Tak Ada Akhir PDF Print E-mail
Written by meri kusmayanti   
Kamis, 11 November 2010 09:26

Suasana dingin itu mulai luntur. Aku mulai merasakan kahangatan tepat menyentuh ujung jari-jariku. Menyusup perlahan ke dalam urat nadiku. Barbaur dengan darahku . Hingga akhirnya menyebar di sekujur tubuhku. Ya. Itu yang ku rasa ketika dia memeluk dan menyentuh bibirku dengan bibirnya yang lembut. Hembus nafasnya begitu lirih di telingaku. Degup jantungnya mampu getarkan hatiku. Semakin erat dia memelukku, semakin tak kuasa aku untuk lepas dari pelukannya. Aku terhanyut perlahan.

BRAAAAK!!!!!!!!!

Suara itu memecahkan suasana indah yang tercipta. Aku terperanjat. Mataku terbalalak. Ku perhatikan sekelilingku, tak ada yang berubah. Hanya saja wajahku memerah saat mereka memandangku sambil tertawa dan sosok yang tegap dengan wajah marah berdiri tepat di depanku. Kumisnya yang hitam dan lebat tampak membuatnya lebih garang. Pak Tono, dosen Psikologi. Rupanya beliaulah yang telah menggebrak mejaku. Ya itu memang dia.

“KE LUAARRR….!!!!!!!!!” Begitu teriaknya padaku. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun aku keluar dari kelas Psikologi itu. Menyebalkan. Begitulah pikirku. Mangapa aku tak bisa mengendalikan diri. Baru kali ini aku membuat diriku malu.

HUAAAAMH… rasa kantuk terus menggangguku. Sepertinya ada lem yang merekat kedua mataku. Aku mencubit tanganku untuk menghilangkan rasa kantuk yang semakin menjadi. Aku pergi ke kantin untuk minum secangkir kopi sebagai upaya menghilangkan rasa kantuk. Seteguk demi seteguk kopi itu masuk ke dalam mulutku, malewati kerongkonganku, lalu perutku. Ku rasakan setiap alirannya. Begitu hangat.

Kantukku perlahan menghilang. Ku sebarkan pandanganku ke setiap sudut dan terhenti di satu titik, di mana ada seseorang yang tengah duduk di sana. Dan…aku pikir aku mengenalnya. Aku pernah melihat dia. Tapi di mana. Ku kerutkan dahi. Ku perhatikan dia yang kini tepat berada di hadapanku. Ya, karena aku merubah posisi dudukku. Dia tersenyum saat melirik ke arahku. Wajahku memerah. Aku benar-benar malu. Aku pun tersenyum. Tapi senyumku tak bisa ku kembangkan lagi ketika seorang perempuan menghampirinya dan mencium pipinya.

Hmmmh… sungguh sial! Bukan pemandangan seperti itu yang aku harapkan. Seandainya saja dia menghampiriku. Sungguh. Itu yang aku inginkan, Tuhan.

Aku kembali duduk pada posisiku semula. Membelakangi pria itu. Hatiku terus menggerutu. Seperti tak bisa menerima apa yang terjadi. Tapi…ini memang nyata. Lagi pula siapa yang perduli. Aku tidak mengenalnya. Begitu juga dia, tidak mengenalku. Jadi, tidak ada yang harus dipermasalahkan bukan?

Tapi, dia benar-benar membuat aku terpesona. Sayang, ada perempuan yang menghampirinya. Ergggh… dia membuat pikiranku kacau. Tak mungkin aku tertarik pada pria yang belum aku kenal. Terlebih dia sudah mempunyai kekasih.

Aku masih diam di tempat dudukku. Sedangkan pasangan itu sudah pergi beberapa menit yang lalu. Aku masih tak habis pikir dengan apa yang ada dalam otakku. Aku tak bisa membiarkan apa yang aku rasakan merusak akal sehatku. Ku lirik jam tanganku. Oh Tuhan… aku terlambat masuk kelas Sastra. Aku berlari secepat mungkin. Ku dengar suara seseorang mengikutiku. Dia terus memanggil-manggil.

“Neng…! Neng…!” begitu teriaknya. Aku melihat ke sekitarku. Tapi tak ada seorang pun kecuali aku. Dan itu membuatku yakin kalau suara itu memanggilku.

“Ya… Mamang manggil saya?”

“Ya, iya atuh Neng. Memangnya ada orang lain selain Neng ini.”

“Ada apa Mang? Saya sudah telat masuk kelas nih….”

“Maaf Neng, tapi Neng Geulis teh belum bayar kopinya.” Dengan nafas terengah-engah Mang Udi (begitu orang memanggilnya) memberitahu maksud dia mengejarku.

“Oh, begitu ya Mang?” wajahku kembali memerah. “Maaf mang, soalnya tadi saya buru-buru. Ini Mang. Kembaliannya ambil saja. Maaf ya.”

Aku kembali berlari. Huh. Hampir saja aku tersandung anak tangga yang ku naiki. Akhirnya aku tiba di pintu kelas itu.

“Permisi Bu,” aku mencoba mengatur napas. “Maaf, saya terlambat.”

“Oh, ya. Tidak apa-apa.” Dosen itu menghampiriku yang kini berdiri tepat di depan kelas. Lanjutnya, “Anda ini mahasiswa baru ya?” dahinya mengkerut. Kedua matanya terus memperhatikan wajahku. “Sepertinya saya baru melihat Anda.”

“Saya sudah semester 7 Bu.”

“Oh…begitu. Apakah ada mata kuliah yang harus Anda ulang saat ini?”

“Mengulang?” aku terheran-heran.

“Ya.”

Dengan perasaan ragu aku bertanya, “Bukankah ini kelas Sastra, Bu?”

“Maaf, dengan percaya diri saya katakan…BUKAN!” Wajahnya tampak sedikit kesal padaku, karena merasa terganggu dengan kehadiranku. “Ini kelas Ba-ha-sa. Jadi, Anda salah masuk kelas.”

“Kalau begitu maafkan saya Bu, permisi.”

Lagi-lagi wajahku memerah. Kali ini lebih parah dari sebelumnya. Ku bayangkan warna wajahku, merah padam. Ku rasakan ponsel ku bergetar. Ada pesan rupanya.

“Cleo, spt’y U tlat lg y…kls udh slsai. U dsruh m’hdap Bu Irma skrg. M’f, aQ gk bsa nunggu U, jd aQ pulg dluan y…(Purry)”

Huh...!!! Ada apa lagi ini???? Semua ini benar-benar membuatku STRESS.

Ku ayunkan kaki menuju ruang dosen. Aku mendapati Bu Irma tengah duduk di kursinya yang empuk itu. dengan sedikit bersandar di sandaran kursi Bu Irma menggoyang-goyangkannya.

“Permisi, Bu...! Apakah Ibu memanggil saya?”

“Ah, ya. Silahkan.” Bu Irma mempersilahkan aku untuk duduk. “Emm...begini,” lanjutnya, “Sebenarnya saya merasa heran dengan Anda. Anda sering kali telat masuk ke kelas saya. Dan... mengapa Anda tidak masuk hari ini?”

“Saya minta maaf Bu, saya sudah berusaha untuk masuk tepat waktu. Tapi, tetap saja saya terlambat.” Aku berhenti sejenak untuk menghirup udara. “Dan...untuk yang tadi saya mengaku saya salah, dan...”

“Dan???”

Sebelum aku menjawab, Bu Irma kembali berkata, “ Apa pembelaanmu?”

“Tidak ada, Bu.”

Aku hanya diam saja di hadapan Bu Irma. Mana mungkin aku mengatakan kalau aku memang berada di kantin saat Bu Irma masuk. Bisa-bisa aku dibabad habis olehnya. Pasti aku akan dimarahi habis-habisan. Jadi, aku lebih memilih diam.

Tanpa banyak bicara, Bu Irma mempersilahkan aku untuk segera meninggalkan ruangannya. Tapi, bukan berarti aku bebas. Bu Irma memberiku tugas-tugas yang begitu banyak. Dan aku harus menyelesaikannya malam ini karena besok aku harus kembali menghadap Bu Irma untuk menyerahkan tugas itu.

***

Aku tak berani melihat jam dinding di kamarku. Aku menullis, menyusun kata demi kata, kalimat demi kalimat, sampai pada akhirnya aku bisa menyelesaikan sepuluh essai. Tapi itu belum selesai. Masih ada lima essai lagi yang harus aku tulis. SUNGGUH MELELAHKAN...!!!!!!

Tanpa aku sadari aku tengah terlelap. Setumpuk kertas menemaniku tidur malam ini. Begitu nyenyak. Meski aku tak berbaring, tapi sesuatu yang indah kembali membuaiku dalam mimpi. Kali ini aku memimpikan laki-laki yang aku lihat saat di kantin siang tadi. Tak perlu aku ceritakan bagaimana aku memimpikannya.

***

PLAK!!!!!!!

Sebuah pukulan mendarat di pipiku. Sakit! Seekor nyamuk telah menggigitku. Ku tatap semua sudut ruangan itu. semua masih tetap sama. Tak ada yang berubah. Perlahan aku lirik meja yang tepat menghadap ke jendela dengan sudut mataku. Kosong. Semua masih tertata rapi. Tak ada kertas yang menumpuk.

Tak ada yang ku rasa selain hembusan angin yang meniupku dari jendela. Ku turunkan kakiku, dan mengayunkannya menuju jendela. Ku tutup rapat-rapat. Kini aku merasakan ketenangan dalam diriku. Semua yang terjadi hanya tinggal cerita kosong.

***SELESAI***