Dicium Pertama PDF Print E-mail
Written by Hujan Tunggal   
Rabu, 17 November 2010 08:30
Utak-atik pengertian di atas, melahirkan pernyataan yang sangat fundamental: Nasib ditentukan oleh bahasa. Maka sedari dulu para bijak selalu mengingatkan, bahasa seseorang adalah cerminan jiwanya, dan bahasa adalah jendela untuk menatap dunia. Barangsiapa yang hendak menatap keleluasaan dunia, kuasailah bahasa Inggris. Barangsiapa yang ingin memahami seseorang, kuasailah bahasa jiwanya. Barangsiapa yang ingin kaya, pelajarilah bahasa, setidaknya ia akan kaya dengan kosakata.

Dan kini kita memasuki era ilmu dan pengetahuan digital yang semakin membenarkan bahwa diktum di atas, sifatnya sudah imanen, yang secara permanen tidak bisa dibantah. Era ilmu dan pengetahuan digital telah memperjelas dan mempertegas, bahwa segala asal-usul ilmu dan pengetahuan memang berasal dari bahasa yang menjadi penanda dari simbol-simbol. Ilmu dan pengetahuan digital, semuanya bermain di tataran simbol. Password misalnya, merupakan simbol-simbol yang sudah pasti dan tidak boleh melenceng satu digit pun.

Diktum yang sudah imanensi itu, melahirkan kongklusi diferensial atau kesimpulan turunan yang sangat doktrinis, yang berbunyi bahwa bila bahasa berkembang, maka ilmu dan pengetahuan pun akan berkembang. Itulah diktum yang waras. Tetapi ada saja orang yang membuat diktum terbalik, yang mengatakan, justru bahasa berkembang karena ilmu dan pengetahuan berkembang lebih dulu. Orang yang menyatakan diktum terbalik seperti itu, jelaslah orang yang kurang waras, atau malah tidak waras sama sekali.

Ya, ternyata banyak orang yang suka membolak-balik diktum, yang mengatakan bila ilmu dan pengetahuan berkembang, maka bahasa pun akan berkembang. Doktrin terbalik seperti itu boleh-boleh saja dilontarkan, sebagaimana seorang Presiden boleh saja melontarkan pidato yang keluar dari konteks. Misalnya ketika terjadi teror bom yang memporak-porandakan sebuah hotel, Presiden itu mengatakan bahwa teror bom itu merupakan sinyalemen dari adanya gerakan teroris yang hendak mengancam keselamatannya. Seandainya Presiden menyadari diktum dan adagium yang bersifat imanensi tadi, yang mengatakan bahwa bila bahasa berkembang maka ilmu dan pengetahuan juga akan ikut berkembang, kiranya pidato presiden saat menyikapi teror bom itu, akan berbunyi seperti ini:

Saya Presiden yang telah dipilih oleh rakyat. Hari ini, dengan kepala dan mata sendiri, saya menyaksikan telah terjadi aksi teror yang bukan saja mengancam keselamatan rakyat, tapi telah merenggut keselamatan rakyat. Sesuai dengan amanat konstitusi, Presiden berkewajiban memerangi segala bentuk aksi yang mengancam apalagi merenggut keselamatan rakyat. Maka hari ini, sebagai Presiden yang telah dipilih oleh rakyat untuk melindungi keselamatan rakyat, dan sesuai dengan amanat konstitusi negara kita, saya menyatakan PERANG terhadap teror yang merupakan musuh umat manusia sejak jaman Nabi Adam. Dan dalam peperangan ini, Presiden wajib berada di garis terdepan, tentu dengan suatu konsekwensi bahwa keselamatan Presiden sepenuhnya berada di tangan yang Maha Ajaib. Bila dalam peperangan melawan teror ini Presiden harus mati, maka Presiden siap mati demi keselamatan rakyat. Untuk itu, kepada seluruh rakyat, Presiden memohon, berjemaahlah di barisan Presiden, dan kita akan sama-sama maju untuk memukul para teroris. Ingatlah, Presiden tidak takut mati!

Pidato seperti itu, bukan saja terdengar heroik, tapi akan benar-benar menjadi hiburan batin yang menyejukkan. Pidato macam itu, bukan saja telah menjadi tontonan, tapi sekaligus menjadi tuntunan. Dengan kata lain, bahwa sesungguhnya kita perlu memiliki Presiden, bukan saja untuk tontonan, tapi juga untuk tuntunan. Bila hanya sekedar membutuhkan tontonan, sebenarnya televisi kita sudah terlalu banyak menyodorkan tontonan yang bukan saja tidak menjadi tuntunan, tapi malah merusak. Merusak apa? Kau tahulah jawabannya.

Menyambut pidato Presiden seperti di atas, tepuk tangan rakyat akan bergemuruh dan membahana, dan akan menggetarkan sanubari yang paling kanan. Rakyat akan siap-siaga dengan kewaspadaannya, matahari akan ikut merestui, dan langit akan membuka pintu doa bagi rakyat yang telah berjemaah. Uraian ini, bukan sekedar lontaran, tapi dinukil dari salah satu “asma” yang berbunyi: Tangan Tuhan bersama orang-orang yang berjemaah. Menentang “asma” ini, sama dengan mengingkari adanya kodrat dan irodat yang sepenuhnya menjadi otoritas Tuhan.

Mengapa doa-doa bangsa kami sepertinya dikembalikan lagi oleh langit ke alamat yang sengsara ini, adalah karena doa-doa yang dipanjatkannya tidak kompak, dan permohonannya disampaikan secara sporadis. Mengapa bangsa kami tidak bisa kompak dalam berdoa, tidak bisa berjemaah dalam suka dan duka, adalah karena ketiadaan pemimpin yang dapat mempersatukan. Siapapun sebenarnya bisa lahir menjadi pemimpin yang dapat mempersatukan, tetapi dari awal ia harus menyadari betapa pentingnya memahami bahasa. Sedari awal ia harus mendidik diri untuk secara disiplin belajar bahasa dengan definsi-definisi yang sohih.

Kini kita menyadari, seolah-olah bahwa kita memiliki begitu banyak pemimpin. Ya, itu hanya seolah-olah, karena sebanarnya yang kita punyai saat ini bukanlah pemimpin yang mempersatukan, tetapi pemerintah yang hanya bisa memerintah, namun ia sendiri belum tentu bisa menjalankan perintah yang diperintahkannya. Dalam hal ini, pemerintah seringkali menyerupai para penyair, yaitu orang-orang yang hanya bisa menganjurkan orang lain untuk mengerjakan sesuatu yang ia sendiri tidak suka mengerjakannya. Kita saksikan, pemerintah dengan gagahnya memerintahkan orang lain untuk mati demi membela negara, tapi dia sendiri takut mati. Padahal, takut atau berani, toh orang tetap akan mati.

Prok, prok, prok!

Katherine Membandel bertepuk tangan mendengarkan uraian Kuda Sembrani setelah menonton pidato Presiden yang langsung ditayangkan oleh semua televisi, beberapa jelang sehabis teror bom meledak lagi, dan lagi-lagi meledak, di kawasan Kuningan.

Bom itu meledak, persis ketika Katherine Membandel sedang mencium bibir Kuda Sembrani untuk yang pertama kalinya. Ciuman itu terhenti karena dikejutkan oleh suara ledakan yang terdengar sampai ke kamar kost Kuda Sembrani.

“Ini ledakan bom, pasti ledakan bom,” kata Kuda Sembrani.

Kuda segera mencari remote TV, dan menyalakannya. Benar dugaan Kuda, telah terjadi aksi teror bom. Tampak dalam layar TV, api dan asap mengepul ke angkasa, seperti duri yang menusuk-nusuk daging. Terasa benar sakitnya.

“Apa kita akan ke sana?”

“Tidak usah. Kita di sini saja. Masih banyak orang yang cekatan untuk menolong. Aku tidak bisa melihat darah, pasti aku tidak akan sanggup menolong korban. Aku tidak mau pergi ke sana kalau hanya untuk menonton, hanya menambah kekacuan dan menyumbang kemacetan.”

“ya, ya, aku paham Kuda.”

Keduanya merenenung, menghayati asap yang membumbung.

“Menurutmu, mengapa bangsamu, eh maaf, bangsa kita tidak pernah reda dari derita?” tanya Katherine.

Kuda Sembrani menjawab dengan uraian panjang di atas, dan semuanya bermula dari bahasa.

“Jawabanmu itu memperlihatkan, bahwa Kuda Sembrani adalah pria yang seksi, dan aku semakin suka kepadamu. Sayang, jangan tinggalkan aku ya.”

Kuda Sembrani mematung. Tidak menggelengkan kepala, juga tidak memanggutkan dagu. Tidak mengulurkan kata-kata, juga tidak memberikan isyarat persetujuan ataupun penolakan.

Tetapi mematung juga merupakan jawaban, yang setelah banyak berdialog dengan Kuda, Katherine memaknainya seperti ini. Mungkin benar Tuhan itu ada, dan Tuhan yang diduga ada itu, telah menciptakan manusia yang pada mulanya hanya seorang, yaitu Adam. Kemudian Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Lantas Adam dan Hawa beranak pinak, dan menjadi beragam bangsa. Disebut berbangsa-bangsa, karena terdapat perbedaan antar-setiap bangsa. Tapi perbedaan itu bukan harus melahirkan pergesekkan, melainkan harus memperkaya perbendaharaan peradaban. Karena itu, setiap bangsa seharusnya tidak saling mempertajam perbedaan, melainkan harus saling memahami dan menikmatinya. Katherine sebagai gadis yang setengah Rusia setengah Sunda, memahami benar bahwa Kuda Sembrani berkenan jadi temannya, adalah karena Kuda ingin menghayati dan menikmati perbendaharaan peradaban itu. Mungkin tidak lebih dari itu.

Katherine juga ingin bisa menghayati dan menikmati perbendaharaan itu dengan tulus dan lurus. Tetapi sebagai gadis yang dibesarkan dalam kultur liberalis, ia memiliki keinginan yang lebih, yaitu ingin benar bisa mereguk Kuda Sembrani sebagai telaga yang dapat menawarkan dahaga. Tapi Kuda sering mengingatkan, keinginan tinggal keinginan, sebab segalanya telah termaktub, telah dituliskan sang Maha Kalam.

“Kekasihku, jangan diam saja, bicaralah,” kata Katherine, tentu dengan nada memohon, atau memelas?

Kuda masih diam. Ia nampak murung dan merenung. Tapi akhirnya bicara juga.

“Mengapa kamu menginginkan aku?”

Pertanyaan itu muncul di luar dugaan Katherine. Pertanyaan yang disampaikan dengan diikuti tatapan tajam itu, yang sepertinya langsung menyelusup ke ruang batin, membuat gadis blasteran Rusia – Sunda itu merasa ditohok, dan diobrak-abrik benteng spiritualnya. Seliar-liarnya gadis liberalis, toh ia menusia juga. Betul bahwa ia menganut free, tapi bukan berarti seperti kucing atau ayam, asal ketemu lawan jenis, langsung berekspresi. Ada kalanya penjahat bangkotan sekalipun, mengalami ketersentuhan wilayah spiritualnya yang paling relijius. Ketersentuhan di wilayah spritual itulah yang kini dirasakan Katherine.

Kini Katherine yang diam. Diam demi mengumpulkan alasan yang jujur untuk disampaikan. Ia akhirnya menyampaikan pengakuan seperti ini.

Pada waktu pertama kali kita bertemu, dan aku ingat kau menatapku dengan tajam tapi bibir terkatup erat, aku merasakan kau adalah lelaki yang harus dijauhi. Tatapan matamu terasa menelanjangi dan mengancamku. Tapi aku tetap tersenyum sesuai nasihat papa, bila berhadapan dengan orang Indonesia, ulurkanlah senyuman, walau hati amat tidak berkenan.

Kami bertiga, datang dari Rusia, untuk studi banding tatabahasa dan antropologi. Tapi sungguh heran, mahasiswa Indonesia yang menjadi pendamping kami ternyata mahasiswa olahraga. Kalian bertiga, laki-laki semua, dan kami juga bertiga, perempuan semua. Kiranya pikiran kita sama saat itu, kita akan berpasang-pasangan biar pelajaran bisa dijalani dengan menyenangkan. Dan setelah kami berunding, kusampaikan kepada teman-teman, aku tidak sudi bila harus berpasangan dengan Kuda Sembrani. Kenapa? Karena tatapan matamu sangat menelanjangi dan mengancamku.

Secara angkatan kuliah, aku adalah senior mereka. Maka kuperintahkan Susan Sontag yang akan bersamamu. Susan menolak. Lalu kuminta Maria Magdalena, dia juga menolak. Dan kami tertawa terbahak-bahak, karena tiba-tiba pikiran kami sama, ada yang harus siap threesome.

Namun setelah beberapa kali interaksi, Susan Sontag rupanya mulai terpikat olehmu, dan ini membuat kami penasaran. Susan mengatakan, Kuda tidak sekejam dugaan, justru ia amat lembut, telalu lembut malah.

Dan kau mengundang kami untuk berkunjung ke rumah keluargamu di Lembang yang dingin. Kami datang dengan syak wasangka. Namun ternyata praduga kami keliru. Kau ternyata berasal dari keluarga yang baik-baik, sederhana dan bersahaja. Naluri kekeluargaan masih terasa kental di sana. Saudara-saudaramu sangat bersahabat. Orang tuamu memiliki rasa hormat. Dan, kawasan tempat tinggal keluargamu sungguh eksotik, natural dan menguarkan bau tropis yang khas. Aku menyukainya. Kukira, itulah sebabnya mengapa dulu Belanda enggan hengkang dari Indonesia.

Di rumahmu, ternyata kau anak yang manis. Tatapan matamu yang dulu menumbukku, yang terasa menelanjangi dan mengancam, jelas hanyalah kesan pertama. Mungkin kau selalu curiga kepada orang asing. Toh terbukti, saat berada di rumahmu, tatapan matamu terasa lurus dan tulus. Tiba-tiba, aku jadi menyukai tatapanmu, yang lalu terasa berubah dari beringas menjadi cerdas. Entahlah, mungkin ini keburukan atau justru kebaikan gadis Rusia, aku tiba-tiba jadi horny melihat tatapan matamu, dan ingin sekali ditelanjangi oleh tatapanmu, diperiksa dari ujung rambut hingga alas kaki, dan berhenti sesaat di tempat-tempat yang menjanjikan rasa nikmat. Tapi saat itu, tatapan matamu malah terlihat dingin namun bening.

Pulang dari rumahmu, aku merenung di sepanjang jalan. Sampai di wisma, aku langsung menggelar rapat darurat, dan mendikte junior-juniorku. Kukatakan kepada mereka, sejak hari ini, Kuda Sembrani adalah milikku, jangan lagi mendekatinya. Dia bukan piala bergilir, karena itu, cukup aku seorang diri yang akan mengaraknya.

Terlihat Susan berontak, dan mengatakan masih penasaran denganmu, karena belum juga berhasil menikmatimu. Tapi aku senior yang kata-katanya tidak boleh dibantah. Di mana-mana, senior selalu ingin paling benar dan berkuasa. Aku mendikte mereka. Susan Sontag selanjutnya kupasangkan supaya menggandeng Eceng Gondok, dan Jalan Braga untuk Maria Magdalena.

Lalu kita berpasang-pasangan, berpakansi ke Pangandaran. Kau memperdengarkan ke aku, lagu Pangandaran gubahan Doel Sumbang. Aku tidak mengerti isi syairnya karena berbahasa Sunda. Tapi musik adalah bahasa manusia yang paling universal. Aku merasakan keselarasan nada lagu yang mellow dengan angin Pangandaran yang sepoi-sepoi.

Dan di Pangandaran, semuanya terjadi di luar perencanaan. Susan ternyata tidak mau menggandeng Eceng Gondok. Tapi karena takut sama aku, dia juga tidak berani menguasaimu, Kuda. Ya, kau hanya untukku seorang diri. Malam itu, yang terjadi kemudian adalah, Susan dan Maria menyetubuhi Jalan Braga. Mereka threesome. Sedang kau tetap saja perawan, alami dan tak terjamah. Aku kehilangan nyali untuk menyentuhmu, bahkan sekedar untuk mencoba-coba. Kecuali peristiwa itu, ya peristiwa yang kalau kukenang sekarang, betapa aku malu, merasa kotor dan hina.

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Eceng Gondok, mungkin dia tidur mendengkur sebagaimana sering kudengar dulu. Aku tahu dia suka mendengkur, waktu aku masih berpasangan dengan dia. Tidur berkali-kali di kamarku, tak pernah sekalipun kuberi. Entahlah, kiranya naluri yang membimbingku untuk bertahan dan tidak murahan.

Pagi-pagi sekali, kau sudah bangun, lalu kulihat kau sembahyang pagi. Kudengar ada langkah orang mondar-mandir di luar kamar. Aku curiga, dan segera kuperiksa dari kaca jendela. Ternyata Susan yang mondar-mandir. Aku keluar menemuinya. Dia bertanya, gaya apa saja yang kami praktikan. Tiba-tiba, pertanyaan itu membuatku mual. Aku tidak bersetubuh, kataku. Dia keheranan, tapi kemudian segera mengatakan, Kuda memang orang yang bersahaja, suci dan belum tersentuh. Dan ia minta izin untuk sekali saja duduk berduaan denganmu di tepi pantai, menikmati horizon laut yang jauh. Karena ia merajuk, aku merestuinya, sekaligus untuk yang terakhir kalinya.

Ketika aku masuk kamar kembali dengan Susan, kau sudah selesai sembahyang, dan rupanya sudah bersiap-siap. Susan bertanya, mau ke mana. Kau jawab, mau ke gigir laut, menikmati sunrise. Dan kalian pergi berdua. Semula aku ingin rebahan kembali. Tapi tiba-tiba muncul rasa cemburu yang mengganggu. Aku bangkit dan mengejar kalian.

Kulihat lamat-lamat di kejauhan, kalian duduk bergandengan. Kudekati, ya kudekati dengan rasa cemburu yang menggebu. Kulihat kepala Susan rebah di dadamu. Aku berontak, tidak bisa membirkan hal itu berlama-lama. Maka tanpa permisi, aku duduk di samping Susan. Susan kita apit. Tahu aku ada di sampingnya, Susan segera membetulkan duduknya, tidak lagi menyenderkan kepala ke dadamu. Kita mengapit Susan, dan aku mengulurkan lengan untuk menjangkau lenganmu, melalui punggung Susan. Setelah tersentuh, lenganmu bersedia menjulur. Ya, akhirnya lengan kita bergandengan, di belakang punggung Susan, tapi tidak menyentuh punggung itu. Namun ternyata ia mengetahui hal itu, yang membuatnya segera pamit dan mengundurkan diri. Tinggal kita berdua, di Pangandaran yang masih tercium sisa Tsunami. Matahari terbit dengan cahaya sehangat kuku. Negeri tropis memang eksotis.

Tiba-tiba kau bertanya, mengapa aku tidak percaya Tuhan. Pertanyaan ini sungguh aneh, bukan lagi pertanyaan, tapi sudah tuduhan, karena tak pernah sekalipun sebelumnya, kita membicarakan hal itu. Kupikir, kau hanya menebak-nebak bahwa aku tidak percaya Tuhan, tapi tebakan itu disampaikan dengan pertanyaan afirmatif. Namun demikian, aku tidak ingin berdebat soal mengapa pertanyaan itu tiba-tiba diajukan. Saat itu, kuanggap saja bahwa aku memang pernah mengatakan kepadamu kalau aku tidak percaya Tuhan. Maka kujawab pertanyaanmu, Tuhan itu hanya bualan orang-orang pandir, dan agama adalah candu yang mengekalkan mereka dalam kebodohan.

Kulihat kau terperangah, lalu menyanggah. Mungkin karena kau tersinggung, penjelasanmu malah membuatku jadi bingung. Katamu, Tuhan itu ada dan nyata. Ia mendefinisikan dirinya dengan beragam bahasa yang sangat simbolik. Dalam bahasa agamaku, Tuhan menyebut dirinya sebagai yang lahir dan yang batin, yang nampak dan yang gaib, yang awal dan yang akhir. Ia bersinggasana di Aras ke Tujuh, tetapi ia juga lebih dekat dari urat leher.

Aku tidak bergeming. Lebih tepatnya, aku tidak mengerti apa yang kau maksud. Ada enggak bahasa yang sederhana, yang mudah dipahami, untuk menyatakan Tuhan itu ada, tanyaku.

Dan kau memintaku, rasakanlah angin semilir yang berdesir menyentuh kulit. Angin itu ada dan terasa, tapi tidak terlihat. Aku bengong karena bingung, karena kupikir fenomena angin tidak bisa menejelaskan eksistensi Tuhan, kecuali hanya sekelumit jargon yang menyatakan bahwa angin ada karena ada penciptanya, dan yang menciptakan angin, adalah Tuhan. Tiba-tiba kau berdiri dan menampar pipiku, lumayan keras. Aku kaget dan terperanjat.

Kau tersinggung, tanyaku. Kau malah balik bertanya, sakitkah?

Ya sakit, dan ini lelucon yang tidak lucu, kataku. Kau kembali bertanya, jelaskan kepadaku apa itu sakit, seperti apa, dan mengapa sakit bisa tercipta. Aku tidak menjawab. Kau bertanya lagi, apakah kau membenciku atau menyukaiku. Aku tidak menjawab. Tunjukan padaku siapakah dan yang manakah Katherine Membandel, pintamu.

Ini, kataku, menunjuk ke dada.

Itu dadamu, dan bukan kamu. Bahkan kamu tidak akan sanggup menjelaskan apakah kamu ada atau tidak, kecuali hanya bisa menunjukkan adanya wujud. Bila wujudmu sudah dimakan cacing tanah, atau dibakar dalam upacara Ngaben, sebagaimana udara telah habis dalam botol parfum, apakah kau dan angin dalam botol parfum itu masih ada? Atau seperti kata Einstein, bahwa sesungguhnya tidak ada yang hilang, yang ada adalah perubahan bentuk, misalnya dari air jadi uap, lalu jadi awan, dan kembali jadi air.

Aku diam. Tapi kau tersenyum, dan aku pun membalasnya. Ya, saat itu, aku mulai berpikir Tuhan itu ada, tapi masih abstrak. Kau kembali duduk di sampingku, dan memelukku. Kupikir kau akan melayangkan ciuman yang hangat dan menyulut. Tapi ternyata tidak.

“Sejak di Pangandaran itu, aku jadi terobsesi olehmu. Aku ingin memiliki keseluruhanmu. Tapi aku takut dan malu, karena aku tiba-tiba merasa tidak suci,” kata Khaterine.

“Memiliki dalam pengertian seperti apa?”

“Seperti orang-orang yang sudah tua pada umumnya. Kelak kita juga akan tua. Aku ingin membina rumah tangga bersamamu.”

“Kau ingin menikah dengaku?”

“Ya, aku ingin menikahimu.”

“Tapi kamu punya kekasih. Ada seseorang yang menunggumu di Rusia.”

“Seperti katamu, keinginan tinggal keinginan. Sebab segalanya telah termaktub, telah dituliskan Sang Maha Kalam. Tapi, who knows?”

“Aku pernah merasa kehilangan juga dibodohi, dicampakkan sekaligus dikhianati. Karena itu, aku tidak ingin merebut kebahagiaan orang lain. Aku hanya bisa berkata, sebagaimana juga kelahiran dan kematian, musibah atau berkah, juga jodoh, ada di Tangan Tuhan.”

“Kau benar Kuda, dan aku merasa tidak berdaya.”

“Kau sekarang percaya Tuhan itu ada?”

“Bekat kamu, kini aku percaya, Tuhan itu ada. Katamu dulu, Tuhan itu lebih dekat dari urat leher. Jadi Tuhan itu adalah hati nurani.”

“Kamu benar Katherine, Tuhan itu menjelma dalam hati nurani.”

Keduanya kembali berhadapan, bersila di lantai, mau melanjutkan ciuman. Ini adalah ciuman pertama bagi Kuda Sembrani.

Kawan, bagiku sangat mengherankan, Kuda Sembrani yang kukira nakal dan Bengal, ternyata seorang yang santun dan puritan.