| MARI MENARI (Bagian II) |
|
|
|
| Written by Benny Benke |
| Selasa, 15 Maret 2011 09:52 |
|
I. Bahtera
ABSURDITAS mungkin salah satu kata dari sekian diksi yang paling tepat, atau tidak tepat sama sekali, untuk menggambarkan siapa sebenarnya Luka. Tanpa angin, tanpa hujan, tanpa kabar berita atau berbagai macam aneka warta lainnya, dia mengetuk pintu rumah sembari menggandeng seorang perempuan ayu, Sita namanya. Padahal sebulan yang lalu, ketika pada acara pernikahan kami, dia datang seorang diri. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya kecuali ucapan selamat atas pernihakan kami, lain kata tidak! Kemudian, pada pertemuan ke dua di rumah, dia sudah seperti karib kepada Bianca, demikian pula sebaliknya. Dan Sekarang, tiba-tiba..... ‘’Halo apa kabar. Perkenalkan ini Sita, istriku. Sita Prameswari istriku, perkenalkan ini Pierre Artie, kawan baikku’’. Aku hanya mengulurkan tangan penuh keheranan, diam tanpa basa, menyambut uluran tangan Sita, sembari hanya mengucapkan tiga patah kata,’’Hi, apa kabar, Sita’’. Selanjutnya, aku mempersilakan mereka berdua masuk ke dalam apartemen kami. Bianca sedang tidak ada di rumah waktu itu. Yang bisa aku lakukan, hanya mengutuki Luka dalam hati. Bajingan manusia satu ini, batinku, sudah lebih dari dua tahun tidak bertegur salam dan sapa denganku, dan ia hanya datang sebulan yang lalu di hari pernikahan kami, seorang diri. Setelah itu, dengan cepat sangat akrab sekali dengan Bianca, bahkan mampu berbicara perihal topik apa saja dengannya. Mereka berdua semakin meneguhkan keakraban pada pertemuan ke dua di apartemen kami, dua Minggu yang lalu. Baru dua Minggu yang lalu. Dan sekarang, begitu muncul lagi, seorang perempuan yang dia klaim sebagai istri telah berada di rumah hatinya. Aku semakin lebih tidak tahu, apa yang ada di benak Bianca jika ia tahu Luka datang ke apartemen kami dengan membawa seorang istri, yang bahkan kami tidak diundang dalam hajad pernikahannya, tidak juga diberi warta. Sebagaimana kami mengundang dia demi memanusiakannya. Sialan, padahal baru dua Minggu yang lalu dia datang seorang diri kepada kami. Baru dua Minggu! Ah, apa yang harus aku katakan tentang kawanku yang satu ini. Dalam hati memang ada yang ganjil dengan kedatangan Luka dan Sita ke apartemen kami, meski aku sebenarnya senang juga. Bukan karena Luka menggandeng seorang istri yang ayu, dan matanya menyiratkan budi pekerti. Lebih dari itu, aku merasa ada yang aneh saja, seorang Luka yang berpikir dan bertindak bebas, dan tiada kabar berita selama dua tahun, hanya muncul sebulan yang lalu di perayaan pernikahkan kami, kemudian diteruskan pertemuan kedua setelah pertemuan pertama, tiba-tiba mengikatkan diri dalam sebuah komitmen pernikahan. Ah, bukankah terlalu sangat banyak yang bisa terjadi pada seseorang dalam hitungan dua tahun, setahun, sebulan bahkan sehari sekalipun?! Mereka berdua, menurut cerita Luka, menikah dengan cara yang sangat bersahaja, atas nama kesadaran bersama. Bukan sebagaimana cerita kebanyakan orang, seperti atas nama tuntutan orang tua, balas budi, sebuah keterlanjuran, usia yang semakin menua, dan berbagai alasan tidak penting lainnya. Mereka menikah karena memang ingin menikah saja. Titik. Bukan semata-mata karena Sita ayu, berbudi pekerti, dan pinter pastinya, atau bukan karena Luka tampan, kuat, unik, penuh spontanitas dan sekaligus berintuisi. Tapi lebih dari itu, yaitu komitmen. Mereka ingin menikah, tutur Luka, karena mereka ingin menyatukan komitmen bersama, yaitu mencoba mewarnai hari bersama, dengan segala bayarannya. Sampai kapan komitmen kalian akan bertahan? ‘’Tidak ada yang akan pernah tahu,’’ katanya padaku. ‘’Kalau Sita sudah tidak ayu, sayang, dan pinter berarti kalian boleh saling meninggalkan...,’’ candaku padanya. Luka hanya tertawa. Sita tidak banyak berbicara, dia lebih senang menyimak sebelum pada akhirnya merumuskan pembicaraan dalam sebuah kalimat yang berisi. Untuk itulah, pikirku dalam hati, mereka adalah pasangan yang serasi, simpulku, meski baru memasuki 30 menit perkenalan kami. Akupun sebagai seorang tuan rumah yang baik, belajar memperlakukan tamuku dengan baik pula. Sehingga tanpa kuatir dan ragu aku persilakan bahkan setengah mendesak, memaksa mereka berdua untuk tidur di apartemen kami yang memang hanya mempunyai dua kamar utama dan sebuah kamar pembantu rumah tangga. Meski sebenarnya, cerita Luka, mereka telah mempunyai sebuah rumah kontrakan yang asri, rapi dan permai di pinggiran kota Jakarta.
‘’Hei, apa kabar dengan istrimu yang baik, tuan putri Bianca,’’ tanya Luka padaku. ‘’Baik. Baik sekali. Dia pasti akan senang tahu kalian berdua ada di sini. Apalagi Bianca udah lama, udah dua Minggu ya dia nggak ketemu kamu kan’’. ‘’Kira-kira Bianca akan senang dengan keberadaan Sita?,’’ sidik Luka sembari menengok kepada istri terkasihnya. ‘’O, itu pasti. Karena aku yakin, Bianca akan ada partner baru, kawan baru, dan itu berarti pula pengalaman baru,’’ jawabku. ‘’Sita,’’ ujar Luka kepada istrinya,’’kalian pasti akan saling suka’’. ‘’Semoga,’’ jawab Sita enteng. Kami bertiga tersenyum bersama, sebelum pada akhirnya aku menghubungi Bianca. Di seberang sana, Bianca hanya bertempik sorak setengah tidak percaya, Luka ada di rumah kami bersama seseorang yang diindikasikan sebagai istrinya, Sita. Tanpa keraguan, tanpa pertanyaan tambahan, Bianca pun bersegera bersijingkat pulang ke rumah. Ah, sebenarnya memang sudah jam pulang rumah pastinya. Ketika bertiga kami sedang asyik berbicara tentang segala hal, dan mulai lancar menemukan topik yang berkenan, ketika itu pula tiba-tiba Bianca telah mengetuk pintu apartemen kami. Selanjutnya, setelah memekik tanda ketidakpercayaan bersua dengan Luka, menjabat erat tangan dan berpelukan dengannya, Bianca kemudian menghampiri dan saling berciuman pipi dengan Sita. Rupanya Bianca, sebagaimana dugaanku suprise tidak terkira. ‘’Gila,’’ tukas Bianca, ‘’baru dua Minggu yang lalu kau datang seorang diri kepada kami, dan tidak menyinggung soal apa-apa tentang pernikahan, tidak juga tetang tali perkasihan, dan sekarang, tiba-tiba?!,’’ imbuh Bianca tanpa melanjutkan ketidakmengertiannya kepada Luka. Sita hanya tersenyum datar, dan menjawab dengan datar pula, ‘’Saya tidak tahu permasalahan kalian bertiga, apakah ada rahasia antara kalian semua?’’. Kami hanya tertawa mendengar Sita berkata demikian. ‘’Karena saya juga mengundang kawan-kawan terdekat saya, meski tidak semua, dan aku pikir, jagoanku ini telah mencantumkan semua list kawan dekatnya. Seharusnya kalian mengejar kepada suamiku ini, bukan kepadaku,’’ lanjut Sita. Ah, benar Sita, memang brengsek Luka. Dalam hitungan detik, akrablah antara Bianca dan Sita. Maka, berkumpulah kami para pengantin baru. Kami berbicara tentang apa saja, nyaris tanpa henti, semua topik kami hadirkan. Dari pertanyaan soal keheranan kami atas pernikahan Luka dan Sita yang di mata kami, seolah diam-diam seperti siluman, karena kawan dekatnya seperti aku tidak diundang tidak juga diberitahukan, hingga rencana-rencana ke depan. ‘’Apa yang aneh dengan pernikahan kami, sebagaimana pernikahan kalian berdua,’’ ujar Luka, dan Sita hanya senyum-senyum saja. ‘’Iya sih. Kau ingat, kemarin, sebulan yang lalu, aku mempertanyakan siapakah yang lebih gila diantara kalian berdua? Ternyata sama gilanya, udah ah, yang penting selamet semua. Udah mari kita masak Ta,’’ ajak Bianca kepada Sita, sembari menuntunnya ke arah dapur kami yang tidak seberapa. Maka, akrablah kami selanjutnya....Para istri memasak, para suami menonton siaran langsung sepak bola, apalagi kalau tidak menekuni kesebelasan racikan sang arsitek jempolan, Sir Alex Ferguson. Sebuah kombinasi pembagian kerja yang sempurna dalam rumah tangga. Demikianlah perkenalanku dan Bianca dengan Sita, yang terhitung singkat, namun dalam nuansa yang hangat dan sahaja. Hingga akhirnya tanpa terasa kami telah mengabaikan waktu ketika seolah pagi seketika jelma, dan kami pun harus meneruskan nasib kami masing-masing. ‘’Selamat dan baik-baik untuk kalian berdua ya,’’ ujar Bianca setelah berpeluk cium dengan Sita. ‘’Pasti, kalian baik-baik juga ya,’’ jawab Sita. Aku pun melakukan hal yang sama terhadap Luka, berpelukan erat dan saling mengucapkan selamat tanda doa untuk kelancaran perkara hidup kami masing-masing.
KALI terakhir aku bersua dengan Sita pada saat prosesi pengebumian mendiang Bianca. Bersama Luka, Sita datang padaku dan memberikan simpati yang dalam atas kehilanganku. Memang, setelah pertemuan kami yang pertama, aku dan mendiang Bianca tidak pernah lagi bersemuka dengan Luka dan Sita secara bersamaan. Hanya sesekali dengan Luka. Kesibukan Jakarta dengan segala pernak-perniknya membuat kami bahkan seolah tanpa daya untuk mengatur ulang pertemuan, sebagaimana kali pertama dulu. Dalam hal ini, benar ujaran Luka, rencana terbaik adalah spontanitas. Atas nama spontanitas pula, Luka dan Sita kembali menemuiku, tapi sayang, spontanitas kedua itu harus terjadi setelah Bianca ‘berpulang’. Sita memang sempat menengok bayi Tristan ke rumah sakit, dan tentu saja di sana ia meneteskan berbulir-bulir air mata. Namun tampaknya ia sedikit lega setelah ibuku memberitahukannya kalau para nenek dan kakek Tristan akan turut campur membesarkan anakku. Setelah masa berkabung usai, sebagaimana orang lain, Luka dan Sita mohon diri dengan hanya meninggalkan bermakna-makna doa untuk kekuatanku. Tentu saja itu sangat berarti. Semenjak itu pula, aku tidak pernah bertemu dengannya. Kalaupun Luka datang menghampiriku, ia datang seorang diri. Kalaupun aku datang ke rumah kontrakan mereka di pinggiran Jakarta, di wilayah Cibubur sana, Sita sedang berada di tempat kerjanya, atau sedang di rumah kedua orang tuanya, yang terletak tidak seberapa jauh dari rumah kontrakan mereka. Hingga akhirnya, aku dengar dari Luka, mereka berdua telah berpisah dengan baik-baik sekali. Apakah ada perpisahan yang benar-benar diakhiri dengan baik-baik? ‘’Paling tidak kami berusaha untuk tetap baik-baik dan sewajarnya menyelesaikan perpisahan kami,’’ tutur Luka padaku, ketika ia menyempatkan diri mampir ke rumah. Apakah sebenarnya yang membuat mereka berdua berpisah? Inilah kisahnya.
II. Kisah Sepertemuan.
KISAH Luka dan Sita adalah kisah sepertemuan tentang orang-orang yang menjalani kesempitan dan kelapangan dengan sama baiknya. Yang mengatasi kesenangan dan kesusahan dengan sama apiknya. Yang senantiasa berusaha berpikiran baik terhadap jalan hidup yang paling tidak masuk akal sekali pun. Meski, tentu saja tidak semudah, dan seperti yang diharapkan. Aku dapat menyimpulkan ini, karena setelah sekian lama berpisah dengannya, dan nasib terus mempertemukan kami kembali dalam keadaan seperti dulu, persis ketika kami masih sama-sama seorang diri, Luka, nyaris tidak berbeda sudut pandangnya dalam memandang hidup. Malah, mungkin menurutku, semakin cenderung matang, meski belum bijak benar. Sebagaimana perjalanan waktu yang memang dan seolah serta sepatutnya memaksa, dan membuat seseorang untuk menjadi lebih baik. Kesendirianku, sebagaimana kesendirian Luka memang bukan tanpa sebab dan maksud. Kami meyakini, ada banyak hal dibelakang itu semua, salah satunya adalah garis nasib yang memang menakdirkan kami sendirian dengan segala konsekuensinya. Siap atau tidak siap, terima atau tidak terima kami harus bisa menerimanya. Syukur-syukur mampu mewarnainya, apalagi memberi makna dan merayakannya. Ya, bahkan terkadang Luka berkata padaku mungkin dianya saja yang tidak terlalu pandai membaca bahasa Tuhan lewat anugerah kesendirian yang dilimpahkan padanya. Dia merasa tidak terlalu mampu menangkap simbol-simbol, dan makna-makna kesepian dan kesendirian yang berbicara kepadanya. Tuhan terlalu super cerdas dan super jenius buatnya, sehingga ia tidak dapat menangkap maksud kesendirian dan kesepian yang disapa dan sajikan kepadanya. ‘’Seandainya Tuhan berbicara lewat bahasa yang lebih sederhana dan bisa dapat aku terima, mungkin lain ceritanya. Atau akunya saja yang terlalu bebal dan tumpul hati, sehingga tak dapat membaca rahasia-rahasianya-Nya,’’ katanya padaku suatu malam, ketika kami merenungi kesendirian setelah ditinggal pergi orang-orang yang kami cintai. Luka dan Sita akhirnya memang berpisah, sebagaimana aku dan Bianca. Hanya bedanya, atas nama kesadaran, Luka dan Sita memisahkan diri. Jadi, tidak ada yang memaksanya. Sedangkan dalam kasusku, kematian bermahadaya. Kesadaran takluk oleh kesewenangan-Nya. Inilah senukil perjalanan Luka dan Sita menjelang waktu perpisahannya.
III. Photo.
Jakarta, 21.00 WIB, dan waktu terus berjalan.
DALAM kungkungan musim hujan yang sedang meraja, Luka seorang diri di rumah kontrakannya yang tidak seberapa luas, menekuni setiap photo yang terpampang di ruang tamu. Di luar hujan deras masih digdaya, padahal malam merambat semakin tua. Dengan tenang, Luka takzim dan hanif menatap setiap photo yang terpampang di dinding rumah sederhananya. Photo yang ia tatap tak lain adalah photo masa-masa bahagia dengan istri terkasihnya; Sita. Dengan raut muka yang datar, dingin dan nyaris tanpa emosi Luka masih dengan tenang memandang semua photo yang terpampang di dinding, maupun terpacak di atas meja. Hingga akhirnya ia meraih handphone yang tersaku di celananya. Setelah berbicara dengan seseorang di seberang sana, Luka memutuskan hengkang dari rumah kontrakannya, pergi entah ke mana, menantang derasnya hujan di luar sana dengan mobilnya. Pada waktu dan saat yang bersamaan, namun di tempat yang berbeda, Sita sedang menekuri meja kerjanya yang rapi. Di pojok dan di sisi bibir mejanya, bersebelahan dengan seuntai kuntum mawar putih yang menjuntai dari dalam gelas kaca berisi air, terpacak photo sosok dirinya dengan suami terkasihnya, Luka. Dengan pandangan yang hampa, kosong, dan suwung ia menebar mata keseluruh meja kerja. Sembari sesekali menyeruput minuman hangat yang tercangkir di genggamannya.. Sebelum pada akhirnya ia melakukan aktifitas yang lumayan berarti dengan memencet tuts hp-nya. Pada waktu dan saat yang bersamaan, namun di tempat yang berbeda pula, Gavin Harris, sedang asyik di teras rumahnya yang rindang, sesak dengan berbagai jenis tetumbuhan dan kembang. Gavin, pemuda yang masih berusia 24-25 tahun itu, adalah pencinta flora dan kembang. Parasnya tampan, tenang dan matang, sematang tetumbuhan dan kembang yang mekar di hadapannya. Gavin, sebagaimana cerita Luka padaku, tidak sebagaimana pemuda kebanyakan yang cenderung sibuk dengan dirinya sendiri. Yang satu ini, sudah pandai menata hati, dan cenderung usai berperkara dengan dirinya sendiri. Gavin yang sedang merapikan daun kering di sekitar tetumbuhan yang kembang, seketika dikejutkan oleh getar telpon genggam di sakunya. Ia berbicara dengan seseorang di seberang sana, sebelum pada akhirnya memutuskan menyudahi kesibukannya, masuk ke dalam rumah, berbenah, meraih kunci mobil dan pergi entah ke mana. Malang, setelah sampai di tempat parkir dengan nafas satu dua, tersengal sengal, dan telah menjumpai mobilnya. Ketika hendak membuka pintu mobil…, kunci tidak tertemukan di tas jinjingnya…;’’ Ah……,’’ lenguh Sita. Tanpa berpikir panjang, ia tingggalkan mobil, bersijingkat dari tempat parkir, dan bersegera menuju ke pinggir jalan raya, mengabaikan sekuriti yang menyapanya, mengabaikan tikaman hujan, mencegat taksi yang lewat. Kini, ketiga anak manusia itu; Luka, Gavin, dan Sita telah berada di jalan raya kota Jakarta, di guyur derasnya hujan dalam dekapan malam yang merambat tua. Dalam waktu yang sama, di tiga tempat yang berbeda. Jika Luka dan sebagaimana Gavin cenderung mampu memanajemen emosinya, yang nampak dari ketenangan paras mereka berdua. Tidak demikian dengan Sita. Istri Luka ini parasnya menceritakan banyak persoalan. Mencitrakan kegundahan sekaligus kesepian, tipikal persoalan orang-orang kota. Di dalam taksi yang rawan tindak kejahatan, kegelisahan Sita bercampur aduk dengan banyak perkara yang bersemayan di kepalanya. Ia entah menuju ke mana? Hanya dari bibirnya yang ranum, Sita memberikan sebuah kalimat yang tampaknya sudah sangat dimengerti oleh supir taksi yang paruh baya. Paras Sita panik! IV. Pertemuan; Luka dan Gavin.
Jakarta, 22.00 WIB, dan waktu terus berjalan. DI sebuah pelataran parkir gedung BNI 46, Jalan Sudirman Jakarta Pusat, mobil Luka tampak telah menyusuri selasar parkir di salah sebuah gedung pencabik langit Jakarta itu. Setelah prosesi memarkir, mematikan mesin, mematikan tape yang memutar tembang ‘’Another Brick In The Wall (Part 3)’’ dari album Pink Floyd: Rogers Water ‘’The Pross and Cons of Hitch Hiking’’. Kemudian membuka pintu, menutup pintu, mengunci, dan berjalan menuju lift, dan menyongsong tempat yang telah ditentukan, Luka yang tenang telah sampai di kafe yang ditetapkan; di lantai 46, BNI 46, Jakarta. Tidak berapa lama setelah Luka menempatkan diri di sebuah meja bagi dua orang, Gavin, laki-laki yang tampaknya dari tadi telah berhubungan dengannya via phone, telah memasuki dan menyusuri pelataran parkir yang sama. Setelah prosesi memarkir, mematikan mesin, mematikan tape yang memutar komposisi ‘’Jesu, Joy of Man’s Desiring’’, dari Cantata No. 147, Herz und Mund und Tat und Leben, dari album ‘’Greatest Hits Johann Sebastian Bach’’. Kemudian membuka pintu, menutup pintu, mengunci pintu dan berjalan menuju tempat yang telah ditentukan, Gavin yang yakin, pelan dan pasti telah berada di dalam lift, memencet angka 46. Dalam waktu yang sama, Sita yang masih menimbun kepanikan pun telah memasuki dan menyusuri lobi sebuah perkantoran. Setelah prosesi membayar taksi sebanyak rupiah yang tertera di argo, membuka, dan membanting pintu, Sita turun dan menyegera menuju ke tempat café yang berada di dalam gedung perkantoran itu. Masih dengan kepanikan yang semakin nyata Sita telah songsong di sebuah café. Nihil, ia tidak menjumpai orang yang dicari. Setelah menyelidik ke seluruh ruangan, Sita tetap tidak menemui apa yang dicari. Maka, bersegeralah ia menyambar hp-nya mencoba menghubungi seseorang di luar sana. Gagal, dia tidak berhasil menghubungi orang di seberang sana. Sementara itu, Luka yang telah rapi di tempat duduknya, mulai asyik dengan telpon genggamnya. Di seberang sana, seseorang yang kemudian teridentifikasi sebagai Gavin mengangkat hp-nya . Luka bangkit dari duduk, mengangkat tangan kirinya, dan pemuda di seberang sana, Gavin yang celingukan, membalas mengangkat tangan kanannya, dan menyegera menghampiri meja Luka. Setelah keduanya saling bersitatap beberapa jenak, dan tanpa jabat tangan, Luka mempersilakan Gavin duduk pada tempatnya. Kemudian Luka berinisiatif memanggil seorang waitres untuk memesan minuman. Setelah waitres datang menghampiri, dan usai melayani pesanan Luka, ia bergeser ke arah Gavin. Tak berapa lama kemudian akhirnya waitres beranjak pergi. Selama menunggu datangnya pesanan minuman, baik Luka dan Gavin, masing-masing bersetia dengan aduan matanya. Tanpa kata tanpa rasa. Dari sini kita seolah melihat pemandangan yang janggal, dilihat dari sudut pandang manapun. Dua orang yang belum saling kenal dan belum pernah bertatap muka, untuk kali pertama bersua. Yang terjadi adalah kecanggungan yang maha luar biasa. Hingga akhirnya waitres datang juga dengan pesanan masing-masing. Luka dengan secangkir teh tawar mint pahit dan segelas bir hitam kegemarannya. Gavin, dua gelas es lemon tea kesukaannya. Selama prosesi waitres menyajikan pesanan di atas meja mereka berdua; baik Luka maupun Gavin, masih tidak menyediakan satu kedip pun untuk menghiasi ketegangan diantara mata mereka. Luka dan Gavin masih saja mengadu pandangannya. Tidak mendulikan, dan mengabaikan waitres yang melayani pesanan mereka. Hingga Luka membuka kata, dan menyilakan…. ‘’Silakan diminum’’. ‘’Makasih,’’ ujar Gavin. Setelah keduanya masih saja saling bersitatap. Luka mengambil gerak untuk mematikan hp-nya. Mengetahui Luka mematikan hp, Gavin pun melakukan hal yang serupa. Masih dalam waktu yang sama, namun dalam lingkup tempat yang berbeda, Sita bersegera hengkang dari tempatnya semula, dan kembali ke jalan raya, mencegat taksi berikutnya. Masuk ke dalam taksi, membanting pintu, dan memencet-mencet hp-nya. Kesal, tidak ada respon dari hp yang ditujunya, Sita memutuskan pergi entah ke mana lagi, tergesa nuju ke gedung lainnya. Luka yang masih bersemeja dengan Gavin, dengan ketenangan yang terlahir dari kedewasaan mereka masing-masing, mulai membuka kesempatan untuk dualog. Dua laki-laki usia 29 dan 25 tahun itu, mulai berbicara dengan datar, tenang, dan dingin, seolah karib yang telah lama tidak bersua. Penuh kehangatan. Meski ihwal yang dimusyawarahkan berkeniscayaan menyalakan api amarah diantaranya. Setelah menyeruput teh mint pahit kegemarannya, Luka dengan datar membuka kata, ‘’Manusia macam apa sebenarnya dirimu! Merendahkan martabat laki-laki dengan mengobrak-abrik bahtera rumah tanggaku. Sebelum pada akhirnya, dengan penuh muslihat, kaucuri istriku dari rumahku’’. Gavin diam saja, parasnya belum berubah. Luka pun meneruskan deretan kata demi katanya dengan emosi yang masih tertata rapi. ‘’Tidak adakah jalan hidupmu yang lebih baik, selain kau isi dengan perkara yang memalukan ini?’’ imbuh Luka. ‘’Sejak semula aku tidak memercayai diriku sendiri, kalau hubunganmu dengan istriku telah berjalan sekian lama. Namun, sejak saat ini. Mulai detik ini. Dengan segala kebaikan dan kesabaran. Sebagai sesama laki-laki; aku minta kau menyudahi hubungan diluar kepatutan ini’’. Lega memberondongkan kalimat yang menghimpit keteganganya yang lama di simpan rapi, Luka menarik nafas dalam dan panjang. Gavin belum bereaksi apa-apa. ‘’Kalau boleh tahu,’’ sambung Luka sembari merapikan duduknya. ‘’Muslihat apakah yang kaugunakan, sampai istriku seolah dengan segala kesertamertaan, dan seakan penuh kerelaan, berpaling dariku ke pelukan seorang laki-laki macam dirimu. Atau tidakkah kau malu pada diri sendiri, bahwa tindakanmu ini…,’’ Luka tidak melanjutkan kalimat panjangnya. Sebelum pada akhirnya ia, untuk kali kedua menarik nafas panjang, dan mulai kembali meneruskan, ‘’Tidakkah dapat kaurasakan kepedihan hati ini, ditelikung seorang istri yang teramat sangat disayanginya, atas nama sebuah perselingkuhan ?!’’ Gavin meraih lemon tea-nya meneguk dengan tanpa melepaskan pandang mata ke lawan bicaranya. Luka kembali kepangkal pembicaraannya. ‘’Bukankah kau juga laki-laki?! Tidak pernahkah kaurasakan keperihan dikhianati orang yang kau kasihi?! Atau tidakkah tersirat dalam benakmu, pada saatnya, belahan jiwaku ini, akan berkhianat untuk kali kedua, demi sekeping cinta atau apa pun namanya? Begitu ia tidak dapat merasakan cinta, atau menemukan kenyamanan asmara dipelukanmu’’. Gavin masih diam juga. Diam-diam Luka mulai tampak kemasygulannya. Dia mulai menarik nafas panjang untuk kali ketiga, sebelum pada akhirnya berbicara dengan dirinya sendiri, lirih…lirih sekali, nyaris tak terdengar, sembari sedikit menundukkan kepala dan memejamkan mata… ‘’Duhai istriku, jangan pernah kauulang khianatmu kepada siapa pun. Tidak juga pada seekor anjing, bahkan demi seluas surga sekalipun’’. Usai menarasikan sumpah dalam lirihnya, Luka mendongakkan kepala, membuka mata, dan mengarahkan pandangannya ke arah Gavin. Tajam pandangannya. Setajam pisau yang hendak bertandang ke urat nadi yang merindukannya. Kali ini tajam pandangannya penuh kebencian. Sembari terus bertutur datar, namun penuh muatan kedalaman, Luka meneruskan pembicaraannya sembari menggerutu. ‘’Enyahlah… kalian berdua dengan kutukanku!’’ Seketika, tanpa sebuah kesengajaan, secara reflek, tangan kiri Luka menyenggol gelas kaca teh mint pahitnya. Yang mengakibatkan tergelincirnya gelas ke bibir meja. Ketika gelas berada diambang kejatuhannya akibat gravitasi bumi. Baik Luka maupun Gavin malah saling mengadu mata, saling menajamkam pandanganya. Tidak menghiraukan gelas yang pelan dan pasti akhirnya memang terjatuh ke lantai café. Pecah. Kejatuhan gelas menimbulkan denting gelegar, mengagetkan telinga siapa pun di sekitarnya. Yang kebetulan café itu bernuansa hening dengan iringan sebuah musik kalem yang mendayu Paras Luka membatu, paras Gavin membisu. Hanya tatapan yang saling mengadu. Kalimat mati, amarah siap saling menuba, kebencian siap saling menghamba.Sementara itu, di sebuah pelataran jalan lobby hotel berbintang, Sita untuk kali kedua menyegera membayar sejumlah rupiah kepada supir taksi sebagaimana angka yang tertera di argo. Kali ini tidak mendulikan sisa kembaliannya. Secepat mungkin Sita bersijingkat meningalkan kabin taksi, dan kali ini membiarkan pintunya terbuka. Sita menyasar ke arah café hotel berbintang itu dengan langkah seribu. Saking cepatnya ia berjalan dengan sedikit berlari, badannya beberapa kali bersinggungan dengan orang-orang yang lalu lalang di tempat itu. Namun, apa daya. Setelah sampai tempat yang dimaksud. Untuk kali kedua, di sebuah café yang meriah, ia tidak menemukan yang dicari, setelah mata dan kakinya tentu saja menyelidik ke seluruh pojok ruangan. Nihil . Lagi-lagi, dengan langkah tergesa, Sita pun cepat berkeputusan meningalkan café, dan kembali ke jalan raya, dengan kembali mempercepat langkahnya. Setelah sebelumnya, lagi-lagi ia gagal menghubungi seseorang di seberang sana. Selanjutnya, di depan lobby hotel berbintang yang terletak di bilangan Senayan, Sita kembali mencegat taksi, membuka pintu, masuk ke dalam kabin, dan membanting pintu setelah berada di dalamnya. Sementara Luka dan Gavin masih saling meradang. Masih dalam keadaan sedia kala. Hingga tiba-tiba, akhirnya, Gavin membuka kata dengan datar. ‘’Tidak adakah tindakan yang lebih bersahaja dari seorang laki-laki dewasa seperti Anda, selain menceracau dan mengumbar rasa belaka, seperti seorang pemuda baru bercerai dari pasangannya? Tidak adakah perkara yang lebih menyita perhatian Anda selain masalah; wa-ni-ta?’’ Gila. Sindiran Gavin membuat Luka yang hampir kuasa mengatasi dirinya, makin tajam menombakkan pandang ke arah ‘’musuh besarnya,’’ yang sekarang memang benar-benar jelma tepat di depan ke dua biji matanya. Paras Luka menegang. Gavin hanya sekitar satu lengan di depannya. Dan yang lebih membuat Luka tersentak kaget, pilihan kata yang diucapkan Gavin nyaris persis dengan dialok cerpen Arok yang dibuatnya, beberapa tahun lalu. Yang salah satunya diberikan padaku. Pada saat ini, waitres sedang membereskan pecahan kaca. Mengetahui keberadaan orang lain di luar mereka berdua, Gavin belajar berlaku sok gentleman kepada waitres.
‘’Maaf. Saya yang menjatuhkannya.’’ Waitres hanya memulas senyum. Kemudian, Gavin meneruskan pembicaraannya kepada Luka. ‘’Aku memang menjalin hubungan yang istimewa. Bahkan sangat istimewa dengan istrimu. Itu semua aku lakukan atau kami lakukan bukan tanpa sebuah alasan. Aku bahagia bersama istrimu, dan aku rasa demikian pula dengan istrimu. Kalau kebahagian itu adalah sebuah kesalahan fatal di matamu. Maafkan aku. Buatku itu bukan sebuah kesalahan, melainkan ke-be-nar-an,’’ ujar Gavin yang mulai memberanikan diri mengganti kata ganti orang pertama Anda menjadi mu. ‘’Tidak bisakah kau mencari kebenaran dan kebahagiaan dengan perempuan lain yang belum mempunyai seorang suami!?’’ balas Luka dengan cepat, secepat syakwasangka purba dilesakkan.‘’Aku tidak tahu. Semua terjadi dengan alami saja. Maafkan aku jika terlalu dalam mengusik kehormatanmu sebagai seorang suami. Tapi, sebagai seorang laki-laki, aku merasa tidak ada yang keliru dengan apa yang aku rasakan dengan istrimu’’. ‘’Apa yang akan kau lakukan jika pada saatnya istriku. Atau perempuan yang kau anggap dapat membahagiakanmu ini, diam-diam, sebagaimana yang telah ia lakukan padaku, suaminya sendiri, menjalin hubungan dengan laki-laki lain dibelakangmu?’’ ‘’Pertanyaan itu tidak akan pernah pantas kau tujukan padaku, seharusnya kau tanyakan pada dirimu sendiri. Karena hal yang demikian tidak akan pernah terjadi padaku.’’ ‘’Kau tidak akan pernah bisa menebak apa yang akan dibawa masa depan kepadamu’’. ‘’Seharusnya kau berkaca pada dirimu sendiri, mengapa pada akhirnya istrimu memalingkan hati ke orang lain, yang kebetulan itu aku’’. ‘’Kau sedang berhadapan dengan laki-laki di atas rata-rata. Dan perempuan yang mencoba, dan telah mengkhianati hatiku ini lebih tidak terduga. Di atas itu semua, ia tidak akan pernah dapat kau baca dengan berbagai macam cara akal pintar dan sehatmu bekerja’’. ‘’Apa yang kau inginkan dari perbincangan ini. Sebuah peringatan berbentuk ancaman?’’ Luka menggelengkan kepala dengan pelan, ‘’Aku memang telah terlanjur dalam, dan sakit hati dengan istriku. Aku pun…, entahlah’’, untuk kali keempat Luka menarik nafas panjang lagi. ‘‘Tiba-tiba atau terkadang…, sudah tidak berniat lagi mempertahankan, apalagi mengemiskan perasaan ini. ‘’Aku mungkin akan membiarkan dia pergi dengan laki-laki mana pun. Yang sekiranya ia klaim mampu membuat hidupnya lebih bermakna. Tapi, di saat yang bersamaan, aku sendiri tidak tahu mengapa ingin menumpahkan kemarahan ke arahmu?’’ ‘’Maaf,’’ jawab Gavin mewakilkan kebingungannya, ‘’Di awal perbincangan, kau menghendaki aku menyudahi hubunganku dengan istrimu. Sekarang…..?’’ Gavin hanya mengangkat kedua pundaknya, tanda ketidaktahuan. ‘’Semudah itukah?’’ ‘’Aku nggak ngerti. Mungkin aku sudah terlalu nggak ngerti lagi dengan apa yang telah istriku lakukan padaku. Dan payahnya, mungkin aku bahkan sudah nggak berminat lagi. Mungkin…, kehadiranku baginya, atau kehadirannya buatku, mungkin…, sama-sama telah menciptakan sebuah prahara’’ ‘’Bahkan sebelum aku ada bukan?’’ ‘’Aku tidak peduli lagi….’’ ‘’Kalau kau anggap kemarahanmu dapat memperbaiki keadaan. Dan dengan demikian kau menjadi lega karenanya…,aku siap menerima, dan melayaninya. Aku pun mungkin akan melakukan hal yang sama sepertimu, atau bahkan lebih gila dan tidak terkendali, manakala mengetahui perempuan yang aku sayangi telah memalingkan perasaannya ke orang lain’’ ‘’Apa yang akan kau lakukan jika itu benar-benar terjadi padamu…’’ ‘’Aku tidak mempunyai keberanian untuk menjawabnya, meski hanya mengandaikannya sekalipun’’. ‘’Jika akhirnya memang benar-benar terjadi padamu. Dengan alasan yang sangat sehat, dan paling masuk akal sekali pun?’’ ‘’Yang tidak mencicipi tidak merasakan’’. ‘’Jika keadaan memaksamu untuk mencicipinya?’’ ‘’Itu tidak akan pernah terjadi padaku. Karena aku memperlakukan perempuan bahkan lebih baik dari caraku memperlakukan diriku sendiri’’. ‘’Kau naïf’’. ‘’Nyatanya istrimu berbahagia denganku’’.
Seketika, dalam hitungan sepersekian detik, secara reflek Luka mengayunkan pukulan tangan kanannya ke wajah Gavin. Saking cepatnya ayunan itu, Gavin tak mempunyai kesempatan untuk menghindarinya. Bogem itu telak mendarat di rahang sebelah kirinya. Gavin terjengkang! Terpelanting dari kursi, membawa serta gelas yang ada di depannya, tumpah, pecah berserakan. Darah bercucuran dari mulut Gavin. Gavin masih dalam keaadaan terjerembab di lantai. Tiba-tiba. Dalam hitungan sepersekian detik pula, kejadian tadi berputar terbalik dengan sangat super cepat ke keadaan semula. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Gavin masih duduk bersemeja dengan Luka. Dalam keadaan yang masih sangat baik-baik saja, tidak kurang suatu apa pun. Segar bugar. Memang, tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka berdua. Semua kejadian terpelantingnya Gavin akibat bogem Luka hanya ada digambaran dan benakku, – andai aku mengandaikan duduk disisinya, sebagai makhluk kebanyakan tentu saja. Mereka baik-baik saja. Masih sangat baik-baik saja.
‘’Kau ingin mengatakan kalau aku tidak cukup baik memperlakukan istriku dengan segala kemanusiaanku? Sehingga dengan demikian dia absyah berpaling dariku kepadamu, atau siapapun orang itu?,’’ sela Luka. ‘’Kau sendiri yang menyimpulkan’’. ‘’Kau keliru,’’ ujar Luka sembari meraih sebungkus rokok kretek yang tergeletak di atas meja. Membukanya secara perlahan, dan menawarkan kepada Gavin. Gavin hanya menundukkan kepala tanda penolakan yang santun. Melihat Gavin menampik tawarannya, Luka memutuskan mengurungkan niatnya untuk merokok. ‘’Aku bahkan telah secara tumpah menyayanginya…., dan untuk itulah aku tidak habis mengerti mengapa hal semacam ini masih terjadi’’. ‘’Mungkin dia tidak hanya sekedar membutuhkan cinta yang tumpah. Apapun itu, ia tidak menemukan lagi sesuatu di dirimu. Ini memang menyakitkan, aku juga dapat membayangkan, dan merasakan itu. Aku turut prihatin hal ini menimpa padamu’’. ‘’Kau berbicara seperti seorang guru. Aku tidak membutuhkan simpati darimu. Jangan terlalu naïf dengan keadaan yang seolah berpihak di sisimu’’. ‘’Maafkan aku’’. ‘’Jangan juga pernah meminta maaf padaku. Tenang saja. Aku hanya berusaha menemukan segala muara persoalan yang menimpa rumah tanggaku,’’ jawab Luka dengan cepat. ‘’Dan itu melibatkan aku?’’ ‘’Mungkin ya, mungkin tidak’’ ‘’Jika muara itu sudah ditemukan. Apa yang akan kau lakukan?’’ ‘’Entahlah’’ ‘’Apa yang akan kau lakukan pada istrimu atau aku, kalau semua masalah itu memang bermuara dari istrimu atau aku’’. ‘’Aku belum tahu persis’’ ‘’Kau akan menghabisi riwayat istrimu? Demikian pula dengan riwayatku?’ Luka diam beberapa jenak, menatap Gavin, dan meneruskan pembicaraannya dengan suara yang datar. ‘’Aku tidak sebodoh itu. Atau paling tidak aku tidak akan berbuat senista yang pernah kalian berdua lakukan dibelakangku’’. ‘’Nista dimatamu? Tapi tidak buat istrimu dan aku’’. ‘’Ada kosakata lain yang lebih patut disandangkan kepada seorang istri yang telah berbuat curang dibelakang punggung suaminya? Ada diksional lain yang lebih pantas disematkan kepada seorang lelaki yang menjalin hubungan gelap dengan istri orang lain?’’ pangkas Luka dengan intonasi agak meninggi, dan cepat. ‘’Kami saling mencintai’’. ‘’Ah, kalian seperti anak muda yang baru kenal cinta rupanya’’. ‘’Itu yang kami rasakan’’. ‘’Olala……..,’’ desah Luka sembari membuang muka, dan membebaskan nafas. Setelah jeda beberapa lama. Mata Luka kembali memandang ke arah mata Gavin. ‘’Sebenarnya aku malu membicarakan ini,’’ katanya melanjutkan. ‘’Apakah akan mengubah keadaan setelah perbincangan kita usai? Apakah keadaan akan menjadi lebih baik setelah apa yang kita bicarakan? Apakah dengan demikian istrimu akan kembali kepangkuanmu, dengan sepenuh kasihnya, setelah pembicaraan ini’’ jawab Gavin sekenanya. ‘’Dan apakah aku dengan lapang hati akan meninggalkan begitu saja segala yang pernah aku lalui dengan istrimu. Atau seolah dengan mudah pula kau melupakan begitu saja apa yang telah terjadi dengan rumah tanggamu. Sesederhana itukah?,’’ imbuhnya penuh tanya.‘’Tidak akan pernah ada yang sederhana dalam hidup ini’’ ‘’Lantas, point dari perbincangan ini?’’ ‘’Akan ketemu dengan sendirinya, jika kau sudi secara jujur bercerita tentang apa yang telah kau lewatkan bersama istriku. Atau paling tidak, kita berbicara layaknya orang dewasa saja. No heart feeling’’ ‘’Bagaimana mungkin aku dapat mepercayaimu, sementara ini adalah kali pertama aku bersitatap denganmu. Bagaimana aku dapat meyakini apa yang kau katakan, jika istrimu sendiri sudah tidak mempercayakan hatinya padamu’’. ‘’Inilah yang tidak pernah dapat aku mengerti. Apalagi sekarang, seorang laki-laki muda dimana istriku melabuhkan segala hatinya tepat berada di depanku. Berbicara seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Malah menasehatiku, dan aku masih saja berlagak tenang menjinakkan segala amarah hanya untuk menegakkan sebuah musyawarah. Alangkah indahnya bukan…..’’ ‘’Aku juga semakin bingung dengan keadaanmu. Apakah aku harus turut sedih atau malah gembira. Namun, jangan desak aku untuk memberikan sebuah pengakuan, bahwa apa yang aku lakukan selama ini dengan istrimu adalah sebuah kesalahan, apalagi kefatalan. Sekedar kau tahu. Di awal hubunganku dengan istrimu, aku hanya memandangnya sebagai seorang perempuan yang pantas, dan layak sekali untuk dijatuh cintai. Itu saja. Tidak lebih. Kalau pada saatnya ia menyambut apa yang kurasakan, dan setelah itu aku baru tahu ia telah menjadi istri dari seorang suami. Itu semua di luar kekuasaanku, atau kekuasaan istrimu. Jadi, kalau kau mau merunut-runut dimana kesalahannya….., aku tidak tahu dari mana dan bagaimana harus menjawabnya.’’ ‘’Baiklah, kalau kau keberatan dengan pembicaraan yang berpangkal pada siapa yang menyalahi siapa? Kita berbicara secara lepas saja. Aku bertanya kau menjawab. Atau sebaliknya. Atau apa pun lah bentuknya. Atau tidak perlu kita pagari batasan pembicaraan ini. Kita berbicara sebagai sorang manusia saja. Kalau kau ingin meninggikan suara ke arahku, bahkan berpekik sekalipun. Aku akan belajar menerimanya. Demikian pula sebaliknya, aku akan berusaha masuk akal dengan segala argumenmu.’’ ‘’Ini bukan masalah argumentasi. Tapi lebih dalam dari itu. Ini menyangkut masalah yang lebih pelik dari yang kau bayangkan’’. ‘’Nah, kau mulai dapat menyimpulkannya sekarang. Ya, ini adalah masalah yang lebih pelik dari yang aku bayangkan,’’ ujar Luka dengan cepat, ‘’Aku mulai suka denganmu. Untuk itulah aku berbicara denganmu’’. ‘’Kau kira mudah bagiku, memberanikan diri mengambil keputusan untuk menjalin hubungan dengan seorang perempuan untuk dicintai, dan ia berstatus sebagai istri dari seorang suami?’’ ‘’Dan kau kira menjadi lebih mudah bagiku menerima keadaan ini?’’ ‘’Dan apakah kau kira pula akan menjadi lebih mudah juga bagi istrimu menjalin hubungan denganku, sementara ia masih berstatus menjadi istrimu? Tidak pernahkah terlintas dalam benakmu, kenapa istrimu yang kau cintai itu sampai hati, dan memberanikan diri memalingkan perasaannya darimu? Tidak pernahkah kau…., barang sejenak berkaca kenapa keadaan ini sampai menimpa rumah tanggamu?’’ ‘’Aha, sekarang laki-laki yang menjalin hubungan dengan istriku malah menasehatiku dengan kebajikan kemarin sorenya. Ola la…’’ ‘’Aku memang lebih muda darimu. Tapi kematangan, dan kelapangan tidak ditentukan dari berapa panjang usia seseorang’’. Mendengar jawaban Gavin, Luka hanya menarik nafas dalam, sembari menggerak-gerakkan jari kelingking sebelah kirinya ke arah Luka. ‘’Kau sekarang berbicara seperti Oprah Winfrey. Tapi aku suka kamu. Aku mulai suka kamu. Mungkin ini yang membuat istriku jatuh hati padamu. Kau mempunyai kelapangan hati dikebeliaanmu. Bahkan pada saat seusiamu, aku belum sematang itu. Aku suka kamu. Sumpah, aku mulai suka kamu. Kau bahkan mempunyai keberanian mengemukakan apa yang kau rasakan, ketika semua orang cenderung takut mengutarakan apa yang mereka rasakan. Aku suka kamu, …….’’ ‘’Kau meledekku. Aku sekarang bahkan berpikir, bagaimana mungkin seorang laki-laki sedewasa ini masih saja ditinggal pergi oleh istrinya. Pasti ada sesuatu yang belum diceritakan oleh istrimu kepadaku, atau yang belum kau ceritakan perihal istrimu kepadaku. Atau ada sesuatu yang belum aku ketahui. Ada permainan apa dibalik semua ini?’’ Luka hanya menunduk-nundukkan kepala dan sedikit membungkukkan badannya, tanda bersepakat atau kagum dengan apa yang barusan disimaknya, ‘’Untuk itulah kita berbicara kawan…Untuk itulah kita berbicara….’’ ‘’Jangan panggil aku kawan. Sementara pada saat bersamaan mungkin saja ada sebuah muslihat yang telah kau siapkan untuk menelikungku?’’ Lagi-lagi, Seperti biasa Luka hanya menggerakkan ke kiri ke kanan jari kelingking sebelah kirinya. ‘’Tenang Bung…, kita akan terus berbicara layaknya orang dewasa. Kita akan berbicara dengan sangat baik, dan baik sekali. Tidak akan pernah ada darah yang tumpah. Tidak juga air mata. Karena kita, semoga, menemukan sebuah jawab yang kita cari.’’ ‘’Kau berbicara seperti ayahku. Persis dengan segala keomongkosongannya.’’ ‘’Tapi kita akan terus berbicara, bukan?’’ jawab Luka dengan senyum kecutnya. ‘’Ya, kita akan terus berbicara. Apa yang harus aku takutkan.…’’ Untuk mendinginkan suasana, Luka mengambil inisiatif menyilakan Gavin untuk menikmati minumannya. Bahkan menawarkan minuman lain, yang mungkin ingin dia tambahkan. ‘’Atau barangkali kau ingin makan sesuatu?’’ ‘’Aku makan jika aku ingin. Tenang saja’’ ‘’Itu lebih baik’’ Seketika, seorang waitres yang kebetulan perempuan datang menghampiri meja mereka. ‘’Maaf pak. Sekarang sudah pukul 12 malam. Sebentar lagi café musti tutup. Apakah ada minuman yang akan ditambahkan atau…..’’ ‘’Bukankah harusnya bisa lebih pagi tutupnya,’’ jawab Luka seperti tidak terima pembicaraannya yang belum usai diinterupsi. ‘’Itu hanya berlaku pada akhir pekan Pak?,’’ tukas waitres. ‘’Baiklah, kalu begitu. Kami rasa cukup untuk malam ini. Tolong disiapkan bonnya. Terima kasih.’’ ‘’Baik pak’’. ‘’Bisa kita lanjutkan pembicaraan ini di tempat lain kan? Aku harap kau tidak keberatan,’’ tanya Luka kepada Gavin. ‘’Baik,’’ jawab Gavin dengan anggukan kepala tanda sepakat, ‘’Biar aku yang bayar’’
Melihat Gavin hendak mengeluarkan dompetnya, Luka bersegera mengangkat telapak tangan kirinya dari meja, tanda; biar aku saja yang beresi. Setelah lagi-lagi saling bersitatap beberapa lama. Luka beranjak dari duduknya, sembari mengeluarkan dua lembar ratusan ribu rupiah yang segera ia tinggalkan begitu saja di atas meja. Gavin juga beranjak dari duduknya. Merapikan pakaian dan mereka berdua berjalan beriring menuju pintu keluar café menuju lift. Di dalam lift yang hanya terisi oleh mereka berdua, baik Luka maupun Gavin mengunci rapat mulutnya. Namun, dibenak Luka berkelebatan masa-masa bahagia dengan istrinya. Masa-masa ketika Luka dan Sita sedang berjoging sembari bercanda di tepian pantai Anyer. Sesekali Sita melompat ke punggung suaminya. Dan Luka dengan riang penuh kegirangan membopongnya sembari tetap berlari kecil. Pada saat kenangan Luka sedang indah-indahnya, pada moment ini, Sita juga telah sampai di tempat dimana Luka dan Gavin berada. Namun, dalam sebuah jenak, mereka tersilap di pintu lift. Luka dan Gavin hendak keluar lift di lantai satu, sedangkan Sita baru saja masuk dari pintu lift lantai satu nuju lantai 46 BNI. Dengan demikian untuk kali ketiga Sita yang super cemas, bakal nihil menemukan keduanya. Sampai-tiba-tiba, Gavin membangunkan kesadaran Luka. ‘’Kita telah sampai di lantai dasar. Kau punya rekomendasi dimana kita melanjutkan ini semua?’’ Luka yang sempat tersentak kaget, segera merespon, ‘’Kita bisa makan dulu di Menteng. Dari sana kita akan berpikir lagi ke mana selajutnya’’. Kemudian mereka menuju mobilnya masing-masing, dan melaju menuju pusat pertokoan Menteng. Di dalam mobil, lagi-lagi Luka kembali mengenangkan masa-masa bahagia dengan istrinya. Sementara Gavin membuntuti mobil Luka yang telah menuntunnya hingga Menteng. Oh, simpulnya, kutukan cerpen dan naskah teater ‘’Arok’’ rupanya sedang menghinggapinya. Di sebuah warung kaki lima di pojok Menteng, Luka asyik ngobrol dan makan bersama Sita, istri terkasihnya.. Sesekali mereka berdua saling memulas senyum. Biasa saja, sahaja tapi takzim. Sebelum pada akhirnya klakson Gavin membangunkan lamunan Luka pada sebuah traffick light yang telah menyala hijau. Setelah membelokkan mobilnya dan sampai di sebuah sudut parkir yang tidak seberapa, Luka turun dari mobilnya, Disusul Gavin yang parkir di sampingnya.
‘’Di sana ada berbagai menu. Kau tinggal pilih yang kau suka,’’ ujar Luka setengah berpekik kepada Gavin. Gavin hanya membuka tangan. Selanjutnya, setelah menetapkan diri berhenti pada sebuah warung kaki lima, mereka memesan makanan kesukaan masing-masing. ‘’Di mana biasanya kalian makan malam?’’ ujar Luka yang berhadap-hadapan dengan Gavin. Gavin diam saja. ‘’Ini salah satu tempat favorit kami, dulu. Sebenarnya aku gentar kalau datang ke sini sendirian. Bukan apa-apa. Aku tidak cukup mempunyai kekuatan untuk melewati masa-masa indah itu seorang diri. Bukan karena aku mengharaminya. Tapi, entahlah. Ada yang bergetar ketika aku mendatangi tempat kami berdua dulu biasa melewatinya, sementara dia sudah tidak ada lagi di sini,’’ ujar Luka tanpa harus menempelkan tangan kiri ke dadanya. Melainkan hanya dengan sedikit menundukkan kepalanya ke arah jantungnya. ‘’Namun, setelah aku pikir-pikir, aku harus melawan perasaan itu. Hidup harus tetap berjalan. Demikian yang dinubuatkan dalam roman-roman picisan,’’ imbuh Luka. ‘’Kau terlalu banyak bicara,’’ balas Gavin. ‘’Sejatinya aku pendiam. Bahkan lebih diam dari gunung sekali pun’’. ‘’Lalu mengapa seorang perempuan yang baik macam istrimu, sampai hati memalingkan perasaannya kepadaku, jika memang bukan karena ada sebuah alasan yang kuat untuk membuatnya berpaling? Bahkan dari sebuah eloknya gunung sekali pun?’’ ‘’Untuk itulah aku berbicara denganmu’’. ‘’Aku rasa kita terlalu bertele-tele’’. ‘’Aku hanya berusaha untuk hati-hati’’. ‘’Apakah tidak ada cara yang lebih sederhana untuk membuat hatimu menerima kenyataan, bahwasanya istrimu sudah tidak mendulikan lagi apa yang kau rasakan? Apa pun itu alasannya’’. Mendengar jawaban Gavin, Luka hnya menunjuk dengan jari telunjuk sebelah kirinya. ‘’Inilah yang membedakan cinta sehat, dan masuk akal dengan cinta buta, sebagaimana yang kalian berdua alami’’. ‘’Jangan berlagak bijak dengan sok menerang-nerangkan makna sebuah perasaan’’. ‘’Aha, aku mulai benar-benar suka denganmu’’. Pada saat ini pesanan mereka telah sampai. Luka dengan sate ayam, nasi putih, juice alpokat dan aqua. Sedangkan Gavin dengan nasi goreng spesial dengan juice apel dan sprite.
Sementara dalam ruang dan waktu yang lain, tepatnya di lantai 46 Gedung BNI 46, Sita tidak menemukan orang yang dicarinya. Tapi bukan Sita jika menyerah begitu saja. Ia masih saja meneruskan pencariannya. Kali ini dengan kecemasan yang berlahan mulai bercampur dengan kelelahan dan keputusasaan. Sementara Luka baru baru saja mulai mencicip makanannya. ‘’Kita makan dulu,’’ ajaknya kepada Gavin. Maka, layaknya kanak-kanak menemu makanan kesukaannya, Luka dan Gavin tampak akur, rukun dan lahap menyikat habis makanan kesukaan mereka masing-masing. Sementara Sita? Entah mau ke mana lagi dia… Setelah tandas makanannya, menenggak minumannya, kemudian menarik nafas panjang, tanda kelegaan. Mulai berbicaralah Luka kepada Gavin. ‘’Tidak mengecewakan bukan?’’ ‘‘Lidahku tidak cukup rasional ketika perutku dalam keadaan lapar seperti ini’’. ‘’Apakah hal ini juga berlaku dalam pola pikirmu, ketika perasaanmu juga dalam keaadaan lapar’’. ‘’Maksudmu? ‘’‘’Kau tahu persis apa maksudku, jangan berpura-pura bodoh’’. ‘’Mmmmm. Aku pikir itu dua hal yang berbeda,’’ masih dengan ketenangan Gavin menanggapi. Untuk kali kedua Luka menawarkan rokok kreteknya kepada Gavin. Namun, untuk untuk kali kedua juga, Gavin kembali menampiknya dengan kesantunan yang sama. ‘’Kau tidak merokok?’’ ‘’Sudah beberapa hari ini aku berhenti. Aku sudah terlalu banyak merokok. Makasih’’. Mengetahui Gavin menampik kebaikannnya lagi, Luka menarik kembali kebelakang tangannya yang menawarkan rokok, kemudian merapikan duduk. ‘’Di sini nuansanya kurang mendukung untuk pembicaraan kita. Kita bisa bergeser ke Anyer kalau kau tidak keberatan?!’’ ‘’Bukan masalah. Di mana pun kau menghendaki, aku akan melayaninya’’. ‘’Atau kau punya alternatif lain yang sekiranya nyaman untuk pembicaraan kita berdua?’’ tawar Luka kepada Gavin. ‘’Anyer, meski terlalu jauh tapi tidak terlalu buruk. Toh ini dini hari, nggak macet pastinya’’. ‘’Ok. Kita akan beriringan ke sana…’’
Secepat laki-laki sigap, mereka berdua berbenah. Seperti di café, di Menteng pun, Luka membereskan semua keuangannya. Gavin hanya tersenyum kecut dibuatnya. Selanjutnya, mereka menuju mobilnya masing-masing, dan mulai berjalan beriring ke Anyer. Sebelum memasuki mobil, Luka memberi tanda kepada Gavin untuk mengaktifkan hp-nya. Di dalam mobil, Luka mulai mengaktifkan loudspeaker, beberapa jenak kemudian memencet beberapa tuts nomor di hp, sembari tetap melajukan dengan tenang mobilnya dalam kecepatan rata-rata ke Anyer.Demikian halnya dengan Gavin, ia mulai meraih hp yang ada di saku, membenahinya, dan menempelkan piranti kabel head-set ke telinga, sembari terus tetap melajukan mobilnya di belakang mobil Luka.
‘’Ya. Aku di belakangmu persis,’’ jawab Gavin ketika Luka ketika mencoba menelponnya. ‘’Ini akan menjadi malam yang panjang untuk kita. Semoga kau menikmati. Aku mencintai malam. Karena ia membawa keheningan dan kesenyapan. Di suasana seperti ini biasanya pikiran akan lebih menghasilkan sesuatu yang matang, ’’ cerocos Luka sembari meletakkan hp-nya di sebuah gagang penyangga hp di dashboard kabin mobilnya.. ‘’The best thinking has been done in solitude, ha…’’ ‘’Ya. The best thinking has been done in solitude. Kau berkawan baik dengan buku dan kepintaran, pastinya.?!’’ ‘’Tidak atau belum seakrab dirimu’’. ‘’Aku tidak terlalu dekat dengan buku. Tapi aku juga tidak terlalu jauh dengannya. Dari mana kau tahu kegemaranku. Ah, istriku tentu saja. Apa buku terakhir yang kau baca’’. ‘’Bumi Manusia’’. ‘’Pramudya. Aku baru saja merampungkan ‘Sang Alkemis’ Paulo Coelho. Apa yang kau dapat dari tulisan Pram? ‘’ ‘’Banyak. Banyak sekali. Paling tidak aku akan belajar berpikir dan bersiasat lebih baik. Bertindak lebih baik. Dan memperlakukan diriku juga dengan tidak kalah lebih baiknya’’. ‘’Termasuk bagaimana memperlakukan perempuan dengan tidak kalah baiknya?’’ potong Luka dengan cepat. ‘’Itu dengan sendirinya…’’ ‘’….’’ ‘’Mengapa kau diam…..?’’ ‘’Nggak pa-pa,’’ jawab Luka. Meski sebenarnya, pada saat itu, sebagaimana banyak pada saat yang lain, lagi-lagi, bayangan masa bahagia antara Luka dengan Sita istrinya berkelebat di benaknya. Bayangan kenangan ketika mereka berdua sedang berada di Pantai Anyer, pada sebuah senja, ketika matahari hendak pulang ke kampung halamannya.Adakah saat yang lebih mengharukan selain membayangkan saat-saat berbahagia dengan orang-orang yang pernah dekat dengan kita? Untuk kasus Luka, ia tampaknya lebih senang mengembalikan memori ketika bersama Sita memandangi gedebur ombak dan menyimak hembusan angin. Sembari berbicara tentang segala hal, tentang apa saja. Sesekali Luka terlihat tersenyum sendiri, seperti sedang membayangkan ketika tertawa bareng dengan Sita. Seolah tidak begitu mengabaikan mobilnya yang beriringan dengan mobil Gavin membelah keheningan jalanan Jakarta yang senyap menuju Anyer. Hingga akhirnya kilatan lampu mobil yang berpapasan dengan mobilnya memecah keheningan ingatannya, dan memaksanya kembali menghubungi Gavin.‘’Perjalananan kita masih jauh….staminamu masih cukup prima?‘’, katanya ketika menyadari mobil mereka telah mulai masuk pintu gerbang tol pertama. ‘’Tenang. Aku baek-baek saja.,’’, jawab Gavin. Mulailah mobil mereka berdua menyusuri jalan tol yang tidur nuju Anyer. Dengan kecepatan rata-rata, antara 80-100 km perjam, mereka kembali melanjutkan pembicaraan. ‘’Aku sebenarnya tidak begitu berkenan melanjutkan pembicaraan ini,’’ ujar Gavin yang sepertinya mulai terlihat jengah. ‘’Kenapa?’’ ‘’Tiba-tiba aku tidak ingin saja’’. ‘’Beri aku alasan….’’ ‘’Tiba-tiba aku ingin menjumpai istrimu!’’ ‘’Ah….Dia akan datang padamu kalau memang benar-benar mencintaimu,’’ jawab Luka seolah tidak menunjukkan ekpresi kekagetannya. ‘’Itu yang telah dia lakukan selama ini. Kami saling menjumpai lebih tepatnya. Pertemuan kita, aku kira, semakin percuma saja. Aku tidak ingin melepaskan cintanya,’’ Gavin nyerocos menguraikan perasaannya. ‘’Hei..tenang. Tenang….Dia akan datang padamu kalau memang benar-benar menyayangimu. Tapi, kau pun tetap boleh berputar balik dimana pun kau suka….meski aku menyayangkan itu’’. ‘’Kenapa kau begitu dingin menghadapi ini semua?’’ ‘’Aku nggak ngerti. Mungkin kau benar, aku terlalu naif sebagai seorang laki-laki. Oh ya, dari tadi istriku pasti menghubungimu?’’ ‘’Ya. Ada beberapa catatan misscall darinya’’. Mendengar jawaban Gavin, Luka hanya menganggukkan kepala. ‘’Ya. Ya ‘’. ‘’Aku menyangsikan kemampuanku untuk melepaskan cintanya. Dan aku tidak pernah berpikir sedikit pun untuk sok kuat hidup tanpa cinta. Sebagaimana dirimu’’. ‘’Semua orang butuh cinta, tuan……’’ ‘’Tidak mudah menemukan cinta seperti yang telah kami jalin berdua’’. ‘’Sudah sedemikian dalamkah hubungan kalian berdua?’’ ‘’Sampai-sampai aku meragukan keberlangsungan hidupku tanpa cintanya…’’ ‘’Dulu aku juga berpikiran demikian.’’ ‘’Kau mencoba memprovokasiku,’’ jawab Gavin yang tampak terkesiap. Sebelum akhirnya dengan pelan dan pasti mulai melambatkan laju mobilnya, ia sudah sudah tidak mengekor lagi pada mobil Luka. Luka tahu itu dari kaca spionnya, dari lampu depan mobil Gavin yang semakin berjarak. Tapi Luka tampaknya tidak peduli, abai, masa bodoh dan masih saja melajukan mobilnya dalam kecepatan rata-rata. Gavin juga menyaksikan lampu belakang mobil Luka yang semakin menjauh, menjauh, dan akhirnya menghilang dari pandangannya. ‘’Bagaimana mungkin laki-laki berpendirian seperti kamu mudah terprovokasi…’’ jawab Luka sembari terus melajukan mobilnya. ‘’Aku akan tetap ke Anyer dengan atau tanpa dirimu. Sebagaimana aku akan tetap melangsungkan nasibku dengan atau tanpa istriku…’’ Tidak ada jawaban yang diberikan Gavin, kecuali diam, sembari menepikan mobilnya, dan berhenti pada bahu jalan tol. Untuk beberapa lama tidak ada perbincangan antarmereka. Gavin hanya terdiam, menerawangkan pandangannya ke muka, seperti mengembalikan kenangan kebersamaan dengan Sita, kekasih tersayang dan menyayanginya. Gavin terus berpikir untuk mengabaikan Anyer, dan lebih memilih menemui Sita rupanya. Hingga akhirnya pelan-pelan, Gavin kembali melajukan mobilnya…… ‘’Gila!’’ pekiknya kepada diri sendiri, tanpa menyadari sambungan telponya masih aktif. ‘’Ah, masih ada kehidupan di sana…’’ ujar Luka yang sengaja masih mengaktifkan telponnya. Menyadari kelalaiannya, seketika Gavin memutuskan sambungan telponnya, melepas head-set dan mengabaikannya begitu saja. Luka lagi-lagi hanya memulas senyum mengetahui sambungan telponya diputus oleh lawan bicaranya. Meski demikian, Gavin masih melajukan dengan tenang mobilnya ke arah…, Anyer. Padahal sebelumnya Gavin, dalam waktu yang sama membantingkan tangannya ke stir mobil, sembari mengumpat tidak habis mengerti dengan apa yang sedang dijalaninnya, ‘’Sialan!’’, geramnya.…. Dia menarik nafas panjang. Sebelum pelan-pelan mulai menjalankan laju mobilnya ke arah Anyer, dengan tanpa mendulikan hp yang tergeletak di jok mobil di sebelahnya. Setelah beberapa lama, sembari menikmati lantunan lagu dalam album ‘’Love And Theft’’ milik Bob Dylan, tanpa terasa Luka telah hampir sampai ke arah Anyer. Dia telah mengarahkan mobilnya keluar dari jalan tol, setelah sebelumnya membayar sejumlah rupiah di pembayaran both tol. Di kesenyapan dini hari, setelah membelah sedikit kota Cilegon, dia mulai mencari irisan tepian pantai, untuk memarkirkan mobilnya. Meminggirkan kegundahannya. V. Sita dan Bunda.
Jakarta, 00. 45 WIB.
SITA tampaknya sudah mulai berketetapan hati untuk tidak menghubungi siapa pun. Di dalam taksi dia meneguhkan diri untuk kembali ke rumahnya. Sebagaimana keyakinannya, persoalan pasti akan usai dengan sendirinya, jika sudah sampai pada puncaknya. Namun, tiba-tiba ia meminta kepada supir taksi untuk memasuki sebuah halaman gedung bertingkat. Ia rupanya masih penasaran untuk kembali mencoba kali terakhir memasuki sebuah café.
‘’Bapak tunggu sebentar di parkiran ya, saya tidak akan lama kok,’’ pintanya kepada supir taksi yang berusia paruh baya. ‘’Baik mbak,’’ jawab balik bapak supir taksi. Tak berapa lama kemudian setelah keberanjakannya, Sita telah songsong kembali menuju taksi yang masih setia menunggu di pelataran parkir. Setelah membuka pintu mobil, ia kembali masuk ke dalam kabin taksi. Membanting pintu dengan kemarahan yang sewajarnya. Kemudian menghela nafas dalam. Parasnya menunjukkan kekecewaan. Sita menyandarkan seluruh tubuhnya di jok mobil taksi belakang. ‘’Yuk pak, pergi dari sini!’’, ujar Sita membuka kata kepada supir taksi. ‘’Baik mbak….. Kita pergi ke mana mbak?’ ‘’Ke mana pun asal tidak berpikir untuk pulang!’’ ‘’Loh…kok gitu mbak,’’ jawab supir taksi kaget, dan penuh tanda tanya, sekaligus heran. ‘’Ya sudah, Bapak boleh jalan ke mana saja dulu. Pokoknya biarkan argonya jalan. Saya mau bicara dengan orang tua saya dulu. Sembari saya berpikir lagi ke mana saya akan memutuskan untuk pergi. Ah gini aja pak, jalan dulu ke Sudirman, Thamrin sampai mentok ke Medan Merdeka Barat, terus balik lagi, sebelum kita balik ke Cibubur aja ya,’’ jawab Sita sambil menghela nafas panjang, tanpa merubah emosi. ‘’Baik mbak,’’ ulas supir taksi masih dengan keheranan yang sama. Sita bersegera meraih hp dari dalam tas, menghubungi orang tuanya. Berbicara dengan suara yang halus, dan manja. ‘’Bunda…..’’ Ibunda Sita yang dihubungi anaknya di malam gelap lagi gulita, tentu saja dengan penuh keheranan dan kecemasan membalas telpon Sita dengan keterperangahan. ‘’Ada apa nak. Kok malem-malem ngebel. Nggak biasanya? Kamu baek-baek saja nak?’’ ujar bunda Sita di ujung sana dengan kepanikan yang segera mereda. ‘’Nggak papa kok. Cuman kangen pengen denger suara bunda aja. Bunda sehat kan. Pasti udah bobo ya…’’ ‘’Iyalah. Kamu ini ada-ada aja, tahu pagi buta malah nelpon, hanya untuk ngomong kangen suara bunda. Ada-ada saja kamu’’. Sita hanya tersenyum. ‘’Pasti ada masalah lagi dengan ‘’jagoanmu’’ itu ya?’’ ujar bunda menyelidik.’’ ‘’Nggak kok. Nggak ada apa-apa. Mas baek-baek aja kok,’’ jawab Sita dengan kemanjaannya, sebelum dengan cepat mengalihkan pembicaraan,‘’Eh, bunda….Ayah gimana? Baek-baek aja kan….Sehat kan….’’ ‘’Baek-baek…Sehat kok. Cuman biasalah…penyakit lama ayahmu itu. Prostat dan asam uratnya paling-paling datang dan pergi lagi…biasalah, Ia keras kepala seperti anak perempuan tersayangnya’’. Mendengar jawaban itu Sita hanya tersenyum. ‘’Maafkan Mas Luka ya Bunda…’’ ‘’Ah…nggak papa kok. Dia juga anak ayah dan bunda juga. Nggak ada yang salah kok. Laki-laki memang seperti itu. Paling sulit menekuk egonya, meski sebentar saja’’. Lagi-lagi, Sita hanya tersenyum. ‘’Sudahlah. Biarkan saja. Nanti ayah dan suamimu itu bakal baikan juga. Biarkan waktu yang akan merubuhkan ego mereka. Toh, bunda yakin, kedua orang yang paling kau cintai di dunia itu, bakal baekan juga’’. Sita hanya tersenyum, dan mulai menitikkan air mata keharuan. ‘’Kamu baek-baek saja nak….’’ ‘’Oh.., baek-baek kok bunda. Baek-baek sekali,’’ ulas Sita dengan cepat. ‘’Kamu yakin?’ ‘’Yah bunda. Kami baek-baek saja kok….’’ ‘’Suamimu juga baek-baek saja kan..?’’ ‘’Baek kok Bunda. Dan mas Luka akan selalu baik kepada Sita,‘’ jawab Sita dengan cepat, ‘’Ayah masih sare ya bunda,’’ imbuh Sita mengalihkan pembicaraan. ‘’Iya. Ayahmu kan sejak sesiang tadi hingga Magrib datang, sibuk dengan cucu-cucunya. Anak-anak mbakyumu itu…Jadi, mungkin ayahmu kecapaian….’’ Sita tersenyum. ‘’Tapi sebentar lagi, seperti biasalah, sebelum Shubuh ayahmu sudah bangun kan…’’ ‘’Bunda…Sita sayang Mas Luka’’. ‘’Lah. Bunda juga tau itu. Sejak kali pertama kau bawa masmu itu ke rumah, dan kau perkenalkan sama ayah dan bunda, bunda juga tahu kalau kau sayang sama masmu itu,’’ jawab bunda dengan sedikit keheranan. ‘’Iya. Sita juga tahu itu’’. ‘’Kamu berantem lagi sama masmu kan? Karena masalah yang kemarin itu ya?’’. ‘’Nggak sih…Cuman mungkin kita akan semakin sulit lagi untuk ketemu’’ ‘’Hush…, ngomong apa kamu itu. Sulit ketemu, sulit ketemu. Kalian kan udah pada gede-gede semua. Bicaralah terus baek-baek. Nggak ada yang nggak bisa diselesaikan dengan baek-baek. Ingat nak, apa yang bunda dulu katakan ketika mengikhlaskan pernikahan kalian kan?’’ ‘’Iya bunda. Memang Sita pernah membawa persoalan kepada bunda?’’ ‘’Nggak sih…’’ ‘’Sita hanya kangen suara bunda kok’’. ‘’Iya. Bunda juga kangen kalian berdua’’. ‘’Sungkem buat ayah ya bunda’’ ‘’Pasti nak. Kamu jaga baek-baek kesehatanmu ya. Salam juga buat masmu juga ya...’’ ‘’Iya bunda’’. ‘’Nak…..Apapun keputusan kalian berdua ayah dan bunda akan tetap menyayangi kalian berdua’’. ‘’Makasih bunda. I Love You Bunda’’. ‘’I Love You Two, Nak…eh kamu baek-baek di jalan ya, ati-ati ‘’.
VI. Anyer.
GAVIN juga telah mulai melakukan prosesi pembayaran di both pintu keluar tol, dan membelokkan mobilnya ke arah Anyer. Akhirnya, untuk kali kesekian ia kembali menekuk egonya, menghubungi Luka Luka yang tengah asyik menikmati rokok kretek di dalam mobil, dengan membiarkan jendela mobilnya terbuka, ketika mengetahui hp-nya tiba-tiba bergetar, hanya tersenyum, seolah sudah dapat menebak siapa yang menelpon. Benar, kali ini Gavin menghubungi Luka. Luka kemudian meraih hp-nya.
‘’Kau ada di sebelah mana…,’’ suara Gavin nyaring terdengar dari seberang sana. ‘’Di sebelah sini, ada sebuah tanjakan dimana sebuah baliho yang paling benderang berdiri di sebelah kiri jalan. Di depannya ada sebuah hamparan rumput hijau, dan puluhan pohon kelapa, di situlah satu-satunya mobilku yang menghadap laut berada,’’ jawab Luka. ‘’Aku bahkan tidak tahu, kenapa masih sudi mengikutimu’’. ‘’Tenang bung. Tenang. Perjalanan ini akan menyenangkan. Hasilnya kebaikan, dan endingnya kemuliaan’’. ‘’Padahal kau semakin pandai dengan segala omong kosongmu’’. ‘’Ha ha ha, tidakkah kau pernah mencoba belajar berbaik sangka?’’.
VII. Luka dan Sita.
RUMAH kontrakan Luka dan Sita yang terletak di bilangan Cibubur memang permai dan sentosa. Di rumah yang tidak seberapa luas namun tidak sempit itu, mereka menggariskan sebagian takdir hidup mereka berdua. Sebuah rumah yang pada mulanya sangat memanggil-manggil penghuninya untuk selalu pulang, dan kembali ke kehangatan pelukannya. Luka dan Sita tampak sedang merumuskan musyawarah. Di ruang makan, diantara meja yang memisahkan mereka berdua, sembari menyantap makan malam dengan iringan gerimis hujan yang mendenting genting, teritis, serambi dan halaman, Sita membuka kata.
‘’Mas harus minta maaf kepada ayah,’’ ujar Sita setelah menyunyah makanannya untuk kali kesekian, sembari melihat kepada Luka yang tampak abai dan tidak menghiraukannya. Asyik dengan makanannya yang ada dimulutnya. ‘’Sebagai anak, sudah sepantasnya mas meminta maaf kepada orang yang lebih tua,’’ imbuh Sita sembari tetap menancapkan pandangannya kepada Luka. Luka masih tetap abai, dan tak mengiraukan, malah makin lahap menyantap makanannya. ‘’Kalau mas membiarkan hal ini terlalu lama. Keadaan tidak akan pernah menjadi baik. Malah semakin tidak mengenakkan. Apa sih susahnya minta ma’af’’. ‘’Susah sekali!,’’ ujar Luka masih dengan sedikit sisa kunyahan di mulutnya. ‘’Di belahan bumi manapun, yang meminta ma’aaf adalah yang membuat kesalahan’’. ‘’Tapi ayah bermaksud baik!,’’ potong Sita dengan tak kalah sigapnya. ‘’Ayah mana yang tidak mempunyai maksud baik kepada anaknya!?’’ katanya melanjutkan. ‘’Bukan begitu cara menyampaikan maksud baik. Maksud baik harus disampaikan dengan cara yang tak kalah baiknya’’. ‘’Tapi sejatinya beliau bermaksud baik, kan….’’ ‘’Pencuri pun sejatinya mempunyai maksud baik dalam setiap aksi pencuriannya. Paling tidak untuk menghidupi anak, dan istrinya’’. ‘’Ada bahasa yang lebih santun, dan sepantasnya untuk orang tua yang telah melahirkan istrimu ini, dan notabene sekarang telah menjadi orang tuamu juga, dari sekedar membandingkannya dengan seorang maling?’’ balas Sita datar, namun dengan intonasi yang sedikit meninggi. Mendengar jawaban Sita yang agak meninggi, Luka meletakkan sendok, dan garpunya dengan pelan. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menghela nafas. Meraih air putih di gelas, meminumnya dengan tenang, dan berujar… ‘’Seharunya kau bisa bersikap sebagai seorang istri yang baik, dan adil. Bukan hanya berlaku sebagai seorang anak yang membabi buta membela kesalahan orang tuanya’’. ‘’Ayah tidak salah!’’ tegas Sita menekan jawabannya. Luka mengangkat kedua tangannya. ‘’Secara ekonomi, aku, suamimu ini, memang masih lintang pukang. Belum apa-apa, dan mungkin tidak akan pernah menjadi apa-apa. Tapi bukan berarti dengan demikian ayahmu bisa dengan seenaknya masuk ke wilayah suamimu, di luar cara kepatutan itu…’’ ‘’Kau berlebihan..’’ ‘’Aku berbicara apa yang aku rasakan’’. ‘’Tidak pernahkan kau belajar menghargai perasaan orang tua ?’’. ‘’Tidak pernahkah kau belajar menghargai perasaan suamimu?’’. ‘’Dan tidak pernahkah kau belajar menghargai perasaan istrimu, yang notabene anak dari mertuamu?’’ ‘’Seharusnya kau belajar menjadi laki-laki’’. ‘’Aku tidak akan pernah sudi belajar menjadi laki-laki yang hanya tahu menomorsatukan egonya!’’ ‘’Kalau begitu, katakan itu pada ayahmu untuk belajar menahan dirinya’’. Mendengar jawaban Luka, seketika Sita bersegera beranjak dari tempat duduknya. Menggunturkan amarah, berbicara lantang dengan intonasi tinggi, ‘’NGGAK SOPAN!’’, pekiknya dengan semakin menajamkam tombak matanya ke arah Luka, suaminya sendiri, sebelum akhirnya berniat meninggalkan meja makan.. Belum sempat Sita hendak meninggalkan meja makan, dengan sigap pula Luka menimpali. ‘’Jangan pernah meninggalkan gelanggang pembicaraan, ketika musyawarah belum diselesaikan’’. ‘’Mulutmu seperti harimau!’’ ‘’Aku tidak akan mengaum jika tidak terlalu telak diganggu’’. Masih dengan posisi berdiri. Kali ini dengan suara menggemas geram Sita meneruskan amarahnya. ‘’Ayah tidak pernah meng-gang-gu-mu sa-yang-ku!’’. ‘’Tapi beliau terlalu dalam mengoyak perasaanku’’. ‘’Kau terlalu sentimental sebagai seorang laki-laki’’. ‘’Laki-laki manapun tidak akan pernah rela jika kehormatannya didobrak, kemudian diinjak sebelum akhirnya dikoyak’’. ‘’Kau berlebihan. Ayah tidak pernah bermaksud melakukan itu’’. ‘’Tapi beliau telah melakukannya’’. ‘’Tidak tahukah kau betapa sulitnya posisiku?!,’’ ujar Sita lirih dengan intonasi suara yang kembali menurun, sembari kembali duduk di tempatnya semula. ‘’Benar kata bunda, kalian laki-laki memang sama-sama keras kepala. Tidak pernah mau belajar bagaimana caranya mengalah’’. ‘’Aku akan belajar mengalah jika keadaan memang mengharuskanku mengalah. Tapi, dalam hal ini, permasalahan tidak akan pernah selesai dengan hanya mengalah’’. Sita hanya diam beberapa saat. Menghela nafas, dan berujar,‘’Maafkan istrimu ini. Aku memang kebingungan di mana harus berpijak. Orang tuaku pahlawanku. Atau, suamiku yang sok!’’ Dengan intonasi suara yang mereda pula Luka menimpali. ‘’Kau seharusnya sudah tahu di mana berpijak, istriku’’. ‘’Tidak semudah itu…’’ ‘’Lantas?’’ ‘’Mungkin kita harus berpisah dulu untuk sementara waktu. Mendinginkan kepala masing-masing, dan kemudian menyusun kembali rencana-rencana ke depan’’. ‘’Aku memang mencintaimu. Dan aku tidak pernah meragukan itu. Dari dulu, sekarang, dan semoga hingga nanti. Namun, dalam hal ini, aku tidak akan pernah gentar jika kau ingin benar-benar meninggalkanku, hanya karena perkara ini’’. ‘’Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Hingga ada sebuah alasan yang kuat untuk melakukan itu’’. ‘’Kau kuizinkan meninggalkanku demi orang tuamu’’. ‘’Cukup! Kita akan berbicara hal lain’’. ‘’Itu lebih baik. Silakan’’. ‘’Aku jatuh cinta lagi’’.
VII. Sita dan Supir Taksi.
DI dalam sebuah mobil taksi yang masih dengan setia mengantar pencarian Sita terhadap dua laki-laki yang mengisi hatinya, Sita menyempatkan diri berbicara dari hati ke hati dengan supir taksi. Setelah menghela nafas panjang penuh kelegaan. Mengembalikan hp-nya ke dalam tas. Dan menikmati pemandangan kota Jakarta dini hari di rintik hujan yang tidak seberapa.
‘’Bapak masih di sana?’’ ujar Sita kepada supir taksi. ‘’Masih mbak. Sekarang kita ke mana mbak? Nyari kafe lain atau ke mana lagi?’’ ‘’Mungkin kita lebih baik pulang saja pak’’. Dengan nada mengejek pak supir taksi berbicara, ‘’Katanya ke mana pun asal tidak berpikir untuk pulang?’’. Dengan hanya memulas senyum Sita menjawab, ‘’Kita ke Cibubur ya pak’’. ‘’Baik mbak’’. Untuk beberapa jenak tidak ada pembicaraan antara Sita dan supir taksi. Diam. Yang berbicara, hening. Taksi mulai melaju dengan kecepatan rata-rata ke arah Gatot Subroto, sebelum masul tol dalam kota nuju Cibubur. Hingga akhirnya Sita membuka pembicaraan. ‘’Apa yang akan Bapak lakukan sebagai seorang suami, jika istri Bapak kebingungan menempatkan diri, karena suaminya berseteru dengan Ayahnya?’’ ‘’Waduh, Saya takut menjawabnya, mbak. Mertua saya sudah lama mati, bahkan jauh hari sebelum saya menikahi istri saya, mbak’’. ‘’Katakanlah Bapak sedang bersitegang dengan orang-orang yang dicintai, dan mencintai istri Bapak. Dan istri Bapak kebingungan menempatkan diri. Apa yang akan Bapak lakukan?’’ ‘’Mbak pasti sedang bingung karena suami mbak berperkara dengan Ayah mbak, kan?’’ ‘’Bapak tahu ya?’’ ‘’Saya mencuri dengar pembicaraan mbak dari tadi. Ma’af mbak’’. Sita tidak membalas kecuali hanya tersenyum. ‘’Itu biasa mbak. Nggak ada yang luar biasa. Nanti juga reda dengan sendirinya. Nggak ada yang baru jika mertua berperkara dengan mantunya. Itu biasa mbak’’. ‘’Kok gitu?’’ ‘’Laki-laki itu sederhana mbak. Pokoknya jangan saling memasuki dan menggangu area terdalam dalam kehidupannya. Selama hal itu terjaga, ia akan baik-baik saja’’. ‘’Gitu ya pak?’’ ‘’Nggak juga sih’’. ‘’Gimana sih Bapak ini. Kok ngomongnya berubah-ubah’’. ‘’Kalau mbak pikir hanya perempuan mahkluk yang komplek, itu keliru. Laki-laki itu juga sama saja kok mbak. Kalau perempuan bisa seperti bunga sekaligus kimia, laki-laki juga bisa seperti fisika. Artinya, pada saat yang bersamaan ia bisa menjadi orang paling dewasa, sekaligus paling anak-anak’’. ‘’Gitu ya pak?’’ ‘’Nggak juga sih. Tergantung orangnya juga. Karena ada juga laki-laki yang mendekati impian semua wanita. Ia nyaris mampu berprasangka baek dengan masalah apapun. Sekaligus mampu menghadapi semua masalah dengan sama baiknya. Sebaik ketika ia menghadapi kesenangan, mbak’’. Sita tampak semakin takzim menekuni setiap detail pembicaraan supir taksi. ‘’Sederhananya begini mbak. Dia baek bukan hanya pada saat kenyang. Tapi juga baek pada saat lapar. Ah, saya ini ngomong apa. Nggak keruan. Orang supir taksi kok mengkotbahi orang berpendidikan seperti mbak. Maafkan saya mbak’’. ‘’Ah, nggak kok Pak. Saya, atau siapa pun yang sekolah sampai puluhan tahun, hingga luar Negeri sekalipun, nggak ngejamin tahu tentang hidup kan, Pak’’. ‘’Iya sih. Tapi mbak nggak kelihatan seperti orang bodoh kok’’. Sita hanya tersenyum. ‘’Berapa putra-putri Bapak?’’ ‘’Anak saya tujuh dari tiga istri yang berbeda’’. ‘’Ha!’’ ‘’Iya mbak. Saya menikah tiga kali. Tapi saya tetap berusaha untuk belajar bahagia dalam setiap pernikahan saya. Meski tentu saja, awal perpisahan dengan mantan istri saya pasti berat, menyesakkan, dan menyedihkan. Tapi saya pikir itu wajar kan mbak. Manusiawi’’. Masih dengan keheranan Sita melontarkan pertanyaannya. ‘’Jadi istri Bapak sekarang ada berapa?’’ ‘’Yah satu lah mbak! Dari dulu juga satu’’. ‘’O, kirain….’’ ‘’Uang dari mana saya mampu menghidupi tiga istri sekaligus. Sementara pekerjaan saya hanya sebagai supir taksi. Itupun, istri saya yang sekarang mempunyai sambilan membuka toko kelontong di rumah, mbak’’. ‘’Bapak hebat ya’’. ‘’Wah, mbak ini terlalu mengada-ngada. Masak supir taksi hebat. Mbak, kalau mbak mau sedikit berpikir adil, suami mbak yang mbak cari tapi nggak ketemu-ketemu sampai sekarang ini, pasti mempunyai kehebatan juga’’. ‘’Iya sih’’. ‘’Sebenarnya kalau hanya perselisihan dengan mertua, itu hal yang sangat wajar sekali mbak. Pasti ada masalah lain yang lebih pelik, dan berat dari sekedar ribut dengan mertua’’. ‘’Saya jatuh cinta lagi, pak?’’
VIII. Another Luka dan Gavin.
Anyer, 03.30. WIB. GAVIN yang tadi sempat memutuskan pembicaraannya dengan Luka, akhirnya telah sampai juga ke Anyer. Masih dalam belaian gerimis yang menggigilkan hatinya, Gavin telah menemukan mobil Luka, dan menyusulkan mobilnya untuk parkir berdampingan dengan mobil ‘seterunya’. Mengetahui Luka telah turun dari mobil dengan sebatang rokok yang masih mengepul di mulutnya, dan duduk mematungi selat Sunda di atas kap mobil yang beku, tanpa mendulikan gerimis, Gavin memutuskan melakukan hal yang sama. Duduk di atas kap mobil, mengabaikan gerimis dengan jaket kulitnya, plus topi melindungi kepala .
‘’Ini juga salah satu tempat favorit kalian dulu?,’’ ujar Gavin, setelah menganggukkan kepala kepada Luka. ‘’Ya. Memandangi kedebur ombak dan menyimak hembusan angin. Sembari berbicara tentang segala hal’’. ‘’Ternyata kau sentimental’’. ‘’Hanya dalam beberapa hal’’. ‘’Aku merasa aneh dengan apa yang kita lakukan sekarang’’. ‘’Apa yang aneh? Aku tetap memperlakukanmu dengan baik dan benar. Meski kau masih merasakan sebuah keganjilan. Ayolah, tidak ada yang aneh dengan kebersamaan kita. Tidak ada yang baru di bawah matahari’’. ‘’Sebagaimana tidak ada yang aneh dan baru dengan hubunganku dengan istrimu’’. Mendengar jawaban itu, Luka hanya memalingkan wajah ke arah Gavin, dan mengangkat pundaknya. ‘’Betapa tidak anehnya. Kali pertama kau menelponku, kemudian menawarkan sebuah pertemuan, dalam benakku muncul pertanyaan, pasti akan menjadi sebuah perbincangan yang ganjil. Tapi nyatanya. Meski pada awalnya aku sempat merasakan kekikuan itu. Toh, semua malah berjalan dengan linear. Tapi entah kenapa, sekarang aku masih merasakan sebuah keganjilan,’’ lanjut Gavin. ‘’Paling tidak aku tidak berniat sekali pun membuat suasana ini menjadi ganjil. Aku hanya ingin menemukan sebuah jawab atas apa yang menimpaku. Dan itu kau akui atau tidak, berhubungan dengan keberadaanmu. Kalau ini semua menjadi sebuah keganjilan, mari kita urai bersama. Sehingga semuanya, semoga, menjadi lebih ternalarkan’’. ‘’Kau semakin bertele-tele’’. ‘’Padahal aku telah berusaha membuatnya sesederhana mungkin’’. ‘’Apa yang akan kau lakukan setelah kau mendapatkan kepuasan dari apa yang kita bicarakan?’’. ‘’Paling tidak, aku tahu ke mana akan melangkah dan mengambil sikap’’. ‘’Kau sudah tahu sikap yang diambil istrimu?’’ ‘’Ya. Dia bersikukuh ingin meninggalkanku’’. ‘’Dan kau masih saja tidak terima itu?’’. ‘’Entahlah’’. ‘’Ini juga bukan hal mudah buatku. Seperti yang pernah aku katakan kepadamu. Semua terjadi dengan sendirinya. Pada mulanya aku juga berpikiran tidak akan sudi membangun sebuah kebahagiaan di atas puing orang lain. Tapi, semakin aku berusaha melupakan istrimu, semakin tak mungkin rasanya’’. Gavin menarik nafas panjang. ‘’Bahkan aku pun pernah berusaha untuk tidak melanjutkan hubungan ini. Hal yang sama juga pernah ditempuh oleh istrimu. Ini bahkan juga tidak mengenakkan bagi kami berdua. Kalau pun toh akhirnya jadi semacam ini… Aku juga tidak tahu dimana harus merunutnya’’. ‘’Kau percaya dengan jodoh?’’ ‘’Entahlah?’’ ‘’Mungkin istriku bukan jodohku lagi. Atau mungkin hanya sampai di sini perjodohanku dengannya?’’. ‘’Aku juga tidak akan pernah mengerti dengan perjalanan hidupku sendiri. Bahkan sampai sekarang ini. Bagaimana mungkin aku dapat berbicara dengan baik, bahkan cenderung baik sekali dengan suami, dari seorang istri yang menjalin hubungan asmara denganku? Aneh. Dan yang lebih aneh lagi, kau berbicara seolah semua bisa diselesaikan hanya lewat sebuah musyawarah. Gila’’. ‘’Aku juga nggak ngerti dengan diriku sendiri’’. ‘’Diam-diam aku kagum padamu’’.‘’Sekarang gantian kau yang mengejekku’’. ‘’Itu yang kurasakan’’. Untuk beberapa lama, mereka hanya diam saja, memandangi deburan ombak yang tidak seberapa. Mematung dermaga, berbicara dalam hiruk pikuk diam. Diam yang memekakkan. ‘’Aku juga tidak mengerti, setelah ini apa lagi yang akan aku rasakan ketika bertemu dengan istrimu, yang sekarang telah menjadi kekasihku. Dan tidak berapa lama lagi ia, jika keadaan mendukungku, akan menjadi istriku,’’ ujar Gavin membuka kata, ‘’Aku bahkan tiba-tiba gentar membayangkannya’’. ‘’Itu yang kurasakan ketika aku, atau kami tepatnya, akan memutuskan berpisah. Aku juga gentar. Aku sempat nggak yakin apakah mampu melewati keseharian dengan kesendirian. Kesepian itu memang tidak terbayangkan,’’ balas Luka datar. ‘’Ah, paling tidak istriku akan kau nikahi…., meski aku bahkan tidak mengerti dengan jalan pikiranku sendiri. Bagaimana mungkin seorang suami membiarkan begitu saja istrinya hendak meninggalkannya, dan mau menikah dengan orang lain dengan sepengetahuannya?’’. ‘’Kau pasti teramat sangat membenci istrimu. Dan diriku tentu saja’’. ‘’Pada awalnya ya. Tapi pelan-pelan. Toh aku mampu menghilangkannya. Mungkin ini sebagian dari garis nasibku. Kau percaya nasib?’’ Gavin tidak menjawab. Diam saja. ‘’Kau tidak percaya rupanya…?’’ ‘’Percaya nggak percaya. Aku lebih percaya pada hukum sebab dan akibat’’. Luka hanya mengangguk pelan. ‘’Tapi paling tidak kau percaya Tuhan bukan?’’. ‘’Memang. Rasanya hampir mustahil untuk percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Penyayang, jika pada saat yang bersamaan hidup penuh dengan marabahaya, dan penuh ketidakpastian. Untuk itulah dalam banyak hal aku memberontak terhadap takdir yang kejam, dan membuktikan kepadanya, bahwa aku dapat hidup dalam segala lingkungan, dalam keadaan yang paling mustahil sekalipun’’. ‘’Untuk alasan itu pulalah kau bersikeras untuk berbahtera dengan istriku, dengan segala resikonya’’. ‘’Ya. Dengan segala resikonya. Kau pasti sangat tahu hukum hidup. Semua pilihan ada resikonya. Aku akan mengambil resiko ini’’. ‘’Kesungguhanmu inilah yang mungkin membuat istriku juga memberanikan diri hidup denganmu’’. ‘’Ada penjelasan yang lebih sederhana dari ini?’’ ‘’Kau mempunyai tekad untuk menantang hidup dengan segala konsekwensinya, dan inilah yang semakin membuat nyaman istriku’’. ‘’Kenapa sekarang kau bisa begitu datar menyikapi semua ini?’’. ‘’Aku lelah berseteru dengan istriku. Aku lelah bersilang sengkarut dengan semua permasalahan rumah tanggaku. Mungkin lebih baik aku sendiri. Dan berpikir ulang, ada apa dengan semuanya ini. Toh, aku harus tetap belajar dengan apa yang terjadi di mukaku.’’ ‘’Aku akan belajar banyak darimu’’. ‘’Aku juga akan lebih banyak belajar darimu’’. Setelah sama-sama terdiam. Luka membalikkan badan, kembali ke arah mobilnya untuk mengambil sejumlah minuman kaleng dari Cold Box yang tersimpan di bagasi, serta dua buah kursi lipat kecil. Sembari membopong kursi, Luka melontarkan kepada Gavin minuman kalengnya. Gavin dengan sigap menangkapnya. Bir Hitam. Gavin membuka tutupnya sebagaimana yang dilakukan Luka. Dia bersegera menenggaknya. Sementara Luka mempersiapkan dua kursi lipat, sebelum akhirnya menyilakan duduk Gavin yang masih asyik dengan tenggakannya. Kini mereka sudah duduk, memandangi lautan, dengan sebotol bir di tangan masing-masing. ‘’Setelah ini semua berlalu. Apa yang akan kau lakukan,’’ ujar Gavin kepada laut. ‘’Mungkin aku akan pergi ke Budapest’’. ‘’Ada kenangan dari kota itu?’’ ‘’Nggak ada. Aku hanya ingin ke sana saja. Dari sana aku bisa berkereta ke Paris, dan pokoknya keliling saja. Atau aku bisa bermobil seorang diri menuju Sumba atau Pulau Komodo, setelah itu kembali lagi menyusuri Sumbawa Besar, Lombok, Bali dan melewati jalur Selatan Pulau Jawa untuk kembali lagi ke Jakarta’’. ‘’Istrimu pernah cerita tentang perjalananmu yang paling berkesan selama pergi ke Moskwa’’. ‘’Kau harus ke sana suatu saat’’. Gavin hanya diam. Gavin tidak bercerita kepada Luka, bahwa ada sebuah masa dia pernah tinggal di Moskwa juga. Untuk sebuah alasan, dia tidak menceritakan bahwa sebenarnya, dia pernah sedikit mengiriskan garis hidupnya di kota itu, sebagaimana Luka. Hal inilah yang membuat berkecamuk kepala Gavin. Karena di Moskwa, dia pernah melukis hari bersama perempuan yang sangat menjunjungnya. Namanya Lara. Perihal Lara dan Moskwa, Gavin tidak bercerita kepada Luka. Dalam hal ini, dalam hal kepandaian memanajemen perasaan hati, Gavin bisa jadi lebih matang dari Luka. Yang berkecenderungan menceritakan apa yang dirasakan. Tentu saja kepada orang yang dia anggap layak dia ceritakan tentang kediriaanya. Kalau saja, Luka cukup tahu dapat membaca keadaan Gavin, jika ia juga pernah bersilangan nasib di kota itu, niscaya pembicaraan pasti akan lain. Bisa jadi lebih berwarna, bisa jadi malah sengkarut jadinya. Hal yang sama sebenarnya pernah terjadi di benak Sita, ketika kali pertama mengenal Gavin, dan ketika mengetahui Gavin juga pernah tinggal di kota dimana dulu suaminya juga pernah menapakinya, sedikit banyak Sita tidak habis pikir. Tapi, Sita bukan perempuan bodoh yang mudah terlena begitu saja pada sebuah bangunan kebetulan. Dia sangat tahu dengan apa yang dia lakukan… ‘’Kau tidak suka berpergian, dan perjalanan rupanya?’’. Gavin terkesiap dari diamnya, ‘’Aku lebih suka berkebun,’’ jawabnya cepat, secepat dia menata dirinya.. ‘’Aaaa. Kau pasti mencintai bunga’’. ‘’Bahkan aku tahu ketika mereka sedang berbicara satu sama lain. Suatu saat kau harus berkebun’’. ‘’Ya, ya. Pasti. Aku akan berkebun,’’ ujar Luka lugas. ‘’Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat bunga yang sedang mekar di pagi hari sembari mendengar alunan musik klasik dari sebuah sound system. Mungkin nuansanya setara dengan kekidmatan ketika kau melakukan perjalanan jauh ke negeri orang’’. Kali ini gantian Luka yang hanya mengangguk. ‘’Istrimu juga bilang kalau kau lumayan getol dengan musik klasik. Jadi kau pasti akan suka juga berkebun’’. ‘’Suatu saat aku pasti mencobanya’’. ‘’Suatu saat mungkin aku juga akan pergi ke Moskwa. Atau menjelajahi pulau Jawa, Bali, Lombok dan Nusa Tenggara, sebagaimana yang kau lakukan. Siapa tahu aku menemukan bebungaan baru yang belum pernah aku lihat’’. Selanjutnya, untuk kali kesekian mereka berdua hanya membisu. Menikmati hembusan angin. Tanpa ada yang berbicara. Setelah beberapa lama, Luka beringsut menuju mobilnya, menyalakan tape-nya, kemudian mengalunlah orkestra dari dalam mobilnya, lirih; Con te Partiro, Andrea Bocelli. Setelah itu, dia kembali ke tempat duduknya, dan kembali membuka pembicaraan. ‘’Apa yang kau harapkan dari hidupmu?’’ ‘’Membangun sebuah rumah tangga, beranak pinak, mengasuhnya, menyaksikan mereka tumbuh dewasa, dan aku akan mati dengan lebih dari bahagia. Hanya itu, tidak lebih’’. ‘’Dulu aku juga berpikiran seperti itu. Lebih tepatnya kami dulu juga berpikiran seperti itu’’. ‘’Lantas’’. ‘’Dalam banyak perkara keinginan tidak berbanding lurus dengan kenyataan’’. ‘’Barangkali kau tidak cukup mempunyai kebulatan tekad untuk mewujudkan keinginanmu’’. ‘’Ya, barangkali memang semacam itu. Atau memang nasib tidak terlalu akrab, dan baik kepadaku’’. ‘’Aku juga turut prihatin atas kehilangan kalian pada…,’’ ujar Gavin tanpa melanjutkan kalimatnya. ‘’Istriku juga pernah cerita kalau dia juga pernah miscarriage?’’ ujar Luka seorang tak percaya.. ‘’Maafkan aku’’. ‘’Apakah dia juga pernah bercerita di mana tempat-tempat favoritnya bercinta?’’ Sembari mengangkat tangannya, Gavin yang merasa tidak enak hati segera meralat pembicaraannya. ‘’Ah, kau terlalu berlebihan’’. Dengan menengadahkan muka ke langit, dan membentangkan tangan ke angkasa Luka berseloroh, ‘’Ya, Tuhan…Betapa telah sedemikian dalam hubungan mereka berdua. Dan Kau membiarkan saja’’. ‘’Tetap ada dan masih banyak yang ia simpan untuk dirinya sendiri perihal personamu. Di atas semua itu, tidak ada yang lebih membuatnya bersyukur menjalani hidupnya, melewatkan sebagian dari nasibnya bersamamu. Bahkan sampai sekarang dia kerap bertanya pada dirinya sendiri; apakah aku akan sehebat dirimu. Apakah aku cukup tangguh setangguh dirimu. Kadang dia juga meragukan keyakinannya sendiri, apakah aku cukup mempunyai kekuatan untuk memayunginya dari segala persolan kehidupan. Sebagaimana kau telah melindungi dirinya selama ini’’. ‘’Inilah yang membuatku sedih. Meski aku juga sangat tahu, dia dapat memayungi dirinya sendiri, tanpa butuh sandaran dan lindungan dari laki-laki mana pun. Dia cukup mempunyai kekuatan untuk menjalani hidup ini seorang diri’’. ‘’Itulah hebatnya istrimu. Aku kadang juga tidak yakin apakah mampu mensejajari kekuatannya, sebagaimana dirimu. Yang menurutnya justru mampu dan sangat mampu sekali memayunginya, mengayominya. Aku juga takut, jangan-jangan aku tidak lebih dari sebuah pelampiasan betapa dia ingin membuktikan diri dapat hidup tanpamu’’. ‘’Dia tidak sejahat itu, tuan‘’. ‘’Justru itulah. Justru karena kebaikannyalah aku sering merasa tidak yakin akan mampu mengimbanginya’’. ‘’Perempuan satu ini memang luar biasa’’. ‘’Sebenarnya kalian berdua adalah pasangan yang luar biasa’’. ‘’Inilah dahsyatnya hidup. Kita selalu dibuat tidak tahu dengan jalan ceritanya. Dan anehnya, kita masih saja cenderung terus berprasangka buruk dengan apa-apa yang telah diberikan kepada kita’’. Gavin yang melihat ke arah Luka yang masih mematungi lautan, menekuni keheningan, berujar lirih. ‘’Kalian memang bukan orang biasa’’. ‘’Aku bosan jadi orang biasa. Yang hanya menjalani dan menghadapi persoalan hidup yang biasa-biasa saja. Aku ingin lebih dari itu. Ah, sudahlah. Lupakan. Sudah pagi. Kita harus pergi dari sini,’’ ujar Luka sembari menengok ke arah Gavin, ‘’Kau masih sudi melanjutkan perbincangan ini, kan?! Mari kita bergeser’’. ‘’Apa lagi yang akan kita bicarakan ?’’ ‘’Apa pun. Hei, kau pasti tahu. Semua orang juga tahu. Betapa pun kuatnya seseorang, independennya seseorang, bahkan yang paling mandiri sekalipun, tetap membutuhkan orang lain untuk dicintai dan mencintainya, kan’’. ‘’Aku rasa tidak terlalu sulit untuk orang seperti kamu menemukan orang yang kau cintai dan mencitaimu’’. ‘’Dalam banyak perkara harapan sering berbanding terbalik dengan kenyataan, tuan’’. ‘’Kau selalu mengulang-ngulang kalimat itu. Yakinlah, kenyataan pasti akan berpihak di sisimu. Semua orang berhak untuk menang. Aku yakin itu,’’ balas Gavin membesarkan hati Luka. ‘’Kau mencoba membesarkan hatiku?’’. ‘’Hatimu cukup besar untuk menjadi sempit hanya karena masalah seperti ini, bukan?’’. ‘’Kau mengejekku lagi,’’ balas Luka sembari terkekeh, ‘’Ha ha ha, kau paling pandai menelikung perasaan orang lain’’. ‘’Aku berbicara apa adanya’’. ‘’Sudah berapa banyak perempuan yang terbuai oleh kepintaranmu?’’. Gavin hanya menarik nafas. ‘’Sudah terlalu banyak perempuan yang lebih pinter dari kita,’’ balas Gavin. ‘’Ya, dapatkah kau bayangkan konfigurasi antara kecantikan, kepandaian, manners, dan kemampuan finansial?’’ ‘’Kau gemar juga membaca majalah wanita rupanya’’. Luka tertawa. Sebelum pada akhrinya Gavin melanjutkan. ‘’Hei, apa yang terjadi jika kau yang jatuh hati terlebih dahulu dengan perempuan lain. Atau apa bedanya, kau yang jatuh hati, atau istrimu yang jatuh hati terlebih dulu dengan orang lain. Kalau ini hanya masalah waktu belaka’’. ‘’Apakah kau mampu berbicara selancar ini, jika hal ini terjadi padamu?’’ ‘’Aku yakin. Aku adalah cinta terakhir istrimu’’. ‘’Anak muda memang harus yakin dengan segala keomongkosongannya. Dan perempuan, mereka adalah makhluk yang paling sangat bisa menikmati kegombalan’’. ‘’Inilah bedanya aku dan kamu. Aku berbicara karena aku meyakini hari depanku. Sedangkan kau….’’ ‘’Suatu saat kau akan belajar, dan dipaksa harus belajar bagaimana caranya menginjakkan kaki dibumi’’. ‘’Kau keliru. Kau pikir hanya dirimu yang pernah ditinggalkan? Kau pikir hanya dirimu yang pernah menanggungkan kesepian dengan segala ketidakenakannya? Aku mungkin belum pernah melewati apa yang pernah kau lewati. Tapi bukan berarti aku tidak lebih akrab dengan kehilangan, dan segala penderitaannya. Hal inilah yang membuatku tidak gentar dengan penderitaan macam apa pun, yang akan datang menghadangku. Meski perempuan yang paling aku sayangi sekalipun, suatu saat nanti akan meninggalkanku. Sebagaimana yang kau alami sekarang’’. Mendengar jawaban Gavin, Luka diam saja. Mengetahui Luka diam saja, Gavin menyapanya, ‘’Kau baek-baek saja?’’ ‘’Baek. Baek sekali’’. ‘’Kamu sok baek,’’ tukas Gavin nyinyir. ‘’Kami memang sering berselisih paham dan bertengkar. Tapi pertengkaran kami atas nama cinta…,’’ balas Luka ogah-ogahan. ‘’Makan itu cinta!’’. Maka meledaklah tawa Luka, ‘’Huaa ha ha…’’
Setelah merasa menemukan ketenangan dari sebuah pembicaraan, maka berbenahlah mereka berdua. Gavin berinisiatif membenahi kursi lipat kecil dan membawanya ke bagasi Luka. Sementara Luka membuka bagasi, sebelum kemudian menutupnya. Hingga akhirnya mereka telah memasuki mobil masing-masing. Di dalam mobil, setelah sebelumnya memanaskan mesinnya beberapa saat, Luka, lagi-lagi hanya mendiamkan dirinya. Sebelum akhirnya mengarahkan laju mobilnya beringsut dari tepian Anyer. Gavin masih bersetia mengikutinya. Sementara pagi pelan-pelan semakin menjadi. Surya mulai mengintip di timur sana, santun. Di mobilnya, Gavin pun diam saja. Hanya musik mengalun pelan-pelan sekali. Dua anak manusia itu tampaknya menemukan percakapan dalam diam. Mobil masing-masing beriringan menuju Jakarta. Matahari menyinari….
IX. Another Luka dan Sita.
DI DALAM rumah kontrakan, Sita dengan ngilu memandangi semua photo yang terpampang, terpacak dan berlagak di setiap sudut ruangan. Dia seperti sedang berbicara pada diri sendiri. Pada kegundahannya, pada kebingungannya, pada lamunannya;
‘’Hanya seperti ini akhirnya. Semua serba tidak terbaca. Meski aku sudah berusaha untuk meraba.
Kau pasti tahu, betapa aku telah berusaha untuk menjaga hati, dan perasaan ini. Tapi nyatanya Memang hanya sampai di sini kemampuanku.
Aku tahu kau pasti juga lelah. Dan mungkin lebih lelah dariku. Maafkan aku.
Kita memang bukan kanak-kanak lagi. Aku juga tidak rela kalau keseharianmu hanya cenderung kau isi dengan kenestapaan. Kau pasti tahu sekali apa maksudku.
Ternyata, masing-masing dari kita tidak seperti yang kita bayangkan, dulu. Meski dulu kecocokan juga yang membulatkan kita untuk memberanikan diri pergi ke rumah pernikahan.
Siapa yang sanggup menjamin kelanggengan masa depan?
Aku juga tahu, dan sangat tahu sekali. Setelah dengan penuh kesadaran berjalan tanpamu, aku juga tidak yakin akan menemukan kebahagian sebagaimana yang pernah, dan telah kau berikan padaku. Tapi inilah hidup. Aku memutuskan untuk memberanikan diri menempuhnya; Apapun bayarannya.
Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih untuk keberadaanmu. Terima kasih untuk kesejarahanmu. Terimakasih untuk semua nasib baik dan buruk yang pernah dilukis bersama.
Mungkin hanya surga yang mampu membalasnya. Maafkan aku.
Kekasihku… Mengapa selalu menjadi masalah bila yang jatuh cinta perempuan. Sedangkan jika laki-laki yang mengalami, semuanya menjadi lumrah’’.
Demikianlah Sita menarasikan keinginannya. Bersamaan dengan usainya dia menarasikan apa yang ada di benaknya, sebagaimana Luka, kenangan-kenangan kembali ke masa bahagia, ketika ia dan suaminya melangsungkan pernikahan, kembali menemuinya. Semua orang tua tertawa. Semua saudara bercanda. Ayah ibu gembira. Air mata keharuan menghiasi paras-paras merona. Kawan-kawan pun bersuka cita. Adakah yang tidak berbahagia, ketika dua anak manusia saling mencinta, mencita, dan mendamba memantapkan mahligai mereka di pelaminan? Tapi sayang, aku dan almarhum Bianca tidak ada pada perhelatan mereka pada waktu itu. Dalam hal ini aku tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Luka. Pernikahan yang indah memang cenderung membayang, sebagaimana Sita membayangkan masa indah itu. Siapa yang mampu membunuh ingatan? Pada halaman terbuka sebuah rumah yang lapang, pada sebuah siang yang benderang. Resepsi pernikahan Sita dan Luka diselenggarakan dengan cara bersahaja, di selasar rumah orang tua Sita. Sanak saudara, handai taulan, kerabat, dan kawan dekat berdiri menikmati sajian yang ada. Anak-anak, putra dari paman dan bibi berlarian kian kemari meramaikan suasana. Di pojok sana, sekelompok grup musik keroncong rock modern, mendendangkan tembang-tembang pop yang akrab di telinga. Luka hanya mengenakan hem putih tanpa dasi, yang dipadukan dengan jas dan patalon hitam hitam kegemarannya. Dia dikelilingi kawan-kawan dekatnya. Kepada kawan-kawannya Luka bercengkrama. ‘’Kapan kau menyusul,’’ tanyanya. ‘’Tenang, aku pasti akan menyusulmu di tikungan terakhir, bahkan bukan tidak mungkin, overlapping,’’ jawab kawan 1. Mendengar guyonan kawan 1, Luka dan kawan lainnya tertawa. ‘’Berapa banyak momongan yang kalian idamkan?,’’ tanya kawan 2 kepada Luka. ‘’Lima pasti fantastis!’’ tukas Luka tandas. ‘’Serakah kamu. Emang gampang membesarkan lima anak dengan cara yang baik, dan sepatutnya,’’ kejar kawan 3. ‘’Kalian akan ikut bertanggung,’’ jawab Luka sekenanya. ‘’Asal kami juga dilibatkan dalam proses pembuatannya!’’ tangkas kawan 4 sekenanya. Dan mereka semua, menderaikan tawa. Adakah yang lebih mudah, sederhana, dan menggembirakan selain menderai tawa atas nama kebahagiaan seorang kawan? Sebagaimana Luka yang bercengkrama dengan kawan lelakinya, Sita melakukan hal yang sama. Tak kalah gencarnya, kawan Sita juga tidak kalah nakalnya mencecarnya dengan berpuluh canda. ‘’Posisi apa yang kalian gemari?’’ pancing kawan 1 sekenanya. ‘’Ada deh….,’’ jawab Sita tak kalah ngawurnya. ‘’Hari gini kok menikah sih…,’’ tanya kawan 2 menyelidik. ‘’Siapa bilang kami nikah. Kami maen-maen kok,’’ jawab Sita tak kalah isengnya. Mereka semua hanya tersenyum kecil. ‘’Aku sudah lama mendamba menjadi seorang ibu. Selamet ya Ta,’’ ungkap kawan 3 apresiatif. ‘’Makasih…,’’ balas Sita memulas senyum.
X. Harga Sebuah Kenangan.
Jakarta, pagi hari, WIB. DI dalam rumah kontrakan, Sita tampak pulas dengan kesepiannya. Dia duduk tercenung di ruang makan. Sendirian menekuri nuansa dan aura meja makan. Mengenangkan segala ihwal yang berkenaan dengan masa silam. Tentang dirinya dan Luka yang sedang rukun memasak bersama di ruang dapur yang menjadi satu dengan ruang meja makan. Masak apa saja, dari tempe bacem, dan sambel goreng pete kegemaran mereka berdua, sampai nasi liwet sayur terong plus teri, dan ikan asin. Penuh tawa, penuh kegembiraan. Mereka berdua melakukan prosesi masak-memasak dengan penuh keriangan. Sebelum pada akhirnya menyajikannya di atas meja makan. Pada kenangan lain, Sita menerawangkan tentang nuansa garasi rumah yang mempunyai kisahnya sendiri. Kisah tentang Luka yang sibuk membenahi mobil sedan Hyundai 95-nya; Lazuardi Luka-Mu Abadi. Kap mobil terbuka, dan Luka sedang menuangkan oli mesin baru, setelah sebelumnya menguras bersih oli lamanya. Sedangkan Sita, tiga langkah dari Luka, sibuk membaca Norwegian Wood; Haruki Murayami, di atas dipan santai, merebahkan seluruh tubuhnya. Sembari sesekali menengok kepada suaminya tercinta. Dalam hitungan jenak, Luka melakukan hal yang sama. Saling menengok, mengadu mata, menebak-nebak apa yang ada di benak masing-masing. Tanpa saling mengucap kata. Moment of silent. Sayang, sekarang garasi tidak semeriah dulu, hampa, sehampa pikiran Sita. Namanya juga ruang keluarga, meski sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan ruang keluarga, kecuali menjadi pusat pasangan suami istri bercengkrama, Sita juga mencoba kembali menyusun puzzle raksasa kenangannya. Dalam benak Sita, bayangan Luka dan dirinya terpacak jelas kala sedang heboh bermain play station di depan tv. Sesekali mereka saling memekik, bersijingkat, memukul lantai, saling melempar bantal ke muka seterunya. Seru, kadang dipenuhi gelak, sekaligus penuh kasih sayang. Ngangeni. Tapi itu masa lalu, siapa yang sanggup berunding dengan waktu? Yang tampak sekarang di depannya adalah ruang keluarga yang kaku, beku, dan mengasingkan. Menawarkan kehampaan di setiap matanya menekuni setiap jengkal ruangan. Perangkat tv dan play station seperti batu di tempatnya masing-masing. Bantal tertata rapi di depannya. DVD dan kaset games bersebelahan terkoordinasi, resik. Semua hampa, tanpa rasa, tanpa nyawa, suwung. Pelan Sita memutar langkah menuju dak atas rumah yang bersebelahan dengan genting rumah tetangga. Biasanya, jika dia berada di sana, Sita sedang sibuk menjemur pakaian yang baru dicucinya dari mesin cuci. Sementara Luka sibuk menari Jawa empat langkah di sampingnya. Luka hanya mengenakan celana panjang olah raga, dan membiarkan telanjang dadanya. Sesekali tarian Jawa alusan berubah menjadi gerak meditative layaknya gerakan Tai Chi. Dengan latar belakang jemuran tempat istrinya melakukan aktifitas kewanitaannya, Luka terus menari sembari sesekali beruluk senyum dengan istrinya. Dan sekarang, yang didapatinya tak lain hanya dak yang sepi dan mati. Sita hanya terpaku. Mematung batu menekuni matahari pagi, sembari sesekali menilik jemuran yang kosong melompong, berpisah dengan pakaiannya. Demikian halnya loka tempat Luka biasanya menari jawa alusan yang dipadukan dengan gerakan meditative Tai Chi, kosong, hampa, suwung. Puas di atas dak rumah, Sita menggeser diri menuruni tangga ke arah kamar mandi. Mengenangkan diri ketika dia sedang berada di dalam kamar mandi, sementara Luka menunggu penuh kegelisahan dan keingintahuan di pintu luar kamar mandi. Ketika tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, seketika itu juga, dalam hitungan detik, Sita melompat penuh kegirangan kepelukan suaminya. Positif, Sita menunjukkan test pack kehamilan di tangannya dengan penuh suka cita kepada Luka. Ya, mereka berdua sedang merayakan kehamilan dan berdiamnya janin buah cinta mereka di rahim Sita. Saking gembiranya mereka, Luka membopong istrinya ke segala arah rumah kontrakan mereka. Mereka menangis tertawa. Penuh suka cita, mengabaikan semua yang ada. Sampai di sini, masih di depan pintu kamar mandi, akhirnya Sita tak kuasa lagi membendung air matanya. Tetesan air mata itu menyungai di ranum pipi halusnya. Isaknya mulai terdengar satu dua. Namun, Sita berusaha untuk tetap tegar mengenangkan segala kebahagiaan dengan suaminya. Sembari menyandarkan semua beban tubuhnya di tembok, depan kamar mandi. Dengan tenaga yang tersisa, Sita membelokkan langkah untuk terus memberanikan diri membayar semua kenangan dengan air mata. Kali ini, giliran kamar tidur, tempat segala hasrat, impian, amarah, ancangan-ancangan dan candaan paling kerap diidamkan. Tampak Luka asyik masyuk dengan buku bacaannya; Perang Eropa, P.K . Ojong. Dengan menyandarkan sebagian badannya di sandaran tempat tidur, sementara paha Luka menjadi landasan kepala Sita yang juga asyik dengan buku koleksi suaminya; An Illustrated History the Great October Socialist Revolution. Masih dengan keharuan yang tersisa, Sita lagi-lagi hanya mampu menerawangi tempat tidurnya yang tertata rapi dengan kehampaan yang tak terkira. Buku suaminya masih tertata rapi di pojok sana. Sedangkan buku-buku Sita tak kalah rapinya di sisi satunya. Ia menghela nafas panjang dan pelan. Hingga akhirnya, di luar perkiraannya, terdengar deru mesin mobil yang sudang sangat akrab sekali di telinganya. Ya, suara mobil Luka terdengar jelas dari dalam pintu kamar tidur dimana Sita berada. Sita bungah, dan bersegera menuju ke pintu masuk rumah, membuka, dan mendapati mobil suaminya sudah berada di depan rumah mereka. Demikian halnya dengan Luka, setelah sampai di depan rumah. Ia segera memasukkan mobilnya, seperti biasa ke dalam garasi. Sementara Sita mematung paku di pintu depan rumah, hanya mampu menatap suaminya dengan pandangan ngilu. Setelah turun dari mobil, Luka juga melakukan hal yang sama sebagaimana dilakukan Sita, menatap dan menangkap kesenduan istrinya. Mata mereka bertemu, mata mereka sama-sama jemu, sama-sama kaku. Dengan langkah berat, Luka menuju ke dalam rumah, melewati Sita yang masih berdiri di depan pintu. Mengabaikannya. Mata mereka memang sama-sama sembab. Sita sembab karena habis menangis, sedangkan Luka lantaran kantuk yang tertahankan. Namun, dalam hitungan detik, saat mereka bersisipan di depan pintu. Mata mereka beradu. Tanpa kata tanpa rasa. Dengan berjalan pelan, pelan sekali. Luka menuju ruang keluarga, menatap setiap photo yang terpacak di sana tanpa menyisakan perasaan apa-apa. Sekali lagi dengan mengabaikan istrinya. Padahal Sita membuntut di belakangnya, persis dua langkah di belakangnya. Tidak ada kata yang tereja dari mulut mereka berdua. Tidak juga desah, apalagi serapah. Mereka duduk berdampingan, bersebelahan, tapi jiwa mereka merenggang, berlawanan arah. Luka masih menyimak photo keluarga, dan Sita menyaksikan paras suaminya dengan takzim, dan hanif sekali. Pelan-pelan Sita memeluk dari samping tubuh suaminya terkasih. Luka membiarkannya. Diam-diam mereka menangis berdua. Saling merinaikan air mata. Sebelum pada saatnya Sita mendaratkan ciuman di kening samping Luka, dan akibatnya, Luka semakin terisak dibuatnya. Namun, lagi-lagi, dalam hitungan detik, pelan, pelan sekali, pemandangan terpeluknya Luka oleh Sita menghablur, retak, dan pecah berkeping-keping. Mereka masih di posisi masing-masing, Luka masih menyimak photo yang tepacak di setiap tempat ruang keluarga, dan Sita hanya menekuni paras suaminya. Pemandangan dipeluknya Luka oleh Sita hanya ada di benak ideal saya. Karena, bagaimanapun saya tahu masih ada cinta yang kuat diantara mereka berdua, bahkan dari cara Luka menuturkan ceritanya padaku, aku tahu dia masih menginginkan Sita untuk mengandung lagi buah hatinya. Tapi siapa yang mampu menebak ke mana arahnya hidup?
JIKA Sita memberanikan diri membayar kenangannya dengan air mata, tidak dengan Luka. Luka rupanya memutuskan untuk berhenti berpikir apalagi mengenangkan masa lalu. Meski tentu saja tidak semudah yang dia harapkan. Karena, kilatan-kilatan kegelisahannya selalu terus datang menawar-nawarkan kenangan yang sebenarnya dia larang masuk ke rumah ingatannya. Tapi, dia toh hanya manusia biasa yang tidak akan pernah bisa begitu saja lepas dari jerat masa lalunya. Apalagi menghelanya. ‘’Ya, beginilah jadinya. Kami bersebelahan tapi sangat berjauhan.
Entah siapa yang memulainya. Diriku, dirinya atau keadaan yang memaksanya. Dia yang telah membunuh cintanya, atau akulah pelakunya?.
Siapa pun itu, taman bunga yang dulu pernah saling kami jaga dan sirami, dengan segala kebaikan dan kesabaran, sudah layu adanya. Dan mati entah karena apa?
Mungkin kedewasaan kami penyebabnya. Rasionalitas kamilah pembunuh sebenarnya’’.
Selama Luka menarasikan benaknya, mereka berdua masih duduk terpekur di posisi masing-masing. Tak ubahnya patung lilin. Tak ubahnya jasad beku. Sementara di benak Sita, narasi pikirannya makin mengembara;
‘’Sejatinya aku tidak punya hati untuk membiarkan hal semacam ini sampai terjadi.
Tapi apa mampuku mengendalikan jalan hidup? Ia berjalan tidak sesuai dengan apa yang ada di benakku, dan benak suamiku.
Dia memang suami yang baik. Aku dan semua orang tidak mungkin membantah itu. Buktinya, bahtera berjalan dengan sahaja di bawah kendalinya. Dan aku nyaman dibuatnya. Bahkan aku bangga, bangga sekali pernah mengandung anaknya.
Aku memang mencintainya, dari mula hingga sekarang. Dan mungkin bahkan sampai akhirnya nanti…Tapi, aku juga tidak tahu apa yang terjadi dengan jalan hidupku ini.
Memang ganjil hidup ini’’.
Begitulah cara Luka dan Sita menyelesaikan permasalahannya. Tanpa pekikan, teriakan, serapah apalagi amarah. Mereka menyelesaikan perbedaan dengan menghadirkan bayang-bayang kebahagiaan berdua, untuk datang kembali, setelah itu menghalaunya pergi, untuk terakhir kali. Dari masa pernikahan, memasak berdua, renang berdua, membaca buku berdua, main game berdua, menjemur pakaian berdua, jogging berdua, belanja di toko buku berdua, menari berdua, dan semua keberduaan…
Demikianlah kebersamaan Luka dan Sita berakhir. |




II