|
PERJUANGAN KELAS
.
Kemiskinan seperti burung Nazar. Kemiskinan membuat rambu-rambu kedisplinan hidup menjadi nyaris tidak berguna, karena kemiskinan selalu menempuh jalannya sendiri yang membuat orang menjadi tidak peduli terhadap lingkungan, bahkan terhadap masyarakat di sekitarnya.
.
“Kenapa di jaman ini orang menjadi begitu tega untuk melakukan tindakan kriminal yang kadang-kadang tidak masuk diakal?”
“Karena orang-orang merasa sensitif.”
“Kenapa orang-orang harus merasa sensitif?”
“Karena kemampuannya terbatas.”
“Kenapa bisa terbatas?”
“Karena tidak leluasa.”
“Kenapa tidak leluasa?”
“Karena tidak punya.”
“Kenapa tidak punya?”
“Karena miskin.”
“Kenapa miskin?”
“Karena tidak ada.”
.
Kemiskinan menjadikan hidup terasa gerah, tidak leluasa, kehilangan kehormatan, sia-sia dan tanpa daya. Kemiskinan menjadikan hidup orang-orang yang diserangnya menjadi tidak ada, kemiskinan menjadi teroris yang mengharu biru orang-orang yang berjiwa kerdil untuk bertindak semau gue, dan pada puncaknya kemiskinan menjadi bom yang siap meledak di mana-mana karena rasa sakit hati yang timbul disebabkan keadaan yang sangat miskin justru dijadikan alat program gendruwo peradaban untuk melakukan penggusuran demi penggusuran di ladang-ladang bencana.
.
“Jadi, sebetulnya orang miskin itu tidak ada?”
“Iya,”
“Kenapa tidak ada, apa mereka semua sudah pada mati?”
“Siapa yang mati?”
“Orang-orang miskin itu?”
“Tidak ada ya tidak ada.”
“Lalu kenapa ada program-program pengentasan kemiskinan?”
“Itu kan program untuk mencari-cari pengakuan.”
“Siapa yang cari-cari pengakuan?”
“Ya, orang-orang yang mempunyai pekerjaan.”
“Kenapa harus mencari-cari pengakuan?”
“Ya, supaya diakui bahwa orang-orang itu sudah bekerja.”
“Apa tidak ada kerjaan lain?”
.
Kemiskinan seperti burung Nazar. Kemiskinan adalah coro, tapi bukan tahi kerbau. Kemiskinan adalah nyamuk dan lalat-lalat yang beranak-pinak di perempatan-perempatan jalan, di etalase-etalase pertokoan, di kolong-kolong jembatan, di sepanjang gang-gang perkampungan yang sumpek dan berbau apek.
.
Kemiskinan menjadi hantu yang menari-nari, yang luput dari perhatian karena sudah begitu banyaknya burung-burung piaraan yang pandai berkicau dan elok rupawan menguasai pikiran sebagian besar masyarakat manusia. Kemiskinan mengendap-endap di alam masyarakat modern serupa anjing kumal berpenyakitan yang berjalan terseok-seok dan lamban ketika mercu suar peradaban ditegakkan untuk mengukuhkan adanya pembangunan.
.
Kemiskinan selalu lepas kontrol, ia hanya hidup subur di ladang-ladang demo dengan lolongannya yang memekakkan telinga, namun tetap saja tak kurang tak lebih pada akhir nasibnya akan menjadi potret sampah penghuni gorong-gorong dan selokan-selokan penuh limbah yang wajib untuk segera ditutup rapat-rapat karena baunya sangat mengganggu selera makan.
.
Kemiskinan seperti nasi jagung dan ampas tahu, ia menjadi tidak tentu, karena walaupun di-emoh-i seperti panu, ternyata kemiskinan juga selalu dihadirkan di meja-meja rapat para pejabat untuk secara tegas-tegas menyuarakan anti kemiskinan.
.
“Kenapa para pejabat suka sekali membicarakan program anti kemiskinan?”
“Supaya mereka bisa jaga-jaga diri.”
“Jaga diri apa?”
“Dari segala macam bentuk kemiskinan.”
“Lho?!”
“Memang kenapa?”
“Apa mereka bisa miskin?”
“Memangnya nggak bisa?!”
“Soalnya mereka sudah terlanjur kaya.”
“Maksud kamu?”
“Biasanya orang kalau sudah terlanjur kaya itu akan semakin kaya, kalau yang miskin aku tidak tahu, mungkin juga mereka malah mati atau malah tidak ada sama sekali.”
“Jadi, orang kaya itu terlanjur, ya?”
.
Reformasi menciptakan desentralisasi kekuasaan, desentralisasi kekuasaan menciptakan kekuasaan yang sentralistik, lalu muncullah raja-raja kecil yang berkerumun bagai laron mencicipi khuldi peradaban yang bernama otonomi kedaerahan, dan sekejap sesudah itu mereka berubah menjadi makhluk-makhluk asing yang takut dan trauma pada asal-usulnya, hingga pada akhirnya mereka menghalalkan segala cara agar tetap bisa bertahan di kelasnya sebagai borjuis-borjuis baru, aristokrat-aristokrat baru, OKB-OKB jaman kalabendu.
.
Inilah kalabendu. Di dalam kalabendu lahirlah politikus-politikus busuk yang muncul bagai barisan kurawa bersepatu. Mereka-mereka menjadi Sengkuni yang beraroma parfum dan gincu, minyak Sinyongnyong, air condotioner, viagra dan shabu-shabu. Mereka seperti pahlawan kesiangan yang tidurnya mendengkur di atas ranjang gading yang tidak pernah rapi karena zakarnya tak pernah lentur, dan ketika terbangun selalunya muncul gerakan tidak sadar untuk tetap mempertahankan potensi kemiskinan agar selalu ada, sehingga mereka tetap menjadi raja-diraja.
.
“Berarti kemiskinan memang sengaja diciptakan, dong?”
“Kemiskinan adalah situasi keadaan yang tercipta karena munculnya kebudayaan baru yang bernama feodalisme.”
“Kenapa harus ada simbol-simbol feodalisme?”
“Karena feodalisme adalah instrumen kekuasaan.”
“Maksudmu?”
“Orang hidup butuh pengakuan, kekuasaan adalah kunci untuk mendapatkan status agar dengan mudah orang-orang melegitimasi apa yang telah dilakukannya.”
“Contohnya apa?”
“Orang mampu akan menunjukkan dirinya mampu dengan mengangkat seorang pembantu, orang-orang kaya akan menunjukkan dirinya kaya dengan memperlihatkan banyaknya kolega, sementara orang-orang yang berkuasa akan menunjukkan bahwa dirinya memang berkuasa dengan jalan memperlihatkan otoritasnya.”
“Itu artinya?”
“Akan tetap ada sebauh situasi untuk tetap menciptakan kasta, sehingga tetap akan ada perbedaan antara orang-orang yang mampu dan orang-orang yang tidak berdaya.”
“Jadi orang miskin itu orang yang tidak berdaya?”
“Bukan begitu. Orang miskin itu tidak ada.”
“Jadi kita juga tidak ada, dong?”
“Kenapa tidak ada?”
“Karena kita kere.”
“Itu bukan berarti kita miskin.”
“Lalu?”
“Ya, cuma sedang tidak berdaya saja.”
.
Alakazam Abrakadabra! Mulutku bisu, Ya Allah, tanganku terkepal di atas hamparan plastik para pedagang di kaki lima. Semangatku mengembara di tubuh-tubuh tak berdaya barisan para pedagang asongan. Aku melihat jaman yang berlari cepat dan sembilan juta orang-orang tak berdaya jatuh bangun di bawah kibaran bendera sang saka.
.
Alakazam Abrakadabra! Mulutku bisu, Ya Allah, otakku buntu. Bagaimana mungkin kemajuan jaman hanya diwujudkan dengan banyaknya pembangunan, sementara di sekelilingnya ratusan ribu anak manusia kehilangan rasa keadilan dan perlahan-lahan bergerak menuju ke antrian mati.
.
“Ah, tidak usah kamu ngomong keadilan.”
“Memangnya kenapa?”
“Karena itu pamali.”
“Kenapa harus jadi pamali?”
“Karena nanti bisa menyakitkan hati.”
“Aku tidak sakit hati.”
“Iya, tapi omonganmu bisa membuat banyak orang marah-marah.”
“Kenapa mereka harus marah-marah?”
“Karena kamu dianggap provokatif.”
“Kenapa dianggap provokatif?”
“Karena omonganmu bisa menghasut banyak orang.”
“Lhah, begitu saja kok marah-marah?”
“Karena bisa mengganggu banyak kepentingan.”
“Kepentingannya siapa?”
“Ya kepentingannya mereka yang berkepentingan.”
“Memangnya sebagai rakyat aku juga tidak boleh punya kepentingan?”
“Ya harus disesuaikan. Kepentinganmu itu harus kepentingan orang banyak.”
“Ya jelas dong, aku khan berbicara sebagai rakyat.”
“Lalu?”
“Banyakan mana coba repotnya orang-orang yang kamu anggap penting itu dengan pengorbanan rakyat?”
“Menurut kamu?”
“Jelas lebih banyak pengorbanan rakyat dong.”
“Bagaimana mungkin?”
“Lihat saja, apapun langkah-langkah yang diambil oleh orang-orang yang kamu anggap penting itu, selalunya pasti ada kontrak politik.”
“Kamu yakin?”
“Lhah, kalau tidak yakin mana mungkin aku bertanya?!”
.
Bayi-bayi tabung yang lahir di orde reformasi, mereka menjadi berjiwa kerdil karena terlalu sering sakit hati. Susu-susu yang mereka tetek dari ibunya menjadi buah kehampaan karena bau polusi dan limbah insektisida. Kita tidak membutuhkan perubahan, karena perubahan bisa berarti revolusioner. Kita hanya membutuhkan penataan ulang, sehingga nanti tidak akan menimbulkan sakit hati. Kita harus berdamai, apalagi dengan saudara sebangsa sendiri. Kita harus rekonsiliasi untuk menemukan bersama cara mencintai negeri ini dengan cara-cara yang lebih bersih dan lebih sempurna lagi.
.
Jelas sebagai bangsa yang ‘kere’ kita harus bangkit agar tidak selamanya kita menjadi ‘kere’. Kita tidak boleh menolak untuk menjadi kaya, namun kita harus mengutuk maling yang beroperasi di rumah kita sendiri. Menjadi kaya itu hukumnya wajib bagi warga ‘masyarakat kere’, agar mulut bisa kembali bersuara dan mata bisa kembali menatap utuh di segenap cakrawala.
.
“Huahahaha…!”
“Kenapa kamu tertawa?”
“Kamu lucu.”
“Kenapa lucu?”
“Karena kamu nganeh-anehi.”
“Koyo wong edan maksud kamu?”
“Ho’oh. Huahaha…!”
“Biarin.”
“Kok biarin?”
“Daripada ndalho...”
“Apa itu ndalho?”
“Ndalho ya konyol.”
“Kok konyol?”
“Lhah, memang konyol kok.”
“Apanya yang konyol?”
“Orang-orang yang kamu anggap penting itu.”
“Maksudmu?”
“Bagaimana enggak konyol, mereka bilang mau melakukan program pemberdayaan pada masyarakat, tapi nyatanya kalau tidak ada dana dari pemerintah mereka tidak mau melakukannya.”
“Tidak mau melakukannya?”
“Ya, karena sama-sama tidak berdaya. Huahaha…!”
“Lalu?”
“Ya ngutang lagi.”
“Lalu?”
“BBM naik lagi.”
“Lalu?”
“Ya demo lagi.”
“Lalu?”
“Kisruh lagi.”
“Lalu?”
“Kita masih tetap kere. Huahaha…!”
.
Krisis moral menghantui perjalanan anak bangsa dalam me-noto nagoro. Kedukaan masa silam sebagai bangsa terjajah untuk melepaskan diri dari belenggu keterbelakangan saling silang-sengkarut dengan ambisi pribadi untuk berlomba-lomba lekas-lekas menjadi mukti. Inilah potret kekerasan di awal perubahan yang diseragamkan dengan cadar nilai-nilai moral.
.
Benarkah kita mempunyai etika, ketika kebebasan berupaya hanya serupa menaruh cicak di sarang laba-laba? Kita harus mempunyai ruang bicara tanpa harus mengusung sejumlah arogansi massa. Kita juga harus mempunyai payung hukum yang luwes dan jelas, sehingga tidak ada pengendalian publik dengan cara-cara menurunkan keamanan model Rambo segala.
Kita adalah anak bangsa yang mulia yang masih menyimpan banyak peluang untuk menjadi jaya disepanjang masa.***
.
Wonosobo, Oktober 2004
|