MARI MENARI [Bagiab III] PDF Print E-mail
Written by Benny Benke   
Senin, 04 April 2011 20:12

III

I. Alif Ba Ta.

SIAPAKAH yang benar-benar sanggup mengeja hidup? Membacanya menjadi barisan panjang kalimat lengkap yang mampu membuat dan menuntun kesehariannya berjalan dengan tertib, rapi dan menyenangkan? Apakah agama benar-benar mampu melaksanakan tugas berat ini? Menjadi penuntun dan tuntunan bagi orang-orang yang memercayainya, sehingga hidup berjalan dengan mulia dan sentosa? Dalam beberapa hal, semua orang juga tahu, agama seolah hanya menjadi senjata ampuh untuk mengobarkan perang, atau alat pembenar persengketaan yang paling manjur untuk dijadikan pegangan merampas hak hidup orang kebanyakan. Tapi dalam keseharian, ketika peperangan belum atau usai dimaklumkan, biasanya agama akan disimpan kembali dengan manis bawah tilam.  

Atau dalam hal kecenderungan lainnya, agama hanya dijadikan busana untuk sekadar mengaktualisasikan perayaan dan upacara belaka, tidak untuk dihayati dalam keseharian, apalagi diimani.

Atau ketika musibah datang menjelang tanpa berbilang. Agama, biasanya, lagi-lagi baru ditampakkan fungsi dan perannya. Sebagai alat membesarkan hati, sekaligus permakluman, bahwa ada yang lebih digdaya di atas segala keterbatasan manusia, yaitu Tuhan, Penguasa Alam Raya. Dengan demikian, tidak ada jalan pulang yang lebih melegakan selain, berserah pasrah, luruh utuh, penuh dan tumpah untuk mengembalikan semua kepada-Nya, Sang Maha Pemula.

Tapi semudah itukah mengeja hidup di bawah tuntunan agama?

Bukankah menjadi hal yang lumrah, agama telah direduksi sedemikian rupa. Ketika seolah-olah Tuhan hanya bisa ditemui hanya oleh orang-orang beragama pada saat berdoa dan beribadah saja. Kemudian, secara tidak sadar malah menjadikan pemeluknya sendiri bermental pengemis, yang kerjanya melulu menjadi peminta-minta kepada Tuhannya, mendikte-diktekan kebutuhannya sesuai dengan keinginannya masing-masing?

Dalam tataran ini, menurut Luka, air mata, doa dan agama adalah percuma, sia-sia.

Aku, Luka, Bianca, Sita dan Gavin mungkin salah satu dari sekian banyak orang yang tidak begitu fasih mengeja hidup, apalagi membaca agama, terlebih Tuhan. Segala tuntunan yang tersurat apalagi yang tersirat dari segala aturan, norma, dogma, wahyu atau kitab tidak begitu saja bisa membuat kami benar-benar mampu mengeja jalan hidup. Apalagi dengan fasih membacanya. Sehingga, sebagaimana yang kami alami selama ini, malah sangat-sangat lintang pukang dibuatnya.

Almarhum Bianca mempunyai nasihat yang lumayan bagus ketika aku mengeluhkan apa yang aku rasakan, ketika menit-menit terakhir menjelang maut meminangnya. ‘’U can’t win em all,’’ ujarnya lirih di telingaku, dan beberapa jenak kemudian lengkung maut memang benar-benar mematuknya. Di pelukanku, matahari itu meredup dan benar-benar harus mengakui kekalahannya bertarung dengan el-maut. Apakah agama mampu memenangkan kita saat bertawar-tawaran dengan maut?

KAMI; aku dan Luka lebih banyak melewatkan hidup setelah kesendirian kami dengan cara masing-masing. Luka lebih suka menenggelamkan diri dalam kesibukannya sebagai pewarta. Setali tiga uang dengannya, aku pun menyuntukkan diri dalam pekerjaan sebagai penulis dan pengajar. Sekali dua kami janjian atau tanpa janji sama sekali untuk saling menemu. Meski mungkin terbaca agak aneh cara kami saling menyua.

‘’Well....,’’ demikian bunyi sms Luka.
‘’Up 2 u’’, balasku seketika.
‘’Ok,’’ balasnya lagi.
‘’Okelah,’’ balasku lagi.

Lantas, kami pun seolah sudah sangat saling bisa menebak di tempat mana kami akan bertemu. Tidak penting siapa yang tiba lebih dulu datang dan menunggu. Acara selanjutnya? Ke mana pun ide membawa.

Keseimbangan dalam hidup kami sedikit banyak memang timpang sepeninggal orang-orang tercinta. Mau bilang apa, ikhtiar untuk menemukan keseimbangan toh telah kami kembangkan. Tapi, sejauh layar terkembang, ternyata belum benar-benar mampu menyeimbangkan. Meski pincang, kami, orang-orang kota yang cenderung akrab dengan kesepian, toh tetap berusaha untuk tidak kecil hati, ciut nyali. Masa depan di sana memang misteri, tapi kami pasukan berani hidup yang tak gentar terhadap hari. Kami telah menelan bergumpal-gumpal gemawan keseharian dengan segala konsekuensinya. Dalam beberapa perkara kami memang mempunyai pilihan, tapi, dalam perkara di luar jangkauan pilihan, kami hanya bisa melakoninya, memaknainya. Kehidupan memang menjadikan kami seperti ini, tapi keberanian dan kejujuran jualah yang membuat kami jauh merasa lebih berarti.

Bagaimanakah cara dua orang pemuda memaknai hidupnya sementara mengeja hari pun masih alif, ba, ta?

Tentu saja tidak karuan tata bahasanya. Grammar kami untuk mengeja hari memang sangat-sangat belum mencukupi, masih teramat sangat apa adanya, tapi bukan berarti kami tidak mampu dan bisa memaknai serta memberi arti. Mungkin bagi orang lain, apa yang kami lakukan adalah membuang waktu, percuma, keabaian, sia-sia, tidak bermutu, dan berbagai sebutan remeh-temeh lainnya. Tapi jangan salah. Bukankah nilai rasa dan pengalaman proses pendewasaan setiap orang berbeda-beda? Memang, kami tetap berusaha untuk tahu diri. Usia toh akan terus saja menggelinding tanpa kompromi. Menjadi tua itu sebuah keharusan dan kepastian, menjadi dewasa adalah pilihan. Anak kecil juga tahu itu. Tapi, tanpa harus menunggu menjadi tua kami sudah berikhtiar menjadi dewasa. Jadi, sesama orang dewasa, kami saling menghargai cara kami mewarnai hari, meski cara mengejanya, tentu saja masih tetap alif, ba, ta.

Kami kuliah dari mana saja. Dari fakultas kehidupan tentu saja. Tidak melulu bersikutat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, misalnya. Atau Universitas-Universitas Negeri sampai luar Negeri ternama lainnya. Meski itu juga bagus, tapi fakultas kehidupan adalah lembaga pendidikan non formal yang tidak akan pernah ada habis keilmuannya, dan itu jauh lebih bermakna. Dosen pengajarnya bisa tukang copet yang kepergok masa ramai, polisi lalu lintas yang kelaparan kemudian mencari-cari kesalahan pengguna jalan, tukang sapu jalanan yang setia dengan nasib nelangsanya, peminta-minta di tiap perempatan dan pertigaan jalan yang lihai menjajakan keibaan, guru yang dicacimaki Wakil Presiden hanya karena sebuah sajak yang jujur, ibu yang sampai hati membakar buah cintanya sendiri karena suami kerap mabuk-mabukan, ibu yang menjual darah dagingnya sendiri atas nama keterdesakan ekonomi, ibu yang menyudahi nyawa ketiga darah dagingnya sendiri karena khawatir terhadap jaminan masa depan, supir angkot yang super ugal-ugalan demi sekeping rupiah yang tidak akan pernah mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, tukang parkir yang lalai dan kehilangan motor yang dijaganya, jaksa yang tersandung atau sengaja menyandungkan perkaranya sendiri, hakim yang sengaja menjauhkan diri dari rasa keadilan, sampai anggota dewan tidak terhormat yang lebih pantas menjadi sarana dan tempat menumpahkan caci maki. Hingga Presiden yang lebih fasih menjaga citra daripada merampungkan tugas dan kewajibannya.

Belum lagi jika kita kuliah malam misalnya. Pengajar dan pengampunya malah semakin bisa beraneka ragam latar pendidikan, pengetahuan, dan kebudayaan. Ada pelacur santun baik budi yang menghibahkan seluruh keringat dan air matanya untuk anak dan orang tua tercinta di kampung, bahkan neraka siap ditebusnya asal anak dan orang tua tercinta sentosa dibuatnya. Preman jalanan yang urat gentarnya telah putus dan siap menyabung nyawa dengan siapa pun. Germo yang titis menebak mata lelaki mana yang butuh memanjakan dan merayakan syahwatnya, sampai pemikir intelektual yang malu-malu mendatangi tempat hiburan malam untuk ‘sekedar’ mengimplementasikan keilmuannya. Semuanya ada di sini, di fakultas kehidupan yang tidak mengenal dosen pengampu, kecuali ketajaman hati. Dan rektornya? Tentu saja siapa pun boleh mengklaim diri, selama mempunyai kekuatan daya pikir dan renung yang mumpuni.  Dan syukur-syukur bestari.

Karena masih terbata mengeja hari, maka kami paling gemar menutupi kekurangan dengan bepergian, tualang. Kenapa bepergian kami anggap mampu menambal ketidaktahuan akan hari?

Membaca ratusan buku adalah baik, karena ia membukakan jendela informasi dunia yang tidak akan pernah ada habisnya. Tapi, bepergian, berpetualang ratusan kilometer ternyata jauh lebih baik, karena kita dapat secara langsung membaca kejadian atau peristiwa tanpa perantara siapa pun. Oleh karenanya, bepergian, berpetualang ternyata sangat mengenyangkan, dan dengan sendirinya mendewasakan.
Kecuali saya dan Luka memang tidak cukup mempunyai kemampuan untuk mengambil keuntungan ketika bepergian. Karena ketumpulan rasa dan pikiran misalnya.  Satu, dua kali tempo bolehlah seperti itu, bepergian hanya untuk cengengesan dan atas nama rasa senang belaka, tanpa embel-embel beban intelektualitas di belakangnya. Tapi jika terlalu sering? Itu menyedihkah, aku kira.

Kami pernah pergi bersama ke Bukittinggi Sumatra Barat, Lombok Mataram, Yogyakarta, Sam Po Khong Semarang dan candi-candi tua di Jawa, Apuan Bali, berkeliling Madura, mampir di berbagai pojok Asia Tenggara, serta masih berencana untuk sekedar singgah sejenak di Tokyo, Yunani, Berlin, Turki, Prancis dan kalau nasib mengijinkan, kami lanjutkan berkendara ke Negeri Magribi, atau al-Maġrib al-Arabi, negeri dimana matahari pulang keharibaannya, seperti Aljazair, Maroko, Tunisia serta beberapa Negara yang tercakup di dalamnya diantaranya Libya, Mesir, Sahara Barat, dan Tunisia, hingga mabur sejenak ke Moskwa dan St Petersburg Rusia.  Sebelum kami teruskan ke Siberia, kemudian istirahat sejenak di Vladivostok. Setelah itu kembali menjejaki Mongolia, China, Nepal dan India. Pergi ke Pyongyang di Korea Utara, asyik juga aku kira.

Tentu saja banyak yang kami dapatkan dari perjalanan kami. Tapi entah mengapa masih saja ada yang belum seimbang dalam setiap kepulangan kami dari setiap perjalanan, perziarahan. ‘’Ah, mungkin karena masing-masing dari kita belum menemukan lagi apa yang kita cari dan butuhkan, yaitu pasangan hati,’’ ujar Luka padaku ketika baru saja menginjakkan kaki di Soekarno-Hatta. Masih sentimentil juga anak ini. Tapi, mungkin benar juga apa yang dikatakan Luka. Yang hilang dan telah pergi dari ruang hati kami memang belum ada yang mengisi. Sekadar mencari teman perempuan mungkin bisa kami lakukan, tapi yang benar-benar mampu menghuni rumah hati?

Ah, alih-alih terlalu memikirkan apa yang sebenarnya paling kami butuhkan tapi ternyata belum membuahkan, kami  lebih suka mengisi hari dengan terus bepergian dan berpetualang, entah sampai kapan. Kami bahkan sering sekedar pergi hanya beberapa blok dari tempat masing-masing kami tinggal. Pokoknya pergi dan melakukan perjalanan. Kalau rupiah sedang tidak berpihak, baru kami menyiasatinya dengan berdiam di rumah. Masalah pekerjaan? Saya dan Luka paling bisa mengompromikannya. ‘’Bukankah dalam beberapa hal hidup hanya masalah kompromi belaka?!,’’ kata Luka padaku suatu ketika, dan aku hanya tertawa.

Dan kesepian? Lagi-lagi ini menjadi masalah klasik yang seolah tidak akan pernah ada habisnya untuk diurai. ‘’Bukankah kesepian dan hasrat telah menjadi problem kemanusiaan terbesar masyarakat modern,’’ ujar Luka pada sebuah perjalanan. Teristimewa hasrat, imbuhnya, yang biasanya dibarengi dengan interpretasi sepihak untuk menjalankan, melakukan, dan merayakan sex seenaknya. Sex, menurut Luka adalah persoalan misterius abadi yang tidak akan pernah dapat dirasionalisasikan oleh logika. ‘’Kau harus tahu, hasrat adalah kutukan global bagi manusia modern,’’ khotbahnya. Aku tidak mengiyakan tidak juga menyanggahnya. Luka bebas berpikir dan berbicara sesukanya. Sebebas Wakil Presiden di negeri kami yang bisa seenaknya menantang-nantang Presidennya.

Tapi kalau dipikir-pikir ada benarnya dengan apa yang dikatakan Luka. Bayangkan, kami harus dan dipaksa mampu mengeja hari, dalam kungkungan kesepian dan hasrat yang tidak tersalurkan. Jauh dari sebuah keseimbangan hidup yang paling standar, bukan?

Pernah, kami pikir, seiring dengan berjalannya waktu, jika kita berprasangka baik dengan setiap kejadian yang dikaruniakan kepada kita, maka setiap kejadian yang akan dikembalikan kepada kita, niscaya akan cenderung baik pula. Tapi apa lacur? Ternyata hidup tidak seperti ilmu pasti. Memang, waktu berubah, dan kita ikut berubah juga di dalamnya, tempus mutantur, et nos mutamur in illid. Tapi, semakin kami mencoba mengikuti aras pikir waktu yang senantiasa dinamis, malah semakin lintang pukang dan tergopoh-gopoh otak ini mengeja percepatannya. 

‘’Di sinilah hati berfungsi,’’ ujar Luka lagi-lagi berkotbah. ‘’Jadi, ikuti saja apa kata hatimu, ketika logikamu kau anggap tak mampu lagi membimbingmu. Karena Waktu, sebagaimana Tuhan, terlalu Agung untuk sekadar kau mengerti dan baca dengan akal sehatmu’’. Apakah aku harus membacanya-Nya dengan akal sakit juga?

Tapi berbicara memang tidak semudah melaksanakannya. Suatu ketika, rasa kesepian Luka yang akhirnya membujuknya untuk bersedih semakin berlipat ketika mengetahui mantan kekasihnya, Julie An Dollman, yang mukim di Queensland, Australia mengabarkannya telah menjadi seorang ibu bagi seorang bayi 6 bulan. Anak Julie, kekasih yang juga pernah mengandung benih cintanya ketika semester awal di bangku kuliah dulu, tentu saja buah cinta dengan suaminya yang sekarang.

‘’Namanya Rumi Orion,’’ tulis Julie dalam surat elektroniknya. ‘’Dia lucu dan membuat hidup kami seperti melayang di udara saban hari. Hidup semakin luar biasa dengan kehadirannya. Bagaimana dengan dirimu? Apakah kau sudah menjadi seorang ayah?’’.

Menjadi seorang ayah?! Seperti ditampar nasib buruk, Luka hanya terpekur di depan layar monitor. Sejatinya ia bahagia mendengar Julie telah menjadi seorang ibu. Tapi yang membuatnya masygul, kapan ia akan diberi kesempatan dan giliran nasib seperti Julie; dipercaya menimang buah cinta? Menjadi seorang ayah bagi seorang anak, dari seorang istri yang mengasihi dan dikasihinya.

‘’Kesedihan datang dan pergi, tapi kesedihan seolah datang lagi ketika Julie menanyakan padaku apakah aku sudah menjadi seorang ayah?,’’ tuturnya padaku rana.

Aku hanya menyimaknya, belajar menjadi pendengar yang baik. Luka memang belum pernah diberi kesempatan nasib untuk menjadi seorang ayah bagi seorang bayi, dan ini menjadi alasan yang masuk akal baginya untuk bersedih. Dengan Julie, adalah pengalaman pertamanya menseriusi buah cinta, dan nyaris saja Julie menjadi ibu bagi anaknya. Tapi sebagaimana buah cintanya dengan Sita, nasib ternyata berkehendak lain. Tapi bukan Luka, jika tidak mampu dan pandai menghibur diri, membesarkan hati.

Ya, kami atau lebih tepatnya aku, bahkan telah memasrahkan segala kemampuan kami kepada hidup. Dengan harapan kehidupan akan mampu membimbing kami untuk mencari, menemukan, dan menguak kemampuan terhebat kami yang tersembunyi. Atau bahkan bukan tidak mungkin, Ia akan mengeluarkan kemampuan terbaik, di luar batas bayangan kami sendiri.  Apa yang tidak mungkin dari hidup ini?

Tapi sejauh ini? Tanda-tanda ke arah itu aku belum melihatnya. Mungkin karena aku tidak terlalu pandai membaca simbol dan bahasa Hidup, itu saja, aku kira. Sebagaimana pernah Luka katakan padaku. ‘’Karena kita terlalu asyik dengan diri sendiri. Itu saja,’’ katanya. ‘’Sehingga kita cenderung lalai dengan perbincangan semesta yang tentu saja tidak akan pernah dapat kita mengerti jika menggunakan bahasa bumi’’.

‘’Ngomong apa kamu?’’
‘’Ini bahasa langit, jadi harus kau cerna dengan bahasa langit juga’’.
‘’Ada bahasa yang lebih membumi, yang wajar-wajar saja, bicara dengan bahasa hati saja. Hidup sudah nggak mudah, malah kau terjemahkan dengan bahasa langitlah, bahasa semestalah, bahasa inilah, bahasa itulah. Ada bahasa munyuk nggak?’’
‘’Kau ini, tidak tahu kalau aku serius dengan apa yang aku katakan’’.
‘’Kau lupa. Hidup itu sederhana, penafsirannya saja yang hebat-hebat. Jadi, santai aja man. Itu yang sering kau katakan padaku.’’
‘’Kau tidak bisa hanya dengan santai menghadapi hidup ini’’.
‘’Ah, sudahlah,’’ potongku. ‘’Lebih baik kita shisha saja di little Baghdad atau di sekitar Kemang sana,’’ kataku. ‘’Di sana banyak dara ayu yang berbicara antarsesamanya dengan bahasa bumi sembari melakukan shisha, dan siapa tahu satu diantara sekian banyak dari mereka mampu menutupi kesepian dan hasrat purba kita’’.
‘’He he he’’.
‘’Yah, dia berbicara dengan bahasa munyuk juga akhirnya’’. Dan kami berdua tertawa.

Ujaran Dinah Washington yang sohor dengan tembang The Blues Ain’t Nothin’ But A Woman Cryin For Her Man, mungkin agak cocok jika kami plesetkan dengan gambaran tentang hidup kami; The Life Ain’t Nothing But A Man Cryin For His Woman. Meski sanggah Luka tidak sepenuhnya benar seperti itu, tapi ada sisi betulnya juga, toh kami masih manusia, katanya. ‘’Bener juga, bahkan King Kong pun terbunuh karena cryin for his woman; Ann Darrow, kan’’. Ya ya ya...Celaka, kami diekuivalenkan dengan Tore Kong. Tapi tak mengapa, toh kami lebih suka menderaikan tawa sembari melakukan shisha diantara puluhan dara ayu yang tidak satu pun melirikkan mata ke arah meja kami. Sialan.


II. Awur-awuran.

JUJUR. Dalam beberapa hal, atau mungkin banyak hal Luka cenderung mempunyai ketekunan dan kedalaman pemikiran dibandingkan aku. Meski, dalam penyampaiannya terkesan sembarangan dan awur-awuran. Tapi sejatinya, ia memang ‘lumayan’. Tapi, bukankah jarak antara kedalaman, kedangkalan, kepandaian dan kebodohan adalah sebenang?

Ikhtiarnya untuk memperkuat kemampuan daya pikirnya semakin menjadi setelah ia bersepakat berpisah dengan Sita. Dari beberapa kabar yang aku dengar, Luka bahkan berkawan dekat dengan berbagai prosesi pengasahan hati dengan menempa diri dengan jalan-jalan yang dekat dengan nuansa budaya Jawa. Selain tentu saja dengan tetap terus menyelaraskannya dengan wacana-wacana kontemporer kegemarannya. Ah, aku nggak ngerti tentang yang satu ini.

Laku yang ia lakukan memang sangat tidak dekat dengan akal sehat kita, yang mengklaim diri masyarakat kota dengan segala modernitasnya, dan oleh karenanya semuanya harus di logika.  Dan di luar akal sehat, adalah omong kosong belaka, klenik, dan tidak ada gunanya.

Bisakah kau bayangkan ketika Luka nglakoni, atau berikhtiar melakukan sebuah prosesi menempa diri dengan sebuah upaya ‘menghajar’ diri sendiri dengan berbagai laku yang nggegirisi. Dalam sebuah kesempatan dia, sebagaimana kebanyakan orang muslim kebanyakan  memang biasa puasa setiap Senin dan  Kamis. Sebuah tingkatan standar sebagai orang muslim kebanyakan. Atau puasa Nabi Daud, sehari puasa sehari tidak puasa. Yang ini juga sangat biasa. Tapi entah alasan apa seolah tiba-tiba ia menjadi akrab dengan berbagai laku penempaan diri untuk mengasah hati seperti  tapa tempur; bertapa dengan berendam semalam suntuk di sebuah titik pertemuan dua arus sungai yang mengalir deras yang menghunjam raganya?

’’Ah apa yang aku lakukan belum seberapa. Masih banyak orang Jawa yang lebih mempunyai kekuatan ikhtiar melakukan laku penempaan diri seperti ini, dan itu jauh mengerikan. Membutuhkan laku yang lebih memperihatinkan,’’ katanya. Kemudian Luka mengisahkan beberapa laku seperti puasa ngebleng, tidak makan dan tidak tidur selama 3 hari 3 malam, puasa ngrame, siap berkorban dan menolong siapa pun dan kapan saja, serta puasa ngéli, menghanyutkan diri di air sungai yang mengalir, puasa pendem, sengaja memendam atau menguburkan diri di bawah tanah pada kedalaman tertentu tanpa mengkonsumsi apa pun, dan berbagai jenis lelakon lainnya. 

‘’Dan kau melakukan semua itu?’’
‘’Nggaklah’’, jawabnya. Luka memang tidak atau belum melakukan hal yang paling standar seperti puasa mutih, hanya makan nasi putih selama 7 hari berturut-turut, misalnya. Atau puasa ngruwat, hanya makan sayur mayur selama 7 hari 7 malam, atau puasa pati geni, berpantang makan makanan yang dimasak dengan menggunakan api atau geni selama sehari-semalam. Atau dalam hitungan hari tertentu.

‘’Tidak semualah..ha ha ha. Aku tidak sekuat dan setegar orang-orang dulu yang mampu menempa dirinya dengan sedemikian rupa cara. Cukuplah kerasnya Jakarta dan tak bersahabatnya hidup ini menjadi guruku yang paling utama’’, jawabnya.
‘’Ah, aku pikir itu lebih bisa diterima. Jangan kau terlalu mengada-ngada ya. Hari gini.....’’
‘’Iya sih...’’.

Kami hanya tertawa.
Setelah itu, dengan lancar ia menceritakan berbagai laku puasa atau nglakoni yang bagi orang yang mempercayai dan mengugeminya sanggup mendekatkan dan menyatukan dirinya kepada Penciptanya. Ah, aku lupa detailnya, tapi setelah itu yang pasti dia akan membawa-bawa pengetahuannya sembari menukil petilan serat Wedhatama karya K.G.A.A. Mangku Negara IV yang berbunyi  ‘’Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase lawan kas, tegese kas nyamkosani. Setya budya pangekese dur angkara’’, yang ia ambil dari pupuh Pucung, bait I. Artinya, ilmu itu hanya dapat dicapai dengan laku atau kerja konkrit, dimulai dengan niat yang sungguh-sungguh, teguh, total dengan segala konsistensi dan konsekwensinya, yang pada akhirnya akan mendatangkan kesentosaan. Semua itu harus dibarengi dengan iman yang kuat pula untuk mengatasi, dan mengalahkan segala godaan, rintangan dan kejahatan.

‘’Sederhananya seperti ini. Semua tirakat yang dilakukan oleh orang-orang yang memercayainya itu adalah menikmati yang tidak enak, dan tidak menikmati yang enak’’.
‘’Bicara pakai bahasa Indonesia yang baek dan benerlah?’’
‘’Iya, bener. Gembira dalam ketidakenakan, dan keprihatinan’’.
‘’Kurang kerjaan kali ya’’.
‘’Yah. Itu semua biar nggak mudah tergoda daya tarik hidup’’.
‘’Yang wajar aja kenapa sih. Hidup sudah repot malah dibikin susah’’.
‘’Memang seperti itu adannya’’.

Itu belum semua. Setelah itu dengan tekun layaknya guru taman kanak-kanak berkisah kepada muridnya yang setia dan terpesona, Luka bercerita tentang tasawuf dan kebatinan, serta segala aspek yang membedakannya. Inti dari segala ceritanya itu, katanya, adalah proses puncak penyatuan antara yang diciptakan dengan yang menciptakan.

‘’Union Mystique, atau manunggaling kawula lan Gusti’’.
‘’Ah, malah semakin pelik. Ayolah kau tidak akan pernah bisa membunuh nafsumu, dan dengan demikian dapat ketemu Tuhan-mu. Kau tetap manusia yang mudah pecah. Ingat itu.....’’
‘’Yah, itu terserah kamu. Ini hanya masalah pilihan’’.
‘’Sepengetahuanku, bukankah lebih baik kita sibuk mencari keburukan kita sendiri, daripada menghabiskan waktu untuk melakukan hal-hal seperti itu. Atau dalam kasusku, aku lebih suka mengenangkan kebersamaanku dengan Tristan dan Bianca sembari mendatangi kuburan mereka di Menteng Pulo. Sederhana kan’’.
‘’Aku menghormati itu’’.

Memang, Luka cenderung terlatih untuk pandai menikmati yang tidak enak, dan bisa untuk  tidak menikmati yang enak, sebagaimana yang barusan dia ceritakan padaku. Gembira dalam kesempitan dan kesusahan, serta sudi merayakan keprihatinan.
Meski sejatinya, aku dan Luka memang paling pandai memanfaatkan waktu luang untuk bersenang-senang. Kami, tidak sebagaimana para cerdik cendekia yang dengan sadar menampik waktu luang untuk bersenang-senang, kami justru sebaliknya, adalah orang-orang yang sangat pandai meluangkan dan mencari-cari dan menyongsong waktu untuk bersenang-senang, menghamburkan kesenangan untuk sekedar  cengengesan. Dalam hal ini, menurutku, memang kontradiktif sifat Luka. Ya, super paradok mungkin bagian dari absurditas kehidupan Luka. Dan itu membuatnya sangat kaya sebagai seorang manusia, karena inkonsistensinya sebagai seorang manusia.

Semua orang pasti tahu, setiap orang tidak akan pernah mampu lari dari nasibnya. Tidak juga orang yang paling berani, sampai yang paling pengecut sekalipun. ‘’Aku pernah berulang-ulang menantang keadaan,’’ ujar Luka padaku di sebuah malam di persimpangan pemikiran, seusai waktu bersenang-senang usai.

‘’Tahu apa yang aku dapatkan? Aku lintang pukang, dan tergopoh-gopoh dibuatnya. Tidak akan pernah usai dalam sekali kehidupan untuk sekedar mengerti tentang keadaan yang menimpamu,’’ imbuhnya nyerocos sembari menyitir pemikiran salah seorang sastrawan atau pemikir entah dari mana. Begini bunyinya; Kalau saja hidup berjalan selama dua kali, sekali untuk gladi resik dan sisanya untuk kehidupan yang sebenarnya, tentu hidup lebih indah dan mudah.

Padahal, sepengetahuanku, selama Luka menantang, kemudian memberontak terhadap ‘kejadiannya’ ia tidak pernah memenangkan pertarungan itu. ‘’Ya, kau tidak akan pernah menang. Siapa pun tidak akan pernah menang,’’ akunya padaku. ‘’Meski tidak percuma perlawanan itu, tapi kau tidak akan pernah bisa menang melawan nasib’’.

Semenjak itu Luka memang berdamai dengan nasib. Meski tidak sepenuhnya tenang dan lapang, ia pelan-pelan berkawan dengan kejadian, dengan keseharian. ‘’Dalam beberapa hal, nasib memang lebih kejam dari kematian itu sendiri,’’ katanya masygul.
Kesedihan Luka mungkin sama dengan kegundahanku ketika suatu sore, ada seorang perempuan menghampiriku. Kawan lama. Mantan score girl yang belum lama bercerai dari suaminya. Ia memintaku untuk menjadikannya istri muda, dengan syarat memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Kenapa ia datang padaku? Ia tidak dapat menjelaskannya dengan logis, hanya intuisinya yang memaksa dan membuatnya harus datang padaku.

‘’Aku bingung mau ngomong apa lagi,’’ kata Upi. Selanjutnya ia bercerita telah mencoba bekerja pada rumah panti pijat. Dua kali trainning telah ia lakukan, dan hasilnya, ‘’Aku nggak sanggup mas. Aku pikir akan sanggup memijat para lelaki dalam keadaan bugil, setelah aku coba dalam dua kali trainning, ternyata nggak sanggup,’’ keluhnya di dalam mobilku.
‘’Kenapa nggak kau coba mencari pekerjaan lain?’’
‘’Aku nggak punya ijazah mas, bahkan ijazah SMP pun entah udah ilang ke mana?’’
‘’Kembali jadi score girl?’’
‘’Tempat lamaku kerja dulu udah sepi mas’’.
‘’Trus, sekarang pemasukanmu dari mana’’.
‘’Nggak ada mas.....’’

Setelah berpisah dengan suaminya, Upi, ibu satu anak yang diasuh mantan suaminya, hidup dengan menumpang kawan dekatnya. Hingga keadaan membuatnya berpikir keras untuk terus dan harus mempertahankan hidup. Syukur-syukur bisa mandiri.
‘’Aku bingung mau kerja apa lagi. Peliharalah aku mas...., jadikan istri simpanan. Atau barangkali ada kawan mas mau mencari istri muda??’’.  Ah, apa lagi ini.

Luka juga mempunyai pengalaman lain. Ia bertemu dengan Dahlia, perempuan 20 tahun, ayu, bekerja pada sebuah panti pijat terkemuka di bilangan Sudirman, Jakarta dengan tarif yang luar biasa. Dalam sebulan Dahlia mampu mengirimkan 2,5 hingga 3 juta rupiah kepada orang tuanya di Bogor. Dia tinggal pada sebuah apartemen mewah di kawasan Kota, dengan tabungan yang cukup untuk membeli sebuah Honda Jazz baru tidak second. Dan yang paling menarik, ia menyusun teologi ketuhanannya sendiri.

‘’Saya tidak melakukan pembenaran dengan apa yang saya lakukan, tapi saya yakin Tuhan sangat tahu dengan apa yang saya kerjakan. Dan dengan demikian Dia maklum dengan apa yang terjadi dengan nasib saya,’’ katanya.

Selanjutnya, Dahlia bercerita dengan detail kenapa ia memutuskan bekerja pada sebuah panti pijat dengan penghasilan sampingan menjadi pelacur kelas 1 juta ke atas, kepada para pelanggannya yang doyan melacur.

‘’Saya pernah bekerja menjadi kasir di sebuah swalayan dengan gaji bersih Rp. 600.000 sebulan,’’ katanya. Apa yang bisa saya lakukan dengan uang Rp. 600.000 di Jakarta? Tekannya. Dahlia bahkan harus menelan air liur jika tahu orang-orang yang berbelanja di tempatnya bekerja, mempunyai handphone terkini.

Sekarang, hp model apa pun dengan harga berapa pun mampu ia tebus. Bahkan ibunda tercinta telah diberangkatkannya pergi Haji. ’’Pada usia 30-an saya akan pensiun, dan tentu saja hasil tabungan saya akan berbicara’’.

Dahlia bahkan sangat bersyukur dengan keadaannya saat ini. Dengan paras ayu, tubuh semampai, kulit kuning langsat, dan cara berpikir yang baik meski dengan latar pendidikan yang tidak seberapa, ia mampu mendapatkan kekayaan melimpah dengan gampang.
Dunia memang tidak adil, ujar Luka, seolah-olah kemudahan hanya milik perempuan ayu dengan paras semampai.

’’Siapa bilang hidup saya berjalan dengan gampang ?’’. Menjadi pacar simpanan orang Cina yang mampu memenuhi hampir semua kebutuhan memang mengenakkan, potongnya, tapi bukan berarti itu semua berjalan dengan gampang dan lempang. Setelah itu, lagi-lagi Dahlia membawa-bawa nama Tuhan. ‘’Dia mempunyai rencana lain yang tidak akan pernah saya ketahui. Dan saya yakin Dia maklum dengan apa yang saya lakukan. Titik. Itu saja’’.  Ah, apa lagi ini...

Memang, kasus Upi dan Dahlia adalah segelintir dari ribuan kasus-kasus lain yang lebih mengerikan dan tidak terperikan. Kasus dari orang-orang yang menafsir dan membaca Tuhan sesuai dengan pemahamannya masing-masing.

Adalah benar, berjumpa dengan Tuhan tidak melulu pada saat orang sedang kusyuk berdoa dengan segala linangan air matanya.  Bahkan pada saat orang sedang mempertahankan dan memperjuangkan hidupnya seperti Upi dan Dahlia, Tuhan sangat-sangat bisa ditemui. Bukan tidak mungkin dan bisa menjadi sangat mungkin sekali Tuhan justru bisa sangat mudah ditemui oleh orang-orang macam Upi dan Dahlia. Atau jangan-jangan Upi dan Dahlia?


III. Home.

KAMI memang golongan manusia-manusia lelah dan lemah. Bahkan perjalanan panjang berziarah hingga jauh ke negeri orang, tidak atau belum cukup membuat kami tegar untuk berhadapan dengan hari. Benar, mungkin sudah tidak saatnya berpergian lagi, bertualang lagi. Mungkin hanya kehangatan rumah yang memanggil-manggil yang kami cari. Kini saatnya mengistirahatkan sepatu dekil yang berlumpur dan menggantinya dengan sandal rumahan yang empuk dan melenakan? Demikian kata mas Willy. Ah, apapun itu bukankah rumah sebenarnya adalah hati yang lapang.

Lalu untuk apa mencari rumah lapang sampai jauh-jauh di jantung Rusia? Menjejaki tujuh kotanya untuk mengikuti kata hati, merunut rumah orang-orang besar pada masanya? Seraya belajar menekuni bagaimana mereka menerima, mensiasati dan menghadapi kehilangan sebagai sebuah bahan untuk membangun masa depan.

Inilah salah satu catatan perjalanan Luka yang masih tersisa, ketika berkesempatan mengajakku bertamu ke Rusia. 
Inilah kisahnya.

Kehangatan Rusia.

APA lagi yang musti dan sepatutnya dikatakan tentang Rusia? Negara Besar dengan sejarah panjang dan warisan kebudayaan yang luhur, ini bahkan nyaris tidak bisa didiskripsikan keindahan sekaligus kemisteriusannya. 28 hari menziarahi mantan Negeri Tirai Besi yang dulu paling ditakuti Amerika Serikat, ternyata tidak cukup untuk menguak dan ''membacanya''. Meski nasib memperkenankanku untuk kali kedua, setelah dua tahun lalu menziarahi Rusia, namun kunjungan kedua kali ini bersama Pierre, malah semakin menyisakan kesan dan jejak yang jauh lebih mendalam.

Stanza Fyodor Tyutchev, penyair besar Rusia abad ke-19 sangat mewakili apresiasiku terhadap negara yang secara kewilayahan luasnya dua kali AS ini. Inilah nukilan stanza yang termasyur itu; ''You cannot understand Russia with your mind. You cannot measure it with universal dimension. Russia has something special. In Russia you simpli believe''.

Ketika nukilan itu aku pinjam, kemudian aku dengungkan di depan Kabinet Nusantara, sebuah institusi terdidik yang terdiri dari para ahli tentang Indonesia yang beranggotakan para Doktor, Profesor, Wartawan dan masyarakat intelektual yang tahu dan menguasai tentang Indonesia, mereka semua serentak tertawa.

''Saya bahkan haru mendengar stanza dari Tyutchev dibacakan oleh orang Indonesia,'' ujar Prof. Drugov, ahli politik Indonesia dan mantan penerjemah Laksamana Chernobil semasa konfrontasi Irian Barat antara Indonesia dengan Belanda.

Keheranan yang sama terhadap kondisi Indonesia pun juga dikatakan Prof. Drugov. Dulu, Mohammad Hatta dan Adam Malik, demikian kisahnya, pun mengutarakan hal yang sama tentang Indonesia kepada orang-orang Rusia. ''Jika ada orang yang mengklaim tahu kondisi Indonesia, maka orang tersebut sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang Indonesia,'' kata dia dengan bahasa Indonesia yang jernih dan sangat sempurna.

Untuk kali kedua kami semua tertawa.   

Ya, siapa yang tidak kenal dengan Spirit Rusia, semangat Rusia? Sejarah memang mencatat jika Rusia selalu dikalahkan, tapi tidak pernah tertaklukkan. Ini terbukti ketika mereka memukul balik Napoleon Bonaparte dan Adolf Hitler, meski Napoleon maupun Hitler telah menaklukkan hampir seluruh seluruh belahan Eropa. Tapi mereka berdua nyatanya tidak berhasil ketika mencoba menundukkan Rusia. 
Spirit Rusia akan semakin terlihat jika kita saban hari turun ke jalan, untuk mendekati, menghampiri dan berikhtiar menjadi satu terhadap nadi kehidupan sehari-hari mereka. Di tujuh kotanya, di Moskva, St Petersburg, Novgorod, Tsarskoye Selo, Sergiew Plossad, Klin dan Tula kami; aku dan Pierre dengan mudah menemukan Spirit Rusia itu.

Nyaris tidak ada yang berlenggang kangkung di tujuh kota itu, semua nadi kehidupan oleh penduduk kotanya dilakoni dengan serba cepat, cermat, kidmat, sekaligus saksama. Meski terkesan kaku, namun jangan ragukan ketertibannya. Bahkan di Metro, kereta bawah tanah super cepat yang banyak terdapat di Moskva dan St Petersburg, keserbacepatan, keserbacermatan sekaligus keserbasaksamaan sangat terlihat dengan jelas.

Di dalam Metro, yang dibangun pada masa Stalin itu, kereta listrik hanya berhenti selama 30 hinga 60 detik untuk menunggu penumpang bersegera masuk ke dalamnya. Sebelum pada akhirnya pintu kereta tertutup secara otomatis dan melaju ke stasiun berikutnya. Kemudian, tiga atau lima menit dibelakangnya dapat dipastikan kereta selanjutnya telah tiba ke stasiun tadi, untuk melakukan hal yang sama, mengangkut jutaan penumpang yang hilir mudik di bawah tanah Moskva dan St Petersbug.    
Di dalam kereta memang ada canda, cengkrama dan tawa antarkawan sebaya, tapi sebagian besar melakukan aktifitas yang nyaris sama, yaitu membaca. Membaca apa saja; dari koran, tabloid, majalah, roman, diktat, laporan kerja atau sekedar mengisi teka-teki silang.

Moskva dan St Petersbug

Sebagaimana informasi yang aku terima, pada dasarnya Rusia terbagi dalam ''dua ibukota''; yaitu Moskva, dan St Petersburg. Di Moskva, sebagai Ibukota yang sedang giatnya-giatnya berkawan baik dengan kapitalisme, nuansa kota metropolitan sangat-sangat terasa. Kemacetan, sebagai salah satu indikator kota besar memang menjadi pemandangan sehari-hari di sana. Kesupersibukan kota Moskva bahkan juga terasa ketika malam menjelma. Apa yang tidak ada di kota besar termahal keempat di dunia ini, setelah Tokyo, London, dan Nagoya itu?. Atau apa yang tidak tersedia dari kota yang terkadang menurut survey dari sebuah lembaga berwibawa, itu menjadi kota termahal nomor satu di dunia?       

Dari tempat-tempat memanjakan birahi hingga rumah-rumah perjudian dengan sangat mudah ditemukan di prospek atau jalanan utama Moskva. ''Bahkan sebagai kota, menurut data terkini, Moskva telah menggeser pusat judi Las Vegas di Amerika dalam jumlah slot atau alat judi,'' ujar Cherry Sidarta, Sekretaris I Konsuler Kedubes RI di Rusia.  Seorang kawan yang tekun menuntun kami ke pojok-pojok Moskva.

Sebagaimana kota besar di Eropa, Moskva tampak terlihat bersolek dan sibuk dengan dirinya sendiri, dan oleh karenanya orang cenderung asing antarsesama, bahkan dengan dirinya sendiri. Kehirukpikukan ini tidak akan kita temui di St Petersbug, misalnya. Kota kuno yang sangat aristokratik yang pernah menyandang nama Petrograd dan Leningrad. Kota budaya, yang berbatasan dengan Finlandia ini sangat terasa nuansa Yogyakartanya.

''Jadi tidak mengherankan jika Sri Sultan Hamengkubuwono X berencana menjadikan Yogyakarta sebagai sister city dengan St Petersburg,'' jelas Mikhail Tsyganov, Kepala Biro kantor berita RIA-Novosty perwakilan Jakarta. Kawan baik kami lainnya. Ah betapa enaknya berpergian dengan sejumlah kawan baik yang terus menyertai.

Di St Petersburg, sebagai kota yang menyandang julukan jendela Eropa yang sebenarnya, kehidupan berjalan lebih intim. Namun dengan tetap tidak meninggalkan spirit Rusia. Perbedaan yang kontras antara Moskva dan St Petersbug memang mengingatkan kita terhadap kehidupan antara kota Jakarta dan Yogyakarta.

Namun pada dasarnya antara Moskva dan St Peterburg tetap mempunyai kesamaan yang sangat signifikan, sebagaimana kota Novgorod, Sergiew Plossad, Tsarkoye Selo, Klin, Tula, dan berbagai kota besar lainnya di Rusia. Vodka-lah yang  tampaknya menyatukan mereka semua. Sebagai minuman nasional, Vodka dipercaya dapat memecah segala kebekuan perbincangan, dan membuat suasana menjadi lebih hangat, dusha-dusha, soul to soul, dari hati ke hati.

Jika di Amerika Utara dan Inggris Raya, biasanya vodka dipadukan dengan Cocktails dan Martini, di Rusia mencapur vodka dengan berbagai minuman lainnya sangat tidak dianjurkan, kecuali memadukannya dengan Yours, bir asli Rusia. Sampai-sampai ada ungkapan vodka tanpa bir adalah seperti  ‘’uang dilempar ke dalam angin, alias sia-sia’’. Tentu saja ada puluhan merek Vodka di Rusia. Yang paling masyhur adalah Flangman dan Russky Standart.    

Sebagaimana pengalaman saya dan Pierre berkawan dan bertamu dengan berbagai lapisan masyarakat Rusia, sebagai tanda sebuah persahabatan, kita sepatutnya dan seharusnya tidak menampik ketika dijamu dengan Vodka. Minumlah meski sedikit, toh mereka akan berkata, ''choot choot, pozhaluasta. Sedikit saja, please...,’’ dengan cara yang paling santun. Setelah itu mereka akan sehangat kawan lama yang sudah lama tidak bersua. Penganan, buah-buahan, dan coklat terbaik dapat dipastikan langsung disajikan di atas meja.

Demikian halnya ketika kita ingin membuat musuh dengan orang Rusia, akan dapat dengan sangat mudah sakali dilakukan. Kirimi saja mereka setangkai kembang dalam jumlah genap, maka seketika mereka akan marah dan syukur-syukur kalau tidak murka. Bagi orang Rusia, kembang adalah keseharian yang tidak dapat dipisahkan. Karena mereka sudah terbiasa mengungkapkan apa yang dirasakan dengan kembang. Dan kembang dalam jumlah genap, lazimnya hanya diberikan kepada orang yang sudah mati.

Jadi, jika kita memberikan kembang dalam jumlah genap kepada orang yang masih segar bugar, apalagi sedang terbaring sakit, berarti kita menyumpahinya untuk segera mati. Itu berarti kita berada dalam masalah besar.
Sedangkan memberikan kembang dalam jumlah ganjil, biasanya kita berikan kepada orang-orang yang kita cintai dan hormati.

Ya, Rusia yang ketika kami datang bersuhu antara minus delapan hingga plus 10 derajad celcius memang misterius dengan segala warisan kekayaan budayanya. Dari karya musik, lukis hingga sastra nama seniman, musikus, komposer dan sastrawan besar Rusia sangat mewarnai dan dikenal di seantero dunia.

Kami beruntung berkesempatan bertamu dan menziarahi rumah bahkan masuk ke ruang privat, ruang kerja sampai kamar peraduan Anton Chekov, Maxim Gorky, Fyodor Dovtoyesky, Alexander Puskhin, dan Tchaikovsky. Bahkan merunut tempat berproses kreatif sekaligus menyepi Leo Tolstoy di Tula, 200 km sebelah timur Moskva, sekaligus meletakkan bunga hati di pusarannya yang sahaja.

Selain tentu saja tetap tidak melupakan mendatangi makam para anggota keluarga kerajaan Peter the Great di Peter and Paul Fortress. Serta merunut hari-hari terkahir sang eksentrik Rasputin di rumah The Yusupov Palace di Moika Embankment. Dan tentu saja, ini yang tidak boleh terlewatkan, berpose layaknya muda-mudi di depan mouselum Lenin di Krasnaya Plosad, Lapangan Merah di jantung Moskva.

Sebagai kamerad yang baik, saya dan Pierre juga menyempatkan diri berdoa untuk menghormati Utui Tatang Sontani, salah seorang sastrawan Indonesia yang  pernah mengajar di Moscow State University, yang meninggal dan dimakamkan di pemakaman Islam pingiran kota Moskva. 

Selain tentu saja tetap melakukan kunjungan ke berbagai puluhan galleri dan museum terkemuka di sana. Zdras-tuice Rusia.

Indonesia Raya di Kota Puskhin.

Rasanya seperti di rumah sendiri ketika ensemble Indonesia Raya bergema di Tsarskoye Selo, Desa Para Raja, sebuah kota yang berjarak satu jam perjalanan darat dari St Petersburg. Di tempat inilah dulu, para para pendiri dan penggerak kota St Petersbug seperti Chaterina I, Elizabeth Petrovna, Catherine the Great, Alexander I dan teristimewa Nicholas II, penguasa terakhir monarki Rusia Raya yang tumbang oleh Revolusi Oktober Lenin, pernah tinggal.

Di kota ini pula Alexander Pushkin, penyair besar Rusia melewatkan masa sekolah dasarnya. Dan siapa yang menyangka, di tengah sisa hujan salju yang masih membawa serta gigilnya, orkestrasi Indonesia Raya seketika dimainkan oleh lima musisi tua, begitu mengetahui aku dan Pierre datang dari Indonesia. Sebuah negara nun jauh di seberang sana.

Begitu nada terakhir ‘’Indonesia Raya’’ dipurnakan, seketika kami yang tidak pernah menyangka akan mendapat suguhan istimewa, bertempik sorak. Musisi pemegang terompet, yang sepertinya menjadi leader bagi keempat kawannya yang memainkan trombone dan trompet menawarkan tembang lain dari Indonesia yang mereka kuasai. Tentu saja dengan senang hati kami menyepakatinya. Sejenak kemudian, mengalunlah istrumentalia, ‘’Rayuan Pulau Kelapa’’.

Memang, nama Indonesia bagi sebagian besar orang tua Rusia adalah bukan sesuatu yang asing. Sehingga tidak mengherankan pula jika sebagian besar dari penduduk Rusia yang berusia di atas 60 tahun familiar dengan Indonesia. Contohnya, ya di Tsarskaya Selo, Desa Para Raja dimana Istana Chaterina yang megah dan mewah berada. Di kota yang dikenal juga dengan nama Puskhin Gorod atau Kota Puskhin, ini tidak sedikit yang mengenal nama Indonesia.

Memang, kefamiliaran nama Indonesia, teristimewa bagi generasi tua di Rusia bukan tanpa sebab. Karena pada tahun 1956 ketika untuk kali pertama Soekarno menginjakkan kakinya di Uni Soviet, pada masa itu, hampir semua siswa-siswi dianjurkan, atau mungkin diwajibkan untuk menyambut kedatangannya oleh Negara. ''Bahkan kami, para mahasiswa MGU (Lomonosov Moscow State University) pada waktu itu menyanyikan Indonesia Pusaka, dan Presiden Soekarno menjadi derigennya,'' kenang salah seorang staf pengajar Jurusan Ketimuran Institut Study Asia-Africa (ISAA) pada sebuah kesempatan.

Jika di kota kecil yang jauh dari pusat pemerintahan seperti Puskhin Gorod saja tahu nama Indonesia, maka tidak akan terlalu sulit menemukan para generasi tua yang kenal baik Indonesia jika kita berada di St Petersburg, apalagi Moskva.

Di St Petersburg misalnya, salah seorang babuska, atau nenek yang menjaga sebuah stan buku di salah sebuah pojok gerai di Museum Hermitage, bahkan dengan senang hati menembangkan ‘’Indonesia Pusaka’’, begitu mengetahui kami datang dari Indonesia. Meski ‘’Indonesia Pusaka’’ yang dia tembangkan dengan versi bahasa Rusia, namun titi nadanya tidak ada bedanya dengan versi aslinya.

Demikian halnya ketika kami menjumpai seorang supir taksi yang mantan penerbang MIG-15 di Moskva. Vladimir, yang juga dengan fasih menembangkan Indonesia Pusaka dalam bahasa Rusia bahkan dengan lancar bertutur tentang sosok Soekarno. ''Semua orang terpesona dengan orasinya, meski kami tidak tahu dengan apa yang diucapkannya,'' kenangnya terkekeh.

Kedatangan Soekarno ke Uni Soviet hingga empat kali pula yang membuat namanya sangat dikenal oleh generasi tua Rusia sekarang. Dampaknya, beberapa tembang- tembang Indonesia diterjemahkan dalam bahasa Rusia. Bahkan Profesor Drugov, pengamat politik Indonesia dengan lidah yang sangat Jawa mampu melantunkan ‘’Bengawan Solo’’ dengan merdu dan syahdu. Dengan syair Indonesia yang sangat –sangat sempurna.

Ya, Indonesia bagi Uni Soviet pada masa itu, menurut kesaksian banyak orang tua di Rusia adalah saudara jauh dari Timur.
Tapi zaman memang membawa nasibnya sendiri-sendiri. Pada saat sekarang jika kita bertemu dengan generasi mudanya. Mereka akan terheran-heran jika mengetahui kita datang dari Indonesia, ''Apakah Indonesia ada di Afrika?,'' tanya sebagian besar generasi mudanya. ''Bali, Bali,'' jawab Pierre sekenanya.

''Ah, Bali, saya pernah ke sana,'' jawab yang lainnya.

Aku tersenyum kecut. Pierre, sobatku, cengengesan.



IV. Natalia.

Singkat kata, sekembalinya kami ke Jakarta, sebagaimana sekembalinya kami dari berbagai perjalanan meriah lainnya, hampir dapat dipastikan memberikan bergumpal-gumpal gemawan pemahaman baru tentang makna peri kehidupan. Kehilangan besar bangsa Rusia atas banyak hal, dan bagaimana masyarakatnya dengan tegar menghadapinya, seolah dengan telak telah mengejek kami. Belum lagi kehilangan yang tidak terperikan dari orang-orang besar yang dihasilkan oleh masyarakat yang gemar menjunjung azas kerja, kerja dan kerja.
‘’Yang tidak kerja tidak makan,’’ demikian salah satu jargon kuno, atau pada masa komunis jaya yang masih dipegang teguh oleh hampir sebagian besar masyarakatnya. Berkaca dari berbagai peristiwa kehilangan yang entah bagaimana aku harus menceritakannya itulah, Luka menurut pengakuannya kepadaku, semakin jatuh hati kepada Rusia. Sebagaimana dia jatuh hati kepada Natalia. Seorang mahasiswi semester akhir MGU jurusan Sastra Indonesia. Dari Natalia jualah berbagai peristiwa kehilangan bangsa Rusia di transformasikan kepada Luka. Hingga tidak terasa ikatan perkawanan antarmereka berdua akhirnya pelan dan pasti berubah menjadi  ikatan emosial yang sedikit banyak membangkitkan kebahagiaan antarmereka.

Selanjutnya, sepengetahuanku hubungan mereka tetap berlanjut meski jarak sedikit banyak mengendala. Tapi bukan hubungan dewasa jika mereka tidak mampu mensiasati dan mentoleransinya. Kisah selanjutnya? Aku tidak tahu. Ada batas kewajaran yang sepatutnya aku sebagai seorang sobat untuk tahu dan tidak. Ada wilayah-wilayah bagi seorang sobat untuk hanya menjadi pendengar atau berusaha mencari tahu ihwal-ihwal yang sepatunya juga ia tahu dan tidak.  Dalam perkara Luka dan Natalia, pasti mereka mempunyai kisahnya sendiri, sebagaimana kisah-kisah orang lain dengan berbagai versi kehebatannya masing-masing.

Sebagaimana aku juga tidak tahu bagaimana kisah selanjutnya antara Sita dan Gavin, misalnya. Apakah Sita dan Gavin telah menjadi pasangan hati abadi, yang bahkan cobaan yang paling tidak terperikan sekalipun tidak akan pernah mampu membuat keduanya terpisahkan?  Ataukah Sita dan Gavin telah mempunyai dan memilih jalan hidup sendiri-sendiri dengan tetap menghormati dan menjunjung tinggi kesejarahan mereka berdua?

Atau bagaimana dengan kisahku sendiri?

In actionem contemplativus.