Alam Mati PDF Print E-mail
Written by Restu Nur Wahyudin   
Jumat, 26 November 2010 08:58
Article Index
Alam Mati
Page 2
All Pages

“Sampai saat tanah moyangku..Tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota..Terlihat murung wajah pribumi…” nyanyi pengamen dengan suara yang lembut. Saya seakan masuk ke dalam lagu tersebut, sembari memandang alam di depan mata yang sudah mulai terusik keperawanannya.

***

PAGI ini seperti biasa. Di beranda rumah, Saya membaca Koran ditemani secangkir kopi dengan sedikit gula. Dalam halaman pembuka Koran tersebut terdapat salah satu wacana berita dengan judul “Pohon”. Awalnya saya tidak tertarik dengan wacana berita tersebut, karena judulnya terkesan kurang provokatif. Maklum, pada waktu itu orang sibuk memperbincangkan kasus testimoni salah satu pejabat tinggi Negara, sehingga saya pun lebih tertarik dengan berita politik.

Namun setelah saya baca perlahan, ternyata isi berita tersebut menyangkut rencana pembangunan wisata berkuda yang letaknya tidak jauh dari tempat dimana saya tinggal bersama keluarga. Jelas saja berita ini membuat hati saya geram, hingga menumpahkan gelas yang dipenuhi oleh air kopi hangat.

“Pak, lihat. Lagi-lagi koran memberitakan mengenai pembangunan di kawasan tempat tinggal kita” Saya memberi tahu bapak yang saat itu sedang sibuk menyirami bunga-bunga yang tumbuh di halaman.

“Ada apa sih sim, Itu kan sudah biasa” jawab Bapak dengan nada dingin sambil menghisap rokok.

“Ah bapak, saya serius. Kali ini beritanya berbeda, Pak” Saya memberikan lembaran Koran tersebut kepada Bapak.

“Hah. Ini kan letaknya tidak jauh dari rumah kita” Saya mengangguk dan berusaha meyakinkan

“Saya aneh Pak, ko lagi-lagi bisa diizinkan pembangunan di daerah pegunungan” Bapak menghela nafas lantas tertawa sinis.

“Negara kita ini ditempatkan di posisi ke 102 dari 149 negara yang masuk ke dalam peringkat Negara terhijau dunia yang dilakukan pusat kebijakan hukum dan lingkungan Universitas Yale dan Pusat Jaringan Informasi Ilmu Bumi Universitas Columbia Amrik Bapak mengusap muka, menegaskan, “Pemeringkatan itu dilakukan berdasarkan 25 kategori data mulai dari emisi karbon, kondisi hutan, hingga kualitas air. 70% wilayah Indonesia kini keadaan alamnya butuh reboisasi”