Beranda Senja PDF Print E-mail
Written by MA Vip   
Selasa, 19 Juli 2011 15:08
Duduk saling menyebelah di beranda masjid dua wajah yang sepertinya tengah menunggu atau berharap sesuatu itu saling menimpali dalam bicara. Tak ada senyum apalagi tawa. Mata mereka yang menatap ke halaman jelas tak menampakkan kesan bahagia walau selintas. Sedangkan waktu yang terus melaju, kini telah di ambang senja. Di beranda yang berlantai dingin itu,  terasa jelas hawa panas di mulut mereka.


Mata mereka selalu awas setiap kali ada penjaga masjid tampak di depan melintas. Orang-orang yang terus berdatangan untuk sholat maghrib tentu saja tak lepas dari lirikan  dan akan benar-benar disimak gerak-gerik mereka yang tampak berpakaian bagus. Untuk anak-anak bagaimanapun menyenangkannya, sepertinya menyebalkan.
Yang berkepala botak bergamis putih kusam kecoklatan dan berjanggut putih lebat tiba-tiba sigap berdiri dengan diikuti ocehan tak jelas, merentangkan kedua tangannya yang salah satunya menggenggam tasbih yang semua itu membuat si rambut kusut terdongak dengan wajah penuh tanda tanya. Si botak melangkah tiga kali ke depan, menendangkan kaki kanannya, lalu memutar tubuh dan melangkah kembali kemudian membanting pantatnya ke lantai. Si rambut kusut yang memperhatikan tingkah lakunya itu hanya tersenyum, sejenak,  kemudian  kembali memasang wajah serius dan menghadapkan wajah ke gerbang utama.
Di pengeras suara lantunan murothal juz 30 surat al Maun terbang bersama angin yang berhembus cepat, terbang bersama apapun sejauh yang bisa dilakukannya. Entah pohon apa di halaman masjid, lagi daunnya melayang jatuh menyusul saudaranya yang lebih dulu rebah.