Bukan Suara Kosong PDF Print E-mail
Written by Antoni Farhan   
Jumat, 04 November 2011 15:07

Menemuimu di Bundaran air mancur.
Seperti menunggu sebuah kematian.
Yang tidak pernah aku tahu.
Hadirmu berupa kain kafan, terbentang.
Menyelimuti subuh.
Pagi itu di bundaran air mancur.

Karenanya aku tidak berani berjanji
Saat Matahari enggan berkolaborasi dengan bintang.
Sebab di dalam hati ini telah tahu.
Tentang keraguan yang terukir
pada dinding kabut di sekitar bundaran air mancur.

Mesti tidak kupersembahkan seribu aksi
Menurutmu itu demi perubahan.
Demikian napasku telah terengah
Aku mengejarmu sampai diujung Thamrin
Hanya sketsa pelangi usang yang menunggu
Bersama mendung dan rintik gerimis.

Ini bukan jawabku.
Dari malam hingga ke pagi lalu kepuncak sunyi
Aku tidak pernah turun kejalan
Berorasi tentang harga-harga yang melambung tinggi
Beri aku kesempatan untuk mencari
Kebutuhan belanja hari ini.
Sebelum akhirnya kelaparan menghantui
Aku tidak akan lagi berorasi
Mungkin.
Diam atau mati.
Atau menjarah seluruh isi negri.

 

Add comment


Security code
Refresh