Cerpen Eben Haezer PDF Print E-mail
Written by Feri M. Syukur   
Sabtu, 20 November 2010 09:05

 

Eben Haezer

Oleh: Feri M. Syukur

: kawan kkn kayuambon 2010

“Di ujung gang depan gerbang, dekat gardu, ayah perempuan penari merak itu,” dia menunjuk dengan dagunya, “mertua dari pemanggul singaan itu,” ia menunjuk dengan halisnya, “akan datang.” Seorang anak kecil dengan seragam pramuka, berambut kepang, melepaskan gelayutan di tangan perempuan tua itu. Dia membawa boneka di tangan kiri. Berlari ke halaman tanpa sandal, memungut bola bekles kawannya yang lompat jatuh menuruni dua anak tangga, dan menggelinding ke jajaran tanaman anggrek dan kaktus. “Ya, kakek anak itu.” Suaranya mengecil.

Jam di dinding, mencak berdetak. “Tiga puluh menit lagi, mungkin ia sampai.” Langit biru laut. Awan sebelah barat bergumul dengan pucuk daun di wajah gunung.

Tangannya putih adonan tepung tipis, urat hijau hitam merentang, setiap tangannya mencabut jarum yang ia tusukkan ke kain flanel, membuat kupu-kupu ukuran lebar bentang tangan berwarna ungu totol putih. Mata putih telur, bola hitam meng-abu, sembunyi-sembunyi di kaca mata yang hampir jatuh, terselamatkan gundukan ban lubang hidung. Rambut putih kilap diterpa matahari sore dari celah daun mahoni dan mangga yang tak rapat.

“Ini kepulangannya. Rumahnya dulu, kini jadi kantor RW. Kalian berkegiatan di sana bukan?” dia berhenti menyulam benang ke kain flanel. Memandang wajahku. Memandang wajah temanku juga, yang berjajar di gerbang, berfoto ria. “Jangan lupa, kalian sempatkan berkunjung ke kantor kecamatan yang baru. Dia pandai melukis.” Aku berkerut. Dia merasakannya. “Tentunya dia, lelaki gemuk itu, yang sekarang akan datang.” Aku mengangguk.

Si perempuan itu mematut diri di kaca yang ia bawa. Teman seprofesi, penari merak, dengan hiasan serupa merak di kepala, dan sisik berkilat, berebutan mengambil bedak di tas jinjing, seseorang berpakaian serba hitam berkaca mata. Gigi gingsul serupa hidung mangcung miliknya, sejajar sumur di pipi pualam apem. Kawanku mendekatinya. Memintanya berfoto. Tapi dia menggeleng, mungkin ia menjelaskan, mereka akan berfoto bersama kawanku itu nanti setelah pementasan, sebab kawanku itu mengangguk senang akhirnya.

“Tidak banyak yang tahu, sebulan setelah perkawinannya, sembari sembunyi-sembunyi, sebab ia sudah punya istri, dia dipindahtugaskan, meninggalkan seorang perempuan dengan janin di perutnya.” Matanya lari kencang menembus jarak, memeluk perempuan itu hangat. “Perempuan cantik,” gumamnya.

Seorang lelaki, dengan ikat kepala warna kuning, selaras bajunya, mendekat. Berbicara. Si perempuan hanya mengangguk.

“Diakah suaminya?” tanyaku. Aku mengambil gambar ganjil itu. Perempuan itu kecil, mungil, lelaki itu juga kecil, kurus, dari jarak pengambilan gambar ini. Di belakangnya, tembok bergambar lelaki bertopi koboi memutar tali setengah berdiri, urat tangannya keras memegang tali kemudi kuda cokelat jati. Nama tempat itu dililit tali seperti ular raksasa yang akan memakan titik di akhir kata, De Rach.

“Pemuda kampung yang lugu. Di malam sebelum kawinnya, saat lamaran telah diucap, dan rencana disusun sulam, lelaki itu berjanji akan membunuh ayah kekasihnya itu, lelaki yang telah meninggalkan ibunya yang buta.”

Perempuan berbalut kain putih tebal seolah kain selimut ini duduk tegak, di kursi goyang yang terus bergerak. Halisnya mengangkat sebelah. “Kau tidak pergi kan?” aku menyahut. “Tidak. Aku akan mendengarkan cerita nenek sampai selesai.” Wajahku tetap memotret sepasang manusia itu. “Aku tidak enak kalau bicara sendiri. Duduklah yang manis,” dia hendak bangkit. Aku bangkit, menahannya. Udara dingin selama beberapa malam ini kalah dingin tangannya. “Tolong panggilkan Bibi. Aku mau minta ia buatkan minum untuk kamu. Oh, untuk kalian.” Aku sendiri, kawanku sibuk mengambil gambar di tempat lain. Dia berteriak memanggil perawatnya. “Buatkan teh manis buat tamu kita, teh yang aku suka. Oh, aku lupa, aku tidak minum lagi yang manis. Buatkan aku seduhan teh pahit panas saja.” Kembali merajut.

Aku berdiri. Berjalan ke pekarangan. Mencari gambar. Seorang kawanku datang, ia mengabarkan, sebentar lagi pejabat itu datang. Di gerbang yang terbuka, orang-orang berduyun mendekat. Juga si penari burung merak dan sisingaan. Mereka sudah siap di tempat masing-masing. Aku melirik si perempuan tadi. Ada perawat di sampingnya. Pakaiannya putih berbentuk baju suster. Rambutnya dihalangi bondu berukuran tiga jari warna putih susu. Si perempuan tua bicara sebentar, dan si perawat menanggapinya dengan mengangguk dan datang padaku. Anak perempuan kecil berambut kepang mendekat, mengenakan sapatu tali cepat. Kawannya ikut juga. Berlomba menali sepatu dan lari ke jajaran depan. Menyambut datangnya orang penting.

“Kalian bisa mengambil gambar bagus dari lantai atas.” Aku diam. Kawanku juga diam, kawan yang lain datang, bertanya dan si perawat menjawab tentang lantai atasnya.

Gedung tua zaman belanda. Bentuknya serupa isola. Di atas, ada jendela menghadap lapang, di mana si empunya bisa leluasa mengambil gambar. “Bukan, itu gudang. Jendela yang Anda lihat itu tidak kami tempati. Kotor sekali, banyak debu dan kotoran cicak. Anda dan kawan yang lain bisa ke atap. Di sana lebih leluasa.” Aku mengangguk, dan juga kawan-kawanku mengikuti saat aku berjalan, menuntun kursi roda si perempuan tua.

“Biarkan perawatku yang bawa. Membawa kursi roda berisi perempuan tua renta butuh keahlian. Kalian ikuti saja.”

Kami melewati tangga yang sempit. Hanya cukup untuk dua orang. Dihimpit tembok warna putih kusam. Di lantai dua, aku sempat berhenti. Tidak seorangpun yang berhenti, menyadari ketidakhadiranku di jajaran tangga mereka. Ya, di lantai dua ini, hanya ada ruangan itu yang berpintu dan berjendela. Sisanya hamparan karpet menampan sepasang sofa dari rotan yang ditutup kain putih. Dari jelusi, cahaya senja menusuk, memantul dari keramik marmer ke jajaran lukisan, dan sebuah kanvas yang bersandar pada kaki kayu, beberapa cat warna mengering bercampur debu. Di sana, seorang perempuan tanpa warna membayang.

Penasaran, aku mengintip dari jendela. Sayang, terhalang hordeng. Tak ada celah kecil lain, kecuali lubang kunci pintu besar dari jati. Kukira, dengan lubang sekecil itu, apa yang bisa dilihat dengan mata terpicing, nyatanya, aku bisa melihat sederet foto dan lukisan tua yang terpajang menghadap pintu. Ada di antara tembok penuh lamat laba-laba. Lelaki gagah berjas tegap. Warnanya hitam. Di sampingnya, akh, wajahnya begitu familiar. Tapi aku lupa siapa. Deretan giginya. Hidungnya. Juga lekukan di pipinya.

Dari arah lorong tangga sempit itu, aku mendengar si perempuan tua memanggil. Suaranya serak gemersik suara ribut daun disapu. Aku berbalik. Berjalan menuju lorong itu, naik ke atas. Menyusul mereka yang dahulu pergi.

Di pucuk gedung tua ini. Matahari bermain di putih cat, di hijau lumut retakan tembok. Di kaca mata perempuan itu, berkilat meluncur saat kepalanya bergerak kiri kanan. Ada senyum di lipatan keriput bibir. Hidungnya kembang kempis. Dan lesung pipi itu, aku terseret serentak masuk ke lorong tangga, mengulangi adegan pengintipan terlarang itu. Tempatnya dekat lipatan senyum bibir ke dua, hampir tersabet yang ketiga, kalau saja ia panjang. Gigi taringnya sudah tidak ada, tapi gigi seri kelinci itu masih ada.

Tetabuh gamelan dengan kendang diaduk suling sunda melengking. Aku merapat tembok. Berdiri di samping perempuan tua, yang sebelumnya perawatnya yang berdiri. Sedekat ini, mata itu dilingkari hitam gerhana matahari, gerhana cincin kantung mata. Di jalan yang sempit itu, anak-anak sekolah dasar berseragam pramuka berderet. Di belakang mereka, ada ibu dan bapak guru, juga orang tua mereka yang tak kalah menarik perhatian warna-warnanya. Di tengah jalan, sebelum gerbang lapang, penari adat berpakaian kuning emas bermanik berjajar membawa payung, di belakang, lelaki berpakaian putih menyambut, disusul sepasang manusia tua adat.

Bapak pejabat berpakaian safari, menanggalkan kopiah hitamnya, diganti dengan topi koboi, persis gambar penunggang kuda di tembok gang. Tubuhnya tinggi, perutnya juga tinggi, ke depan, seperti hamil. Berkacamata hitam, serasi dengan kumis menempel sepanjang garis bibir atas. Penari merak, meliuk anggun, seolah ia adalah merak itu sendiri.

“Apakah dia sudah menaiki singa bohongan itu?” Tanya perempuan tua. Wajahnya merunduk, berpaling dari jalan. “Dia dijemput perempuan itu.” Jawabku, ia membalik wajah cepat, “Bilang padanya, jangan naik singa itu. Aku tidak mau ia celaka!” ia menekankan nada di kata terakhir. “Ya, ia akan celaka. Singa itu tua. Sudah lama harus diganti. Dia sudah rapuh.”

“Aku dengar, kemarin lusa yang lalu, ia masih ditunggangi.”

“Dia anak kecil. Tubuhnya berkali lipat dibanding lelaki tambun itu.”

“Perempuan itu memutari lelaki tambun itu.”

Kawanku asyik memotret. Entah berapa memori yang ada di kameranya. Tangan hitam itu lincah memijit, tak henti, tak lelah.

“Ya, dia akan senang. Wajahnya sumringah bukan. Lelaki itu yang telah menyekolahkannya. Bertahun ia mendengar namanya, tapi tak pernah bertemu, kecuali di foto di kalender atau pamplet sepanjang jalan menuju sekolahnya di kaki gunung sebelah timur.”

Tetabuhan berhenti sejenak. Aku melirik. Lelaki pejabat itu tersenyum pada orang-orang, tapi melihat perempuan itu, ia lebih senang. Para penari merak berjajar membuntut. Dia menghadap tiga sisingaan dengan mulut lebar berwarna kuning rambut jagung.

“Kenapa berhenti. Katakan padaku, kenapa berhenti.” Tangannya menggapai tanganku. Hampir saja kameraku jatuh karenanya. “Apa yang terjadi pada lelaki itu?”

“Tidak ada apa-apa. Pejabat dan ajudannya akan menaiki singa itu. Itu saja.”

Dia melonjak.bangkit dari kursi. Kupu yang belum selesai itu jatuh. Jarum juga jatuh, berdentang sebelum telantang. “katakan, jangan. Ia tak boleh naik singaan itu. Aku lihat ia jatuh,” tangannya erat memegang tangan kananku. “Aku lihat ia jatuh. Aku lihat wajahnya penuh lumpur. Apakah ia menaiki singa lelaki itu?”

“Lelaki perempuan itu?”

“Ya, lelaki mana lagi yang pernah kuceritakan padamu. Tentu singaan lelaki itu.”

Si lelaki pejabat sudah naik singaan. Tetabuhan kembali terdengar. Kembali riuh, semakin riuh. Tangan pemukul kendang seirama dengan anggukan singa itu. Seolah berdzikir, seolah akan terlepas.

Satu singa, ditandu empat lelaki. Lelaki perempuan itu ada di sebelah kiri belakang. Tubuh pejabat itu melonjak-lonjak. Tangannya yang hitam tersengat matahari, memegang bulu singa erat, beberapa, dari celah jarinya, rambut itu terlepas, jatuh ke bawah, lalu terinjak kaki penandu yang lompat-lompat irama. Terkadang, bambu tandu dilepas dari pundak, tangan keduanya memeragakan jurus tarian singa yang tak rubah sejak ajali adanya.

Perempuan tua melepas tangannya. Ia mencoba kembali duduk di kursi. Ia jatuh, sebab pantatnya tak sepenuhnya di wajah kursi. Aku membantu dia berdiri. Tapi tangannya menghempas agar aku melepaskan. Dia teriak-teriak memanggil perawatnya. Suaranya berbaur tetabuhan. Anak kecil, yang menerobos kerumunan berseragam pramuka, menoleh sejenak, sebelum menyikut teman lainnya yang bertubuh kecil.

Perawat datang. Kini berdua, dengan lelaki yang sama umurnya, kukira. Mereka berdua yang membantunya duduk di kursi roda, memungut kupu-kupu dan jarumnya. Sebelum berlalu, mata keras lelaki itu memandangku. “Kenapa,” tanyaku. Dia jawab, “tolong, jangan bilang pada yang lain. nyonya pasti sedih.”

“Kenapa?” kuulang tanya sama.

“Anda lihat lukisan di lantai dua.”

“Saya tidak menduga lelaki kurus itu dia,” aku menunjuk dengan gelengan kepala, “dan perempuan muda itu bukan dia.”

Pekik jerit perempuan melengking. Teriak lantang anak-anak. langkah kaki menghambur derap. Debu terbang berkeliaran, bersama manusia saling bertubrukan. Mulut-mulut menganga. Debu terhisap, tapi mereka hirau. Seolah ada yang lebih penting dari itu.

Singa yang ditumpangi lelaki tambun itu menyeruduk tanah. Wajahnya tepat di kaki lelaki perempuan penari merak. Kayu tandu yang ia pegang, patah. Si lelaki terdiam beberapa saat, sampai akhirnya, bahu petandu lain menyenggol lututnya. Ia jatuh, kakinya hendak menendang lelaki pejabat bermuka penuh debu.

Dari jarak, perempuan penari merak membelalak mata. Lelaki yang ia tunggu jatuh tersungkur di tanah. Di dekat kaki lelaki pujaannya.

“Ini yang ia takutkan,” ucap lelaki yang datang bersama perawat itu. “Sejak kabar, akan kedatangannya, Nyonya sudah melihat ini.”

Seperti lukisan di lantai dua, aku, perempuan penari merak, si petandu singaan itu, diam terpaku. Hampir bersamaan, satu sama lain terdengar perkataan lelaki penandu singa, “Aku bersumpah, lelaki itu (lelaki yang meninggalkan ibu kekasihnya hingga buta), akan mati mencium tanah, mencium ibu kakiku.”

Tajug Nadhoman, 2010

Feri M. Syukur, keturunan Tasikmalaya. Bergiat di ASAS UPI. Cerpennya tergabung dalam Antologi Karnaval Kupu-Kupu (Flash, 2008). Cerpennya dimuat di beberapa media (Jurnal Bogor, Tribun Jabar, Radar Tasikmalaya, Majalah Guruku, dan Kompas.com). Memenangkan Sayembara Menulis Cerpen Majalah Guruku 2009. Dan Piala Gubernur Jabar GBSI UPI 2010.