Cerpen: Tamu PDF Print E-mail
Written by Tilarso   
Jumat, 20 Mei 2011 08:59
Wanita jelita yang baru saja dipersilahkan duduk, menyeret ingatan Narti pada wajah yang ia rindu cukup lama. Wajah seorang lelaki yang telah menurunkan tiga buah hati nan lucu-lucu yang sedang pergi bermain bersama teman-temannya. Wajah jelita wanita itu sangat mirip dengan wajah tampan suaminya. Bahkan ia seolah merasakan genggaman tangan suaminya saat menjabat tangan tamunya, dan ia seakan menemukan hebusan nafas yang pernah akrab di wajahnya saat pipinya menyentuh pipi tamunya, saat sang tamu baru tiba.

Kini, Narti sedikit percaya pada omongan orang-orang tua dulu yang mengatakan bahwa bila seekor kupu-kupu masuk ke rumah, dalam waktu dekat aka nada tamu bertandang. Ia ingat, kemarin ia mendapati seekor kupu-kupu sedang bertengger di sandaran kursi di ruang depan rumahnya. Di ruang itu, ia biasanya menerima tamu lalu ngobrol sambil minum teh ditemani satu toples makanan ringan. Kupu-kupu kemarin itu bersayap indah. Warna sayapnya hijau dan bercorak menyerupai lambang cinta di kedua sayapnya. Saat ia mendekat, kupu-kupu buru-buru terbang keluar ruangan. Biarpun tak percaya bahwa bila seekor kupu-kupu masuk rumah pertanda ada seseorang yang akan datang, tapi kemarin ia berharap suaminya yang telah dua tahun tak pulang, beberapa hari nanti akan pulang menengok dirinya dan ketiga buah hati mereka.

Sembari terus menebak-nebak siapa gerangan tamu yang memunculkan kekaguman sekaligus tanda tanya karena kemiripan wajah sang tamu dengan wajah suaminya, Narti menyeduh dua cangkir teh untuk tamu dan dirinya, di dapur. Diambilnya toples yang berisi keripik pisang yang kemarin baru dibuatnya untuk mengisi waktu luang, buat suguhan.

“Siapa tamu itu, Nak?”, tanya ibunya saat Narti sedang membawa suguhan buat tamunya.

“Dia bilang teman Mas Anto, Bu.”, jawab Narti.

“Kamu masih berharap suamimu kembali? Ia telah menelantarkan kalian. Dan kamu berhak menggugat cerai Anto.”, ibunya kembali mengingatkan. Narti telah berkali-kali mendengar kalimat serupa ini. “Pikirkanlah ajakan Jarwo untuk berumah tangga denganmu!”, lanjut ibunya sambil menyebut seorang duda kaya di desanya yang sejak beberapa bulan ini menaruh hati pada Narti. Tapi Narti telah berlalu menemui sang tamu.

 

Tak berapa lama, obrolan pembukapun pecah. Sementara sang tamu lalu bicara mengalir, Narti terus melekatkan pandangan pada wajah sang tamu demi rasa penasarannya. Ia  terperangah saat sang tamu menyebutkan namanya sebab hanya beda satu huruf dengan nama suaminya. Suaminya bernama Susanto sedang tamunya Susanti.

“Panggil saya Santi saja, Mbak.” Saat Narti akan memberitahukan namanya, sang tamu mendahului, “Saya sudah tahu nama Mbak. Winarti, kan? Biasa dipanggil Narti. Mas Anto yang kasih tahu.”

Tiba-tiba ada kecemburuan menyeruak dari dada Narti. Namun ia kendalikan rasa cemburu itu agar tak beralih ke wajah dan akan terbaca oleh Santi, wanita yang kini bukan saja wajahnya namun namanya pun mirip dengan nama suaminya. Ia hendak bertanya bagaimana Santi mengenal suaminya, dan yang lebih ingin ia tanyakan adalah dimana sekarang dan bagaimana keadaan suaminya, juga mengapa tak pulang hingga begitu lama. Namun sebelum sepotong katapun terlontar dari mulutnya, Santi seketika melanjutkan bicara. “Saya dan Mas Anto sudah lama saling kenal.”

Kecemburuan Narti pada sang tamu kian lebam. Bengkak dan membiru. Namun sekuat daya ia kendalikan agar rasa cemburunya tetap di dada.

“Saya memaklumi kalau Mbak Narti cemburu pada saya. Tapi percayalah, Mbak. Saya tak punya hubungan sebagai lawan jenis dengan Mas Anto. Kami hanya berteman. Kami sungguh cuma berteman.”

Agak mereda kecemburuan Narti mendengar kalimat itu dan dibiarkannya Santi bercerita sementara pandangannya tak lepas pada wajah Santi yang jelita itu, membuat Santi lalu membenamkan wajahnya di bunga-bunga ornamen taplak meja.

“Saya tak akan lama, Mbak. Saya masih ada perlu dengan seseorang di kota Tasik. Saya hanya mau menyampaikan titipan dari Mas Anto ini pada Mbak Narti.”, kata Santi sambil menyodorkan amplop coklat yang baru diambil dari tasnya. Bila dilihat sekilas amplop coklat itu sepertinya berisi uang yang lumayan banyak jumlahnya.

Agak ragu ia menerima amplop itu sambil berucap, “Kenapa bukan Mas Anto sendiri yang mengantarnya? Apa dia tak kangen biarpun cuma sama anak-anaknya?”

“Saya hanya diminta menyampaikan itu saja,” jawab tamu itu sembari menunjuk amplop yang baru berpindah ke tangan Narti. “Dia hanya berpesan, Mbak agar bersabar dan rawatlah anak-anak dengan baik.”

 

Telah hampir dua tahun sebagai seorang ibu, Narti sabar dalam merawat anak-anaknya, sejak Susanto, suaminya, meninggalkan mereka saat anak-anak telah pulas setelah puas bermain seharian. Selepas Isya, sang suami berpamit, hendak kembali ke Jakarta. Sengaja dibiarkan anak-anak tak tahu akan kepergian ayah mereka malam itu, karena malam sebelumnya, anak-anak serempak menangis menahan kepergian ayah mereka saat dipamiti.

 

Beberapa tahun yang lalu keluarga mereka berada dalam lingkup kebahagaian, ketika masih tinggal di Jakarta. Sebagai seorang supervisor di sebuah perusahaan distributor produk kesehatan dan kecantikan, penghasilan sang suami cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dari jajan anak-anak hingga belanja kebutuhan sehari-hari tak pernah kekurangan. Apalagi Narti sendiri pandai mengatur uang yang dipercayakan suami.

 

Dulu Narti pun pernah bekerja sebagai kasir di sebuah apotik. Di apotik tempatnya bekerja, ia mengenal Susanto yang kelak menjadi suaminya setelah berpacaran hampir tiga tahun. Sebagai supervisor, secara periodik Anto, -begitu Narti diminta memanggilnya, ikut salesman yang berada dalam tim yang dibawahi Anto, ke apotik-apotik atau toko-toko kosmetik yang menjadi relasi perusahaan tempatnya bekerja. Salah satunya ke apotik tempat Narti bekerja. Pertama kali melihat Narti, hati Anto seketika tertambat. Pertemuan kedua, mereka saling bertukar nomor ponsel. Selanjutnya pertemuan demi pertemuan kian merekatkan hati mereka. Dan puncaknya, Anto meminang Narti, yang dengan senyum mekar menerima pinangan itu. Orangtua Anto beserta beberapa kerabat dekat berangkat dari Pemalang menuju rumah calon besan di Tasikmalaya untuk berembug menentukan tanggal yang menandai dihalalkannya hubungan sepasang kekasih, putra-putri mereka.

 

Sepuluh bulan setelah pernikahan, buah hati pertama lahir melengkapi kebahagian pasangan muda itu. Tangis dan tawa seorang bayi perempuan mulai mewarnai hari-hari mereka dan menjadikan kian semarak suasana rumah. Pekerjaan Anto masih baik-baik saja. Narti masih bisa bekerja. Anak diasuh tetangga tentu dengan menggajinya. Pukul 8.00 dititipkan dan diambil saat malam mereka pulang. Mobil inventaris yang diterima Anto dari perusahaan memudahkan mereka untuk pergi dan pulang bekerja bersama-sama. Dua tahun kemudian seorang bayi perempuan hadir  lagi menambah kian berwarna rumah kontrakan mereka.

 

Namun seiring keadaan ekonomi dunia yang tengah limbung, di perusahaan tempat Anto bekerja pun terjadi pengurangan salesman. Lalu dilakukan perampingan tim pemasaran karena daya beli relasi menurun. Penurunan jabatan tak terhindarkan. Imbasnya jabatan supervisor yang disandang Anto berganti salesman. Mobil kembali diambil dan motor sendiri kembali digunakan. Narti telah meninggalkan pekerjaan karena dua anak mereka tak tega untuk dititipkan ke pengasuh. Maka Antopun  harus rajin untuk mencapai target biar peroleh bonus saat gajian demi keluarga yang kian bertambah anggotanya yang mesti diberi makan. Sampai tahap ini keharmonisan mereka belum tergoyahkan.

Namun tahun berikutnya istri kembali berbadan dua dan sembilan bulan kemudian seorang bayi laki-laki dilahirkan. Perusahaan tempat Anto bekerja jatuh pailit disebabkan penagihan ke relasi kian sulit karena daya beli masyarakat makin terjepit. Anto, seperti semua karyawan di perusahaan itu, pun tak bisa berkelit dan harus menelan pil pahit: tak bekerja lagi alias menganggur.

 

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, Narti dan ketiga anak mereka harus hidup di desa, tinggal di rumah orant tua Narti di Tasikmalaya. Anto membekali Narti dengan uang hasil dari penjualan motor. Anto sendiri merasa tak nyaman dengan mertua yang punya usaha penggilingan padi. Namun mesin penggiling padi milik mertuanya sudah tua dan kerap ngadat sehingga beras yang dihasilkan pecah-pecah akibatnya jarang yang mau menggiling gabah di situ. Karena jarang pelanggannya, penghasilan yang didapatpun sekedar untuk belanja sehari-hari. Kadang malah tak bersisa setelah dibelikan solar. Keadaan inilah yang memaksa Anto ingin kembali ke Jakarta. Biarpun ikut membantu usaha mertuanya, tetap saja perasaan tak nyaman tak bisa disingkirkan dari diri Anto mengingat minimnya penghasilan dari usaha itu. Dan pergilah Anto malam itu saat anak-anak tengah pulas.

 

“Mbak, anak-anak pada kemana?”, pertanyaan Santi memotong sekelebat bayangan masa-masa saat Narti masih bersama suami.

“Lagi main semua.”, jawab Narti terbata.

“Mas Anto minta saya foto anak-anak. Buat dipandang saat dia kangen, katanya. Antarkan saya ke mereka, Mbak. Sekalian saya pamit. Saya sudah ditunggu orang yang mau saya temui.”, pinta Santi.

Nartipun membawa tamunya itu ke tempat anak-anaknya sedang bermain. Ia tak menyadari saat pandangan Santi amat menusuk dirinya begitu dalam, karena ia berjalan mendahului Santi. Mata Santi seketika berkaca-kaca namun dengan cepat disekanya rembesan sedihnya sebelum mengaliri pipinya yang dipoles make up agak tebal. Santi khawatir Narti akan melihat kesedihan itu.

 

Begitu melihat Santi, anak-anak pun bereaksi seperti ibu mereka, tertegun saat melihat wajah Santi yang nyaris sama dengan ayah mereka, wanita yang baru saja diperkenalkan oleh ibu mereka sebagai teman ayah mereka.

Santi mengigit bibir saat melihat ketiga anak itu, seperti ada perih yang tiba-tiba tergores dihatinya. Perih yang belum pernah ia rasakan. Perih yang begitu dalam melukai hatinya.

“Ini pasti Dewi, ini Wulan, dan yang jagoan ini Tabah kan? Ayah kalian yang kasih tahu nama-nama kalian.”, tanya Santi sembari menyembunyikan kegalauan, pada ketiga anak itu lalu dijawab mereka dengan anggukan. “Sini difoto buat ayah di Jakarta. Sekalian sama ibu, ya. Sini Mbak!”, ajak Santi pada Narti dan anak-anak.

 

Lalu ketiganya berjejer. Sebelah kanan anak pertama yang bernama Dewi, di tengah Wulan anak kedua, dan si bungsu Tabah di sebelah kiri. Di belakang, berdiri ibu mereka dengan tangan seperti hendak merangkul ketiga anaknya. Dengan perasaan perih juga galau, Santi beberapa kali memotret mereka menggunakan kamera di ponselnya.

Dan setelah dirasa cukup mengambil gambar anak-anak dan ibunya, Santi pun berpamitan dan menyempatkan diri mencium anak-anak dan Narti. Dan Narti merasa begitu dekat dengan suaminya saat kedua pipi mereka saling bersentuhan seperti saat Santi baru datang tadi. Santi pun merasakan desakan yang hebat seakan hendak meluap lewat dekapan tangannya. Namun ia berusaha menahan sekuat daya luapan itu.

 

Setelah tukang ojek menghilangkan Santi dari pandangan dengan motornya di tikungan jalan desa, Narti kembali ke rumah dan membiarkan anak-anaknya meneruskan bermain dengan teman-teman mereka. Tiba-tiba Narti sadar, ia lupa menyinggung perihal kemiripan wajah Santi dan wajah suaminya. Rasa kagum yang begitu tebal dan keinginan segera mengetahui isi amplop coklat yang baru diterima dari Santi, menutupi ketenangannya hingga ia lupa.

 

Agak gemetar ia membuka amplop coklat titipan suaminya itu dan langkah terkejutnya saat ia mendapati lembar-lembar uang pecahan seratus ribu rupiah dalam jumlah yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Niat untuk menghitung jumlah uang itu ia urungkan demi mendapati sebuah amplop putih yang ia yakini sepucuk surat dari Anto suaminya. Dirobeknya sisi amplop lalu dibacanya isi surat tersebut dengan dada tak karuan.

 

“Istriku yang tercinta, Saya selalu berharap kau dan anak-anak kita selalu dalam keadaan baik-baik, lewat doa-doa yang kerap aku panjatkan kepada-Nya.” Kalimat pembuka yang seketika menumbuhkan kesedihan dan keharuan juga kebahagian yang berbaur lalu meleleh dari kelopak mata Narti. Bauran perasaan-perasaan itu terus melumuri hatinya seiring kata demi kata dalam surat yang ia cerna.

 

Dalam suratnya Anto bertutur, setelah kembali ke Jakarta Anto tak henti-hentinya mencari pekerjaan. Uang bekal yang tak seberapa habis dalam beberapa hari. Anto kerap menjarangkan diri mengisi perutnya demi menghindari hutang. Demi istri dan anak-anak, ia bertekad untuk mendapat pekerjaan apapun. Setelah sekitar empat bulan mondar-mandir dan keluar masuk kantor-kantor, ia secara tak sengaja bertemu seorang perempuan pemilik toko komestik yang dulu ia kenal saat masih bekerja di perusahaan distributor produk kesehatan dan kecantikan. Toko kosmetik milik perempuan tersebut dulu salah satu toko yang sering ia kunjungi saat masih menjadi supervisor atau salesman karena pembelian toko tersebut akan produk-produk kecantikan yang ia pasarkan lumayan besar. Setelah sedikit bercerita akan keadaan dirinya, ia ditawari bekerja di salon yang juga milik perempuan itu. Perasaan amat senang membuat Anto langsung mengiyakan tawaran itu.

Gaji pertama yang Anto terima ia gunakan untuk membayar kost sendiri. Selama tiga bulan ia menumpang di kost temannya. Biarpun temannya itu masih bujangan dan baik terhadap dirinya, tapi ia tak mau terus-terusan numpang gratis. Untuk menghemat ongkos, ia mencari kost di daerah dekat salon.

 

Mata kian sayup, pipi kian kuyup oleh linangan keharuan yang deras mengalir, Narti terus menelusuri baris-baris kata di surat itu.

 

Anto pun bercerita, ia sebenarnya merasakan tak nyaman pada suasana di salon. Awalnya ia berusaha untuk tak peduli dengan beberapa karyawan pria yang setiap hari berlaku gemulai, sebab ia telah tahu karyawan salon pria banyak yang bertingkah demikian. Cara bicara dan gerakan mereka mirip wanita. Lembut juga lambat tapi agak nakal. Tapi mengingat sulitnya mendapat pekerjaan di ibukota, ia pun terus bertahan. Hingga tibalah hari yang naas itu yang telah merubah kepribadiannya.

 

Hari itu, hari yang tanggalnya tak akan Anto lupakan, salah seorang rekan kerja berulang tahun dan untuk merayakannya digelarlah sebuah pesta kecil setelah salon tutup, di rumah rekan yang berulang tahun. Ia bermaksud tak ingin ikut, namun rekan yang berulang tahun memaksanya ikut dan ia pun akhirnya menuruti ajakan paksa rekannya itu. Di pesta itu, ia meminum coke yang tanpa sepengetahuannya telah dibubuhi obat perangsang oleh salah seorang rekan pria yang bertingkah serupa wanita yang menaksir dirinya. Pesta berakhir hingga larut malam.

 

Narti menajamkan matanya lalu menacapkannya pada bagian ini.

 

Anto berniat pulang tapi karena angkutan masal sudah tak ada dan tak punya cukup ongkos untuk naik taksi, akhirnya Anto menginap bersama beberapa rekan, salah satunya rekan yang tadi memasukkan obat perangsang di minumannya. Mereka tidur di lantai atas. Agaknya ini sudah direncanakan oleh rekan yang naksir Anto dengan rekan yang berulang tahun. Tak lama kemudian, satu persatu turun dari lantai atas dan tinggal Anto yang mulai gelisah oleh obat perangsang yang mulai menyusuri aliaran darah hingga hinggap di otak, bersama rekan penaruh obat perangsang. Perlahan tapi terus mendesak, hasrat bersetubuh Anto kian hendak meluap. Berbulan-bulan jauh dari istri terlebih akibat pengaruh obat perangsang membuat birahinya kian membuncah. Rekannya membaca gelagat yang telah diharapkan itu lalu mendekat kemudian mendekap Anto. Anto menolak namun rekannya terus mendesak. Beberapa kali Anto menolak  namun rekan kian gigih mendesak. Hingga  terjadilah ledakan laknat itu di jalan yang bukan biasanya.

 

Jantung Narti bergemuruh. Getaran hebat melanda tubuhnya. Ia ingin sekali merobek-robek surat yang ia cengkeram, namun ada beberapa baris kata lagi yang membuatnya menahan diri.

 

“Aku malu untuk menemui kalian. Bahkan untuk mengirim uangpun aku tak bernyali karena perasaan berdosa yang amat sangat. Uang yang baru kau terima aku kumpulkan dari gajiku tiap bulan, juga tip yang aku terima dari pelanggan setiap hari. Gunakan uang itu untuk keperluan kau dan anak-anak sebab aku yakin itu uang halal.

 

Mungkin suatu saat akan tumbuh keberanian atau lebih tepat rasa malu yang kupunya hilang sehingga aku bisa menemui kalian. Namun keberanian yang kuharap tumbuh tak pernah terjadi dan rasa malu yang kupunya tak pernah hilang hingga sekarang.

 

Tapi  aku tak sanggup lagi menahan kerinduan pada kau dan anak-anak, maka aku lakukan cara gila. Untuk menemui kalian, aku menyamar sebagai Susanti…”

 

Nyawa Narti serasa lepas lalu menjerit sejadi-jadinya sebelum akhirnya pingsan…

-o0o

 

Kemayoran, Mei 2011