakan yang cenderung sibuk dengan dirinya sendiri. Yang satu ini, sudah pandai menata hati, dan cenderung usai berperkara dengan dirinya sendiri.

Gavin yang sedang merapikan daun kering di sekitar tetumbuhan yang kembang, seketika dikejutkan oleh getar telpon genggam di sakunya. Ia berbicara dengan seseorang di seberang sana, sebelum pada akhirnya memutuskan menyudahi kesibukannya, masuk ke dalam rumah, berbenah, meraih kunci mobil dan pergi entah ke mana.

Sita, yang masih berada di ruang kerjanya, sebuah kantor asuransi mobil ternama dengan jaringan di mana-mana, pada saat yang bersamaan pula telah mengangkat telpon yang dari tadi di pencet-pencetnya. Tampaknya Sita juga sedang berbicara dengan seseorang di seberang sana. Sebelum pada akhirnya ia berpekik, ‘’JANGAN...!!!’’. Dan menyegera bergegas beranjak dari meja kerjanya. Sebelumnya, dalam hitungan gesa, Sita masih sempat merapikan berbagai piranti miliknya untuk dikemas dalam tas jinjing. Saking tergesanya ia, gelagatnya tak keruan, tak beraturan dan akibatnya ia malah lalai dengan kunci mobilnya….., yang menyelinap di sesela serakan buku di bibir meja kerjanya…Sita telah pergi dari meja kerjanya. Entah hendak menyongsong apa, SEMBURAT!

Malang, setelah sampai di tempat parkir dengan nafas satu dua, tersengal sengal, dan telah menjumpai mobilnya. Ketika hendak membuka pintu mobil…, kunci tidak tertemukan di tas jinjingnya…;’’ Ah……,’’ lenguh Sita. Tanpa berpikir panjang, ia tingggalkan mobil, bersijingkat dari tempat parkir, dan bersegera menuju ke pinggir jalan raya, mengabaikan sekuriti yang menyapanya, mengabaikan tikaman hujan, mencegat taksi yang lewat.

Kini, ketiga anak manusia itu; Luka, Gavin, dan Sita telah berada di jalan raya kota Jakarta, di guyur derasnya hujan dalam dekapan malam yang merambat tua. Dalam waktu yang sama, di tiga tempat yang berbeda.

Jika Luka dan sebagaimana Gavin cenderung mampu memanajemen emosinya, yang nampak dari ketenangan paras mereka berdua. Tidak demikian dengan Sita. Istri Luka ini parasnya menceritakan banyak persoalan. Mencitrakan kegundahan sekaligus kesepian, tipikal persoalan orang-orang kota. Di dalam taksi yang rawan tindak kejahatan, kegelisahan Sita bercampur aduk dengan banyak perkara yang bersemayan di kepalanya. Ia entah menuju ke mana? Hanya dari bibirnya yang ranum, Sita memberikan sebuah kalimat yang tampaknya sudah sangat dimengerti oleh supir taksi yang paruh baya. Paras Sita panik!


IV. Pertemuan; Luka dan Gavin.

Jakarta, 22.00 WIB, dan waktu terus berjalan.

DI sebuah pelataran parkir gedung BNI 46, Jalan Sudirman Jakarta Pusat, mobil Luka tampak telah menyusuri selasar parkir di salah sebuah gedung pencabik langit Jakarta itu. Setelah prosesi memarkir, mematikan mesin, mematikan tape yang memutar tembang ‘’Another Brick In The Wall (Part 3)’’ dari album Pink Floyd: Rogers Water ‘’The Pross and Cons of Hitch Hiking’’. Kemudian membuka pintu, menutup pintu, mengunci, dan berjalan menuju lift, dan menyongsong tempat yang telah ditentukan, Luka yang tenang telah sampai di kafe yang ditetapkan; di lantai 46, BNI 46, Jakarta.

Tidak berapa lama setelah Luka menempatkan diri di sebuah meja bagi dua orang, Gavin, laki-laki yang tampaknya dari tadi telah berhubungan dengannya via phone, telah memasuki dan menyusuri pelataran parkir yang sama. Setelah prosesi memarkir, mematikan mesin, mematikan tape yang memutar komposisi ‘’Jesu, Joy of Man’s Desiring’’, dari Cantata No. 147, Herz und Mund und Tat und Leben, dari album ‘’Greatest Hits Johann Sebastian Bach’’. Kemudian membuka pintu, menutup pintu, mengunci pintu dan berjalan menuju tempat yang telah ditentukan, Gavin yang yakin, pelan dan pasti telah berada di dalam lift, memencet angka 46.

Dalam waktu yang sama, Sita yang masih menimbun kepanikan pun telah memasuki dan menyusuri lobi sebuah perkantoran. Setelah prosesi membayar taksi sebanyak rupiah yang tertera di argo, membuka, dan membanting pintu, Sita turun dan menyegera menuju ke tempat café yang berada di dalam gedung perkantoran itu. Masih dengan kepanikan yang semakin nyata Sita telah songsong di sebuah café. Nihil, ia tidak menjumpai orang yang dicari. Setelah menyelidik ke seluruh ruangan, Sita tetap tidak menemui apa yang dicari. Maka, bersegeralah ia menyambar hp-nya mencoba menghubungi seseorang di luar sana. Gagal, dia tidak berhasil menghubungi orang di seberang sana.

Sementara itu, Luka yang telah rapi di tempat duduknya, mulai asyik dengan telpon genggamnya. Di seberang sana, seseorang yang kemudian teridentifikasi sebagai Gavin mengangkat hp-nya . Luka bangkit dari duduk, mengangkat tangan kirinya, dan pemuda di seberang sana, Gavin yang celingukan, membalas mengangkat tangan kanannya, dan menyegera menghampiri meja Luka. Setelah keduanya saling bersitatap beberapa jenak, dan tanpa jabat tangan, Luka mempersilakan Gavin duduk pada tempatnya. Kemudian Luka berinisiatif memanggil seorang waitres untuk memesan minuman. Setelah waitres datang menghampiri, dan usai melayani pesanan Luka, ia bergeser ke arah Gavin. Tak berapa lama kemudian akhirnya waitres beranjak pergi.

Selama menunggu datangnya pesanan minuman, baik Luka dan Gavin, masing-masing bersetia dengan aduan matanya. Tanpa kata tanpa rasa. Dari sini kita seolah melihat pemandangan yang janggal, dilihat dari sudut pandang manapun. Dua orang yang belum saling kenal dan belum pernah bertatap muka, untuk kali pertama bersua. Yang terjadi adalah kecanggungan yang maha luar biasa.

Hingga akhirnya waitres datang juga dengan pesanan masing-masing. Luka dengan secangkir teh tawar mint pahit dan segelas bir hitam kegemarannya. Gavin, dua gelas es lemon tea kesukaannya.

Selama prosesi waitres menyajikan pesanan di atas meja mereka berdua; baik Luka maupun Gavin, masih tidak menyediakan satu kedip pun untuk menghiasi ketegangan diantara mata mereka. Luka dan Gavin masih saja mengadu pandangannya. Tidak mendulikan, dan mengabaikan waitres yang melayani pesanan mereka. Hingga Luka membuka kata, dan menyilakan….

‘’Silakan diminum’’.

‘’Makasih,’’ ujar Gavin.

Setelah keduanya masih saja saling bersitatap. Luka mengambil gerak untuk mematikan hp-nya. Mengetahui Luka mematikan hp, Gavin pun melakukan hal yang serupa.

Masih dalam waktu yang sama, namun dalam lingkup tempat yang berbeda, Sita bersegera hengkang dari tempatnya semula, dan kembali ke jalan raya, mencegat taksi berikutnya. Masuk ke dalam taksi, membanting pintu, dan memencet-mencet hp-nya. Kesal, tidak ada respon dari hp yang ditujunya, Sita memutuskan pergi entah ke mana lagi, tergesa nuju ke gedung lainnya.

Luka yang masih bersemeja dengan Gavin, dengan ketenangan yang terlahir dari kedewasaan mereka masing-masing, mulai membuka kesempatan untuk dualog. Dua laki-laki usia 29 dan 25 tahun itu, mulai berbicara dengan datar, tenang, dan dingin, seolah karib yang telah lama tidak bersua. Penuh kehangatan. Meski ihwal yang dimusyawarahkan berkeniscayaan menyalakan api amarah diantaranya.

Setelah menyeruput teh mint pahit kegemarannya, Luka dengan datar membuka kata, ‘’Manusia macam apa sebenarnya dirimu! Merendahkan martabat laki-laki dengan mengobrak-abrik bahtera rumah tanggaku. Sebelum pada akhirnya, dengan penuh muslihat, kaucuri istriku dari rumahku’’.

Gavin diam saja, parasnya belum berubah. Luka pun meneruskan deretan kata demi katanya dengan emosi yang masih tertata rapi. ‘’Tidak adakah jalan hidupmu yang lebih baik, selain kau isi dengan perkara yang memalukan ini?’’ imbuh Luka.

‘’Sejak semula aku tidak memercayai diriku sendiri, kalau hubunganmu dengan istriku telah berjalan sekian lama. Namun, sejak saat ini. Mulai detik ini. Dengan segala kebaikan dan kesabaran. Sebagai sesama laki-laki; aku minta kau menyudahi hubungan diluar kepatutan ini’’. Lega memberondongkan kalimat yang menghimpit keteganganya yang lama di simpan rapi, Luka menarik nafas dalam dan panjang. Gavin belum bereaksi apa-apa.

‘’Kalau boleh tahu,’’ sambung Luka sembari merapikan duduknya. ‘’Muslihat apakah yang kaugunakan, sampai istriku seolah dengan segala kesertamertaan, dan seakan penuh kerelaan, berpaling dariku ke pelukan seorang laki-laki macam dirimu. Atau tidakkah kau malu pada diri sendiri, bahwa tindakanmu ini…,’’ Luka tidak melanjutkan kalimat panjangnya. Sebelum pada akhirnya ia, untuk kali kedua menarik nafas panjang, dan mulai kembali meneruskan, ‘’Tidakkah dapat kaurasakan kepedihan hati ini, ditelikung seorang istri yang teramat sangat disayanginya, atas nama sebuah perselingkuhan ?!’’

Gavin meraih lemon tea-nya meneguk dengan tanpa melepaskan pandang mata ke lawan bicaranya. Luka kembali kepangkal pembicaraannya. ‘’Bukankah kau juga laki-laki?! Tidak pernahkah kaurasakan keperihan dikhianati orang yang kau kasihi?! Atau tidakkah tersirat dalam benakmu, pada saatnya, belahan jiwaku ini, akan berkhianat untuk kali kedua, demi sekeping cinta atau apa pun namanya? Begitu ia tidak dapat merasakan cinta, atau menemukan kenyamanan asmara dipelukanmu’’.

Gavin masih diam juga.

Diam-diam Luka mulai tampak kemasygulannya. Dia mulai menarik nafas panjang untuk kali ketiga, sebelum pada akhirnya berbicara dengan dirinya sendiri, lirih…lirih sekali, nyaris tak terdengar, sembari sedikit menundukkan kepala dan memejamkan mata…

‘’Duhai istriku, jangan pernah kauulang khianatmu kepada siapa pun. Tidak juga pada seekor anjing, bahkan demi seluas surga sekalipun’’. Usai menarasikan sumpah dalam lirihnya, Luka mendongakkan kepala, membuka mata, dan mengarahkan pandangannya ke arah Gavin. Tajam pandangannya. Setajam pisau yang hendak bertandang ke urat nadi yang merindukannya. Kali ini tajam pandangannya penuh kebencian. Sembari terus bertutur datar, namun penuh muatan kedalaman, Luka meneruskan pembicaraannya sembari menggerutu.

‘’Enyahlah… kalian berdua dengan kutukanku!’’

Seketika, tanpa sebuah kesengajaan, secara reflek, tangan kiri Luka menyenggol gelas kaca teh mint pahitnya. Yang mengakibatkan tergelincirnya gelas ke bibir meja. Ketika gelas berada diambang kejatuhannya akibat gravitasi bumi. Baik Luka maupun Gavin malah saling mengadu mata, saling menajamkam pandanganya. Tidak menghiraukan gelas yang pelan dan pasti akhirnya memang terjatuh ke lantai café. Pecah. Kejatuhan gelas menimbulkan denting gelegar, mengagetkan telinga siapa pun di sekitarnya. Yang kebetulan café itu bernuansa hening dengan iringan sebuah musik kalem yang mendayu

Paras Luka membatu, paras Gavin membisu. Hanya tatapan yang saling mengadu. Kalimat mati, amarah siap saling menuba, kebencian siap saling menghamba.

Sementara itu, di sebuah pelataran jalan lobby hotel berbintang, Sita untuk kali kedua menyegera membayar sejumlah rupiah kepada supir taksi sebagaimana angka yang tertera di argo. Kali ini tidak mendulikan sisa kembaliannya. Secepat mungkin Sita bersijingkat meningalkan kabin taksi, dan kali ini membiarkan pintunya terbuka. Sita menyasar ke arah café hotel berbintang itu dengan langkah seribu. Saking cepatnya ia berjalan dengan sedikit berlari, badannya beberapa kali bersinggungan dengan orang-orang yang lalu lalang di tempat itu.

Namun, apa daya. Setelah sampai tempat yang dimaksud. Untuk kali kedua, di sebuah café yang meriah, ia tidak menemukan yang dicari, setelah mata dan kakinya tentu saja menyelidik ke seluruh pojok ruangan. Nihil .

Lagi-lagi, dengan langkah tergesa, Sita pun cepat berkeputusan meningalkan café, dan kembali ke jalan raya, dengan kembali mempercepat langkahnya. Setelah sebelumnya, lagi-lagi ia gagal menghubungi seseorang di seberang sana.

Selanjutnya, di depan lobby hotel berbintang yang terletak di bilangan Senayan, Sita kembali mencegat taksi, membuka pintu, masuk ke dalam kabin, dan membanting pintu setelah berada di dalamnya.

Sementara Luka dan Gavin masih saling meradang. Masih dalam keadaan sedia kala. Hingga tiba-tiba, akhirnya, Gavin membuka kata dengan datar.

‘’Tidak adakah tindakan yang lebih bersahaja dari seorang laki-laki dewasa seperti Anda, selain menceracau dan mengumbar rasa belaka, seperti seorang pemuda baru bercerai dari pasangannya? Tidak adakah perkara yang lebih menyita perhatian Anda selain masalah; wa-ni-ta?’’

Gila. Sindiran Gavin membuat Luka yang hampir kuasa mengatasi dirinya, makin tajam menombakkan pandang ke arah ‘’musuh besarnya,’’ yang sekarang memang benar-benar jelma tepat di depan ke dua biji matanya. Paras Luka menegang. Gavin hanya sekitar satu lengan di depannya. Dan yang lebih membuat Luka tersentak kaget, pilihan kata yang diucapkan Gavin nyaris persis dengan dialok cerpen Arok yang dibuatnya, beberapa tahun lalu. Yang salah satunya diberikan padaku.

Pada saat ini, waitres sedang membereskan pecahan kaca. Mengetahui keberadaan orang lain di luar mereka berdua, Gavin belajar berlaku sok gentleman kepada waitres.

‘’Maaf. Saya yang menjatuhkannya.’’ Waitres hanya memulas senyum. Kemudian, Gavin meneruskan pembicaraannya kepada Luka.

‘’Aku memang menjalin hubungan yang istimewa. Bahkan sangat istimewa dengan istrimu. Itu semua aku lakukan atau kami lakukan bukan tanpa sebuah alasan. Aku bahagia bersama istrimu, dan aku rasa demikian pula dengan istrimu. Kalau kebahagian itu adalah sebuah kesalahan fatal di matamu. Maafkan aku. Buatku itu bukan sebuah kesalahan, melainkan ke-be-nar-an,’’ ujar Gavin yang mulai memberanikan diri mengganti kata ganti orang pertama Anda menjadi mu.

‘’Tidak bisakah kau mencari kebenaran dan kebahagiaan dengan perempuan lain yang belum mempunyai seorang suami!?’’ balas Luka dengan cepat, secepat syakwasangka purba dilesakkan.

‘’Aku tidak tahu. Semua terjadi dengan alami saja. Maafkan aku jika terlalu dalam mengusik kehormatanmu sebagai seorang suami. Tapi, sebagai seorang laki-laki, aku merasa tidak ada yang keliru dengan apa yang aku rasakan dengan istrimu’’.

‘’Apa yang akan kau lakukan jika pada saatnya istriku. Atau perempuan yang kau anggap dapat membahagiakanmu ini, diam-diam, sebagaimana yang telah ia lakukan padaku, suaminya sendiri, menjalin hubungan dengan laki-laki lain dibelakangmu?’’

‘’Pertanyaan itu tidak akan pernah pantas kau tujukan padaku, seharusnya kau tanyakan pada dirimu sendiri. Karena hal yang demikian tidak akan pernah terjadi padaku.’’

‘’Kau tidak akan pernah bisa menebak apa yang akan dibawa masa depan kepadamu’’.

‘’Seharusnya kau berkaca pada dirimu sendiri, mengapa pada akhirnya istrimu memalingkan hati ke orang lain, yang kebetulan itu aku’’.

‘’Kau sedang berhadapan dengan laki-laki di atas rata-rata. Dan perempuan yang mencoba, dan telah mengkhianati hatiku ini lebih tidak terduga. Di atas itu semua, ia tidak akan pernah dapat kau baca dengan berbagai macam cara akal pintar dan sehatmu bekerja’’.

‘’Apa yang kau inginkan dari perbincangan ini. Sebuah peringatan berbentuk ancaman?’’

Luka menggelengkan kepala dengan pelan, ‘’Aku memang telah terlanjur dalam, dan sakit hati dengan istriku. Aku pun…, entahlah’’, untuk kali keempat Luka menarik nafas panjang lagi. ‘‘Tiba-tiba atau terkadang…, sudah tidak berniat lagi mempertahankan, apalagi mengemiskan perasaan ini.

‘’Aku mungkin akan membiarkan dia pergi dengan laki-laki mana pun. Yang sekiranya ia klaim mampu membuat hidupnya lebih bermakna. Tapi, di saat yang bersamaan, aku sendiri tidak tahu mengapa ingin menumpahkan kemarahan ke arahmu?’’

‘’Maaf,’’ jawab Gavin mewakilkan kebingungannya, ‘’Di awal perbincangan, kau menghendaki aku menyudahi hubunganku dengan istrimu. Sekarang…..?’’ Gavin hanya mengangkat kedua pundaknya, tanda ketidaktahuan. ‘’Semudah itukah?’’

‘’Aku nggak ngerti. Mungkin aku sudah terlalu nggak ngerti lagi dengan apa yang telah istriku lakukan padaku. Dan payahnya, mungkin aku bahkan sudah nggak berminat lagi. Mungkin…, kehadiranku baginya, atau kehadirannya buatku, mungkin…, sama-sama telah menciptakan sebuah prahara’’

‘’Bahkan sebelum aku ada bukan?’’

‘’Aku tidak peduli lagi….’’

‘’Kalau kau anggap kemarahanmu dapat memperbaiki keadaan. Dan dengan demikian kau menjadi lega karenanya…,aku siap menerima, dan melayaninya. Aku pun mungkin akan melakukan hal yang sama sepertimu, atau bahkan lebih gila dan tidak terkendali, manakala mengetahui perempuan yang aku sayangi telah memalingkan perasaannya ke orang lain’’

‘’Apa yang akan kau lakukan jika itu benar-benar terjadi padamu…’’

‘’Aku tidak mempunyai keberanian untuk menjawabnya, meski hanya mengandaikannya sekalipun’’.

‘’Jika akhirnya memang benar-benar terjadi padamu. Dengan alasan yang sangat sehat, dan paling masuk akal sekali pun?’’

‘’Yang tidak mencicipi tidak merasakan’’.

‘’Jika keadaan memaksamu untuk mencicipinya?’’

‘’Itu tidak akan pernah terjadi padaku. Karena aku memperlakukan perempuan bahkan lebih baik dari caraku memperlakukan diriku sendiri’’.

‘’Kau naïf’’.

‘’Nyatanya istrimu berbahagia denganku’’.

Seketika, dalam hitungan sepersekian detik, secara reflek Luka mengayunkan pukulan tangan kanannya ke wajah Gavin. Saking cepatnya ayunan itu, Gavin tak mempunyai kesempatan untuk menghindarinya. Bogem itu telak mendarat di rahang sebelah kirinya. Gavin terjengkang! Terpelanting dari kursi, membawa serta gelas yang ada di depannya, tumpah, pecah berserakan. Darah bercucuran dari mulut Gavin.

Gavin masih dalam keaadaan terjerembab di lantai. Tiba-tiba. Dalam hitungan sepersekian detik pula, kejadian tadi berputar terbalik dengan sangat super cepat ke keadaan semula. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Gavin masih duduk bersemeja dengan Luka. Dalam keadaan yang masih sangat baik-baik saja, tidak kurang suatu apa pun. Segar bugar. Memang, tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka berdua. Semua kejadian terpelantingnya Gavin akibat bogem Luka hanya ada digambaran dan benakku, – andai aku mengandaikan duduk disisinya, sebagai makhluk kebanyakan tentu saja.

Mereka baik-baik saja. Masih sangat baik-baik saja.

‘’Kau ingin mengatakan kalau aku tidak cukup baik memperlakukan istriku dengan segala kemanusiaanku? Sehingga dengan demikian dia absyah berpaling dariku kepadamu, atau siapapun orang itu?,’’ sela Luka.

‘’Kau sendiri yang menyimpulkan’’.

‘’Kau keliru,’’ ujar Luka sembari meraih sebungkus rokok kretek yang tergeletak di atas meja. Membukanya secara perlahan, dan menawarkan kepada Gavin. Gavin hanya menundukkan kepala tanda penolakan yang santun. Melihat Gavin menampik tawarannya, Luka memutuskan mengurungkan niatnya untuk merokok. ‘’Aku bahkan telah secara tumpah menyayanginya…., dan untuk itulah aku tidak habis mengerti mengapa hal semacam ini masih terjadi’’.

‘’Mungkin dia tidak hanya sekedar membutuhkan cinta yang tumpah. Apapun itu, ia tidak menemukan lagi sesuatu di dirimu. Ini memang menyakitkan, aku juga dapat membayangkan, dan merasakan itu. Aku turut prihatin hal ini menimpa padamu’’.

‘’Kau berbicara seperti seorang guru. Aku tidak membutuhkan simpati darimu. Jangan terlalu naïf dengan keadaan yang seolah berpihak di sisimu’’.

‘’Maafkan aku’’.

‘’Jangan juga pernah meminta maaf padaku. Tenang saja. Aku hanya berusaha menemukan segala muara persoalan yang menimpa rumah tanggaku,’’ jawab Luka dengan cepat.

‘’Dan itu melibatkan aku?’’

‘’Mungkin ya, mungkin tidak’’

‘’Jika muara itu sudah ditemukan. Apa yang akan kau lakukan?’’

‘’Entahlah’’

‘’Apa yang akan kau lakukan pada istrimu atau aku, kalau semua masalah itu memang bermuara dari istrimu atau aku’’.

‘’Aku belum tahu persis’’

‘’Kau akan menghabisi riwayat istrimu? Demikian pula dengan riwayatku?’

Luka diam beberapa jenak, menatap Gavin, dan meneruskan pembicaraannya dengan suara yang datar.

‘’Aku tidak sebodoh itu. Atau paling tidak aku tidak akan berbuat senista yang pernah kalian berdua lakukan dibelakangku’’.

‘’Nista dimatamu? Tapi tidak buat istrimu dan aku’’.

‘’Ada kosakata lain yang lebih patut disandangkan kepada seorang istri yang telah berbuat curang dibelakang punggung suaminya? Ada diksional lain yang lebih pantas disematkan kepada seorang lelaki yang menjalin hubungan gelap dengan istri orang lain?’’ pangkas Luka dengan intonasi agak meninggi, dan cepat.

‘’Kami saling mencintai’’.

‘’Ah, kalian seperti anak muda yang baru kenal cinta rupanya’’.

‘’Itu yang kami rasakan’’.

‘’Olala……..,’’ desah Luka sembari membuang muka, dan membebaskan nafas. Setelah jeda beberapa lama. Mata Luka kembali memandang ke arah mata Gavin. ‘’Sebenarnya aku malu membicarakan ini,’’ katanya melanjutkan.

‘’Apakah akan mengubah keadaan setelah perbincangan kita usai? Apakah keadaan akan menjadi lebih baik setelah apa yang kita bicarakan? Apakah dengan demikian istrimu akan kembali kepangkuanmu, dengan sepenuh kasihnya, setelah pembicaraan ini’’ jawab Gavin sekenanya. ‘’Dan apakah aku dengan lapang hati akan meninggalkan begitu saja segala yang pernah aku lalui dengan istrimu. Atau seolah dengan mudah pula kau melupakan begitu saja apa yang telah terjadi dengan rumah tanggamu. Sesederhana itukah?,’’ imbuhnya penuh tanya.

‘’Tidak akan pernah ada yang sederhana dalam hidup ini’’

‘’Lantas, point dari perbincangan ini?’’

‘’Akan ketemu dengan sendirinya, jika kau sudi secara jujur bercerita tentang apa yang telah kau lewatkan bersama istriku. Atau paling tidak, kita berbicara layaknya orang dewasa saja. No heart feeling’’

‘’Bagaimana mungkin aku dapat mepercayaimu, sementara ini adalah kali pertama aku bersitatap denganmu. Bagaimana aku dapat meyakini apa yang kau katakan, jika istrimu sendiri sudah tidak mempercayakan hatinya padamu’’.

‘’Inilah yang tidak pernah dapat aku mengerti. Apalagi sekarang, seorang laki-laki muda dimana istriku melabuhkan segala hatinya tepat berada di depanku. Berbicara seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Malah menasehatiku, dan aku masih saja berlagak tenang menjinakkan segala amarah hanya untuk menegakkan sebuah musyawarah. Alangkah indahnya bukan…..’’

‘’Aku juga semakin bingung dengan keadaanmu. Apakah aku harus turut sedih atau malah gembira. Namun, jangan desak aku untuk memberikan sebuah pengakuan, bahwa apa yang aku lakukan selama ini dengan istrimu adalah sebuah kesalahan, apalagi kefatalan.

Sekedar kau tahu. Di awal hubunganku dengan istrimu, aku hanya memandangnya sebagai seorang perempuan yang pantas, dan layak sekali untuk dijatuh cintai. Itu saja. Tidak lebih. Kalau pada saatnya ia menyambut apa yang kurasakan, dan setelah itu aku baru tahu ia telah menjadi istri dari seorang suami. Itu semua di luar kekuasaanku, atau kekuasaan istrimu. Jadi, kalau kau mau merunut-runut dimana kesalahannya….., aku tidak tahu dari mana dan bagaimana harus menjawabnya.’’

‘’Baiklah, kalau kau keberatan dengan pembicaraan yang berpangkal pada siapa yang menyalahi siapa? Kita berbicara secara lepas saja. Aku bertanya kau menjawab. Atau sebaliknya. Atau apa pun lah bentuknya. Atau tidak perlu kita pagari batasan pembicaraan ini. Kita berbicara sebagai sorang manusia saja. Kalau kau ingin meninggikan suara ke arahku, bahkan berpekik sekalipun. Aku akan belajar menerimanya. Demikian pula sebaliknya, aku akan berusaha masuk akal dengan segala argumenmu.’’

‘’Ini bukan masalah argumentasi. Tapi lebih dalam dari itu. Ini menyangkut masalah yang lebih pelik dari yang kau bayangkan’’.

‘’Nah, kau mulai dapat menyimpulkannya sekarang. Ya, ini adalah masalah yang lebih pelik dari yang aku bayangkan,’’ ujar Luka dengan cepat, ‘’Aku mulai suka denganmu. Untuk itulah aku berbicara denganmu’’.

‘’Kau kira mudah bagiku, memberanikan diri mengambil keputusan untuk menjalin hubungan dengan seorang perempuan untuk dicintai, dan ia berstatus sebagai istri dari seorang suami?’’

‘’Dan kau kira menjadi lebih mudah bagiku menerima keadaan ini?’’

‘’Dan apakah kau kira pula akan menjadi lebih mudah juga bagi istrimu menjalin hubungan denganku, sementara ia masih berstatus menjadi istrimu? Tidak pernahkah terlintas dalam benakmu, kenapa istrimu yang kau cintai itu sampai hati, dan memberanikan diri memalingkan perasaannya darimu? Tidak pernahkah kau…., barang sejenak berkaca kenapa keadaan ini sampai menimpa rumah tanggamu?’’

‘’Aha, sekarang laki-laki yang menjalin hubungan dengan istriku malah menasehatiku dengan kebajikan kemarin sorenya. Ola la…’’

‘’Aku memang lebih muda darimu. Tapi kematangan, dan kelapangan tidak ditentukan dari berapa panjang usia seseorang’’.

Mendengar jawaban Gavin, Luka hanya menarik nafas dalam, sembari menggerak-gerakkan jari kelingking sebelah kirinya ke arah Luka. ‘’Kau sekarang berbicara seperti Oprah Winfrey. Tapi aku suka kamu. Aku mulai suka kamu. Mungkin ini yang membuat istriku jatuh hati padamu. Kau mempunyai kelapangan hati dikebeliaanmu. Bahkan pada saat seusiamu, aku belum sematang itu. Aku suka kamu. Sumpah, aku mulai suka kamu. Kau bahkan mempunyai keberanian mengemukakan apa yang kau rasakan, ketika semua orang cenderung takut mengutarakan apa yang mereka rasakan. Aku suka kamu, …….’’

‘’Kau meledekku. Aku sekarang bahkan berpikir, bagaimana mungkin seorang laki-laki sedewasa ini masih saja ditinggal pergi oleh istrinya. Pasti ada sesuatu yang belum diceritakan oleh istrimu kepadaku, atau yang belum kau ceritakan perihal istrimu kepadaku. Atau ada sesuatu yang belum aku ketahui. Ada permainan apa dibalik semua ini?’’

Luka hanya menunduk-nundukkan kepala dan sedikit membungkukkan badannya, tanda bersepakat atau kagum dengan apa yang barusan disimaknya, ‘’Untuk itulah kita berbicara kawan…Untuk itulah kita berbicara….’’

‘’Jangan panggil aku kawan. Sementara pada saat bersamaan mungkin saja ada sebuah muslihat yang telah kau siapkan untuk menelikungku?’’

Lagi-lagi, Seperti biasa Luka hanya menggerakkan ke kiri ke kanan jari kelingking sebelah kirinya. ‘’Tenang Bung…, kita akan terus berbicara layaknya orang dewasa. Kita akan berbicara dengan sangat baik, dan baik sekali. Tidak akan pernah ada darah yang tumpah. Tidak juga air mata. Karena kita, semoga, menemukan sebuah jawab yang kita cari.’’

‘’Kau berbicara seperti ayahku. Persis dengan segala keomongkosongannya.’’

‘’Tapi kita akan terus berbicara, bukan?’’ jawab Luka dengan senyum kecutnya.

‘’Ya, kita akan terus berbicara. Apa yang harus aku takutkan.…’’

Untuk mendinginkan suasana, Luka mengambil inisiatif menyilakan Gavin untuk menikmati minumannya. Bahkan menawarkan minuman lain, yang mungkin ingin dia tambahkan. ‘’Atau barangkali kau ingin makan sesuatu?’’

‘’Aku makan jika aku ingin. Tenang saja’’

‘’Itu lebih baik’’

Seketika, seorang waitres yang kebetulan perempuan datang menghampiri meja mereka.

‘’Maaf pak. Sekarang sudah pukul 12 malam. Sebentar lagi café musti tutup. Apakah ada minuman yang akan ditambahkan atau…..’’

‘’Bukankah harusnya bisa lebih pagi tutupnya,’’ jawab Luka seperti tidak terima pembicaraannya yang belum usai diinterupsi.

‘’Itu hanya berlaku pada akhir pekan Pak?,’’ tukas waitres.

‘’Baiklah, kalu begitu. Kami rasa cukup untuk malam ini. Tolong disiapkan bonnya. Terima kasih.’’

‘’Baik pak’’.

‘’Bisa kita lanjutkan pembicaraan ini di tempat lain kan? Aku harap kau tidak keberatan,’’ tanya Luka kepada Gavin.

‘’Baik,’’ jawab Gavin dengan anggukan kepala tanda sepakat, ‘’Biar aku yang bayar’’

Melihat Gavin hendak mengeluarkan dompetnya, Luka bersegera mengangkat telapak tangan kirinya dari meja, tanda; biar aku saja yang beresi. Setelah lagi-lagi saling bersitatap beberapa lama. Luka beranjak dari duduknya, sembari mengeluarkan dua lembar ratusan ribu rupiah yang segera ia tinggalkan begitu saja di atas meja. Gavin juga beranjak dari duduknya. Merapikan pakaian dan mereka berdua berjalan beriring menuju pintu keluar café menuju lift.

Di dalam lift yang hanya terisi oleh mereka berdua, baik Luka maupun Gavin mengunci rapat mulutnya. Namun, dibenak Luka berkelebatan masa-masa bahagia dengan istrinya. Masa-masa ketika Luka dan Sita sedang berjoging sembari bercanda di tepian pantai Anyer. Sesekali Sita melompat ke punggung suaminya. Dan Luka dengan riang penuh kegirangan membopongnya sembari tetap berlari kecil.

Pada saat kenangan Luka sedang indah-indahnya, pada moment ini, Sita juga telah sampai di tempat dimana Luka dan Gavin berada. Namun, dalam sebuah jenak, mereka tersilap di pintu lift. Luka dan Gavin hendak keluar lift di lantai satu, sedangkan Sita baru saja masuk dari pintu lift lantai satu nuju lantai 46 BNI.

Dengan demikian untuk kali ketiga Sita yang super cemas, bakal nihil menemukan keduanya.

Sampai-tiba-tiba, Gavin membangunkan kesadaran Luka.

‘’Kita telah sampai di lantai dasar. Kau punya rekomendasi dimana kita melanjutkan ini semua?’’

Luka yang sempat tersentak kaget, segera merespon, ‘’Kita bisa makan dulu di Menteng. Dari sana kita akan berpikir lagi ke mana selajutnya’’.

Kemudian mereka menuju mobilnya masing-masing, dan melaju menuju pusat pertokoan Menteng. Di dalam mobil, lagi-lagi Luka kembali mengenangkan masa-masa bahagia dengan istrinya. Sementara Gavin membuntuti mobil Luka yang telah menuntunnya hingga Menteng. Oh, simpulnya, kutukan cerpen dan naskah teater ‘’Arok’’ rupanya sedang menghinggapinya.

Di sebuah warung kaki lima di pojok Menteng, Luka asyik ngobrol dan makan bersama Sita, istri terkasihnya.. Sesekali mereka berdua saling memulas senyum. Biasa saja, sahaja tapi takzim. Sebelum pada akhirnya klakson Gavin membangunkan lamunan Luka pada sebuah traffick light yang telah menyala hijau.

Setelah membelokkan mobilnya dan sampai di sebuah sudut parkir yang tidak seberapa, Luka turun dari mobilnya, Disusul Gavin yang parkir di sampingnya.

‘’Di sana ada berbagai menu. Kau tinggal pilih yang kau suka,’’ ujar Luka setengah berpekik kepada Gavin. Gavin hanya membuka tangan. Selanjutnya, setelah menetapkan diri berhenti pada sebuah warung kaki lima, mereka memesan makanan kesukaan masing-masing.

‘’Di mana biasanya kalian makan malam?’’ ujar Luka yang berhadap-hadapan dengan Gavin. Gavin diam saja.

‘’Ini salah satu tempat favorit kami, dulu. Sebenarnya aku gentar kalau datang ke sini sendirian. Bukan apa-apa. Aku tidak cukup mempunyai kekuatan untuk melewati masa-masa indah itu seorang diri. Bukan karena aku mengharaminya. Tapi, entahlah. Ada yang bergetar ketika aku mendatangi tempat kami berdua dulu biasa melewatinya, sementara dia sudah tidak ada lagi di sini,’’ ujar Luka tanpa harus menempelkan tangan kiri ke dadanya. Melainkan hanya dengan sedikit menundukkan kepalanya ke arah jantungnya.

‘’Namun, setelah aku pikir-pikir, aku harus melawan perasaan itu. Hidup harus tetap berjalan. Demikian yang dinubuatkan dalam roman-roman picisan,’’ imbuh Luka.

‘’Kau terlalu banyak bicara,’’ balas Gavin.

‘’Sejatinya aku pendiam. Bahkan lebih diam dari gunung sekali pun’’.

‘’Lalu mengapa seorang perempuan yang baik macam istrimu, sampai hati memalingkan perasaannya kepadaku, jika memang bukan karena ada sebuah alasan yang kuat untuk membuatnya berpaling? Bahkan dari sebuah eloknya gunung sekali pun?’’

‘’Untuk itulah aku berbicara denganmu’’.

‘’Aku rasa kita terlalu bertele-tele’’.

‘’Aku hanya berusaha untuk hati-hati’’.

‘’Apakah tidak ada cara yang lebih sederhana untuk membuat hatimu menerima kenyataan, bahwasanya istrimu sudah tidak mendulikan lagi apa yang kau rasakan? Apa pun itu alasannya’’.

Mendengar jawaban Gavin, Luka hnya menunjuk dengan jari telunjuk sebelah kirinya. ‘’Inilah yang membedakan cinta sehat, dan masuk akal dengan cinta buta, sebagaimana yang kalian berdua alami’’.

‘’Jangan berlagak bijak dengan sok menerang-nerangkan makna sebuah perasaan’’.

‘’Aha, aku mulai benar-benar suka denganmu’’.

Pada saat ini pesanan mereka telah sampai. Luka dengan sate ayam, nasi putih, juice alpokat dan aqua. Sedangkan Gavin dengan nasi goreng spesial dengan juice apel dan sprite.

Sementara dalam ruang dan waktu yang lain, tepatnya di lantai 46 Gedung BNI 46, Sita tidak menemukan orang yang dicarinya. Tapi bukan Sita jika menyerah begitu saja. Ia masih saja meneruskan pencariannya. Kali ini dengan kecemasan yang berlahan mulai bercampur dengan kelelahan dan keputusasaan.

Sementara Luka baru baru saja mulai mencicip makanannya.

‘’Kita makan dulu,’’ ajaknya kepada Gavin.

Maka, layaknya kanak-kanak menemu makanan kesukaannya, Luka dan Gavin tampak akur, rukun dan lahap menyikat habis makanan kesukaan mereka masing-masing. Sementara Sita? Entah mau ke mana lagi dia…

Setelah tandas makanannya, menenggak minumannya, kemudian menarik nafas panjang, tanda kelegaan. Mulai berbicaralah Luka kepada Gavin.

‘’Tidak mengecewakan bukan?’’

‘‘Lidahku tidak cukup rasional ketika perutku dalam keadaan lapar seperti ini’’.

‘’Apakah hal ini juga berlaku dalam pola pikirmu, ketika perasaanmu juga dalam keaadaan lapar’’.

’Maksudmu? ‘’

‘’Kau tahu persis apa maksudku, jangan berpura-pura bodoh’’.

‘’Mmmmm. Aku pikir itu dua hal yang berbeda,’’ masih dengan ketenangan Gavin menanggapi.

Untuk kali kedua Luka menawarkan rokok kreteknya kepada Gavin. Namun, untuk untuk kali kedua juga, Gavin kembali menampiknya dengan kesantunan yang sama.

‘’Kau tidak merokok?’’

‘’Sudah beberapa hari ini aku berhenti. Aku sudah terlalu banyak merokok. Makasih’’.

Mengetahui Gavin menampik kebaikannnya lagi, Luka menarik kembali kebelakang tangannya yang menawarkan rokok, kemudian merapikan duduk.

‘’Di sini nuansanya kurang mendukung untuk pembicaraan kita. Kita bisa bergeser ke Anyer kalau kau tidak keberatan?!’’

‘’Bukan masalah. Di mana pun kau menghendaki, aku akan melayaninya’’.

‘’Atau kau punya alternatif lain yang sekiranya nyaman untuk pembicaraan kita berdua?’’ tawar Luka kepada Gavin.

‘’Anyer, meski terlalu jauh tapi tidak terlalu buruk. Toh ini dini hari, nggak macet pastinya’’.

‘’Ok. Kita akan beriringan ke sana…’’

Secepat laki-laki sigap, mereka berdua berbenah. Seperti di café, di Menteng pun, Luka membereskan semua keuangannya. Gavin hanya tersenyum kecut dibuatnya. Selanjutnya, mereka menuju mobilnya masing-masing, dan mulai berjalan beriring ke Anyer.

Sebelum memasuki mobil, Luka memberi tanda kepada Gavin untuk mengaktifkan hp-nya. Di dalam mobil, Luka mulai mengaktifkan loudspeaker, beberapa jenak kemudian memencet beberapa tuts nomor di hp, sembari tetap melajukan dengan tenang mobilnya dalam kecepatan rata-rata ke Anyer.

Demikian halnya dengan Gavin, ia mulai meraih hp yang ada di saku, membenahinya, dan menempelkan piranti kabel head-set ke telinga, sembari terus tetap melajukan mobilnya di belakang mobil Luka.

‘’Ya. Aku di belakangmu persis,’’ jawab Gavin ketika Luka ketika mencoba menelponnya.

‘’Ini akan menjadi malam yang panjang untuk kita. Semoga kau menikmati. Aku mencintai malam. Karena ia membawa keheningan dan kesenyapan. Di suasana seperti ini biasanya pikiran akan lebih menghasilkan sesuatu yang matang, ’’ cerocos Luka sembari meletakkan hp-nya di sebuah gagang penyangga hp di dashboard kabin mobilnya..

‘’The best thinking has been done in solitude, ha…’’

‘’Ya. The best thinking has been done in solitude. Kau berkawan baik dengan buku dan kepintaran, pastinya.?!’’

‘’Tidak atau belum seakrab dirimu’’.

‘’Aku tidak terlalu dekat dengan buku. Tapi aku juga tidak terlalu jauh dengannya. Dari mana kau tahu kegemaranku. Ah, istriku tentu saja. Apa buku terakhir yang kau baca’’.

‘’Bumi Manusia’’.

‘’Pramudya. Aku baru saja merampungkan ‘Sang Alkemis’ Paulo Coelho. Apa yang kau dapat dari tulisan Pram? ‘’

‘’Banyak. Banyak sekali. Paling tidak aku akan belajar berpikir dan bersiasat lebih baik. Bertindak lebih baik. Dan memperlakukan diriku juga dengan tidak kalah lebih baiknya’’.

‘’Termasuk bagaimana memperlakukan perempuan dengan tidak kalah baiknya?’’ potong Luka dengan cepat.

‘’Itu dengan sendirinya…’’

‘’….’’

‘’Mengapa kau diam…..?’’

‘’Nggak pa-pa,’’ jawab Luka. Meski sebenarnya, pada saat itu, sebagaimana banyak pada saat yang lain, lagi-lagi, bayangan masa bahagia antara Luka dengan Sita istrinya berkelebat di benaknya. Bayangan kenangan ketika mereka berdua sedang berada di Pantai Anyer, pada sebuah senja, ketika matahari hendak pulang ke kampung halamannya.

Adakah saat yang lebih mengharukan selain membayangkan saat-saat berbahagia dengan orang-orang yang pernah dekat dengan kita? Untuk kasus Luka, ia tampaknya lebih senang mengembalikan memori ketika bersama Sita memandangi gedebur ombak dan menyimak hembusan angin. Sembari berbicara tentang segala hal, tentang apa saja. Sesekali Luka terlihat tersenyum sendiri, seperti sedang membayangkan ketika tertawa bareng dengan Sita. Seolah tidak begitu mengabaikan mobilnya yang beriringan dengan mobil Gavin membelah keheningan jalanan Jakarta yang senyap menuju Anyer. Hingga akhirnya kilatan lampu mobil yang berpapasan dengan mobilnya memecah keheningan ingatannya, dan memaksanya kembali menghubungi Gavin.

‘’Perjalananan kita masih jauh….staminamu masih cukup prima?‘’, katanya ketika menyadari mobil mereka telah mulai masuk pintu gerbang tol pertama.

‘’Tenang. Aku baek-baek saja.,’’, jawab Gavin.

Mulailah mobil mereka berdua menyusuri jalan tol yang tidur nuju Anyer. Dengan kecepatan rata-rata, antara 80-100 km perjam, mereka kembali melanjutkan pembicaraan.

‘’Aku sebenarnya tidak begitu berkenan melanjutkan pembicaraan ini,’’ ujar Gavin yang sepertinya mulai terlihat jengah.

‘’Kenapa?’’

‘’Tiba-tiba aku tidak ingin saja’’.

‘’Beri aku alasan….’’

‘’Tiba-tiba aku ingin menjumpai istrimu!’’

‘’Ah….Dia akan datang padamu kalau memang benar-benar mencintaimu,’’ jawab Luka seolah tidak menunjukkan ekpresi kekagetannya.

‘’Itu yang telah dia lakukan selama ini. Kami saling menjumpai lebih tepatnya. Pertemuan kita, aku kira, semakin percuma saja. Aku tidak ingin melepaskan cintanya,’’ Gavin nyerocos menguraikan perasaannya.

‘’Hei..tenang. Tenang….Dia akan datang padamu kalau memang benar-benar menyayangimu. Tapi, kau pun tetap boleh berputar balik dimana pun kau suka….meski aku menyayangkan itu’’.

‘’Kenapa kau begitu dingin menghadapi ini semua?’’

‘’Aku nggak ngerti. Mungkin kau benar, aku terlalu naif sebagai seorang laki-laki. Oh ya, dari tadi istriku pasti menghubungimu?’’

‘’Ya. Ada beberapa catatan misscall darinya’’.

Mendengar jawaban Gavin, Luka hanya menganggukkan kepala.

‘’Ya. Ya ‘’.

‘’Aku menyangsikan kemampuanku untuk melepaskan cintanya. Dan aku tidak pernah berpikir sedikit pun untuk sok kuat hidup tanpa cinta. Sebagaimana dirimu’’.

‘’Semua orang butuh cinta, tuan……’’

‘’Tidak mudah menemukan cinta seperti yang telah kami jalin berdua’’.

‘’Sudah sedemikian dalamkah hubungan kalian berdua?’’

‘’Sampai-sampai aku meragukan keberlangsungan hidupku tanpa cintanya…’’

‘’Dulu aku juga berpikiran demikian.’’

‘’Kau mencoba memprovokasiku,’’ jawab Gavin yang tampak terkesiap. Sebelum akhirnya dengan pelan dan pasti mulai melambatkan laju mobilnya, ia sudah sudah tidak mengekor lagi pada mobil Luka. Luka tahu itu dari kaca spionnya, dari lampu depan mobil Gavin yang semakin berjarak. Tapi Luka tampaknya tidak peduli, abai, masa bodoh dan masih saja melajukan mobilnya dalam kecepatan rata-rata. Gavin juga menyaksikan lampu belakang mobil Luka yang semakin menjauh, menjauh, dan akhirnya menghilang dari pandangannya.

‘’Bagaimana mungkin laki-laki berpendirian seperti kamu mudah terprovokasi…’’ jawab Luka sembari terus melajukan mobilnya. ‘’Aku akan tetap ke Anyer dengan atau tanpa dirimu. Sebagaimana aku akan tetap melangsungkan nasibku dengan atau tanpa istriku…’’

Tidak ada jawaban yang diberikan Gavin, kecuali diam, sembari menepikan mobilnya, dan berhenti pada bahu jalan tol. Untuk beberapa lama tidak ada perbincangan antarmereka. Gavin hanya terdiam, menerawangkan pandangannya ke muka, seperti mengembalikan kenangan kebersamaan dengan Sita, kekasih tersayang dan menyayanginya. Gavin terus berpikir untuk mengabaikan Anyer, dan lebih memilih menemui Sita rupanya. Hingga akhirnya pelan-pelan, Gavin kembali melajukan mobilnya……

‘’Gila!’’ pekiknya kepada diri sendiri, tanpa menyadari sambungan telponya masih aktif.

‘’Ah, masih ada kehidupan di sana…’’ ujar Luka yang sengaja masih mengaktifkan telponnya.

Menyadari kelalaiannya, seketika Gavin memutuskan sambungan telponnya, melepas head-set dan mengabaikannya begitu saja. Luka lagi-lagi hanya memulas senyum mengetahui sambungan telponya diputus oleh lawan bicaranya. Meski demikian, Gavin masih melajukan dengan tenang mobilnya ke arah…, Anyer.

Padahal sebelumnya Gavin, dalam waktu yang sama membantingkan tangannya ke stir mobil, sembari mengumpat tidak habis mengerti dengan apa yang sedang dijalaninnya, ‘’Sialan!’’, geramnya.…. Dia menarik nafas panjang. Sebelum pelan-pelan mulai menjalankan laju mobilnya ke arah Anyer, dengan tanpa mendulikan hp yang tergeletak di jok mobil di sebelahnya.

Setelah beberapa lama, sembari menikmati lantunan lagu dalam album ‘’Love And Theft’’ milik Bob Dylan, tanpa terasa Luka telah hampir sampai ke arah Anyer. Dia telah mengarahkan mobilnya keluar dari jalan tol, setelah sebelumnya membayar sejumlah rupiah di pembayaran both tol. Di kesenyapan dini hari, setelah membelah sedikit kota Cilegon, dia mulai mencari irisan tepian pantai, untuk memarkirkan mobilnya. Meminggirkan kegundahannya.

V. Sita dan Bunda.

Jakarta, 00. 45 WIB.

 

SITA tampaknya sudah mulai berketetapan hati untuk tidak menghubungi siapa pun. Di dalam taksi dia meneguhkan diri untuk kembali ke rumahnya. Sebagaimana keyakinannya, persoalan pasti akan usai dengan sendirinya, jika sudah sampai pada puncaknya. Namun, tiba-tiba ia meminta kepada supir taksi untuk memasuki sebuah halaman gedung bertingkat. Ia rupanya masih penasaran untuk kembali mencoba kali terakhir memasuki sebuah café.

 

‘’Bapak tunggu sebentar di parkiran ya, saya tidak akan lama kok,’’ pintanya kepada supir taksi yang berusia paruh baya.

‘’Baik mbak,’’ jawab balik bapak supir taksi.

Tak berapa lama kemudian setelah keberanjakannya, Sita telah songsong kembali menuju taksi yang masih setia menunggu di pelataran parkir. Setelah membuka pintu mobil, ia kembali masuk ke dalam kabin taksi. Membanting pintu dengan kemarahan yang sewajarnya. Kemudian menghela nafas dalam. Parasnya menunjukkan kekecewaan. Sita menyandarkan seluruh tubuhnya di jok mobil taksi belakang.

‘’Yuk pak, pergi dari sini!’’, ujar Sita membuka kata kepada supir taksi.

‘’Baik mbak….. Kita pergi ke mana mbak?’

‘’Ke mana pun asal tidak berpikir untuk pulang!’’

‘’Loh…kok gitu mbak,’’ jawab supir taksi kaget, dan penuh tanda tanya, sekaligus heran.

‘’Ya sudah, Bapak boleh jalan ke mana saja dulu. Pokoknya biarkan argonya jalan. Saya mau bicara dengan orang tua saya dulu. Sembari saya berpikir lagi ke mana saya akan memutuskan untuk pergi. Ah gini aja pak, jalan dulu ke Sudirman, Thamrin sampai mentok ke Medan Merdeka Barat, terus balik lagi, sebelum kita balik ke Cibubur aja ya,’’ jawab Sita sambil menghela nafas panjang, tanpa merubah emosi.

‘’Baik mbak,’’ ulas supir taksi masih dengan keheranan yang sama.

Sita bersegera meraih hp dari dalam tas, menghubungi orang tuanya. Berbicara dengan suara yang halus, dan manja.

‘’Bunda…..’’

Ibunda Sita yang dihubungi anaknya di malam gelap lagi gulita, tentu saja dengan penuh keheranan dan kecemasan membalas telpon Sita dengan keterperangahan.

‘’Ada apa nak. Kok malem-malem ngebel. Nggak biasanya? Kamu baek-baek saja nak?’’ ujar bunda Sita di ujung sana dengan kepanikan yang segera mereda.

‘’Nggak papa kok. Cuman kangen pengen denger suara bunda aja. Bunda sehat kan. Pasti udah bobo ya…’’

‘’Iyalah. Kamu ini ada-ada aja, tahu pagi buta malah nelpon, hanya untuk ngomong kangen suara bunda. Ada-ada saja kamu’’.

Sita hanya tersenyum.

‘’Pasti ada masalah lagi dengan ‘’jagoanmu’’ itu ya?’’ ujar bunda menyelidik.’’

‘’Nggak kok. Nggak ada apa-apa. Mas baek-baek aja kok,’’ jawab Sita dengan kemanjaannya, sebelum dengan cepat mengalihkan pembicaraan,‘’Eh, bunda….Ayah gimana? Baek-baek aja kan….Sehat kan….’’

‘’Baek-baek…Sehat kok. Cuman biasalah…penyakit lama ayahmu itu. Prostat dan asam uratnya paling-paling datang dan pergi lagi…biasalah, Ia keras kepala seperti anak perempuan tersayangnya’’.

Mendengar jawaban itu Sita hanya tersenyum.

‘’Maafkan Mas Luka ya Bunda…’’

‘’Ah…nggak papa kok. Dia juga anak ayah dan bunda juga. Nggak ada yang salah kok. Laki-laki memang seperti itu. Paling sulit menekuk egonya, meski sebentar saja’’.

Lagi-lagi, Sita hanya tersenyum.

‘’Sudahlah. Biarkan saja. Nanti ayah dan suamimu itu bakal baikan juga. Biarkan waktu yang akan merubuhkan ego mereka. Toh, bunda yakin, kedua orang yang paling kau cintai di dunia itu, bakal baekan juga’’.

Sita hanya tersenyum, dan mulai menitikkan air mata keharuan.

‘’Kamu baek-baek saja nak….’’

‘’Oh.., baek-baek kok bunda. Baek-baek sekali,’’ ulas Sita dengan cepat.

‘’Kamu yakin?’

‘’Yah bunda. Kami baek-baek saja kok….’’

‘’Suamimu juga baek-baek saja kan..?’’

‘’Baek kok Bunda. Dan mas Luka akan selalu baik kepada Sita,‘’ jawab Sita dengan cepat, ‘’Ayah masih sare ya bunda,’’ imbuh Sita mengalihkan pembicaraan.

‘’Iya. Ayahmu kan sejak sesiang tadi hingga Magrib datang, sibuk dengan cucu-cucunya. Anak-anak mbakyumu itu…Jadi, mungkin ayahmu kecapaian….’’

Sita tersenyum.

‘’Tapi sebentar lagi, seperti biasalah, sebelum Shubuh ayahmu sudah bangun kan…’’

‘’Bunda…Sita sayang Mas Luka’’.

‘’Lah. Bunda juga tau itu. Sejak kali pertama kau bawa masmu itu ke rumah, dan kau perkenalkan sama ayah dan bunda, bunda juga tahu kalau kau sayang sama masmu itu,’’ jawab bunda dengan sedikit keheranan.

‘’Iya. Sita juga tahu itu’’.

‘’Kamu berantem lagi sama masmu kan? Karena masalah yang kemarin itu ya?’’.

‘’Nggak sihCuman mungkin kita akan semakin sulit lagi untuk ketemu’’

‘’Hush…, ngomong apa kamu itu. Sulit ketemu, sulit ketemu. Kalian kan udah pada gede-gede semua. Bicaralah terus baek-baek. Nggak ada yang nggak bisa diselesaikan dengan baek-baek. Ingat nak, apa yang bunda dulu katakan ketika mengikhlaskan pernikahan kalian kan?’’

‘’Iya bunda. Memang Sita pernah membawa persoalan kepada bunda?’’

‘’Nggak sih…’’

‘’Sita hanya kangen suara bunda kok’’.

‘’Iya. Bunda juga kangen kalian berdua’’.

‘’Sungkem buat ayah ya bunda’’

‘’Pasti nak. Kamu jaga baek-baek kesehatanmu ya. Salam juga buat masmu juga ya...’’

‘’Iya bunda’’.

‘’Nak…..Apapun keputusan kalian berdua ayah dan bunda akan tetap menyayangi kalian berdua’’.

‘’Makasih bunda. I Love You Bunda’’.

‘’I Love You Two, Nak…eh kamu baek-baek di jalan ya, ati-ati ‘’.

 

 

 

VI. Anyer.

 

GAVIN juga telah mulai melakukan prosesi pembayaran di both pintu keluar tol, dan membelokkan mobilnya ke arah Anyer. Akhirnya, untuk kali kesekian ia kembali menekuk egonya, menghubungi Luka

Luka yang tengah asyik menikmati rokok kretek di dalam mobil, dengan membiarkan jendela mobilnya terbuka, ketika mengetahui hp-nya tiba-tiba bergetar, hanya tersenyum, seolah sudah dapat menebak siapa yang menelpon. Benar, kali ini Gavin menghubungi Luka. Luka kemudian meraih hp-nya.

Kau ada di sebelah mana…,’’ suara Gavin nyaring terdengar dari seberang sana.

‘’Di sebelah sini, ada sebuah tanjakan dimana sebuah baliho yang paling benderang berdiri di sebelah kiri jalan. Di depannya ada sebuah hamparan rumput hijau, dan puluhan pohon kelapa, di situlah satu-satunya mobilku yang menghadap laut berada,’’ jawab Luka.

‘’Aku bahkan tidak tahu, kenapa masih sudi mengikutimu’’.

‘’Tenang bung. Tenang. Perjalanan ini akan menyenangkan. Hasilnya kebaikan, dan endingnya kemuliaan’’.

‘’Padahal kau semakin pandai dengan segala omong kosongmu’’.

‘’Ha ha ha, tidakkah kau pernah mencoba belajar berbaik sangka?’’.

VII. Luka dan Sita.

RUMAH kontrakan Luka dan Sita yang terletak di bilangan Cibubur memang permai dan sentosa. Di rumah yang tidak seberapa luas namun tidak sempit itu, mereka menggariskan sebagian takdir hidup mereka berdua. Sebuah rumah yang pada mulanya sangat memanggil-manggil penghuninya untuk selalu pulang, dan kembali ke kehangatan pelukannya.

Luka dan Sita tampak sedang merumuskan musyawarah.

Di ruang makan, diantara meja yang memisahkan mereka berdua, sembari menyantap makan malam dengan iringan gerimis hujan yang mendenting genting, teritis, serambi dan halaman, Sita membuka kata.

‘’Mas harus minta maaf kepada ayah,’’ ujar Sita setelah menyunyah makanannya untuk kali kesekian, sembari melihat kepada Luka yang tampak abai dan tidak menghiraukannya. Asyik dengan makanannya yang ada dimulutnya. ‘’Sebagai anak, sudah sepantasnya mas meminta maaf kepada orang yang lebih tua,’’ imbuh Sita sembari tetap menancapkan pandangannya kepada Luka. Luka masih tetap abai, dan tak mengiraukan, malah makin lahap menyantap makanannya. ‘’Kalau mas membiarkan hal ini terlalu lama. Keadaan tidak akan pernah menjadi baik. Malah semakin tidak mengenakkan. Apa sih susahnya minta ma’af’’.

‘’Susah sekali!,’’ ujar Luka masih dengan sedikit sisa kunyahan di mulutnya. ‘’Di belahan bumi manapun, yang meminta ma’aaf adalah yang membuat kesalahan’’.

‘’Tapi ayah bermaksud baik!,’’ potong Sita dengan tak kalah sigapnya. ‘’Ayah mana yang tidak mempunyai maksud baik kepada anaknya!?’’ katanya melanjutkan.

‘’Bukan begitu cara menyampaikan maksud baik. Maksud baik harus disampaikan dengan cara yang tak kalah baiknya’’.

‘’Tapi sejatinya beliau bermaksud baik, kan….’’

‘’Pencuri pun sejatinya mempunyai maksud baik dalam setiap aksi pencuriannya. Paling tidak untuk menghidupi anak, dan istrinya’’.

‘’Ada bahasa yang lebih santun, dan sepantasnya untuk orang tua yang telah melahirkan istrimu ini, dan notabene sekarang telah menjadi orang tuamu juga, dari sekedar membandingkannya dengan seorang maling?’’ balas Sita datar, namun dengan intonasi yang sedikit meninggi.

Mendengar jawaban Sita yang agak meninggi, Luka meletakkan sendok, dan garpunya dengan pelan. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menghela nafas. Meraih air putih di gelas, meminumnya dengan tenang, dan berujar…

‘’Seharunya kau bisa bersikap sebagai seorang istri yang baik, dan adil. Bukan hanya berlaku sebagai seorang anak yang membabi buta membela kesalahan orang tuanya’’.

‘’Ayah tidak salah!’’ tegas Sita menekan jawabannya.

Luka mengangkat kedua tangannya.

‘’Secara ekonomi, aku, suamimu ini, memang masih lintang pukang. Belum apa-apa, dan mungkin tidak akan pernah menjadi apa-apa. Tapi bukan berarti dengan demikian ayahmu bisa dengan seenaknya masuk ke wilayah suamimu, di luar cara kepatutan itu…’’

‘’Kau berlebihan..’’

‘’Aku berbicara apa yang aku rasakan’’.

‘’Tidak pernahkan kau belajar menghargai perasaan orang tua ?’’.

‘’Tidak pernahkah kau belajar menghargai perasaan suamimu?’’.

‘’Dan tidak pernahkah kau belajar menghargai perasaan istrimu, yang notabene anak dari mertuamu?’’

‘’Seharusnya kau belajar menjadi laki-laki’’.

‘’Aku tidak akan pernah sudi belajar menjadi laki-laki yang hanya tahu menomorsatukan egonya!’’

‘’Kalau begitu, katakan itu pada ayahmu untuk belajar menahan dirinya’’.

Mendengar jawaban Luka, seketika Sita bersegera beranjak dari tempat duduknya. Menggunturkan amarah, berbicara lantang dengan intonasi tinggi, ‘’NGGAK SOPAN!’’, pekiknya dengan semakin menajamkam tombak matanya ke arah Luka, suaminya sendiri, sebelum akhirnya berniat meninggalkan meja makan..

Belum sempat Sita hendak meninggalkan meja makan, dengan sigap pula Luka menimpali.

‘’Jangan pernah meninggalkan gelanggang pembicaraan, ketika musyawarah belum diselesaikan’’.

‘’Mulutmu seperti harimau!’’

‘’Aku tidak akan mengaum jika tidak terlalu telak diganggu’’.

Masih dengan posisi berdiri. Kali ini dengan suara menggemas geram Sita meneruskan amarahnya.

‘’Ayah tidak pernah meng-gang-gu-mu sa-yang-ku!’’.

‘’Tapi beliau terlalu dalam mengoyak perasaanku’’.

‘’Kau terlalu sentimental sebagai seorang laki-laki’’.

‘’Laki-laki manapun tidak akan pernah rela jika kehormatannya didobrak, kemudian diinjak sebelum akhirnya dikoyak’’.

‘’Kau berlebihan. Ayah tidak pernah bermaksud melakukan itu’’.

‘’Tapi beliau telah melakukannya’’.

‘’Tidak tahukah kau betapa sulitnya posisiku?!,’’ ujar Sita lirih dengan intonasi suara yang kembali menurun, sembari kembali duduk di tempatnya semula. ‘’Benar kata bunda, kalian laki-laki memang sama-sama keras kepala. Tidak pernah mau belajar bagaimana caranya mengalah’’.

‘’Aku akan belajar mengalah jika keadaan memang mengharuskanku mengalah. Tapi, dalam hal ini, permasalahan tidak akan pernah selesai dengan hanya mengalah’’.

Sita hanya diam beberapa saat. Menghela nafas, dan berujar,‘’Maafkan istrimu ini. Aku memang kebingungan di mana harus berpijak. Orang tuaku pahlawanku. Atau, suamiku yang sok!’’

Dengan intonasi suara yang mereda pula Luka menimpali.

‘’Kau seharusnya sudah tahu di mana berpijak, istriku’’.

‘’Tidak semudah itu…’’

‘’Lantas?’’

‘’Mungkin kita harus berpisah dulu untuk sementara waktu. Mendinginkan kepala masing-masing, dan kemudian menyusun kembali rencana-rencana ke depan’’.

‘’Aku memang mencintaimu. Dan aku tidak pernah meragukan itu. Dari dulu, sekarang, dan semoga hingga nanti. Namun, dalam hal ini, aku tidak akan pernah gentar jika kau ingin benar-benar meninggalkanku, hanya karena perkara ini’’.

‘’Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Hingga ada sebuah alasan yang kuat untuk melakukan itu’’.

‘’Kau kuizinkan meninggalkanku demi orang tuamu’’.

‘’Cukup! Kita akan berbicara hal lain’’.

‘’Itu lebih baik. Silakan’’.

‘’Aku jatuh cinta lagi’’.

VII. Sita dan Supir Taksi.

DI dalam sebuah mobil taksi yang masih dengan setia mengantar pencarian Sita terhadap dua laki-laki yang mengisi hatinya, Sita menyempatkan diri berbicara dari hati ke hati dengan supir taksi. Setelah menghela nafas panjang penuh kelegaan. Mengembalikan hp-nya ke dalam tas. Dan menikmati pemandangan kota Jakarta dini hari di rintik hujan yang tidak seberapa.

‘’Bapak masih di sana?’’ ujar Sita kepada supir taksi.

‘’Masih mbak. Sekarang kita ke mana mbak? Nyari kafe lain atau ke mana lagi?’’

‘’Mungkin kita lebih baik pulang saja pak’’.

Dengan nada mengejek pak supir taksi berbicara, ‘’Katanya ke mana pun asal tidak berpikir untuk pulang?’’.

Dengan hanya memulas senyum Sita menjawab, ‘’Kita ke Cibubur ya pak’’.

‘’Baik mbak’’.

Untuk beberapa jenak tidak ada pembicaraan antara Sita dan supir taksi. Diam. Yang berbicara, hening. Taksi mulai melaju dengan kecepatan rata-rata ke arah Gatot Subroto, sebelum masul tol dalam kota nuju Cibubur. Hingga akhirnya Sita membuka pembicaraan.

‘’Apa yang akan Bapak lakukan sebagai seorang suami, jika istri Bapak kebingungan menempatkan diri, karena suaminya berseteru dengan Ayahnya?’’

‘’Waduh, Saya takut menjawabnya, mbak. Mertua saya sudah lama mati, bahkan jauh hari sebelum saya menikahi istri saya, mbak’’.

‘’Katakanlah Bapak sedang bersitegang dengan orang-orang yang dicintai, dan mencintai istri Bapak. Dan istri Bapak kebingungan menempatkan diri. Apa yang akan Bapak lakukan?’’

‘’Mbak pasti sedang bingung karena suami mbak berperkara dengan Ayah mbak, kan?’’

‘’Bapak tahu ya?’’

‘’Saya mencuri dengar pembicaraan mbak dari tadi. Ma’af mbak’’.

Sita tidak membalas kecuali hanya tersenyum.

‘’Itu biasa mbak. Nggak ada yang luar biasa. Nanti juga reda dengan sendirinya. Nggak ada yang baru jika mertua berperkara dengan mantunya. Itu biasa mbak’’.

‘’Kok gitu?’’

‘’Laki-laki itu sederhana mbak. Pokoknya jangan saling memasuki dan menggangu area terdalam dalam kehidupannya. Selama hal itu terjaga, ia akan baik-baik saja’’.

‘’Gitu ya pak?’’

‘’Nggak juga sih’’.

‘’Gimana sih Bapak ini. Kok ngomongnya berubah-ubah’’.

‘’Kalau mbak pikir hanya perempuan mahkluk yang komplek, itu keliru. Laki-laki itu juga sama saja kok mbak. Kalau perempuan bisa seperti bunga sekaligus kimia, laki-laki juga bisa seperti fisika. Artinya, pada saat yang bersamaan ia bisa menjadi orang paling dewasa, sekaligus paling anak-anak’’.

‘’Gitu ya pak?’’

‘’Nggak juga sih. Tergantung orangnya juga. Karena ada juga laki-laki yang mendekati impian semua wanita. Ia nyaris mampu berprasangka baek dengan masalah apapun. Sekaligus mampu menghadapi semua masalah dengan sama baiknya. Sebaik ketika ia menghadapi kesenangan, mbak’’.

Sita tampak semakin takzim menekuni setiap detail pembicaraan supir taksi.

‘’Sederhananya begini mbak. Dia baek bukan hanya pada saat kenyang. Tapi juga baek pada saat lapar. Ah, saya ini ngomong apa. Nggak keruan. Orang supir taksi kok mengkotbahi orang berpendidikan seperti mbak. Maafkan saya mbak’’.

‘’Ah, nggak kok Pak. Saya, atau siapa pun yang sekolah sampai puluhan tahun, hingga luar Negeri sekalipun, nggak ngejamin tahu tentang hidup kan, Pak’’.

‘’Iya sih. Tapi mbak nggak kelihatan seperti orang bodoh kok’’.

Sita hanya tersenyum.

‘’Berapa putra-putri Bapak?’’

‘’Anak saya tujuh dari tiga istri yang berbeda’’.

‘’Ha!’’

‘’Iya mbak. Saya menikah tiga kali. Tapi saya tetap berusaha untuk belajar bahagia dalam setiap pernikahan saya. Meski tentu saja, awal perpisahan dengan mantan istri saya pasti berat, menyesakkan, dan menyedihkan. Tapi saya pikir itu wajar kan mbak. Manusiawi’’.

Masih dengan keheranan Sita melontarkan pertanyaannya.

‘’Jadi istri Bapak sekarang ada berapa?’’

‘’Yah satu lah mbak! Dari dulu juga satu’’.

‘’O, kirain….’’

‘’Uang dari mana saya mampu menghidupi tiga istri sekaligus. Sementara pekerjaan saya hanya sebagai supir taksi. Itupun, istri saya yang sekarang mempunyai sambilan membuka toko kelontong di rumah, mbak’’.

‘’Bapak hebat ya’’.

‘’Wah, mbak ini terlalu mengada-ngada. Masak supir taksi hebat. Mbak, kalau mbak mau sedikit berpikir adil, suami mbak yang mbak cari tapi nggak ketemu-ketemu sampai sekarang ini, pasti mempunyai kehebatan juga’’.

‘’Iya sih’’.

‘’Sebenarnya kalau hanya perselisihan dengan mertua, itu hal yang sangat wajar sekali mbak. Pasti ada masalah lain yang lebih pelik, dan berat dari sekedar ribut dengan mertua’’.

‘’Saya jatuh cinta lagi, pak?’’

VIII. Another Luka dan Gavin.

Anyer, 03.30. WIB.

GAVIN yang tadi sempat memutuskan pembicaraannya dengan Luka, akhirnya telah sampai juga ke Anyer. Masih dalam belaian gerimis yang menggigilkan hatinya, Gavin telah menemukan mobil Luka, dan menyusulkan mobilnya untuk parkir berdampingan dengan mobil ‘seterunya’.

Mengetahui Luka telah turun dari mobil dengan sebatang rokok yang masih mengepul di mulutnya, dan duduk mematungi selat Sunda di atas kap mobil yang beku, tanpa mendulikan gerimis, Gavin memutuskan melakukan hal yang sama. Duduk di atas kap mobil, mengabaikan gerimis dengan jaket kulitnya, plus topi melindungi kepala .

‘’Ini juga salah satu tempat favorit kalian dulu?,’’ ujar Gavin, setelah menganggukkan kepala kepada Luka.

‘’Ya. Memandangi kedebur ombak dan menyimak hembusan angin. Sembari berbicara tentang segala hal’’.

‘’Ternyata kau sentimental’’.

‘’Hanya dalam beberapa hal’’.

‘’Aku merasa aneh dengan apa yang kita lakukan sekarang’’.

‘’Apa yang aneh? Aku tetap memperlakukanmu dengan baik dan benar. Meski kau masih merasakan sebuah keganjilan. Ayolah, tidak ada yang aneh dengan kebersamaan kita. Tidak ada yang baru di bawah matahari’’.

‘’Sebagaimana tidak ada yang aneh dan baru dengan hubunganku dengan istrimu’’.

Mendengar jawaban itu, Luka hanya memalingkan wajah ke arah Gavin, dan mengangkat pundaknya.

‘’Betapa tidak anehnya. Kali pertama kau menelponku, kemudian menawarkan sebuah pertemuan, dalam benakku muncul pertanyaan, pasti akan menjadi sebuah perbincangan yang ganjil. Tapi nyatanya. Meski pada awalnya aku sempat merasakan kekikuan itu. Toh, semua malah berjalan dengan linear. Tapi entah kenapa, sekarang aku masih merasakan sebuah keganjilan,’’ lanjut Gavin.

‘’Paling tidak aku tidak berniat sekali pun membuat suasana ini menjadi ganjil. Aku hanya ingin menemukan sebuah jawab atas apa yang menimpaku. Dan itu kau akui atau tidak, berhubungan dengan keberadaanmu. Kalau ini semua menjadi sebuah keganjilan, mari kita urai bersama. Sehingga semuanya, semoga, menjadi lebih ternalarkan’’.

‘’Kau semakin bertele-tele’’.

‘’Padahal aku telah berusaha membuatnya sesederhana mungkin’’.

‘’Apa yang akan kau lakukan setelah kau mendapatkan kepuasan dari apa yang kita bicarakan?’’.

‘’Paling tidak, aku tahu ke mana akan melangkah dan mengambil sikap’’.

‘’Kau sudah tahu sikap yang diambil istrimu?’’

‘’Ya. Dia bersikukuh ingin meninggalkanku’’.

‘’Dan kau masih saja tidak terima itu?’’.

‘’Entahlah’’.

‘’Ini juga bukan hal mudah buatku. Seperti yang pernah aku katakan kepadamu. Semua terjadi dengan sendirinya. Pada mulanya aku juga berpikiran tidak akan sudi membangun sebuah kebahagiaan di atas puing orang lain. Tapi, semakin aku berusaha melupakan istrimu, semakin tak mungkin rasanya’’. Gavin menarik nafas panjang. ‘’Bahkan aku pun pernah berusaha untuk tidak melanjutkan hubungan ini. Hal yang sama juga pernah ditempuh oleh istrimu. Ini bahkan juga tidak mengenakkan bagi kami berdua. Kalau pun toh akhirnya jadi semacam ini… Aku juga tidak tahu dimana harus merunutnya’’.

‘’Kau percaya dengan jodoh?’’

‘’Entahlah?’’

‘’Mungkin istriku bukan jodohku lagi. Atau mungkin hanya sampai di sini perjodohanku dengannya?’’.

‘’Aku juga tidak akan pernah mengerti dengan perjalanan hidupku sendiri. Bahkan sampai sekarang ini. Bagaimana mungkin aku dapat berbicara dengan baik, bahkan cenderung baik sekali dengan suami, dari seorang istri yang menjalin hubungan asmara denganku? Aneh. Dan yang lebih aneh lagi, kau berbicara seolah semua bisa diselesaikan hanya lewat sebuah musyawarah. Gila’’.

‘’Aku juga nggak ngerti dengan diriku sendiri’’.

‘’Diam-diam aku kagum padamu’’.

‘’Sekarang gantian kau yang mengejekku’’.

‘’Itu yang kurasakan’’.

Untuk beberapa lama, mereka hanya diam saja, memandangi deburan ombak yang tidak seberapa. Mematung dermaga, berbicara dalam hiruk pikuk diam. Diam yang memekakkan.

‘’Aku juga tidak mengerti, setelah ini apa lagi yang akan aku rasakan ketika bertemu dengan istrimu, yang sekarang telah menjadi kekasihku. Dan tidak berapa lama lagi ia, jika keadaan mendukungku, akan menjadi istriku,’’ ujar Gavin membuka kata, ‘’Aku bahkan tiba-tiba gentar membayangkannya’’.

‘’Itu yang kurasakan ketika aku, atau kami tepatnya, akan memutuskan berpisah. Aku juga gentar. Aku sempat nggak yakin apakah mampu melewati keseharian dengan kesendirian. Kesepian itu memang tidak terbayangkan,’’ balas Luka datar. ‘’Ah, paling tidak istriku akan kau nikahi…., meski aku bahkan tidak mengerti dengan jalan pikiranku sendiri. Bagaimana mungkin seorang suami membiarkan begitu saja istrinya hendak meninggalkannya, dan mau menikah dengan orang lain dengan sepengetahuannya?’’.

‘’Kau pasti teramat sangat membenci istrimu. Dan diriku tentu saja’’.

‘’Pada awalnya ya. Tapi pelan-pelan. Toh aku mampu menghilangkannya. Mungkin ini sebagian dari garis nasibku. Kau percaya nasib?’’

Gavin tidak menjawab. Diam saja.

‘’Kau tidak percaya rupanya…?’’

‘’Percaya nggak percaya. Aku lebih percaya pada hukum sebab dan akibat’’.

Luka hanya mengangguk pelan.

‘’Tapi paling tidak kau percaya Tuhan bukan?’’.

‘’Memang. Rasanya hampir mustahil untuk percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Penyayang, jika pada saat yang bersamaan hidup penuh dengan marabahaya, dan penuh ketidakpastian. Untuk itulah dalam banyak hal aku memberontak terhadap takdir yang kejam, dan membuktikan kepadanya, bahwa aku dapat hidup dalam segala lingkungan, dalam keadaan yang paling mustahil sekalipun’’.

‘’Untuk alasan itu pulalah kau bersikeras untuk berbahtera dengan istriku, dengan segala resikonya’’.

‘’Ya. Dengan segala resikonya. Kau pasti sangat tahu hukum hidup. Semua pilihan ada resikonya. Aku akan mengambil resiko ini’’.

‘’Kesungguhanmu inilah yang mungkin membuat istriku juga memberanikan diri hidup denganmu’’.

‘’Ada penjelasan yang lebih sederhana dari ini?’’

‘’Kau mempunyai tekad untuk menantang hidup dengan segala konsekwensinya, dan inilah yang semakin membuat nyaman istriku’’.

‘’Kenapa sekarang kau bisa begitu datar menyikapi semua ini?’’.

‘’Aku lelah berseteru dengan istriku. Aku lelah bersilang sengkarut dengan semua permasalahan rumah tanggaku. Mungkin lebih baik aku sendiri. Dan berpikir ulang, ada apa dengan semuanya ini. Toh, aku harus tetap belajar dengan apa yang terjadi di mukaku.’’

‘’Aku akan belajar banyak darimu’’.

‘’Aku juga akan lebih banyak belajar darimu’’.

Setelah sama-sama terdiam. Luka membalikkan badan, kembali ke arah mobilnya untuk mengambil sejumlah minuman kaleng dari Cold Box yang tersimpan di bagasi, serta dua buah kursi lipat kecil. Sembari membopong kursi, Luka melontarkan kepada Gavin minuman kalengnya. Gavin dengan sigap menangkapnya. Bir Hitam. Gavin membuka tutupnya sebagaimana yang dilakukan Luka. Dia bersegera menenggaknya. Sementara Luka mempersiapkan dua kursi lipat, sebelum akhirnya menyilakan duduk Gavin yang masih asyik dengan tenggakannya. Kini mereka sudah duduk, memandangi lautan, dengan sebotol bir di tangan masing-masing.

‘’Setelah ini semua berlalu. Apa yang akan kau lakukan,’’ ujar Gavin kepada laut.

‘’Mungkin aku akan pergi ke Budapest’’.

‘’Ada kenangan dari kota itu?’’

‘’Nggak ada. Aku hanya ingin ke sana saja. Dari sana aku bisa berkereta ke Paris, dan pokoknya keliling saja. Atau aku bisa bermobil seorang diri menuju Sumba atau Pulau Komodo, setelah itu kembali lagi menyusuri Sumbawa Besar, Lombok, Bali dan melewati jalur Selatan Pulau Jawa untuk kembali lagi ke Jakarta’’.

‘’Istrimu pernah cerita tentang perjalananmu yang paling berkesan selama pergi ke Moskwa’’.

‘’Kau harus ke sana suatu saat’’.

Gavin hanya diam. Gavin tidak bercerita kepada Luka, bahwa ada sebuah masa dia pernah tinggal di Moskwa juga. Untuk sebuah alasan, dia tidak menceritakan bahwa sebenarnya, dia pernah sedikit mengiriskan garis hidupnya di kota itu, sebagaimana Luka. Hal inilah yang membuat berkecamuk kepala Gavin. Karena di Moskwa, dia pernah melukis hari bersama perempuan yang sangat menjunjungnya. Namanya Lara. Perihal Lara dan Moskwa, Gavin tidak bercerita kepada Luka. Dalam hal ini, dalam hal kepandaian memanajemen perasaan hati, Gavin bisa jadi lebih matang dari Luka. Yang berkecenderungan menceritakan apa yang dirasakan. Tentu saja kepada orang yang dia anggap layak dia ceritakan tentang kediriaanya. Kalau saja, Luka cukup tahu dapat membaca keadaan Gavin, jika ia juga pernah bersilangan nasib di kota itu, niscaya pembicaraan pasti akan lain. Bisa jadi lebih berwarna, bisa jadi malah sengkarut jadinya. Hal yang sama sebenarnya pernah terjadi di benak Sita, ketika kali pertama mengenal Gavin, dan ketika mengetahui Gavin juga pernah tinggal di kota dimana dulu suaminya juga pernah menapakinya, sedikit banyak Sita tidak habis pikir. Tapi, Sita bukan perempuan bodoh yang mudah terlena begitu saja pada sebuah bangunan kebetulan. Dia sangat tahu dengan apa yang dia lakukan…

‘’Kau tidak suka berpergian, dan perjalanan rupanya?’’.

Gavin terkesiap dari diamnya, ‘’Aku lebih suka berkebun,’’ jawabnya cepat, secepat dia menata dirinya..

‘’Aaaa. Kau pasti mencintai bunga’’.

‘’Bahkan aku tahu ketika mereka sedang berbicara satu sama lain. Suatu saat kau harus berkebun’’.

‘’Ya, ya. Pasti. Aku akan berkebun,’’ ujar Luka lugas.

‘’Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat bunga yang sedang mekar di pagi hari sembari mendengar alunan musik klasik dari sebuah sound system. Mungkin nuansanya setara dengan kekidmatan ketika kau melakukan perjalanan jauh ke negeri orang’’.

Kali ini gantian Luka yang hanya mengangguk.

‘’Istrimu juga bilang kalau kau lumayan getol dengan musik klasik. Jadi kau pasti akan suka juga berkebun’’.

‘’Suatu saat aku pasti mencobanya’’.

‘’Suatu saat mungkin aku juga akan pergi ke Moskwa. Atau menjelajahi pulau Jawa, Bali, Lombok dan Nusa Tenggara, sebagaimana yang kau lakukan. Siapa tahu aku menemukan bebungaan baru yang belum pernah aku lihat’’.

Selanjutnya, untuk kali kesekian mereka berdua hanya membisu. Menikmati hembusan angin. Tanpa ada yang berbicara. Setelah beberapa lama, Luka beringsut menuju mobilnya, menyalakan tape-nya, kemudian mengalunlah orkestra dari dalam mobilnya, lirih; Con te Partiro, Andrea Bocelli.

Setelah itu, dia kembali ke tempat duduknya, dan kembali membuka pembicaraan.

‘’Apa yang kau harapkan dari hidupmu?’’

‘’Membangun sebuah rumah tangga, beranak pinak, mengasuhnya, menyaksikan mereka tumbuh dewasa, dan aku akan mati dengan lebih dari bahagia. Hanya itu, tidak lebih’’.

‘’Dulu aku juga berpikiran seperti itu. Lebih tepatnya kami dulu juga berpikiran seperti itu’’.

‘’Lantas’’.

‘’Dalam banyak perkara keinginan tidak berbanding lurus dengan kenyataan’’.

‘’Barangkali kau tidak cukup mempunyai kebulatan tekad untuk mewujudkan keinginanmu’’.

‘’Ya, barangkali memang semacam itu. Atau memang nasib tidak terlalu akrab, dan baik kepadaku’’.

‘’Aku juga turut prihatin atas kehilangan kalian pada…,’’ ujar Gavin tanpa melanjutkan kalimatnya.

‘’Istriku juga pernah cerita kalau dia juga pernah miscarriage?’’ ujar Luka seorang tak percaya..

‘’Maafkan aku’’.

‘’Apakah dia juga pernah bercerita di mana tempat-tempat favoritnya bercinta?’’

Sembari mengangkat tangannya, Gavin yang merasa tidak enak hati segera meralat pembicaraannya.

‘’Ah, kau terlalu berlebihan’’.

Dengan menengadahkan muka ke langit, dan membentangkan tangan ke angkasa Luka berseloroh, ‘’Ya, Tuhan…Betapa telah sedemikian dalam hubungan mereka berdua. Dan Kau membiarkan saja’’.

‘’Tetap ada dan masih banyak yang ia simpan untuk dirinya sendiri perihal personamu. Di atas semua itu, tidak ada yang lebih membuatnya bersyukur menjalani hidupnya, melewatkan sebagian dari nasibnya bersamamu. Bahkan sampai sekarang dia kerap bertanya pada dirinya sendiri; apakah aku akan sehebat dirimu. Apakah aku cukup tangguh setangguh dirimu. Kadang dia juga meragukan keyakinannya sendiri, apakah aku cukup mempunyai kekuatan untuk memayunginya dari segala persolan kehidupan. Sebagaimana kau telah melindungi dirinya selama ini’’.

‘’Inilah yang membuatku sedih. Meski aku juga sangat tahu, dia dapat memayungi dirinya sendiri, tanpa butuh sandaran dan lindungan dari laki-laki mana pun. Dia cukup mempunyai kekuatan untuk menjalani hidup ini seorang diri’’.

‘’Itulah hebatnya istrimu. Aku kadang juga tidak yakin apakah mampu mensejajari kekuatannya, sebagaimana dirimu. Yang menurutnya justru mampu dan sangat mampu sekali memayunginya, mengayominya. Aku juga takut, jangan-jangan aku tidak lebih dari sebuah pelampiasan betapa dia ingin membuktikan diri dapat hidup tanpamu’’.

‘’Dia tidak sejahat itu, tuan‘’.

‘’Justru itulah. Justru karena kebaikannyalah aku sering merasa tidak yakin akan mampu mengimbanginya’’.

‘’Perempuan satu ini memang luar biasa’’.

‘’Sebenarnya kalian berdua adalah pasangan yang luar biasa’’.

‘’Inilah dahsyatnya hidup. Kita selalu dibuat tidak tahu dengan jalan ceritanya. Dan anehnya, kita masih saja cenderung terus berprasangka buruk dengan apa-apa yang telah diberikan kepada kita’’.

Gavin yang melihat ke arah Luka yang masih mematungi lautan, menekuni keheningan, berujar lirih.

‘’Kalian memang bukan orang biasa’’.

‘’Aku bosan jadi orang biasa. Yang hanya menjalani dan menghadapi persoalan hidup yang biasa-biasa saja. Aku ingin lebih dari itu. Ah, sudahlah. Lupakan. Sudah pagi. Kita harus pergi dari sini,’’ ujar Luka sembari menengok ke arah Gavin, ‘’Kau masih sudi melanjutkan perbincangan ini, kan?! Mari kita bergeser’’.

‘’Apa lagi yang akan kita bicarakan ?’’

‘’Apa pun. Hei, kau pasti tahu. Semua orang juga tahu. Betapa pun kuatnya seseorang, independennya seseorang, bahkan yang paling mandiri sekalipun, tetap membutuhkan orang lain untuk dicintai dan mencintainya, kan’’.

‘’Aku rasa tidak terlalu sulit untuk orang seperti kamu menemukan orang yang kau cintai dan mencitaimu’’.

‘’Dalam banyak perkara harapan sering berbanding terbalik dengan kenyataan, tuan’’.

‘’Kau selalu mengulang-ngulang kalimat itu. Yakinlah, kenyataan pasti akan berpihak di sisimu. Semua orang berhak untuk menang. Aku yakin itu,’’ balas Gavin membesarkan hati Luka.

‘’Kau mencoba membesarkan hatiku?’’.

‘’Hatimu cukup besar untuk menjadi sempit hanya karena masalah seperti ini, bukan?’’.

‘’Kau mengejekku lagi,’’ balas Luka sembari terkekeh, ‘’Ha ha ha, kau paling pandai menelikung perasaan orang lain’’.

‘’Aku berbicara apa adanya’’.

‘’Sudah berapa banyak perempuan yang terbuai oleh kepintaranmu?’’.

Gavin hanya menarik nafas.

‘’Sudah terlalu banyak perempuan yang lebih pinter dari kita,’’ balas Gavin.

‘’Ya, dapatkah kau bayangkan konfigurasi antara kecantikan, kepandaian, manners, dan kemampuan finansial?’’

‘’Kau gemar juga membaca majalah wanita rupanya’’.

Luka tertawa. Sebelum pada akhrinya Gavin melanjutkan.

‘’Hei, apa yang terjadi jika kau yang jatuh hati terlebih dahulu dengan perempuan lain. Atau apa bedanya, kau yang jatuh hati, atau istrimu yang jatuh hati terlebih dulu dengan orang lain. Kalau ini hanya masalah waktu belaka’’.

‘’Apakah kau mampu berbicara selancar ini, jika hal ini terjadi padamu?’’

‘’Aku yakin. Aku adalah cinta terakhir istrimu’’.

‘’Anak muda memang harus yakin dengan segala keomongkosongannya. Dan perempuan, mereka adalah makhluk yang paling sangat bisa menikmati kegombalan’’.

‘’Inilah bedanya aku dan kamu. Aku berbicara karena aku meyakini hari depanku. Sedangkan kau….’’

‘’Suatu saat kau akan belajar, dan dipaksa harus belajar bagaimana caranya menginjakkan kaki dibumi’’.

‘’Kau keliru. Kau pikir hanya dirimu yang pernah ditinggalkan? Kau pikir hanya dirimu yang pernah menanggungkan kesepian dengan segala ketidakenakannya? Aku mungkin belum pernah melewati apa yang pernah kau lewati. Tapi bukan berarti aku tidak lebih akrab dengan kehilangan, dan segala penderitaannya. Hal inilah yang membuatku tidak gentar dengan penderitaan macam apa pun, yang akan datang menghadangku. Meski perempuan yang paling aku sayangi sekalipun, suatu saat nanti akan meninggalkanku. Sebagaimana yang kau alami sekarang’’.

Mendengar jawaban Gavin, Luka diam saja.

Mengetahui Luka diam saja, Gavin menyapanya, ‘’Kau baek-baek saja?’’

‘’Baek. Baek sekali’’.

‘’Kamu sok baek,’’ tukas Gavin nyinyir.

‘’Kami memang sering berselisih paham dan bertengkar. Tapi pertengkaran kami atas nama cinta…,’’ balas Luka ogah-ogahan.

‘’Makan itu cinta!’’.

Maka meledaklah tawa Luka, ‘’Huaa ha ha…’’

Setelah merasa menemukan ketenangan dari sebuah pembicaraan, maka berbenahlah mereka berdua. Gavin berinisiatif membenahi kursi lipat kecil dan membawanya ke bagasi Luka. Sementara Luka membuka bagasi, sebelum kemudian menutupnya. Hingga akhirnya mereka telah memasuki mobil masing-masing. Di dalam mobil, setelah sebelumnya memanaskan mesinnya beberapa saat, Luka, lagi-lagi hanya mendiamkan dirinya. Sebelum akhirnya mengarahkan laju mobilnya beringsut dari tepian Anyer. Gavin masih bersetia mengikutinya. Sementara pagi pelan-pelan semakin menjadi. Surya mulai mengintip di timur sana, santun. Di mobilnya, Gavin pun diam saja. Hanya musik mengalun pelan-pelan sekali. Dua anak manusia itu tampaknya menemukan percakapan dalam diam. Mobil masing-masing beriringan menuju Jakarta. Matahari menyinari….

IX. Another Luka dan Sita.

DI DALAM rumah kontrakan, Sita dengan ngilu memandangi semua photo yang terpampang, terpacak dan berlagak di setiap sudut ruangan. Dia seperti sedang berbicara pada diri sendiri. Pada kegundahannya, pada kebingungannya, pada lamunannya;

‘’Hanya seperti ini akhirnya. Semua serba tidak terbaca. Meski aku sudah berusaha untuk meraba.

Kau pasti tahu, betapa aku telah berusaha untuk menjaga hati, dan perasaan ini. Tapi nyatanya

Memang hanya sampai di sini kemampuanku.

Aku tahu kau pasti juga lelah. Dan mungkin lebih lelah dariku. Maafkan aku.

Kita memang bukan kanak-kanak lagi. Aku juga tidak rela kalau keseharianmu hanya cenderung kau isi dengan kenestapaan. Kau pasti tahu sekali apa maksudku.

Ternyata, masing-masing dari kita tidak seperti yang kita bayangkan, dulu. Meski dulu kecocokan juga yang membulatkan kita untuk memberanikan diri pergi ke rumah pernikahan.

Siapa yang sanggup menjamin kelanggengan masa depan?

Aku juga tahu, dan sangat tahu sekali. Setelah dengan penuh kesadaran berjalan tanpamu, aku juga tidak yakin akan menemukan kebahagian sebagaimana yang pernah, dan telah kau berikan padaku. Tapi inilah hidup. Aku memutuskan untuk memberanikan diri menempuhnya; Apapun bayarannya.

Terima kasih untuk segalanya.

Terima kasih untuk keberadaanmu.

Terima kasih untuk kesejarahanmu.

Terimakasih untuk semua nasib baik dan buruk yang pernah dilukis bersama.

Mungkin hanya surga yang mampu membalasnya. Maafkan aku.

Kekasihku…

Mengapa selalu menjadi masalah bila yang jatuh cinta perempuan. Sedangkan jika laki-laki yang mengalami, semuanya menjadi lumrah’’.

Demikianlah Sita menarasikan keinginannya. Bersamaan dengan usainya dia menarasikan apa yang ada di benaknya, sebagaimana Luka, kenangan-kenangan kembali ke masa bahagia, ketika ia dan suaminya melangsungkan pernikahan, kembali menemuinya.

Semua orang tua tertawa. Semua saudara bercanda. Ayah ibu gembira. Air mata keharuan menghiasi paras-paras merona. Kawan-kawan pun bersuka cita. Adakah yang tidak berbahagia, ketika dua anak manusia saling mencinta, mencita, dan mendamba memantapkan mahligai mereka di pelaminan? Tapi sayang, aku dan almarhum Bianca tidak ada pada perhelatan mereka pada waktu itu. Dalam hal ini aku tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Luka.

Pernikahan yang indah memang cenderung membayang, sebagaimana Sita membayangkan masa indah itu. Siapa yang mampu membunuh ingatan?

Pada halaman terbuka sebuah rumah yang lapang, pada sebuah siang yang benderang. Resepsi pernikahan Sita dan Luka diselenggarakan dengan cara bersahaja, di selasar rumah orang tua Sita. Sanak saudara, handai taulan, kerabat, dan kawan dekat berdiri menikmati sajian yang ada. Anak-anak, putra dari paman dan bibi berlarian kian kemari meramaikan suasana. Di pojok sana, sekelompok grup musik keroncong rock modern, mendendangkan tembang-tembang pop yang akrab di telinga. Luka hanya mengenakan hem putih tanpa dasi, yang dipadukan dengan jas dan patalon hitam hitam kegemarannya. Dia dikelilingi kawan-kawan dekatnya.

Kepada kawan-kawannya Luka bercengkrama. ‘’Kapan kau menyusul,’’ tanyanya. ‘’Tenang, aku pasti akan menyusulmu di tikungan terakhir, bahkan bukan tidak mungkin, overlapping,’’ jawab kawan 1. Mendengar guyonan kawan 1, Luka dan kawan lainnya tertawa. ‘’Berapa banyak momongan yang kalian idamkan?,’’ tanya kawan 2 kepada Luka. ‘’Lima pasti fantastis!’’ tukas Luka tandas. ‘’Serakah kamu. Emang gampang membesarkan lima anak dengan cara yang baik, dan sepatutnya,’’ kejar kawan 3. ‘’Kalian akan ikut bertanggung,’’ jawab Luka sekenanya. ‘’Asal kami juga dilibatkan dalam proses pembuatannya!’’ tangkas kawan 4 sekenanya. Dan mereka semua, menderaikan tawa. Adakah yang lebih mudah, sederhana, dan menggembirakan selain menderai tawa atas nama kebahagiaan seorang kawan?

Sebagaimana Luka yang bercengkrama dengan kawan lelakinya, Sita melakukan hal yang sama. Tak kalah gencarnya, kawan Sita juga tidak kalah nakalnya mencecarnya dengan berpuluh canda.

‘’Posisi apa yang kalian gemari?’’ pancing kawan 1 sekenanya. ‘’Ada deh….,’’ jawab Sita tak kalah ngawurnya. ‘’Hari gini kok menikah sih…,’’ tanya kawan 2 menyelidik. ‘’Siapa bilang kami nikah. Kami maen-maen kok,’’ jawab Sita tak kalah isengnya. Mereka semua hanya tersenyum kecil. ‘’Aku sudah lama mendamba menjadi seorang ibu. Selamet ya Ta,’’ ungkap kawan 3 apresiatif. ‘’Makasih…,’’ balas Sita memulas senyum.

X. Harga Sebuah Kenangan.

Jakarta, pagi hari, WIB.

DI dalam rumah kontrakan, Sita tampak pulas dengan kesepiannya. Dia duduk tercenung di ruang makan. Sendirian menekuri nuansa dan aura meja makan. Mengenangkan segala ihwal yang berkenaan dengan masa silam. Tentang dirinya dan Luka yang sedang rukun memasak bersama di ruang dapur yang menjadi satu dengan ruang meja makan. Masak apa saja, dari tempe bacem, dan sambel goreng pete kegemaran mereka berdua, sampai nasi liwet sayur terong plus teri, dan ikan asin. Penuh tawa, penuh kegembiraan. Mereka berdua melakukan prosesi masak-memasak dengan penuh keriangan. Sebelum pada akhirnya menyajikannya di atas meja makan.

Pada kenangan lain, Sita menerawangkan tentang nuansa garasi rumah yang mempunyai kisahnya sendiri. Kisah tentang Luka yang sibuk membenahi mobil sedan Hyundai 95-nya; Lazuardi Luka-Mu Abadi. Kap mobil terbuka, dan Luka sedang menuangkan oli mesin baru, setelah sebelumnya menguras bersih oli lamanya. Sedangkan Sita, tiga langkah dari Luka, sibuk membaca Norwegian Wood; Haruki Murayami, di atas dipan santai, merebahkan seluruh tubuhnya. Sembari sesekali menengok kepada suaminya tercinta. Dalam hitungan jenak, Luka melakukan hal yang sama. Saling menengok, mengadu mata, menebak-nebak apa yang ada di benak masing-masing. Tanpa saling mengucap kata. Moment of silent. Sayang, sekarang garasi tidak semeriah dulu, hampa, sehampa pikiran Sita.

Namanya juga ruang keluarga, meski sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan ruang keluarga, kecuali menjadi pusat pasangan suami istri bercengkrama, Sita juga mencoba kembali menyusun puzzle raksasa kenangannya. Dalam benak Sita, bayangan Luka dan dirinya terpacak jelas kala sedang heboh bermain play station di depan tv. Sesekali mereka saling memekik, bersijingkat, memukul lantai, saling melempar bantal ke muka seterunya. Seru, kadang dipenuhi gelak, sekaligus penuh kasih sayang. Ngangeni. Tapi itu masa lalu, siapa yang sanggup berunding dengan waktu? Yang tampak sekarang di depannya adalah ruang keluarga yang kaku, beku, dan mengasingkan. Menawarkan kehampaan di setiap matanya menekuni setiap jengkal ruangan. Perangkat tv dan play station seperti batu di tempatnya masing-masing. Bantal tertata rapi di depannya. DVD dan kaset games bersebelahan terkoordinasi, resik. Semua hampa, tanpa rasa, tanpa nyawa, suwung.

Pelan Sita memutar langkah menuju dak atas rumah yang bersebelahan dengan genting rumah tetangga. Biasanya, jika dia berada di sana, Sita sedang sibuk menjemur pakaian yang baru dicucinya dari mesin cuci. Sementara Luka sibuk menari Jawa empat langkah di sampingnya. Luka hanya mengenakan celana panjang olah raga, dan membiarkan telanjang dadanya. Sesekali tarian Jawa alusan berubah menjadi gerak meditative layaknya gerakan Tai Chi. Dengan latar belakang jemuran tempat istrinya melakukan aktifitas kewanitaannya, Luka terus menari sembari sesekali beruluk senyum dengan istrinya. Dan sekarang, yang didapatinya tak lain hanya dak yang sepi dan mati. Sita hanya terpaku. Mematung batu menekuni matahari pagi, sembari sesekali menilik jemuran yang kosong melompong, berpisah dengan pakaiannya. Demikian halnya loka tempat Luka biasanya menari jawa alusan yang dipadukan dengan gerakan meditative Tai Chi, kosong, hampa, suwung.

Puas di atas dak rumah, Sita menggeser diri menuruni tangga ke arah kamar mandi. Mengenangkan diri ketika dia sedang berada di dalam kamar mandi, sementara Luka menunggu penuh kegelisahan dan keingintahuan di pintu luar kamar mandi. Ketika tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, seketika itu juga, dalam hitungan detik, Sita melompat penuh kegirangan kepelukan suaminya. Positif, Sita menunjukkan test pack kehamilan di tangannya dengan penuh suka cita kepada Luka. Ya, mereka berdua sedang merayakan kehamilan dan berdiamnya janin buah cinta mereka di rahim Sita.

Saking gembiranya mereka, Luka membopong istrinya ke segala arah rumah kontrakan mereka. Mereka menangis tertawa. Penuh suka cita, mengabaikan semua yang ada.

Sampai di sini, masih di depan pintu kamar mandi, akhirnya Sita tak kuasa lagi membendung air matanya. Tetesan air mata itu menyungai di ranum pipi halusnya. Isaknya mulai terdengar satu dua. Namun, Sita berusaha untuk tetap tegar mengenangkan segala kebahagiaan dengan suaminya. Sembari menyandarkan semua beban tubuhnya di tembok, depan kamar mandi.

Dengan tenaga yang tersisa, Sita membelokkan langkah untuk terus memberanikan diri membayar semua kenangan dengan air mata. Kali ini, giliran kamar tidur, tempat segala hasrat, impian, amarah, ancangan-ancangan dan candaan paling kerap diidamkan.

Tampak Luka asyik masyuk dengan buku bacaannya; Perang Eropa, P.K . Ojong. Dengan menyandarkan sebagian badannya di sandaran tempat tidur, sementara paha Luka menjadi landasan kepala Sita yang juga asyik dengan buku koleksi suaminya; An Illustrated History the Great October Socialist Revolution.

Masih dengan keharuan yang tersisa, Sita lagi-lagi hanya mampu menerawangi tempat tidurnya yang tertata rapi dengan kehampaan yang tak terkira. Buku suaminya masih tertata rapi di pojok sana. Sedangkan buku-buku Sita tak kalah rapinya di sisi satunya. Ia menghela nafas panjang dan pelan.

Hingga akhirnya, di luar perkiraannya, terdengar deru mesin mobil yang sudang sangat akrab sekali di telinganya. Ya, suara mobil Luka terdengar jelas dari dalam pintu kamar tidur dimana Sita berada. Sita bungah, dan bersegera menuju ke pintu masuk rumah, membuka, dan mendapati mobil suaminya sudah berada di depan rumah mereka. Demikian halnya dengan Luka, setelah sampai di depan rumah. Ia segera memasukkan mobilnya, seperti biasa ke dalam garasi. Sementara Sita mematung paku di pintu depan rumah, hanya mampu menatap suaminya dengan pandangan ngilu. Setelah turun dari mobil, Luka juga melakukan hal yang sama sebagaimana dilakukan Sita, menatap dan menangkap kesenduan istrinya. Mata mereka bertemu, mata mereka sama-sama jemu, sama-sama kaku.

Dengan langkah berat, Luka menuju ke dalam rumah, melewati Sita yang masih berdiri di depan pintu. Mengabaikannya. Mata mereka memang sama-sama sembab. Sita sembab karena habis menangis, sedangkan Luka lantaran kantuk yang tertahankan. Namun, dalam hitungan detik, saat mereka bersisipan di depan pintu. Mata mereka beradu. Tanpa kata tanpa rasa. Dengan berjalan pelan, pelan sekali. Luka menuju ruang keluarga, menatap setiap photo yang terpacak di sana tanpa menyisakan perasaan apa-apa. Sekali lagi dengan mengabaikan istrinya. Padahal Sita membuntut di belakangnya, persis dua langkah di belakangnya. Tidak ada kata yang tereja dari mulut mereka berdua. Tidak juga desah, apalagi serapah. Mereka duduk berdampingan, bersebelahan, tapi jiwa mereka merenggang, berlawanan arah.

Luka masih menyimak photo keluarga, dan Sita menyaksikan paras suaminya dengan takzim, dan hanif sekali. Pelan-pelan Sita memeluk dari samping tubuh suaminya terkasih. Luka membiarkannya. Diam-diam mereka menangis berdua. Saling merinaikan air mata. Sebelum pada saatnya Sita mendaratkan ciuman di kening samping Luka, dan akibatnya, Luka semakin terisak dibuatnya.

Namun, lagi-lagi, dalam hitungan detik, pelan, pelan sekali, pemandangan terpeluknya Luka oleh Sita menghablur, retak, dan pecah berkeping-keping. Mereka masih di posisi masing-masing, Luka masih menyimak photo yang tepacak di setiap tempat ruang keluarga, dan Sita hanya menekuni paras suaminya.

Pemandangan dipeluknya Luka oleh Sita hanya ada di benak ideal saya. Karena, bagaimanapun saya tahu masih ada cinta yang kuat diantara mereka berdua, bahkan dari cara Luka menuturkan ceritanya padaku, aku tahu dia masih menginginkan Sita untuk mengandung lagi buah hatinya. Tapi siapa yang mampu menebak ke mana arahnya hidup?

 

JIKA Sita memberanikan diri membayar kenangannya dengan air mata, tidak dengan Luka. Luka rupanya memutuskan untuk berhenti berpikir apalagi mengenangkan masa lalu. Meski tentu saja tidak semudah yang dia harapkan. Karena, kilatan-kilatan kegelisahannya selalu terus datang menawar-nawarkan kenangan yang sebenarnya dia larang masuk ke rumah ingatannya. Tapi, dia toh hanya manusia biasa yang tidak akan pernah bisa begitu saja lepas dari jerat masa lalunya. Apalagi menghelanya.


‘’Ya, beginilah jadinya.

Kami bersebelahan tapi sangat berjauhan.

Entah siapa yang memulainya.

Diriku, dirinya atau keadaan yang memaksanya.

Dia yang telah membunuh cintanya, atau akulah pelakunya?.

Siapa pun itu, taman bunga yang dulu pernah saling kami jaga dan sirami, dengan segala kebaikan dan kesabaran, sudah layu adanya. Dan mati entah karena apa?

Mungkin kedewasaan kami penyebabnya.

Rasionalitas kamilah pembunuh sebenarnya’’.

Selama Luka menarasikan benaknya, mereka berdua masih duduk terpekur di posisi masing-masing. Tak ubahnya patung lilin. Tak ubahnya jasad beku. Sementara di benak Sita, narasi pikirannya makin mengembara;

‘’Sejatinya aku tidak punya hati untuk membiarkan hal semacam ini sampai terjadi.

Tapi apa mampuku mengendalikan jalan hidup?

Ia berjalan tidak sesuai dengan apa yang ada di benakku, dan benak suamiku.

Dia memang suami yang baik. Aku dan semua orang tidak mungkin membantah itu. Buktinya, bahtera berjalan dengan sahaja di bawah kendalinya. Dan aku nyaman dibuatnya. Bahkan aku bangga, bangga sekali pernah mengandung anaknya.

Aku memang mencintainya, dari mula hingga sekarang. Dan mungkin bahkan sampai akhirnya nanti…Tapi, aku juga tidak tahu apa yang terjadi dengan jalan hidupku ini.

Memang ganjil hidup ini’’.

Begitulah cara Luka dan Sita menyelesaikan permasalahannya. Tanpa pekikan, teriakan, serapah apalagi amarah. Mereka menyelesaikan perbedaan dengan menghadirkan bayang-bayang kebahagiaan berdua, untuk datang kembali, setelah itu menghalaunya pergi, untuk terakhir kali. Dari masa pernikahan, memasak berdua, renang berdua, membaca buku berdua, main game berdua, menjemur pakaian berdua, jogging berdua, belanja di toko buku berdua, menari berdua, dan semua keberduaan…

Demikianlah kebersamaan Luka dan Sita berakhir.

 
MARI MENARI (Bagian I) PDF Print E-mail
Written by Benny Benke   
Selasa, 15 Maret 2011 06:20

15 November 2005.

Novel

MARI MENARI

kisah sepertemuan tentang orang-orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri.

Benny Benke

I

I. Luka

2002, dan terus berjalan.

INI bukan kehilangan pertama bagi Luka sejak Ratna, penghuni rumah hati yang menyemarakkan rumah kehidupannya, memilih ‘keluar rumah’ untuk berbahtera dengan laki-laki lain. Yang sejatinya tidak lagi menjadi pilihan hatinya, atas nama desakan keadaan, nasib, misteri, kebodohan atau apa pun namanya yang tidak lagi mendukungnya untuk mengambil sebuah tindakan bebas, dan berpikir merdeka. Dan Ratna, terlebih Luka, tidak mampu berbuat apa-apa karena kuatnya desakan itu, kecuali membekuk egonya demi menyelamatkan selembar nyawa.

Hari-hari selanjutnya yang dia lewati, tak lebih dan tak kurang sangat dekat dengan kekalangkabutan. Meski terdengar naif dan bodoh, namun nyatanya, kehilangan Ratna, bagi Luka adalah bukan ihwal yang gampang. Lantaran Luka tidak mau kalah oleh cinta, akibatnya, meski harus menanggungkan deraan lara, dia memilih untuk tetap berani membayar dengan menghadapi, melewati bahkan menaklukkannya.

Entah apa yang dirasakan Ratna, karena setelah peristiwa itu, tidak ada lagi sapa diantara hati mereka. Meski terkadang lewat mimpi Luka bersua Ratna, tanpa kata. Entah dengan mimpi Ratna. Apakah ia merasakan hal yang sama sebagaimana yang dirasa dan impikan Luka?.

24 purnama sebelumnya, Luka juga pernah kehilangan istrinya, atas nama desakan keadaan, nasib, misteri, kebodohan, atau apa pun namanya yang lagi-lagi tidak berpihak di sisinya.

Meski toh akhirnya dia bisa menghadapi dan melewati keduanya.

Namun, kali ini. Kehilangan kali ini lebih tidak terperikan payahnya. Kehilangan gairah untuk memberdayakan hari dan merayakan hidup adalah sebuah kehilangan yang melebihi kematian itu sendiri.

Kesepian memang tidak mengenakkan. Namun, bukankah Luka sudah terlatih, terbiasa serta tertempa oleh penderitaan. Bahkan hampir dapat dikatakan dia akrab dan bersobat karib dengan hampir semua ketidakenakan dalam hidup.

Coba, sebutkan berbagai macam kata yang mewakilkan ketidaknyaman. Dari kesendirian, kesepian, keterasingan, kemonotonan, kebosanan, kekurangan, ketertekanan, ketumpulan, kebodohan, kesalahpahaman dan kesalahkaprahan sudah teramat sering berseiring dengan kesehariannya. Jadi, apa yang aneh dengan ketidaknyamanan dalam hidupnya? Bukankan Luka sejatinya sudah terlatih dengan lara lapa hidup. Lalu, mengapa mesti masih ada keluhan?

‘’Semakin aku mampu, bisa apalagi kuat menghadapi sebuah permasalahan atau perkara yang dicobakan kepadaku, maka akan datang kelanjutan perkara berikutnya. Demikian seterusnya. Seakan tidak akan pernah ada habisnya menyapa dan merongrongku,’’ tulisnya lewat coretan dalam buku harian yang tidak melulu saban hari disambangi.

‘’Bahkan pernah, seakan aku merasa nasib berlomba dengan ketahanan tubuh, dan jiwaku dalam menerima, mengolah, dan mencerna segala yang diberikannya kepadaku,’’ imbuhnya.

Memang, Luka pernah beberapa kali bertutur lewat skenario, prosa, aforisme, naskah drama, lirik lagu dan sajak tentu saja. Perihal ketahanan tubuh, dan jiwanya yang cenderung mampu menerima diperlakukan apa saja oleh keadaan. Namun, semakin dia mampu berkawan dan berprasangka baik dengan keadaan, semakin tidak karuan dan seenaknya keadaan memperlakukannya. Huh...

Huh, yang diberikan Luka tentu saja sebuah candaan dan kelakar untuk tetap membesarkan hatinya. Itu hanya siasat belaka. Karena Luka juga kerap mengklaim, bahwa semakin dekat dia dengan segala jenis penderitaan, maka, semakin dapat ia merasakan betapa masih beruntungnya dia....

Mengapa demikian?

Inilah senukil kisahnya.

MALAM belum benar-benar sempurna, masih terlalu muda, bintangnya bahkan belum hadir semuanya ketika Luka memutuskan pulang ke rumah, seorang diri. Malam memang masih pagi, karena remaja putra-putri yang berpasangan dan sedang kepayang asmara bahkan baru saja menginjakkan kakinya di aspal jalan raya. Bahkan rumah hiburan yang menyajikan berbagai musik hidup pun, baru saja memainkan lagu perdana, dari jadwal hingga jam 2 dini hari atau bahkan lebih, sebagaimana galibnya.

Luka memang sangat biasa, dan bisa sekali menghadirkan serta mewarnai hidupnya sebagaimana malam Minggu itu. Tapi, buat dia, buat laki-laki yang telah melewati usia kepala tiga, sudah terlalu lelah hanya menjadi saksi malam dengan berbagai macam tawaran keceriaannya. Tataran Luka sepatutnya mungkin sudah lebih dari itu. Lebih dari sekedar kepayang kepada asmara, eloknya malam Minggu atau bergandengan tangan dengan orang yang disayang, dan menyayang.

‘’Aku sering bingung dengan apa yang sebenarnya aku mau’’, ujarnya lirih kepada igau, yang tentu saja bisu sampai kapan pun. Hanya lamun yang ia bawa. Dalam beberapa perkara memang aneh pikiran Luka. ‘’Karena memang aku tidak akan pernah mampu mendiskripsikan bagaimana jalan pikiran dan hidupku pada akhirnya?’’.

Kalau untuk masalah itu, semua orang pasti akan bersepakat dengan dirinya. ‘’Tapi, paling tidak, aku tidak akan menyerah begitu saja. Menyerah pada penderitaan yang siap menelikung kapan saja, dan ada di mana saja tanpa kita tahu dan mau, sama saja artinya menyerah di medan laga, bahkan sebelum genderang peperangan ditabuh. Aku berpantang untuk itu. Menyerah sebelum benar-benar kalah’’.

Benar, meski terdengar naif, bodoh dan menggelikan, nyatanya anak muda ini memang belum selesai berperkara dengan dirinya sendiri. Dengan nasibnya, dengan segala kegelisahannya, atau apapun itu namanya. Jadi, maklum saja jika dia berperangai seperti anak kemarin sore yang baru bersua perkara, dan petaka. Kemudian kerepotan menyiasatinya.

Ya, bagi Luka dalam banyak hal Kehidupan akan mencandainya dengan berbagai macam cara, bahkan lewat tragedi yang paling tidak ternalarkan oleh akal cerdik manusia yang paling cendikia, hingga hati yang paling religius sekalipun.

Siapa yang sanggup menjabarkan dengan baik, benar, nalar dan bijak apa yang terjadi dengan kemiskinan, pemiskinan, dan pemelaratan dunia ketiga oleh negara Adi Daya, dan peristiwa tsunami yang menghantam sebagian wilayah Asia Tenggara serta Aceh misalnya. Atau berbagai peristiwa bencana entah apa lagi nanti yang akan semakin akrab, dan dekat dengan kehidupan kita?

Oleh karenanya Luka menginginkan sesuatu yang lain, sesuatu yang mampu memacu adrenalinnya berpacu, bergejolak, berderak, bergerak sekaligus berarak. Dan itu, klaimnya, datangnya dari sebuah perkara bernama perkawinan. Perkawinan? Ya, menjadi pengantin adalah keinginan terbesarnnya saat ini. Di tengah kekurangmampuan mengelola emosi, ketidakcukupan finansial, kestandaran moralitas, kedangkalan religiusitas, dan kepas-pasan intelektualitas. Menjadi pengantin adalah sebuah keyakinan yang dia klaim justru mampu membuatnya merangsang pertumbuhan dan mengasah kekurangannya akan moralitas, religiusitas, intelektualitas dan capaian finansial.

Mengapa bisa demikian?

Inilah kisahnya.

Maka berbicaralah Luka tentang pernikahan.....

DULU, dulu sekali, ketika masa remaja sedang polos-polosnya, cemerlang dan kejayaan berada di genggamannya, di benak Luka hanya ada satu cita penuh asa; menemukan dan ditemukan oleh perempuan yang memang benar-benar menjadi penghuni dan penyempurna rumah hatinya.

Dalam perkara ini, sindrom roman picisan perihal pangeran dan putri yang saling berbagi, mengasihi, melindungi, dan menghormati memang mengental di isi batok kepalanya. Maklum, segala pengaruh yang datang dari bacaan, tontonan dan perbincangan perihal ‘’pasangan hati abadi yang bahkan mati pun tidak akan pernah bisa memisahkan cinta sejati, ‘’ adalah sebuah pencapaian ideal yang nyaris hampir semua anak muda pada masa itu mengidamkannya. Meski terdengar kuno, picisan dan membikin kita geli, nyatanya Luka hanyalah salah satu dari ribuan pemuda-pemudi yang berpikiran serupa.

Semudah itukah apa yang ada di benak Luka direalisasikan dalam kesehariannya?

‘’Tidak semua yang aku inginkan berbanding lurus dengan yang aku dapatkan. Justru, sering berseberangan bahkan berbanding terbalik dengan apa yang aku idamkan. Kata orang tua, inilah yang namanya hidup. Kau atau siapapun tidak akan pernah dapat menawar-nawar bagian mana yang semestinya kau terima atau tidak. Kita hanya mampu menerima dalam ‘bentuk jadi’. Meski tentu saja kita tetap harus dan terus mengupayakan dengan keras kemauan kita. Entah sampai kapan,’’ tulisnya pada sebuah aforisme. Tu kan, super klise lagi....

‘’Tapi sebenarnya aku juga kerap melakukan beberapa kekeliruan yang mendasar perihal perempuan,’’ ujar Luka kepadaku.

‘’Yang bagian mana itu,’’ tanyaku pada sebuah perbincangan di bawah tikungan malam.

‘’Ketika sebenarnya aku pernah menemukan seorang perempuan yang benar-benar menyayangiku, tapi aku tidak begitu tahu benar bagaimana caranya memperlakukan rasa sayang itu dengan baik dan sepatutnya. Hingga pada akhirnya, sebagaimana cerita lawas, aku baru menyadarinya ketika dia sudah pergi dari sini,’’ imbuhnya yang terlihat mencoba menata hati.

‘’Mengapa tidak kau ulang, atau paling tidak kau cari lagi ke mana perempuan itu pergi?’’

‘’Keadaan telah banyak berubah, waktu tidak selamanya berpihak di sisimu. Siapa yang tahu perasaan manusia, ketika waktu sudah demikian panjang meninggalkan kita’’.

‘’Kau belum mencobanya’’.

‘’Entahlah, aku tidak ingin saja’’.

‘’Kau lebih suka berprasangka buruk dengan keadaan dan dirimu sendiri’’.

‘’Mungkin. Tapi memang demikian yang aku rasakan’’.

‘’Kau seharusnya mencoba lagi, betapapun keras dan berat resikonya, jika ingin benar-benar mewujudkan apa yang kau inginkan. Bukankan kau tahu benar tentang hal itu. Kau sendiri yang sering mengatakan tentang hal itu padaku. Jangan sok lupa dengan sesuatu yang kau sendiri sangat meyakininya,’’ cecarku kepadanya.

‘’....’’

‘’Mengapa kau hanya diam’’.

‘’Aku sedang berpikir’’.

‘’Kau sudah terlalu kerap dan lama untuk berpikir. Bertindaklah, bergeraklah, berbuatlah, apa pun itu,’’ kataku menasihatinya, layaknya orang tua kepada anak-anaknya.

‘’Sok tua kamu...Tau apa kamu tentang perasaan orang lain,’’ tangkisnya datar.

KAMI memang kerap berbantahan dengan semangat kekeluargaan, sampai semangat permusuhan sekalipun. Tidak ada yang tersinggung diantara kami. Karena, bagi kami berdua, ketersinggungan hanya sebuah kesia-siaan dari sebuah kehidupan yang lebih indah jika dimaknai dengan hal-hal yang lebih indah; cengengesan misalnya.

Cengengesan dalam bahasa Jawa berarti mringis tapi seneng. Bagaimana aku harus mengalihbahasakannya ke dalam bahasa Indonesia, yang sebenarnya sangat mudah dan gampang menyerap bahasa dari akar kebudayaan bahasa mana pun. Ah, kalian pasti tahu apa itu cengengesan...Ya itu tadi, alih-alih mengisi kehidupan dengan ketersinggungan, saya dan Luka lebih suka mengisinya dengan cengengesan...

Pernah, sebuah kehilangan yang sangat terhadap sebuah kehidupan hanya kami wakilkan dengan sebuah cengengesan. Kesedihan memang sepantasnya hadir pada saat itu, tapi dengan sadar dan sengaja tidak kami perkenankan serta.

‘’Teman kita, Kala, meninggal tadi malam, padahal siang dan sore harinya almarhum berbaku ejek denganku’’, ujar Luka memberitahukan wafatnya Kala kepadaku, yang setengahnya aku juga tidak percaya dengan kepergiannya yang serba mendadak. Mendadak mati!

‘’Iya, sialan memang dia, mau pergi nggak ngasih tau!’’.

‘’Iya, padahal almarhum tidak suka menelikung sepanjang hayatnya. Kok sekarang tiba-tiba dia, dalam hitungan kedip, pergi begitu saja tanpa sebuah kata pamit. Nggak sopan memang dia...Nggak pantes orang seperti itu dijadikan temen’’.

Demikianlah kami menertawai kepergian seorang kawan, tanpa harus menghilangkan simbol-simbol penghormatan terhadap orang yang sudah meninggal.

Antara aku dan Luka sebenarnya memang dekat, meski sebenarnya tentu saja tidak semua hal kami ceritakan. Sebagaimana hampir semua orang juga maklum, sedekat-dekatnya kami, sedekat-dekatnya sebuah perkawanan, tetap ada hal-hal yang diperuntukkan untuk dirinya sendiri.

Seterbuka sebuah perkawanan, atau seterbukanya seorang pribadi tetap ada sebuah rahasia yang tersimpan rapi untuk dirinya sendiri. Tidak juga untuk orang yang sangat, atau paling dipercayainya sekalipun.

Apakah kau, Anda, tuan dan puan adalah salah satu orang yang senantiasa menuturkan apa yang kau, Anda, tuan dan puan alami, dan rasakan kepada orang lain selain dirimu sendiri? Aku pikir tidak akan pernah ada orang yang benar-benar seperti itu.

‘’Pernah aku sangat terbuka kepada orang yang paling aku sayangi dan dia tentu saja menyayangiku,’’ kisah Luka kepadaku.

‘’Lantas, apa yang terjadi?’’

‘’Ketika hubungan kami berakhir, masing-masing dari kami memang menyimpan rapi sekali rahasia antarkami berdua. Dan, hanya kami berdua yang tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan diri kami’’.

‘’Ah, kau terlalu berlebihan. Menurutku tidak ada orang yang benar-benar tahu apa yang terjadi dengan dirinya sendiri,’’ sanggahku cepat.

‘’Paling tidak, kalu tidak mencapai angka 100 persen, aku mendekati capaian angka 75 persenlah,’’ tangkisnya.

‘’Aku juga tidak pernah tahu pasti dengan kehidupanku kok’’.

‘’Aku tahu itu sejak awal kenal denganmu. Kau bahkan tidak begitu peduli dengan apa yang terjadi dengan dirimu bukan? Selama kau bisa cengengesan seperti biasanya’’.

‘’Kau tahu jawabannya kan..’’

Dan kami berdua cengengesan lagi, nyengir, tertawa pelan.

PERNAH, pada sebuah masa aku kehilangan anak semata wayangku yang sedang lucu-lucunya. Umurnya belum genap empat tahun. Dia bocah laki-laki yang sedang di puncak nakal-nakalnya. Apa pun yang dia lakukan, bahkan yang paling menyebalkan sekalipun, seuntai hardik pun tidak pernah aku layangkan padanya.

Aku malah tertawa-tawa, dan berujar ringan,’’Wah hebat ya. Jagoan ayah memang sangat bisa diandalkan,’’ kataku lirih kepada Tristan, almarhum anakku yang baru saja membanting pistol mainan seharga separoh gaji pokokku sebulan.

Tristan, yang tingginya nyaris 100 cm dan beratnya 20 kg memang matahari kehidupanku, sejak almarhum ibunya mangkat setelah proses persalinannya. Waktu itu, bumi seperti runtuh di mukaku manakala Bianca, istri terkasihku pergi dengan cara memberi sebuah matahari baru. Tak terperikan perihnya ditinggalkan penghuni jiwa, yang baru saja menghadiahkan permata jiwa baru..... Tapi, aku mempunyai tanggung jawab yang lebih besar untuk membesarkan anakku, daripada terus-terusan menangisi kepergian istriku, yang juga membawa serta separuh nyawaku bersama kepergiannya.

Namun, apa boleh buat, belum empat tahun keadaan membesarkan hatiku, dengan kehadiran Tristan yang menyinari keseharianku, maut seperti pemain bola yang bergerak tanpa pola, bertindak dan berkehendak lain. Demam berdarah tanpa permisi menghajarnya tanpa ampun. Demam panasnya tinggi sekali, melebihi ukuran normal, dan trombositnya, ya ampun..., sudah nyaris habis digerus parasit nyamuk aedes aegepty. Dokter tidak mampu berbuat apa-apa kecuali hanya berujar ringan,’’Kami sudah berusaha sebaik mungkin’’. Dan, yang paling menjengkelkan pihak rumah sakit berdalih, ’’Andai saja anak bapak dibawa ke rumah sakit lebih cepat, tentu akan lain ceritanya’’.

Olala, siapa yang tahu usia dan ajal seseorang. Hampir saja dokter dan seisi rumah sakit itu aku bakar dengan segala amarah dan angkaraku. Tapi para sekuriti rumah sakit yang berjumlah lebih dari enam orang berperawakan kiyeng dan sekel, dengan sigap menyergapku. Yang lebih untung lagi, adzan magrib berkumandang, dan Luka membisikkan istigfar di telingaku. Maka, untuk sementara aku mampu menenangkan lagi emosi. Merehatkannya di ruang hatiku entah di sebelah mana.

Siapa yang tidak mengangkasakan angkara jika si ranum buah hati, dan matahari kecilnya pergi meninggalkannya selamanya. Pekikan, teriakan, kegaduhan, keonaran, dan kerusuhan yang biasanya ditimbulkan Tristan tiba-tiba, dalam hitungan jenak, hilang entah ke mana. Anak nakal itu telah pergi meninggalkan ayahnya, yang sejatinya hanya menyandarkan hidup di dunia ini hanya untuk, dan demi dirinya seorang. Setelah istriku pergi, kini giliran anakku mati. Dan aku, sendiri lagi. Tidak ada yang lebih mengerikan dalam hidup ini kecuali pernah merasakan keceriaan dan keriangan dalam sebuah kebersamaan, namun dalam hitungan detak, raib hanya karena maut tidak pernah permisi datang menghampiri. Layaknya pencuri.

Cukup lama aku mengembalikan kekuatanku untuk kembali menghormati hari. Luka sekali dua datang ke rumah yang sebenarnya ingin aku tinggalkan, karena terlalu banyak menyimpan memori indah yang telah aku lewatkan bersama Bianca dan Tristan.

Luka juga yang sedikit banyak membesarkan hatiku untuk terus dan terus bertahan hidup. Dengan kehati-hatiannya dia mencontohkan betapa tidak terperikannya luka tragedi tsunami yang menghantam beribu-ribu keluarga, dan menghancurkan tatanan kebahagiaan di dalamnya, dalam hitungan detik. Meski ada satu dua orang yang kehilangan kewarasannya, Luka yakin aku tidak akan mengalami hal serupa.

‘’Mosok jagoan seperti kamu mau bunuh diri. Malu kan sama almarhum Bianca dan Tristan,’’ ejeknya kepadaku. Aku hanya tersenyum kecut. Meski senyumku belum bulat benar pada waktu itu.

‘’Ingat,’’ kata Luka,’’Di sana, di alam entah yang di sebelah mana, kedua manusia yang paling kamu cintai dan mencintaimu itu telah padu, dan mereka berdua pasti berharap kamu, orang yang paling dicintainya akan mampu, dan sangat mampu sekali melewati serta menjalani semua ini dengan sangat baik, dan baik sekali. Karena kau adalah orang pilihan yang harus ditimpakan soal-soal pilihan juga,’’ imbuh dia. Untuk pilihan kata di kalimat terakhirnya, kalau aku pikir-pikir kala itu, mujarab juga membesarkan hati. Ya salah satu kelebihan Luka adalah membesarkan hati orang-orang yang ada di sekitarnya. Bahkan, konon, perempuan yang nyata-nyata telah dia kecewakan dan ditinggalkannya karena alasan entah sekalipun, tetap bisa dia besarkan hatinya.

HIDUP memang hanya masalah manajemen membesarkan hati. Demikian aku akhirnya meyakini. Luka pun merasakan hal yang serupa. Betapa tidak, kami berdua adalah berandalan kehidupan dengan pengalaman ditinggalkan kehidupan. Jadi, jika ada yang berani macam-macam dengan kami, tidak ada yang perlu kami takutkan dan khawatirkan. Kecuali kami berhadapan dengan orang-orang yang mempunyai pengalaman kehilangan yang jauh lebih dahsyat. Maka, kami akan berhati-hati, dan sebisa mungkin malah sangat menghormati, dengan menundukkan hati. Dan, jika dimungkinkan, kami akan bercermin atas ketegaran mereka. Siapapun itu. Tidak peduli mahkluk atheis paling kiri jalan terus.

Mengapa sampai pengalaman kehilangan membuat kami cenderung lebih berani menghadapi hidup. Dibandingkan dengan orang kebanyakan yang manis dan lurus-lurus saja jalan hidupnya? Kami tidak tahu pasti apa jawabnya. Yang pasti, karena telah lumayan berpengalaman kehilangan, membuatku dan Luka nothing to lose menghadapi kehidupan ini. La wong kami sudah biasa kehilangan ini!

Bahkan pernah, ada sebuah masa, pada sebuah pengalaman, Luka tiga kali bermasalah dengan Militzie, polisi penjaga Krasnaya Ploshad, Lapangan Merah di Moskwa Rusia, sana. Perihal apa? Karena dia nekat mengambil gambar mouseleum Lenin, yang di sana jelas-jelas terpampang gambar kamera yang disilang. Alih-alih gentar dengan militzie bekas negara tirai besi itu, dia malah cengengesan ketika sang militzie yang enggan menggunakan bahasa Inggris melainkan bahasa ibunya, hendak menahan kamera dan dirinya. Meski akhirnya lolos juga dari sangkaan dan praduga militzie yang sedang gencar-gencarnya mencurigai orang kulit berwarna seperti dirinya - karena bantuan seorang kawan yang mahir berbahasa Rusia - , Luka tetap menganggap peristiwa tadi barang yang biasa-biasa saja.

Tidakkah Luka menyadari, bahwa para militzie mempunyai kewenangan untuk menahan, menangkap, dan mengintograsi siapa saja yang dianggap membahayakan keamanan negara?

‘’Ah, dengan gegap gempitanya perkara hidup aku cenderung berani, mosok hanya dengan militzie aku gentar dibuatnya,’’ tuturnya cengengesan. Terkadang memang sok dia

Benar saja, di dalam komplek Kremlin yang hanya berbatas dengan tembok raksasa dengan Lapangan Merah, Luka malah meminta tolong kepada militzie yang berjaga di sana untuk memotret dirinya dalam sebuah pose di depan genta, dan kanon raksasa, peninggalan masa Perang Dunia I.

‘’Tapi kenapa waktu pada saat kau berada di dalam mouseleum Lenin, dan saat mengadu mata dengan mata terpejamnya jasad Lenin, kau tidak meminta tolong kepada para militzie di sana untuk memotret dirimu dengan almarhum pendiri Rusia Raya?’’ tanyaku menyelidik.

‘’Nekat ada tempat, dan perhitungannya bung,’’ jawab Luka enteng seolah sekenanya.

Memang, sewaktu di dalam mouseleum Lenin, Luka, kisahnya, anteng sebagaimana orang kebanyakan, lantaran memang aturannya baku demikian. Sakelik. Semua orang harus menghormati jasad orang yang sudah mati. Apalagi yang terbaring mati dan kaku ini adalah pendiri dan peletak dasar bangsanya Vladimir Putin.

Luka juga pernah bercerita kepadaku tentang kegilaannya saat baru saja memasuki usia kepemudaan. Waktu itu di Bali, ketika perjalanan pulang dari Denpasar nuju Singaraja lewat Bedugul. Kebetulan tepat tengah malam, dan kabut sedang tebal-tebalnya. Alih-alih menasehati Ponti, kawan baiknya seorang driver ulung, untuk melambatkan laju CJ 7, dia malah memprovokasinya untuk melajukan mobilnya di jalanan menanjak, menikung, dan berliku kemudian menurun itu, dengan kecepatan maksimal.

‘’Aku mengharamkannya menginjak rem. Melambatkan hanya boleh dengan cara mengganti gigi. Dan, sekaligus sebuah larangan baru; dilarang menghidupkan lampu!’’

‘’Kalian pasti celaka pada akhirnya’’.

‘’Nggak, semua baik-baik saja. Meski kami mematikan lampu mobil sekalipun. Betapa tidak, ada atau tidak ada lampu keadaan jalan sama-sama tidak terpantau, karena kabut sedang menghebat. Kami hanya mengandalkan ketajaman pandangan mata, dan insting berkendara di jalan raya, plus bantuan sinar rembulan yang tak seberapa terangnya’’.

Menurut Luka, memang tidak ada yang terluka dengan keenam kawannya yang semobil dengannya. Hanya saja pada tikungan terakhir menjelang Gitgit, sebuah daerah yang masuk wilayah Buleleng, ball joint CJ 7 jebol, dan mobil teronggok di sisi kiri pinggir kebun vanila. Terpaksa, dia bersama kedua sejawatnya yang lain berjalan kaki nuju kota Singaraja yang kira-kira masih berjarak lebih dari 10 km dari Tempat Kejadian Perkara, di tengah malam buta!

‘’Padahal sebuah operasi usus buntu baru saja aku jalani,’’ kenangnya.

Aku juga pernah menyimak kisah dari seorang kawan, Luka pernah ditahan di salah sebuah penjara di wilayah Jakarta Pusat karena sebuah kasus politik. Dia berusaha melompati pagar salah satu kedutaan besar Negara sahabat di jalan Thamrin. ‘’Dalam rangka tuntunan referendum untuk Timor-Timur,’’ katanya. Waktu itu dia tertangkap dan terpaksa diinterogasi lebih dari 24 jam nonstop di sebuah Polsek di Jl. Matraman, sebelum akhirnya dibebaskan setelah International Red Cross menekan Pemerintah Indonesia untuk membebaskannya dengan beberapa kawan lainnya. Permasalahan selesai?

‘’Nggak semudah dan sesederhana itu’’.

Sepulang dari Jakarta, dia yang waktu itu tergabung dengan salah sebuah gerakan mahasiswa yang terhitung radikal pada masanya, melanjutkan aksinya menentang kebijakan Pemerintah di Surakarta. Sebuah kota budaya di Jawa Tengah. Sepulang dari Surakarta, setelah menyaksikan betapa tentara dengan ringan tangan dan kaki menghajar rakyatnya sendiri, karena menuntut perbaikan nasibnya, sebuah berita pemecatan dari almamater menuggu. Oh ya, taukah kau, Anda, tuan dan puan, Luka pada saat aksinya di Solo mempunyai salah satu tugas, diantaranya menjaga keselamatan Widji Tukul dari penangkapan aparat? Widji Tukul? Ya, penyair buruh yang fasih berpekik, ‘’Hanya ada satu kata; Lawan’’ itu? Yang akhirnya hilang atau dihilangkan entah oleh siapa, tapi menurut subyektifitasnya memang sengaja dihilangkan oleh aparat penguasa yang berkuasa pada saat itu.

Di Semarang, di rumah kedua orang tuanya, Bapaknya menekan Luka dengan cara yang lebih santun dan beradab. ‘’Bapak diancam dipensiun percepat, dan kakakmu terancam tidak akan pernah dapat diterima sebagai pegawai negeri. Tidak masalah buat Bapak atas apa yang telah kamu lakukan. Kamu toh bisa menjadi supir taksi untuk menyambung nafkah. Tapi adik-adikmu? ‘’ ujar Bapaknya datar waktu itu.

Gentar atas gertakan keadaan yang menciutkan nyali, serta bayangan pahit yang bakal merundung nasib ketiga adiknya karena bakal diperdaya negara, sejak itu pula, Luka menetapkan diri undur dari dunia politik. Yang pada waktu itu memang mensyaratkannya untuk siap 4B; Buru, Bui, Buang, dan Bunuh. ‘’Pemerintah atau penguasa sangat pengecut sekali. Ketika mereka bermasalah denganku, mereka menghantam keluargaku yang tidak tahu apa. Mereka tidak pernah mempunyai keberanian bersemuka secara langsung denganku, atau persona siapapun yang mempunyai keberanian memperjuangkan hak-hak atas perlakuan tidak adilnya’’ geramnya.

Memang, sejak kapan ada Pemerintahan yang jantan....

Beberapa kawan Luka memang ada yang hilang, atau sengaja dihilangkan sampai sekarang. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaan orang-orang yang mencintai dan dicintai, dari orang-orang yang digelapkan dan dihilangkan kehidupannya dengan paksa itu? Ah, jangankan nasib hidup seseorang, nasib ribuan warga negara Indonesia pada kurun 1965-66, hingga beberapa tahun selanjutnya saja dengan mudah dilenyapkan.

‘’Ah, kau seperti tidak tahu, sejarah panjang bangsa ini saja mampu digelapkan, apalagi hanya nasib ribuan atau bahkan hanya puluhan warga negaranya?’’

Luka masih beruntung dalam hal ini, demikian juga dengan aku. Untuk itulah kami menaruh hormat kepada nasib orang-orang yang dihilangkan secara paksa seperti mereka. Apa pun latar belakang kehidupan, kebudayaan, pandangan politik sampai latar belakang religiusitasnya. Bahkan yang bermusuhan dengan Tuhan sekalipun.

Aku masih bisa mendatangi makam istri dan anakku jika kangen teramat sangat menusuk, merasuk. Aku bisa hanya berdiam diri di pemakaman mereka berdua, terpekur berjam-jam seorang diri, sembari mengenangkan saat-saat kebahagiaan kami. Atau hanya sekedar mengirimkan berkuntum-kuntum doa untuk ketenangan mereka berdua, atau ketenangan diriku sendiri sebenarnya. Atau hanya sekedar menitikkan air mata sebagai tanda rasa ucapan terima kasih atas kesempatan melewati kehidupan bersama.

Sedangkan bagi orang-orang yang tidak tahu ke mana harus menuju makam orang-orang yang dicintainya, ke manakah mereka menaburkan doa? Hanya lewat kekuatan keyakinan dan pautan batin saja. Tentu saja mereka adalah orang-orang pilihan yang mempunyai kekuatan batin yang sangat tidak terkira.

Pernah dalam sebuah kesempatan aku dan Luka menimbang-nimbang jalan hidup kami berdua dengan orang lain.

‘’Tidak adil menimbang nasib kita dengan nasib orang lain’’.

‘’Ya, toh tidak semua orang percaya nasib’’.

‘’Mungkin supaya semarak hidup ini ’’.

‘’Aku kira begitu’’.

‘’Bisa kau bayangkan jika hidup tidak berwarna?’’

‘’Nggak seru’’.

‘’Apalagi jika nggak ada tragedi’’.

‘’Nggak ada suspense’’.

‘’Nggak asyik!’’

‘’Berarti ini adalah yang terbaik?’’

‘’Entahlah. Seharusnya kau tanya kepada orang-orang yang mempunyai kapasitas untuk menjawab pertanyaan itu’’.

‘’Iya sih...’’.

‘’Tapi bukankah setiap orang akan kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya’’.

‘’Pasti’’.

‘’Semua orang juga tahu, hanya jalan, cara dan waktunya saja yang berbeda’’.

‘’Mungkin mulai sekarang kita harus membiasakan diri untuk siap kehilangan orang-orang yang kita cintai’’.

‘’Andai saja sewaktu kita duduk di bangku Sekolah Dasar dulu, mata pelajaran Kehilangan sudah diajarkan, dan diwajibkan. Pasti kita cenderung maklum terhadap sebuah kehilangan, apa pun bentuknya, bukan? Kau tahu generasi sekarang lebih suka membunuh dirinya sendiri hanya karena sebuah kesalahan atau kehilangan kecil, dari pada intropeksi diri untuk sebuah perbaikan?!’’.

‘’Kau berbicara seperti orang yang paling tahu tentang kehilangan. Nanti kau saja yang jadi Kepala Sekolahnya’’.

‘’Aku serius, selama ini orang-orang cenderung mencari sesuatu atas upayanya sendiri, dan tidak semua institusi pendidikan menyediakan jawabnya. Bayangkan, jika Pemerintah mewajibkan setiap warga negaranya mempelajari dan mengamalkan mata pelajaran Kehilangan...pasti beda jadinya’’.

‘’Dengan demikian ketika institusi tertinggi di negara ini, yaitu Pemerintah mempunyai kebijakan untuk menghilangkan kemiskinan lewat penghilangan orang-orang yang ‘sepantasnya’ dihilangkan, atau lawan politik yang berseberangan dengan kebijakan pemegang tampuk pemerintahan, maka warga negara menjadi maklum karenanya?’’

‘’Aku kira tidak seperti itu. Orang bodoh tahu itu namanya persekongkolan dan pembengkokan’’.

‘’Semuanya selalu mempunyai dua sisi sebagaimana mata uang,’’ kataku seolah bersungguh-sungguh padahal standar, super klise.

‘’Oh ya, ngomong-ngomong kamu percaya Tuhan?’’

‘’Nggak, aku percaya minuman keras!’’

Pernah, bahkan masih teramat masih sering, dan sering sekali terjadi. Ada juga orang yang sengaja menghilangkan dirinya sendiri atas nama sebuah tujuan yang mereka klaim adalah jalan kebenaran, jalan surga. Dan oleh karenanya surga mereka klaim adalah tempat mereka selanjutnya.

Klaim sepihak bahwa kebenaran adalah milik mereka dan bukan milik golongan lain yang tidak sepaham dengan mereka, sebenarnya merupakan sesuatu yang menyedihkan. Cerita lawas yang tidak penting. Bayangkan, dengan klaim kebenaran sepihak seperti itu, mereka yang mempunyai keberanian menghilangkan dirinya sendiri, membunuh dirinya sendiri, dengan bayaran merampas kehidupan orang lain yang belum tentu berhubungan, atau tahu dengan duduk perkara tujuan mereka, atau sasaran mereka sebenarnya, malah terampas kehidupannya dengan paksa.

‘’Aku pikir mereka adalah orang-orang sakit yang patut untuk dikasihani,’’ ujar Luka ketika mendengar salah sebuah bom bunuh diri merenggut puluhan nyawa orang-orang tak berdosa di Bali beberapa waktu yang lalu.

‘’Mungkin itu keberanian yang keliru. Siap kehilangan dirinya sendiri namun dengan bayaran menghilangkan hak hidup orang lain. Yang lebih mempunyai keberanian untuk mempertahankan hidup dengan segala tekanannya. Yang beban hidupnya belum tentu lebih ringan dibandingkan dengan orang yang membunuh dirinya sendiri seperti itu’’.

‘’Mereka boleh berani mati untuk sebuah tujuan. Tapi mereka tidak tahu bahwa mereka sangat keliru karena telah merenggut kehidupan orang lain yang tidak pantas merela hilangkan. Tidakkah mereka pernah berpikir betapa orang-orang yang ditinggalkan oleh orang-orang yang terenggut kehidupannya akibat ulah sepihak mereka, hancur hatinya?”.

‘’Manusia-manusia dengan mentalitas siap kehilangan seperti itu tidak sepantasnya mendapatkan tempat untuk dihormati, apalagi ditakuti’’.

‘’Bagaimana mungkin mereka akan menghuni surga jika mati dengan cara merampas kehidupan orang lain. Yang anak kecil pun tahu hanya manusia yang berbudi saja yang patut menghuninya’’.

‘’Mungkin mereka telah membeli hak guna bangunan surga’’.

Selanjutnya, kami berdua tertawa pelan, cengengesan.

‘’Tapi jangan salah, mereka yang membunuh dirinya sendiri adalah orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai ‘pengantin’, sebagaimana yang kau idamkan selama ini?’’ pancingku membuka pembicaraan term kedua.

‘’Pengantin? Pasangannya pasti Kala, Lucifer atau sebangsanya’’.

Untuk kali kedua kami tertawa lagi, cengengesan lagi.

II. Easy Come Hard to Go.

PADA sebuah jalan. Di dalam kabin mobil yang belum terlunaskan. Pada sebuah dini hari yang mati. Jakarta tampak lain dari biasanya. Pada dini hari seperti ini, Jakarta tak ubahnya anak manis yang akrab dengan siapa saja yang menyapa maupun mendiamkannya. Di dini hari yang ngelangut seperti itu biasanya Luka bersepakat dengan sepi untuk merenung tentang apa saja. Teristimewa tentang kesehariannya yang telah 36 purnama kebelakang nyaris sama keadaannya. Hanya bujukan sepi seperti ketabahan, kekuatan, keuletan, ketahanan yang senantiasa diterima dari kesepakatan mereka berdua.

Sebenarnya Luka bosan dengan jawaban sepi yang cuma dari itu ke itu saja. Semua nyaris bisa ditebaknya, standar, super klise dan sangat bisa sekali untuk diraba dan dibaca. Luka sebagaimana kanak-kanak yang telah mendapatkan mainan, tentu saja menginginkan mainan lainnya. Dan itu tidak didapatkannya dari penantiannya yang lebih dari 36 purnama.

Kehilangan yang paling besar dari kehidupan Luka adalah kebersamaan dengan orang yang bisa dimengerti dan mau mengertinya, dan itu berarti sebuah kenyamanan, ketenangan. Padalah, lebih dari hitungan jari tangan, Luka telah mengupayakan sebuah kebersamaan dengan beberapa perempuan yang dekat dengannya. Namun, hingga sejauh ini hasilnya..., masih nihil!

Pernah, pada sebuah masa dia bersepakat untuk memulai langkah baru untuk berhubungan dengan seorang perempuan baru dalam perjalanan hidupnya. Dengan segala kesungguhan dan keseriusannya, tentu saja. Berikut catatan hariannya yang masih tersisa, dari berlembar-lembar kertas yang telah tercecer entah di mana......

Gloomy Sunday, 24/10/04. pagi hari

Ramadhan hari ke dua aku bahagia. Tahu kenapa? Karena sebuah lagu telah usai tercipta. Yang menjadikan moment ini menjadi lebih istimewa bukan semata-mata lagu itu an-sich. Lebih dari itu. Tembang ini bernarasi tentang seorang perempuan yang seketika, tiba-tiba, seolah tanpa permisi; seperti sinar matahari pagi, masuk ke halaman hatiku. Namun peliknya, hampir bersamaan, di sebuah pagi, ketika sahur belum lama diusaikan, ia menerjangku dengan berbagai cerca atas perbuatan yang tidak pernah aku lakukan. Adakah tuduhan yang lebih menyakitkan dari sebuah perbuatan yang tidak terbukti siapa yang melakukannya?

Tapi tak mengapa, mungkin ini bagian dari perjalanan nasibku bersinggungan dengan nasibnya. Pergilah pergi sesuka hatimu, sebagaimana kau datang sesuka hatimu ke hatiku. Semua itu tidak akan pernah cukup membuatku meragukan keyakinanku sejak awal mula; bahwa aku berikhtiar menyambangi hatimu! Kalau pun toh kita pada saatnya nanti, cepat atau lambat akan menjadi satu. Atau tidak akan pernah menjadi satu sekali pun. Itu bukan karena semata-mata kesalahanku atau kesalahanmu. Tapi karena memang tidak ada kekuatan yang lebih besar dari sebuah nasib, yang bisa seenaknya menyatukan atau memisahkan sepasang anak manusia. Itu saja. Dan yang pasti, tidak ada sebiji kebencian pun di sini tentang mu. Malah sebaliknya, aku berterima kasih mendapat kesempatan nasib untuk bersua dan beruluk sapa dengan seorang perempuan sepertimu.

Layla, sebagaimana para cerdik cendekia berkata; tidak ada yang baru di bawah matahari ketika laki-laki jatuh hati kepada seorang perempuan. Atau sebaliknya. Tapi, entah mengapa seolah semuanya menjadi baru bagiku ketika aku kembali menemu perasaan itu. Sehingga akibatnya, perasaan ini berbondong-bondong tak ubahnya awan yang berarak membopong sebuah hujan bagi sekuntum hati yang telah lama mati, kerontang oleh kesepian. Dan akibatnya…, kau tahu sendiri. Aku kepayahan memanajemen perasaan itu…

Layla, kalau di awal mula kau pernah berkata bahwa keterusterangan perasaanku tak ubahnya ‘’easy come easy go’’, sekarang aku malah berpikir sebaliknya. Betapa terjal, berliku dan menukik perjalanan hubunganku denganmu. Pada mulanya, belum apa-apa, kau telikung perasaanku dengan ‘ketidakterusteranganmu’, kemudian dengan segala kepayahan aku susun lagi rumah perasaan ini. Dan ketika aku baru bangkit dan semangat lagi untuk bersikukuh mempertahankan perasaan ini dengan terus menegurmu lewat doa. Tiba-tiba….kembali kau menerjangku dengan segala hardik dan prasangka-prasangka rendahan dan ekuivalen dengan segala kehina dinaan di muka bumi ini. Alangkah indahnya.

Layla, aku memang masih dan akan terus menyambangimu, namun aku pun tidak akan pernah sudi mengemiskan keyakinanku ini padamu. Tidak sekali pun. Aku memang payah (kalau pun yang kau sangkakan itu memang benar adanya), namun aku masih mempunyai harkat sebagai seorang laki-laki. Sepayah-payahnya seorang aku, aku masih mempunyai karakter dengan tidak akan pernah menjual kemanusianku hanya untuk mendapatkanmu. Karena, sekali lagi. Bukan aku yang berkehendak, atau kamu sekali pun atas bersatunya kita atau berpisahnya kita (kalau pada saatnya memang ada ‘kita’). Melainkan nasib yang digdaya…

Demikian suratku hari ini.

Salam

Ps.

Pernahkah dalam setiap dialog dan tulisanku aku menjunjung-junjung dan memamerkan hubunganku dengan Tuhan. Apakah aku harus berteriak dengan koar setiap aku berbuat baik terhadap kehidupan dan Tuhan. Agar dengan demikian kau berpikir aku laki-laki alim yang penuh dengan kesantunan, sehingga dengan demikian segala masa depan menjadi lebih aman untuk disandingkan di sampingnya? Aku adalah aku, yang akan terus (sampai kehidupan meninggalkanku) menyimpan rapi Tuhan di hatinya, tanpa sesiapa pun musti tahu seberapa dekat atau jauh aku berhubungan dengan-Nya.

Pss.

Dengan hati runduk, maafkan aku jika ada kosakata yang membuatmu menjadi lebih tidak berkenan padaku. Aku tidak peduli!

Aih, aih... rupanya perempuan yang sempat menjadi pelangi di hati Luka bernama Layla. Dia perempuan biasa, ujar Luka padaku suatu ketika. Hanya saja dia lumayan manis dan ada sinar kehidupan di matanya. Sudah terlalu banyak perempuan ayu yang berseliweran di hatinya, tapi yang mempunyai sinar kehidupan dapat dihitung dengan jari. Layla salah satunya. Bahkan sebenarnya Luka ingin dan berniat mengakhiri kesendiriannya dengan perempuan ini, hanya saja kesabarannya lagi-lagi musti diuji. Dan lagi-lagi, keadaan memang berkata lain. Semua itu tampak di suratnya yang kedua;

Aku malu mengenangkan kemarahanku

Tidak pernah dalam perjalanan usiaku hingga saat ini, begitu besar kemarahanku kepada seorang persona. Apalagi kepada sosok seorang perempuan, dan kujunjung lagi…

Betapa tidak masuk akalnya diriku, bahkan sejak pertama bersitatap dengan matamu. Semua jungkir balik di sini. Fenomena itu memang bertamu dengan santun di halaman rumahku. Yang biasanya aku teramat sangat dingin, tenang, dan berhitung dengan segala kehati-hatian, seketika, pelan dan pasti menafikan akal manakala perasaan itu meraja. Ia menyamarkan segala yang berlaku di logika, kepenginannya bersegera memaujudkan rasa…

Aku malu mengenangkan kemarahanku

Bahkan aku tak mampu lagi mengendalikan rasa, hanya lantaran setelah sekian lama tak kujumpa itu asa, dan aku tetap bertahan menelisik untuk menemukannya. Sekalinya ketemu….., gak keruan ini atma, alangkah konyolnya…, what a silly me.

Aku malu mengenangkan kemarahanku

Bahkan kepada seorang perempuan yang aku klaim; ‘’ini dia…’’ (betapa aku mulai sok tahu dengan garis nasibku, memberanikan diri meyakini sesuatu yang di luar kekuasaanya. Bukankah hal yang semacam itu bukan urusannya?)

Aku malu mengenangkan kemarahanku

Bagaimana mungkin aku bisa menjadi seorang nahkoda bagi sebuah bahtera, jika belum belum - lagi lagi - aku lebih mendahulukan perasaan dari pada logika? Namun, bukankah memang hal semacam itu hanya dapat dirasakan, dan logika macam mana pun, secerdas manusia apa pun tidak akan pernah mampu mendiskripsikannya, apalagi kemudian dengan sok gagah mencoba menarasikannya ke dalam sebuah bahasa? Entahlah.

Aku malu mengenangkan kemarahanku

Meski semua aku mulai dengan segala niat baik dan kesungguhan…(hal inilah yang sampai sekarang tidak pernah bisa aku mengerti; bagaimana mungkin seorang laki-laki dengan niat semacam itu; mengeluarkan sebuah kalimat tidak senonoh kepada seorang perempuan yang ditinggikannya? Namun, bukan juga berarti bahwa kemarahanku padamu adalah sebuah tindakan yang lebih mulia dan selayaknya kepada seorang perempuan yang dijunjungnya…. Ah, aku bahkan telah lupa bahwa sejak kali pertama kita bertegur sapa bukankah semestinya kita saling mengingatkan dan memelihara dalam kebaikan dan kesabaran? Ma’afkan aku; inilah salah sebuah resiko jika terlalu dekat dengan seorang sahabat; semua disikapi oleh seorang sahabat dengan canda; meski dampaknya luar biasa; dalam hal ini..sialan untuk persahabatan..) *

Aku malu mengenangkan kemarahanku

Bahkan mungkin aku sendiri tidak akan pernah tahu sampai kapan rasa malu itu akan lalu…

Layla…Aku memang masih belajar hidup, dan oleh karenanya maklumkan kekeliruanku hanya lantaran aku belum bisa benar- benar dapat hidup dengan baik dan mulia. Fakultas kehidupan memang bagai pedang bermata dua; jika kita kuat, cermat, teliti dan waspada melaluinya, maka buahnya ke-te-nang-an jiwa. Tapi jika sebaliknya? Hasilnya sebagaimana aku alami ketika kelimpungan menyiasati perasaanku kepadamu… Dan kau sepertinya telah menjadikan aku maj’nun karenanya.

Layla Maj’nun-ku.Orang-orang besar memang hanya diciptakan oleh dirinya sendiri. Dan jikalau pada saatnya aku tidak akan pernah menjadi orang besar. Paling tidak, aku telah berikhtiar untuk senantiasa menjadi manusia standar yang baik-baik saja. Dan dalam rangka aku berikhtiar menjadi manusia baik-baik inilah, sekali lagi aku panjatkan ma’af padamu..

Aku malu mengenangkan kemarahanku

Telah meninggikan suara kepada mu

Andai saja waktu sedikit saja berpihak padaku…

Aku malu mengenangkan kemarahanku

Ma’afkan atas lena dan kilafku…

Meski aku tidak akan pernah meminta ma’af apalagi menyesal telah dipertemukan oleh nasib denganmu….

Aku malu mengenangkan kemarahanku

Semoga kau sudi mendoakan aku; biar aku menarik diri lebih dalam dan terus berpikir tentang mu. (sungguh pun aku tidak pernah menghubungimu, tapi nyatanya perasaan itu tidak mau pergi-pergi, ia sepertinya kerasan tinggal di sini. Dan aku pun dengan senang hati menyilahkannya, toh aku menjadi lebih hidup karenanya; ligh my life kind like enlightement, what a life).

Akhirnya, Nurlayla…Berbahagialah dengan jalan hidupmu; I love u everyday, twice in Sunday.

Yang murka padamu.

Friday the 29. 23:55, bidara cina, lantai 3.

ps.

99% kemarahan justru paling sering ditumpahkan kepada orang-orang yang paling dicintai. dan akibatnya fatal. Akupun, semoga tidak akan pernah mematahkan tulung rusukku sendiri...karena itu adalah pekerjaan yang paling menyedihkan di muka bumi.

Surat kedua ini, ditindaklanjutinya dengan surat ketiga, yang diforward ke arahku. Aku memberinya judul, tentu saja tanpa sepengetahuannya; ‘’The Gombals bin Memalukan’’. Seharusnya kau malu menuliskan semua ini Luk. Atas nama canda, semoga kau tidak tersinggung karenanya.

Aku akan terus memohonkan ma’af padamu

20.26

Aku terus, terus dan terus bermusyawarah dengan diriku sendiri.

Ada apa sebenarnya dengan diriku ini.

Semakin aku memasrahkan keberadaan, semakin tidak bisa aku memalingkan perasaan ini dari sosokmu. Mengapa aku masih tidak bisa mengalahkan diri sendiri, membiarkan yang telah terjadi biarlah pergi. Kemudian berdamai dengan keadaan, menerima kenyataan bahwasanya secara maujud kau tidak di sini. Meski pada kenyataanya, kau lindap dan senantiasa berdiam di benak hati.

Aku memang masih malu atas kemarahanku padamu. Aku sendiri tidak habis mengerti. Bagaimana mungkin aku bisa meninggikan emosi kepada seorang perempuan. Yang notabene telah membuatku bungah karenanya…

Bukan keenggananmu untuk menjawab setiap gundahku yang aku sesalkan. Lebih dari itu, mengapa tiba tiba aku dibuat bodoh oleh kemarahan…., sehingga mengaburkan segala kedewasaan.

Dengan cara seperti apa sekiranya aku mampu membuat hatimu sedikit saja berpihak pada apa yang kurasakan..Bahkan aku pun telah terlalu malu pada diriku sendiri untuk kembali menyimak dan menekuni suaramu.

Aku bahkan tidak diberi kesempatan oleh keadaan untuk menunjukkan kesejatian ini. Yang mungkin sekiranya tidak hanya akan mampu sekedar memayungimu. Tapi, jika keadaan berkenan, bisa lebih dari itu…

Misteri ini mungkin tidak akan pernah dapat aku temukan dan mengerti. Sebagaimana Dia tidak akan pernah dapat dimengerti ketika menggariskan perjalanan hidup anak manusia mana pun juga. Hikmah apa dibalik semua ini? Demi kebaikanmu kah? Demi kebaikanku kah? Atau demi kebaikan misteri itu sendiri?

Layla..

Ketika Dia berkendak atas segala hal di bawah langit ini dan berkata; ‘’Jadi. Maka jadilah’’. Apa yang tidak mungkin dari sebuah kemungkinan yang Dia kehendaki. Itulah yang aku yakini selama ini; termasuk sebuah keniscayaan ketika keadaan kembali mempertemukan sebagian garis hidup kita.

Layla..

Aku memang tidak pernah bermain-main dengan sebuah kesungguhan. Sebagaimana aku senantiasa menyungguhkan perasaan ini…untuk terus berani, berusaha tegar meski tertatih tatih, dan meyakini apa yang kurasakan. Meski keadaan, dalam banyak perkara, lebih cenderung sering tidak berbanding lurus dengan harapan. Dan aku berusaha untuk tidak sakit hati karenanya. Karena hidup memang harus tetap untuk dimaknai.

Layla..

Tulisan ini pun lahir dalam rangka aku memaknai fenomena yang melanda perasaanku.

Jadi, mohon maafkan aku lagi, lagi dan lagi atas kekilafan meninggikan emosi ke arahmu

Maafkan aku.

Bidara Cina 3rd floor. 21.45. Wednesday the 3/11.

SEJAK saat itu, hingga tahun-tahun berikutnya Luka dan Layla tidak pernah berhubungan, tidak juga bertegur sapa lewat hati. Mungkin nasib memang mempunyai rencana lain tentang kehidupan mereka berdua. Layla hanya sempat menjadi pelangi bagi Luka, belum benar-benar menjadi mentari. Entah Luka bagi Layla...

SEDANGKAN perjalanan romansaku, meski tidak seberliku, semenye-menye sekaligus mungkin seganjil (?) Luka, namun bukan berarti tidak menyayat-nyayat. Mendiang istriku, konon, memang bukan most wanted di lingkungan kampus semasa kuliah, di lingkungan rumah atawa di tempat kerjanya. Namun, bukan berarti tidak banyak laki-laki yang mengharapkan balasan cintanya. Aku sendiri, pada awalnya tidak begitu yakin Bianca akan memberanikan diri menjadi pengantinku. Berbagi bahtera denganku, dan menghabiskan sisa nasibnya denganku (Alah, drama banget ya). Meski terhitung tidak lama melewati waktu pernikahan denganku, hanya seumur kandungan mendiang anak kami, Tristan.

Namun, Bianca adalah ridlo kehidupan yang teramat sangat berkesan, berharga dan paling membekas buatku. Sampai-sampai aku nyaris bersengketa dengan keberadaan-Nya, ketika maut dengan semaunya menghampiri dan mengajaknya pergi tanpa persetujuanku.

‘’Ini, masih aku hadapkan ke kiblat, yang terkasih dan yang tercinta istriku. Jika memang Kau pikir aku tidak terlalu layak menjaganya, sehingga dengan demikian Kau berhaq untuk mengambilnya, maka aku kembalikan istriku pada-Mu,’’ ujarku lirih di dalam hati ketika membaringkan jasad Bianca ke liang lahat. Tempat peristirahatan terakhirnya.

Orok Tristan yang masih merah dan baru saja dapat membuka matanya, masih terbaring lemah di ruang intensive care unit. Hanya Eyang putrinya, ibuku, yang menungguinya sembari hatinya terus berkomat-kamit melafalkan doa. Sementara aku, belajar sok kuat melepas belahan atma, di bawah naungan ayahku, dan kedua mertuaku yang tak kalah sedihnya melepas kepergian anak semata wayang mereka di tubir liang kubur.

Pada saat pemakaman Bianca, sanak saudara, beberapa teman kuliah, teman kerja, teman sosialita hampir semua hadir, dan tak ketinggalan Luka mengucapkan bela sungkawa. Bahkan, para laki-laki jawara dalam bidangnya masing-masing yang dulu menjadi ‘’seteruku’’ untuk memenangkan hati Bianca, turut serta mengantarnya ke pekuburan. Termasuk Arya, mantan tunangan Bianca. Rata-rata mereka tidak hanya mengulurkan hatinya kepadaku, lebih dari itu, mereka juga menundukkan dan menunjukkan ketakziman ketika jasad Bianca pelan dan pasti tertimbun tanah pekuburan.

Setelah kepergian Bianca, aku nyaris tidak berhubungan dengan perempuan. Bukan semata aku ingin mencurahkan perasaan, waktu, pikiran dan dayaku untuk Tristan. Lebih dari itu, aku kesulitan setiap kali berupaya menjalin sebuah rajutan anyar tentang sebuah pertalian hati yang hakiki. Tidak semudah yang orang-orang pikirkan ternyata. Meski aku juga tahu, ada beberapa perkara yang tida-tiba mudah untuk orang lain, namun sangat sulit bagi yang lainnya. Demikian pula sebaliknya. Untuk perkara yang satu ini, ternyata sangat sangat sulit buatku.

Padahal, orang seperti aku, tidak pilih-pilih dalam soal hubungan. Selama nyambung dalam pikiran, rasa, dan tindakan, maka semoga semua berjalan dengan sewajarnya dan cenderung baik-baik saja. Tapi, apakah mudah menemukan yang seperti itu? Kau tahu jawabannya ...

Almarhum Bianca memang elok dan bersahaja. Maklum dia istriku, jadi sangat mungkin aku tidak akan pernah obyektif menceritakannya. Tapi paling tidak, biarkan aku bercerita. Begini, selain kemampuan intelektualnya sangat dapat diandalkan, kecakapan dan kerendahhatiannya adalah sesuatu yang membuatnya semakin tak terperikan. Dia tidak hanya ayu secara paras, ah, tapi bukankah terlalu banyak perempuan berparas ayu, tapi tidak tahu bagaimana menggunakan akal sehatnya dengan laras? Dan Bianca, syukurlah bukan salah satu diantara perempuan yang banyak seperti itu.

Luka pernah berkata padaku, dan dia dapatkan kalimat ini dari salah seorang kawan kantornya, ‘’Kalau saja para perempuan menggunakan sedikit saja akal sehatnya, pasti sangat banyak perempuan sukses dan luar biasa di muka bumi ini,’’ katanya. Bianca, di mataku, tidak hanya sukses sebagai seorang perempuan, tapi juga sebagai seorang manusia. Maklum, yang berbicara aku, suaminya.

KAMI menikah secara sahaja.

Pertama, aku langsung berkata padanya akan menjadi ayah dari anak-anaknya dalam perkenalan kami yang belum genap satu jam lamanya. Tentu saja Bianca hanya membalas keyakinanku dengan senyumannya. Aku tidak tahu pasti makna senyumannya waktu itu. Apakah hanya ingin menjaga perasaanku, menyepelekan keyakinanku, atau malah menertawakan kesungguhanku? Mengingat pada waktu itu, sebenarnya Bianca sudah mempunyai seorang kekasih yang baik, dan tentu saja saling menyayangi dan menghormati diantara mereka berdua. Tapi entah kenapa aku berkata seperti itu. Aku yakin saja.

Hingga pada sebuah masa, setelah kami tidak bertemu selama 18 purnama kemudian, Bianca masih memikat seperti kali pertama kami bersua. Kala itu, dipertemuan kami yang kedua, di jari manis sebelah kirinya telah melingkar cincin emas putih entah berapa karat. Setengahnya aku terkesiap ketika beradu mata kembali dengan matanya tanpa sengaja, tapi dia tetap melemparkan senyum ke arahku. Dan Kresna, tunangannya yang ada di sekelilingnya, tampak tampan dan charming diantara kawan-kawannya.

Pesta pernikahan Fawzy dan Sarah memang berlangsung dengan menyenangkan di kebun bunga yang permai itu. Siapa yang mengira jika Fawzy adalah kawan Kresna juga. Sehingga kami; aku dan Bianca, tanpa sengaja kembali bertemu muka untuk kali ke dua. Tanpa sengaja? Ah..., aku kira Tuhan sedang bekerja, lebih tepatnya.

Setelah aku mendekati Bianca, dan kami berjabat tangan layaknya orang dewasa yang telah lama tidak bersua, kami berbicara datar dan biasa-biasa saja pada mulanya.

‘’Apa kabar,’’ kataku membuka musyawarah.

‘’Baik. Baik sekali. Kamu gimana, sehat?’’

‘’Sehat. Sehat sekali. Makasih. Kapan kalian akan menikah?’’

‘’Mungkin tengah tahun ini’’.

‘’Ah. Selamat ya. Moga hanya kebaikan, kelancaran dan kesabaran yang melindugi kalian berdua,’’ kataku standar dan super naif, yang sebenarnya kutujukan untuk membesarkan hatiku sendiri.

‘’Ya makasih. Kapan kamu akan menikah?’’ ujar Bianca masih dengan kedataran suara, membalikkan pertanyaan.

‘’Sampai aku menemukan perempuan seperti kamu, maka menikahlah aku’’.

‘’Kamu suka bercanda ya’’.

‘’Aku serius dengan apa yang aku katakan’’.

‘’Jangan gitu dong’’.

‘’Masih ingat dengan apa yang aku katakan padamu, satu setengah tahun yang lalu?’’ pancingku mengingatkan pertemuan kami untuk kali pertama di pembukaan pameran patung F. Widayanto di Galeri Nasional, Gambir, Jakarta.

‘’Ah, kamu masih pandai bercanda’’.

‘’Aku serius kok Bi’’.

‘’Kalau kamu serius dengan apa yang kamu katakan satu setengah tahun lalu, kenapa setelah kau ucapkan keyakinanmu itu, tidak ada tindak lanjutnya kemudian’’.

‘’Nasib akan menindaklanjutinya tanpa aku harus repot-repot mengatur-ngaturnya. Nyatanya aku bisa ketemu kamu lagi tanpa aku harus berpayah-payah mengaturnya, kan’’.

‘’Ah, kamu itu,’’ ujar Bianca masih dengan kesantunannya, yang membuat aku semakin yakin dia akan menjadi ibu dari anak-anakku.

‘’Kamu akan menjadi ibu dari anak-anak kita Bi,’’ kataku sekali lagi dengan dengan tekanan suara yang lebih dalam, dan keyakinan yang sama, persis seperti satu setengah tahun yang lalu.

‘’Makasih. Tapi tidakkah kau tahu sebentar lagi aku akan menikah dengan Kresna,’’ katanya sembari mengangkat tangan kirinya menunjukkan cincin pertunangan mereka berdua.

‘’Aku tahu. Tapi aku yakin itu tidak akan pernah terjadi’’.

‘’Kok begitu?’’ selidik Bianca penuh tanya.

‘’Entahlah. Aku hanya yakin saja Bi,’’ jawabku enteng.

‘’Nggak masuk akal kamu!’’

‘’Terlalu banyak yang tidak masuk akal dalam hidup ini Bi’’.

‘’Iya sih, tapi paling tidak belajarlah sedikit untuk tetap dan terus masuk akal’’.

‘’Bener juga sih. Tapi aku yakin aja Bi. Entah bagaimana jalannya nanti. Kau bisa menjelaskan pertemuan kita untuk kali kedua secara kebetulan seperti ini, sebagaimana pertemuan kita kali pertama dulu Bi?’’

‘’Ah, itu sih biasa. Tidak atau belum ada yang luar biasa’’.

‘’Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini Bi’’.

‘’Semoga kamu baik-baik saja dengan hidupmu ya’’, ujar Bianca seolah dari pilihan kalimat dan matanya terbaca; ingin segera pamit dan menyudahi perbincangan picisan denganku.

‘’Oh ya. Silakan. Makasih untuk waktunya Bi. Salam untuk calon suamimu. Katakan pada Kresna, aku akan menjadi ayah dari anak-anakmu jika dia tidak bersegera menikahimu!’’

‘’Jangan bilang seperti itu dong..’’, ujar Bianca dengan mimik dan tekanan suara yang tampaknya semakin serius, sembari untuk sementara membatalkan langkahnya meninggalkanku.

‘’Apakah aku kelihatan bermain-main dengan keyakinanku Bi’’.

‘’Ah, sudahlah. Memang tidak ada yang akan pernah tahu dengan hari depan seseorang. Tidak juga dengan dirinya sendiri. Aku juga tidak akan pernah tahu dengan hari depanku. Tapi aku yakin akan menikah dan berbahtera penuh kegembiraan bersama Kresna. Sebagaimana selama ini kami telah melewati waktu berdua’’.

‘’Aku tahu itu Bi. Tapi kau akan menjadi istriku. Entah bagaimana caranya,’’ kataku sembari menundukkan kepala dan merendahkan suara kepadanya.

Bianca pun akhirnya pamit undur mencari Kresna, meninggalkan aku dikeramaian pesta kebun pernikahan kawan lamaku, Fawzy.

Menjelang sore hari, perayaan pernikahan Fawzy dan Sarah usai. Semua tamu telah undur diri, kembali ke kesibukannya masing-masing. Kembali menyongsong dan mengisi nasibnya sendiri-sendiri. Aku pun, setelah berpeluk hangat dengan Fawzy, dan menunduk hormat kepada Sarah, mohon pamit.

WAKTU terus berjalan, roda nasib terus menggelinding di luar nalar kita. Satu tahun sudah aku tidak bersua dengan Bianca sejak pertemuan kami yang terakhir di pesta pernikahan Fawzi dan Sarah. Dia pasti telah beranak pinak dan berbahagia dengan Kresna, laki-laki terkasih dan mengasihinya, pikirku waktu itu.

Hingga pada sebuah siang, dalam perjalanan ke Anyer seorang diri, tanpa sebuah kesengajaan, - ah...aku pikir ini pasti Tuhan lagi-lagi sedang bekerja- mataku bersitatap dengan sosok perempuan yang sedang membuka kap mobil sedannya yang sedang berasap. Gerai rambut dan perawakan tubuh perempuan itu tidak asing di mata batinku. Aku pun segera menepikan mobil, dan retreat kebelakang mensejajarkan mobilku dengan mobil perempuan itu.

Benar saja. Perempuan itu tidak lain dan tidak bukan adalah, Bianca! Setelah membuka power window sebelah kiri dan menyeru namanya, Bianca menoleh kearahku dengan keheranan yang nyaris sama dengan keherananku. What a life.....Segera aku memajukan kembali mobilku, dan memarkir untuk menepikannya tepat di depan mobilnya. Dalam hitungan jenak aku bersegera beranjak dari tempat duduk, keluar dari mobil, dan bergegas menghampiri Bianca.

‘’Hei, apa kabar!,’’ sapaku masih dengan keheranan yang luar biasa.

‘’Hei, apa kabar!,’’ jawabnya dengan keheranan yang nyaris sama dengan keherananku.

‘’Apa kabar,’’ tanyaku mengulang pertanyaan yang sama.

‘’Baik. Baik sekali. Kamu gimana?,’’ ujarnya seolah melupakan perkara mobil mogoknya.

‘’Baik-baik. Paling tidak, selalu berusaha, untuk terus baik,’’ kataku terbata sembari menahan nafas seolah tidak percaya yang ada di depanku adalah Bianca, perempuan idamanku.

‘’Kamu baik-baik saja kan,’’ katanya sembari menggerak-gerakkan tangan kanannya ke arah mukaku, seolah bisa membaca gelagatku tidak percaya kembali bertemu dengan dirinya.

‘’Selalu aneh ya cara pertemuan kita. Bahkan untuk yang ketiga ini,’’ kataku.

‘’Iya sih...tapi, biasa ah...kita bisa bertemu di mana saja dan kapan saja kan,’’ jawabnya.

‘’Iya sih,’’ jawabku masih dalam nuansa ketidakpercayaan. ‘’Hei, bagaimana dengan suamimu? Berapa sekarang anak kalian?’’ tanyaku menyelidik seraya membangunkan kesadaran.

‘’Mmmmm, ahhh...,’’ Bianca menarik nafas panjang. ‘’Kami memutuskan membubarkan pertunangan kami, untuk sebuah alasan yang sangat sehat sekali’’.

‘’Ah, sorry mendengarnya,’’ kataku.

Hopla..., alamak seperti disambar nasib baik, sebenarnya diam-diam aku suprise sekaligus gembira dengan jawabannya.

‘’Ya, makasih. Kamu sendiri gimana?’’

‘’Aku masih berkeyakinan kau akan menjadi ibu dari anak-anakku,’’ kataku tangkas.

‘’Ah, gila kamu’’.

‘’Apanya yang gila’’.

‘’Udah ah, ngelantur kamu!’’

‘’Nggak ah, aku tetap serius dengan keyakinanku Bi’’.

‘’Ha ha ha, gila kamu’’, ulangnya.

LALU tanpa dikomando aku membereskan kerusakan mobilnya. Peugeot 306 warna biru itu hanya kehabisan air di radiator. Mungkin ada yang bocor dengan radiatornya, atau Bianca kelupaan, lalai, alpa mungkin juga abai untuk mengisi airnya. Atau bisa jadi ada yang tidak beres dengan water pump-nya. Apa pun itu, persediaan air di bagasiku sangat cukup mendinginkan over heat mobilnya. Kami selanjutnya bercakap sembari sesekali tertawa renyah memperbincangkan cara aneh pertemuan kami untuk kali ketiga, setelah setahun terakhir tidak bersua.

Sembari menunggu dingin mesin mobilnya, kami meneduhkan diri di salah sebuah warung kaki lima yang menjual es kelapa muda, yang banyak terdapat di pinggir jalanan Anyer.

‘’Kau mau ke mana Bi?’’

‘’Ada pertemuan dengan teman-teman kantor di salah satu hotel di Anyer. Kamu sendiri’’.

‘’Aku ingin ke Anyer aja. Bosen aja dengan Jakarta’’.

‘’Oh. Sesimpel itukah semua keinginanmu kamu lakuin’’.

‘’Nggak semuanya sih. Tapi most of all memang seperti itu’’.

‘’Kamu pasti berbahagia dengan jalan hidupmu ya’’.

‘’Itu harus Bi’’.

‘’Ya, ya’’.

‘’Maukah kau menikah denganku Bi!’’

Bianca hanya diam, mengunci semua basa yang ia punya. Mengubah parasnya sedemikian rupa, tidak menampik tidak pula mengiyakan. Matanya memanah penuh kesungguhan kearahku.

‘’Ini adalah kali ketiga aku mengucapkan kesungguhanku padamu, pada tenggang waktu dan tempat yang berbeda. Dan, aku tidak mengurangi sedikitpun keyakinanku, bahwa kau akan menjadi ibu dari anak-anakku. Masihkah kau meragukan keyakinanku Bi? Harus berapa kali pertemuan, dan di berapa tempat berbeda macam apalagi, serta rentang waktu berapa lama lagi aku harus dan akan terus menerus mengutarakan keyakinanku Bi. Tidakkah kau berpikir memang beginilah jalan kebersamaan kita?’’

Maka menikahlah kami pada akhirnya!

III. Mengandung.

KETIKA kami melangsungkan pernikahan semua orang bergembira. Orang tua Bianca yang berpikiran terbuka membebaskan pilihan anaknya untuk menikah, dan berbahtera dengan siapa saja. Bibit bebet bobot yang pernah menjadi dongeng pengantar tidur Bianca sewaktu kecil hanya dijadikannya salah sebuah pijakan dari sekian banyak pijakan yang didapatkannya kemudian. Bahkan jika memang Bianca memutuskan untuk tidak menikah sekalipun, aku yakin orang tuanya akan sangat dapat mengerti dengan pilihannya.

Kegembiraan kedua orang tua Bianca bukan semata-mata mereka akan mendapatkan cucu. Lebih dari itu, tidak ada yang lebih bahagia bagi orang tua ketika melihat anak mereka bahagia. Sebagaimana galibnya orang tua lainnya.

‘’Ayah titip Bianca nak. Jaga dia dengan sangat baik, baik dan baik sekali ya,’’ ujar mertuaku ketika menerima lamaranku. ‘’Kalian yang baik-baik ya. Yang rukun. Nggak gampang berumah tangga. Yang kuat dan pinter jadi laki-laki ya,’’ bisik ibu mertua di telingaku sebelum mencium pipi kanan kiriku.

Tapi entah apa yang dibisikkan mertuaku ketelinga Bianca, ketika ayah dan anak itu saling berangkulan dan menderaikan air mata. Aku memang tidak pernah tahu persis apa yang dibisikkan ayah mertuaku kepada istriku. Demikian juga ketika ibu mertuaku membisikkan sesuatu ketelinga putrinya, Bianca. Yang pasti itu sebuah nasihat. Aku tidak pernah menyelidik untuk meminta tahu, dan Bianca memang tidak pernah bercerita kepadaku. Bianca pun melakukan hal yang serupa, tidak pernah mencari tahu apa yang dibisikkan kedua orang tuanya kepadaku, suaminya. Kami toh baik-baik saja.

Setelah menerima peluk senyum dari sanak saudara, kawan, kerabat, handai taulan, kenalan dan Luka tentu saja, kami harus bersegera menyudahi prosesi pernikahan untuk menyambut kehidupan yang sebenarnya. Kedatangan Luka pada pernikahan kami adalah sekaligus perkenalannya untuk kali pertama pula secara resmi dengan Bianca.

‘’Satu dua kali aku mendengar namamu dalam perbincanganku dengan suamimu ini,’’ ujar Luka pada Bianca di atas pelaminan. ‘’Selamat untuk kalian berdua, akhirnya kau menjadi istri orang gila ini,’’ imbuhnya.

Bianca yang menyimak ucapan selamat Luka hanya memulas senyum, ‘’Ya, makasih ya, kalian kawan karib pastinya. Siapa yang lebih gila diantara kalian berdua?’’ tanya balik Bianca. Luka hanya tersenyum.

Selanjutnya, sebagaimana kisah kebanyakan tentang pernikahan, kami pun berbahtera dengan sewajarnya. Senyum dan keceriaan cenderung mewarnai serta meronai keseharian kami. Kalau pun kami bersengketa itu nyaris selalu bisa kami urai dengan tanpa melibatkan siapa pun diluar lingkaran kami berdua. Seolah, dengan otomatis kami tahu dengan peran kami masing-masing.

Aku sendiri juga sering heran, chemistry diantara kami seolah sedemikian kuatnya. Dan untungnya, kami adalah golongan orang yang paling tidak gemar meninggikan suara apalagi hati. Jadi, ya sentosalah rumah tangga kami. Bahkan ketika Bianca mengabarkan padaku jika di kandungannya, buah cinta kami mulai membisikkan kehidupan, kami hanya berpelukan sembari tanpa sadar menggenangkan air mata. Aih, aih....laksana roman Jane Austin saja.

‘’Benar, aku akan menjadi ibu dari anakmu. Benar kekasihku, aku memang benar-benar menjadi ibu dari anakmu. Sebagaimana keyakinanmu selama ini. Aku memang menjadi ibu dari anakmu. Anak kita,’’ isak Bianca pada sebuah Isya’ ketika dia dengan sengaja pulang cepat ke rumah dari tempat kerjanya, untuk menungguku yang biasa pulang berbarengan atau selepas adzan Isya’ juga.

Kami berpelukan layaknya sepasang kekasih yang telah lama tidak bersua, atau layaknya sepasang sejoli kepayang cinta yang akan saling melepas kepergian untuk waktu yang sangat lama. Lucu juga kalau mengingat keadaan waktu itu. Kami rukun dan sentosa seolah tidak akan ada yang pernah bisa memisahkan, tidak juga kekuatan yang lebih besar dari kekuatan rasa sayang diantara kami berdua.

Bianca menjaga kehamilannya dengan sangat hati-hati sekali. Setali tiga uang dengannya, aku pun melakukan hal yang sama. Bianca yang gemar mencuci sendiri mobilnya, atas kesepakatan bersama, menghentikan aktivitas kegemarannya itu, selama calon matahari kami berdiam di kandungannya. Dan aku, nyaris saban hari tidak ada pekerjaan lain selain was-was. Tidak pernah tenang perasaan ini, jika Bianca tidak terpantau oleh kedua bola mataku secara langsung.

‘’Yang hamil sini kok yang resek situ sih,’’ katanya dalam sebuah kesempatan dengan mangkel, karena aku nyaris tidak pernah berhenti menelponnya untuk terus dan terus menanyakan keadaannya. Bahkan ketika dia berada di depan meja kerjanya sekalipun. Sampai-sampai ketika toleransi Bianca di ambang menipis, karena tak kuat terus menerima teleponku, dia dengan berat hati musti mematikan handphone-nya.

Bayangkan, betapa tidak kelimpungannya hatiku. Bisa kau bayangkan ketika istrimu seorang diri, dalam keadaan hamil berada di dalam mobilnya, di keramaian dan keliaran lalulintas Jakarta yang semrawut, dan dia tidak terpantau olehmu?. ‘’Kau malah membuat keadaan semakin ribet, sayangku,’’ katanya pada sebuah malam, ketika aku memprotes tindakannya mematikan hp. ‘’Aku hanya khawatir dengan anakku. Maksudku dengan keadaan istriku juga tentu saja, tidak lebih dari itu,’’ kataku pada waktu itu. ‘’Aku baik-baik saja. Percayalah padaku,’’ katanya yang ternyata lebih tenang dariku. ‘’What a silly me!’’. Kami pun berpelukan, berciuman.

Menjadi seorang ayah adalah idaman yang tidak terperikan. Aku paling sering membayangkan menggendong anakku di pundak, dan ibunya memandangi anak kami dengan tidak kalah bungahnya. Aku sering juga membayangkan menidurkan anakku di dadaku, sementara ibunya menepuk-nepuk dengan sangat pelan pantat anak kami yang ranum. Atau aku kerap membayangkan memandikan dengan khusyuk anak kami, sementara ibunya mengambil gambar kami dengan kamera sakunya. Atau aku juga paling sering membayangkan meninabobokan anakku dengan tembang lulabi, atau shalawat nabi, dan ibunya yang kelelahan juga turut terlelap tidur karenanya. Ah..

Aku hanya ingin membesarkan anakku dengan istriku, aku hanya ingin melihatnya tumbuh dengan besar, dan melepaskannya dengan bangga untuk bertanding sepakbola antarkelas misalnya. Atau sekedar mengkhawatirkan kepergiannya di akhir pekan ketika masa remaja tiba. Atau hal remeh-temeh lainnya tentang hubungan anak dan orang tua, yang di mataku sebenarnya sangat esensial sifatnya.

Ketika bayangan-bayangan indah itu berkelindan di kepalaku, di benakku hanya ada satu asa dan satu cita; semoga semua tidak terlalu melenceng dengan apa yang aku harapkan. Sebagai bayarannya, aku sangat hati-hati, bahkan terkesan over protective ketika kandungan Bianca pelan dan pasti semakin membesar.

‘’Kau seharunya istirahat istriku,’’ kataku pada sebuah senja di akhir pekan tepatnya.

‘’Aku akan baik-baik saja kok, tanpa musti mengambil cuti hamil segala,’’ sergahnya.

‘’Tapi aku terlalu khawatir dengan kandunganmu’’.

‘’Bukankah tadi siang dokter sudah memastikan anak kita akan baik-baik saja, sayangku’’.

‘’Iya sih, tapi bukankah dokter juga menasehati kita untuk semakin hati-hati menjaga kandunganmu. Kau tidak boleh terlalu capek. Itu dokter juga yang mengatakannya,’’.

‘’Iya. Aku tahu itu. Aku akan mengambil cuti nanti kalau kandunganku udah masuk usia delapan bulan’’.

‘’Semakin cepat semakin baik aku kira’’.

‘’Aku akan semakin bingung jika tidak melakukan apa-apa di rumah. Kau tahu itu, sayangku’’.

‘’Iya, tapi bukankah itu semua demi kesehatan kandunganmu juga’’.

‘’Aku akan baik-baik saja. Bukan semata aku akan menjaganya dengan baik. Tapi aku yakin, anak kita akan turut menjaga ibunya, bahkan ketika dia masih berada di kandungan ibunya. Yakini aku, sebagaimana aku meyakinimu, ’’.

‘’Aku mencintaimu’’

‘’Aku lebih dari itu’’.

HARI masih berjalan dengan biasa, dan kami mewarnainya dengan cara kami sendiri. Berdua, sebagai calon orang tua baru, kami telah bersiap menyiapkan segala piranti yang berkenaan dengan keperluan dan kebutuhan bayi. Dari kamar yang dicat biru oleh Bianca, dengan perca bintang di langit-langitnya, sampai mainan, pakaian, sepatu dan semua pernik nyaris tersedia semua. Untuk urusan seperti ini, Bianca adalah jagonnya. Sedangkan kegiatanku, karena lewat USG sudah kelihatan anak kami adalah laki-laki, maka segala keperluan yang berhubungan dengan kelelakian sebisa mungkin aku penuhi.

Bola tendang, voli, kasti, basket, pistol, dan buku-buku dongeng pengantar tidur yang berisikan kisah kebijakan, kejujuran dan keberanian sudah tersedia semua. Memang benar, tidak ada yang lebih membahagiakan selain membayangkan bersegera berjumpa dengan buah cinta yang telah lama diidamkan.

‘’Apa yang kali pertama akan kau lakukan jika pada saatnya anakmu keluar dari kandungan ibunya?,’’ tanya Bianca dalam sebuah makan malam di rumah kami, sebuah apartemen kelas biasa, namun permai.

‘’Aku akan mensyukurinya, tentu saja,’’.

‘’Cuman itu’’.

‘’Pasti akan sangat sulit membayangkannya’’.

‘’Kebahagiaan itu pasti sangat berarak, ya’’.

‘’Tentu saja’’.

‘’Aku juga tidak sabar menantikannya’’.

‘’Tapi, kau tidak kelihatan sebahagia diriku’’.

‘’Aku hanya belum menampakkannya saja. Bukankah kau tidak bisa merasakan betapa aku terus berbicara padanya, bahkan dalam tidur dan mimpiku sekali pun’’.

‘’Aku tahu itu. Kau ibunya’’.

‘’Kau ayahnya’’.

Kami pun tertawa.

BIANCA, sebagai perempuan karir kebanyakan, paling tidak suka dicampuri keindependensiaannya, memang pada awalnya sedikit banyak merasa terganggu dengan kehamilannya. Namun, pelan dan pasti dia bisa berubah dengan sendirinya, hingga akhirnya malih suasana sangat-sangat bisa mensyukuri, serta menikmati proses kehamilannya.

‘’Pada awalnya kurang nyaman, tapi sangat nikmat sekali rasanya,’’ katanya suatu saat ketika tiba-tiba meneleponku di sebuah siang. ‘’Aku bahkan pelan-pelan seperti orang gila, senang berbicara sendiri dengan anakku,’’ katanya sembari terisak dari seberang sana. ‘’Aku bangga, seneng, dan bersyukur dengan keadaan ini. Terima kasih untuk semuanya, sayangku’’.

Entah ada angin apa, istriku mendadak menjadi sentimentil, tidak seperti biasanya. ‘’Aku tiba-tiba juga nggak sabar untuk bersegera bertemu dengannya, sebagaimana yang kau idamkan selama ini. Apakah dia akan setampan, setenang, seyakin, setekun, sekuat, sebestari dan sepinter ayahnya? Ah moga-moga dia tidak begitu sependiam ayahnya, bisa kesepian nanti ibunya,’’ katanya masih dengan isak yang sama. Kami pun hanya terkekeh. Bianca menangis tertawa. Padahal kandungannya baru menginjak usia empat bulan.

Masa-masa menunggu semakin besarnya kandungan Bianca adalah masa-masa yang menegangkan yang seperti tidak akan pernah ada habisnya. Dalam sebuah kesempatan aku menanggapinya dengan tenang dan sahaja, dengan demikian aku tidak terlalu mengkhawatirkannya. Namun, pada saat bersamaan, kekhawatiran yang kadang mungkin berlebihan itu, sangat tidak mengenakkan kami berdua.

Maklum, kami adalah para pemuda yang bahkan belum menginjakkan usia 30 tahun ketika bakal anak kami yang pertama akan menemani kami berdua. Dan ini adalah pengalaman berumah tangga untuk kali pertama. Tentu saja ini adalah pengalaman kami pertama pula, menunggu saat-saat menegangkan buah cinta kami akan menjeritkan tangisannya.

Dalam sebuah kisah aku pernah mendengar cerita tentang bayi yang menjeritkan tangisannya ketika kali pertama menyua dunia. Gus Dur, si Adulrahman Wahid yang mantan Presiden super sak-sak’e itu, pernah menukil sebuah cerita lawas dalam bahasa sederhana yang sangat mengena.

Begini nukilannya; semua orang menyambutku dengan kegembiraan yang sangat maha, saking gembiranya, orang-orang yang hidup itu menyambut kelahiranku dengan gelak tawa air mata. Padahal aku malah menangis ketika melihat dunia. Demikian pula sebaliknya, ketika aku meninggal dunia, pulang ke Rumah Tuhan, orang-orang melepasku dengan air mata kesedihan, meski sebenarnya aku malah tertawa-tawa. Karena menyambut surga di depanku.

‘’Apakah anak kita akan sedih melihat dunia? Bukankah kedua orang tuanya sangat tidak sabar untuk menyambut dan menunggu kedatangannya?’’ tanya Bianca padaku mengkhawatirkan buah hatinya, pada sebuah Minggu pagi ketika kami berjoging di Senayan.

‘’Memang, terlalu banyak cerita dan kisah tentang bayi yang menjeritkan tangisannya ketika melihat dunia untuk kali pertama. Tapi paling tidak, kita tidak akan terus-terusan membuatnya menjerit ketika melihat keadaan dunia,’’ kataku menenangkannya, mencari-cari pembenaran.

‘’Aku takut menanggungkannya terlalu banyak beban dalam kehidupan ini.’’

‘’Kau berpikir terlalu jauh. Setiap anak mempunyai nasibnya sendiri. Berprasangka baik sajalah dengan nasib anak kita’’.

‘’Sebagaimana aku berprasangka baik terhadapmu?’’

‘’Ya, sebagaimana aku berprasangka baik kepada nasib kita juga’’.

‘’Tapi ini lain, ini adalah anak kita, buah sayang kita. Buah prasangka baik kita. Aku tidak akan pernah bisa membayangkan akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan dalam hidupnya. Aku ibunya’’.

‘’Aku ayahnya. Aku rasa semua orang tua akan berpikiran serupa denganmu, istriku’’.

‘’Tapi entah kenapa, aku takut membayangkan anakku akan berseteru dengan terlalu banyaknya permasalahan hidup’’.

‘’Dia akan kuat, liat, tekun, dan sepinter ayahnya. Dan tentu saja akan sebaik, secerdas, semandiri, sebestari dan sesantun ibunya’’.

‘’Kau masih dan selalu pandai membesarkan hati,’’ katanya tersenyum.

Kami pun saling mengeratkan ikatan gandengan tangan. Juga hati.

IV. Bianca

BIANCA Larasati bekerja pada sebuah perusahaan swasta Amerika yang bergerak dalam bidang pengembangan energi minyak bumi. Di PT. Conoco Philips Indonesia dia menjadi salah seorang finance & accounting staff yang sangat dipercaya dan diandalkan. Segala yang berkenaan dengan urusan manajemen sistem keuangan dan akunting perusahaan, konon, kata Nanda, karibya sekantor, diberesi dengan baik sempurna olehya. Jadi, tidak mengherankan jika dia menjadi salah satu bintang kelas di kantor. Dan oleh karenanyalah kinerjanya sangat bisa diandalkan. Untuk semua jerih otaknya, impact yang dia terima dalam bentuk salary dan tunjangan, sangat berlipat ganda dari pada apa yang aku dapatkan.

Bayangkan, aku hanya penulis lepas pada berbagai majalah dan koran ibukota, serta menghasilkan berbagai skenario untuk diproduksi di berbagai rumah produksi untuk konsumsi tv series, dan sekali dua jika produser film berkenan, dijadikan produksi untuk konsumsi layar lebar. Selebihnya, aku menghasilkan atau terlibat proyek pembuatan berbagai iklan. Namun, syukur Alhamdullilah sedikit maupun banyak, ketimpangan secara finansial diantara kami, tidak membuat goyah apalagi merusak bahtera.

‘’Kayak anak TK berseteru tentang rupiah,’’ katanya suatu saat ketika aku meminta maaf padanya karena rupiah yang aku berikan tidak seberapa. Menjadi kanak-kanak pun pada saat ini tidak melulu berpikir tentang rupiah, imbuhnya sedikit kesal. ‘’Kalau sejak awal aku mencari suami yang mempunyai kekuatan finansial, kenapa tidak repot-repot aku memacari para kawanku yang pengusaha untuk dijadikan suami. Atau paling tidak anak pengusahalah. Meski tidak pinter-pinter amat, tapi paling tidak jaminan sosialnya sangat mencukupi kan’’.

Ah, aku lupa, jangan pernah berbicara tentang rupiah kepada istriku. Dari kecil dia biasa berkelimpahan, jadi mungkin dia sudah bosen jadi orang ‘’punya’’, dan berhubungan dengan ‘’orang punya’’ secara finansial, sudah bukan menjadi sesuatu yang istimewa lagi buatnya.

‘’Kalau semua barang, dari rumah, deposito hingga mobil tunggangan adalah hasil jerih payahnya sendiri, aku akan salut padanya, siapa pun orang itu. Tapi, kalau hanya sekedar belas kasih kedua orang tua tercinta, itu biasa, super standar, sayang?’’ katanya nyinyir, ’’Nggak usah ceritalah,’’ imbuhnya agak ketus lewat telepon kepada Nanda, yang bercerita kepadanya ketika ia ditaksir seorang laki-laki tampan lagi baik hati nan kaya. Semacam kisah drama sempurna yang sejatinya non-sense itu.

Aku yang mencuri dengar pembicaraan itu hanya tersenyum. Kecut.

Sebagai satu-satunya putri mantan staff khusus Kedutaan yang nyaris telah ditempatkan di berbagai negara belahan dunia, Bianca beruntung mengecap pendidikan, kebudayaan, dan nilai rasa yang jarang dan tidak dimiliki orang kebanyakan. Jadi tidak mengherankan jika dia mempunyai kecakapan intelektual di atas rata-rata. Universitas bahkan dia rampungkan di UCLA dengan major ekonomi, sewaktu orang tuanya bekerja menjadi salah satu staf khusus di Kedutaan Besar Belanda.

‘’Sewaktu ayah di Belanda, di California aku tinggal di apartemen murahan dari jerih payah menjadi babby sitter paruh waktu,’’ kenangnya. Jadi, imbuh dia, uang saku kiriman ortunya utuh untuk tabungan pribadi.

Jadi, ketika masalah keuangan telah purna, pendidikan tidak terbantahkan, religiusitas sedang dirintis, apa lagi yang dicarinya?

‘’Aku mencari seorang suami yang baik, dan sepertinya itu adalah kamu. Maka aku akan dengan senang hati menjadi ibu dari anak-anak kita,’’ jawabnya ketika tenggat waktu yang tidak ditentukan untuk memberikan jawaban telah tiba, setelah pertemuan kami untuk kali ketiga, dulu.

Bianca memang tidak seketika mengiyakan ketika aku ajak menikah. Empat bulan kemudian tepatnya, setelah pertemuan kami yang ketiga di Anyer kala itu. Sebelumnya dia berpikir, berrasa, dan berdoa apakah aku benar-benar pasangan hatinya. Setelah dia merasa aku adalah orangnya, maka dengan lapang hati, ikhlas dan penuh kesungguhan berangkatlah kami berbahtera. Apa pun bayarannya.

Masa laluku dan masa lalunya, atas kesadaran dan kesepakatan bersama menjadi sirna. Let bygones be bygones. What ever will be will be, demikian nubuat roman-roman kebanyakan.

‘’Temen-temen bilang dan jeles aku mempunyai seorang suami yang penulis. Kata mereka pasti keren mempunyai seorang suami penulis,’’ katanya ketika kami hendak berangkat tidur.

‘’Oh ya, calon suami Putri kan pengacara, suruh aja dia jadi penulis, maka keren juga dia jadinya,’’ kataku sekenanya berbicara tentang Putri, kawan sekantor istriku.

‘’Yah, dia tersinggung ya....suamiku tersinggung ya. Nggak biasanya laki-laki yang aku sayangi kok nyinyir seperti ini?’’.

‘’Emang gampang bu menjadi penulis, segampang anak-anak itu belajar ilmu hukum , ekonomi, kedokteran atau elektro nuklir sekalipun’’.

‘’Yah, ke mana-mana dia’’.

‘’Bianca istriku yang baik, menjadi penulis tidak semudah yang mereka bayangkan. Meski bukan berarti mereka semua tidak bisa menjadi penulis’’.

‘’Iya, aku tahu, kok marah sih’’.

‘’Siapa yang marah ya...’’

‘’Situ..’’

‘’Ini bukan marah!””

‘’Lantas’’.

‘’Ini menempatkan perkara pada porsinya’’.

‘’Ah takut ah, tidur aja yuk’’.

Kami pun tertawa kecil sembari menyongsong kantuk.

‘’Mereka kan hanya bilang, gimana rasannya mempunyai suami seorang penulis. Dan aku jawab, aku happy, bangga dan kuutarakan segala perasaan yang mewakili keluarbiasaan. Itu lo jawabku kepada kawan-kawanku. Dan yang paling penting, kataku kepada mereka, jika punya masalah dengan seorang suami yang penulis, dia tidak akan pernah dan jarang mengeluarkan kata-kata secara langsung, kecuali menuliskan apa yang ada di benaknya. Dan aku hanya membacanya, setelah itu, dia akan kembali menjawab dengan tulisannya’’.

‘’Yah, dia malah ke mana-mana, melecehkan suaminya sendiri....’’

Untuk kali kedua, kami tertawa, pelan.

Selera humor istriku memang menggemaskan. Oh ya, kau, Anda, tuan dan puan tahu makna nama Bianca Larasati? Bianca sebagaimana kita maklumi adalah nama Italia yang berarti kurang lebih murni, atau white pure. Nama itu diberikan kepada Bianca karena ayahnya pernah beberapa saat bertugas di negeri pizza itu. Dan mungkin terpesona dengan kecantikan para dara di sana. Sedangkan Larasati diberikan ibunya agar putrinya menjadi laras-ati, lurus-ati, atau dalam terminology Jawa berarti jujur dan sabar. Bukankah indah jika kita berpikir seorang perempuan bernama Italia dan Jawa kuliah di Los Angeles Amerika, dan akhirnya bekerja di Jakarta, kemudian menikah dengan pejantan tangguh asli Indonesia?

SELAIN gemar berkebun, Bianca adalah pembuat kue yang mumpuni. Dari brownies kukus sampai blackforest, hingga kue bolu adalah menu-menu standarnya. Bahkan terkadang dia meracik-racik berbagai menu untuk menemukan sebuah temuan anyar. Memang, dari hasil coba-cobanya, tidak semua menghasilkan sebuah sajian yang nikmat untuk dikonsumsi, tapi ikhtiarnya untuk melakukan penemuan-penemuan baru patut dihargai.

‘’Enak nggak roti terbaruku ini,’’ katanya setelah barang dua jam bersikutat di dapur.

‘’Enak!’’ jawabku sigap bahkan sebelum mencicipinya sekalipun.

‘’Mbok yang serius sedikit kenapa sih. Mosok menghormati jerih payah istri sendiri kok nggak bisa’’.

‘’Ups, dia tersinggung. Sensi kayak anak SMP ibu satu ini,’’ jawabku sembari melingkarkan tangan kiriku ke pundaknya.

Seperti biasa, dia hanya menjentilkan selentikan kecilnya di puncak hidungku, sebagai tanda kegemasannya. Setelah itu, seperti biasa, kami menikmati berdua roti buatannya sembari menonton National Geographic di layar kaca.

V. Orchid

TANYAKANLAH berbagai jenis anggrek kepada Bianca. Maka, tak ubahnya dosen yang tahu betul dengan ilmu yang dikuasainya, dia akan bertutur dengan deskriptif tentang anggrek kepada penanyanya.

‘’Kau pasti heran mengapa aku dalam beberapa hari ini menyimpan darah ayam dalam jumlah tertentu?’’ tanyanya padaku yang memang sedikit banyak keheranan dengan kebiasaan barunya menyimpan darah ayam. ‘’Para pencinta anggrek akan melakukan hal yang sama, sayangku?’’.

‘’Menyimpan darah ayam dalam jumlah tertentu?’’

‘’Yap!’’.

‘’Apakah ibu dulu juga melakukan hal yang sama?,’’ kejarku merujuk pada ibu mertuaku yang mempunyai hobi yang menurun kepada putriya, rupanya.

‘’Yap!’’.

Setelah itu dengan detail Bianca akan bertutur tentang tata cara pemupukan bunga kesayangannya tersebut. Selain menggunakan pupuk yang berasal dari kotoran ayam atau kotoran sapi, terangnya, penggunaan darah ayam akan sangat membantu kualitas warna bunga anggrek yang mekar nantinya. ‘’Beberapa lama sebelum disiramkan ke akar anggrek, darah ayam tersebut kita peram barang dua hari, setelah itu kita campur dengan air dalam jumlah tertentu, sebelum pada akhirnya kita siramkan ke akarnya. Dan hasilnya, bisa kau lihat sendiri bukan?!’’.

Memang, anggrek Bulan kebanggaan istriku warnanya lebih cemerlang ketika mekar dibandingkan dengan anggrek yang tidak dia perlakukan sama.

‘’Kalau disiram dengan darah manusia akarnya, apa yang terjadi ya?’’ tanyaku membanyol tentu saja.

‘’Darah situ boleh juga sepertinya’’.

‘’Mungkin suatu saat perlu kita coba. Atau barangkali, maaf, darah kotor perempuan ketika datang bulan, gimana?’’

‘’Please deh….yang ada anggreknya pada mampus semua’’.

Menanam anggrek bagi Bianca bukan hanya masalah melampiaskan hobi memanjakan psikologi, lebih dari itu, menurutnya, selain memperindah balkoni apartemen kami yang tidak seberapa, membudidayakan anggrek jika ditekuni, akan sangat dapat mendatangkan keuntungan secara finansial.

‘’Kemarin, Nanda dan Putri bahkan telah melakukan penawaran terhadap anggrek Bulan kesayanganku. Dan harganya bagus loh..’’

‘’Boro-boro terjadi transaksi, yang ada malah dibagi secara gratis kan’’

‘’Iya sih…’’

Kami hanya tertawa.

ANGGREK atau dalam bahasa Bianca adalah Famili Orchidaceae baginya adalah belahan jiwa dalam bentuk yang lain. Jadi bukan hal yang mengherankan lagi jika pada sebuah kesempatan dia kerap berbicara sendiri dengan Mikiwi atau si Kalajengking, Aranda, Pandad, Apple Pink dan beberapa jenis anggrek kesayaannya lainnya. Aku bahkan tidak yakin apakah telah benar menuliskan ejaan anggrek kesayangan istriku itu.

‘’Kau berbicara kepada tumbuhan seolah berbicara dengan anakmu saja,’’ tegurku pada sebuah Minggu pagi, ketika dari tadi mengetahuinya berbincang dengan berbagai jenis bunga kebangsaan bangsa Thailand dan Singapura itu.

‘’Inilah seni dan kenikmatannya. Bukan hanya bayi yang bisa diajak bercengkrama. Bahkan tumbuhan ini bisa sekali diajak berdialog,’’ katanya.

Mengapa Anggrek sangat menjadi tumbuhan dan bunga kesayanganku? Tanyanya padaku. Tanpa menunggu sebuah jawab atau anggukan sekalipun dariku, Bianca dengan tertib dan detail menarasikan kegemarannya tersebut.

‘’Bunga Anggrek, sebagaimana kau maklumi selain bunganya menyejukkan mata dan memesona, menanam dan memeliharanya tidak sesulit dan sepelik yang kau bayangkan,’’ katanya sembari sesekali memetik dedaunannya yang sudah memudar. ‘’Anggrek, tidak sebagaimana laki-laki, hanya perlu sedikit perhatian, namun justru menghasilkan sesuatu yang melebihi harapan, yaitu keindahan’’.

‘’Ada analogi yang lebih sarkatis dari itu?’’.

‘’Hi hi hi,’’ istriku hanya mengangkasakan derai tawanya. Sindirannya perihal laki-laki yang tak lebih dari seorang bayi raksasa memang terkadang ada benarnya.

‘’Kita hanya perlu sedikit tahu untuk memahami di mana bunga jenis ini bisa tumbuh dan berkembang. Selanjutnya, ketekunan yang sangat berperan dalam perkembangannya selanjutnya. Bayangkan, memelihara atau untuk mengerti laki-laki dalam banyak hal lebih pelik dan tidak masuk akal, meski ketekunan telah disediakan sedemikian banyaknya’’.

‘’Pengalaman masa lalu ya bu,’’ jawabku sekenanya.

Kami berdua pun, lagi-lagi, hanya tertawa.

AH, memelihara Anggrek menurutku, berdasar pengetahuanku selama ini melihat istriku berkebun, terkadang agak pelik juga.

‘’Di mana peliknya. Kau hanya butuh tahu bahwa Anggrek pada dasarnya membutuhkan temperatur yang rendah serta kelembaban udara yang cukup,’’ jawabnya tak terima. ‘’Oleh karenanyalah tempat yang paling ideal baginya bila terhindar dari panas matahari secara langsung. Meski demikian dia harus tetap mendapatkan cukup sinar matahari dan udara loh’’.

‘’Ah, tetap saja pelik. Suamimu ini bahkan tidak sepelik itu’’.

‘’Enggak. Coba denger dulu. Kau hanya dianjurkan menanamnya di wadah yang dapat tahan lumayan lama untuk menyimpan air’’.

‘’Untuk itulah kau menggunakan moss, akar kadaka, pakis cincang, kayu cincang, arang, kulit pohon atau sabut kelapa?’’

‘’Eh, pinter banget,’’ ejeknya.

‘’Ah, sialan’’.

Kami berdua tertawa lagi.

‘’Selain apa yang kau sebutkan tadi berfungsi sebagai wadah menyimpan air, juga sekaligus berguna sebagai alat berpegang bagi akarnya’’.

ITU belum semua, Bianca bahkan dengan kesabaran dan ketekunannya layaknya seorang guru kepada muridnya yang paling bengal, mampu menularkan dan menginformasikan segala ihwal yang dikuasainya, seperti kasus anggrek ini. Dia bahkan dengan teliti mampu menyilangkan antara jenis anggrek yang satu dengan anggrek lainnya, dengan harapan menghasilkan aneka warna dan bentuk baru.

‘’Mengembangbiakkan anggrek bisa juga dilakukan dengan menggunakan teknik kultur jaringan. Artinya, kita hanya cukup menggunakan satu sel dari anggrek induk, maka akan dapat membuahkan bibit anggrek yang identik,’’ katanya sembari menambahkan bahwa faktor udara pun sangat memegang peranan penting untuk perkembangan dan pertumbuhan anggrek.

‘’Itulah sayang mengapa pada musim hujan, anggrek-anggrek ini setiap dua bulan sekali bisa kita petik kembangnya. Tapi pada musik kemarau, baru bisa kita petik selama tiga bulan,’’ terangnya dengan sabar.

‘’Bener kan, dependingnya lebih besar daripada suamimu ini. Anggrek itu bahkan epifit pada pohon atau ranting-ranting lainnya meski tidak pernah bertindak sebagai parasit. Selain itu, sangat banyak faktor yang memengaruhi perkembangaannya, dari faktor lingkungan, seperti kelembaban, sinar matahari, temperatur. Belum lagi pemeliharaannya seperti pemupukan, penyiraman serta pengendalian hama. Bener kan’’.

‘’Enggak seperti yang kau bayangkan, sayangku,’’ ujar Bianca, sebelum pada akhirnya kembali meneruskan keterangan perihal empat habitat tanaman anggrek. Memang benar ada anggrek epifit yang hidupnya menumpang pada pohon lain tanpa merugikan tanaman inangnya, paparnya. ‘’Anggrek jenis ini hanya membutuhkan naungan dari cahaya matahari, misalnya Phalaenopsis sp hanya membutuhkan cahaya matahari kurang lebih 30 %, Cattleya sp membutuhkan cahaya 40%, Dendrobium sp membutuhkan 50 sampai 60%, dan Oncidium sp, membutuhkan 60 – 75 % cahaya matahari’’.

‘’Andai saja aku tahu apa makna kata asing di balik semua maksudmu itu, istriku’’.

‘’Kau akan belajar dengan sendirinya. Percayalah’’.

Kemudian, imbuhnya, ada jenis anggrek terestrial, yaitu anggrek yang dapat tumbuh di tanah dan membutuhkan cahaya matahari langsung, seperi Aranthera sp, Renanthera sp, Vanda sp, dan Arachnis sp, ‘’Untuk jenis anggrek terestrial seperti ini membutuhkan cahaya matahari 70 – 100 %, dengan suhu pada siang hari berkisar antara 19 – 380 derajad celcius, dan pada malam harinya 18–210 derajad celcius. Bahkan, untuk anggrek jenis Vanda sp yang berdaun lebar seperti ini hanya memerlukan sedikit naungan,’’ terangnya menunjuk salah sebuah anggreknya yang berdaun laksana telinga Gajah.

Selesaikah penjelasan Bianca perihal Anggrek?

Masih panjang.

‘’Masih ada anggrek saprofit, anggrek jenis ini tumbuh pada media yang mengandung humus atau daun-daun kering, dengan hanya membutuhkan sedikit cahaya matahari, seperti Goodyera sp. Dan yang terakhir adalah anggrek litofit, anggrek jenis ini tumbuh pada bebatuan, dan cenderung lebih tahan terhadap cahaya matahari penuh, seperti Dendrobium phalaenopsis’’.

Galibnya, menurut Bianca, anggrek yang ada di balkoni apartemen kami membutuhkan temperatur 28 + 2° celcius dengan temperatur minimum 15° celcius.

‘’Anggrek tanah biasannya lebih tahan panas dari pada anggrek pot’’.

‘’Yang jenis ini pasti banyak di Afrika?’

‘’Udah deh, simak aja dengan tekun ya. Sayangku, temperatur Afrika pasti kau tahu sangat tinggi sekali, itu bisa menyebabkan dehidrasi, akibatnya kau tahu sendiri kan?’’

‘’Perkembangannya pasti terhambat’’.

‘’Uh, pinternya, makanya disimak terus ya, biar tetep pinter’’. Selanjutnya, dia akan bercerita tentang kelembaban nisbi yang diperlukan untuk berbagai macam jenis anggrek. ‘’Fungsi kelembaban yang tinggi untuk menghindari penguapan yang terlalu tinggi. Kalau kelembabannya terlalu tinggi dapat mengakibatkan busuk akar pada tunas-tunas muda. Itulah mengapa aku sebisa mungkin menjaga wadah dalam pot jangan tertalu basah’’.

‘’Untuk itu pula kau sering menyemprotnya dengan bantuan sprayer?’’

‘’Yap’’.

Setelah itu, dia akan semakin panjang, dan panjang bercerita. Dan itu berarti membutuhkan ketekunan, stamina, toleransi dan penghormatan untuk terus menyimaknya. Ah adakah pekerjaan yang lebih membosankan namun lumayan menyenangkan selain menyimak dunia istri kita yang sebenarnya kita tidak begitu menyukainya?

‘’Masih mau menyimak nggak sih? Kok ogah-ogahan seperti itu. Kalau bercerita tentang Manchester United, dan Sir Alex Ferguson serta peta kekuatan sepakbola Eropa terkini aja aku simak kok’’.

‘’E, e, ekok marah gitu? Masih, masih….’’

‘’Enggak enak banget deh….’’

‘’Eeeeee….ya, ya, ya….ayo teruskan ceritanya’’.

‘’Males deh. Belajar nyenengin istri sendiri kenapa sih. Cuman nyimak aja ogah-ogahan’’.

‘’Eeeee iya, iya… aku menyimak terus dari tadi kan….’’

‘’Iya, tapi mulai ogah-ogahan!’’

‘’Tau dari mana aku mulai ogah-ogahan’’.

‘’Itu mulai nguap’’.

‘’Lah, nguap kok dijadikan indikator ogah-ogahan’’.

‘’Ya, udah. Masih mau nyimak nggak?’

‘’Masih to ya…..’’.

Kemudian, Bianca dengan agak sedikit terganggu emosinya bertutur tentang proses pola pertumbuhan anggrek, yang katanya dibedakan menjadi dua tipe, yaitu simpodial dan monopodial. ‘’Anggrek simpodial itu anggrek yang tidak memiliki batang utama, bunganya ke luar dari ujung batang, serta berbunga kembali dari anak tanaman yang tumbuh,’’ tuturnya sembari menyebut nama asing lagi seperti Cymbidium sp, Dendrobium sp, Cattleya sp, dan Oncidium sp. ‘’Sedangkan anggrek monopodial itu anggrek yang titik tumbuhnya terdapat di ujung batang, pertumbuhannnya lurus ke atas pada satu batang. Dan ciri khususnya kembangnya ke luar dari sisi batang diantara dua ketiak daun,’’ katanya lagi-lagi sembari menyebut nama latin lagi yang makin membuatku puyeng, seperti Renanthera sp, Phalaenopsis sp, Aranthera sp, Vanda sp, dan Arachnis sp. Itu belum semua, istriku pun dengan detail akan berkisah tentang proses persilangan, pembibitan, serta penanaman dan pemeliharaannya.

‘’Suamiku. Kedengarannya anggrek memang pelik ya, dan kau pun kelihatan udah bosen menyimaknya. Tapi yang pasti, anggrek tidak tidak sepelik, seaneh dan semembosankan laki-laki’’.

‘’Lah…..!?’’

VI. Another Luka

MENJADI manusia, semua orang juga tahu, adalah tidak mudah. Apalagi menjadi Luka. Tidak ada yang lengkap dalam hidup manusia, dan dalam hidup Luka, semakin tak terkira ketidaklengkapannya. Keganjilan, keabsurdan, ketidakjelasan, kesamaran, dan ketidakpastian bersilangsengkarut dalam kesehariannya. Kelindan dan kesimaharajaan hidup tidak akan pernah bisa dimengerti dalam sekali umurnya, sekali riwayatnya. Dalam sebuah jenak terkadang dia berpikir kematian mungkin akan lebih baik keadaannya jika dibandingkan dengan kondisinya sekarang. Namun, dalam saat yang bersamaan, jaminan kenyamanan dalam kematian itu tidak ada yang pernah bisa benar-benar memastikannya. Meski sebenarnya dia juga tahu, dan berusaha untuk meyakininya, bahwa manakala dia telah berani menaklukkan kematian, maka dia akan mampu menaklukkan ketakutannya. Ketakutan tentang apa saja. Takut melarat, takut kesepian, takut ditinggalkan, takut dicampakkan, takut diabaikan nasib baik, bahkan takut tidak diterima oleh kehidupan sekalipun.

Sejauh manakah stamina Luka menempuh ketidakpastiannya terhadap hidup? Sejauh gelora kelelakian dan gelegar hasratnya mampu dia kendalikan, dia manajemen sedemikian rupa. Ah, Luka hanya sebagaimana anak muda lainnya, yang cenderung memenangkan gelora kelelakiannya, dan menyalurkan hasratnya, setelah itu, dengan sangat mudah ditebak, dia mencoba memetik kuntum-kuntum makna dari balik penyesalannya. ‘’Seharusnya tidak seperti ini. Semestinya seperti itu. Sepatutnya demikian. Selayaknya kebajikan’’. Itulah ungkapan yang paling kerap bertahta di kesadarannya manakala sebuah dosa sudah tercipta. ‘’Ah, namanya juga manusia, abai dan lena adalah bagian dari ketidaksempurnaan yang membuatnya sempurna sebagai makhluk yang bernama manusia, bukan?,’’ ah, lagi-lagi sangat super klise kan pembelaannya. Seperti anak kecil yang ketahuan berbuat curang oleh ibunya, kemudian menyatakan penyesalannya, setelah itu, sangat bisa ditebak, akan berbuat dan mengulang kesalahan yang cenderung sama. ‘’Ibuku terlalu baik sebagai seorang manusia. Bahkan neraka pun akan ditebusnya atas nama kasih sayang kepada anaknya,’’ ujar Luka pada suatu senja, ketika matahari pelan dan pasti hendak pulang ke kampung halamannya. ‘’Demikian halnya dengan Tuhan atau siapa pun orang menyematkan dan menyebut nama-Nya. Ia tidak akan pernah berpikir untuk mencemplungkan umatnya hanya untuk sebuah atau berbuah-buah kesalahan ke dalam neraka. Karena, kau harus tahu, sebagaimana nubuat para cerdik cendekia, Tuhan kan bagaimana Ia berada dalam benak kita. Kita berpikir baik, maka baiklah Ia kepada kita. Kita berpikir buruk, maka, keburukan berkecenderungan menaungi kita’’.

“Kau terlalu banyak bicara!’’ Selaku ketika baru menyadari telah bergelas-gelas alkohol dengan santun bertamu di kesadarannya.

‘’Ini saat yang tepat untuk berbicara,’’ potongnya dengan cepat.

‘’Kau tampak kelihatan bodoh jika berpikir dalam keadaan membabi-buta seperti itu’’.

‘’Ah, itukan penilaianmu saja’’.

‘’Kau semakin tidak terkendali’’.

‘’Aku baik-baik saja’’.

‘’Apa yang kau bicarakan adalah mata pelajaran anak kemarin sore, yang masih belum selesai dengan dirinya sendiri!’’

‘’Aku nggak peduli. Anggap saja aku sedang mengulang pelajaran untuk sekedar remainding’’.

‘’Kau semakin tidak keruan’’.

‘’Aku baik-baik saja. Percayalah’’.

‘’Tapi kau menceracau’’.

‘’Hei, para sufi dan orang suci pada masanya identik dengan ceracauan ketika dia menyampaikan kebijakan-kebijakan sebagai tuntunan’’.

‘’Kau bukan sufi!’’

‘’Justru itulah’’.

‘’Kau sakit’’.

‘’Sembuhkan aku kalau begitu’’.

LUKA lahir dan besar dari sebuah keluarga yang menghormati dan menjunjung tinggi pendidikan. Belajar senantiasa menjadi sebuah prioritas utama yang tidak terbantahkan. Belajar apa saja, dari siapa saja. Dan capaian kepandaian adalah buah dari sebuah proses belajar panjang yang tidak akan pernah usai, selama hayat di kandung badan. Lewat proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya itulah, Luka melewati keseharian dan perjalanan nasibnya dengan cenderung baik. Kalaupun tidak sempurna benar, akibat proses belajarnya itulah dia berkeniscayaan untuk terus melebarkan dan melanglangkan pikiran-pikirannya.

‘’Aku akan menantang nasib. Mengajaknya bersemuka, kemudian, mencandainya. Agar dia lena, dengan demikian aku dapat menelikungnya. Setelah itu, akan aku desain nasibku sendiri sesuai dengan apa yang aku inginkan’’.

‘’Sudahlah, berdamai saja dengan nasibmu, dengan kelahiranmu. Kamu ini seperti anak SMP yang baru kenal lawan jenis, kemudian dengan semangat berkobar ingin memenangkan hatinya’’.

‘’Ini lebih dari sekedar ingin memenangkan nasib!’’

‘’Ah, udahlah...., mari kita pergi nonton saja. Kau tidak akan pernah bisa menang melawan nasib. Kau mau menantang garis hidupmu? Yang bener aja. Lewat cara apa pun kalau memang sudah demikian adanya, ya sudah diterima saja. Kau hanya perlu mengolah dan memaknainya’’.

‘’Kau seperti para agamawan dan orang-orang pandai yang gemar mengumbar kebajikan-kebajikan di mimbar-mimbar itu, untuk mendapatkan sejumlah bayaran. Dan ini yang paling memprihatinkan, mereka pikir mereka pandai. Padahal mereka nggak ngerti apa-apa. Di atas itu semua, mereka, seperti kamu, nggak pernah bisa ikhlas lihat orang ‘lepas’..’’

‘’Yah.....marah dia’’.

PERNAH Luka terlalu ‘’lepas’’ dengan hidupnya. Liar. Saking lepas dan liarnya dia, pada sebuah batas, akhirnya lelah juga. Berhenti pada sebuah kebosanan, keletihan, kemonotonan. Dan entah ada angin apa, dia berkeinginan keras menarik diri, retreat, mencoba menata ulang kesehariannya.

‘’Sebenarnya apa keinginan hidup ini dariku?’’ tulisnya dalam sebuah prosa liris. Setelah itu, dia bekerja dengan giat, serta penuh ketekunan untuk mengasah daya renung dan pikirnya. Bersoliter diri, memetakan kemarahan serta sinau berdamai dengan kelahiran. ‘’Hidupku akan hancur dengan pelan dan pasti jika aku tidak bersegera menarik diri. Ketajaman rasa ternyata membuat kita lebih menghormati diri, terlebih kepada orang lain’’.

LUKA sebenarnya tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang pewarta. Tidak juga dalam lintasan angannya yang paling liar, dan bodoh sekalipun. Tidak ada yang istimewa dengan pekerjaan itu, pikirnya kala itu. Tapi, kenyataan ternyata beroposisi. Dan perjalanan hidup memang harus tetap dan terus ditegakkan. Begitulah Luka melanjutkan hidupnya. Menjadi pewarta. Di luar keinginannya.

APA yang harus dibayar untuk sebuah hidup yang wajar? Hidup yang sepatutnya. Hidup yang layak? Tidak ada rumusan yang baku dalam perkara ini. Ikhtiar yang paling terskema, teliti, tekun serta penuh pengorbanan sekalipun tidak akan pernah mampu menjaminkan sebuah kelayakan dan ketrentaman dalam hidup.

Dulu, dulu sekali, atau mungkin hingga sekarang, ketika orang tua senantiasa memberikan nasihat, bahwa hidup prihatin akan membuahkan sebuah hasil yang menyenangkan pada saatnya nanti. Apa lacur? Tidak seutuhnya seperti itu adanya. Hanya kecenderungan hasil sebuah keprihatinan adalah kebaikan, benar adanya. Tapi mendekati kemutlakan adalah omong kosong belaka. Tidak akan ada yang pernah benar-benar berkuasa atas nasibnya, kecuali nasib itu sendiri. Meski ada juga dan banyak yang berpikir bahwa orang yang menggantungkan hidup dari nasib adalah makhluk yang paling menyedihkan. Apapun itu, merdekalah kita dengan pikiran masing-masing. Tapi, dalam kasus Luka, aku kira, betapapun getir nasib yang ditanggungnya tidak akan pernah membuatnya berprasangka buruk kepada hidup. Tidak selintas pun. Mungkin dia marah, aku kira itu wajar. Menjaga jarak dengan hidup, itu pun masih dalam batas-batas sepantasnya. Meski sebenarnya, menurutku, nasib Luka tidak jelek-jelek amat. Tapi kau, atau siapa pun aku pikir tidak sepatutnya berpikiran seperti itu. Karena kita, aku kira, tidak akan pernah benar-benar tahu berat beban hidup seseorang, tidak juga karib yang paling akrab dan setiawan sekali pun.

Seperti aku kepada Luka misalnya. Atau kalian dengan teman paling akrab kalian sekalipun, misalnya.

Adalah benar, Luka belum pernah ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya, seperti aku ditinggal pergi anak dan istriku. Tapi, dalam dimensi yang lain, dia, Luka mengalami kehilangan-kehilangan dalam bentuk yang lain, dan bisa sangat jadi lebih perih kehilangannya dari kematian yang nyata sekalipun.

‘’Ada sesuatu yang indah dari sebuah kematian dari orang-orang yang kita cintai,’’ katanya kepadaku lewat surat elektroniknya. ‘’Paling tidak, kita pernah meluangkan waktu bersama mereka semasa hidupnya. Dan kita boleh berbahagia karenanya. Bukan kehilangan yang melulu akan kita ratapi, namun, masa-masa hidup bersama merekalah yang menjadi sebuah kenangan yang patut kita rayakan’’.

‘’Kau belum pernah kehilangan dalam arti yang sebenarnya. Jadi, jangan pernah bertutur tentang rasanya kehilangan dan kehampaan padaku,’’ jawabku balik.

Keesokan harinya, sebuah pesan telah aku terima dari Luka.

‘’Siapa bilang aku belum pernah kehilangan! Berulang-ulang aku kehilangan!’’.

Seketika aku kembali menjawabnya.

‘’Paling tidak, kau belum pernah ditinggal mati!’’.

Seperti biasa, keesokan harinya, sebuah jawab sudah tersedia.

‘’Kematian adalah sebuah kepastian dan itu jelas. Tapi ditinggal pergi oleh orang-orang yang dicintai, dan dia telah mati di hati, tapi sebenarnya dia masih hidup di sana, di suatu tempat yang tidak kau ketahui tepatnya di sebelah mana, tapi kau masih berpikir semoga hanya kebaikan yang ada bersamanya, adalah sebuah kehilangan dalam bentuk yang lain. Dan itu, buatku, lebih menyakitkan. Meski sebenarnya kau mengklaim diri sangat lebih dari mampu untuk mengayominya dengan kebaikanmu. Tapi nyatanya, keadaan tidak memihakmu, dengan berbagai macam alasannya. Dari rasionalitas hingga keabsurdan keadaan yang seolah-olah terus dan terus melawan, sebelum pada akhirnya menelikungmu’’.

‘’Aku tidak tahu kau berbicara apa. Kongkrit saja. Apa yang harus aku lakukan,’’ jawabku.

Keesokan harinya, seperti biasa, sebuah jawab lagi-lagi sudah tersedia.

‘’Berbahagialah atas kematian anak dan istrimu! Karena kita atau siapa pun tidak akan pernah tahu apa yang terbaik untuk kita’’.

Kali ini, dengan kemarahan yang memuncak aku balas emailnya dengan mengabaikan santunitas perkawanan.

‘’SEHARUSNYA KAU BERHATI-HATI DENGAN PIKIRANMU’’.

Esoknya, mungkin karena Luka menyadari ketersinggunganku atau entah apa alasan pastinya, dia menawarkan sebuah pertemuan.

‘’Words always have two meaning. Mungkin kita harus bertemu. Bersemuka secara langsung untuk membicarakan hal ini. Sebelum kau menyumpahiku dengan segala serapahmu, atas jawabku yang tak berkenan di hatimu’’, jawabnya sembari memberikan data teknis perihal waktu dan ruang untuk persemukaan kita di sebuah kesempatan.

VII. Pertemuan.

PERTEMUANKU dengan Luka kali pertama terjadi pada sebuah kebetulan yang tak terkira. Mungkin karena jalinan hidupku dan hidup Luka terbentuk dan terbangun dari sebuah bangunan kebetulan ke kebetulan lainnya.

Pada sebuah mimpi yang ganjil aku kali pertama bersua dengannya. Biasannya, jika pada sebuah mimpi yang indah, alur cerita dalam mimpiku berjalan dengan liris, prosaik, bahkan terkadang puitis. Namun, tentang yang satu ini, bahkan ketika masih berada dalam sebuah mimpipun berjalan dengan ganjil.

Begini mimpinya:

Aku berada di sebuah padang savana yang luas. Bentangan keluasan savana yang menghijau itu seluas langit biru di atas kepalaku. Sejauh mata memandang sejauh itu pula savana menjelang. Dalam kesendirianku di tengah savana ada sebuah titik kecil di pelupuk mataku. Aku pikir itu adalah kotoran, atau semacam debu yang mengganggu pandangan mataku. Tapi, ketika aku usap dengan tangan kanan, ternyata bukan mataku yang terganggu. Melainkan memang ada sesuatu di sana. Semacam little tiny black spot. Tanpa berpikir panjang, karena aku seorangan, maka aku hampiri titik kecil berwarna hitam itu.

Setelah menempuh perjalanan yang mulus dan datar di padang savana, tak berapa lama kemudian semakin jelaslah sosok tersebut. Ternyata ia adalah seorang manusia, dan tepatnya sosok laki-laki dengan rambut terurai sebahu yang sedang menari. Tariannya pelan dan pasti, semacam tarian Bedoyo Ketawang yang sakral itu, atau tarian Karonsih, yang biasa untuk mengiringi orang pergi ke pelaminan. Aku terkesiap sekaligus terkesima dibuatnya. Meski parasnya tampak laki-laki sekali, namun gerakannya lembut laksana putri keraton sedang menari. Mengetahui aku berada di sekitarnya, laki-laki dengan rambut sebahu terurai dan membiarkan telanjang dadanya, itu menyimpulkan senyumannya. Sementara kain jarit yang ia kenakan semakin membuatnya tak ubah kesatria abad XII dalam cerita babad Jawi. Mungkin sebangsa sandangan para Akuwu atau Ken pada masanya.

Lama, laki-laki yang mungkin berusia 23 sampai 27 tahun itu asyik menari seorang diri. Ia, menurutku, tahu kalau aku ada di sekitarnya. Namun, sepertinya ia memutuskan untuk mengabaikankanku. Ia hanya hirau dengan gerakan tariannya.

Tidak ada percakapan antara kami berdua. Laki-laki penari itu, demikian selanjutnya aku menyebutnya, tertalu asyik dengan dirinya sendiri. Sementara aku, juga dibuatnya asyik dengan keasyikannya. Maka, sebenarnya telah terjadi dualog antara aku dengan laki-laki penari itu. Bahasa kami mungkin bahasa diam. Tapi dalam diamku aku sedang berbicara dengan gerakan tarinya. Mungkin laki-laki penari itu melakukan hal yang sama terhadapku. Sebenarnya ia diam tanpa basa. Namun, seolah lewat gerakan tariannya, ia ingin berbicara kepadaku, gesture make picture.

Tentu saja aku tidak mengerti dan tidak tahu sama sekali dengan bahasa tarinya. Namun, dalam bahasa yang lain, dengam membiarkan aku menekuni setiap polah tariannya, aku tahu dan semakin yakin kalau dia berbicara denganku.

Hingga tiba-tiba, dalam hitungan jenak, laki-laki penari itu mengejangkan seluruh anggota badannya. Ia melakukan gerakan-gerakan radikal di luar dugaanku, Ekstrimitas gerakannya berputar haluan 180 derajad dari tariannya semula yang lembut dan memesona.

Tanpa kusadari, aku terperanjat dibuatnya. Alur tarian yang tadinya ritmis tiba-tiba maleh rupa menjadi seolah tak terskema, penuh spontanitas dan membara. Sesekali laki-laki penari itu menghentakkan kakinya ke tanah rumput savana, dan diikuti dengan gerakan meloncat ke angkasa. Dan amboi, laki-laki penari itu terbang tak ubahnya lakon-lakon dari mancanegara sana. Di langit pun laki-laki penari itu jumpalitan seenak udelnya. Aku tentu saja semakin terpana, meski sebenarnya merasa ada yang aneh dan kecut juga. Betapa tidak, belum lama laki-laki penari itu memesonaku dengan gerakan lemah lembutnya, tapi tak berapa lama kemudiaan mencengangku dengan polah tingkah tak karuannya di angkasa.

Laki-laki penari itu mondar-mandir di langit sana. Tanpa lenguhan tidak juga suara, hanya desingan kain jaritnya membising di gendang telinga. Dan rambutnya yang terurai sebahu, berkibar-kibar mengembara.

Mengasyikkan dan tak terduga lak-laki penari ini, pikirku dalam mimpi. Dalam satu kesempatan ia memesona, namun dalam kesempatan yang sama, sekaligus mengagetkan stabilitas ketenangan jiwa.

Hingga akhirnya aku sudah terbangun di sebuah pagi yang malu-malu menghantarkan sinar ultra violetnya. Hari itu, aku lupa persis tanggal dan bulannya. Tapi yang pasti tahun 1995 di Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Jawa Tengah. Ketika aku menjadi salah seorang peserta Temu Mahasiswa Sastra Indonesia di sana. Bersama kawan-kawanku dari Universitas Indonesia, kami memang mengikuti agenda tahunan yang kebetulan di Surakarta diadakannya. Dalam even yang salah satu agendanya membicarakan, dan merumuskan perkembang susastra modern di Indonesia itu pula, aku bersiborok dengan laki-laki penari dalam mimpiku. Ah, betapa anehnya.

Laki-laki penari dalam mimpiku itu, dalam sebuah jeda sesi diskusi mendapat kesempatan membacakan sajak salah seorang penyair terkemuka Indonesia; Willibrodus Surendra Broto. Maka, persis dengan sosok laki-laki penari dalam mimpiku, laki-laki yang belum aku kenal siapa namanya itu mulai menari dengan membiarkan rambut sebahunya terurai dipermainkan fan yang berada di dalam ruangan itu. Hanya bedanya laki-laki yang membacakan Sajak Sebatang Lisong itu tidak membiarkan dadanya terbuka, dan tidak berjarit tentu saja. Namun, paras, postur dan sosoknya tidak ada bedanya sama sekali. Semua persis, juga senyum simpulnya ketika beruluk salam dengan hadirin yang ada di sana. Aku pun tentu saja terkesiap kaget dan setengah tidak percaya. Bagaimana tidak, aku pagi tadi tidak menggubris sedikit pun perihal mimpiku yang aku anggap ganjil itu. Dan telah aku anggap angin lalu. Tapi, siapa menyangka jika apa yang aku mimpikan semalam tiba-tiba jelma di depan kedua bola mata dan kesadaranku. Aku nyaris tidak percaya dengan fenomena ini. Tapi aku berusaha berdamai dengan keadaan pada waktu itu. Bersegera membangunkan kesadaran.

Maka, laki-laki penari yang ada dalam mimpiku itupun mulai bersajak dengan lantangnya tentang Sajak Sebatang Lisong...

Menghisap sebatang lisong

melihat Indonesia Raya

mendengar 130 juta rakyat

dan di langit

dua tiga cukong mengangkang

berak di atas kepala mereka

Matahari terbit

fajar tiba

dan aku melihat delapan juta kanak - kanak

tanpa pendidikan

Aku bertanya

tetapi pertanyaan - pertanyaanku

membentur meja kekuasaan yang macet

dan papantulis - papantulis para pendidik

yang terlepas dari persoalan kehidupan

Delapan juta kanak - kanak

menghadapi satu jalan panjang

tanpa pilihan

tanpa pohonan

tanpa dangau persinggahan

tanpa ada bayangan ujungnya

..........................

Menghisap udara

yang disemprot deodorant

aku melihat sarjana - sarjana menganggur

berpeluh di jalan raya

aku melihat wanita bunting

antri uang pensiunan

Dan di langit

para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas

bahwa bangsa mesti dibangun

mesti di up-grade

disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung - gunung menjulang

langit pesta warna di dalam senjakala

dan aku melihat

protes - protes yang terpendam

terhimpit di bawah tilam

Aku bertanya

tetapi pertanyaanku

membentur jidat penyair - penyair salon

yang bersajak tentang anggur dan rembulan

sementara ketidak adilan terjadi disampingnya

dan delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan

termangu - mangu di kaki dewi kesenian

Bunga - bunga bangsa tahun depan

berkunang - kunang pandang matanya

di bawah iklan berlampu neon

Berjuta - juta harapan ibu dan bapak

menjadi gebalau suara yang kacau

menjadi karang di bawah muka samodra

.................................

Kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing

diktat - diktat hanya boleh memberi metode

tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan

kita mesti keluar ke jalan raya

keluar ke desa - desa

mencatat sendiri semua gejala

dan menghayati persoalan yang nyata

Inilah sajakku

pamplet masa darurat

apakah artinya kesenian

bila terpisah dari derita lingkungan

apakah artinya berpikir

bila terpisah dari masalah kehidupan.

Begitu usai mendeklamasikan sajak Rendra. Maka bertepuk soraklah hadirin yang ada. Laki-laki penari yang ada dalam mimpiku dan sekarang jelma di depan kesadaranku, tidak hanya mampu membacakan sajak dengan apik, benar dan laras. Lebih dari itu, dengan permainan intonasi, birama, gestur tubuh dan penguasaan arena yang telah diubahnya menjadi panggung pembacaan, serta penghayatan yang purna, ia mampu menghipnotis semua yang ada di ruangan itu.

Mata hadirin yang ada di ruangan bukan hanya ditantangnya untuk bersitatap dengan tajam matanya. Lebih dari itu, laki-laki penari yang ada dalam mimpiku dan sekarang jelma di depan kesadaranku, bahkan menjadikan meja diskusi yang masih bertaplak rapi menjadi bagian dari panggung pertunjukan pembacaan puisinya. Ia melompat-lompat dari satu meja ke meja yang lain. Dan hadirin pun malah menyemangatinya dengan decakan. Sesekali ia berada di sayap kanan meja yang ada, namun dalam kesempatan lain ia telah berlari ke sayap kiri meja yang lain pula. Setelah itu, ia akan menyeruak di tengah-tengah tempat duduk hadirin yang ada, sebelum pada akhirnya kembali ke tempatnya semula, di tengah dan depan arena ruangan diskusi, tepat di atas meja yang telah bergeser taplaknya.

Ia memesona sekaligus mengagetkan, persis penampakannya dalam mimpiku. Sajak Sebatang Lisong, yang konon pada masanya mampu membuat pendengarnya terpesona ketika dibacakkan Rendra, di tangan laki-laki penari dalam mimpiku yang sekarang jelma di depan mataku, benar-benar sampai di kesadaran penyimaknya.

Maka, tanpa berpikir dua kali aku niatkan untuk menyongsongkan tangan dan hati ke arahnya. ‘’Hei. Bagus pembacaannya,’’ kataku menghampiri laki-laki penari yang ada dalam mimpiku, dan sekarang telah benar-benar jelma di depan kesadaranku.

‘’Makasih,’’ katanya pendek, masih dengan keringat yang membasahi kening dan baju lengan panjang biru yang dikenakannya.

‘’Saya Pierre,’’ ujarku memperkenalkan diri.

‘’Luka,’’ jawabnya masih menggenggam tanganku dengan erat.

‘’Semalam kita telah ketemu!’’

‘’Maaf?’’ Katanya mengernyitkan dahi, sedikit memincingkan mata.

‘’Benar. Meski hanya dalam mimpiku’’.

Luka semakin mengernyitkan dahi tanda ketidakmengertian. Tapi parasnya memang benar-benar persis dengan sosok penari yang ada dalam mimpiku. Bentuk tubuh dan rambut sebahunya pun tidak ada bedanya. Dan yang membuatku yakin; simpul senyumnya. Meski vokal suaranya cenderung serak-serak bariton.

Nafas Luka masih satu dua, sementara tangan kami masih saling menggenggam.

‘’Aku bersungguh-sungguh dengan apa yang aku katakan’’.

‘’Kau pernah ketemu aku dalam mimpumu,’’ujar Luka menyoal pertanyaanku.

‘’Ya. Aku pikir ini bukan soal yang aneh, bukan’’.

‘’Oh, nggak. Nggak ada yang aneh dengan mimpi yang menjadi nyata.’’ jawab Luka masih dengan kesantunan yang sama.

‘’Sip,’’ jawabku.

‘’Berarti ini adalah pertemuan kita untuk kali kedua?’’

‘’Yap’’.

‘’Apa yang aku katakan dalam pertemuan pertama kita?”’

‘’Kau tidak berbicara satu kata pun’’.

‘’Tidak satu kata pun’’.

‘’Tidak satu kata pun’’.

‘’Lalu apa yang aku lakukan’’.

‘’Menari’’.

‘’Menari?’’

‘’Ya, kau penari yang hebat dalam mimpiku’’.

‘’Suatu saat kau akan tertawa hebat jika melihatku menari’’.

Kami berdua tertawa.

Maka, sejak saat itu aku berkawan dengan Luka.

MESKI kami berada di dua kota yang berbeda, hubungan kami tidak terputus begitu saja. Sesekali jika mampir ke Semarang, maka sebisa mungkin aku beruluk sapa dengan Luka di kampusnya, Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Demikian pula sebaliknya, ketika Luka mampir ke Jakarta untuk sebuah urusan organisasi, bisnis atau pribadi sekalipun, dia menyempatkan diri mencium tangan ibu dan ayahku.

Tanpa kami sadari ibu dan Ayahku ternyata seirama juga dengan Luka. ‘’Ibu seperti nemu anak baru yang tiba-tiba udah gede,’’ kata ibuku suatu saat. ‘’Ayah juga merasakan hal yang sama,’’ imbuh Ayah kepadaku. Dan demikianlah kami memang akrab, karena memang hampir pada semua esensi kehidupan aku merasakan menemukan partner in crime dengan Luka. Demikian halnya dengan Luka, aku kira. ‘’Nggak semualah,’’ katanya suatu saat setelah perkawanan kami memasuki usia ke tujuh tahun. ‘’Iya sih’’, kataku mengiyakan.

‘’Kau suka perempuan ayu yang simpel dan cenderung berkelas, meski tentu saja tidak mudah menemukan yang seperti itu,’’ katanya.

‘’Ya, dan kau sendiri sangat bisa membuka kemungkinan untuk berhubungan dengan perempuan macam apa saja. Hal yang nyaris tidak dapat aku lakukan. Dan untuk itulah kau menjelma Giovanni Jacopo Casanova kawakan?’’

‘’Ah, nggak seperti itulah. Para perempuan itu sendiri yang memberikan kesempatan padaku untuk memasuki hatinya. Dan jika pada akhirnya hatinya tidak cukup membuat nyaman hatiku, mosok aku harus terus memaksakan diri untuk tinggal terus di dalamnya’’.

‘’Alah, bisa aja kamu!’’

‘’Memang aneh berbicara tentang makhluk yang satu ini ya’’.

‘’Kau lebih tahu pastinya. Kamu kan great pretender bin liar’’.

‘’Bukan seperti itulah...’’.

JIKA Luka memutuskan diri menekuni dunia kepenyairan, keaktoran, keteateran dan segala yang berhubungan dengan kesenian. Aku lebih mencurahkan diri dalam hal kepenulisan. Untuk itulah setelah lulus S1 dari UI, aku bekerja pada sebuah production house untuk menjadi penulis script dan skenario mereka. Sesekali atau kalau sedang mood aku memang menulis esai lepas pada majalah gaya hidup, film atau musik sekalipun. Dan Luka, aku dengar melanglang dari satu kota ke lain kota mempertontokan lakon-lakon terbarunya di tempat-tempat terhormat. Sebagai seorang aktor dan sutradara teater sekaligus penulis naskah drama yang tidak buruk, memang mengasyikkan menekuni lakon Luka. Pernah aku mendapat undangan khusus untuk menekuni lakonnya pada sebuah festival teater di Taman Budaya Surakarta. Sekitar medio tahun 2000-an kalau aku tidak keliru.

Dari Jakarta aku terbang dengan pesawat nuju Adi Sucipto, tentu saja. Setelah sampai di tempat yang dimaksud, maka dengan tekun dan cermat aku perhatikan detail pementasannya. Lakon ‘’Arok’’ itu memang tidak begitu mengecewakan di mataku. Sehingga tidak salah jika dewan juri mengganjarnya dengan salah sebuah kriteria jawara. Kalau tidak salah setting terbaik, selain lakon favorit. Kami berpelukan seusai pentas teater berdurasi nyaris 60 menit itu. Luka tidak hanya menjadi salah seorang pelakonnya. Ia juga merangkap menjadi sutradara.

Setelah semalaman kami berbicara dengan riang tentang apa saja, sekaligus mengenangkan persemukaan kita untuk kali pertama di Surakarta; dulu, Luka mengantarkanku hingga ke bandara, pada pagi harinya. Sebenarnya aku menolak tawarannya untuk diantar hingga bandara. Karena masih terlalu banyak yang harus dia kerjakan pada waktu itu. Mengorganisir kawan-kawannyalah, dan segala tetek bengek lainnya. Tapi dasar Luka, ia bersikeras mengantarku sampai bandara. Memang demikianlah Luka. Ia akan berkecenderungan dengan keras mewujudkan apa yang dimauinya. Tapi itu dulu, ketika kepemudaan sedang dipuncak-puncaknya. Sekarang, setelah 11 tahun lebih perkawanan berjalan, ia mulai mengendurkan segala keinginan-keinginannya.

‘’Tidak sengoyo dulu,’’ katanya. Yang tidak pernah berubah dalam pendiriannya cuma satu, ’’Jangan paksa aku berbisnis denganmu. Perkawanan dan bisnis cenderung tidak akan pernah berjalan seiring. Seperti minyak dan air,’’ katanya menekankan intonasi suaranya. Biasanya, jika Luka berbicara dengan gaya bahasa dan intonasi seperti itu, berati ia bersungguh-sungguh. Aku sudah terlalu banyak kehilangan kawan hanya gara-gara bisnis yang dijalankan dengan tidak sepatutnya, imbuh dia memberikan alasan. Jadi tidak mengherankan jika dia selalu menampik bila kutawari sebuah bisnis yang aku ramalkan menguntungkan secara finansial. ‘’Uang bukan segalanya bung!’’ katanya. Yang bener bos.....,’’Nggak juga sih...’’. Lah....

VIII. Arok Cengeng.

TAHUN 2000 lalu, Luka juga pernah menghadiahkan sebuah naskah drama karangannya kepadaku. ‘’Arok’’ judulnya. Lakon itu diselipkannya di tasku dalam perjalanan kami ke Bandara Adi Sucipto kala itu. Katanya, dia menggunakan lakon abad XII itu hanya sebagai panjatan untuk mendeskripsikan kediriannya. Atau lebih tepatnya mencerminkan perjalanan perkasihannya. Hanya tentu saja, sudah ada dramatisasi di sana-sini. Lakon itu, selain ingin dijadikannya kaca benggala, juga ia ikhtiarkan menjadi semacam diary dalam bentuk yang lain. Bentuk cerita pendek lebih tepatnya.

Begini kisahnya:

DI tanah lapang, di tempat yang telah dijanjikan, pada waktu yang telah ditentukan, dengan kebencian di jantung sisi kanan dan dendam di jantung sisi kiri, Ametung, yang parasnya mulai berkerut melantangkan serak kesumat ke langit. Berseolah lawan tandingnya, Arok, berada di depannya. Dengan angkara tak tertahan, menderas hujan menusuk wajah serta petir menjilat-jilat, menggelegar, tak terhiraukan lagi. Ametung menghunjamkan tombak ke bumi, bersimpuh kemudian mengacungkan keris ke langit. Sejurus kemudian dia menumpahkan kesumpekan, menyerapah dan mengutuk, menerjang-nerjang, meraung-raung…

“Arok! Manusia macam apakah dirimu! Merendahkan martabat para ksatria dengan mengobrak-abrik bahtera kerajaanku. Lalu, dengan penuh muslihat kaucuri permaisuriku dari singgasana. Tak adakah jalan kehidupanmu lebih mulia, kecuali kau isi dengan petaka? Arok, sejak semula aku tak percaya semua omongan adipati, perwira, punggawa, dan telik sandi bahwa kau bukan manusia!

“Namun sejak kejadian ini…. Binatang! Muslihat apakah yang kau gunakan sampai permaisuriku serta merta, seakan penuh kerelaan berpaling dariku ke pelukan berandalan yang berleluhur tak jelas, sepertimu!.

“Arok! Tidakkah kau malu pada dirimu sendiri bahwa tindakanmu ini penuh kenistaan? Tidakkah kau rasakan kepedihan hati ini, ditelikung istri atas nama bujuk rayu musuh besarnya?! Bukankah kau juga lelaki, Arok?! Tak pernahkah kau rasakan keperihan dikhianati sigaraning nyawa?! Tidakkah tersirat dalam benakmu yang cemerlang itu, pada saatnya pelacur ini akan berkhianat untuk kali kedua demi sekeping takhta atau apa pun namanya?”

Emosi Ametung makin pekat. Air mata mengintip dari kerut kelopak mata, hendak merinaikan butiran-butirannya. “Duhai Dedes, jangan pernah kau ulang khianatmu kepada siapa pun. Tidak juga pada seekor anjing, bahkan demi nirwana sekalipun. O Dedes, pergilah kau dengan kutukanku!”

Seketika, petir menjilat keris Ametung. Kecupan petir di pucuk lengkung kerisnya menimbulkan gelegar, menulikan telinga siapa pun di sekitarnya. Kilauan petir cuma menyisakan silau beberapa jenak di mata Ametung. Untung, semua patih, punggawa, perwira, dan para pengawal dari pakuwuan sejak semula telah sumingkir begitu sang akuwu dari Tumapel itu mengumbar angkara.

“Akuwu!”

Demi mendengar suara tak asing lagi di telinganya dan melihat sosok Arok, Ametung beringsut tegak dengan kedua kakinya, seraya merapikan diri. Seketika, ia menyimpan rapi air mata, serta menata hati dan pikiran selayaknya ksatria.

“Tak adakah perilaku seorang raja yang lebih bersahaja, selain menceracau dan mengumbar rasa belaka seperti seorang pemuda bercerai dari pasangannya? Tak adakah perkara yang lebih menyita perhatianmu selain masalah wanita?”

Sindiran Arok membuat Ametung yang hampir kuasa mengatasi dirinya makin tajam menombakkan pandang ke arah musuh besarnya. Yang sekarang telah jelma tepat di depan ke dua biji matanya, meski ketajamannya memudar dirongrong usia. Arok hanya sekitar duapuluh langkah orang dewasa di depannya.

“Ini aku, Arok! Aku yang dengan perkasa merampok kekuasaan dan permaisurimu. Mari kita bersemuka, sebelum ajalmu bersua kerisku. Karena kita laki-laki, maka salah satu harus mati!”

“Ya. Karena kita laki-laki, maka salah satu harus mati!” Ametung tak kalah lantang menyepakati ucapan Arok.

“Sepertinya ada yang akan kauutarakan sebelum jasadmu atau jasadku berkalang tanah, Akuwu. Bi-ca-ra-lah!”

“Bukan kematian benar yang kutakuti. Bahkan kematian terlalu sungkan menghampiriku. Sudah tak terhitung begundal macam kau kusudahi. Namun kehinaanlah yang membuatku meradang. Ketahuilah, wahai Arok, bahkan ketika nyawamu atau nyawaku meregang, kesumat dendam ini tak akan pernah tersudahkan.”

“Ohoi, ternyata Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel, raja diraja yang disegani kawulanya, hanyalah patriot bagi diri sendiri, tidak bagi negerinya. Tidak salah kurongrong pertiwimu sembari tanpa permisi kucuri permaisurimu. Tetapi, santaikanlah barang sejenak-dua jenak amarahmu, Akuwu. Ketahuilah…, Dedes tetap akan kusanding di tampuk singgasana itu, menjadi mahligaiku, menjadi peng-an-tin-ku!”

“Kau akan menuai balas di luar perhitunganmu, Arok!” hardik Ametung seraya mengarahkan mata keris ke jantung Arok.

“Akan kusongsong kapan pun saat itu tiba.” Tenang Arok menyahuti, meski kerisnya masih tersarung rapi di balik pinggul.

“Kau gentar, Arok?”

“Tidak satu titik hujan pun.” Meski, deras hujan makin menjadi-jadi.

“Bersiaplah, Arok!”

“Aku senantiasa siaga!”

Di bawah siraman hujan lebat, kebencian, amarah, kesumat, dan angkara, Ametung berlari kecil penuh kepastian dan kesungguhan ke arah Arok. Dia mengarahkan keris ke jantung seterunya, sedangkan tombak di tangan kiri siap dia tolakkan dari jarak yang dia yakini. Arok, yang tersongsong, masih mematung. Beranjak tak. Mencabut gaman tak. Namun sorot matanya tak lepas dari langkah Ametung yang mendekat penuh ketegapan. Kepastian.

Jarak menipis. Hujan menjadi-jadi. Petir menari-nari. Sembari berlari Ametung menolakkan tombak. Dalam hitungan jenak, jika Arok bergeming, sia-sialah legenda yang selama ini mengelilingi kebesaran namanya. Seketika, dalam detik yang berdetak, “Blarrrrr!” Gemuruh petir meluluhlantakkan mata dan batang tombak yang mengarah tepat ke jantung Arok. Lalu…, jerit kesakitan membahana. Belum usai keterkejutan Ametung karena kilauan petir menyilaukan pandang dan menyisakan rasa perih di dada kiri yang tak tersarikan, lawan yang dia tuju raib, entah ke mana.

“Di sini, Akuwu.”

Sejurus kemudian Ametung membalikkan badan. Musuhnya yang baru saja lenyap tiba-tiba, tepat telah berada di depan mata. Kali ini Arok sembari menggenggam keris. Ada sisa darah segar menetes dari keris itu. Dan Ametung…, pandang matanya mengabur. Di luar kesadaran tangan kiri Ametung membekap dada kirinya. Darah segar mengintip dari balik jari-jarnyai. Ya, jantung Ametung cedera. Keris Arok penyebabnya.

“Kalaupun tidak sekarang engkau tumpas, esok sebelum matahari terbit KAU telah berkalang tanah, Arok!” Ametung masih menebar ancaman.

“Sesumbarlah, Ametung. Pedih perihmu tak akan terobati hanya dengan menumpasku.”

“Kalaupun engkau belum tumpas juga, pada saat purnama belum sempurna, saat itulah semua petaka menyertaimu.”

“Kutukanmu tak ubahnya mantra tak menemu mangsa. SIA-SIA.”

Dengan jantung robek di dada kiri, Ametung berlari sejurus ke arah Arok, memburu dan memusatkan sisa-sisa tenaga dengan keris teguh tergenggam tangan kanan. Di benak Ametung cuma ada satu tujuan: tiji tibeh, mati siji mati kabeh.

“Enyahlah manusia terkutuk!”

“Binasalah bersama nasibmu, Tua Bangka!”

Sekali lagi, sebelum keris Ametung sampai benar ke sasaran, kilauan sabetan keris Arok merobek lambungnya. Terburailah isi perut sang Akuwu Tumapel, menyudahi sejarahnya, mengakhiri riwayatnya.

Hujan belum juga reda.

***

Di taman larangan pakuwuan, Dedes, meski membenci mendiang sang suami, ia tetap tak dapat menerima begitu saja kematian Ametung. Bagaimanapun Dedes pernah menghabiskan dan melewatkan sebagian rona garis nasibnya bersama Ametung. Bening air mata menyungai di pipinya. Dedes menyesali tindakan kedua lelaki yang sama-sama membuta mencintainya. Dedes berbicara dengan suara mengiba dalam kegundahan.

“Bodoh! Di belahan bumi mana pun apa yang dipertontonkan para lelaki tak lebih dari kebodohan belaka. Atas nama angkara mereka menghunus keris dan menumpahkan darah diantaranya sendiri. Setelah itu bersorak sorai seraya berkacak pinggang, menentang langit, dan berpekik layaknya ayam aduan. Tak adakah jalan yang lebih wajar dan sederhana? Tak bisakah kalian bersanding tanpa saling mencidera?

“Arok! Kaurebut takhta lantaran wanita atau kuasa? Dan kau, Ametung! Kaupertahankan singgasana lantaran daya atau wanita? Atau kalian berdua memang tak pantas mendapatkan keduanya? Celakalah aku yang lepas dari mulut serigala lalu jatuh ke pelukan singa.

“O…, tak adakah jaminan ketenteraman dalam garis hidupku? Bagaimana mungkin aku mendapatkan kesejahteraan dari seorang lelaki yang dengan mudah merampas kehidupan orang lain, kemudian dengan bangga membusungkan dada, mempersembahkan buah angkaranya kepadaku sebagai kado istimewa? Alangkah durjananya!

“Di mana aku harus menemukan kemuliaan di antara dua lelaki yang sama-sama mengaku ksatria? Sementara itu di dada mereka bersemayam kesumat dendam.” Dedes makin mengisak. “Sebenarnya aku bersuka cita lepas dari kungkungan Ametung yang tak pernah tahu, dan tak mau tahu belajar memperlakukan dan menghargai wanita. Namun celakanya, berandalan yang telah membebaskan aku ini…., misteri apa yang membuat aku jatuh hati kepadanya? Jangan-jangan dia hanya memanfaatkan aku sebagai boneka belaka. Simbol di depan rakyatku, di samping takhta rampasannya?”

Mata Dedes nanap menatap kosong ke depan, menerawang kepada... “Arok! Bicaralah. Jangan kau mematung batu membiarkan kegundahanku. Bicaralah, Arok. Aku akan menuntutmu bersumpah atas nama kedua kuburan orang tua yang melahirkanmu, meski kau tak tahu di mana kubur itu, tentang kesungguhanmu menyandingku.”

Seketika, seperti biasa, Arok datang dan pergi tanpa permisi, penuh misteri. Arok menyua Dedes pelan, pelan sekali. Seperti santun, melenakan. Dedes tak mengira Arok tiba-tiba menyusul ke taman larangan. Laksana terpana Dedes menyembah kepada Arok. Menata hati.

“Matamu keruh, Dedes. Kegundahan pasti mengaduk-aduk kebeningannya. Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran permaisuriku, aku, suamimu, wajib menghalaunya. Barangkali tak cukupkah persembahanku kepadamu? Atau, memang beginikah cara dan balasan seorang permaisuri kepada rajanya?”

“Tidak, Suamiku. Aku hanya ingin… merasa lebih nyaman.” Dedes merendahkan suara, datar.

“Duhai, Dedes… kenyamanan macam apa yang tak mampu kuberikan kepada permaisuri terkasih? Takhta telah kauterima. Begitu pula ini sukma. Tak adakah di benak seorang wanita, kecuali keraguan?”

“Bukan itu masalahnya.”

“Lalu apa?”

“Apakah Kakang tetap beranggapan aku ayu, bahkan pada saat aku tidak ayu sekali pun?” Entah kenapa tiba-tiba Dedes bisa bermanja-manja pada suami barunya, yang tentu saja baru saja membunuh suami lamanya.

“Oh, Dedes…” Arok bergeming. Dia sejenak membiarkan kemanjaan sang istri berlalu.

“Mengapa kau diam, Kakang?”

“Tak adakah perbincangan yang lebih berisi selain melulu membicarakan masalah keayuanmu yang tak terbantahkan?”

“Kalau begitu berbicaralah kepadaku tentang c-i-n-t-a.” O, apa pula ini. “Tak akan pernah ada cinta sesungguhnya dalam sejarah peradaban anak manusia. Tidak di sini, tidak di sana. Tidak sekarang, tidak nanti. Cinta sudah lama mati sebelum ia ada, meski tak ada yang membunuhnya. Cinta sudah sedemikian jauh dibengkokkan maknanya. Berbicara tentang cinta, Dedes, adalah berbicara tentang omong kosong belaka. Meski, bukan kesia-siaan.” Ketus, Arok berkhotbah seperti resi atau empu saja.

“Lalu, bagaimana dengan hubungan kita?” kejar Dedes.

“Dalam banyak hal, cukup aku yang merasakan. Kau tak perlu tahu. Begitu pula sebaliknya. Biarkan ia tersimpan rapi menjadi misteri.”

“Kau naif, Arok.”

“Aku tak peduli. Aku telah melamarmu dengan banjir darah. Dan itu tidak murah.”

“Bagaimana bila suatu saat kau tak menjumpai lagi kebahagiaan bersamaku?”

“Persetan! Menyandingmu sudah lebih dari kebahagiaan.”

“Bagaimana dengan Ken Umang, istrimu terdahulu? Apakah dia sebahagia dirimu menerima kehadiranku sebagai permaisurimu?!”

“Jangan sekali pun kaubawa-bawa perempuan berbudi itu dalam urusanmu, Dedes!” Arok meninggikan suara untuk tetap mendudukkan Umang dalam hatinya. Angin mati sejenak. Dedes berpaling, menghindari tatapan mata sang suami. Dia tetap memberanikan diri bicara.

''Kau belum tahu siapa aku sebenarnya, Arok, dan mungkin tak akan pernah tahu. Timanglah masak-masak pemikiranmu sebelum ketelanjuran mengungkungmu. Bukankah mendiang suamiku sudah banyak bertutur tentang aku sebelum kau akhiri riwayatnya?!”

“Aku tahu, Dedes. Aku tahu. Jangankan aku, kau pun belum tahu siapa yang bersemayam dalam dirimu. Sudahlah, jangan berbelit. Aku sudah tahu alur perbincangan ini sejak awal.”

“Tidak sesederhana itu, Arok.”

“O, Dedes, kau berkepala batu seperti mendiang suamimu. Yang wajar sajalah. Ketahuilah, Dedes, hidup ini sederhana. Penafsirannya saja yang hebat-hebat. Ayolah, apakah kau akan terus mengkhusyuki kegelisahan-kegelisahanmu, sementara kau merindukan belaianku? Merindukan belaian seorang raja diraja yang sudi menerima permaisuri dari bekas musuh besarnya. Merindukan belaian seorang raja diraja yang mampu mengurai kusut keraguanmu. Merindukan kehangatan seorang raja diraja yang tulus menidurimu setelah kelelahan menghadapi lintas permasalahan yang mengadangmu. Enak bukan? Apa lagi!”

“Kalau suatu saat kau tak membutuhkan aku lagi, atau sebaliknya? Apakah kau akan mengakhiri riwayatku sebagaimana kauhabisi mendiang suamiku dan musuh-musuhmu? Tak pernahkah terbersit dalam benakmu akan kutelikung dirimu sebagaimana kau telikung Mpu Gandring, Kebo Ijo, dan lain-lainnya? Mungkin lebih baik kita tak perlu membelenggu diri dalam sebuah ikatan ketergantungan, sebelum ketelanjuran kebersamaan kita menciptakan tragedi yang lebih menyayat dan mengerikan.”

Arok terkesiap, tak mengira perbincangan dengan sang istri lebih dari sekadar berisi. Mungkin Arok lupa, Dedes adalah putri Mpu Parwa, seorang brahmana, yang lebih diuntungkan dengan bekal ilmu dan pengetahuan, daripada kaum sudra kebanyakan, seperti kasta yang disandangnya.

“Duhai, Dedes. Aku tahu perasaanmu. Namun ketahuilah, aku telah lama berikhtiar mempersuntingmu dengan harapan melapangkan suasana hati ini. Bukan malah kau rongrong dengan kegelisahan-kegelisahan itu. Hidupku sudah terlalu sesak. Jangan kautambahi dengan kesesakanmu!”

Di luar perhitungan Dedes, kegelisahannya membangkitkan amarah Arok pada diri sendiri. “Sudahlah, apa pun yang terjadi di muka biar sejarah yang mengambil alihnya. Aku tak cukup punya kekuatan untuk menampik kemauanku. Aku sendiri tak tahu. Kalaupun tahu, aku tak sadar. Kalaupun sadar, aku tak peduli. Kalaupun peduli, aku tak berdaya. Siapa, siapa yang sanggup melawan dirinya sendiri?!”

Arok muntab. “Tidak penting lagi apa yang telah kulakukan. Itu semua telah lalu, dan tak akan kembali. Sekaranglah saatnya, ke-ki-ni-an. Dan aku, Arok, telah berketetapan hati melakoni sisa darmaku bersamamu, Dedes. Banyak alasan mengapa aku berketetapan demikian. Namun biarlah hanya aku yang tahu. Jadi, Dedes, jangan desak aku membeberkannya, karena semua sudah jelas adanya.”

Dengan suara melantang Arok membaiatkan kesungguhan ke langit Tumapel.

“Maka dengan ini, aku baiatkan kepada khalayak ramai, alam raya beserta segala penghuninya, dan dewa-dewa penguasa semesta: di sinilah Arok dan Dedes bertakhta, dan di sinilah Arok dan Dedes binasa.”

***

Seisi pakuwuan geger. Penghuni negeri panik, lintang pukang. Awan hitam pekat bergandengan dengan badai menyelimuti seantero bumi Tumapel. Hawa penyakit pun menebarkan teluh, menciptakan bencana yang belum pernah ada.

Telik sandi melapor kepada Arok. “Ametung bangkit dari kubur dan tak henti-henti memanggil-manggil nama Paduka. Ametung menuntut balas atas semua yang telah ditimpakan kepadanya!”

Arok terkesiap. Dia tak pernah menduga petaka terus menguntit bahtera kerajaannya, sebagaimana pernah dikutukkan Mpu Gandring ketika binasa di ujung keris ciptaannya sendiri, dulu. Sekarang, sebatang mayat menuntut balas lantaran tuah keris itu.

Arok bergegas menyegera menyambut Ametung di tempat dulu dia menyudahi sang akuwu. Kali ini mereka berada di sisi berbeda. Arok tetap menggenggam harapan bisa menyudahi musuhnya, untuk kali kedua.

***

Dengan sisa-sisa pakaian kebesaran yang compang-camping bercampur lumpur pekuburan, dan darah yang terus menetes dari dada kiri. Serta tangan kiri yang bersetia menyangga usus terburai, Ametung berdiri tegap, tepat di tempat dulu ia mengembuskan nafas untuk kali terakhirnya. Kali ini Ametung menundukkan pandang ke bumi. Demikian pula keris di tangan kanannya. Angin menghantarkan bau busuk tubuhnya. Hawa busuk tubuh Ametung inilah yang menciptakan wabah tak terkira. Arok menyongsong beberapa tombak di depan dan tersenyum.

“Sudahlah, Akuwu, berdamailah dengan nasib. Pulanglah kepada takdir kekalahan dan kematianmu.”

“Siapa pun semestinya setia pada nasibnya. Namun apakah aku harus menjadi pecundang hanya karena kesetiaan pada nasibku? Ada yang lebih berharga dan utama ketimbang sekadar berserah diri kepada nasib.”

“Aku meragukan ketegaanku membuatmu merintih untuk kali kedua, Akuwu.”

“Seorang ksatria tak akan pernah merintih bila kesakitan.”

“Akuwu, bahkan dengan segala ilmu, pengetahuan, serta kesaktianmu, kau tak akan pernah sanggup mengalahkan aku! Engkau boleh saja meneror seluruh penghuni negeri ini dengan wabah anehmu. Tetapi untuk kali kedua, aku akan menyudahimu. Camkan itu, Akuwu!”

“Pongahmu masih seperti dulu.” Ametung meluruskan pandang ke muka. Dia membahanakan angkara. “Camkan pula, wahai Arok, dalam banyak hal, dendam mengalahkan kematian. Dalam banyak hal lain, cintaku kepada permaisuriku yang telah kaucuri, membangkitkan kematianku! Akulah mimpi buruk kalian berdua. Akulah garis tipis antara cinta dan kebencian. Dan, kalian berdua tidak akan pernah dapat menghentikan kematianku yang menuntut balas karenanya. Jelanglah saatmu, Arok!”

“Apa yang kauinginkan dariku dari kebangkitanmu, Akuwu?!”

“Apa yang kuinginkan?” Ametung berpikir sejenak. “O, tentu saja aku mengingkan rumah manis di pinggir danau, istri ayu, anak yang lucu-lucu, hasil panen yang tak pernah menipu, dan… tentu saja kepalamu, biadab!” Mata sang akuwu memerah darah, menombak Arok.

“Apakah engkau sudah tahu cara bertarung, kakanda Akuwu?!”

“Apakah engkau sudah tahu cara dan rasanya menyongsong kematian, andika Arok?!”

Arok agak gentar -- tabu yang selama ini dia hindari. “Mengapa kau membisu, Arok? Engkau gentar menghadapi kematian? Itu di luar kebiasaanmu, Arok yang Agung.” Sindiran Ametung makin mengiris nyali Arok.

“Seorang ksatria tak akan pernah gentar bila maut mengadang. Karena setiap orang akan menemukan jalan kematiannya sendiri-sendiri. Dan jalan takdir kematianku di luar jangkauanmu, Akuwu. Akan kusongsong saatku sebagaimana telah kusongsongkan kematianmu, Akuwu.”

“Kau tak akan pernah dapat membunuhku hanya dengan satu atau dua kali kematian, Arok, sebagaimana kau sudahi para seterumu yang lain. Akulah arwah perkecualian yang akan terus membayang-bayangi dan menghantarkanmu ke mati, takdirmu yang sejati.”

“Aku Arok, sang pembangun! Hidupku berarti dan mati pun aku menjadi lebih berarti.”

“Cih...! Simak dengan tekun kutukanku kepadamu, Arok! Kerismu, kekuasaanmu, dan garis keturunanku yang pernah bersemayam di gua garba permaisuriku dan permaisurimu, akan terus berpusing-puisng laksana gangsing dan bersarang tepat, telak, di jantung takhtamu. Saksikan, Arok! Anusapati* dan para simpatisannya akan bahu-membahu dan terus bersiaga menunggu lengahmu. Dia layaknya pemburu yang kan terus mengintai dan menawarkan kematian pada mangsanya. Dan kau, Arok, kau akan merasakan apa yang kurasakan; merasakan indah dan sempurnanya penderitaan, ditelikung kekuasaan! Selamat datang, Arok! Selamat datang. Kan kusambut saatmu. Selamat datang… di taman kehidupan sebenarnya; ke-ma-ti-an.”

Mereka pun bertarung lagi, lagi, dan lagi. Sampai benar-benar ada yang mati.

Semarang, 7 Juni 2000

Bintaro, Jakarta, 24 Agustus 2000

Catatan:

Telik sandi : Mata-mata

Sigaraning nyawa: istri

Sumingkir: menyingkir

Gaman: senjata

Tiji tibeh, mati siji mati kabeh: mati satu mati semua

Muntab: amarah meluap

Anusapati : Putra Dedes dari Ametung.

BIANCA, pada masa-masa hidupnya paling suka dan gemar menekuni tulisan-tulisan Luka. Menyedihkan dan berbau sok-sok tragik, layaknya kisah orang-orang Spartan yang berseteru dengan orang Persia pada masanya. Atau legenda Achiles yang dengan tangkas, lugas dan penuh kekejian memangkas nasib Hector gara-gara perkara wanita juga: Helen dari Troya, katanya. Mendiang istriku memang berkecenderungan menggemari kisah-kisah yang tragis-tragis. Mungkin ketragisan pula yang akhirnya mengakhiri riwayatnya? Kata Bianca, karya adalah cerminan kreatornya. Meski aku tidak percaya 100 % dengan tesis tersebut, namun paling tidak, latar belakang kebudayaan, pendidikan, pergaulan dan pergulatan hidup seorang kreator terhadap sebuah karya sangat koheren hubungannya. Untuk hal yang satu ini aku bersepakat dengannya. Dalam kasus karya-karya Luka, mendiang istriku meyakini, bahwa karyanya mencerminkan kesejarahannya.

‘’Mungkin kau harus bertanya kepadanya secara langsung,’’ kataku pada sebuah subuh, setelah aku menemaninya begadang menyelesaikan pekerjaan kantornya di rumah.

‘’Ada beberapa pertanyaan yang bisa dipertanyakan langsung kepada orang yang bersangkutan. Dan ada pertanyaan yang cukup dijadikan bahan diskusi saja,’’ jawabnya dengan mata yang mulai merah lantaran menahan kantuk.

‘’Untuk hal ini, berarti kita cukup hanya memperbincangkan antara kita?’’

‘’Aku pikir itu lebih baik’’.

‘’Kau mencoba menjaga perasaan Luka’’.

‘’Aku hanya mencoba belajar hati-hati’’.

‘’Aku tahu itu’’.

‘’Tidak mudah berdiri di sisinya. Tidak juga para perempuan yang pernah mendampingi hidupnya’’.

‘’Ya’’.

‘’Tapi aku paling suka dengan tulisan-tulisannnya’’.

‘’Aku bersyukur untuk itu’’.

‘’Apa yang kau lakukan jika berdiri pada posisi Luka?’’

‘’Perihal perempuan-perempuannya?’’

‘’Semuanya!’’

‘’Suamimu ini tidak akan pernah bisa menjadi orang lain. Terlebih lagi orang lain, lebih tidak akan bisa menjadi suamimu ini. Seseorang sepatutnya menjadi dirinya sendiri. Kau sendiri yang kerap mengatakan itu.’’

‘’Ups. What a silly me’’.

Kami pun tertawa. Ah, kami memang gemar tertawa.

Mendiang istriku juga pernah sedikit banyak heran dengan tulisan Luka. Jika Luka bernarasi tentang ‘kehilangan’, katanya, maka itu akan sangat berkeniscayaan menghasilkan sebuah karya yang menggetarkan. Menggetarkan? Aku pikir mendiang istriku berlebihan. ‘’Paling tidak aku bergetar dibuatnya,’’ tekannya bersungguh-sungguh. Dan salah satu barometer kesusksesan sebuah karya, apa pun itu bentuknya, entah karya musik, tari, lukisan, film, prosa, puisi, naskah drama dan berbagai jenisnya, buat Bianca, ketergetaran adalah kriteria utamanya. ‘’Atau paling nggak aku ngerasa merindinglah’’.

Selektivitas Bianca terhadap berbagai karya inilah yang membuatnya, menurutku, mempunyai selera baca yang tidak bisa diremehkan. Di rak bukunya bacaan seperti The Complete Works of William Shakespeare, Les Miserables (Victor Hugo), Mother (Maxim Gorky), War and Peace (Tolstoy), Mansfield Park dan Pride and Prejudice (Jane Austin), The Plays of Oscar Wilde (Oscar Wilde), Don Quixote (Cervantes), The Man in the Iron Mask (Alexandre Dumas), hingga Sang Alkemis-nya Polo Coelho tertata rapi di rak bukunya. Semua itu, bersama puluhan buku bacaan lainnya telah terlahap, biasanya, menjelang tidurnya.

Bahkan beberapa buku yang dianggapnya karya-karya puncak pengarang Indonesia juga bersandingan dengan opus magnum pengarang manca. Dari karya Iwan Simatupang, Achdiat K. Mihardja, karya-karya awal Pramudya Ananta Toer, Kuntowijoyo, Romo Mangun Wijaya, Danarto, sampai pengarang-pengarang terkini. Dan jangan salah, bacaan teenlit pun dilahapnya. ‘’Variasi aja. Perihal yang enteng dan berbau naif tapi menggembirakan, penting juga buat keseimbangan jiwa kan,’’ katanya. Seperti biasa. Aku tidak peduli dengan apa pun yang dibacanya. Selama istriku nyaman dan bahagia, maka bersyukurlah aku. Adakah yang lebih membahagiakan ketika melihat orang yang paling kita cintai bahagia? Apalagi ini kegiatan mulia; membaca!

Memang, tidak semua tulisan Luka berkenan di hati mendiang istriku. Yang ini contohnya;

Rasanya Baru Kemarin

Caption 1

RASANYA baru kemarin. Kau bilang seperti mimpi. Ketika tiba-tiba kita telah menjadi suami istri. Dan sekarang, aku berpikiran untuk... Sementara aku lebih tidak tahu pasti dengan apa yang kau pikirkan. Rasanya baru kemarin, kita menoreh sebercak warna di Bali, kemudian melanjutkan pesona guratannya di Semarang, beberapa jenak kemudian belajar mencoretkan asa di Jakarta. Rasanya baru kemarin, padahal hampir dua kalender berganti kala saban hari sembari tertatih, lirih kita lukis Ciputat, pasar Jum'at, Pondok Indah, Radio Dalam, Blok M, Sisingamangaraja, Sudirman, Tamrin, HI, Menteng kemudian berbalik aku ke Gatsu. Rasanya baru kemarin, dan sekarang, telah seratuslimapuluh kali matahari membelai pagi, kita hanya bersapa via sms. Betapa.

Tahukah, aku kerap mengenangkan keberduan kita dan itu cukup membuatku hendak melinangkan air rasa. Haruku makin gulita manakala perasaan kangenku menawarkan nostalgia. Atas nama ketabahanlah aku hampir selalu menghindari loka-loka di mana dulu berdua kita pernah memprosakan rasa. Bukan lantaran aku mengharaminya, malah sebaliknya; tiada daya aku menanggung pesona soleknya, seorang diri. Sementara kau tidak lagi di sini, lindap di arsyi hati, sunyi!

Kau pasti tahu, dalam banyak perkara aku bukan suami yang digdaya. Kau pasti menyaksikan, alangkah beberapa kali bahkan sering, aku kerap merasa diserampung, tertelikung kemudian ditertawakan hidup. Lalu linglung, tidak ngerti mau nari apa lagi. Bahkan sekarang, aku meragukan diriku sendiri untuk mampu sejauh dan setawakal apa menyikapi dan menyiasati kesesakan ini. Yang pasti, ini teramat sangat merongrong kemanusiaanku. Apakah kau merasakan hal yang sama? Atau malah bersuka cita! Apa pun, tak mengapa.

Rasanya baru kemarin. Kau bilang seperti mimpi. Ketika tiba-tiba kita telah menjadi suami istri. Dan sekarang, setelah duapuluhdua purnama malih rupa kau belum juga mempunyai keberanian untuk memba'iatkan pilihan di sisi mana untuk bersulang sanding; Suamimu yang tidak hebat ini, atau bapakmu pahlawanmu. Ah, mengapa harus memilih? Apakah aku dan kau cukup mempunyai kuasa untuk sebuah pilihan? Memilih untuk tidak memilih tak mengapa bukan. Aih, tapi kalau tidak memilih, selamanya ya seperti ini bukan? Bersatu tak, berpisah tak. Ngawang.

* * *

02/03/:Old.

Wife

23/09/00 01:46

There's no tear

Left 4 sadness &

No real comfort

except stay beside u..

Time'll answer all questions

'coz I'm spokeles now

but u r the only man

4 me is undoubted

***End***

Hanya syair itu yang kau sanjakkan, kala kita bermusyawarah di pagi buta tepat di hari natalmu, September 23. Dan aku masih saja memawasi pikiran-pikiranku sendiri; jangan-jangan aku hanya berburuk sangka kepada garis takdir kebersamaan kita!

Rasanya baru kemarin, kau bilang seperti mimpi, ketika tiba-tiba kita telah menjadi suami istri. Dan sekarang, aku mulai mempertanyakan kepada diriku sendiri; apakah benar-benar dirikukah, jodohmu?! Atau hanya sampai disinikah perjodohan kita?Ah, alangkah bodohnya diri ini!

Semarang, 091000/10.50.

Mengapa istriku tidak menyukai tulisan ini?

‘’Karena depending-nya terhadap perempuan gede banget sih. Ih....,’’ katanya sembari menunjukkan paras jijik. ‘’Yang pergi biarlah pergi. Toh nasib sangat-sangat bisa untuk diperbaharui. Hidup toh terus berjalan kan. Ada atau tidak orang-orang yang kita cintai, dan mencintai. Cengeng banget sih. Arok kok cengeng?!’’.

‘’Lah, itu kan hanya cerita bu. Bisa jadi itu hanya fiktif belaka. Sejauh manakah realitas mempengaruhinya, hanya kreatornya yang tahu’’.

‘’Iya, aku ngerti. Tapi untuk yang satu ini aku merasa ada sesuatu yang pekat dan berhubungan erat antara karya dan kreatornya’’.

‘’To the ponit, bu?’’

‘’Kawanmu, yang kau klaim sebagai saudaramu itu sedang patah hati ketika menghasilkan tulisan ini. Aku yakin itu,’’ katanya merendahkan suara setengah berbisik. ‘’Mungkin dia dulu pernah beperkara dengan perempuan lain sebelum dengan Sita, ya?’’

‘’Ha ha ha,’’ dan aku terbahak, eee malah sewot dia. Perempuan memang aneh dengan segala prasangkanya. Tidak peduli yang paling intelek sekalipun. Siapakah yang benar-benar bisa memahami perempuan?

‘’Aku bersungguh-sunguh dengan apa yang aku katakan’’, tekannya.

‘’Aku tidak meragukan itu’’.

‘’So?’’

’So what!’’

‘’Bener kan?!’’

‘’Mungkin kau harus bertanya langsung kepada empunya’’.

‘’Aku hanya meminta pendapatmu suamiku....’’

’I have no opinion, my sweet beauty wife....’’

’Give me words, please..’’

’I love you...’’

‘’Ahrrrrrrrrrrrrrrgggggggggggggg’’.

SELAIN gemar membaca tulisan-tulisan Luka tentang kehilangan namun yang tidak berbau kecengengan, Bianca juga senang menyimak cerita pendek Luka yang katanya nakal. Nakal? Aku nggak ngerti nakalnya di mana ;

Kecelik.

''MALAM minggu ini masih terlalu pagi dan sederhana untuk hanya kita lewatkan dengan cara begini saja. Akan menjadi lebih pepak, meriah dan sempurna jika kita mengikut sertakan dosa di dalamnya. Sebagaimana pakem orang-orang besar dalam menjalani, mewarnai dan menciptakan sendiri garis takdirnya'' kataku datar seolah tanpa nada.

Selanjutnya, kami bertiga hanya tertawa, sebagaimana layaknya hari-hari sebelumnya. Sembari melayangkan kebelakang berjejak-jejak dosa yang masing-masing telah kami karya dan rayakan. Toh, kami masih tetap seperti ini saja. Menjadi orang besar tak, menjadi begundal nasib, ya.

Pernah, dalam pelukan malam minggu yang membeku, di bawah dekapan dingin yang mendekati minus 15 derajad celcius. Bersama dua kawanku yang lain, kami menerobos badai salju yang membawa serta gigilnya. Tikaman hypotermia yang pernah menusuk Norman Edwin di gunung Aconcagua, Argentina dan mengakibatkannya mangkat ke alam baka, tidak kami hiraukan. Rupanya, bara semangat di dada ini untuk menjunjung dan menghormati malam minggu, lebih membakar dan menghangatkan hati, daripada sekedar gertakan hawa beku.

Setelah mengantri beberapa lama, bersama para pemuda Brithania dan Moscovy, gerbang Hippo di komplek pertamanan dimana pasukan Napoleon Bonaparte pernah mengalami kekalahan dalam perang melawan tentara Tsar, akhirnya terbuka.

Seketika kami pun bungah. Paling tidak, sergapan hawa beku menjelang tengah malam, yang pernah juga memporakporandakan tentara Nazi Jerman dalam perang dunia ke I melawan tentara Uni Soviet, dapat kami elakkan.

Di Hippo, sebuah bangunan gedung yang sebenarnya lebih layak disapa gudang daripada diskotik itulah, kami bertamu ke ibu malam minggu. Sajian utama dan pertama yang ia hidangkan tentu saja pemanas ruangan yang mulai menghangatkan tubuh. Baru selanjutnya alkohol, musik RnB yang berjedak-jeduk, dibarengi dengan lampu warna-warni yang berdenyar-denyar, dan ini dia; penari bugil dari belahan Afrika!

Ah, tentu saja saya hirau dengan penari yang paras, postur dan kulitnya mengingatkan kepada sosok Naomi Campbel itu. Tapi alangkah bodohnya jika saya lebih tidak hirau kepada para perempuan muda Euroasia yang marak di sana. Ya, di Moskwa; ibukota yang sedang giat-giatnya merayakan kebebasannya dari cengekeraman komunis itu, kami bertiga bertamu ke rumah malam minggu.

''Priwyet, spakoynoy noci, would you dance with me?'' kataku memberanikan diri memberi salam, mengucap selamat malam.

''Da,'' katanya tanpa sungkan.

Dan kamipun menari. Bertandak tepatnya. Betapa senengnya hati ini. Ia perempuan. Ayu. Kulitnya bersih. Tubuhnya semampai dan ini yang mengejutkan; Jullie namanya. Mengingatkanku kepada perempuan lain yang pernah semayam di hati ini delapan tahun yang lalu. Yang pernah meminangku untuk menjadi bojonya di selasar ruang tunggu bandara Ngurah Ray, Bali menjelang detik kepulangannya ke Australia. Namun aku tampik karena kebodohanku belaka.

Namun, dengan Jullie yang ini, yang masih duduk di bangku kuliah tingkat akhir Moscow State University. Kehangatan yang ia tawarkan, sebagaimana perempuan yang lain; membawa keharumannya sendiri. ''Every Rose Has it's thorn'', batinku ketika mendekap erat pinggangnya.

Ketika kami sedang dan makin asyik masyuk berdisko dengan iringan Vodka-Martini Bianco yang makin meminggirkan kesadaran. Seorang lelaki dengan kuppa di kepalanya membisikkan kata di telingaku. ''Excusme, she's my girlfriend,'' katanya sembari melepas kuppa dan memasukkan ke dalam saku celananya. Dengan berat hati aku lepaskan selangkangan Jullie yang menggamit kemaluanku. Meski sebenarnya matanya menolak melepaskan montok dadanya yang kian ketat saja menempel dadaku.

Ketika laki-laki yang telah melepaskan kuppa di kepalanya itu mulai merengkuh Jullie, dan aku telah memalingkan muka, tiba-tiba tangan Jullie berikhtiar meraih tanganku. Aha... ada yang salah di sini. Bagaimana mungkin seorang perempuan yang diklaim pacar dari seorang lelaki berlaku seperti ini.

''Ma'af, dia bilang kepada saya, kalau kau adalah kekasihnya,'' bisikku di telinganya, sementara gamitan laki-laki yang telah melepaskan kuppa di kepalanya itu semakin merengkuh saja. ‘’Nyet. He's not,'' jawabnya lirih sembari pelan menggelengkan kepala. Hopla, seketika kelaki-lakian ini menghentak! Dengan modal kesadaran yang semakin pendek, dan keberanian yang ngawur; laksana ksatria datang kepada belahan hatinya, aku cekal tangan laki-laki yang telah melepaskan kuppa di kepalanya itu.

Dalam hitungan detik kericuhan mulai bergejolak diantara ingar bingar persona yang berjejal di Hippo. Alih-alih melepaskan dekapannya di bahu Jullie, laki-laki yang telah melepaskan kuppa di kepalanya itu, malah mempererat dekapannya.

Semakin menipis akal ini, maka aku cengkeram pundak laki-laki yang telah melepaskan kuppa di kepalanya itu. Namun sayang, sebelum benar-benar aku berhasil melerai tubuh laki-laki yang telah melepaskan kuppa di kepalanya itu, dari tubuh Jullie yang tangannya makin erat menggenggam tanganku. Dua karibku yang sedikit lebih banyak mempunyai tabungan kesadaran dariku, menarik tubuh ini ke belakang.

''Tinggalkan perempuan itu. Ia akan datang menghampirimu jika memang benar-benar bersungguh-sungguh padamu. Sebagaimana yang telah kau tunjukkan kesungguhanmu padanya,'' bisik karibku melerai, mendinginkan kericuhan yang nyaris membesar.

''Tapi dia telah membohongiku,'' kataku membisik pekik menggeramkan suara. Di kepalaku, seketika, seakan terjadi pembenaran empiris; bahwasanya laki-laki berkuppa yang identik dengan orang Yahudi itu, memang benar-benar lihai dalam bermuslihat. Dan orang Melayu ini, aku, telah menjadi salah satu korbannya. Oleh karena itulah aku, sebagaimana tabiat orang Jawa, jadi tidak terima dan ngamuk lagi mencoba mengketatonkan amarah di dada. Untuk sekadar kembali mencekal tangan laki-laki yang telah melepaskan kuppa di kepalanya itu.

Alamak, laki-laki yang telah melepaskan kuppa di kepalanya itu, rupanya telah membangunkan singa yang lama terlelap bobo’ di dada.

''Tenang broer, ini malam pertama. Masih ada dua malam Minggu tersisa. Bahkan malam Minggu ini adalah malam pertamamu di Moskwa. Mengapa harus bersilang amarah hanya karena maladaya jewuskha, masih banyak cewek lainnya,'' kata karibku melanjutkan. Aku mundur beberapa jenak, mencoba menjinakkan kenekatan, menjumput sedikit demi sedikit kesadaran, dan memaklumkan keadaan. ''Lebih baik kau kembali kepada Vodka-Martini Bianco,’’ imbuh kawanku yang juga masih terdaftar sebagai mahasiswa jurusan teater Moscow State University, menambahkan.

Lumayan lama aku terpekur di sudut Hippo, yang bersisian dengan bar berkawan Vodka Martini Bianco. Tak berapa lama kemudian, benar saja, Jullie menjelang ke arahku sembari menggandeng seorang gadis ayu, dan alah-alah... kami berpelukan layaknya kekasih yang telah lama terpisah yang kemudian disatukan.

''Dia bohong kepadaku,'' bisikku di kupingnya. ''Dia bilang kau kekasihnya. Oleh karenanyalah sebagai seorang laki-laki yang baik, aku berusaha melepaskan dekapannya darimu, tadi''.

''Nyet...He is nothing,'' jelas Jullie mencoba menduduk soalkan permasalahan.

Ah..lagi-lagi betapa senangnya hati ini. Kami seketika kembali menjelma layaknya sepasang kekasih. Dan lagi-lagi pelan-pelan kuciumi lehernya, kupingnya, pipimya dan, ''Ma'af. Kau tidak keberatan jika aku berbicara terus terang padamu,'' bisik Jullie di kupingku. ''Silakan,'' jawabku cepat. ''Aku lesbian, dan perempuan yang sekarang ada di sampingku persis ini adalah pacarku,'' katanya lirih sembari memperkenalkan jewuskha bernama Irina. Duh....padahal dosa belum seberapa, belum apa-apa, jauh dari sempurna. Moskwa, Moskwa, Moskwa.

Moskwa 2000.

‘’YANG seperti ini meski nakal tapi lebih menghibur, dan jujur. Karya yang baik adalah karya yang ringan, menghibur dan jujur. Syukur-syukur berisi, mampu membesarkan hati dan meng-encourage pembacanya, apalagi memberikan pencerahan, itu baru luar biasa’’ komentar Bianca waktu itu. Aku, tentu saja hanya mengiyakannya. Meski sebenarnya, batinku, aku bisa lebih nakal dari itu....

IX. Sendiri.

SETELAH kematian Bianca dan Tristan, hidup memang menjadi sangat tidak mudah buatku. Kesendirian adalah sebuah kehilangan atas kebersamaan yang memedihkan. Atau kematian dalam bentuk yang lebih tidak mengenakkan, menurutku. Dan tidak semua hal mampu menggantikan.

Kawan, sejawat, saudara atau orang suci sampai orang yang paling binal dan berandal sekalipun pasti akan memberikan petuah, atau semacam kebijakan kepada kita supaya; kuat, sabar, tawakal, istigfar dan berserah; pasrah. Kalimat langsung seperti, ‘’Semua sudah ada yang mengatur’’. ‘’Ini adalah yang terbaik’’. ‘’Siapa yang tahu rahasia Tuhan’’. ‘’Pasti ada hikmah dibalik semua ini’’. ‘’Kebaikan biasanya akan timbul dikemudikan hari’’. ‘’Dibalik kesulitan pasti tersembunyi kemudahan,’’ dan berbagai ujaran standar lainnya, yang terlalu kerap aku terima, sering kali malah membuatku semakin jengah dan puyeng.

Ketika semua nasihat itu masih saja tidak mempan mengusir rasa kesepianku, kesendirianku, apakah sebuah nasihat masih berguna dalam suasana seperti ini? Maka tidak ada yang lebih penting selain membesarkan hati dengan mengenangkan betapa masih banyak yang lebih tidak beruntung dari kita, untuk tetap menjaga stamina hidup ini terus terjaga.

Dan sajak. Ya, sajak. Tiba-tiba saja aku teringat sebuah sajak yang ditulis Luka yang ia persembahkan kepada para korban Tsunami, akhir 2004 lalu. Setelah aku coba resapi kembali, memang ada benarnya juga. Begini sajaknya;

Doa

(mari berdiri barang dua tiga jenak, untuk merundukkan hati, berdamai dengan keheningan, bertakzim lewat kalam)

bismillahirohmanirrohim

ya allah arrahman arrahim

siapakah yang sanggup mengurai makna sebuah penderitaan

ketika dukamu justru kau tumpahkan kepada mereka yang tidak bersalah

ketika nestapamu justru kau ruahkan kepada orang-orang yang saleh

ya allah yang maha agung untuk bisa dimengerti

maafkanlah atas seluas dosa kami

yang berkecenderungan hanya mampu menerima anugrah Mu

tanpa berkemampuan dan berkekuatan menerima derita Mu

apalagi menerima Mu secara utuh. Penuh.

ya allah yang maha agung untuk dijangkau dengan akal budi

terima dan perkenankanlah arwah saudara-saudara kami di Aceh, Nias dan sebagian wilayah Sumatera Utara

besarkahlah hati orang-orang yang ditinggalkannya

karena kami semua tahu

tidak ada rumah, selain pulang ke haribaan Mu

karena kami semua tahu

engkau senantiasa bertanggung jawab terhadap semua hasil penciptaan Mu

dan karena kami semua haqul yakin

penderitaan yang kau limpahkan, tidak akan pernah ada apa-apanya,

dibandingkan dengan berkah yang akan kau ruahkan, pada saatnya, nanti..

amin,

amin,

ya robbil alamin.

oh, ya, ya allah, hampir saja kelupaan

jika para penguasa dan pengambil kebijakan di negeri ini mulai bermain mata dengan penderitaan di Aceh, Nias dan sebagian wilayah Sumatera Utara, atas nama kepentingan kelompok, golongan atau bahkan pribadi.

maka, campakkan semua doa mereka yang telah dan akan mereka sampaikan pada Mu.

karena kau tahu allah, tidak ada manusia yang lebih pantas kau musnahkan dan kau durhakai, selain mereka.

JAKARTA

Luka

10 01 05

Sajak yang kali pertama dideklamasikan Luka di Galeri Nasional Indonesia itu, lumayan manjur juga membesarkan hati. Apakah aku mampu sekuat dan setegar bocah-bocah Aceh, ketika dalam hitungan kedip ayah, ibu, kakak, adik, nenek, kakek, kerabat, handai taulan, teman sepermainan, dan musuh bermain petak umpet mereka musnah diterjang ombak raksasa? Aku pasti bisa jadi gila atau lebih parah lagi membunuh diriku sendiri. Padahal sekarang, aku hanya dan baru kehilangan dua orang yang sangat aku sayangi dan menyayangiku, tapi lagakku tak ubahnya seperti telah kehilangan orang-orang di sekitarku. Betapa memalukan, meski terdengar sangat manusiawi sekali.

Toh kita tidak selamanya dituntut menjadi orang kuat bukan? Dan tidak selamanya manusia harus menjadi tegar terus. Betapa pun manusia paling super sekalipun. Ketidakkuatan manusia dalam memikul beban hidup, menurutku, adalah sebagian dari kesempurnaannya juga.

‘’Selain menghadapi kerasnya hidup, kau juga harus mampu menghadapi dirimu sendiri,’’ujar Luka hati-hati. Aku tidak menjawab. Menidakkan tak, mengiyakan tak.

Sampai kapan kesendirianku akan rampung?

‘’Aku nggak ngerti. ’’.

Lalu apa yang semestinya aku lakukan.

‘’Apa pun, yang penting kamu hidup’’.

Hidup kok semacam ini?

‘’Sudahlah. Lebih baik kau berhenti mengeluh. Hanya orang bodoh yang mengeluh. Kau bukan orang bodoh, dan tidak pernah sendiri. Camkan itu. Pikiranmulah yang membuatmu seolah-olah kau sendiri’’.

Yang tidak mencicipi tidak merasakan.

‘’Aku juga merasakan kesepian, kesendirian dan kehilangan dalam bentuk yang lain. Semua orang, aku pikir merasakan itu. Dalam bentuk yang tidak kalah menyakitkannya, mungkin. Kehampaan biasanya yang mencitrakan seolah-olah diri kita sendiri’’.

Sok tahu.

X. Tristan

TRISTAN meninggal seminggu sebelum tsunami datang merenggut ratusan ribu korbannya. Selama seminggu itu pula pola pikir dan tindakku nyaris tidak ada bedanya dengan orang gila. Sepengetahuanku, jika aku gila maka dosa-dosaku ke depan tidak akan pernah diperhitungkan oleh Sang Pencipta. Hanya catatan hidupku ke belakanglah yang akan ditimbang-Nya. Tapi, jika aku membunuh diriku sendiri, maka, laknatlah aku selamanya. Nah, daripada aku dilaknat Allah karena bunuh diri, pikirku kala itu, maka lebih enak menjadi gila, dan akhirnya mati dengan sendirinya. Ah, untung saja bencana besar tsunami segera menampar dan membangunkan kesadaranku; bahwa apa yang ditimpakan padaku masih belum 0,01 persen dari derita para korban tsunami, di sana.

Memetik hikmah dari sebuah tragedi memang bukan pekerjaan gampang dan sembarangan. Dibutuhkan ketajaman hati untuk membaca tanda-tanda-Nya. Dalam hal ini, beruntung aku cukup lumayan mampu merabanya.

Tristan memang sudah seperti anak sendiri bagi Luka. Bahkan sejak Tristan di dalam kandungan almarhum ibunya, Luka sudah mengirimkan beruluk-uluk salam kepadanya. Tentu saja Bianca hanya tersenyum dibuatnya.

Ketika Bianca mangkat karena sebuah proses persalinan yang diluar dugaan kami semua, seketika itu pula, Luka yang mendapat kabar dari ibuku, langsung datang ke rumah sakit, dan menyatakan akan menjadi ayah dari jabang bayi kami. Aku tidak tahu harus bagaimana menjawab keinginan baik Luka. Waktu itu, aku dalam keadaan yang tidak terperikan.

Singkat cerita, setelah Bianca disholatkan dan dikuburkan dengan hantaran sebuah adzan yang ditelingaku bernada ngilu, maka di kepalaku hanya ada satu tujuan dalam hidup ini; membesarkan Tristan dengan segala daya dan kasih yang aku punya.

Menjadi ayah sekaligus menjadi seorang ibu bagi seorang orok memang bukan pekerjaan mudah dan sederhana. Ibuku dan mertuaku memang tidak pernah lelah menyemangati dan sangat, sangat memberi dorongan padaku. Meski mereka berdua berulang-ulang menawarkan tangan dan bersikeras untuk turut merawat cucu mereka, tapi aku bersikukuh untuk tetap akan sendiri membesarkan darah dan airmataku.

Satu dua kali secara bergilir aku menitipkan Tristan kepada eyangnya. Betapa bungah dan gembiranya para eyang Tristan, ketika cucu mereka datang ke rumah mereka. Biasanya, kalau moment seperti ini tiba, para eyang Tristan akan meneteskan air mata keharuan sekaligus gembira. Mungkin di benak mereka tidak tega melihat anak bayi sudah ditinggal pergi ibunya. (Ah, bukankah anak-anak korban tsunami itu lebih tidak mempunyai siapa-siapa? Kecuali keajaiban hidup yang dianugerahkan Sang Pencipta?)

Tapi, Anda pasti tahu, bahwa tidak ada yang lebih menggembirakan ketika melihat anak kita terlelap dalam tidur nyenyaknya. Kedamaiannya seolah setara dengan saat kita bersandingan dengan orang-orang yang kita cinta. Sepadan dengan kebersamaan dengan istriku pada saat-saat hidupnya. Mata Tristan yang terpejam, geliat tubuhnya yang tidak seberapa, dan tarikan nafas yang satu dua inilah yang seolah menjadi nyawaku ke dua untuk terus melanjutkan hidup.

Aku sendiri juga heran dengan diriku. Aku tidak pernah membayangkan akan mampu menjadi orang tua tunggal bagi anakku. Namun semua itu, pelan dan pasti jauh dari kesempurnaan, seolah dan tiba-tiba, Tristan tak terasa telah menginjak usia empat tahun.

Saat-saat ketika Tristan sakit, menangis karena salah interpretasi, atau mungkin merindu kepada ibunya, dan berbagai ronanya seolah terlunaskan ketika mengetahui dia sudah dapat berbalas bantah denganku. Dengan ayahnya sendiri. Ha ha ha...

Ya, ya, tidak ada yang paling menggembirakan ketika buah hati kita tiba-tiba telah mampu melayangkan sebuah amarah, dan pertengkaran kecil kepada ayahnya sendiri.

‘’Hei, bodoh! Bukan begitu caranya,’’ tegurnya dengan intonasi yang sangat keras ketika aku salah memasangkan senjata robot Power Ranger favoritnya. Ah, aku lupa, mungkin anakku terlalu akrab dengan layar kaca yang terlalu sarat dengan mata acara-mata acara tidak bermutunya. Maklum, baby sitter di rumah hampir tidak bisa dan berani melarang acara tv apapun yang ditonton oleh Tristan. Mungkin lebih tepatnya, Tristan yang ikut arus baby sitter yang gemar menonton telenovela atau sinetron yang penuh dengan umpatan rendahan itu.

‘’Eh, bukan begitu cara berbicara yang baik dengan ayah, nak,’’ kataku merendahkan suara.

‘’Ayah sih, kelilu. Bukan begitu calanya,’’ katanya santai. Aku, tentu saja hanya tersenyum kecut menyimaknya.

Bagaimana mungkin aku melayangkan amarah kepada buah hatiku yang masih balita. Dari pagi sampai nyaris malam aku berada di kantor, kecuali hari Sabtu dan Ahad. Ketika pulang ke rumah, jika tidak aku titipkan di rumah para kakek dan neneknya, Tristan hanya berdua di apartemen dengan baby sitter . Jadi, ketika sudah bersemuka dengan Tristan, aku merasa dia sudah semakin besar adanya. Segala kesepian memang tidak terasa ketika Tristan kecil sudah mulai fasih melafalkan nama lengkap Ayah dan almarhum ibunya, apalagi ketika ia sudah mampu diajak berkomunikasi.

Para kakek dan neneknya memang sangat mengajarkan betapa pentingnya budi pekerti, seperti kesantunan, kerendahan hati, dan kemurahan hati dalam segala tindakannya. Demikian halnya dalam ajaran mempercayai kekuatan sebuah kerja dan doa. Sehingga ketika Tristan hendak berangkat tidur, dia dengan takzim akan bersyair; ‘’Ya Allah lindungilah bunda Bianca di sulga, Ayah, Titan, Eyang Kung dan Eyang Puti, dan bibi. Amin’’.

Bibi yang dimaksud dalam syair doa Tristan adalah Surti, baby sitter yang sebenarnya lebih sering menjadi sansak hidup Tristan ketika hobi berpencaknya kumat.

Di tangan Surti yang super sabar inilah, kenakalan Tristan seolah diredam dengan sangat baik dan sukses. Namun bayarannya, paras Surti yang kuning langsat banyak tergores bekas tanda cakaran Tristan. Tapi semua luka Surti seolah terbayarkan ketika Tristan bertandak dengan segala kelucuannya.

Satu dua kali, Luka mampir ke apartemen kami, dan langsung disambut lompatan peluk Tristan.

‘’Om Luka!’’, pekik Tristan dengan binar kegembiraan yang cemerlang.

‘’Hei, mas Titan....,’’ sambut Luka, dan Tristan telah nemplok dipelukannya.

Mas Titan adalah panggilan sayang Luka kepada anakku. Sewaktu masih belajar mengeja, anakku, sebagaimana lazimnya anak kecil lainnya, bermasalah dengan huruf R, jadi, ketika aku dan Luka mengajarinya menyebut namanya sendiri, yang terjadi adalah kata; ti-tan. Sebagaimana dia menyebut sulga dan Yang Puti.

Terkadang, kami bertiga plus bibi Surti yang masih belia itu, pergi ke tempat-tempat permainan anak. Entah itu di Dufan, mal, pasar malam di pinggiran kota, taman Safari serta baby zoo dan berbagai tempat lainnya. Itu belum termasuk ketika kami berpergian dengan para eyang Tristan.

Setiap hari, sebisa mungkin kerjaanku selalu melukis hari dengan buah hatiku. Jika tidak berpergian di akhir pekan - biasanya ke rumah para eyang Tristan -, kami hanya melewatkan menonton Power Rangers di rumah atau sekedar bercengkrama seharian penuh dengannya.

Tristan paling gemar mendengarkan cerita dari buku yang aku bacakan, meski belum bisa membaca dan menghafal huruf, tapi aku sudah dapat melihat gelagatnya kalau ia menggemari buku seperti almarhum ibunya.

Hingga akhirnya hari penghabisan itu tiba. Maut datang seenaknya. Dia menjemput paksa siapa pun yang dikehendakinya. Dan tidak seorangpun mampu mencegahnya. Tidak juga kasih murni seorang ayah kepada buah hidupnya.

Selamat tinggal anakku. Ayah tidak cukup mempunyai kekuatan untuk menawar kematian yang disuguhkan kepadamu. Seandainya ayah mampu menghadangnya, atau membelokkan maut yang datang kepadamu. Tentu saja itu sudah ayah lakukan ketika ia hendak datang kepada almarhumah ibumu, dulu. Tapi memang demikianlah hidup anakku. Ia berhaq memilih siapa pun yang dikehendakinya, dan tidak pernah ada siapa pun yang mampu menghindarinya. Kematian selalu tepat sasaran arah dan tujuannya, anakku. Ia tidak pernah luput. Ia selalu menjadi pemenang jika berseteru dengan kehidupan. Ayah hanya belum dikehendakinya.......aku mencintaimu, anakku. Sampaikan juga salam buat ibumu.

Dan kau kematian, aku bersumpah kepadamu. Atas nama kuburan dua orang manusia yang paling aku cintai yang telah mati. Kau boleh datang menghampiriku kapan pun juga. Tidak siang tidak malam. Tidak pada saat aku bersiap ataupun lena. Toh tidak ada bedanya. Tapi yang pasti, aku akan menyambutmu dengan senyum, yang akan membuatmu dengan hormat, dan hati-hati sekali mencabutku dari kefanaan ini. Camkan itu. Karena aku akan memastikannya!

XI. Bibi Surti

OH YA, dan bi Surti, setelah kematian Tristan, dia tidak pernah mempunyai daya ketika melihat, apalagi bersemuka dengan balita seusia mantan momongannya itu. Pingsan adalah pelarian bawah sadarnya. Keadaan ini terus berlangsung hingga memasuki bulan kelima setelah jasad buah hidupku berkalang dengan tanah pekuburan. Selama lima bulan itu pula tidak satu katapun keluar dari mulut bi Surti. Tidak juga alif, ba dan ta. Tapi dari matanya yang redup, aku tahu hatinya terus berzikir menguatkan hati. Aku tahu itu. Hanya aku yang tahu.

Memang, setelah kematian Tristan, selain mudah pingsan jika melihat anak kecil, semua nafsu makan bi Surti hancur lebur. Ia menjadi kurus dengan pasti dan sangat mudah sekali menitikkan air mata dalam isaknya. Meski di rumah ibuku, bi Surti tidak dibebani pekerjaan apa pun, tapi beban pengalaman hidup dengan Tristan ternyata sangat mengiris kewanitaannya. Padahal bi Surti sudah mengirimkan dan menguatkan dirinya lewat berhelai-helai doa. Ikatan batin bi Surti dengan momongannya yang super nakal itu ternyata sudah demikian kokohnya. ‘’Tristan sudah seperti anaknya. Itu yang ibu rasakan atas kehilangan Surti,’’ bisik Ibu kepadaku.

Bersabarlah bi Surti.........kematian memang menyesakkan. Dia menjadi menyenangkan dan tak ubahnya sebuah pesta hanya bagi orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, selesai dengan nasib-Nya. Orang-orang macam kita memang akan sulit, meski bukan berarti tidak mungkin, untuk menjadi orang-orang seperti itu. Ah. Bukankah kita sudah cukup bersyukur dengan keadaan kita seperti sekarang ini Surti? Dan itu, aku kira lebih baik dari pada menjadi orang suci, karena nanti kita harus hidup di atas angin. Tidak menjejak di bumi. Dan.....sudahlah Surti, besarkan hati tuanmu ini dengan ketabahanmu. Doakan saja momonganmu itu baik-baik saja di sana, atau di mana pun ia berada.

Aku memang ayahnya, tapi aku juga tidak bisa mengklaim begitu saja, kehilanganku lebih besar dari rasa kehilanganmu. Karena toh, waktu dan ikatan batin yang kalian lewati pasti mempunyai kisah dan kedalamannya sendiri. Hanya kau dan anakku yang dapat merasakannya. Terima kasih banyak tak terhitung untuk itu Surti. Terima kasih tak terkira. Kuatkan hatimu Surti.

XII. Harimau dan Kupu-Kupu

PEREMPUAN menjelang dewasa dari pembaringan nan bening ayu itu lambat laun berubah menjadi kupu-kupu. Belum sempurna benar. Tapi kala sayapnya yang kuning muda mengembang di langit tua, nampak kepakannya membuat angin liar yang menghadang menjadi enggan merintang.

Kupu-kupu kian melanglang sembari mencoret-coret kanvas awan dengan gempita warna-warni keluhan kegemarannya. Kadang, coret-coret itu tak ubahnya coret-coret anak SMP dan SMA di halte, shelter bus kota dan tembok angkuh jalanan Jakarta. Kadang coretan itu tak ubahnya coretan mendiang maestro Affandi kala melukis potret dirinya sendiri. Dalam kadang yang lain, coret-coret itu tak beda dengan coret-coret kanak-kanak di buku gambar, dan tembok rumah ibunya mewakili fantasi murninya.

Kupu-kupu masih sibuk mencoret-coret awan, dan awan, anehnya membiarkan dirinya dijadikan media penumpahan kegundahan. Awan pasti tahu bahwasanya kupu-kupu sedang mendambakan belahan kalbu, kekasih hati, teman berseteru di mayapada ini; sang harimau.

Sudah lebih dari kemampuannya kupu-kupu bersabar menunggu kedatangan harimau. Dari detik yang berdetak menjadi menit, kemudian meniti jam, merambah hari, bergulir minggu, bulan dan tahun. Tapi harimau belum jelma jua. Sia-sia? Tidak! Masih terlalu pagi untuk putus asa. Adakah yang lebih penting dari kefanaan ini selain sebuah harapan dan mimpi!. ‘’Ah, harapan adalah mimpi yang paling omong kosong’’. Tapi kupu-kupu tidak menghiraukan itu, ia abai dengan berbuah-buah celoteh di luaran. Ia hanya peduli dengan dirinya sendiri, dengan harapan dan mimpi.

Kupu-kupu masih dan terus menaruh harap, bahkan kian besar. Seiring bertambah usia matahari, bertambah makin besar dan dalam kasihnya pada harimau hanya.

Pernah. Sebelum jelma menjadi kupu-kupu, perempuan dari pembaringan nan bening ayu itu menjelma sekumtum mawar kembang.

Ia ranum, mekar, aromanya santun –tidak nyegrak- menghembus pembauan setiap kumbang, sekaligus menghipnotis untuk segera bertandang ke tangkainya, menunggu giliran hinggap di kelopaknya.

Entah. Dari sekian bilangan kumbang tak berbilang, belum satu pun yang berkenan di kebun kalbu mawar kembang. Mawar kembang rupanya sangat tidak sembarang membuka pintu. Ia hanya mempersilakan masuk pangerannya seorang. Siapa lagi kalau bukan, sang harimau.

Pernah. Suatu kali, kupu-kupu mengaji di halaman bianglala disaksikan bintang gemintang dari altar langit yang sudah lama terlelap tidur, setelah sebelumnya shalat tahajud dua rakaat. Ia melantunkan surah Yasin. Suaranya lirih, namun terdengar jelas sampai mayapada. Suara itu mendayu menusuk kalbu, tertangkap tanpa sengaja oleh pendengaran harimau.

Harimau yang sedang mengayun langkah di bibir trotoar, di bawah guyuran suluh bulan, terpaksa menghentikan gerakannya untuk memastikan diri ia sedang mendengar suara perempuan mengaji.

‘’Amboi, suara perempuan ngaji itu mengingatkanku ke masa kanak-kanak. Sewaktu almarhumah ibu masih sugeng, menembangkan surah-surah-Nya baqdo subuh,’’ bisik harimau lirih pada dirinya sendiri. ‘’Tentram nian menyimaknya. Gerangan siapakah perempuan itu. Di mana mahligainya?’’, lanjut harimau menyelidik sembari kedua bola matanya yang setajam pedang kalifah Ali nerawang angkasa luas tak berbatas. Hanya bintang yang berkelip, bulan yang sumirat, dan meteor yang riang nian berlarian. Perempuan itu tidak ada di sana.

Harimau memutuskan bertanya kepada mobil-mobil yang lalu-lalang. Mobil-mobil hanya diam membisu lagi menuli, sebelum meninggalkannya lalu. Selanjutnya, pertannyaan ia ajukan kepada air yang berkubang di selokan yang mampat di tengah kota. Air hanya menggeleng penuh ketidaktahuan.

Pada sebuah kebetulan, di bibir selokan dua ekor kucing sedang memadu kasih hendak bersetubuh menyatukan hasrat. Harimau mengambil inisiatif mengajukan pertanyaan yang sama sebelum persetubuhan dimulai. Namun, dalam hitungan lena, harimau menghentikan langkahnya. ‘’Aku tidak seharusnya mengganggu prosesi suci itu,’’ pikir harimau dalam hati. Ia membatalkan niatnya. Selanjutnya, ia bergeser membalikkan badan, mencelat dari tempat itu.

Setelah mendapat beberapa tombak langkah ke depan, didapatinya seekor anjing gemuk penjaga tertidur si selasar rumah majikannya. Harimau berikhtiar membangunkan anjing dengan maksud mengajukan pertanyaan yang sama tentang apakah ia tahu gerangan di mana perempuan mengaji berada.

Kala anjing menyingsingkan mata, dan kesadarannya terbit, seketika itu pula anjing mendadak sontak, matanya mendelik, rautnya merah membara, kupingnya njengat, mulutnya nganga, lidah binasa. Anjing terpaku satu jenak, sebelum akhirnya semburat, berkelebat, lintang-pukang tak tentu rimba. Ada air yang muncrat dari selangkangannya.

Harimau maklum mengapa anjing gentar kepadanya. Suratan nasib dan sejarah barangkali.

Tanpa harimau sadari, suara perempuan mengaji itu bukan hanya bernaung di gendang telinganya. Pelan ia telah masuk ke dalam palung sukmanya yang tak bertuan. Menelikung, bersemayam di ceruk tempat cahya-Nya bermaqam. Menimbulkan kedamaian, yang selama ini ia idamkan.

Air mata perdana menetes dari ujung matanya bagian dalam, disusul kemudian air mata lainnya menyungai di pipi. Harimau hanya dapat bergumam, ‘’Andai aku tahu perempuan yang mengaji laksana mendiang ibu, yang sekarang telah berteman bidadara, berada?’’. Gumamnya hanya disimak serunai angin.

Selanjutnya, harimau memutuskan untuk pergi menyendiri di suatu tempat tanpa nama. Dimana semua orang belum pernah menujunya, tanpa mau disebut dalam kesepian, melainkan dalam belaian-Nya.

Semarang 130396

Demikianlah Luka mengandaikannya dirinya sebagai harimau. Selalu pergi sendirian, menjadi pejalan sekaligus peziarah kehidupan dengan segala pirantinya. Aforisme ini pula yang membuat almarhum Bianca, mulai jatuh hati dengan tulisan-tulisannya. Jika Luka sudah bersemeja, apalagi bersemuka dengan Bianca, maka segala topik perbincangan dari yang paling akademis perihal riwayat-riwayat, serta muasal perkembangan pemikiran, dan sebangsanya, sampai yang paling pelik pun menjadi santapan mereka. Aku suka dengan topik itu, tapi aku tidak begitu menggetolinya. Meminjam bahasa Luka, aku lebih suka berbicara tentang hal-hal yang cenderung berbau pragmatis, straight, fokus dan perihal ,’’Anggur dan rembulan, ‘’ katanya menukil sajak si Burung Merak.

Ah, tidak benar juga aku hanya berbicara tentang anggur dan rembulan, atau hal-hal yang berhubungan dengan kekinian. Aku, sebagaimana Luka, Bianca atau sebagian besar orang, pasti merenung juga, menimbang-nimbang hal-hal yang sudah terjadi, menilik kedirian dan merumuskan langkah selanjutnya yang musti dibuat untuk memantapkan perjalanan.

Tapi, memang demikianlah kami adanya, kami saling mengolok-ngolok, bukan untuk meminggirkan apalagi menepikan harga diri, malah sebaliknya, untuk semakin mempererat persaudaran kami.

‘’Makan itu harga diri!,’’ pekik Luka padaku ketika ia membaca parasku tidak begitu berkenan dengan ujarannya. ‘’Hari gini tersinggung’’. Aku pun membalasnya dengan santai, nyaris tanpa emosi, ‘’Seharusnya kau menjadi santo atau nabi selanjutnya, meski tanpa kitab suci, atau apapun namanya itu, sehingga dengan demikian kau tahu bagaimana seharusnya belajar menghormati pola pikir orang lain yang berbeda, atau berseberangan denganmu’’. Jika keadaan sudah demikian, Bianca, yang berada diantara kami, hanya tertawa, sembari berucap, ’’Kalian laki-laki, memang sama saja’’.

Ya, dan kupu-kupu yang diidamkan Luka, bahkan ketika Bianca telah berpulang keharibaan-Nya, memang belum jelang jua. Meski dulu, Luka pernah membina hidup dengan Sita, istri terkasih dan mengasihinya.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam kali Luka memang pernah menjalin atau berusaha belajar merajut kasih dengan perempuan-perempuan pilihannya. Setelah berpisah dengan Sita tentu saja. Tapi yang aku tahu, hingga saat kini pun belum ada satu pun yang benar-benar nyambung dengan hatinya. Mungkin selektifitas menjadi faktor utamanya. Tapi tidak juga, sanggahnya, perkasihan adalah hal-hal diluar kekuasaan seseorang untuk mengatur-ngaturnya. Ia akan datang dengan sendirinya tanpa permisi, dan akan membuatnya nyaman atau tidak sama sekali. Karena, menurutnya, perkasihan adalah jauh logika dari rasa. Jadi nikmati saja, khotbahnya.

Aku tidak membenarkan atau menyalahkan pola pikirnya. Aku hanya berkawan dengan sangat baik dengannya. Tanpa aku harus bersepakat dengan pola pikirnya sama sekali. Karena kami merdeka dengan diri kami masing-masing. Dan untuk alasan itu pula kami saling membebaskan ke mana kaki dan pikiran ini melangkah. Kami hanya saling mendoakan dalam kebaikan dan kesabaran. Dan saling mengharap, semoga nasib tidak terlalu keras berlaku kepada kami. Itu saja, tidak lebih.

Oh ya, dan soal kupu-kupu Luka?

Bagaimana aku harus menceritakannya. Terlalu pelik dan terlalu sederhana untuk sekedar diceritakan. Tulisan yang paling naratif, prosaik, lugas, dan tuntas sekalipun tidak akan pernah benar-benar mampu memindahkan kemarakan, keindahan sekaligus keabsurdan perjalanan hidup Luka. Kalaupun aku akan berusaha memindahkannya, tidak semua keindahan hidupnya terwakilkan dalam lukisan tulisan ini. Itu pasti hanya sebagian kecil saja. Sebagaimana ketika para penulis besar berupaya memindahkan kedahsyatan dan keindahan perjalanan hidup seseorang yang sangat-sangat berarak, berderak-derak dan akbar.

Bukankah ada kata yang sangat standar untuk mewakilkan hal itu? ‘’Bahkan kata-kata pun tidak akan pernah mampu mewakili’’. Atau dalam selarik lirik penyair Toto Sudarto Bachtiar dinukilkan, ‘’Karena kata tak cukup kuat berkata’’. Atau sebagaimana para cerdik cendekia bernubuat, ‘’Bahwa bahasa mengurangi makna’’. Memang demikianlah adanya, kenyataan dalam hidup, dalam banyak hal sangat-sangat lebih indah untuk tidak hanya sekedar diceritakan atau dituliskan. Ia lebih nikmat nuansanya hanya untuk dirasakan, dipendam, diperam, dan dikenangkan, entah sampai kapan, seorang diri.

Tapi tak mengapa, aku akan mencoba berikhtiar menceritakannya, meski tentu saja, jauh panggang dari api, jauh keindahan sebenarnya dari tulisan yang aku larikkan.

[ *** ]