|
Written by Ahmad Fudaili
|
|
Rabu, 17 November 2010 01:41 |
(Pada : Setangkai Mawar) Kita pernah menuliskepedihan pada dinding malamketika kupinjam helai rambutmuuntuk membalut luka jantandi dadaku Kita pernah terhenyakpada kenaifan perasaanketika kita berdiri pada hitamuntuk melihat setitik cahaya Kita pernah terbaringpenuh lukapada satu perahu yangmengambang lepas tanpa tujuanketika butir air matamumelukai jiwaku Kita pernah terseokdalam tabung perkara yang menodaimimpi malamakan cinta yang belumsempat diakui semestakita pernah terjebak lobang hitamatas keberanian yang sebenarnyatak pernah ada Kita pernah hinggap pada dahan sejarahyang belum sempat terjamah manusiadan setan Kita pernah mengenali makna doa doakita pernah memahami kebuntuan zikirdi langitkita pernah jemput makna cinta di ruanggelap para filsuf bersembunyikita pernah lantunkan nada sumbangpada rasa absurd yang tak mau kitanamai cintakita pernah mendulang susu padapara peziarah dan pezinah malamkitapun pernah potong roti untuk sebuahkemerdekaan yang tak pernah mampu kita raba kita pernah terkompres terlalu keciluntuk sekedar menangis dan tertawa
|
Add comment