Malam pun Basah PDF Print E-mail
Written by Sumala Djaya   
Rabu, 09 Maret 2011 11:11

Ingatan akan kegagalan hidup dan cinta picisan sewaktu muda membuat hari-harinya murung. Sebenarnya ia ingin sekali melupakan kenangan-kenangan kelam itu. Ia telah menyia-nyiakan kepercayaan orang tuanya karena pernah Drop Out dari sekolah. Beberapa kali ia membina hubungan cinta, namun kandas. Semuanya tak lebih karena ia belum memiliki pekerjaan tetap. Kenapa tak ada yang mau mencoba sedikit saja untuk bersabar, pikirnya. Kebanyakan perempuan hanya ingin bersenang-senang, mereka tak mau mengerti bahwa bertahan hidup bukanlah hal yang mudah baginya, atau juga bagi sebagian orang yang hidupnya kurang beruntung. Hanya teh pahit dingin dan sebatang rokok murahan yang ia nikmati malam ini.

Kehidupan yang datar membuatnya merasa jemu. Sering ia mencoba untuk bunuh diri namun tak pernah berhasil karena sebetulnya ia sendiri belum benar-benar siap menghadapi maut.

Ia tertunduk muram menatap lantai yang penuh debu di kamarnya. Naskah-naskah prosa dan puisi yang belum rampung tercecer di samping tempat duduknya. Dihisapnya dalam-dalam sebatang rokok yang tergapit jemari tangannya. Berkali-kali ia kirimkan tulisannya kepada Media Terkemuka namun tak pernah dipublikasikan, tak sedikit pula yang menganggap tulisannya ngawur. Namun ia tetap dengan pendirian dan keyakinannya bahwa menjadi orang besar memang harus bekerja keras. Ia masih teringat sebuah ungkapan pada Kata Pengantar buku fiksi kegemarannya, “Tidak ada orang besar yang tidak kreatif. Dan tidak ada orang besar yang tidak bekerja dengan keras,” begitulah ungkapan itu. Meskipun mulanya apa yang ia lakukan hanya upaya menghibur diri, ia sadar bahwa segala sesuatu memang membutuhkan disiplin ilmu dan ketekunan. Ya, menulis memang bukan sekedar hobi semata.

Bergumul dengan bacaan dalam kamar yang berantakan lama-lama membuatnya merasa hidup dalam ilusi. Apa yang ia baca sebenarnya adalah kisah-kisah yang alurnya nyaris bahkan sejalan dengan cerita hidupnya, misalnya saja Kejahatan dan Hukuman, Anna Karenina dan Petualangan Don Quixotte. Ia keluar dari kamar karena tak ingin hanyut dalam kegilaan seorang kutu buku dalam kisah yang konon ditulis oleh Miguel de Cervantes itu.

Duduklah ia di kursi rotan depan rumahnya sembari menatapi yang lewat di jalan. Tak beberapa lama kawannya lewat mengemudikan mobil bapaknya dengan kaca pintu terbuka. Ke mana ia mau pergi? Ke mall, Cafetaria atau cuma mau nonton? Gumamnya.

Tak dapat ia sangkali melihat pemandangan tadi hatinya merasa terseok. Jika saja dia seberuntung temannya, mungkin banyak hal berarti yang akan ia lakukan. Ia kembali ke kamarnya dengan menimang perasaan kesal. Ada dendam yang mengamuk pikirannya. Meski hanya anak seorang petani lulusan SMA ia percaya bahwa dengan banyak belajar suatu hari ia pasti bisa menjadi besar. Meski pun ia tak begitu memahami antara takdir dan kebetulan ia tak ingin berprasangka buruk atau menjadi rapuh. Sebab hidup yang tidak diperjuangkan memang tidak akan pernah menemukan kemenangan, begitulah ungkapan yang pernah ia baca pada sebuah quota surat kabar yang tentu saja membuat hidupnya sedikit ber-energi.

Malam terasa semakin kosong. Suara Guntur menggelegar seperti memukul-mukul kaca jendela kamar. Kilatan petir menyambarkan cahaya keperakan menembus celah atap bolong di kamarnya. Gemerisik daun nangka yang tertiup angin mengusik telinganya, dan dari atap yang bolong itu air hujan menitik ke tubunya. Ia terperenjat melihat lantai yang menjadi kubangan air. Lekas saja ia keluar mengambil ember, baskom, panci untuk menapung tetes-tetes air yang menitik dari atap itu. Diletakkannya panci-panci dan ember tersebut tepat di tempat-tempat yang ia sudah hafal betul, ” Aku benar-benar tak akan bisa merampungkan naskah terbaruku malam ini,” gerutuya.

Tak ada lagi tempat yang nyaman untuknya menulis di kamar. Ia keluar menuju ruang tengah rumahnya. Dilihatnya air hampir membanjiri ruangan. Ia pun segera membangunkan ibunya yang sedang nyenyak tidur. Ibunya terperanjat melihat air di lantai rumah menggenangi kaki dipan tempat tidur. Ibunya turun mengambil ember. Bak seorang petugas. Dengan sigap dan tangkas dikurasnya air dengan ember. Ia turut membatu ibunya. Ditatapinya wajah ibunya yang penuh peluh itu. Dalam ketidaksadaran, matanya berkaca-kaca. Bulir-bulir air mata pun menentes di antara dua lengkung pipinya.

Ia duduk mengenadahkan pandangnya ke atap yang merembes di ruangan itu sembari menimang rasa haru. Udara dingin dan angin yang menerobos lewat celah pintu membuat tubuhnya yang kurus mengigil gemetar. Ia benar-benar tak bisa menulis malam ini, batinnya. Bersama malam yang basah ia bersedih dan meratap.

Ciujung, 15/11/2010

 

__________________________________________________________________________________________

*) Sumala Djaya lahir 25 Maret 1985, adalah anak petani yang menekuni dunia kesusastraan. Karyanya dipublikasi Harian lokal dan nasional, juga tersiar di sebagian besar Harian Online. Bergabung dengan Kubah Budaya (Komunitas untuk Perubahan Budaya). Tinggal di Kragilan Serang-Banten.