|
Jeruji ini lah akhir hidupku. jika saja aku tak melakukan itu, andai saja aku tak memakai itu, dulu. Sungguh banyak berkecambuk pemikiran yang terlambat, pun sekarang tempat ini sudah menjadi sarang ku, Singgasana ku, istana ku. Hah, sekarang aku seperti orang tak bernyawa, semangat hidupku yang dulu sirna, aku akan mati beberapa hari lagi karena kasus pembunuhan berantai.
Aku adalah anak dari kedua orang tua ku yang telah meniggal semenjak aku berumur 6 tahun, semenjak mereka meninggalkan aku, aku diasuh oleh salah seorang penjahat. Saat itu aku sedang melakukan perjalanan dari kota ku ke kota nnenek ku, seingat ku aku tiba saja dipelukan lelaki berewokan dan ku lihat kedua orang tua ku banyak darahnya. Ntah kenapa lelaki berewokan itu tak mendarahi ku juga. Aku tidak tahu mengapa hanya aku yang tinggal. Semenjak itu lah lelaki berewokan itu menanamkan ilmu penjahat pada ku, ilmu materi yang indentik dengan darah dan akohol.
Barong namanya. Lelaki berewokan tadi, dia telah menjadi panutan hidupku yang salah, bukannya aku yang ingin begini. Tapi bagaimana, dia ayah ku sekarang. Sempat ingin ku mencari orang tua ku sesekali, tapi setiap aksi ku aku selalu ketahuan ayah barong dan dia menyiksaku seperti binatanng yang tidak memauhi perintahnya.
Sekarang aku telah berumur 18 tahun, sungguh perilaku ku belakangan ini sangat menjadi-jadi, aku menganggap dunia ini sempit dan hanya dikuasai oleh satu pemimpin yaitu ayah barong dan aku anaknya. Sangat murah menggapai kasenangan saat ini, badan ku yang ceking kareena ganja, nafas ku yang tersengah-engah karena akohol. Uang?. Aku sudah pakar menjambret dan merampok. Ilmu materi ini ku dapat dari ayah yang ku benci tadi, tapi terkadang aku juga beruntung mampunyai ayah seperti dia, karena dialah aku jadi seperti ini, mungkin ini juga yang ku inginkan.
Sempat pada suatu malam, ada seorang wanita lewat sendiri. Ku lihat di, aku sungguh bergairah. Langsung saja ku dekap dia sampai pingsan, ku gerayangi tubuhnya sampai puas dan harta bendanya ku tanggali satu-persatu. Keesokkannya aku pura-pura tidak tahu saja. Habis perkara. Sungguh mudah menggapai kesenangan. Sungguh kesenangan yang ku dapat tidak terkira, munggkin kesenangan ini yang ingin dimiliki oleh dia tadi, tapi dia kurang tahu bagaimana ilmu materi ini. Haha, aku sungguh hebat. Kadang-kadang dalam satu hari aku bisa dapat 5 juta rupiah, dalam hati ku berbicara apabila semua orang tahu bahwa pekerjaan ku ini sangat menguntungkan, mungkin mereka akan berpindah profesi. Hah, aku mulai cemas dengan pemikiran tadi, apabila mereka tahu, mati lah aku, kemana lagi aku harus merampok kalau semua komplek sudah ada yang punya. Bodohnya aku waktu itu, pun dari kecil aku tidak sekolah, pemikiran ini lah yang aku dapat,, pemikiran bagaimana bertahan hidup dengan kesusahaan orang, tapi aku jelas-jelas mencuri, bukan seperti sahabatku yang ada di legislatif (ku pikir ada yang membongkar rahasia ilmu alam yang ku miliki sehingga banyak maling disana). Padahal rahasia dari ilmu materi ini aku jaga baik-baik supaya tidak ada yang tahu selain ayah dan aku. Ntah siapa yang membongkar rahasia ini ke sahabatku di legistatif.
Masih banyak malam-malam yang berbinar lainya, sempat aku menjamret sahabat ku tadi, hingga keluar air kencingnya ku buat. Dia peragakan harta yang telah dia ambil, padahal yang ku marahi bukan harta yang diambil itu, tapi dari sia dia tahu rahaisa ilmu mateeri ini, dalam pikiran ku andai ku tahu siapa pasti akan ku mutilasi dia seperti pembunuhan yang ku lakukan selasa malam.
Sahabatku tadi sungguh lebih kaya dari ku, mobilnya saja mengkilat sedang kan aku tidak punya kendaraan, mungkin karena konsumsi ku yang terlalu banyak. Sempet ingin ku ambil saja semua hartanya, tapi ku malas juga karena kami juga punya profesi yang sama. Dulu kata ayah “sesama penjahat tidak boleh saling menindas, hargai profesi kita sama”. Teringat kata ayah, lalu ku lepasi saja dia.
...
Usia 18 belas ini memang sedang puncaknya, aku sudah bisa membunuh. Sudah ku kuasai pula ilmu memutilasi orang yang gampang. Dengan mempraktekkan ilmu itu aku sungguh menjadi perkasa.
Pada malam minggu berikutnya, ayah ku menyuruhku untuk mempelajari ilmu hitam, yang katanya tubuh kita tidak bisa dilihat oleh orang.
Aku sungguh tertarik dengan ilmu itu, langsung saja aku datangi dukun itu, dan berlatih dengannya. Untuk mempelajari ilmu itu disepakati persyaratan bahwa aku harus membunuh 2 orang perminggu, tepatnya pada malam minggu. Tampa pikir panjang, dan untuk apa pikir panjang bila aku sudah menguasai ilmu-ilmu membunuh orang, aku terima.
...
2 bulan aku di gua gelap belakang rumahnya. Aku merasa ada yang aneh dengan tubuh ku ini. Aku merasa kepanasann yang luar biasa, dan merasa ingin sekali membunuh orang.kata dukun tadi ilmu penghilang itu telah berhasil ku pelajari, untuk menggunakannya aku harus membunuh dulu dan ilmu ini hanya bisa digunakan unutk malam waktu aku membunuh 2 orang, lalu pada subuh-subuh aku terlihat seperti biasa.
...
Hari ini adalah hari sabtu, ku rasa malam nanti lah waktu yang tepat untuk mempraktekkan ilmu yang telah ku pelajari.
Malam itu aku langsung tampak mangsa sepasang remaja telah malakukan perbuatan yang tidak sepantasnya mereka lakukan, langsung aku gorok leher kedua insan itu dan ku minum darahnya, lalu ku merasa badan ku seperti hilang dan dingin sekali. Untuk tidak membuang-buang waktu aku langsung menuju rumah orang terkaya di komplek suka maju. Ku ambil semua kekayaannya, lalu pergi.
Esoknya, seperti biasa aku pura-pura tidak tahu jika bertemu orang lain. Taktik ini sungguh berhasil. Ku memiliki banyak uang sekarang. Saatnya bersenang-senang.
Besok adalah hari eksekusi ku. Aku telah dijatuhi hukuman mati. Aku hanya pasrah, mengingat perbuatan yang telah aku lakukan. Sering juga aku melamun mengingat kesalah yang tak ada gunanya lagi untuk diingat. Kurasakan sekali malaikat maut yang kata bapak berpakaian muslim tadi itu tertawa. Aku takut mati sekarang, tak tahu kenapa, aku takut saja. Aku saling menyalahi diriku dulu, dan ayah barong lah yang telah membuat ku seperti ini. Bukannya dia sudah ku bunuh juga...
Waktu itu aku telah berumur 19 tahun. Akun masih menjalankan hari-hari biasa k, tapi bedanya sekarang. Malam ini adalah malam minggu, seharusnya aku harus membunuh orang, jika tidak aku akan mati kepanasan. Sudah tengah malam tidak ada juga insan manusia yang lewat. Beberapa jam setelah itu lewat seorang lelaki berewokan. Tampa pikir panjang aku langguns bawa clurit dan menggorok lehernya, dan meminum darah segarnya. Satu lagi ialah teman ku sendiri, saat itu aku tidakk tahu lagi kode etik penjahat, bagi ku saat itu sama saja, yang penting hasrat ku terpenuhi.
Seperti biasa aku jamahi ruman-rumah orang kaya. San seperti biasa aku dapat banyak untuk akibatnya. Aku sungguh bangga dengan ilmu ini. Mungkin aku seperti super hero yang ada di TV pada rumah yang ku jamahi tadi.
Aku tidak tahu, dia ayah barong ku...
Sepulang dari rumah itu, tak seperti biasanya ayah belum pulang. Biasanya ayah memberikan selamat pada ku untuk membawa uang yang banyak. Ku tunggu ayah barong di atas kursi hingga aku tertidur.
Keesokan harinya aku mendapat kabar dari saudara ku juga bahwa ayah ku telah mati, parahnya lagi aku baru sadar bahhwa lelaki berewokan yang kubunuh tadi malam adalah ayah barong ku.
Aku tidak sadar bahwa dia ayah barong ku, bukan diriku sebenarnya yang menbunuhnya, tapi wajah ku satu lagi. Sebenernya aku adalah pria baik sebelum dia rangkul aku dulu dari ibu asli ku yang dibunuhnya. Sempat ku terpikir, anggap saja aku bunuh dia untuk balas dendam 14 tahun yang lalu. Karena dia juga dia mati.
Makanan hari ini tidak bersemangat kumakan, hari ini aku sungguh muak terhadap semua orang. Pikiran ku adalah memusuhi mereka saja. Hingga aku telah sangat banyak membunuh. Hingga nama ku telah menjadi tersangka pembunuhan berantai. ku piikir ntah dari mana pak polisi tahu bahwa aku yang membunuh, padahal banyak pembunuh lain selain aku, bukannya aku hanya disuruh ayah barong yang telah mati.
Dari hari aku menjadi tersangka, hidup ku yang biasa senang dan bahagia nah sekarang menjadi sengat sengsara. Banyak terbayang oleh ku waktu itu jika aku tertangkap pak polisi, pasti aku akan mati pula seperti ayah barong bangsat.
Sekarang hari sabtu, sudah saatnya melupakan ketakutan terhadap pak polisi. Sekarang saatnya bersenang-senang kembali. Malam ini aku berdiri pada tempat yang berbeda dari biasanya. Aku langsung lihat 2 sejoli lagi dempet di tepi sungai. Langsung ku gorok laig lehernya seperti ku gorok ayah barong dulu. Ku minum darah segarnya, dan pergi ke rumah orang kaya, aku habisi uangnya. Tapi tidak...
Malam ini tidak ada seorang pun yang tampak hanya ada tampak rumah-rumah yang seperti tak bertuan. Lau rumput juga tampak. Aku duduk saja sambil menghisap ganja yang telah ku siapkan tadi dan tak lupa minuman kesukaan ku. Beberapa mmenit setelah aku bersantai, aku melihat ada orang yang lewat. Aku pura-pura tidak melihatnya, padahal aku ingin sekali mencoba darah segarnya. Setelah dia lewat beberapa langkah dari ku, aku langsung tegak dan menghampirinya. Setelah aku sangat dekat dengan nya dan golok ku hampir mengenainya, dia mengeluarkan sebuah senjata api, tak ku kira dia pak polisi dan beberapa saat setelah itu teman-teman pak polisi tadi mengepungku.
Jadi mainan nya aku saat itu, aku ditendang, aku di pukuli saja. Hingga tebal sekali rasanya mukaku.
Saat itu sudah ku pikir aku mati...
|