| SENZA TITOLO |
|
|
|
| Written by Acep Zamzam Noor |
| Rabu, 10 November 2010 10:04 |
|
1
Seperti daun-daun yang luruh, ranting-ranting Yang lepas oleh angin. Demikianlah kutempatkan diriku Asing dan sunyi di antara tembok-tembok tua Perlahan kudengar lonceng gereja Seperti mengisyaratkan jarak Yang tak terjengkal. Perceraian kita Lebih perih dari perpisahanku dengan dunia Atau selamat tinggalku pada benda-benda – Ranjang kita hangus dibakar waktu Napsumu berkobar di belahan yang jauh Sedang kesabaranku tertimbun salju Dalam kebisuan yang mengeras
2
Kita telah sama-sama melupakan sorga Sejak pertama luka kita torehkan Hingga mengalir sungai darah yang deras Tempat kita mandi dan minum sepuasnya Sambil terus membuat borok-borok lain Sebagai kegembiraan. Tapi semuanya lampau Kini aku menggigil karena tahu ada yang lebih indah Selain dosa. Sesuatu yang hanya bisa dibayangkan Sebab antara kita masih berkobar dendam – Sebuah buku yang dipenuhi sajak-sajak protes Dengan gambar-gambar kemarahan yang menggugat Bahwa neraka tak di mana pun
3
Ada darah mengalir di atas timbunan salju Ia membentuk dirinya menjadi susunan hurup-hurup Dan kubaca sebagai kesepian yang mengerikan Kesepian yang tak pernah terlintas Dalam sajak-sajakku. Hidup telah kupermainkan Seperti juga aku telah dipermainkan hidup Kini semuanya saling berhadapan dengan pemahaman Yang berbeda. Darahku terlalu tawar untuk dunia ini Dan hanya akan bergolak jika dicampur darahmu – Sebuah perkawinan antara minyak dengan api Kita akan saling membakar Kita akan saling menyalakan
4
Henny Hendrayani, catatlah ini: Seperti daun-daun yang luruh, ranting-ranting Yang lepas oleh angin. Demikianlah kutempatkan diriku Asing dan sunyi. Kulihat awan-awan yang bergerak Langit penuh tarian dan arakan awan-awan Di sana kulihat tubuhmu masih nampak lebih ringan Dari cahaya yang menari-nari – Tapi lupakanlah, lupakanlah semuanya Dunia kita telah hangus dibakar pertikaian Menangislah pada puing-puing jauh di seberang Di sini aku akan menjerit membangun patung-patung Dari timbunan kesabaranku yang membeku
***
dari antologi "Di Atas Umbria" |




