Prosa
Resolusi PDF Print E-mail
Written by Reysha Rezqy   
Jumat, 12 Agustus 2011 20:44

Aku akan menikah pada tanggal 12 Desember 2012. Bisa dengan Syekh Puji, dengan Araz, atau dengan laki-laki impoten dari Rusia. Dan kupastikan, bukan denganmu. Tempatnya, harus di halaman belakang rumahku supaya hemat biaya walimah. Aku mau uang itu kami tabung saja untuk pendidikan anak kami kelak. Plus persiapan untuk tanah pekuburan.

Aku lebih suka diadakan pagi-pagi sekali. Buktikan kalau aku bisa bangun lebih cepat dari ayam jantan yang itu, yang bulunya mengilap setiap kali diterpa sinar apapun. Hidangannya yang sederhana saja, cukup pesan nasi kotak di warung Mba’ Sum. Teknik memasak nasinya unik, rasa yang dihasilkan benar-benar bikin lidah berdansa dengan sendok. Pasti para undangan akan suka.

Tidak akan ada gaun pengantin putih. Aku hanya akan mengenakan kebaya warisan nenek Ria dan selop kesayangan ibu. Tapi akan kuusahakan untuk pakai jilbab. Aku ingin mengenakannya meski hanya sekali seumur hidup..

“Laki-laki yang akan kau temani itu, aku.” tuturmu belagu. Yakin aku akan jatuh cinta padamu untuk yang kedua kalinya. Padahal kau sudah merobek-robek hatiku dan membuangnya di kloset. Kejam bukan. Untung sekarang aku bisa hidup tanpa hati. Jadi kulihat kau mengiba begitu aku mana peka.

Masih saja tidak bisa kulupa kejadian gahar sore itu. Kau memintaku untuk tetap tinggal, dan aku bersikeras meninggalkanmu. Kau menahan sepeda motorku maka kutendang sepeda motormu. Bedebam keras yang dihasilkan bangunkan orang-orang sekitar. Juga kagetkan kucing kawin di samping pos polisi.

Motormu pecah kapnya. Mungkin kau mulai panas, kau jatuhkan pula sepeda motorku. Vega sudah penyakitan, kau siksa ia pula. Aku berusaha membantunya berdiri namun kau mencegatku kembali. Menahan Vega sekali lagi. Panas sekali ubun-ubunku waktu itu. Kutendang kau supaya malu, kupukul pelipismu, meski orang sekitar mengutukiku perempuan kurang ajar. Mereka kan tidak tahu siapa yang kupukuli. Kau orang terkejam yang pernah kucium.

Dulu kau paksa aku mojok di trotoar sepi. Kau ajak aku bermain-main lidah. Kalau kutolak, kau tuduh aku punya pacar lagi. Lama-lama kau ajak aku masuk ke kamar Ijal. Katamu asyik main umpet-umpetan. Jelas benar apa yang kau pikirkan. Kau mau menswadayakan aku sebagai orang yang mencintaimu penuh.

Malam-malam setelahnya, kau mau membuatku mati dirajam orang sekampung. Mengajakku berzina. Kau bilang hanya iseng. kemudian minta maaf. Berulang kali kau iseng, berulang kali kau berlutut di kakiku dengan ujaran panjang, “Maaf...maaf...maaf...” Dan aku, saat hatiku masih seksi di tempatnya, aku memaafkanmu berulang-ulang dengan mudahnya.

Pernah itu, aku memang salah. Mestinya aku di sampingmu, menyuapimu masakan buatanku sendiri atau paling tidak di boncenganmu semalaman untuk bermain dengan angin jalanan, karena kita harus merayakan sepuluh bulan bersama. Akan tetapi aku bersenang-senang di tempat lain bersama seorang sahabat.

Sekalinya kita bertemu esok hari. Kau memperdayaku. Pura-pura sakit biar kukuletakkan kepalamu di pahaku agar dapat kubelai sampai kau tertidur. Ternyata aku tidur lebih dulu darimu. Kau menggerayangi tubuhku pelan-pelan, sarat harmonisasi. Saat terbangun, kutemukan tanganmu di selangkanganku.

“Kenapa kau lakukan ini?” Aku marah besar. Lama sekali aku tenggelam di dalamnya kala itu. Dan kau dengan entengnya menjawab,

“Siapa suruh kau malah memilih temanmu kemarin,” jawabanmu benar menusukku. Saat itulah hatiku kau ambil, kau tenggelamkan di kloset. Aku tidak tahu lagi bagaimana merasa sampai sekarang. Jadi jangan salahkan aku yang malas melihat wajahmu.

“Aku akan bertanggung jawab terhadap semua yang telah kulakukan terhadapmu. Aku minta maaf,” maafmu ini disertai sujud dan wajah yang menyentuh kakiku.

Kekasih, kalau kata maaf itu cukup, maka riwayat Adolf Hitler tidak jadi legenda kelam anak cucu Jerman. Atau dekatnya, ayahmu berhenti dikutuki orang-orang Batua. Tapi maaf hanya kata empat huruf, dibalik jadi faam. Apa artinya itu? Tidak ada. Pertanda kamu memang tidak layak kuterima kembali. Hukuman dariku, cukup tidak usah menjadi pengantinku.

----

Bumi atau langit. Aku suka langit. Meskipun sekarang aku hanya bisa bermimpi menyentuhnya. Tapi langit memiliki semua warna. Milyaran distorsi. Kadang langit pandai benar membaca isi hatiku. Kalau aku sedang ceria, birunya membuncah dan awan-awan amat lincah berpose. Kalau aku sedang sedih, maka langit menjadi hitam, pekat. Disusul awan berubah amburadul. Pose-posenya seperti perawagati Paris dikagetkan oleh bom molotov yang dilempar psikopat ke atas catwalk. Sedangkan bumi. Tidak ubahnya seperti tempat sampah yang menampung jutaan manusia hina. Sepertiku. Utamanya menampung laki-laki bernama dirimu.

Rivai, hatiku memang sudah kau buang. Namun sekarang aku membentuknya kembali, jadi berterima kasihlah pada Tuhanmu karena aku tidak turut membuangmu. Nikmati saja proses ini, proses memutar balik hubungan dari pacaran menjadi teman biasa. Lumayan, tidak akan ada tuntutanku ini-itu lagi padamu. Dan kau bisa lebih leluasa, keluar masuk kamar kos perempuan lain tanpa takut omelanku.

Jadi pulanglah. Aku tidak mungkin membiarkanmu melewati pintu hatiku sekali lagi. Kita sudah selesai. Lihat, langit malam ini kaya bintang. Artinya aku bahagia dengan keputusanku.

“Reysha, aku tidak akan pergi dari sini. Apapun yang terjadi. Aku mencintaimu!” teriakmu di depan rumah kontrakanku. Aku mengintip dari jendela ruang tamu. Menertawai usaha kecilmu meniru adegan film Korea yang pernah membuat kita terenyuh bersama.

“Ya...ya...ya...aku tahu. Selamat menikmati dingin di luar sana!” kubalas teriakanmu. Kumatikan lampu dan aku terkapar nyaman di kasurku sendiri. Akhirnya, tanpa diri dan nafsumu.

----

Sudah berulangkali kukatakan, “Aku tidak suka hubungan ini!” Kau bilang kau sayang padaku. Tapi kau mau memakaiku. Menggagahiku tepatnya. Alasan konyolmu, “Biar kamu nggak pergi dari aku.” Kau mau mengikatku dengan embel-embel rongsokan itu. Kenapa tidak kau tunangi saja aku, atau lamar aku sekalian kalau memang kau mau hidup denganku?

“Karena kita masih kuliah. Aku belum bekerja. Apa kau mau makan teori saja?” jawabmu. Memang amat masuk akal.

“Kalau begitu urungkan niat amalkan geliat libidomu! Belum saatnya. Semua bukti kita mengarah ke situ. Apa salahnya kau berhenti mengkonsumsi video liar, berbalik tekuni ulasan sastra, dan mencari pekerjaan sampingan? Semua kesibukan itu bisa menjaga kita tetap dalam kontrol hubungan yang sehat!”

“Aku mencintaimu pun butuh hangatmu!”

Alasan kedua kenapa aku membenci bumi: cinta. Ada cinta ugal-ugalan yang bersemayam di selimut bumi. Pemiliknya adalah laki-laki bernama Rivai. Sial! Aku mengenalnya dengan hatiku. Aku memberinya cinta.

“Reysha, kalau memang tidak bisa ada kehangatan, mohon terima aku sekali lagi dalam ceritamu...”

----

Pulang dan berpikir. Masihkah ada setitik kecil pun peraaanku pada Rivai? Ada. Bukan kecil. Ia besar, masih lebih besar dari hati yang barusan kuperbaiki. Bisakah kulupakan kenangan bersamanya, kenangan setahun itu? Tidak munafik, kenangan itu selalu muncul di sela-sela nafasku. Kadang tenang, kadang memburu. Apakah bisa dijamin kami akan menemukan hubungan yang sehat jika kembali bersama? Ini yang tidak bisa kuambil konsekuensinya.

Allah, aku sudah berpaling dari jalan kiri. Aku telah menoleh ke persimpangan kanan, tempat semua petuah-petuah ayahku dipancangkan. Di jalan itu nantinya aku akan bersujud setelah tiap satu langkah. Di sana aku akan menggerakkan jemariku untuk berdzikir, setelah capai menekan tuts-tuts piano. Di pelataran rumah-rumah terang itu aku akan tepekur, diam, menatap sekeliling sehabis memuji-muji Engkau di dalam hati.

Aku manusia dan termasuk perempuan yang merajakan perasaan. Namun pula tidak akan kulanggar lagi perintahmu. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, kini kuserahkan pada Engkau. Apa yang Engkau perintahkan untuk kupikirkan esok hari, itu yang akan aku lakukan.

----

Yang benar saja, Rivai adalah sarapan pagiku! Bayanganya dari jidat sampai jempol terbias tepat saat kubuka mata. Allah, Engkau menginginkanku kembali padanya setelah perbuatan nista yang ia tawarkan padaku nyaris terjadi? Sebenarnya apa yang ingin Engkau ajarkan padaku?

Kubuka pintu, biasanya memang aku langsung duduk di teras bersama secangkir teh. Cemilanku, Rivai! Ia sudah menungguku keluar sejak subuh. Mungkin ia sempat tertidur di kursi teras, matanya masih bengkak.

“...aku mencintaimu!” sambutnya dengan mata itu.

“Baiklah, selamat datang kembali. Ingat, kali ini harus sehat.”

----

Kadang, ada masa-masa yang membiarkan kita terjebak dalam suasana romantis. Ia dengan rangkulannya. Aku dengan bibir yang menggoda. Kesengajaan atau bukan, ini terjadi tiba-tiba disertai respon dari dalam lubuk hati masing-masing. Jelas, lubuk hatinya bilang “Silakan bekerja sama dengan libido,” dan lubuk hatiku teriak, “Libido kini masih sampah jati dirimu!”

Rivai belum tua, baru dua puluh tahun dan ia sudah selalu lupa akan janjinya sendiri. Kukembalikan ketampakan bibirku seperti biasa, menarik libido masuk ke kandangnya, dan mengingat-ngingat hapalan surat pendekku tadi malam. Aku berhasil memutar pikiran dari berusaha memenuhi kebutuhan biologis ke posisi mempertahankan keyakinan. Dan Rivai, seperti biasa ia selalu gagal total.

Menggila! Kali ini ia berubah jadi binatang. Aku ditariknya masuk ke kamar. Rumah tempat kami rapat tentang ekspedisi hutan hijau seketika menjadi hutan betulan. Teman-teman yang tadinya kupercaya itu, satu-persatu meninggalkan rumah. Seolah mahfum dengan isi otak Rivai, mereka menginjak pedal gas dan pergi. Kini tinggal kami berdua. Aku dan Rivai. Datanglah makhluk ketiga, setan! Ia menelusup ke dalam pikiran Rivai. Menyagakan warna matanya.

Kamar dikunci. Rivai membuang kuncinya ke dalam kloset. Praktis dan licik. Aku terkurung dalam ruangan tiga kali dua bersama seekor harimau kelaparan. Sesaat lagi aku akan diterkam. Jika harus memilih akan jadi binatang apa aku di sini, maka aku akan jadi Serigala. Kucari cara mempertahankan diri dan keperawanan. Botol minuman yang ditaruh pemilik rumah di bawah ranjang kutemukan tanpa sengaja, saat ia berhasil membuatku terlentang. Serigala lawan harimau. Kami berdua calon raja hutan yang baru. Hukum rimba! Siapa yang kuat, dialah penguasa. Yang kuat adalah aku. Tidak akan kubiarkan imanku kebobolan. Aku memang mencintaimu Rivai, tapi bagaimanapun perbuatanmu ini telah menghapus semuanya seketika.

Badanku dikunci badannya. Tenang saja, tanganku masih cukup kuat untuk memecahkan botol itu di kepalanya. Praaangg!

“Bagaimana rasanya, Rivai? Nikmat?” aku tertawa saja setelah ini. Hahaha. Menyakiti dibalas menyakiti. Tapi ini bukan balas dendam, ini mempertahankan diri. Pukulanku agaknya membuat laki-laki pikun ini semakin dikuasai kegilaan. Terhuyung-huyung ia menerjangku lagi.

“Selamat datang,” sambut pecahan botolku yang mengilat, seperti stalagmit habis diasah. Menembus perutnya sampai merembes cairan yang disebut dunia, darah. Rivai rebah. Kubiarkan pecahan itu terus menusuk perutnya. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Tak terbilang kali.

----

Setelah tiga hari di dalam ruangan dua kali tiga meter. Tidak bisa kemana-mana. Makananku menu monoton setiap hari. Aku pun harus tidur dan berak di ruangan ini. Akhirnya aku bisa menghidup udara segar alam luar, alam pekuburan, diselumuti aroma kehilangan. Di lubang satu kali setengah meter itu Riva berbaring. Entah Israfil menyiapkan pertanyaan mengejutkan apa buatnya. Mungkin yang ada sangkut pautnya denganku. Dan jika aku mati pula kelak, pertanyaan untukku ada sangkut pautnya pula dengan dia.

Dan di sini, di samping polisi-polisi yang mengawasiku, kulihat persimpangan kanan mencuat tepat di depanku. Gapuranya mewah, ada gambar bulan dan bintang di puncaknya. Beberapa merpati terbang dan hinggap di sampingnya. Langit di atas biru sempurna. Awan-awan agresif menyambutku. Alhamdulillah....walau tampaknya resolusiku di tahun 2012 tidak akan terwujud, setidaknya satu poinnya jelas akan dicatat zaman: aku tidak akan menikah dengan Rivai.

 
Damai Itu Kau Tindih, Bukan? PDF Print E-mail
Written by Reysha Rezqy   
Jumat, 12 Agustus 2011 20:11

Begitu mudah memulai sebuah permainan besar yang mengharuskan kita bertaruh harta paling berharga lalu mengakhirinya dalam kemenanganmu. Jeleknya, tak sedikitpun petunjuk yang puaskan pemahamanku apa kau menikmati permainan itu hingga hendak membuka meja kembali. Dan aku, di sini, di depan meja yang kita kelilingi malam itu, aku duduk termenung menatap segelas minuman gas dan dibuat tersedak asap lembut, menunggumu datang membawa taruhan yang lebih gila. Aku masih menunggu, bertanya-tanya, sebentar tertawa, sebentar hendak menyulut mata biar tangisku beralibi lain. Bukan sebab kau tak datang.

Setiap pertemuan denganmu kini berasa permen asam-manis. Dulunya asin mendekati hambar. Biasanya kau datang menuang beberapa tetes kecap atau menabur gula pasir dua-tiga sendok. Cukup dengan senyum yang berbeda jika kau tampikkan padaku. Setelah itu aku akan lemas di dalam, tampakanku turut tertawa bersamamu. Entah kau rasakan gempa bumi tubuhku, atau tidak. Yang pasti jejeran kalimatmu, di meja itu, membuatku merasa kau hendak tahu setidaknya.

Sambil menulis ini, kakiku bergetar dan dingin menyayat, merangkak dari ujung jempol terbuka hingga ke pangkal paha. Apa yang terjadi. Apa yang kau tahu. Apa yang aku tidak ketahui. Semunya bermain kejar-kejaran dalam kepalaku. Tak jua berhenti gaungnya sampai ke tepi, tak seperti deburan ombak tepian kota Pare-pare dini hari pahitnya.

Setelah dua dini hari itu. sehabis kau nikmati aliran air mataku di pelipis kanan, yang menembus bantal putih, aku tidak melihat kau terharu, senang barangkali, katamu sangat sukar mendapati perempuan sepertimu menangis. Tampaknya kau tak ingin melewatkan kejadian itu begitu saja. Kenyataannya, mudah mengambil hati seorang perempuan yang tercungkil sedikit masa lalunya dan membuat ia mengharuinya semalu-malu. Kau hapal benar jurus itu. Aku yang mati rasa berbulan-bulan, selama itu kutempa perisai agar hatiku tak digali orang, mampu kau tembus hanya dengan katana berkarat. Kubilang berkarat, sebab tak mungkin jika ia mengilap kau ada di sampingku malam itu, mengajakku menandaskan segelas kopi hitam dan sambung-menyambung cerita tanpa prolog verbal.

Satu waktu, saat pertama kali melihat laki-laki sejenismu, aku tahu bahwa penyakitku membaik. Tidak lagi kudapati diriku terlena di sebaris jejak laki-laki matang yang telah memiliki-dimiliki orang lain ataupun pernah memiliki dan masih merasa memiliki. Senang rasanya kehilangan rasa bersalah hilang daya merecoki kehidupan bahagia orang lain, sebab memujinya meski tidak ada yang tahu selain Tuhan. Saat itu, aku melihatmu pertama kali. Seperti jawaban dari semua imajinasiku saat tak ada jarak lagi antara aku dan Tuhan, pun sejadah seolah melayang di antariksa. Tuhan memang seniman sejati. Mungkin Dia bosan mendengarku menceritakan imajinasi yang nyaris tak mungkin bagi kebanyakan makhluknya. Dia marah tertantang dalam tanyaku, “Tak sanggupkah Kau menciptakan manusia seperti itu?” Dia pertemukan aku denganmu di satu malam, satu malam biasa seperti malam berdingin dan berangin lebat yang kulewati berbulan belakangan. Kudengar Tuhan berfirman dalam kitab yang khusus Ia jatuhkan di tengah jalurku, “Masihkah kau meragukan kekuasaan dan kecintaanku padamu?” akan berlebihan jika tiba-tiba aku sujud syukur di tempat itu. Aku duduk saja, di sampingmu, kau tawari rokok dan kopi. Disusul percakapan yang bagiku sangat menyenangkan. Maka kitabku kini berisi surah-surah berdongeng. Serupa cerita Musa dipertemukan Khidir. Atau dongeng dramatik lain dirangkai Tuhan untuk hentikan tangis yang banjiri pelipis Rasulullah hampir setiap tengah malam.

Sudah bertahun-tahun, tak ada yang pantas kuberi kekaguman selain aktor berandal itu. Kau tahu dia, mungkin pula kau sukai. Saat itu, kau sederajat dengannya. Dan beberapa kalimat lagi, kau menempati urutan teratas. Kau bertahan lama di daftar nomor satu, sekarang hendak kutambahkan tanda + setelah nama lengkapmu. Daftar itu terletak di tengah kitabku.

Tak seperti kitab lain, yang melulu berisi ajaran kebaikan dan daftar tokoh protagonist-antagonis dalam satu surah. Semua antagonis terletak di surah tertentu dan kubuka sambil membakar sampah atau reranting dari pohon tangis. Nama lengkapmu juga tertera di sana. Harus kulakukan itu. sebab kau adalah makhluk setelah manusia dalam kitabku, kau iblis bersayap malaikat, atau kebalikannya. Memprediksikanmu sesulit memainkan gitar kidal. Aku harus memusuhimu. Mau tak mau. Ego kekaguman senantiasa membujuk untuk menghapus namamu, tapi aku harus membiarkannya tertera di sana biarpun kadang memandangnya membuatku hendak menebang seluruh pohon di bilangan timur Makassar. Kau adalah pujaan yang memiliki dan dimiliki biarpun serakah dalam hal kepemilikan. Dan aku si ingin memiliki yang dimiliki juga dalam keserakahan.
Ah, tak pernah kuduga akan seperti ini jadinya. Tak pernah ada tanda-tanda kau akan mengajakku bermain dua malam, bertaruh segala harta, bahkan melupakan permainan kumur-gumul itu dalam sekedip kelopak mata. Mungkin sempat kau transmisikan beberapa signal padaku, dalam tatapan pintas, perhatian mungil, pesan pendek, atau hanya dalam kebungkaman di satu sore berkopi tanpa teman-teman yang lain.

Aku memang pandai berimajinasi. Kejadian itu seringkali nyambung sendiri di ekor imajinasiku tentangmu. Kuharap saat itu otak kananku sedang berkhianat. Padahal tidak. Untung ada si otak kiri, muncul sebagai penengah dan mengusir hatiku kembali ke tempatnya. Dia bilang, “kau jangan bertindak bodoh”. Maka imajinasi tentangmu selalu berakhir dalam sebuah lukisan atau poster yang menempel di dinding hatiku, biar kau tetap berada dalam surah pujaan dan benci, bukan cinta. Surah tentang cinta sendiri, macet di wahyu tiga bulan lalu. Jadikan aku mati rasa sampai kau datang dengan aneka jenis bumbu dapur pribadimu.

Kini aku bersesal, lelaki. Mengapa begitu mudah menerima ajakanmu. Begitu mudah mengiyakan katamu, mengikuti instruksimu, bermain denganmu, bercerita denganmu, sampai bercinta dalam otak dan alam bawah sadar. Sebab kau menang, aku kalah, tangislah penutup permainan itu. Hadiahmu, seluruh diriku. Kau ambil dan teguk damai pagi itu lalu membersihkan diri dan semua memori sementara aku masih diendapi sampai detik kutuliskan ini. Bercerita kepada kawan dekat malah membuatku semakin digerogoti. Seandainya-seandainya pun bermunculan namun tapi-tapi selalu mengakhiri dan aku ditampar kurangajar-kurangajar.

Aku bilang padamu, aku jahat. Kau bilang padaku, aku terjahat. Ah, kita sama-sama penjahat yang dini hari itu kehabisan korban hingga saling menjahati. Kau lupakan rumahmu, kulupakan jalananku. Yang kita tahu hanya meja bermain dengan waktu seolah tak pernah berhenti. Dalam rangkulanmu aku tertahan, dalam manjaku kau nyaman. Jika kita membutuhkan tokoh si bodoh di sini, aku pun bingung harus menjadikan diri atau menjadikanmu. Yang aku tahu ada sebab lain yang membuat orang hilang akal selain cinta, yakni nafsu. Dan lagi, nafsu telah menggantikan definisi cinta semenjak pengkhianatan berhasil dijernihkan dengan kata manusiawi. Orang-orang mengibarkan bendera kemanusiaan sehabis berlaku binatang. Alasannya ada binatang dalam diri manusia, dan justru itu yang menguatkan kemanusiaannya. Tanpamu aku tak pernah mengerti pembenaran itu, dihembuskan dari desah nafas pengacara sekalipun.

Seharian ini, tiga meter di atas permukaan tanah, kunikmati segelas minuman sereal, music tipis dari ponsel biasa, dan wajah menatap langit langsung, aku terbawa dalam imajinasiku. Bersamamu. Aku berkali-kali ditampar kenyataan, namun selalu saja berhasil kembali dalam imajinasiku sampai aku tertawa di luar dan menangis di dalam. Kau adalah siapa-siapa bagi orang lain. Aku masih mencari siapa saja. Pagi itu membuatku tak konsentrasi sampai dini hari ketiga ini. Aku bertemu denganmu di tempat biasa. Sepertinya kau tidak membiarkanku menjauh dan kurang diperhatikan. Berkali-kali kucoba mencari tempat duduk jajahan sendiri, tidak bersamamu, aku sedang malas berkoalisi, namun kau memaksaku dengan tendensi halus memintaku terpaku saja di sampingmu biarpun kau sedang apa dan aku sibuk apa. Kelihatannya, yang jelas kau di sampingku.

Aku datang membawa gitar, langsung kau semprot dengan pertanyaan-pertanyaan dari mana, mengapa, apa kabar. Kujawab sekenanya. Lalu duduk di sampingmu. Serasa berada di tengah peperangan, granat silang-menyilang dilemparkan, seru-deru bising di sekitar tapi kita membuat damai sendiri tanpa perapian besar dan asupan gizi. Kau meraih gitar itu, menyetelnya untukku lalu memainkan beberapa lagu. Dalam tangkapanku, kau teringat akan permainan kita dan mencoba mencari-cari lagu kesenangan yang mampu membawaku mengingatnya pula. Petikanmu damai, ingatkanku pada seseorang yang mengajakku membangun sebuah rumah berkiblat dua. Tergelitik sedetik. Berada di sampingmu tak pernah membuatku lama humoris. Selalu melankolis berbungkus tawa kekeh mirip kuda nyengir memenangkan pacuan anyar.

Tadilah kusadari, memang kau pemain handal. Seperti dia yang meninggalkanku tanpa rasa bersalah itu. Apa nantinya kau gelari aku dengan kata “jijik” pula atau frasa semakna. Entahlah, bagaimanapun sikapmu nanti padaku aku telah menyusut lebih dulu. Kalau dahulu aku masih wajar memohon, bertangis sesal, dan menatap mata orang itu dalam-dalam sampaikan seribu ingin tak nampak. Sekarang ini, apapun tak layak kusampaikan padamu. Aku si terdakwa, sebenarnya kau si pelaku. Namun garis keberadaanmu menjadikanku kambing hitam yang pasti disetujui public berlatar belakang bagaimanapun.

Seharusnya aku tak begini. Tidak berniat menjadi lebih kurus, lebih dingin, lebih liar, lebih gelandang karenamu. Seharusnya keterbiasaan membuat semua bumbu bawaanmu serasa sama dengan penambah rasa yang lain. Namun ini beda, ini kau. Medannya berat, aku berhasil memasukinya dengan mudah bahkan dibekali kitab. Ini kau yang diberikan Tuhan untuk membuatku jera. Seharusnya andai-andaiku itu kugunakan untuk masa depan yang tidak ada kau. Seharusnya lagi tidak ada tulisan ini. Dan kalian tidak dibuat bertanya-tanya.

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 17