Cerita Patah Hati PDF Print E-mail
Written by Fandy Hutari   
Senin, 04 April 2011 20:08

Perkenalan. Mungkin inilah hal yang paling utama kenapa kita menjadi sedih saat berpisah. Aku terus menghisap berbatang-batang rokok. Merenung sendiri dalam kamar kontrakan milik sahabat. Katamu, kamu akan menungguku di sini. Ke kota impianku dari kanak-kanak. Kota yang mungkin akan kutinggali seumur hidup: Bandung. Menungguku untuk menjadi yang pertama untukmu. Sudi menemani hari-hariku yang tak seindah orang-orang seusiamu.

***

Saat itu, perkenalan kita tak wajar. Dari sebuah handphone dan situs jejaring sosial, kita terus berkomunikasi. Entah mengapa kita jadi saling mencinta. Katamu, kamu mencintaiku. Ingin menjadi bagian dari hidupku jika kita bertemu satu saat nanti.
“Kamu, datang ya minggu depan. Aku nunggu kamu di sini,” katamu menggoda. Membuat jantungku kembang-kempis.

“Iya, aku pasti datang kok…” jawabku meyakinkanmu.

Nah, otakku diracuni namamu mulai saat itu. Kamu, menjadi tikus yang menggerogoti 80 persen pikiranku. Dengan kata-katamu yang manis, aku bagai terhipnotis ke sebuah taman yang indah, lengkap dengan bunga dan kupu-kupu. Padahal, saat itu kita tak pernah sekalipun bertemu. Ah, perasaan yang aneh mungkin bagi separuh manusia bumi.

***

Aku berusaha untuk menemuimu sesuai janjiku. Hari demi hari ku kumpulkan rupiah demi rupiah dari proyek penulisan buku yang sedang ku garap. Kita masih berkomunikasi. Masih melontarkan janji-janji manis. Masih menyatakan perasaan yang membuat jiwaku melayang ke angkasa.                        

“Aku sayang kamu,” kalimat itu seringkali terdengar di ujung handphone kita berdua sebelum mimpi menguasai malam demi malam. Padahal, kita belum berkomitmen sebagai sepasang kekasih. Aku senang. Dan, ku kira kamu pun demikian.

Tapi, penyakit tiba-tiba menyerangku saat aku terbangun dari tidur. Aku terbaring lemah tak berdaya selama beberapa hari. Kita pun gagal bertemu di hari yang telah disepakati. Tentu kamu kecewa. Aku tahu itu. Pasti. Namun, aku berusaha bangkit dari sakit. Aku berusaha kuat meski demam mengerat erat-erat.        
Ketika itu, aku pun jarang menghubungi kamu. Sebuah pesan pendek ku kirimkan untukmu di tengah sakit yang masih mendekap tubuh.
“Kalau kamu bosan menungguku. Aku ikhlas kamu pergi dan tak menungguku lagi…” ujarku dalam bahasa tulis.
Tentu kamu kecewa. Aku tahu itu. Pasti. Namun, aku mengungkapkan itu agar kamu tak terlalu mengharapkan aku berada di sana. Aku takut seumur hidup tak pernah ke kota yang kita janjikan memadu kasih itu.

***

Seminggu berlalu. Aku merasa jarak makin terasa renggang. Mungkin kamu pun merasakan begitu. Dan, aku pun meluncur ke kota ini. Berbekal sedikit uang yang kupunya. Berbekal harapan yang pasti aku pegang. Berbekal janji yang tak mungkin aku khianati. Bus pun meluncur pasti ke kotamu.

***

Matahari bulat penuh. Andai ini gambar anak-anak TK, mungkin matahari itu Singkatnya, kita pun bertemu saat aku hendak berusaha mencari nafkah. Kamu senang. Jangan tanya aku bagaimana. Aku pun begitu. Dengan kuda besi berwarna biru, kamu bawa aku ke sebuah perusahaan tempatku kelak menggantungkan hidup. Keliling kota ini. Kuda besimu meliuk-liuk di antara angkutan kota yang sewaktu-waktu berhenti mendadak, mobil-mobil mewah, dan perempatan lampu merah. Dengan kuda besi, kamu bawa aku ke dataran tinggi di Bandung timur sana. Kita berkisah. Apapun itu. Senja perlahan turun mendekap. Akhirnya, terungkap sebuah pengakuan. Katamu, aku salah telah menenggelamkan asa terlalu lama, hingga datang seorang pangeran dari masa lalu mu menawarkan cinta yang lain. Aku berusaha menerima, meskipun rasanya sakit teramat sakit. Ya, memang dia mungkin lebih baik dari aku yang hanya kuli tinta tak berguna. Kamu menangis. Aku usap saat air matamu hendak jatuh ke bumi. Aku cium keningmu sebagai tanda rasa sayang yang sudah merasuki hatiku. Membuat perasaanku padamu akut dan hampir sekarat. Kita menatap kota Bandung. Aku lihat, gedung-gedung di bawah sana terasa runtuh. Kita pun berpisah, dan berjanji untuk bertemu kembali.

Kita bertemu kembali. Tapi, wajahmu terlihat pucat pasi dan kaku. Ibarat mayat yang baru terbangun dari mati suri. Pengakuan lebih perih itu pun tiba. Aku ibarat tersambar petir di siang bolong. Katamu, kamu sudah mengikat hubungan dengan pangeran dari masa lalu mu itu. Apa lacur. Aku tak kuasa menahan gelegar emosi dalam dada. Aku katakan semua yang aku rasakan. Entah, kamu merasakan apa. Kamu hanya membisu. Aku berikan sebuah boneka jerapah yang katanya kamu suka. Tapi, kamu malah pergi dari sampingku. Dan, boneka itu pun kamu lepaskan dari genggamanmu. Aku tertunduk. Aku merasa kita sedang berada di sebuah acara Film Televisi yang biasa disiarkan televisi swasta setiap hari. Aku merasa kita sedang akting dalam layar kaca. Ternyata ini bukan rekayasa. Ini adalah kenyataan yang harus aku terima dengan lapang dada. Ya, itulah doktrin yang selalu kuterima jika sedang berada pada situasi genting. Angin memndesis perlahan. Siswa-siswa SMA yang sedang studi tour melewati tempatku tertunduk begitu saja. Ah, mereka tak mengerti perasaanku.

Lagi-lagi, harapanku pupus di kota ini. Seperti de javu beberapa waktu lalu. Walaupun jauh berbeda. Mungkin aku sudah kebal dengan rasa sakit yang terus menerus menimpaku bertubi-tubi. Tapi, kali ini lain. Sungguh. Satu hal yang pasti, aku tak pernah menyesali pengorbanan. Secuil pun tak pernah. Malah, aku puas telah membuktikan apa yang pernah aku katakan sebelumnya. Ya, aku berhasil membuktikannya cuma untuk: kamu. Peduli setan orang mengatakan hal ini sebagai apa.                    

Huh, pasangan baik, mudah dicari. Tapi pasangan yang terbaik mungkin cuma kita temukan sekali seumur hidup. Begitu saja yang terlintas di pikiran. Sambil kulumat sebatang rokok ini di dalam asbak yang sudah pecah pinggirnya. Asap mengepul ke seisi ruangan. Aku masih sendirian terbaring di sini. Mendengarkan alunan lagu-lagu romantis dan patah hati. Ada malaikat merajut jaring laba-laba di sudut kamar. Perlahan, dia mendekat dan berkata: tak ada yang salah dengan kalian. Yang salah cuma perkenalan.

Saat malam jahaman makin menikam, tiba-tiba aku muntah. Puh! Urat-urat lambungku yang semakin rusak tak bisa lagi menahan makanan yang aku telan tadi sore, Margianna...

Kiaracondong, 20-21 Maret 2011.

Fandy Hutari, lahir di Jakarta 17 Agustus 1984. Penulis buku, esai, dan cerpen. Pernah menjadi editor, reporter, ghostwriter, dan penulis di sebuah agen naskah. Saat ini bekerja sebagai editor dan penulis di Penerbit Angkasa Bandung. Buku yang sudah dipublikasikan: Sandiwara dan Perang; Politisasi Terhadap Aktifitas Sandiwara Modern Masa Jepang (Ombak, 2009), Ingatan Dodol (IMU, 2010), Imajinasi Bumi (Hasfa Arias, 2011), dan Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal (dalam proses penerbitan Insist Press). Esai dan cerpennya tersebar di berbagai media, seperti Kompas Jawa Barat, Galamedia, majalah Gong, majalah Mata Jendela, majalah Tapian, Buletin Sastra Pawon, indonesiaseni.com, Republika, kompas.com dan lain-lain. Bisa dikontak di Facebook: Fandy Hutari ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ) dan email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it .